IAIN Palangka Raya

IAIN Palangkaraya
Not a member yet
    6024 research outputs found

    Ekoteologi Islam: Prinsip Konservasi Lingkungan dalam Al-Qur'an dan Hadits serta Implikasi Kebijakannya

    Full text link
    This research aimed to explore the concept of Islamic ecotheology through an in-depth analysis of environmental conservation principles contained in the Qur'an and Hadith. The study employed a qualitative method with a library research approach by excavating, analyzing, and interpreting verses from the Qur'an and Hadith related to the environment, as well as formulating their implications for contemporary environmental policies. A thematic analysis (maudhu’i) and content analysis were conducted to interpret the environmental principles derived from Islamic teachings. The findings revealed that Islamic ecotheology was founded on three fundamental concepts: tawhid (the oneness of God), khalifah (stewardship), and amanah (responsibility). In the Islamic perspective, the universe was created in balance (mizan) and humans were entrusted with the responsibility to maintain this equilibrium. Analysis of ecological verses demonstrated that Islam emphasized the conservation of natural resources, prohibited environmental destruction (fasad fil-ardh), and commanded a simple lifestyle without wastefulness (israf). These principles had significant implications for the development of contemporary environmental policies that were holistic, ethical, and sustainable, not only addressing the ecological crisis but also promoting social justice and collective welfare. Abstract Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep ekoteologi Islam melalui analisis mendalam terhadap prinsip-prinsip konservasi lingkungan yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Hadits. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) dengan menggali, menganalisis, dan menginterpretasikan ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits yang berkaitan dengan lingkungan hidup, serta merumuskan implikasinya terhadap kebijakan lingkungan kontemporer. Analisis tematik (maudhu’i) dan analisis konten dilakukan untuk menginterpretasikan prinsip-prinsip lingkungan yang berasal dari ajaran Islam. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa ekoteologi Islam dibangun berlandaskan tiga konsep fundamental: tauhid (keesaan Allah), khalifah (pengelolaan), dan amanah (tanggung jawab). Dalam perspektif Islam, alam semesta diciptakan dalam keseimbangan (mizan) dan manusia diberi tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan tersebut. Analisis terhadap ayat-ayat ekologis menunjukkan bahwa Islam menekankan konservasi sumber daya alam, melarang perusakan lingkungan (fasad fil-ardh), dan memerintahkan hidup sederhana tanpa pemborosan (israf). Prinsip-prinsip ini memiliki implikasi signifikan terhadap pengembangan kebijakan lingkungan kontemporer yang holistik, etis, dan berkelanjutan, yang tidak hanya mengatasi krisis ekologi, tetapi juga mendorong keadilan sosial dan kesejahteraan bersama

    Islamic Education and Pluralism: An Overview of Multicultural Education Management

    Full text link
    Background:Pluralism and multiculturalism are critical issues in the context of global education,particularly in increasingly diverse societies in terms of culture,religion, and ethnicity. Islamic education, as a value-based spiritual education system, holds significant potential in shaping inclusive and tolerantcommunities. However, challenges arise when exclusive interpretations of religious teachings hinder the development of a pluralistic educational approach. Aim:This study aims to examine the relationship between Islamic education and multicultural education management in efforts to develop an education system that is responsive to diversity. Method:The research employed a literature study approach by reviewing 50 scientific articles, from which 15 were selected based on their relevance to the theme, methodological approach, and contribution to the discourse. The selection process was carried out in three stages to identify articles that specifically addressed the values of pluralism, strategies of education management, and the challenges of implementation in the context of Islamic education. Results:The analysis revealed that pluralism, from the perspective of Islam, is an authentic value reflected in the teachings of the Qur’an, which emphasizes the importance of mutual understanding and respect for differences. Islamic education was found to be highly relevant to multicultural education management,as both prioritize justice, equality, and tolerance. Strategies identified include the integration of multicultural content into the curriculum, teacher training, inclusive classroom management, and anti-discrimination policies. Discussion:The study highlights key challenges, including limited teacher understanding of multicultural concepts, societal resistance to pluralism, and underdeveloped educational policies supporting diversity. To address these challenges, solutions such as curriculum reform, capacity-building for educators, and the creation of safe and inclusive learning environments are proposed. These strategies aim to strengthen the capacity of Islamic educational institutions to manage diversity effectively. Conclusion:This study concludes that Islamic education can serve as a strategic force in developing a multicultural education system. It contributes significantly to the creation of a peaceful, just, and respectful society by embedding the values of pluralism within educational management practices

    Pengantar Hukum Indonesia

    Full text link
    Buku ini tidak hanya menyajikan sejarah dan perkembangan hukum sejak masa kerajaan hingga era kemerdekaan, tetapi juga mengupas secara mendalam tentang sistem hukum Indonesia yang kompleks dan plural, mencakup hukum konstitusi, hukum tata negara, hukum administrasi negara, hukum acara perdata, hukum pidana, hukum dagang, serta hukum lingkungan. Buku ini juga membahas hukum Islam dan hukum adat semakin menegaskan realitas sistem hukum Indonesia yang hidup dalam kerangka normatif, historis, dan sosiologis. Hal ini menjadikan buku ini tidak sekadar buku ajar, tetapi juga media pemahaman terhadap dinamika integrasi nilai-nilai lokal dan agama dalam sistem hukum nasional

    Tawaran Baru Terhadap Ushul Fiqh

    Full text link
    Buku ini hadir dilatarbelakangi dari sebuah kegelisahan terhadap ushul fiqh yang tampaknya banyak mendapatkan sorotan baik dari segi eksistensinya atau kemampuannya dalam menjawab persoalan hukum Islam. Padahal sebagai ilmu yang mapan dan telah lahir berabad-abad silam, mestinya ushul fiqh menjadi referensi pertama bahkan utama (primer) dalam menyelesaikan persoalan hukum Islam. Namun dari indikasi-indikasi yang terlihat justru ushul fiqh sepertinya mengalami keterpurukan eksistensi dan peran sebagai pencari solusi ketika terjadinya kemelut hukum. Berdasarkan permasalahan ini, buku ini hadir menawarkan konsep-konsep yang simpel, lugas dan disertai pemilihan kata yang sederhana serta familiar atau lebih branding yang digunakan masyarakat secara umum. Dengan membahasakan kembali kaidah-kaidah, teori-teori atau metode-metode ushul fiqh ini harapannya ushul fiqh lebih membumi, mudah diingat oleh siapa pun dan aplikatif dalam memberikan solusi. Salah satu contoh misalnya pengertian ushul fiqh. Dalam buku ini ilmu ini bermakna “metodologi hukum Islam”. Cukup hanya dengan tiga kata untuk menggambarkan ushul fiqh tetapi lebih mudah dipahami dan diingat serta menggunakan kata yang familiar atau update dengan zaman sekarang. Selain itu di buku ini juga memuat contoh-contoh yang dialami masyarakat di zaman sekarang. Harapannya ketika membaca buku ini dan termasuk juga memahami contoh-contoh yang ditampilkan, masyarakat generasi apa pun dapat merasakan sentuhan-sentuhan kehidupan yang dialami melalui contoh-contoh tersebut. Melihat penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa buku ini penting dimiliki dan dibaca serta dipelajari oleh berbagai generasi baik generasi Z, generasi millennial atau generasi X. Melalui konsep-konsep yang ditawarkan di atas menunjukkan bahwa ushul fiqh bukan ilmu yang hanya cocok untuk kalangan santri tetapi cocok dipelajari oleh semua kalangan

    Huma Betang dan Rumah Gadang : Simpul Ekspresi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kearifan Lokal(Editor : Syahrul Anwar)

    No full text
    Huma betang dan rumah gadang menjadi dua contoh nyata bagaimana nilai-nilai, seperti gotong royong, musyawarah, keadilan sosial, dan ketuhanan yang inklusif dapat diterapkan dalam ruang hidup yang konkret. Buku ini merupakan hasil refleksi dan studi terhadap warisan budaya lokal Indonesia yang secara nyata merepresentasikan nilai-nilai luhur Pancasila. Di tengah dinamika zaman dan tantangan globalisasi, penting bagi kita untuk kembali menggali akar budaya sebagai sumber inspirasi dan kekuatan ideologis bangsa

    Problematika Pembinaan Keagamaan Siswa di SMP Negeri 8 Palangkaraya

    No full text
    Pembinaan keagamaan merupakan bagian integral dari kurikulum yang mengarahkan siswa untuk mengembangkan moralitas, etika, dan nilai-nilai spiritual. Oleh sebab itul penelitianl ini bertujuan untuk mengetahuil problematika pembinaan siswa di SMPN 8 Palangka Raya. lMetode yang ldigunakan dalam penelitian ini ladalah deskriptif-kualitatifl dengan lmetode pengumpulanl data melalui lobservasi, wawancara dan dokumentasi. Subjeklpenelitian adalah Guru PAI dan siswa SMPN 8 Palangka Raya. Hasil penelitian menujukkan bahwa pembinaan keagamaan dilaksanakan meliputi: bimbingan rohani-spiritual,pembinaan sosial, dan kegiatan kebudayaan. Namun dalam pelaksanaanya ditemukan beberapa problem, antara lain soal waktu,lingkungan eksternak yang kurang mendungkung, serta minimnya minat peserta didik.Penelitian ini diharapkan dapat lmemberikan masukan dan rekomendasi praktis bagi lpihak sekolah, khususnyal guru dalam merumuskan strategi pembinaan keagamaan yang lebih efektif dan inovatif. Abstract Religious education is an integral part of the curriculum that guides students in developing morality, ethics, and spiritual values. This study aims to examine the challenges of religious guidance at SMPN 8 Palangka Raya. The research employed a descriptive-qualitative method with data collected through observation, interviews, and documentation. The subjects of the study were Islamic Religious Education teachers and students at SMPN 8 Palangka Raya. The findings reveal that religious guidance activities include spiritual counseling, social development, and cultural programs. However, several challenges were identified in the implementation process, including time constraints, limited external environmental support, and low student interest. This study is expected to provide insights and practical recommendations for schools, particularly teachers, in formulating more effective and innovative strategies for religious education

    Jejak Islam di Barito Timur :Sejarah, Basis Dakwah dan Tokoh-Tokohnya

    No full text
    Jejak Islam di Barito Timur: Sejarah,Basis Dakwah dan Tokoh-Tokohnya”. Salah satu yang dikemukakan dalam buku ini bahwa Islam telah lama ada di Barito Timur. Sebelum tahun 1715 M, Islam sudah masuk ke daerah Barito Timur salah satunya di Magantis. Tahun 1715 M ini adalah tahun dibangunnya Masjid Jami yang ada di Magantis. Begitu juga di daerah lainnya seperti Desa Tampu Langit yang ternyata dahulu pernah ada kerajaan dengan nama Kerajaan Uria Napu Langit. Raja pertama kerajaan ini yang bernama Raja Uria Nata pada tahun 1750 M masuk Islam. Akhirnya rakyatnya pada waktu itu pun masuk Islam. Kemudian pada tahun 1810 Islam masuk ke Desa Murutuwu. Pada tahun 1885 M Islam masuk ke Matabu serta ke lokasi-lokasi lainnya di Barito Timur. Oleh karena itu buku ini direkomendasikan atau penting dibaca oleh seluruh masyarakat secara umum dan khususnya masyarakat muslim. Penting juga diketahui oleh para pengkaji sejarah dan terlebih lagi masyarakat muslim Kabupaten Barito Timur. Alasannya karena dengan mengetahui sejarah ini, masyarakat muslim Barito Timur mengetahui asal usulnya, menyadari juga dengan perjuangan-perjuangan yang dilakukan para pendahulunya dan termasuk pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan. Dengan menyadari hal ini, harapannya masyarakat muslim Barito Timur dapat memperkuat keislamannya dan dapat lebih banyak berkontribusi untuk masyarakat secara umum

    Pengantar Ekonomi Digitalisasi (Editor : Rahmat Kurniawan)

    No full text
    Buku ini merupakan karya dosen dan mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Palangka Raya sebagai salah satu alternatif untuk bahan ajar dan sumber referensi bagi mahasiswa maupun dosen.Materi dari buku ini adalah kombinasi antara materi pengantar ekonomi dan digitalisas

    Enhancing Student Self-Disclosure through the Deep Talk Critical Method: A Case Study of Islamic Religious Education

    No full text
    Purpose of the study: This study aims to analyze how the Deep Talk Critical method is applied by Islamic Religious Education (PAI) teachers to enhance student self-disclosure and the impacts of this method on learning effectiveness. Methodology: This qualitative field research employed triangulation of data sources, including interviews, observation, surveys, and documentation. The Miles and Huberman analysis model comprising data reduction, data display,and conclusion drawing was used. The study also defined four self-disclosure indicators: openness, empathy, support, and equality, based on interpersonal communication theories. Main Findings: Findings indicate the Deep Talk Critical method is highly effective (85.72%) in fostering student self-disclosure. Specific indicators showed high performance: empathy (90.41%), equality (88.63%), support (84.87%), and openness (78.97%).Novelty/Originality of this study: This study contributes to PAI communication strategy literature by formalizing Deep Talk Critical as a practical pedagogical model for strengthening self-disclosure and emotional intelligence among students

    Meregenerasi Konsep Fikih Al-Bi’ah Dalam Dunia Pendidikan: Program Adiwiyata Berbasis PAI Progresif Sebagai Upaya Membumikan Karakter Cinta Lingkungan

    Full text link
    Penelitian ini menawarkan formulasi kritis terhadap konsep fikih al-bi’ah dengan fokus pada revitalisasi sub-prinsipnya dalam sistem pendidikan berbasis program Adiwiyata melalui pendekatan Pendidikan Agama Islam (PAI) progresif. Melalui metode kajian pustaka yang bersifat analitis dan evaluatif, studi ini menelusuri keterkaitan antara prinsip-prinsip normatif dalam Islam dan praksis pendidikan lingkungan yang holistik. Hasil kajian menunjukkan bahwa fikih al-bi’ah harus diredefinisi sebagai kerangka etis-teologis yang dinamis dan mampu menjawab kompleksitas persoalan ekologi kontemporer. Di sisi lain, meregenerasi prinsip fikih al-bi’ah ke dalam program Adiwiyata melalui pendekatan Pendidikan Agama Islam (PAI) progresif, dipandang sebagai medium pedagogis yang berpotensi menginternalisasikan nilai-nilai religius melalui praktik ekologis yang transformatif. Lebih lanjut, keterlibatan kolektif aktor pendidikan yakni guru, siswa, dan masyarakat begitu sangat diperlukan untuk mengembangkan kesadaran ekologis berbasis spiritualitas Islam dan kearifan lokal yang kontekstual. Adapun sebagai penutup, seyogyanya juga ditopang oleh evaluasi kritis terhadap pelaksanaan program yang dilakukan dengan memadukan dimensi teologis, pedagogis, dan sosial-ekologis dalam kerangka masyarakat digital. Hematnya, temuan penelitian ini menegaskan bahwa upaya meregenerasi fikih al-bi’ah menuntut pergeseran paradigma dari pendekatan simbolik-normatif menuju paradigma praksistransformatif berbasis integrasi ilmu, agama, dan lingkungan. Abstract This study offers a critical formulation of the concept of fiqh al-bi’ah by focusing on the revitalization of its sub-principles within an Adiwiyata-based education system through a progressive Islamic Religious Education (PAI) approach. Using an analytical and evaluative literature review method, this study explores the correlation between normative Islamic principles and holistic environmental education practices. The findings suggest that fiqh al-bi’ah must be redefined as a dynamic ethical theological framework capable of addressing the complexities of contemporary ecological issues. Moreover, regenerating the principles of fiqh al-bi’ah into the Adiwiyata program through progressive Islamic Religious Education (PAI) approach is seen as a pedagogical medium with the potential to internalize religious values through transformative ecological practices. Furthermore, the collective involvement of educational actors by teachers, students, and the community is deemed essential for fostering ecological awareness grounded in Islamic spirituality and contextual local wisdom. As a concluding point, this effort should also be supported by a critical evaluation of the program's implementation, integrating theological, pedagogical, and socio-ecological dimensions within the framework of a digital society. In essence, the findings of this study affirm that the effort to regenerate fiqh al-bi’ah requires a paradigm shift from a symbolic-normative approach toward a praxis-transformative paradigm based on the integration of knowledge, religion, and the environment

    5,416

    full texts

    6,024

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    IAIN Palangkaraya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇