10 research outputs found

    Debe farm pertanian modern dan organik sebagai upaya peningkatan kemandirian daerah di desa ciaruteun ilir

    No full text
    Sektor pertanian adalah sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur perekonomian nasional. Sektor pertanian merupakan sektor perekonomian kedua terbesar penyumbang kontribusi dalam produk domestik bruto Indonesia. Kini isu konversi lahan pertanian mulai dirasakan petani dalam bertani, selain itu dengan mahalnya biaya operasional pertanian seperti pembelian pupuk dan pestisida untuk perawatan membuat petani kita sulit untuk bertahan. Debe farm memberikan solusi untuk permasalahan ini, melalui pertanian modern dan organik.DIkt

    Pengaruh Penggunaan Aplikasi Quizizz terhadap Hasil Belajar Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Negeri Samarinda

    No full text
    Pembelajaran Fiqih yang terlalu monoton dan hanya bertumpu pada pembelajaran konvensional membuat para siswa menjadi bosan. Quizizz menjadi salah satu aplikasi pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar kecilnya pengaruh penggunaan Quizizz terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fiqih di kelas VIII MTs Negeri Samarinda. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif eksperimental dengan pendekatan kuasi eksperimen. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Simple Purposive Sampling dan diambil 64 orang siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, hasil tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis non parametrik dengan metode uji Mann Whitney. Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan uji Mann Whitney, diperoleh nilai Asymp. Sig. 0,000 < signifikansi 0,05 artinya Ha diterima dan H0 ditolak. Besaran pengaruh yang dihasilkan dapat dilihat pada uji Mann Whitney Signed Ranks didapatkan bahwa terjadi pengaruh ke arah positif dengan peningkatan rata-rata sebesar 46,53 dan peningkatan hasil sebesar 1489,00. Skor uji N-Gain yang didapatkan sebesar 90,9%, berarti terdapat efektivitas yang tinggi setelah dilakukan pembelajaran menggunakan Quizizz

    Design Tasks of Toyota Rush Clutch Engine Elements with Specifications Power (N): 104 PS Revolt (n): 6000 rpm

    No full text
    62 HlmTugas Elemen Mesin adalah salah satu kurikulum jurusan teknik mesin Universitas Medan Area. Tugas ini adalah untuk merancang sebuah kopling. Pada pergerakan mesin diperlukan suatu komponen yang bisa memutuskan dan menghubungkan daya dan putaran. Komponen ini adalah kopling di mana putaran yang dihasilkan oleh poros input akan dihubungkan ke poros output. Dalam hal ini diusahakan supaya tidak terjadi slip yang dapat merugikan atau mengurangi efisiensi suatu mesin. Sebelum ditemukannya kopling untuk menghentikan putaran mesin, kita harus terlebih dahulu mematikannya. Hal ini adalah sangat tidak efektif. Efisiensi suatu mesin menjadi bertambah setelah ditemukan kopling yang digunakan untuk memindahkan dan memutuskan daya dan putaran suatu mesin ataupun motor. Maka boleh disimpulkan bahwa kopling adalah salah satu komponen mesin yang memiliki peranan penting dalam pengoperasiannya. Adapun kegunaan dari kopling antara lain: 1. Memindahkan putaran poros engkol ke poros sistem roda gigi yang sedang berhenti atau pada putaran rendah tanpa terjadi gesekan. 2. Memindahkan torsi maksimum untuk mengopernya ke transmisi tanpa terjadi pengurangan kecepatan

    Penerapan model Project Based Learning berbantuan media Articulate Storyline untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif peserta didik pada materi kinematika gerak lurus

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterlaksaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Project based learning (PjBL) dan Discovery learning yang kedua model tersebut berbantu media articulate storyline dan peningkatan berpikir kreatif peserta didik menggunakan model pembelajaran Project based learning dan Discovery learning. Metode penelitian menggunakan metode percobaan semu (Quasy Experiment) dengan desain pre-tes post-test Non-equivalent Control Group Design. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 32 peserta didik pada masing-masing kelas. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan adalah 1) keterlaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Project based learning (PjBL) berbantuan media articulate storyline pada kelas eksperimen memperoleh presentase rata-rata aktivitas guru sebesar 91% dan presentase rata-rata aktivitas peserta didik sebesar 91,5% keduanya memiliki interpretasi keterlaksanaan sangat baik, sedangkan pada kelas kontrol memiliki presentasi rata-rata aktivitas guru sebesar 87% dan rata-rata aktivitas peserta didik sebesar 89% dengan interpretasi sangat baik 2) terdapat peningkatan keterampilan berpikir kreatif peserta didik, yang diperlihatkan hasil n-gain dengan skor 0,70 dengan interpretasi tinggi pada kelas eksperimen dan 0,63 dengan interpretasi sedang pada kelas kontrol. Hasil uji hipotesis menggunakan independent sample t-test dengan taraf signifikansi 0,05 memperlihatkan nilai (0,009 < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada keterampilan berpikir kreatif peserta didik antara pembelajaran dan penerapan model Project based learning (PjBL) dan Discovery learning pada materi kinematika gerak lurus

    Korelasi Antara Aktivitas Belajar Panahan Dengan Konsep Diri Siswa

    No full text
    Dalam pembelajaran pendidikan jasmani olahraga panahan adalah contoh olahraga permainan aktifitas fisik.Salah satu cara untuk menjembatani kekurangan jam dalam proses aktivitas belajar dan memberi wadah bagi siswa yang ingin mengembangkan potensi, Hal ini dalam aktivitas belajar panahan bisa menjadi alternatif untuk mengembangkan konsep diri dan mempengaruhi siswa karena sangat berhubungan pembelajaran panahan mencakupi beberapa faktor untuk mengembangkan konsep diri siswa. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data ini yaitu menggunakan kuisioner dengan skala likert.Pada penyusunan angket ini sebagai acuan untuk mengusun pertanyaan yang akan dituangkan pada kuisioner (angket). Angket yang dipakai oleh penulis dalam penelitian yaitu angket tertutup.dengan jumlah sampel keseluruhan sebanyak 31 siswa dari deskripsi tabel 4.1 dapat diketahui bahwa data aktivitas belajar memiliki skor minimum 162, maximum 230 rata-rata 188,65, standar deviasi 15,316 Sedangkan konsep diri memiliki skor minimum 118, maximum 165, rata-rata 135,29 standar deviasi 11,432 nilai hasil aktivitas belajar Kolmogorov – Smirnov dengan stat 0,072, dan konsep diri mendapat nilai stat 0,098.Dari analisis data yang telah dilakukan, aktivitas belajar panahan dengan konsep diri siswa dapat disimpulkan terdapat korelasi dan signifikan keterhubugan antara aktivitas belajar panahan dengan konsep diri siswa yang dilakukan oleh 31 siswa dan siswi di SMA Labschool UPI In learning physical education, archery is an example of a physical activity game. One way to bridge the shortage of hours in the learning activity process and provide a forum for students who want to develop their potential, this is in archery learning activities can be an alternative to develop self-concept and influence students because it is very related archery learning includes several factors to develop students' self-concept. The instrument used in this data collection is using a questionnaire with a Likert scale. In the preparation of this questionnaire as a reference for preparing questions that will be included in the questionnaire (questionnaire). The questionnaire used by the author in this study is a closed questionnaire. With a total sample of 31 students from the description in table 4.1, it can be seen that the learning activity data has a minimum score of 162, a maximum of 230, an average of 188.65, a standard deviation of 15.316. minimum 118, maximum 165, average 135.29 standard deviation 11,432 Kolmogorov – Smirnov learning activity results with 0.072 stats, and self-concept scores 0.098 stats. From the data analysis that has been carried out, archery learning activities with students' self-concepts can be concluded there is a significant and significant correlation between archery learning activities and student self�concepts carried out by 31 students at SMA Labschool UP

    Kualitas Kadar Protein, Gel Strength dan Organoleptik Bakso Hati Ayam dengan Berbagai Jenis Bahan Pengisi

    No full text
    Bakso merupakan pangan hasil olahan daging ternak yang dicampur dengan pati dan bumbu-bumbu, dihaluskan kemudian dibentuk bulat-bulat lalu direbus dalam air panas sampai matang. Produk olahan bakso biasanya menggunakan bahan baku daging dan tapioka. Pemanfaatan bahan baku selain yang telah disebutkan dianggap sebagai hal yang jarang dalam proses pembuatan bakso. Situasi ini membuka peluang bisnis untuk mengembangkan ragam produk bakso yang inovatif. Hati ayam sebagai contoh dapat digunakan untuk substitusi daging dalam pembuatan bakso. Salah satu bahan penyusun bakso yang paling penting adalah pati yang berfungsi sebagai bahan pengisi (filler) dari bakso. Bahan pengisi yang akan digunakan adalah tapioka, sagu dan maizena. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tapioka, sagu dan maizena dalam pembuatan bakso hati ayam terhadap uji analisa kadar protein, gel strength dan organoleptik serta untuk mengetahui bahan pengisi terbaik dalam pembuatan bakso hati ayam terhadap uji analisa kadar protein, gel strength dan organoleptik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai Maret 2023. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya dan Laboratorium Pengujian Mutu dan Keamanan Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. Materi penelitian adalah bakso hati ayam pedaging (broiler) dengan penggunaan tapioka, pati sagu, dan maizena masing-masing sebanyak 26%. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 jenis perlakuan dan 6 ulangan yaitu, (P1) Tapioka 26%; (P2) Pati sagu 26%; (P3) Maizena 26%. Variabel yang diteliti adalah kadar protein (%), gel strength (N), dan organoleptik (warna, rasa, tekstur). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA), apabila ada pengaruh nyata maka dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD), untuk mengetahui perlakuan terbaik dilakukan uji efektifitas dengan metode De Garmo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein pada masing-masing perlakuan yaitu: P1: 10,25%; P2: 10,09%; P3: 10,83%. Gel strength: P1: 11,68 N; P2: 10,8 N; P3: 8,28 N. Skor organoleptik warna: P1: 3,75; P2: 3,47; P3: 2,72. Skor organoleptik rasa: P1: 3,5; P2: 3,19; P3: 2,77. Skor organoleptik tekstur: P1: 2,47; P2: 1,8; P3: 1,61. Perlakuan dengan penggunaan tapioka (P1) merupakan perlakuan terbaik, dengan kadar protein 10,25%, tekstur 11,68 N, organoleptik dengan parameter “agak suka” untuk warna dan rasa, sedangkan “tidak suka” untuk tekstur, dengan rataan skor pada warna 3,75; rasa 3,5 dan tekstur 2,47. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan tapioka, pati sagu, dan maizena pada bakso hati ayam broiler memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar protein, gel strength (tekstur) serta organoleptik. Saran penelitian ini adalah bahan pengisi terbaik dalam pembuatan bakso hati ayam terhadap uji analisa kadar protein, gel strength dan organoleptik adalah tapioka

    Balancing Collective Responsibility, Individual Opportunities and Risks: A Qualitative Study on How Police Officers Reason Around Volunteering in an HIV Vaccine Trial in Dar es Salaam, Tanzania.

    No full text
    Results from HIV vaccine trials on potential volunteers will contribute to global efforts to develop an HIV vaccine. The purpose of this study among police officers in Dar es Salaam, Tanzania, was to explore the underlying reasons that induce people to enrol in an HIV vaccine trial.\ud We conducted discussions with eight focus groups, containing a total of 66 police officers. The information collected was analyzed using interpretive description. The results showed that participants were motivated to participate in the trial by altruism, and that the participants experienced some concerns about their participation. They stated that altruism in the fight against HIV infection was the main reason for enrolling in the trial. However, young participants were seriously concerned about a possible loss of close relationships if they enrolled in the HIV vaccine trial. Both men and women feared the effect of the trial on their reproductive biology, and they feared interference with pregnancy norms. They were unsure about risks such as the risks of acquiring HIV infection and of suffering physical harm, and they were unsure of the intentions of the researchers conducting the trial. Further, enrolling in the trial required medical examination, and this led some participants to fear that unknown diseases would be revealed. Other participants, however, saw an opportunity to obtain free health services.\ud We have shown that specific fears are important concerns when recruiting volunteers to an HIV vaccine trial. More knowledge is needed to determine participants' views and to ensure that they understand the conduct of the trial and the reasons it is being carried out

    Investigating the role of safety practices in improving safety performance: a case of Malaysian manufacturing company / Hamidah Md Yusop ... [et al.]

    No full text
    Past studies exhibited limited published evidence, specifically on examining the determinants of safety performance among employees based on the Heinrich Domino Theory. Thus, this study aimed to assess the role of three prominent variables in explaining the safety performance of employees in manufacturing settings. This study utilized partial least squares structural equation modeling (PLS-SEM) to ascertain the causal effect between the variables and whether the incorporated variables could improve these relationships. The results were based on a survey of employees (N = 150) at TAMCO Switchgear (M) Pte. Ltd., a manufacturing company in Malaysia. The findings suggested that all three variables have a positive and significant direct effect on employee safety performance. These results suggest that organizations, specifically manufacturing companies should consider proper safety management, provide specific safety training, and disseminate safety communication through proper channels to encourage employees to practice proper safety performance at the workplace

    Ecological dynamics of Aedes mosquitoes: unraveling the impact of larval competition and temperature on dengue transmission

    No full text
    This study investigates how temperature variability and larval competition influence Dengue transmission dynamics in systems where \textit{Aedes aegypti} and \textit{Aedes albopictus} coexist. We developed a deterministic model incorporating temperature-dependent parameters to analyze vector interactions across larval and adult stages, coupled with a SEIR framework for human infection dynamics. Using Pairwise Invasibility Plots, coexistence analysis, and infection peak assessment, we evaluated species invasion capability, population dynamics, and disease transmission patterns. Results showed that temperature enables \textit{Ae. albopictus} invasion even under high interspecific competition (>>70\%), contrasting with its limited invasion capacity (<<40\%) in temperature-independent conditions. Coexistence analysis demonstrated that temperature variability promotes balanced relative abundances between species, countering the typical \textit{Ae. aegypti} dominance observed in stable thermal conditions. Infection analysis revealed unexpected patterns, with highest infection peaks occurring in scenarios combining low larval competition for \textit{Ae. aegypti} with high competition for \textit{Ae. albopictus}. These findings challenge traditional assumptions about vector dominance in Dengue transmission and emphasize the importance of temperature-sensitive control strategies in regions where both species coexist under climate change conditions.PregradoEcologíaMatemática ComputacionalModelado MatemáticoEnfermedades Transmitidas por Vectore

    Global burden of chronic respiratory diseases and risk factors, 1990–2019: an update from the Global Burden of Disease Study 2019

    No full text
    Background: Updated data on chronic respiratory diseases (CRDs) are vital in their prevention, control, and treatment in the path to achieving the third UN Sustainable Development Goals (SDGs), a one-third reduction in premature mortality from non-communicable diseases by 2030. We provided global, regional, and national estimates of the burden of CRDs and their attributable risks from 1990 to 2019. Methods: Using data from the Global Burden of Diseases, Injuries, and Risk Factors Study (GBD) 2019, we estimated mortality, years lived with disability, years of life lost, disability-adjusted life years (DALYs), prevalence, and incidence of CRDs, i.e. chronic obstructive pulmonary disease (COPD), asthma, pneumoconiosis, interstitial lung disease and pulmonary sarcoidosis, and other CRDs, from 1990 to 2019 by sex, age, region, and Socio-demographic Index (SDI) in 204 countries and territories. Deaths and DALYs from CRDs attributable to each risk factor were estimated according to relative risks, risk exposure, and the theoretical minimum risk exposure level input. Findings: In 2019, CRDs were the third leading cause of death responsible for 4.0 million deaths (95% uncertainty interval 3.6–4.3) with a prevalence of 454.6 million cases (417.4–499.1) globally. While the total deaths and prevalence of CRDs have increased by 28.5% and 39.8%, the age-standardised rates have dropped by 41.7% and 16.9% from 1990 to 2019, respectively. COPD, with 212.3 million (200.4–225.1) prevalent cases, was the primary cause of deaths from CRDs, accounting for 3.3 million (2.9–3.6) deaths. With 262.4 million (224.1–309.5) prevalent cases, asthma had the highest prevalence among CRDs. The age-standardised rates of all burden measures of COPD, asthma, and pneumoconiosis have reduced globally from 1990 to 2019. Nevertheless, the age-standardised rates of incidence and prevalence of interstitial lung disease and pulmonary sarcoidosis have increased throughout this period. Low- and low-middle SDI countries had the highest age-standardised death and DALYs rates while the high SDI quintile had the highest prevalence rate of CRDs. The highest deaths and DALYs from CRDs were attributed to smoking globally, followed by air pollution and occupational risks. Non-optimal temperature and high body-mass index were additional risk factors for COPD and asthma, respectively. Interpretation: Albeit the age-standardised prevalence, death, and DALYs rates of CRDs have decreased, they still cause a substantial burden and deaths worldwide. The high death and DALYs rates in low and low-middle SDI countries highlights the urgent need for improved preventive, diagnostic, and therapeutic measures. Global strategies for tobacco control, enhancing air quality, reducing occupational hazards, and fostering clean cooking fuels are crucial steps in reducing the burden of CRDs, especially in low- and lower-middle income countries
    corecore