1,720,964 research outputs found
Aplikasi Energi Gelombang Mikro untuk Pengendalian Hama Gudang Araecerus fasciculatus De Geer pada Biji Kakao
Kualitas biji kakao Indonesia masih tergolong rendah akibat adanya interferensi serangga hama. Fumigasi merupakan upaya yang selama ini dilakukan untuk menekan interferensi serangga hama. Namun, kekhawatiran akan kesehatan dan polusi lingkungan telah menyebabkan cara tersebut kurang baik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pemanasan dengan oven gelombang mikro dengan berbagai tingkat daya dan waktu terhadap mortalitas hama gudang Araecerus fasciculatus pada biji kakao dan penurunan kadar airnya serta penggunaan energi oven gelombang mikro selama proses pemanasan. Daya masukan oven gelombang mikro yang digunakan adalah 264 Watt, 400 Watt, dan 600 Watt, sedangkan waktu pemanasan adalah 60 detik, 120 detik, dan 180 detik dengan tiga kali ulangan. Mortalitas hama gudang Araecerus fasciculatus mengalami peningkatan dengan meningkatnya tingkat daya dan waktu pemanasan. Hama Araecerus fasciculatus mencapai mortalitas 100% pada tingkat daya 600 watt selama 180 detik dengan penggunaan energi sebesar 99.720 Joule. Persentase penurunan kadar air basis basah pada tingkat daya dan waktu tersebut sebesar 28,7 %
Pengeringan Spouted Bed Lada Putih (Piper Nigrum L.) Dengan Perlakuan Preheating Gelombang Mikro
Lada merupakan salah satu komoditi yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Tingginya nilai ekspor lada Indonesia menunjukkan bahwa sektor ini mempunyai prospek untuk dikembangkan sebagai penghasil devisa negara dari sektor nonmigas. Pada tahun 2014, Indonesia merupakan negara pengekspor lada terbesar kedua setelah Vietnam yang mampu memasok sekitar 40% dari total ekspor lada putih dunia. Pada proses pengolahan lada tersebut, salah satu tahap yang penting adalah proses pengeringan. Untuk pengeringan lada putih, pengeringan dilakukan setelah perendaman 3-10 hari sehingga kadar air awal lada cukup tinggi. Kondisi kadar air yang tinggi sangat rentan terhadap pertumbuhan jamur apabila proses pengeringan berlangsung lambat sehingga dapat menurunkan kualitas bahkan merusak lada tersebut.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik pengeringan lada putih (Piper nigrum L.) secara spouted bed dengan perlakuan preheating menggunakan gelombang mikro (microwave), meliputi penurunan kadar air, waktu dan laju pelepasan air, serta perubahan suhu selama pengeringan. Penelitian ini memiliki tujuan khusus yaitu: (1) menentukan karakteristik fisik biji lada putih, meliputi: dimensi, kebulatan, bulk density, true density, dan porositas biji lada; dan (2) menguji mutu lada putih hasil pengeringan secara spouted bed dengan perlakuan preheating menggunakan gelombang mikro (microwave) berdasarkan parameter mutu: derajat putih (whiteness), kadar minyak atsiri dan total cemaran mikroba.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai dimensi rata-rata biji lada putih memiliki kecenderungan terdistribusi normal. Sekitar 92% biji lada putih memiliki tinggi pada rentang dari 3.5 mm sampai 4.5 mm; sekitar 85%, panjang pada rentang dari 4.0 mm sampai 5.0 mm; sekitar 86%, lebar pada rentang dari 3.5 mm sampai 5.0 mm pada kadar air 15.40% b.k. Ketiga dimensi aksial tersebut meningkat secara linear dengan adanya peningkatan kadar air biji, begitu juga dengan kebulatan biji lada putih. Kebulatan biji lada putih meningkat secara linear dari 0.969 hingga 0.977. Peningkatan kadar air pada biji lada putih mengakibatkan perubahan bulk density dan true density secara polinomial, sedangkan porositas menurun secara linear dari 45.01% hingga 44.88%.
Suhu bahan dengan perlakuan non-preheating maupun preheating mengalami peningkatan secara bertahap hingga mencapai suhu sekitar 50 oC dan relatif konstan pada suhu tersebut. Pada perlakuan preheating dengan daya 320 watt selama 2 menit, suhu lada ditingkatkan sebesar 13.2oC atau menjadi 41.1oC, sedangkan pada daya 640 watt selama 2 menit, suhu lada meningkat sekitar 36.1oC atau menjadi 63.8oC. Suhu udara keluar memiliki nilai yang tidak jauh berbeda dengan suhu biji lada putih, yang mengindikasikan bahwa interaksi antara udara panas yang masuk dengan bahan cukup baik, sehingga terjadi transfer panas yang baik dari udara tersebut ke biji lada.
Proses preheating mengakibatkan penurunan kadar air rata-rata yang tidak begitu besar yaitu sebesar 0.06%bk pada daya 320 watt dan 0.19%bk pada daya
640 watt. Proses pengeringan spouted bed mampu menurunkan kadar air lada rata-rata sebesar 59.94%bk selama 31 menit pada perlakuan non-preheating, 60.38%bk selama 37 menit pada perlakuan preheating 320 watt, dan 59.35%bk selama 32 menit pada perlakuan preheating 640 watt. Grafik rasio kadar air menunjukkan bahwa, perlakuan preheating tidak cukup mempengaruhi perubahan kadar air bahan selama proses pengeringan atau dengan kata lain tidak mempengaruhi karakteristik pengeringan biji.
Perlakuan preheating menyebabkan laju pelepasan air di tahap awal cukup tinggi dibandingkan perlakuan non-preheating. Semakin tinggi suhu bahan setelah proses preheating, seperti yang terjadi pada preheating 640 watt, maka pelepasan air dari bahan juga akan semakin cepat. Grafik laju pelepasan air terhadap rasio kadar air juga memperlihatkan bahwa, semakin kecil kadar air bahan maka laju pelepasan air akan semakin menurun.
Perlakuan preheating dan non-preheating mengakibatkan derajat putih hasil pengeringan tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% dengan uji selang berganda Duncan. Derajat putih rata-rata sebesar 15.5% untuk perlakuan tanpa preheating dan 15.7% untuk perlakuan preheating 320 dan 640 watt. Biji lada putih hasil perebusan dan perendaman selama 3 hari memiliki total mikroba (TPC) sebanyak 2.5×107 CFU/g. Total mikroba lada putih hasil pengeringan spouted bed tanpa preheating rata-rata sebesar 1.54×105 CFU/g, sedangkan total mikroba pada lada putih dengan perlakuan preheating 320 dan 640 watt rata-rata sebesar 3.0×104 dan 6.0×103 CFU/g secara berturut-turut. Kadar minyak atsiri pada semua perlakuan tidak berbeda nyata pada taraf uji 5%. Kadar minyak atsiri yang diperoleh pada perlakuan non-preheating, preheating 320 watt, dan preheating 640 watt rata-rata sebesar 2.88%, 3.21%, dan 2.86%.
Dapat disimpulkan bahwa, pada semua perlakuan, jumlah penurunan kadar air dan lama pengeringan relatif sama. Perlakuan preheating meningkatkan laju pelepasan air hanya di tahap awal namun tidak mempengaruhi laju pelepasan air secara keseluruhan hingga proses pengeringan selesai. Perlakuan dengan preheating mampu membunuh mikroba lebih baik dibandingkan pengeringan tanpa preheating dan menghasilkan nilai TPC di bawah standar IPC untuk lada putih yang telah disterilkan, sedangkan mutu lada putih lainnya tidak berbeda secara nyata pada berbagai perlakuan
HUBUNGAN LINGKUNGAN KELUARGA, INTERAKSI TEMAN SEBAYA DAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN HASIL BELAJAR SISWA
This research aims to explain the correlation of family environment, peer interaction and emotional intelligence with Biology learning outcomes of science students grade XI in senior high school of Bulukumba District. This research is an ex-post facto, with a sampel of 263 students grade XI in senior high school of Bulukumba regency. Data collection uses questionnaire and student test result. The data was analyzed using descriptive statistic and inferential statistic analysis (path analysis). The result showed that the students in general has a condusive family environment, a good peer interaction, and a high level of emotional intelligence. Family environment and peer interaction were directly related and significant with emotional intelligence. Family environment, peer interaction, and emotional intelligence were directly related and significant with Biology learning outcomes. Family environment and peer interaction were indirectly related with Biology learning outcomes and significant through emotional intelligence.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lingkungan keluarga, interaksi teman sebaya dan kecerdasan emosional terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri di Kabupaten Bulukumba. Penelitian ini merupakan penelitian ex-post facto, dengan siswa sebagai sampel sebanyak 263. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan data hasil belajar biologi siswa. Data dianalisis dengan menggunakan statistika deskriptif dan statistika inferensial yakni analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar biologi siswa dalam kategori sedang, dengan kondisi lingkungan keluarga pada kategori kondusif, interaksi teman sebaya pada kategori sangat tinggi, dan kecerdasan emosional pada kategori tinggi. Lingkungan keluarga dan interaksi teman sebaya berhubungan langsung dan signifikan dengan kecerdasan emosional. Lingkungan keluarga, interaksi teman sebaya, dan kecerdasan emosional berhubungan langsung dan signifikan dengan hasil belajar Biologi. Lingkungan keluarga dan interaksi teman sebaya berhubungan tidak langsung dan signifikan dengan hasil belajar Biologi melalui kecerdasan emosional
Pemodelan Matematika Karakteristik Pengeringan Lada Putih Pada Pengering Spouted Bed Dengan Perlakuan Preheating Gelombang Mikro
To study the effect of drying on white pepper seeds, a thorough knowledge of the drying kinetics is required. The drying kinetics of a material can be explained using a mathematical model which is usually used to estimate the drying time of the material. This study aims to determine the appropriate drying mathematical model for drying white pepper spouted beds with microwave preheating treatment. The equipment used in this study was a spouted bed dryer designed for laboratory scale. The material used in this study was wet white pepper seeds obtained from smallholder plantations in Enrekang district, South Sulawesi province with an age of approximately 8-9 months after flowering. The white pepper was directly put into the spouted bed drying room for non-preheating treatment, while for the preheating treatment the pepper was stored in a container then put in a microwave oven for 2 minutes. During the drying process, several parameters for drying analysis are measured. There are seven different mathematical drying models evaluated. In determining the most appropriate mathematical model, model validation is required through statistical methods. The statistical methods used were correlation analysis, reduced chi-square (χ2) test, and root means square error (RMSE) analysis. Based on the analysis, the Weibull model fulfills the criteria to be the best model with the correlation coefficient r (0.99990) being the highest and the χ2 (0.00001) and RMSE (0.00385) values being the lowest. Thus, the Weibull model can be used to predict drying time and moisture content.Untuk mempelajari pengaruh pengeringan terhadap biji lada putih diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang kinetika pengeringan. Kinetika pengeringan bahan dapat dijelaskan melalui model matematika yang biasanya digunakan untuk memperkirakan waktu pengeringan bahan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model matematika pengeringan yang tepat untuk pengeringan spouted bed lada putih dengan perlakuan preheating gelombang mikro. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat pengering spouted bed yang dirancang untuk skala laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa biji lada putih basah yang diperoleh dari perkebunan rakyat di kabupaten Enrekang provinsi Sulawesi Selatan dengan umur kira-kira 8-9 bulan setelah pembungaan. Lada putih langsung dimasukkan ke dalam ruang pengeringan spouted bed untuk perlakuan non-preheating sedangkan untuk perlakuan preheating lada disimpan dalam wadah kemudian dimasukkan ke dalam oven microwave terlebih dahulu selama 2 menit. Selama proses pengeringan, beberapa parameter untuk analisis pengeringan diukur. Terdapat tujuh model matematika pengeringan berbeda yang dievaluasi. Dalam penentuan model matematika yang paling sesuai, diperlukan validasi model melalui metode statistika. Metode statistik yang digunakan adalah analisis korelasi, uji chi-square (χ2) tereduksi dan analisis root mean square error (RMSE). Berdasarkan hasil analisis, model Weibull memenuhi kriteria untuk dijadikan model terbaik dengan koefisien korelasi r (0,99990) adalah yang tertinggi serta dan nilai χ2 (0,00001) serta nilai RMSE (0,00385) adalah yang terendah. Dengan demikian, model Weibull dapat digunakan untuk memprediksi waktu dan kadar air pengeringan
EFEK PERLAKUAN LOW TEMPERATURE LONG TIME BLANCHING TERHADAP KARAKTERISTIK CABAI KERING
ABSTRAKProses pretreatment sebelum cabai dikeringkan berperan penting untuk menghasilkan cabai kering dengan kualitas lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek pretreatment LTLT blanching sebelum proses pengeringan terhadap karakteristik pengeringan dan kualitas cabai kering. Penelitian dilaksanakan dengan 12 perlakuan, yaitu pengeringan dengan pretreatment LTLT blanching pada suhu 60, 70, dan 80 oC masing-masing selama 10, 15, dan 20 menit, lalu pengeringan dengan pretreatment HTST blanching pada suhu 100 oC selama 10 detik, pengeringan tanpa pretreatment blanching di dalam alat pengering ERK, serta pengeringan tanpa pretreatment blanching di bawah sinar matahari secara langsung. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh positif pretreatment LTLT blanching dapat mempercepat laju pengeringan, menghasilkan cabai kering dengan kadar air rendah sesuai standar SNI, menghasilkan warna cabai kering yang menarik, serta memiliki kandungan vitamin C lebih tinggi dibanding cabai kering tanpa pretreatment blanching. Secara keseluruhan, perlakuan pretreatment LTLT blanching pada suhu 80 oC selama 20 menit adalah perlakuan terbaik dari penelitian ini dengan kadar air akhir 8.17%, laju pengeringan yang tercepat, kandungan vitamin C sebesar 0.96%, dan warna yang menarik. ABSTRACTThe pretreatment before drying chilies plays an important role to produce better quality of dried chilies. This study aims to determine the pretreatment effect of LTLT blanching before the drying process on the drying characteristics and quality of dried chilies. This research was carried out with 12 treatments, namely drying with LTLT blanching pretreatment at 60, 70, and 80 oC for 10, 15, and 20 minutes respectively, then drying with HTST blanching pretreatment at 100 oC for 10 seconds, drying without pretreatment blanching in the ERK dryer, and drying without pretreatment blanching in direct sunlight. The results show the positive effect of LTLT blanching pretreatment which can accelerate the drying rate, produce dry chilies with low water content according to SNI standards, produce an attractive dried chilies color, and have a higher vitamin C than dried chilies without blanching pretreatment. Overall, pretreatment with LTLT blanching at 80 oC for 20 minutes is the best treatment in this study with a final moisture content of 8.17%, the fastest drying rate, a vitamin C content of 0.96%, and an attractive color.Â
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Hasil Belajar Siswa yang Dibelajarkan Secara Online Menggunakan Google Classroom: (Student’s Learning Outcomes Taught Online Using Google Classroom)
The ability of teachers to manage the class is one of the factors that determine the success of students in obtaining high learning outcomes. A teacher who is not interactive in using methods and learning models that are in accordance with class conditions will cause students to feel bored following the lesson. In addition to using good methods and learning models, teachers are also required to be able to use technology in the learning process. The use of technology is one of the supporters of the online learning process. The purpose of this study was to determine the effect of google classroom learning media on student learning outcomes at SMAN 2 Bantaeng. The research method used pre-experiment with One-Group Pretest Posttest Design. The population was all students of class XI IPA SMAN 2 Bantaeng in the odd semester 2021-2022 academic year. Sampling technique was simple random sampling with class XI IPA 2 as samples, totaling 23 students. The instrument in this study was ten essay questions that given before and after treatment. Data analysis was conducted using descriptive analysis and inferential analysis. The results of data analysis obtained the paired sample t-test, namely the value of Sig. (2-tailed) of 0.000 <0.05, which means H0 rejected and H1 accepted. Based on the result, it can be concluded that there was an influence of google classroom learning media on student learning outcomes at SMAN 2 Bantaeng.
Key words: Learning outcome, Google classroom
Â
Abstrak. Kemampuan guru dalam mengelola kelas merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh hasil belajar yang tinggi. Seorang guru yang tidak interaktif dalam menggunakan metode serta model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi kelas akan menyebabkan siswa merasa bosan mengikuti pembelajaran. Selain penggunaan metode serta model pembelajaran yang baik, guru juga dituntut untuk mampu menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran. Penggunaan teknologi merupakan salah satu pendukung terlaksananya proses pembelajaran secara daring. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh media pembelajaran google classroom terhadap hasil belajar siswa di SMAN 2 Bantaeng. Metode penelitian yang digunakan yaitu pre-ekperimen dengan desain One-Group Pretest Posttest Design. Populasi seluruh siswa kelas XI IPA SMAN 2 Bantaeng pada semester ganjil tahun ajaran 2021-2022. Teknik pemilihan sampel yaitu simple random sampling dengan sampel terpilih yaitu kelas XI IPA 2 yang berjumlah 23 siswa. Instrument dalam penelitian ini berupa 10 nomor soal essay yang diberikan sebelum dan setelah perlakuan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial. Hasil analisis data yang diperoleh melalui uji paired sample t-test yaitu nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05, yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh media pembelajaran google classroom terhadap hasil belajar siswa di SMAN 2 Bantaeng.
Kata kunci: Hasil Belajar, Google classroo
Pengolahan Sampah Organik berbasis Komposter di SMA Insan Cendekia Syech Yusuf (Boarding School)
Sampah merupakan material yang berasal dari sisa aktivitas manusia yang sudah tidak digunakan, tidak bernilai ekonomis dan harus di buang. Jenis sampah pada umumnya terbagi menjadi dua yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik merupakan jenis sampah yang paling banyak dihasilkan dari limbah rumah tangga dan memiliki persentase tertinggi dibandingkan jenis sampah lainnya. Sampah yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan wabah penyakit. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh mitra sebagai sekolah berasrama yaitu terkait pengolahan sampah. Jumlah sampah organik yang dihasilkan dari limbah dapur sekolah setiap harinya sangat besar. Adapun tujuan dari kegiatan ini yaitu memberikan pelatihan dan pendampingan dalam pengolahan sampah organik melalui teknologi komposter. Metode yang digunakan pada kegiatan ini yaitu ceramah dan praktik yang terdiri dari tahapan sosialisasi, pelatihan dan pendampingan. Pengukuran peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dilakukan dengan pemberian soal pretest dan posttest. Setelah pemberian materi dan praktik, kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengolah sampah organik menggunakan teknologi komposter
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
