39 research outputs found

    Kepemimpinan Abu Bakar Al-Shiddiq (Simbol Pemersatu Umat Islam)

    No full text
    Abu Bakr was born in Mecca in the year 573, approximately two years and six months after the Year of the Elephant. His full name is Abdullah, the son of Uthman, who was the son of Amir, and so on, with his lineage tracing back to Ghalib al-Qurashi At-Taimi through various ancestors. The lineage of Abu Bakr al-Siddiq intersected with the lineage of the Prophet Muhammad (peace be upon him) at their sixth-generation ancestor, Murrah bin Ka'ab. During his time as a caliph, Abu Bakr was determined to continue the military expedition led by Usamah. Usamah's forces returned to Medina with victory and war spoils (ghanimah). Additionally, another of Abu Bakr As-Siddiq's policies involved fighting false prophets and individuals who refused to pay zakat (obligatory almsgiving). Abu Bakr's leadership model was both charismatic and democratic. He was known for making firm decisions, such as taking measures to combat apostasy, resistance to paying zakat, and false prophets. When Abu Bakr As-Siddiq addressed the public, he encouraged open dialogue, allowing the voice of the community to be heard without constraints imposed by a leader's authority. This demonstrated a commitment to democratic values.   Abu Bakar lahir di Mekah pada tahun 573 M atau lebih kurang dua tahun enam bulan setelah tahun Gajah. Namanya adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib al-Qurasyi At-Taimi. Nasab Abu Bakar al-Shiddiq bertemu dengan nasab Nabi Muhammad Saw pada kakek keenam yaitu Murrah bin Ka’ab. Ketika menjadi khalifah Abu Bakar bertekad kuat untuk melanjutkan ekspedisi militer pimpinan Usamah. Pasukan Usamah kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan dan harta ghanimah (harta rampasan perang). Selain itu, kebijakan lain Abu Bakar As-Shiddiq memerangi nabi palsu dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Model kepemimpinan Abu Bakar karismatik dan demokratis, selain itu tegas dalam mengambil keputusan sebagaimana saat mengambil kebijakan memberantas kaum murtad, pembangkang zakat dan nabi-nabi palsu. Abu Bakar as-Shiddiq saat ia menyampaikan pidatonya di hadapan publik, dimana suara umat tidak dibatasi oleh otoritas seorang pemimpin, melainkan ia meminta masukan dan pendapat dari umat hal tersebut menunjukkan adanya penerapan nilai demokratis

    Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Student Teams Achievement Division Dalam Mata Pelajaran IPS Siswa Kelas V SD 3 Karangbener Kudus.

    No full text
    Shiddiq, Muhammad Jauhar. 2014. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Student Teams Achievement Division Dalam Mata Pelajaran IPS Siswa Kelas V SD 3 Karangbener Kudus. Skripsi. Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus. Pembimbing: (i) Drs. Moh. Kanzunnudin, M.Pd., (ii) Aisyah Nur Sayidatun Nisa’, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: Hasil Belajar, IPS, Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division Hasil pengamatan pada siswa SD 3 Karangbener Kecamatan Bae Kabupaten Kudus, menunjukkan bahwa hasil belajar IPS rendah dikarenakan pembelajaran yang digunakan bersifat berpusat pada guru. Untuk meningkatkan hasil belajar diperlukan model pembelajaran yang tepat, salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran Student Teams Achievement Division. Tujuan penelitian ini yakni untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V Semester I SD 3 Karangbener pada materi menceritakan tokoh-tokoh sejarah pada masa Hindu, Budha, dan Islam di Indonesia dengan menggunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Divison. Model pembelajaran Student Teams Achievement Division merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil yang jumlah anggota tiap kelompoknya 4-5 orang siswa secara heterogen. Student Teams Achievement Division terdiri atas lima komponen (1) presentasi kelas, (2) tim, (3) kuis, (4) skor kemajuan individual, dan (5) rekognisi tim. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini mengacu pada model Kemmis dan Mc Taggart. Langkah PTK ini meliputi dua siklus, setiap siklus terdiri empat tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian meliputi guru dan 22 siswa. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menggunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Division menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar klasikal siswa dari prasiklus 59,10%, dan siklus I sebesar 72,72% siklus II mencapai 95,45%. Keterampilan guru dan Aktivitas siswa juga mengalami peningkatan dalam proses pembelajaran. Keterampilan guru pada siklus I memperoleh persentase 69,7% dan siklus II persentase 81,03% terjadi peningkatan sebesar 11,33%, dengan kategori baik. Aktivitas belajar siswa siklus I memperoleh persentase 69,7% dan siklus II 78,9% dengan kriteria baik, terjadi peningkatan sebesar 9,2%. Simpulan dari hasil penelitian yakni hasil belajar IPS materi menceritakan tokoh-tokoh sejarah pada masa Hindu, Budha, dan Islam di Indonesia di SD 3 Karangbener menggunakan model Student Teams Achievement Division dapat meningkatkan hasil belajar. Peneliti menyarankan bagi guru-guru Sekolah Dasar dalam melaksanakan pembelajaran sebaiknya menggunakan model pembelajaran yang sesuai agar siswa lebih paham dan pembelajaran lebih efektif, menyenangkan, dan siswa pun menjadi tidak cepat bosan sehingga hasil belajar yang diperoleh bisa maksimal. Dan bagi peneliti lain diharapkan mampu memicu berkembangnya penelitian-penelitian lain yang lebih kreatif dan inovatif, khususnya terhadap pembelajaran IPS

    القيم الاجتماعية في قصة أبي بكر في كتاب "خلفاء الرسول" لخالد محمد خالد (دراسة سوسيولوجيا الأدب) بحث تكملي

    No full text
    Skripsi ini membahas nilai-nilai sosial dalam kisah Abu Bakar dalam kitab Khulafaur Rosul karya Khalid Muhammad Khalid. Buku Khulafaur Rosul ini menceritakan kisah kehidupan Khulafau Rosyidin dan Umar bin Abdul Aziz. Buku ini menceritakan dengan gaya bahasa yang indah dan mudah dipahami, selain itu kisahnya dikemas secara singkat namun enak dibaca. Peneliti membatasi pad kisah Abu Bakar saja. Abu Bakar merupakan sosok pemimpin pengganti Rosulullah setelah beliau wafat. Abu Bakar seseorang yang lembut, penyabar, bijaksana, dan tegar. Begitu banyak ujian yang beliau alami selama kepemimpinannya. Namun beliau tetap sabar menghadapi semuanya. Banyak sifat-sifat dan tingkah laku beliau yang patut diteladani oleh kita semua. Oleh karena itu peneliti menganalisis nilai-nilai sosial dari Abu Bakar. Skripsi ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan data yang berupa kalimat-kalimat yang mengandung nilai sosial. Melalui pendekatan sosiologi sastra, peneliti mengungkapkan nilai-nilai sosial yang terkandung dalam kisah Abu bakar Ash-Shiddiq dalam kitab Khulafaur Rosul karya Khalid Muhammad Khalid. Rumusan masalah penelitian ini adalah: 1. Bagaimana bentuk nilai-nilai sosial dalam kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam kitab Khulafaur Rosul karya Khalid Muhammad Khalid? 2. Bagaimana jenis nilai-nilai sosial dalam kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam kitab Khulafaur Rosul karya Khalid Muhammad Khalid? Dari penelitian ini peneliti menemukan bentuk-bentuk nilai sosial yang berupa nilai sosial pengabdian, kesetiaan, demokrasi, dan tanggung jawab. Peneliti juga menemukan jenis-jenis nilai yang berupa nilai vital sejumlah 7 data, nilai krbrnaran 6 data, nilai agama 8 data dan nilai moral sejumlah 4 data

    Western values of sexual consent in Muhammad Shahrur’s theory of milk al-yamin

    No full text
    This paper discusses Muhammad Shahrur’s proposal for a “new way” to practice the concept of milk al-yamin in Islam. He believes that the Qur’anic verses pertaining to milk al-yamin can no longer be applied today because of their close connection to slavery. Shahrur argues that the practice of milk al-yamin—particularly in the context of the permissibility of engaging in sexual relations without a marriage contract—can be carried out through mutual consent. This consent is formed through an agreement between a man and a woman, solely for the purpose of engaging in sexual relations. The aim of this paper is to analyze Shahrur’s arguments within the framework of his milk al-yamin theory. The method used in this paper is a normative literature study, employing a juridical-normative approach. The findings of this paper indicate that Shahrur’s theory of milk al-yamin tends to align more closely with Western values of sexual consent than with Islamic values. Moreover, Shahrur’s proposal for milk al-yamin could have significant implications for the development of family law, particularly in Indonesia

    Western values of sexual consent in Muhammad Shahrur’s theory of milk al-yamin

    No full text
    This paper discusses Muhammad Shahrur’s proposal for a “new way” to practice the concept of milk al-yamin in Islam. He believes that the Qur’anic verses pertaining to milk al-yamin can no longer be applied today because of their close connection to slavery. Shahrur argues that the practice of milk al-yamin—particularly in the context of the permissibility of engaging in sexual relations without a marriage contract—can be carried out through mutual consent. This consent is formed through an agreement between a man and a woman, solely for the purpose of engaging in sexual relations. The aim of this paper is to analyze Shahrur’s arguments within the framework of his milk al-yamin theory. The method used in this paper is a normative literature study, employing a juridical-normative approach. The findings of this paper indicate that Shahrur’s theory of milk al-yamin tends to align more closely with Western values of sexual consent than with Islamic values. Moreover, Shahrur’s proposal for milk al-yamin could have significant implications for the development of family law, particularly in Indonesia

    MANAJEMEN AMIL PROFESIONAL DI LEMBAGA AMIL ZAKAT DANA PEDULI UMMAT KALIMANTAN TIMUR

    No full text
    This study aims to determine and analyze the implementation of amil management in LAZ Dana Peduli Ummat (DPU) East Kalimantan. The research was conducted using qualitative methods, by conducting in-depth interviews with Amil LAZ DPU Kaltim in Samarinda, Kutai Kartanegara, and Balikpapan. The data validity was performed using the triangulation method, and data analysis used the Miles and Huberman model. The results showed that the application of amil management in LAZ DPU East Kalimantan were; In the recruitment of amil, HR planning is carried out and the determination of amil's criteria. The work agreement applies the signing of the integrity fact. For the coaching and development of amil, 3 months of training are held for new amil, SDB program (Greetings DPU Blessings) every morning in the early hours of work, CURGAS (Talk of Ideas), Fiqh Zakat School, Training both inside and outside. For performance assessment using KPI (Key Performance Indicator) instrument which is audited internally and externally. While the compensation given is in the form of basic salary, food allowance, health, family, transportation and bonuses. To strengthen Human Resources, four basic principles are applied, namely: the Abdullah and Khalifah principles, justice, organizational goals and individual goals of human resources, and references to the character of the Prophet Muhammad: shiddiq, amanah, fathanah and tabligh. Apart from that, Amil's coaching is also based on values; kafa'ah, amanah and himmatul 'amal

    Peran Penting Abu Bakar dalam Turunnya Wahyu: Analisis Sejarah terhadap Surah an-Nur, al-Anfal, dan al-Lail

    No full text
    Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah tokoh penting dalam sejarah Islam, yang tidak hanya dikenal karena kedekatannya dengan Nabi Muhammad SAW tetapi juga karena kontribusinya dalam berbagai peristiwa kunci yang memengaruhi perkembangan Islam. Perannya sangat terlihat dalam momen-momen ketika wahyu-wahyu penting turun, yang tidak hanya meneguhkan posisinya sebagai sahabat utama, tetapi juga menunjukkan penerapan ajaran Islam dalam situasi nyata. Misalnya, Surah an-Nur [22]: 22 terkait fitnah terhadap Aisyah, putri Abu Bakar, menegaskan sikap pemaafan dan kemurahan hatinya. Surah al-Anfal [8]: 67-68 memperlihatkan kebijaksanaannya dalam menasihati Nabi Muhammad SAW terkait tawanan Perang Badar, sementara Surah al-Lail [92]: 15-21 menggambarkan kedermawanan Abu Bakar melalui tindakannya dalam membebaskan budak, termasuk Bilal bin Rabah. Oleh karena itu, penting untuk membahas peran Abu Bakar dalam turunnya wahyu-wahyu ini agar dapat memahami kontribusinya terhadap penyebaran dan pelestarian ajaran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara historis peran Abu Bakar dalam konteks turunnya wahyu-wahyu tersebut, terutama dalam hal nilai-nilai Islam seperti pemaafan, kebijaksanaan, dan kedermawanan. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan analisis historis, di mana sumber-sumber primer seperti tafsir dan hadis dianalisis untuk memahami konteks peristiwa-peristiwa terkait wahyu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Abu Bakar memainkan peran sentral dalam penegakan nilai-nilai Islam dalam momen-momen penting tersebut, yang memperkuat posisinya sebagai figur teladan dalam sejarah Islam. Peneliti berharap bahwa hasil ini dapat memberikan wawasan lebih mendalam tentang pentingnya peran sahabat dalam penerapan ajaran Islam. &nbsp

    (De)Constructing Ideas of Security: Discovering an Alternative to the European Union External Border Control

    No full text
    The \u27immigration crisis\u27 of 2015, as well as the increasing reluctance of European Union (EU) countries, such as Poland to accept asylum seekers, has been a prominent topic of discussion in recent years. Numerous migrants were compelled to undertake a perilous expedition and perish at the threshold of Europe in a bid to flee hazardous conflicts in their countries of origin. This issue has raised doubts about the EU\u27s commitment to maintaining its foundational humanitarian principles, as outlined in Article 2 of the Treaty on European Union. By employing a qualitative research methodology and (Just) Securitisation Theory–which falls under the paradigm of social constructivism–as an analytical tool, the author focuses on the legal aspect and the practical methods safeguarding external borders of the EU, namely the European Union Naval Force Mediterranean (EUNAVFOR MED), as a response to the increase of migration. Given this basis, this study concurs that: 1) the EU strategy to migration management has not adopted a comprehensive security approach, which results in the neglection of the safety of asylum seekers; 2) EU law instruments regarding migration curtails the free movement of people, and thus is discriminatory towards asylum seekers; 3) EUNAVFOR MED is insufficient in ensuring the security of migrants, and yet its securitising moves are disproportionate to the threat in the region.   Keywords: European Union, Border Control, Securitisation, Just Securitisation Theory, EUNAVFOR MED\u27Krisis imigrasi\u27 pada tahun 2015, serta meningkatnya keengganan negara-negara Uni Eropa (UE) seperti Polandia untuk menerima para pencari suaka, telah menjadi topik diskusi dalam beberapa tahun terakhir. Banyak migran terpaksa melakukan ekspedisi berbahaya dan tewas ketika mencoba mencapai garis pantai Mediterania dalam upaya untuk melarikan diri dari konflik di negara asal mereka. Isu ini menimbulkan keraguan akan komitmen UE dalam mempertahankan prinsip-prinsip kemanusiaan yang mendasar, sebagaimana diuraikan dalam Pasal 2 Perjanjian Uni Eropa. Dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif dan Teori Sekuritisasi sebagai alat analisis, penulis memfokuskan penelitian ini pada aspek hukum dan metode sekuritisasi praktis Uni Eropa dalam menjaga perbatasan eksternalnya, yaitu European Union Naval Force Mediterranean (EUNAVFOR MED), sebagai respons terhadap meningkatnya migrasi. Dengan dasar ini, penelitian ini setuju bahwa: 1) Strategi UE dalam manajemen migrasi belum mengadopsi pendekatan keamanan yang komprehensif, yang berakibat pada terabaikannya keselamatan para pencari suaka; 2) Instrumen hukum UE terkait migrasi telah membatasi pergerakan bebas manusia, dan dengan demikian bersifat diskriminatif terhadap para pencari suaka; 3) EUNAVFOR MED belum cukup dalam menjamin keamanan para migran, dan langkah pengamanannya tidak proporsional dengan ancaman yang ada di wilayah tersebut. Kata Kunci: Uni Eropa, Pengamanan Perbatasan, Sekuritisasi, Just Securitisation Theory, EUNAVFOR ME

    TEOLOGI KONSEP USWAH HASANAH ROSULULLAH

    No full text
    Uswatun Hasanah is the Pattern of Life of the Prophet Muhammad. The main condition in setting a good example is to have noble morals. In education that ethics is a teaching of nobility. An individual's actions can be measured through ethics, humans can determine whether he can be accepted by others or rejected. Verily, I was sent (by Allah) to perfect noble morals. The study used the Book Literacy methodology. The purpose of this study was to discuss the moral behavior of Rosullullah Saw (Uswah Hasanah). The result of this research is that Rasulullah has the characteristics of Shiddiq (True), Fathanah (Intelligent), Amanah (Can be trusted), Tablig (Convey), Istiqomah (Consistent). The importance of this research is because Muslims are far from imitating the morals of Rosulullah Sa

    Konsep Asbab Wurud Al-Hadisth pasca Nubuwwah : Studi analitis Hadisth-Hadisth dengan latar belakang periwayatan dalam kitab Sahih Muslim

    No full text
    Hadith merupakan salah satu sumber syariat yang harus dipahami dengan baik dan benar. Salah satu ilmu yang telah dirumuskan oleh para ulama yang dapat membantu memahami hadith Rasulullah Saw adalah ilmu asbab wurud al-hadith. Karena ilmu ini mengkaji seluk beluk kejadian yang terjadi ketika Rasulullah menyampaikan sabdanya, sehingga pembaca hadith dapat mengetahui apa yang melatarbelakangi beliau menyampaikan sabdanya. Namun, seorang ulama bernama Ibn Hamzah al-Husayni di dalam karyanya yang berjudul al-Bayan wa al-Ta’rif fi Asbab Wurud al-Hadith al-Sharif memberikan sebuah penjelasan yang cukup berbeda. Ia menyebutkan bahwa sabab wurud al-hadith itu dapat pula terjadi pasca masa kenabian. Maksudnya adalah bahwa kejadian yang melatarbelakangi sahabat menyampaikan hadith Rasulullah Saw pun dapat dikategorikan sebagai sabab wurud al-hadith, bahkan di dalam kitabnya tersebut cukup banyak ditemukan sabab wurud al-hadith pasca masa kenabian atau pasca nubuwwah. Teori Ibn Hamzah ini kemudian penulis aplikasikan pada kitab Sahih Muslim. Dipilihnya Sahih Muslim dalam penelitian ini, dikarenakan berdasarkan penelitian awal, kitab ini cukup dominan meriwayatkan hadith dengan asbab wurud al-hadith pasca nubuwwah, dibandingkan dengan kitab lain. Penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan mengenai bagaimana pemaknaan yang tepat terhadap istilah sabab al-hadith dengan sabab wurud al-hadith menurut para ulama? Dan Bagaimana konsep sabab wurud al-hadith pasca nubuwwah berdasarkan hadith-hadith yang terdapat di dalam kitab Sahih Muslim, jika dibandingkan dengan konsep sabab wurud al-hadith menurut para ulama secara umum? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis dengan pendekatan kritis. Teori-teori yang berkaitan dengan sabab wuru>d al-h{adi>th diungkapkan untuk mengetahui pandangan para ulama terhadapnya. Termasuk juga menganalisa pendapat mereka mengenai konsep sabab wuru>d al-h{adi>th pasca nubuwwah, yang kemudian diterapkan pada kitab S{ah{i>h{ Muslim secara kritis pada tiga ribu h{adi>th lebih. Kesimpulannya adalah bahwa istilah sabab al-h{adi>th dengan sabab wuru>d al-h{adi>th adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan satu hal yang sama, hanya saja dengan penggunaan istilah wuru>d dapat sedikit membuka kajian ini semakin luas. Konsep sabab wuru>d al-h{adi>th pasca nubuwwah ini mendapat respon yang cukup beragam, baik yang menggunakan maupun yang menolaknya dan menggantinya dengan istilah lain. Namun apapun istilahnya, penggunaan sabab wuru>d al-h{adi>th pasca nubuwwah ini tetap ada dan digunakan. Perbedaan yang paling kentara antara sabab al-h{adi>th dengan sabab wuru>d al-h{adi>th pasca nubuwwah adalah tokohnya. Sehingga dengan ini penulis merumuskan dua tingkatan sabab wuru>d al-h{adi>th. Pertama, kejadian di masa Rasulullah yang merupakan respon langsung beliau terhadap kejadian. Kedua, kejadian di masa setelah Rasulullah, yang merupakan respon sahabat terhadap sebuah kejadian yang sesuai dengan h{adi>th yang mereka ketahui, ataupun yang bertentangan dengannya
    corecore