230 research outputs found

    Pengajaran Qira’at Ashim riwayat Imam Hafs di Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Furqon Bogor

    No full text
    Qira’at sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya hadis-hadis yang menjelaskan tentang proses turunnya sab’ah ahruf’ (tujuh bacaan), Qira’at berasal dari bahasa Arab yang berarti “bacaan” secara konotasi qira’at dapat diartikan “beberapa pembaca” maksud beberapa pembaca ditujukan kepada para Imam qira’at itu sendiri. Ilmu qira’at berkembang sampai hari ini, akan tetapi awal masuknya qira’at di Indonesia sendiri terhitung sejak abad ke 18M. Dan qira’at yang berkembang pesat sampai saat ini adalah qira’at Imam ‘Ashim riwayat Hafs, perkembangan tersebut menjadi masalah, karena kurangnya edukasi terharap keberadaan qira’at lainnya sehingga memunculkan perselisihan dan kesalah pahaman ketika ada orang yang membaca Al-Qur’an dengan menggunakan qira’at selain qira’at Imam ‘Ashim riwayat Hafs. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui metode pembelajaran Qira’at Ashim Riwayat hafs di Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Furqon Bogor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif berlandaskan pada data dilapangan dan studi pustaka, menggunakan pendekatan fenomologis. pendekatan fenomologis sendiri digunakan dengan tujuan untuk mengetahu metode apa yang digunakan dalam pembelajaran qira’ah ashim di Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Furqon Bogor. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa metode pembelajaran yang digunakan di Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Furqon Bogor dalam mempelajari ilmu qira’at yaitu menggunakan metode ceramah, metode jama’i, dan metode talaqqi dan ada beberapa metode yang hanya ada di Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Furqon Bogor. Untuk menghasilkan pembelajaran yang baik dan maksimal Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Furqon Bogor membuat sebuah buku yang mengkaji tentang kaidah-kaidah qira’ah ashim dengan judu ushul qira’ah ashim yang dibuat langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Furqon Bogor yaitu Kh. Ayatullah. Metode pembelajaran yang digunakan dalam mempelajari qira’at ashim sudah efektif hal tersebut berdasarkan hasil pembelajaran yang mampu membuat pelajar dengan waktu singkat dapat memahami dan mempraktikan ilmu qira’ah ashim, dan dalam pembelajaran yang dilakukan di Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Furqon Bogor terdapat dua faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran yaitu faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung: Pengajar yang dalam hal ini KH. Ayatullah menggunakan metode pembelajaran ceramah, jama’i, dan talaqqi yang mana metode-metode tersebut cocok dengan karakter santri ditambah dengan metode khusu yang dibuat oleh KH. Ayatullah, Tersedianya media penunjang pembelajaran qira’ah ashim seperti mushaf dan buku ushul qira’ah ashim, adanya sarana yang baik, dan diadakannya ujian akhir beserta acara khataman. kemudian faktor penghambat yaitu: Pesantren sering mengadakan kerja bakti diluar kegiatan pembelajaran yang membuat tenaga santri terkuras sehingga kelelahan, Banyaknya khilaf yang terdapat pada Ilmu qira’ah ashim sehingga membuat santri pada awal pembelajaran sulit menghafal khilaf dan mempraktikkannya

    Sejarah Madzhab Qira’at Ashim Riwayat Hafs Di Nusantara; Tinjauan Historis Kritis

    No full text
    Various readings (qira'at) of the Qur'an have existed since it was revealed to the Prophet Muhammad in Mecca. However, this recitation began to be used when the Prophet was in Medina. When delivering the revelations he had received, the prophet always used readings that suited the abilities of the companions present at that time. So that the companion's ability in reciting the Qur'an also varies, depending on how many types of recitation (qira'at) he has received from the Messenger of Allah. As a result, the variety of qira'at that developed in each region experienced differences. After the death of the Prophet, the companions became more and more active in spreading the Qur'an by establishing madrasahs around where they lived. So, it is not surprising when after a generation of companions, qira'at experts appeared among tabi'in, one of them: Madzhab qira'at Ashim's narration of Hafsh which is qira'at or reading used to read the Qur'an in the archipelago.Ragam bacaan (qira’at) al-Qur’an sudah ada sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad di Mekkah. Akan tetapi qira’at ini mulai dipergunakan saat nabi sudah berada di Madinah. Saat menyampaikan wahyu yang telah diterimanya, nabi selalu menggunakan bacaan yang sesuai dengan kemampuan para sahabat yang hadir pada saat itu. Sehingga kemampuan sahabat dalam membaca al-Qur’an juga bervariasi, tergantung berapa macam bacaan (qira’at) yang telah ia dapatkan dari Rasulullah. Akibatnya, ragam qira’at yang berkembang di setiap daerah mengalami perbedaan. Sesudah Rasulullah wafat, para sahabat semakin giat menyebarluaskan al-Qur’an dengan mendirikan madrasah-madrasah di sekitar tempat mereka bermukim. Sehingga, tidak mengherankan apabila setelah generasi sahabat, muncul para ahli qira’at di kalangan tabi’in, salah satunya: Madzhab qira’at Ashim riwayat Hafsh yang merupakan qira’at atau bacaan yang di gunakan untuk membaca al-Qur’an di Nusantar

    The Textological Analysis of the Qur’anic Manuscript Written by Syekh Muhammad Said Ranah Kumpai Kampar Riau

    No full text
    This article examines a manuscript of the Qur'anic mushaf inherited from Sheikh Muhammad Said Ranah Kumpai (1885), from Riau, written around 1850. This article focuses on two aspects, namely, describing the type of writing and reading used in the manuscript and then comparing it with the writing and reading of other manuscripts that were contemporary with it or with the current Indonesian Standard Mushaf. Using a philological approach, this study shows that the manuscripts of Sheikh Muhammad Said were written using a mixed rasm between Usmani and Imlai. One of the factors is because the habits of the people of the archipelago at that time were stronger with oral traditions. On the other hand, the use of Usmani rasm in the Mushaf has not been a deep concern in copying the Mushaf. The qiraat used is the qiraat of Imam 'Ashim from narration of Hafs, although there are some marginal notes on certain words that can be read with other readings

    Dakwah dalam Pembinaan Santri Di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Imam Ashim Makassar

    No full text
    The Tahfidzul Qur’an Al-Imam Ashim Makassar Islamic boarding school is striving to integrate secular knowledge with Islamic studies, with the vision of producing students who are Islamic, have memorized the Qur’an, understand its meaning, and practice its teachings. This is important to researchers because the issue of a separation between secular and religious knowledge is currently threatening in the era of technological development. The research results indicate that: 1) There are five processes implemented in student development, including student orientation, tahfiz coaching, ta'lim coaching, student life coaching, and briefings. 2) The mentoring methods applied by the boarding school include three methods, namely oral, practical, and written methods.Pondok pesantren Tahfidzul Qur’an Al Imam Ashim Makassar merupakan pesantren yang berupaya untuk mengintegrasikan antara ilmu umum dengan kajian keislaman, sehingga dengan visi mencetak Hamalati Qur’an Lafdzal Wa Maknan Wa Amalan, mencetak generasi santri yang islami, hafal Al-Qur’an, paham artinya dan mengamalkan isinya, hal ini yang berupaya untuk dilihat peneliti karena, isu tentang keterpisahan antara ilmu dan aga menjadi isu yang sedang mengancam dalam era perkembangan teknologi saat ini.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Ada lima proses yang diterpkan dalam proses pembinaan santri, di antaranya adalah proses orientasi santri, proses pembinaan tahfiz, proses pembinaan ta’lim, proses pembinaan kesantrian, dan proses briefing. 2) Metode Pembina yangditerapkan oleh Pondok Pesantren, ada tiga metode, diantaranya adalah metode bil lisan, metode bilhal, dan mmetode bil qalam

    “A legacy of troubles. Bengal Partition as long-lasting narration”

    No full text
    This essays analyses Indian Partition Literature, focusing on the Eastern border and the novel East/West by the Bengali author Gangopadhyay

    PEMBELAJARAN ILMU TAJWID RIWÂYAT HAFSH ‘AN ‘ASHIM PERSPEKTIF THÂRIQ ASY-SYATIBY DAN THÂRIQ AL-JAZARY DI SEKOLAH TINGGI ILMU AL-QUR’AN AMUNTAI

    No full text
    Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dan membacanya bernilai ibadah. Ilmu tajwid sangat penting dalam literatur Al-Qur’an. Ilmu tajwid menuntun kaum muslim untuk mengetahui tentang tata cara melafalkan ayat-ayat Allah dengan baik dan benar. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) Mengetahui pembelajaran ilmu tajwid riwâyat Hafsh ‘an ‘Ashim perspektif thâriq Asy-Syatiby dan thâriq Al-Jazary di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Amuntai, 2) Mengetahui faktor pendukung dan penghambat pembelajaran ilmu tajwid riwâyat Hafsh ‘an ‘Ashim perspektif thâriq Asy-Syatiby dan thâriq Al-Jazary di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Amuntai dan solusinya. Jenis penelitian ini deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sumber data primer dosen ilmu tajwid dan mahasisiwa semester IV. Sedangkan data sekunder terdiri atas sejumlah buku, hasil penelitian, dan dokumen lainnya. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan menggunakan pedoman wawancara, pedoman observasi, dan beberapa dokumentasi. Adapun metode pengumpulan data riset lapangan berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengolahan dan analisis data dalam tesis ini terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data dilakukan dengan teriangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran ilmu tajwid riwâyat Hafsh ‘an ‘Ashim perspektif thâriq Asy-Syatiby dan thâriq Al-Jazary di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Amuntai menggunakan metode jibril dengan tingkat kemampuan yang baik karena santri mampu melafalkan huruf sesuai makharaj dan shifatnya, tetapi sebagian mahasiswa masih ada yang tidak konsisten membaca mad munfasil, terkadang dibaca 4 harakat dan terkadang dibaca 2 harakat. Faktor pendukung pembelajaran ilmu tajwid riwâyat Hafsh ‘an ‘Ashim perspektif thâriq Asy-Syatiby dan thâriq Al-Jazary di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Amuntai yaitu guru yang berkompeten dan metode belajar serta lingkungan belajar kampus yang mendukung. Adapun faktor penghambat pembelajaran ini adalah media pembelajaran, alokasi waktu belajar dan jumlah mahasiswa, serta latar belakang mahasiswa yang berbeda. Upaya mengatasi faktor penghambat pembelajaran ilmu tajwid riwâyat Hafsh ‘an ‘Ashim perspektif thâriq Asy-Syatiby dan thâriq Al-Jazary di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Amuntai, langkah yang ditempuh pihak kampus tentang media pembelajaran ini adalah mengadakan rapat dosen pada setiap awal semester. Mengenai alokasi waktu belajar yang kurang dan jumlah mahasiswa yang banyak serta latar belakang mahasiswa yang berbeda-beda, pihak kampus mengusahakan dengan kegiatan ekstrakurikuler, mengikuti pelatihan dan seminar, mengadakan khataman Al-Qur’an rutin setiap bulan. Kiranya dapat selalu meningkatkan pemahaman mengenai pembelajaran ilmu tajwid riwayat Hafsh ‘an ‘Ashim perspektif thariq Asy-Syatiby dan thariq Al-Jazary dan mengembangkan pembelajaran ilmu tajwid ini dengan media pembelajaran yang lebih kreatif dan menarik, serta memformulasikannya dengan metode yang lain yang dianggap tepat sesuai dengan materi pembelajaran

    Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Dalam Komik Muhammad AL-Fatih Jilid 1-3 Karya Handri Satria

    No full text
    Comics are literacy that can provide an attraction to read. Because it contains a combination of images and text. In addition, comics can also be works of art that can convey messages of the value of moral education in everyday life. The Muhammad Al-Fatih comic series is a historical comic of Islamic heroes which tells of the struggle to conquer Constantinople. The purpose of this study is to describe the values of moral education contained in the Islamic comic "Muhammad Al-Fatih" series. This research uses a qualitative approach and this type of research includes library research. Analysis of the data used in this study is the analysis of Charles Sanders Pierce's semiotics which is focused on the classification of typology of signs and triangles of meaning aimed at analyzing the meaning of the research subject. Data collection used was documentation and interviews with Comic writer Muhammad Al-Fatih. The results of this research in this comic there are 3 scopes of moral education values, namely morality to God, morality to humans, personal morals. (1) The value of moral education to God Almighty is shown by faith, resignation to God, be patient in every thing that is happy or unfortunate, obedience to Allah, obedience to all sins, and give thanks for God's help. (2) The value of moral education to humans is shown by a form of affection for others, firm stance, and ta'awun or help. (3) The value of personal moral education is shown in self-discipline, shay'ah, forgiveness, and tawadhu '

    REKONSTRUKSI SANAD QIRA’AT INDONESIA (Studi Analisis Sanad KH. Muhammad Munawwir dan KH. Muhammad Arwani)

    No full text
    Tesis ini dilatarbelakangi oleh diskursus mengenai perbedaan sanad qira‘at di Indonesia milik KH. M. Munawwir dan KH. M. Arwani, yang mana keduanya adalah antara murid dan guru. Meskipun sama-sama berawal dari qira‘at ‗Ashim dari riwayat Hafs dari jalur ‗Ubaid ibn al-Shabbah yang keduanya memiliki sanad yang shahih dan bisa merepresentasikan validitas atas qira‘at al-Qur‘an yang bersumber dari Rasulullah SAW. Persoalan yang muncul kemudian adalah Mengapa bisa berbeda antara sanad kedua tokoh tersebut yakni antara guru dan murid (KH. M. Munawwir dan KH. M. Arwani)? Bagaimana rekonstruksi susunan sanad qira‘at keduanya? Dengan latar belakang tersebut mendorong penulis untuk meneliti, menemukan dan menganalisis Rekonstruksi Sanad Qira‘at Indonesia antara KH. M. Munawwir dan KH. M. Arwani. Kedua tokoh ini dipilih karena beliau berdua adalah ulama qira‘at paling tua dan termasyhur di Indonesia dan mayoritas sanad qiraat yang ada di Indonesia melewati jalur kedua perawi tersebut. penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengungkap bagaimana analisis perbedaan dan kritik sanad qira‘at Indonesia antara KH. Muhammad Munawwir dan KH. Muhammad Arwani. 2) Menjelaskan bagaimana rekonstruksi sanad qira‘at Indonesia antara KH. Muhammad Munawwir dan KH. Muhammad Arwani. Ruang lingkup pembahasan dan penelitian disini bersifat kombinasi yaitu literer (library research) dan lapangan (field research). Data diperoleh dengan mengkaji lembar sanad qira‘at keduanya. Di samping itu juga dari kitab-kitab yang membahas tentang sanad qira‘at dan wawancara dengan tokoh ulama yang melanjutkan transmisi sanad qira‘at keduanya, selanjutnya dikomparasikan dan dianalisis persamaan dan perbedaan keduanya, dengan menggunakan teori analisis-komparatif dan kritik sanad qira‘at. Hasil penelitian, Pertama; dari sisi urutan nomor seperti sanad yang dari PP. al-Munawwir urutan pertama adalah Rasulullah saw. Sehingga sampai KH. M. Munawwir pada urutan ke-28, sedangan dari PP. Yanbu‘ul Qur‘an urutan pertama adalah Allah swt, ke-2 Malaikat Jibrilas., ke-3 Rasulullah saw. dan seterusnya, sehingga urutan KH. M. Munawwir urutan ke-33. Kedua; Dari sisi gurunya KH. M. Munawwir seperti dalam sanad PP. al-Munawwir adalah ‗Abd al-Karim ibn H.‘Umar al-Badriy al-Dimyathiy, dan dari PP. Yanbu‘ul Qur‘an adalah Syaikh Yusuf Hajar al-Dimyathi, maka sebagaimana dalam manaqib, maka sanad PP. al-Munawwir adalah Sanad Qira'ah Imam ‗Ashim Riwayat Hafsh Thariq ‗Ubaid ibn al-Shabbah, dan sanad PP. Yanbu‘ul Qur‘an adalah bagian dari sanad qira‘at sab‘. Ketiga; dari sisi perbedaan rawi seperti dalam sanad PP. Yanbu‘ul Qur‘an ada delapan rawi yang berbeda dengan sanad PP. al-Munawwir, yaitu Abu al-Na‘im Ridhwan al-‗Aqabi, Abu al-Su‘ud bin Abi al-Nur, Ahmad bin ‗Umar al-Isqathi dan ‗Abd al-Rahman al-Syafi‘i, Ahmad ibn ‗Abd al-Rahman al- Absyihiy, Hasan ibn Ahmad al-‗Awadil, Sa‘ad ‗Antar al-Dimyati dan Yusuf Hajar al-Dimyathi

    Mushaf Kuna Tulisan Tangan dari Yaman Selatan

    No full text
    Al-Qur\u27an that revealed to the prophet Muhammad saw in not in one reading/recitation way, but in seven waysaccording to Hadis: Revealed wit sab\u27atu ahruf. Unfortunately, Indonesian Muslim peoples did not know about this.They only knew that Al-Qur\u27an fro the beginning until this time is based on ashim reading way that transmitted fromHasfh (d. 180 H

    EFEKTIVITAS MANAJEMEN TAHFIDZ AL-QUR’AN TERHADAP KUALITAS HAFALAN SANTRI KELAS XII DI MADRASAH ALIYAH PONDOK PESANTREN TAHFIDZUL QUR’AN AL-IMAM ASHIM MAKASSAR: Penelitian Mixmethods

    No full text
    This study explores the effectiveness of Quran memorization management on the quality of memorization among 12th-grade students at the Tahfidzul Qur'an Al-Imam Ashim Islamic Boarding School in Makassar. Using a mixed-methods approach, the research combines qualitative interviews with pesantren administrators and teachers, as well as quantitative assessments of students’ memorization outcomes. The findings show that effective planning, structured implementation, and continuous evaluation significantly support the quality of Quran memorization. Key supporting factors include discipline, intrinsic motivation, and teacher guidance. However, challenges such as cognitive overload in final-year students and distractions from external activities were also identified. The results highlight that systematic management plays a crucial role in sustaining the fluency, tajweed accuracy, and consistency of students' memorization
    corecore