141 research outputs found
NURCHOLIS MADJID’S THOUGHT ON ISLAMIC MODERNIZATION
Nurcholis madjid adalah seorang cendekiawan Muslim Indonesia yang semasa hidupnya, telah banyak memberikan sumbangan pemikiran tentang Islam di Indonesia. Walaupun pemikiran-pemikirannya tentang Islam banyak mendapat kritikan dari para cendekiawan yang tidak seide dengannya, ia tetap saja berupaya melakukan pencerahan terhadap masyarakat Muslim Indonesia. Salah satu pemikirannya yang sangat menonjol adalah tentang bagaimana Islam harus diinterepretasikan ulang untuk menghadapai modernisasi. Dalam konteks inilah, tulisan ini bermaksud mengungkap pemikiran-pemikiran Nurcholis tentang modernisasi Islam
Analisis pemikiran Nurcholis Madjid tentang politik Islam
Nurcholish Madjid menyatakan bahwa munculnya gagasan politik Islam atau Islam sebagai dasar poitik karena bentuk kecenderungan apologetis. Apologi ini, tumbuh dari dua jalur. Pertama, apologi karena ideologi Barat, seperti
demokrasi, sosialisme, komunisme dan lain sebagainya. Kedua, karena legalisme yaitu apresiasi serba legalistis kepada Islam. Dalam persepsi legalistis, Islam itu dipandang semata-mata sebagai struktur dan kumpulan hukum. Kecenderungan legalisme ini bagi Nurcholis Madjid, tidak lain berakar dari fiqihisme. Dengan demikian, secara prinsipil, konsep politik Islam, menurut keyakinan Nurcholish Madjid, adalah suatu distorsi hubungan proporsional antara politik dan agama. Politik adalah salah satu segi kehidupan duniawi, yang dimensinya rasional dan
kolektif. Sedangkan agama, menurutnya adalah aspek kehidupan lain, yang dimensinya spiritual dan pribadi.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana pemikiran Nurcholis Madjid tentang politik Islam? 2) Apa dasar-dasar pemikiran Nurcholis Madjid tentang politik Islam?
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research), di mana data-data yang dipakai adalah data kepustakaan. Data primer dalam penelitian ini adalah buku Dialog Keterbukaan Artikulasi Nilai Islam dalam
Wacana Sosial Politik Kontemporer karya Nurcholis Madjid. Metode analisis yang digunakan penulis adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa Politik Islam menurut Nurcholis Madjid adalah bahwa orientasi keislaman yang kuat selalu dikaitkan dengan
oposisi terhadap pemerintah. Menurutnya, hal ini disebabkan Islam memainkan suatu peranan konsisten sebagai sebuah ideologi (rallying ideology) terhadap kolonialisme. Peranan ini menghasilkan kemerdekaan nasional, karena kaum
muslim mengemukakan gagasan politik yang tidak sesuai dan tidak sebangun dengan tuntunan praktis era sekarang, sehingga tumbuhlah prasangka politik yang berorientasi Islam dengan pemerintah yang berorientasi nasional. Nurcholis Madjid menjelaskan bahwa Islam itu sendiri bukan sebuah teori atau ideologi, lebih jauh ia mengatakan, dalam bidang politik Islam berada pada posisi yang mengiringi syariah dan lebih dekat dengan filsafat dengan dinamika dan wataknya sendiri. Konsep Negara Islam adalah sebuah distorsi hubungan proporsional antara agama dan Negara. Negara adalah salah satu segi kehidupan duniawi yang
dimenensinya adalah rasional dan kolektif, sementara agama adalah aspek kehidupan yang dimensinya adalah spiritual dan pribadi. Politik Islam menurut Nurcholis Madjid tidak dimaksudkan sebagai penerapan politik dan mengubah
kaum Muslimin menjadi politikus. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk meng-ukhrawi-kannya. Dengan demikian, kesediaan mental
untuk selalu menguji dan menguji kembali kebenaran suatu nilai di hadapan kenyataan-kenyataan material, moral ataupun historis, menjadi sifat kaum Muslimin
Sistem informasi penjualan suku cadang pada Nurcholis Motor Bandung
Nurcholis Motor merupakan sebuah bengkel yang menyediakan penjualan suku cadang yang beralamat di Jalan Cikutra No.232 Bandung. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam hal penjualan, Nurcholis Motor memiliki satu bagian yang khusus dalam menangani penjualan barang. Bagian tersebut adalah Kasir, namun sistem kerja di bagian ini masih menggunakan cara berupa dokumen sederhana sehingga menghambat kelancaran pelayanan terhadap data barang. Tujuan dalam laporan tugas akhir ini adalah untuk merancang Sistem Informasi Penjualan Suku Cadang menggunakan Metode pengembangan sistem Waterfall, serta untuk pemodelan sistemnya menggunakan Unifield Modelling Language (UML) dengan menggunakan bahasa pemrograman java, sedangkan Software/Tools yang digunakan adalah Netbeans IDE 6.7 dan MySQL sebagai basis datanya.Sistem infomasi penjualan ini dapat menjadi salah satu solusi yang dapat digunakan untuk mempermudah transaksi penjualan suku cadang, serta nota transaksi penjualan menjadi lebih mudah, cepat dan efisien sehingga dapat membantu meningkatkan keuntungan Nurcholis Motor dalam meningkatkan usahanya dibidang penjualan
KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TENTANG TINDAK PIDANA INSES DI INDONESIA
Muhammad Nurcholis Dwi Satria, Abdul Madjid, Fines Fatimah
Fakultas Hukum Universitas Brawijaya
Jl. MT. Haryono No. 169 Malang
e-mail: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini mengangkat isu hukum terkait dengan sebuah konsep, yaitu konsep Tindak Pidana Inses. Konsep ini berkaitan dengan peristiwa inses yang terjadi di masyarakat khususnya di Indonesia. Namun, peraturan perundangan-undangan di Indonesia belum mengatur peristiwa inses tersebut secara tegas, lengkap, dan komprehensif. Salah satunya ada pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 418 yang hanya membatasi jika perbuatan inses hanya sekedar pada tindakan percabulan yang dapat terjadi pada seorang Anak. Sedangkan diketahui jika inses merupakan suatu peristiwa yang dapat terjadi bukan hanya percabulan tapi juga adanya hubungan seksual dan dapat terjadi bagi orang dewasa dengan kerelaan atau suka sama suka. Sehingga ketentuan yang diatur dalam Pasal 418 belum mencakup keseluruhan daripada pengertian atau maksud dari Tindak Pidana Inses itu sendiri sehingga penelitian ini merupakan penelitian normatif yang melihat dari keseluruhan Undang-Undang yang berlaku yang memiliki kesamaan atau paling tidak bersinggungan dengan Tindak Pidana Inses. Sehingga dapat memberikan suatu konsep dasar yang baru mengenai ketentuan pengaturan terhadap Tindak Pidana Inses di Indonesia.
Kata Kunci: tindak pidana, inses, hukum pidana
Abstract
This research studies incest as a crime that commonly happens in Indonesia. However, laws in Indonesia do not clearly and comprehensively govern this criminal tendency. Law Number 1 of 2023 concerning Penal Code Article 418, for example, only restricts incest to the scope of obscenity happening to a child. On the contrary, incest can take more than just obscenity, in which a consensual sexual relationship between two adults may also happen. In other words, the provision in Article 418 does not give an overarching definition of incest as a crime. Departing from this issue, this research aims to observe the overall current laws pertaining to incest to provide a basic and new concept regarding the provisions of criminal incest in Indonesia.
Keywords: criminal offense, incest, criminal la
Islam, the Indonesian state, and identity The ideas of Nurcholis Madjid and Abdurrahman Wahid
Makalah ini membahas gagasan-gagasan Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid tentang hubungan antara Islam dan negara dan antara Islam dan bangsa dan implikasinya pada konsep tentang identitas Muslim di Indonesia. Madjid berpendapat bahwa umat Islam pernah berhasil mengembangkan masyarakat yang demokratis pada masa Madinah dan Andalusia di masa lampau. Dia mengajak umat Islam Indonesia untuk menggunakan keberhasilan ini sebagai model untuk membangun demokrasi di Indonesia sekarang. Sementara itu, Wahid menelusuri sejarah Indonesia untuk mencari model tersebut dan mencoba menerapkannya pada situasi Indonesia sekarang. Implikasi dari dua orientasi yang berbeda ini adalah bahwa model Madjid mengesankan identitas Muslim yang lebih menekankan keislaman dan model Wahid mengesankan identitas yang lebih menekankan keindonesiaan
Pluralism Theology of Nurcholis Madjid
Pluralism is an understanding of mutual respect and understanding of differences in people's lives. Nurcholish Madjid's thoughts are considered relevant for discussion. As a figure to be reckoned with in Indonesia, his existence is considered to represent the rise of reform thinking in the archipelago. His thoughts on pluralism are considered a necessity associated with the condition of religious communities in Indonesia. The statement is based on the Indonesian population's condition of religious pluralism. If the pluralism of religions adhered to is not glued together with a pluralistic perspective, then the plurality of religions has the potential to trigger conflict. This research aims to find out the thoughts of Kalam Nurcholish Madjid on Pluralism. The method used is literature study by taking references from various sources such as printed and digital books, as well as research-related journals. The results of the study show that there are three approaches used by Nurcholis Madjid in formulating the concept of Pluralism, namely first, the Tawheed approach, namely the return of human dignity and status back to its position as a creature of Allah. Humans look up "up" only to God, to fellow human beings must look in a series of equality. Second, the Philological Approach, namely the redefinition of the meaning of Islam or more precisely the expansion of the definition of Islam as an attitude of surrender, submission, and obedience to God Almighty. The third is the Historical Approach, which is the value or spirit contained in that history. In this case, every adherent of religion needs to take as an example the values of openness of the people of Medina at that time, not to take the form of the government of the Prophet Muhammad in Medina to be applied today
Nurcholis Madjid’s Concept of Education (An Analysis of The Concept of Education Curriculum Development In Pesantren)
Abstract: The Islamic boarding (Pesantren) education curriculum is a tool to achieve the objectives of Islamic Education. Decreasing of students' morallity, equal learning opportunities, low internal efficiency of the education system, institutional status, management of education that is not in line with national development, and unprofessional human resources. The problem faced by pesantren in this era is the narrowing of the curriculum which study of the sciences only grammatically such as: nahwu-sharaf, fiqh, aqa'id, tasawuf, tafsir, hadith, and Arabic. In this context, education curriculum in Pesantren needs to be reformulated including its vision and objectives as well as develop the curriculum. The application of the curriculum in Pesantren needs to be checked and balanced including the balance of classical Islamic repertoire, Islamic knowledge, and general knowledge. Santri (students in Islamic boarding school) can study these sciences not only grammatically, but how to master the sciences verbally or text. So, products (santri) are not only as consumers but producers. Thus, this article is intended to explore Nurcholis Madjid’s concept of the education curriculum in pesantren. Meanwhile, the reason why this thesis is only focused on studying the concept of a e certain figure is because Nurcholis Madjid is a prominent Indonesian Islamic intellectualist who is credible to investigate the reality of the world of education in pesantren. Keywords: Curriculum and Education, Pesantren (Islamic Boarding Schools
Pluralitas & Pluralisme Agama Dalam QS. Al-Baqarah Ayat 62 Perspektif Double Movement Fazlu Rahman
Abstrak: Kemajemukan adalah fenomena yang tidak dapat dihindari karena eksistensinya yang melekat dipelbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kehidupan beragama, sehingga dikenal istilah pluralitas Agama yang didukung legitimasi Al-Qur’an. Namun seiring berjalannya waktu, dinamika penafsiran yang didukung kondisi sosio-historis masyarakat menjadikan ayat pluralitas sebagai landasan isu pluralisme Agama dengan berbagai factor yang menguatkan argument relevansi antara ayat pluralitas dengan isu pluralism agama. Berangkat dari transisi atau pergeseran makna pluralitas menjadi pluralisme agama dengan pendekatan teori Double Movement Fazlu Rahman, maka pertanyaan yang perlu dibahas dalam pembahasan ini adalah Bagaimana proses pemaknaan & penafsiran QS. Al-Baqa>rah Ayat 62 perspektif teori Double Movement? Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan library research, Teknik pengumpulan data dengan proses dokumentasi dan dianalisis dengan teknik deskriptif analitik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tunas pergeseran makna pluralitas menjadi pluralisme agama disinyalir mulai muncul di penafsiran mufassir era kontemporer, diantaranya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Mannar, lantas menjadi pondasi dasar dan dikembangkan oleh para pemikir kontemporer seperti Djohan Efendi, Abdul Moqsith Ghazali, Ulil Abshar Abdala dan Nurcholis Majid. Sedangkan faktor pergeseran makna tersebut dipengaruhi beberapa factor internal diantaranya: adanya lafadz musytarak, dhamir, naskh Mansukh, qira’at dan gramatika, serta faktor eksternal, seperti: akidah mufassir, perbedaan kritik sanad dan matan, madzhab, kondisi geografis dan konteks social politik lainnya
Islam, the Indonesian state, and identity; The ideas of Nurcholis Madjid and Abdurrahman Wahid
Makalah ini membahas gagasan-gagasan Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid tentang hubungan antara Islam dan negara dan antara Islam dan bangsa dan implikasinya pada konsep tentang identitas Muslim di Indonesia. Madjid berpendapat bahwa umat Islam pernah berhasil mengembangkan masyarakat yang demokratis pada masa Madinah dan Andalusia di masa lampau. Dia mengajak umat Islam Indonesia untuk menggunakan keberhasilan ini sebagai model untuk membangun demokrasi di Indonesia sekarang. Sementara itu, Wahid menelusuri sejarah Indonesia untuk mencari model tersebut dan mencoba menerapkannya pada situasi Indonesia sekarang. Implikasi dari dua orientasi yang berbeda ini adalah bahwa model Madjid mengesankan identitas Muslim yang lebih menekankan keislaman dan model Wahid mengesankan identitas yang lebih menekankan keindonesiaan.Kata kunciIslamic state, democracy, Islam, cultural politics, power politics, identity
The Discourse of Islamic Civil Society in Indonesia during The Reformation
The idea of civil society is still debated. Some Indonesian Muslim intellectuals state that civil society is connected with the situation at the history of Prophet Muhammad in Madinah. As Nurcholis Madjid and Dawam interpret civil society as synonymous with the Indonesian term masyarakat madani, which refers to the Islamic society in Madinah which was constructed by the prophet Mohammed. Conversely, Wahid disagrees with Madjid and Dawam's idea of Islamic civil society. Wahid’s concept of civil society is linked to his belief that the Pancasila is a more suitable ideology for the development of civil society as it is more accommodating of the ethnic and cultural diversity of Indonesia.
- …
