1,721,007 research outputs found
STATISTIK Manajemen Pendidikan Teori dan Praktik Statistik dalam bidang Pendidikan, Penelitian, Ekonomi, Bisnis, dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya
Setiap mengawali proses pembelajaran mata kuliah Statistik—dipertemuan
perdana—pertanyaan yang selalu penulis ajukan adalah bagaimana
“bayangan” mahasiswa jika mendengar kata “statistik”?, dan bagaimana
pendapat, persepsi, dan pandangannya tentang mata kuliah statistik.
Jawaban dari pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa
berpandangan bahwa statistik adalah berhubungan dengan angka-angka
matematika yang sangat rumit, rumus-rumus yang sulit difahami, sangat
membosankan, membingungkan, menjenuhkan, stres, dan bahkan terdapat
pndangan bahwa statistik tidak memiliki banyak arti, menghabiskan waktu,
memubadzirkan waktu.
Pandangan tersebut memang tidak sepenuhnya salah, sebab tidak banyak
dari kita yang memang benar-benar merasakan manfaat mempelajari statistik—
kecuali target mendapatkan nilai baik (lulus). Selain itu—sampai saat ini—
teknik, metode, dan strategi pembelajaran statistik kurang bervariasi, kurang
memberikan motivasi, dan sangat teoritis-manual. Survey dan pengamatan
penulis terkait dengan pembelajaran statistik menunjukkan bahwa pertama,
sebagian besar pembelajaran statistik dilakukan dengan cara manual dengan
berbagai varian rumus-rumus statistik. Kedua, pembelajaran statistik yang
dilakukan kurang memanfaatkan alatbantu, fasilitas, aplikasi/software statistik
yang memudahkan kita menyelesaikan berbagai pesoalan statistika—yang terus
berkembang dan menarik. Ketiga, kekurang tepatan “orientasi” pembelajaran
statistik yang dilakukan
Sistem Manajemen Mutu Pendidikan: Mengenal Manajemen Mutu ISO dalam Pendidikan
Sistem manajemen mutu merupakan sistem peting dalam menjamin produk dari sebuah proses produksi. Produksi dalam konteks pendidikan mencakup keseluruhan proses pendidikan yaitu input, proses dan output pendidikan. Untuk menghasilkan input, proses dan output yang bermutu harus dilakukan dengan system manajemen yang baik, dengan penerapan manajemen yang benar dan baik akan berdampak kepada efisiensi pelaksanaan program dan meningkatnya kualitas dan mutu pendidikan.
Mutu pendidikan dalam praktek persekolahan dapat dilihat dari beberapa indikator mutu yang telah ditentukan. Indikator mutu menjadi guideline penilaian dan evaluasi dalam pelaksanaan proses pendidikan.
Lembaga pendidikan atau sekolah yang memenuhi indikator-indikator tertentu termasuk dalam katagori sekolah bermutu. Bermutu dalam pengertian meningkatnya efektifitas, efisiensi dan produktivitas lembaga secara terus menerus
ISLAM MEMANDANG HAK ASASI PENDIDIKAN
Fulfilling the education right in Indonesia as stated in the constitution faces a lot of problems. The problems include lagislation and policy, budgeting of education , fair distribution and easy access to education covering gender equality in getting and accessing education in area of conflict, boundaries, and remoted area. Problem of legislation related to law and national education policy and noble ideal of independence and the Constitution 1945, Instrument and National and International Standard of Human Right which are not in line yet, results in the condition that the education development is not based on the human right. The education budgeting relates to government commitment to allocate the amount based on the law, fair distribution and wide access to education covering the unit capacity and providing equal opportunities to all learners from different social, economic background, place of living, intelectual capacity, physical condition and gender. Those problems lead to unfulfilled education right as stated independece goals
Poligami dalam Perdebatan Teks dan konteks: Melacak Jejak Argumentasi Poligami dalam Teks Suci
Wacana poligami dalam pemikiran Islam telah menjadi kontroversi dan menarik dibahas. Setiap argumen mempunyai dasar yang sama dari teks Alquran yaitu surah An Nisa; 3 dan hadits nabi. Wacana poligami dapat dibagi dalam tiga pendapat. Pertama, poligami benar-benar diizinkan dalam hukum Islam, kedua, poligami diizinkan dalam kondisi dan konteks tertentu. Ketiga, Poligami benar-benar dilarang, karena prinsip perkawinan Islam adalah monogami. Dalam konteks Indonesia, poligami dapat dibagi ke empat pendapat. Pertama, opini bahwa poligami sebagai pesanan syariah, kedua, opini bahwa poligami secara substantif bukan ajaran Islam, tapi Islam secara bertahap mengubah praktek poligami di era Jahiliyyah untuk monogami tersebut. Ketiga, opini bahwa poligami bukan hanya masalah agama, tetapi juga masalah sosial-budaya, dan keempat, pendapat bahwa poligami dapat dipraktekkan untuk anak yatim dan janda dengan tujuan untuk melindungi mereka.
K
ata Kunci: Poligami, Keadilan Gender, Teks Suci.
Abstract
Discourse of polygamy in Islamic thought has been discussed and being controvertion. Each arguments base on the same of Quranic text are sura An Nisa; 3 and traditions. Discourse of polygamy can be divided in the three opinions. The first, polygamy absolutely was allowed in Islamic law, the second polygamy was allowed by difficult conditions and specific context. The third polygamy absolutely was forbidden, because of the principle of Islamic marriage is monogamy. In Indonesian context, the polygamy can be divided into four opinions. The first is opinion that polygamy as syaria order, the second is opinion that polygamy substantively is not Islamic precept, but Islam gradually change polygamy practice in Jahiliyyah era to the monogamy. The third is opinion that polygamy is not only religious problem, but also socio-cultural problem, and the fourth is opinion that polygamy can be practiced to the orphan and widow with aim to covering for them.
Keywords: Poligamy, Gender Justice, Secred Text
PENDEKATAN INTEGRASI-INTERKONEKSI DALAM KAJIAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM
Abstract
This article discusses the integrative-interconnective approach towards the study
of management and policy of Islamic education with a focus on the practice of
learning management in 2013 Curriculum. It is known that the policy of 2013
Curriculum develops three areas in an integrative-interconnective way in the
form of attitude, knowledge and skills. These three areas are one integral unit
and becomes a requirement in the learning process that is relevant with the
integrative-interconnective approach. In 2013 Curriculum, the integrativeinterconnective
approach is implemented not only at the level of cognition, but
also at the level of practice-application of the learning process. The learning
management in 2013 Curriculum is an example of a good practice of the
integrative-interconnective approach in which three areas are integrated,
namely attitude, knowledge and skills as reflected in Core Competence-1
(spiritual attitude), Core Competence-2 (social attitude), Core Competence-3
(knowledge) and Core Competence-4 (skills). These four Core Competences are
one integral requirement that must be fulfilled, achieved and implemented in
the learning and teaching process.
Keywords: integrative-interconnective approach, policy, 2013 Curriculum
Abstrak
Artikel ini membahas praktik pendekatan integrasi-interkoneksi dalam
kajian manajemen dan kebijakan pendidikan Islam yang difokuskan
pada praktik manajemen pembelajaran pada kebijakan kurikulum 2013.
Diketahui bahwa kebijakan kurikulum 2013 mengembangkan tiga ranah
secara terintegrasi-interkoneksi berupa sikap (attitude), pengetahuan(knowledge), dan keterampilan (skill). Ketiga ranah tersebut adalah
satu kesatuan utuh dan menjadi tagihan dalam proses pembelajaran
yang relevan dengan konsep integrasi-interkoneksi. Dalam Kurikulum
2013, implementasi pendekatan integrasi-interkoneksi dilakukan tidak
hanya pada ranah pemikiran saja, akan tetapi pada praktik-aplikatifnya
dalam proses pembelajaran. Manajemen pembelajaran dalam kebijakan
kurikulum 2013 adalah contoh praktik integrasi-interkoneksi yang baik,
dimana Kurikulum 2013 mengintegrasikan tiga ranah kompetensi yaitu
sikap (attitude), pengetahuan (knowledge), dan ketrampilan (skill) yang
diimplementasikan dalam KI-1 (sikap spiritual), KI-2 (sikap sosial), KI-3
(pengetahuan), dan KI-4 (keterampilan). Keempat aspek ini (kompetensi
Inti) merupakan satu kesatuan (integrasi) tagihan yang harus terpenuhi,
tercapai dan terimplementasikan dalam proses belajar mengajar.
Kata Kunci: Integrasi-Interkoneksi, kebijakan, Kurikulum 201
MANAJEMEN MUTU SISTEM PEMBELAJARAN MADRASAH: Kontribusi Kepemimpinan Kepala Madrasah, Kompetensi Guru, Sarana Prasarana, dan Budaya Madrasah Terhadap Mutu Pembelajaran dan Dampaknya Terhadap Kepuasan Siswa di Madrasah Aliyah Swasta di Kota Yogyakarta Tahun 2009/2010
Penelitian mengkaji tentang “seberapa besar kontribusi kepemimpinan kepala madrasah, kompetensi guru, sarana prasarana, dan budaya madrasah terhadap mutu pembelajaran dan dampaknya terhadap kepuasan siswa”. Tujuan penelitian adalah untuk mengukur dan menguji kebermaknaan kontribusi kepemimpinan kepala madrasah, kompetensi guru, sarana prasarana, dan budaya madrasah terhadap mutu pembelajaran dan dampaknya terhadap kepuasan siswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Obyek penelitian ini adalah guru dari Madrasah Aliyah Swasta di kota Yogyakarta dengan kriteria bukan PNS dan belum lulus sertifikasi. Penjaringan data menggunakan koesioner dan dianalisis menggunakan multipel análisis (korelasi-path analysis).
Berdasarkan analisis data hasil penelitian diperoleh bahwa kepemimpinan kepala madrasah berkontribusi signifikan terhadap mutu pembelajaran. Temuan ini menunjukkan bahwa pimpinan madrasah kurang mampu mengerahkan sumber daya yang dimiliki madrasah. Kompetensi guru berkontribusi signifikan terhadap mutu pembelajaran. Temuan ini menunjukkan bahwa guru kurang mampu secara profesional mengelola tugas-tugas kependidikannya dalam proses pembelajaran. Sarana Prasarana berkontribusi signifikan terhadap mutu pembelajaran. Temuan ini menunjukkan bahwa masih kurangnya perhatian terhadap pemenuhan sumber informasi ilmu pengetahuan dalam perpustakaan. Budaya madrasah berkontribusi signifikan terhadap mutu pembelajaran. hal ini menunjukkan bahwa warga madrasah dalam proses penciptaan budaya kurang memperhatikan fokus layanan. Mutu pembelajaran berkontribusi signifikan terhadap kepuasan siswa. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk belajar kurang mendapatkan perhatian.
Berdasarkan analisis dan temuan penelitian, maka disarankan yayasan mengupayakan model kepemimpinan transformasional bagi pengembangan madrasah, Penguasaan terhadap empat kompetensi guru melaui berbagai pelatihan untuk meningkatkan mutu pembelajaran madrasah, Pemenuhan sarana dan prasarana yang menunjang, budaya yang mencerminkan nilai-nilai Islami, dan madrasah mefokuskan dan berorientasi pada pencapaian mutu serta kepuasan pelanggan madrasah dengan mengerahkan semua potensi dan sumberdaya yang dimiliki
Integrasi Pendidikan Anti Narkoba dalam Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kurikulum 2013
Abstract This article describe the antidrug education and the integration of anti-drug education in the curriculum of Islamic religious and moral education of the year 2013. The results showed that the antidrug education began in elementary, jun-ior and senior high school that includes knowledge about drugs and the dangers, increase self-esteem, and the formation of assertiveness. Integration of anti-drug education in the curriculum of Islamic religious education and moral includes three aspects, namely: knowledge (cognitive), attitudes and behaviours (affec-tive), and skills (psychomotor). Implementation of antidrug education at school level using integrative-inclusive strategy. Anti-drug education learning man-agement can be integrated in all subjects, both religious and secular.
Keyword: antidrug education, curriculum 2013
Abstrak Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pendidikan anti narkoba dan integrasi pendidikan anti narkoba pada kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan antinarkoba sudah dimulai sejak SD, SMP dan SMA yang mencakup pengetahuan tentang narkoba dan bahayanya, peningkatan harga diri, dan pembentukan asertasi. Integrasi pendidikan anti narkoba pada kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti mencakup tiga domain, yakni domain pengetahuan (kognitif), sikap dan perilaku (afeksi), dan keterampilan (psikomotorik). Implementasi pendidikan antinarkoba di jenjang sekolah menggunakan strategi integratif-inklusif. Manajemen pembelajaran pendidikan antinarkoba dapat diintegrasikan di semua mata pelajaran, baik agama maupun umum.
Kata kunci: pendidikan antinarkoba, kurikulum 201
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS ISLAM NUSANTARA: Menggali Kearifan Lokal, Meneguhkan lslam Nusantara
Dewasa ini persoalan kualitas moral merupakan persoalan yang
sangat serius atau penyakit akut yang senantiasa melekat pada diri
manusia, kapanpun dan dimanapun. Begitupun di kalangan peserta
didik yang mustinya memiliki karakter dan kepribadian yang kuat,
akan tetapi faktanya malah menunjukkan dekadensi moral dalam
sikap dan perilaku yang mereka tampilkan. Mulai dari geng motor,
perkelahian atav tawuran baik laki-laki maupun perempuan,
minuman keras, bahkan sampai dengan seks bebas dan aborsi. Pada
tahun ?O'1.4, BKKBN melansir data bahwa 46 persen remaja berusia
15-19 tahun sudah berhubungan seksual. Data Sensus Nasional yang
dilansir pada 2OL4 juga menunjukkan, 48-51 persen perempuan
hamil adalah remajal-. Hal ini menyadarkan kita semua untuk dapat
secara intensif menyelenggarakan "pendidikan karakter", sebab
pendidikan karakter diarahkan untuk memberikan upaya preventif
dan memberi intervensi pada nilai nilai karakteryengmusti dipahami
dan diaktualisasikan oleh peserta didik-seperti religiusitas, jujur,toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, cinta tanah air,
tanggung jawab dan seterusnya.
Demikian juga mulai nampak adanya kecenderungan untuk
meninggalkan budaya-budaya atau kearifan lokal dan bergeser
menuju budaya barat, hal tersebut nampak pada caraberpenampilan
atau berpakaian (fashion), kegiatan seni dan hiburan, cara
berinteraksi antara anak dan orang tua maupun interaksi murid
dengan guru, budaya hedonis dan seterusnya
Bagaimana Melakukan Penelitian Tindakan Kelas Bagi Guru?
Tujuan – Penelitian ini bertujuan memaparkan tentang Penelitian Tindakan Kelas, model-model penelitian tindakan kelas, dan bagaimana melakukan penelitian tindakan kelas bagi guru.
Metode – Secara deskriptif membahas tentang penelitian Tindakan Kelas, model-model penelitian tindakan kelas, dan bagaimana melakukan penelitian tindakan kelas bagi guru. Data diperoleh melalui literatur, buku, jurnal, laporan penelitian tentang penelitian tidakan kelas, dan review karya PTK dalam berbagai kegiatan ilmiah. Kemudian data diulas secara deskriptif untuk menjawab rumusan masalah yang telah ditentukan.
Hasil – Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan pembelajaran berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. Model-model PTK yang sering digunakan di dalam penelitian tindakan di antaranya adalah Model Kurt Lewin, Model Kemmis & McTaggart, model John Elliott, dan model Hopkins. Sedangkan cara melakukan penelitian tindakna kelas bagi para guru setidaknya terdiri dari empat langkah yaitu plan (perencanaan), act (tindakan), observe (pengamatan), dan reflect (perenungan).
 
- …
