2,374 research outputs found

    Kajian Feminis Novel Lusi Lindri Karya Y.B. Mangunwijaya

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran feminis tokoh utama pada novel Lusi Lindri Karya Y.B. Mangunwijaya. Sumber data penelitian ini adalah novel Lusi Lindri Karya Y.B. Mangunwijaya berjumlah 371 halaman diterbitkan oleh Gramedia di kota Jakarta, cetakan kelima tahun 1987. Data penelitian ini adalah seluruh isi novel Lusi Lindri Karya Y.B. Mangunwijaya dengan menelusuri makna feminis liberal tokoh utama yang terdapat pada novel tersebut, serta didampingi beberapa buku-buku dan jurnal penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Instrumen pengumpulan data menggunakan pedoman dokumentasi. Teknik analisis data penelitian ini adalah dengan membaca novel berulang-ulang sampai memahaminya, dan menandai kata atau kalimat yang berhubungan dengan masalah, setelah itu dideskripsikan, dianalisis dan disimpulkan. Adapun hasil analisis penelitian ini adalah ditemukan tokoh utama yang bernama Lusi Lindri seorang perempuan yang mampu melakukan perlawanan terhadap ideologi patriarkis yang menjadi sumber dari penindasan perempuan. Tokoh utama Lusi Lindri memiliki keberanian untuk melawan tradisi pada zamannya. Lusi Lindri menentang peraturan kerajaan bahwa perempuan harus menikah dengan orang yang ditentukan oleh orang tua maupun kerajaan. Lusi Lindri membuktikan bahwa ia menikah dengan orang yang ia cintai tanpa memandang statusnya, dan Lusi Lindri menentang kebiasaan buruk pihak istana kerajaan yang memperlakukan perempuan sesuka hatinya. Lusi Lindri telah berhasil mengangkat martabat perempuan dengan runtuhnya kerejaan Mataram yang dipimpin oleh raja yang kejam yaitu Susuhunan Mangkurat melalui perjuangan gerilyanya bersama suami dan kelompokny

    LUMPUR SIDOARJO (LUSI) SEBAGAI MATERIAL SUBSTITUSI SEMEN PADA BANGUNAN PESISIR

    No full text
    Kondisi  pada  kawasan  pesisir  membutuhkan perhatian  khusus  pada  penggunaan  material  bangunan  yang digunakan yaitu adanya resiko terkena korosi yang diakibatkan oleh kadar garam pada air laut. Material yang digunakan untuk bangunan pada kawasan pesisir diharuskan tahan terhadap sulfat. Material tahan sulfat pada semen untuk digunakan pada kawasan pesisir adalah semen Portland jenis II. Semen Portland tipe II memiliki syarat kimia utama yang harus dipenuhi yaitu kandungan silica quartz (SiO2) lebih dari 20%, alumunium oxide (Al2O3),  hematite  (Fe2O3)  dan  Magnesium  oxide  (MgO)  tidak  lebih  dari  6%.  lumpur  sidoarjo  (lusi).  Pada penelitian yang telah dilakukan Lasino (2007) menyatakan bahwa unsur kimia lusi didominasi oleh silika (> 50%). Komposisi kimia lusi oven memiliki unsur kimia silica quartz (SiO2) sebesar 53,08%, alumunium oxide (Al2O3) sebesar 26,05%, hematite (Fe2O3) sebesar 8,51% dan Magnesium oxide (MgO) sebesar 2,89%. Dengan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa lusi oven tidak memenuhi persyaratan kimia utama s emen Portland jenis II. Hasil XRF (X-Ray Flouresence) lusi bakar (suhu 800˚C selama 2 jam) menghasilkan unsur kimia silica quartz (SiO2) sebesar 32%, alumunium oxide (Al2O3) sebesar 5,81%, hematite (Fe2O3) sebesar 42,22%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa lusi bakar (suhu 800˚C selama 2 jam) memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi material substitusi semen Portland jenis II.   Kata Kunci : lumpur sidoarjo, semen jenis II, pesisi

    A Limited Role for Aerosol Indirect Effect Nonlinearity in the Climate Response to Changing Fire Emissions

    No full text
    This directory contains files used for analysis in “A Limited Role for Aerosol Indirect Effect Nonlinearity in the Climate Response to Changing Fire Emissions” Questions can be directed to the corresponding author at [email protected] ---------------------------------------------------- Code for analysis and plotting of each figure: • Figure 1: Fig1_Fig5.ipynb • Figure 2: Fig2_Fig3.ipynb • Figure 3: Fig2_Fig3.ipynb • Figure 4: Fig4.ipynb • Figure 5: Fig1_Fig5.ipynb • BB emission input files: emissions-cmip6_so4_a1_bb_surface_1750-2015_0.9x1.25_c20170322.nc (CMIP6) and emissions-cmip6-ScenarioMIP_IAMC-AIM-ssp370-1-1_smoothed_so4_a1_bb_surface_mol_175001-210101_0.9x1.25_c20201016.nc (SMBB) Code for first-order model analysis: • Change in BB variability from CESM2 LE’s CMIP6 and SMBB ensembles: [FOM]AerosolVariability.ipynb • First-order model calculations along with sensitivity analysis of results under different baseline aerosol concentrations: [FOM]FirstOrderModel_SensitivityAnalysis.ipynb • Estimating the required level of change in BB variability to get total SWCF response: [FOM]SolvingVariability.ipyn

    STRATEGI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA PULAU LUSI DI KECAMATAN JABON KABUPATEN SIDOARJO

    No full text
    AbstrakPulau Lusi merupakan salah satu destinasi wisata baru di Sidoarjo yang diharapkan dapat menjadi tujuan wisatayang berwawasan lingkungan dengan tema pemanfaatan, penelitian, pembelajaran serta pelestarian mangrove. PulauLusi belum dikenal secara luas oleh masyarakat karena pengunjung masih didominasi dari kecamatan Jabon dan daerahsekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi dan prioritas pengembangan yang dapat diterapkanpada objek wisata Pulau Lusi.Penelitian ini merupakan jenis penelitian survei dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Penelitiandilakukan di Pulau Lusi yang terletak di Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Respondendalam penelitian ini berjumlah 30 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan datamenggunakan observasi, kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis strategi pengembangan berdasarkan InternalFactor Analysis Summary (IFAS) dan External Factor Analysis Summary (EFAS) pada analisis SWOT.Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan nilai faktor strength (kekuatan) menunjukkan angka sebesar 1,9933 dannilai faktor weakness (kelemahan) sebesar 0,6659. Hasil perhitungan nilai faktor opportunity (peluang) menunjukkannilai sebesar 1,6543 dan nilai faktor threat (ancaman) sebesar 1,1111. Perhitungan dengan analisis SWOT menunjukkanbahwa objek wisata Pulau Lusi berada pada kuadran I, strategi yang diterapkan dalam kondisi ini adalah strategi agresif(growth oriented strategy). Prioritas utama strategi pengembangan untuk objek Pulau Lusi dengan total skor 0,3160yaitu meningkatkan promosi di berbagai media promosi dengan pemanfaatan teknologi promosi agar masyarakat dapatlebih mengenal objek wisata Pulau Lusi.Kata Kunci : Strategi, Pengembangan, Analisis SWO

    Entry words for Indonesian names

    No full text
    Catalog is a representative of document and Entry Name is one of important part of catalog. For cataloguing purpose, Indonesian librarians used the Peraturan penentuan nama-nama Indonesia (Rules for Indonesian names) published by National Scientific Documentation Centre and recognized as the Indonesian National Standard, first published in 1975 and accepted as one of the Standar Nasional Indonesia or Indonesian National Standard. However it never been revised since its acceptance as a standard although the regulation stated that any standard must be revised every five years. The other cataloguing rule is "Peraturan katalogisasi nama-nama Indonesia" [Cataloging rules for Indonesian names] published by Pusat Pembinaan Perpustakaan (Center for Library Development) in 1976, later on continued by the Indonesian National Library as Peraturan katalogisasi Indonesia (Indonesian cataloguing rules), the last edition is the 4th edition published in 1996 and also never been revised since then. Owing to the different users, usage and dissemination, the "Peraturan penentuan nama-nama Indonesia" is widely used among academic and special libraries as well as becoming the cataloguing standards at various library schools and cited by lecturers for entering Indonesian names in their bibliographies. The author is speaking on behalf of The National Library of Indonesi

    Peran masyarakat dalam pengelolaan ekominawisata pulau Lusi, kabupaten Sidoarjo

    No full text
    Potensi dan keunikan sumber daya alam pada kawasan ekosistem mangrove di Pulau Lusi jika dikelola dengan baik dapat memiliki peran yang signifikan dalam pengembangan ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan masyarakat kawasan Pulau Lusi. Pulau Lusi merupakan pulau buatan yang dibentuk sebagai solusi dari penanganan endapan sedimen di Muara Sungai Porong akibat dari semburan panas yang dialirkan ke laut melalui Sungai Porong. Saat ini Pulau Lumpur dimanfaatkan sebagai lahan untuk menambah luasan ekosistem mangrove di muara dan perikanan budidaya dengan sistem wanamina (Silvofishery). Ekominawisata merupakan salah satu pemanfaatan ekosistem mangrove dan tambak wanamina dengan pendekatan edukasi dan ekonomi untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Selain itu, ekominawisata ini secara langsung memiliki manfaat pelestarian alam dan lingkungan. Pengelolaan ekominawisata di Pulau Lusi tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan akan tetapi diperlukan peran serta masyarakat di kawasan Pulau Lusi untuk mencapai kelestarian ekosistem mangrove dan kesejahteraan masyarakat. Tujuan penelitian adalah untuk menilai potensi ekominawisata di Pulau Lusi. Metode yang digunakan adalah gabungan antara metode kuantitatif dan kualitatif. Pengambilan data berupa kuesioner, wawancara, observasi, kajian literatur dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) sumber daya alam di Pulau Lusi sesuai untuk dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai kawasan ekominawisata, dan 2) adanya partisipasi masyarakat melalui kelembagaan swadaya masyarakat menjadi modal utama dalam upaya pengelolaan dan pengembangan ekominawisata Pulau Lusi. ABSTRACT Potential and uniqueness of natural resources in Sidoarjo Mud Island mangrove ecosystem area have a significant role in community economical, socio-cultural and environmental development if it’s managed properly. Sidoarjo Lumpur Island is an artificial island created as a solution to the handling of sediment deposition in Porong River Estuary as a result of the mudflow which flowed into the sea via the Porong River. Lumpur Island is currently utilized as a habitat for mangrove ecosystem extension as well as a site for aquaculture with wanamina system (silvofishery). Ecofisherytourism is a way to utilize mangrove ecosystem for ponds silvofishery based on the educational and economic approach to achieve the welfare of society. Also, eco-fisherytourism has a direct benefit of preserving nature and the environment. Eco-fisherytourism management in SidoarjoMud Island not only becomes government responsibility particularly Ministry of Marine Affairs and Fisheries but also becomes community responsibility to participate and to achieve sustainability of mangrove ecosystem and community welfare. The objective of this study is to assess the potential of ecotourism in Sidoarjo mud flat. The method used is a combination of quantitative and qualitative methods. Data collection by using questionnaires, interviews, observation, literature review and documentation. The result of the research shows that 1) natural resources in Sidoarjo Mud Island are suitable to be developed and to be utilized as an eco-tourism area, and 2) the participation of community through self-supporting institution have become the main capital in managing and developing Sidoarjo Mud Island eco-fisherytorism

    ANALISIS PERAN MASYARAKAT LOKAL DALAM PENGEMBANGAN WISATA ALAM BERDASARKAN KONSEP COMMUNITY-BASED NATURAL RESOURCES MANAGEMENT DI PULAU LUSI

    No full text
    Pariwisata memperhatikan kelestarian lingkungan, sosial dan budaya. Dikelola dan dimiliki oleh masyarakat, untuk masyarakat, dengan tujuan memungkinkan pengunjung untuk meningkatkan kesadaran mereka dan belajar tentang komunitas dan cara hidup lokal. Pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat atau community-based natural resources management (CBNRM) adalah pendekatan populer untuk mempromosikan pengelolaan sumber daya alam secara kolektif dan berkelanjutan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk lebih menjabarkan secara rinci sesuai data dan fakta di lapangan. Pengertian yang mendalam tidak akan mungkin dapat terperinci tanpa adanya observasi, wawancara, dan pengalaman langsung ke lapangan. Budidaya ikan air tawar dan mangrove merupakan sumber daya alam yang menjadi perhatian utama di Pulau Lusi. Dari pernyataan narasumber, sumber daya alam yang disebutkan memiliki potensi menjadi daya tarik wisata di Pulau Lusi. Dengan memenuhi tiga prinsip pengembangan wisata yakni something to see, something to do, dan something to buy. Daya tarik yang unik menjadikan Pulau Lusi salah satu wisata alam yang dikategorikan unggulan di daerah Sidoarjo. Masyarakatsetempat sudah memiliki kesadaran wisata terhadap adanya wisata alam Pulau Lusi. Hanya saja pengembangan mengenai keterampilan dalam partisipasi mengelola Pulau Lusi kurang dikoordinasi dengan baik sehingga terdapat selisih paham antara pokdarwis dan stakeholder. Kata Kunci : Community-Based Natural Resources Management, wisata alam, potensi sumber daya alam, peran masyarakat lokal Tourism pays attention to environmental, social and cultural sustainability. Managed and owned by the people, for the people, with the aim of enabling visitors to raise their awareness and learn about the local community and way of life. Community-based natural resource management orcommunity-based natural resources management (CBNRM) is a popular approach to promote collective and sustainable management of natural resources. In this research, researchers used a qualitative approach with a case study method to explain in more detail according to data and facts in the field. A detailed understanding would not be possible without observation, interviews and direct experience in the field. Cultivating freshwater fish and mangroves are natural resources that are a major concern on Lusi Island. From the resource person's statement, the natural resources mentioned have the potential to become a tourist attraction on Lusi Island. By fulfilling the three principles of tourism development, namely:something to see, something to do, andsomething to buy. The unique attraction makes Lusi Island one of the superior natural attractions in the Sidoarjo area. The local community already has tourism awareness of the natural tourism of Lusi Island. It's just that the development of skills in participating in managing Lusi Island is not well coordinated so there is a difference in understanding between Pokdarwis andstakeholder. Keywords: Community-Based Natural Resources Management, natural tourism, natural resource potential, the role of local communitie

    Penanganan Kerusakan Sungai Lusi Kabupaten Grobogan Jawa Tengah Akibat Banjir dan Erosi Pada Lereng Sungai: Penanganan Kerusakan Sungai Lusi Kabupaten Grobogan Jawa Tengah Akibat Banjir dan Erosi Pada Lereng Sungai

    No full text
    ABSTRACT Jratunseluna river area is 9,576.01 km² wide crossing 10 regencies and 2 cities, one of which is Grobogan Regency. The River System in Jratunseluna river area consists of 4 systems: Semarang Barat, Dolok-Panggaron, Jragung-Tuntang, and Serang Lusi Juana (Seluna). There are 2 (two) main riversi in the Seluna River system: Lusi and Serang Rivers, both of which cross Blora, Grobogan, Kudus, and Demak Regencies. The research was conducted in Lusi Rivershed (DAS) in Klaten Hamlet, Ngaringan Village, Ngawen Sub District, Grobogan Regency. This research aims to find out physical condition of Lusi River, inundation height, total discharge, and inundation area on the existing cross-section of Lusi River and to find out safety factor in strengthening Lusi River slope. River gydrolic analysis was conducted based in direct procedure with software HEC-RAS version 5.0 help and the method used in the analysis was slope stability with Bishop’s wedge method. The result of  field survey shows that river bank damage occurs in Lusi Rivershed due to flood, erosion, and condition of land proning to landslide in the riverbed. Meanwhile, the result of analysis using HEC RAS 5.0 with plan discharge Q 10 years shows inundatio heigh of 1.10 m, and total discharge/ total Q of 450.34 m³/s, and for the inundation area of 1478.35 m² and safety factor value in strengthening Lusi River slope using gabions in Klaten Village, Ngaringan, Wirosari, Grobogan, Central Java, the value of 1.2787 was found without gabions, 1.3115 with gabions, and 1.3800 for alternative gabion 3.            Keywords: River, flood and landslide managemen   Abstrak Wilayah Sungai Jratunseluna memiliki luas wilayah Sungai 9.576,01 km² yang mencakup 10 kabupaten dan 2 kota, yang salah satunya adalah Kabupaten Grobogan. Sistem Sungai pada WS Jratunseluna terbagi atas 4 sistem yaitu Sistem Semarang Barat, Sistem Dolok-Panggaron, Sistem Jragung-Tuntang dan Sistem Sungai Serang Lusi Juana (Seluna). Pada sistem Sungai Seluna terdapat 2 (dua) Sungai utama yaitu Sungai Lusi dan Sungai Serang, dimana Sungai tersebut melintasi Kabupaten Blora, Grobogan, Kudus dan Demak. Lokasi penelitian ini pada DAS Lusi tepatnya di Dusun Klaten Desa Ngaringan Kecamatan Ngawen Kabupaten Grobogan.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi fisik Sungai Lusi, mengetahui tinggi genangan, debit total dan area genangan pada penampang eksisting Sungai Lusi serta mengetahui nilai safety factor dalam perkuatan lereng Sungai Lusi. Analisis hidrolika sungai berdasarkan metode tahapam langsung menggunakan bantuan software HEC-RAS versi 5.0. dan metode yang digunakan dalam analisis stabilitas lereng dengan cara irisan bishop. Hasil survei lapangan didapat di DAS Lusi terjadi kerusakan tebing sungai akibat banjir dan erosi serta kondisi tanah pada palung sungai yang mudah longsor. Sementara dari hasil analisis HEC RAS 5.0 dengan debit renana Q 10 tahun didapat tinggi genangan 1,10 m debit total/Q total 450,34 m³/s dan untuk area genangan sebesar 1478,35 m² dan nilai safety factor dalam perkuatan lereng Sungai Lusi menggunakan bronjong pada Desa Klaten, Ngaringan, Wirosari, Grobogan, Jawa Tengah didapat sebesar 1,2787 tanpa bronjong, 1,3115 dengan bronjong dan 1,3800 untuk bronjong alternatif 3. Keywords : Sungai, penanggulangan banjir dan longsor &nbsp

    ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB CACAT LUSI KENDOR PADA KAIN DENIM D 62151 DENGAN METODE DESAIN EKSPERIMEN FAKTORIAL (Studi Kasus di PT. Batam Textile Industry)

    No full text
    Kualitas menjadi faktor dasar keputusan konsumen dalam banyak produk dan jasa. Gejala ini meluas, tanpa membedakan apakah konsumen tersebut perseorangan maupun kelompok industri. PT. Batam Textile Industry (PT. Batamtex) merupakan salah satu perusahaan tekstil yang memproduksi benang, kain grey dan kain denim. Kain denim jenis D 62151 merupakan produk unggulan PT. Batamtex dan merupakan produk khusus ekspor yaitu kepada VF Asia yang berada di Hongkong. VF Asia hanya menerima kain dengan tiga jenis kualitas, yaitu kain kelas satu (AA1) dan kain kelas kedua (AA2), dan kain kelas tiga (AA3). Untuk memenuhi tuntutan VF Asia, maka PT. Batamtex mempunyai target untuk mengahsilkan produk kain denim kualitas Cowboy maksimal 10% dari jumlah produksi tetapi seringkali jumlah tersebut tidak tercapai. Hal ini dapat terlihat dari data hasil produksi kain denim D 62151 untuk periode bulan Januari sampai dengan April 2005, dimana produk Cowboy yang mencapai 18,21% dari total produksi. Permasalahan utama pada penelitian ini adalah tingginya produk tidak sesuai pada kain denim D 62151 sehingga perlu dilakukan usaha peningkatan kualitas. Sedangkan tujuan penelitiannya adalah mengidentifikasi jenis cacat yang paling dominan pada pembuatan kain denim jenis D 62151, menentukan faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap cacat lusi kendor, menganalisa dan membahas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya cacat lusi kendor dengan menggunakan metode desain Eksperimen Faktorial. Berdasarkan pembobotan jenis cacat produk kain denim D 62151 yang tertuang dalam diagram pareto maka jenis cacat yang paling dominan adalah cacat lusi kendor. Selanjutnya dari diagram sebab akibat penyebab cacat lusi kendor pada kain denim D 62151 adalah metode, material, operator, mesin dan lingkungan. Dari hasil perhitungan ANAVA, faktor yang memiliki pengaruh signifikan terhadap cacat adalah komposisi kanji, cara penggantian beam lusi dan kecepatan mesin yang digunakan. Sedangkan taraf faktor yang menghasilkan nilai cacat terkecil adalah taraf faktor komposisi kanji 100% PVA, taraf faktor cara penggantian beam lusi dengan dicucuk, dan taraf faktor kecepatan mesin 350 RPM
    corecore