Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
    419 research outputs found

    Dampak Restorasi Mangrove Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Provinsi Riau

    No full text
    Abstrak. Kabupaten Indragiri Hilir memiliki hutan mangrove terluas di Provinsi Riau yang mencapai 131.658 hektare berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2021. Namun, kawasan ini mengalami degradasi akibat abrasi, eksploitasi kayu untuk arang dan konstruksi, serta konversi lahan menjadi tambak. Desa Pulau Ruku, Tanjung Lajau, dan Kuala Patah Parang menjadi fokus restorasi mangrove yang didukung oleh YAKOPI sejak 2022. Masyarakat setempat, termasuk kelompok tani, dilibatkan dalam upaya restorasi dengan pelatihan dan pemberdayaan ekonomi berbasis ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengalanisis dampak kegiatan restorasi mangrove terhadap sosial ekonomi masyarakat di Desa Pulau Ruku, Tanjung Lajau, dan Kuala Patah Parang, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Penelitian ini dilakukan di tiga desa di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, yang menjadi fokus restorasi mangrove akibat degradasi ekosistem pada bulan Mei 2024. Data diperoleh melalui observasi, wawancara terstruktur dengan kelompok tani dan masyarakat, serta studi dokumen. Analisis data menggunakan model Miles & Huberman yang mencakup pengumpulan, reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan terkait dampak sosial-ekonomi restorasi mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat di Pulau Ruku, Tanjung Lajau, dan Kuala Patah Parang dilakukan melalui pembentukan kelompok tani seperti Maju Bersama, Tanjung Bidadari, dan Konservasi Pesisir dan Bakau Indah. Kegiatan restorasi mangrove di Desa Pulau Ruku meningkatkan pendapatan keluarga sebesar 12,41%, di Desa Tanjung Lajau sebesar 12,07%, dan di Desa Kuala Patah Parang sebesar 9,35%. Kegiatan restorasi mangrove di tiga desa memberikan dampak positif signifikan pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Dari segi sosial, kekompakan dan kekerabatan warga meningkat, sementara dari segi ekonomi, masyarakat di Desa Pulau Ruku, Tanjung Lajau, dan Kuala Patah Parang terbantu dengan adanya sumber pendapatan yang mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Abstract. Indragiri Hilir Regency has the largest mangrove forest in Riau Province, covering 131,658 hectares according to the 2021 National Mangrove Map. However, this area has experienced degradation due to coastal erosion, wood exploitation for charcoal and construction, and land conversion into fish ponds. Pulau Ruku, Tanjung Lajau, and Kuala Patah Parang villages have been the focus of mangrove restoration efforts supported by YAKOPI since 2022. Local communities, including farmer groups, have been involved in restoration efforts through training and economic empowerment based on the mangrove ecosystem. This research aims to analyze the impact of mangrove restoration activities on the socio-economic conditions of communities in Pulau Ruku, Tanjung Lajau, and Kuala Patah Parang villages, Indragiri Hilir Regency, Riau Province. The research was conducted in three villages in Indragiri Hilir Regency, Riau, which have been the focus of mangrove restoration due to ecosystem degradation, in May 2024. Data was obtained through field observations, structured interviews with farmer groups and community members, and document studies. Data analysis used the Miles & Huberman model, which includes data collection, reduction, presentation, and conclusion drawing regarding the socio-economic impact of mangrove restoration. The findings indicate that community empowerment in Pulau Ruku, Tanjung Lajau, and Kuala Patah Parang was carried out through the formation of farmer groups such as Maju Bersama, Tanjung Bidadari, and Konservasi Pesisir and Bakau Indah. Mangrove restoration activities increased household incomes by 12,41% in Pulau Ruku, 12.07% in Tanjung Lajau, and 9.35% in Kuala Patah Parang. The restoration initiatives in these three villages have had a significant positive impact on both social and economic aspects. Socially, they have strengthened community cohesion and relationships, while economically, they have provided residents with a sustainable source of income to meet their daily needs.Submitted: 2024-11-11 Revisions:  2025-03-07 Accepted:  2025-06-20 Published:  2025-07-0

    Pemodelan spasial alternatif tempat evakuasi sementara dan jalur evakuasi bencana tsunami di pesisir Desa Watukarung, Kabupaten Pacitan

    Full text link
    Abstrak. Pesisir Desa Watukarung menjadi salah satu kawasan rawan bencana tsunami yang memiliki nilai strategis sebagai destinasi wisata geopark sekaligus direncanakan sebagai Pangkalan Pendaratan Ikan di Kabupaten Pacitan, sehingga upaya mitigasi bencana tsunami perlu dilakukan sebagai bagian perencanaan penataan ruang yang memperhatikan aspek kebencanaan dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan rute evakuasi optimal dan menentukan alternatif tempat evakuasi sementara (TES) bencana tsunami dengan mempertimbangkan area aman terdekat, kapasitas, serta distribusi populasi di pesisir Desa Watukarung. Pemodelan spasial dilakukan dengan skenario run-up 29,2 meter untuk mengidentifikasi area bahaya dan area aman. Metode Least Cost Distance (LCD) digunakan untuk membuat jalur evakuasi optimal dan menghitung kebutuhan waktu atau waktu tempuh evakuasi, sementara distribusi populasi dihitung berdasarkan sensus kapasitas bangunan pelayanan umum dan observasi lapangan. Hasil pemodelan bahaya tsunami menunjukkan jarak genangan hingga 900 meter dari garis pantai seluas 170,66 Ha. Pemodelan area aman tsunami menunjukkan 2 lokasi TES dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pacitan belum memenuhi kriteria area aman yang digunakan. Berdasarkan distribusi populasi dan jarak aman terhadap area bahaya tsunami, diusulkan sebanyak 8 lokasi TES alternatif menggantikan 2 lokasi dalam RTRW. Hasil pemodelan jalur evakuasi membentuk 16 jalur evakuasi, 5 di antaranya memenuhi waktu tempuh ≤11 menit, dan sebagian melintasi lahan pertanian untuk efisiensi waktu. Disarankan pengadaan early warning system, pembangunan akses evakuasi, diseminasi rencana mitigasi, dan simulasi rutin untuk meningkatkan keberhasilan evakuasi bencana tsunami di pesisir Desa Watukarung.Abstract The coastal area of Watukarung Village is a region prone to tsunami disasters with strategic value as a geopark tourist destination and a planned Fish Landing Base in Pacitan Regency. Therefore, tsunami mitigation efforts are essential as part of spatial planning that considers disaster risk and sustainability. This study aimed to plan optimal evacuation routes and determine alternative temporary evacuation shelters (TES) for a tsunami disaster by considering the nearest safe areas, capacity, and population distribution along the coast of Watukarung Village. Spatial modeling was conducted using a 29.2-meter run-up scenario to identify hazard and safe zones. The Least Cost Distance (LCD) method was applied to generate optimal evacuation routes and calculate the required evacuation travel time, while population distribution was calculated based on a census of public service building capacity and field observations. The tsunami hazard modeling results showed an inundation distance of up to 900 meters from the coastline, covering an area of 170.66 hectares. The safe area modeling revealed that two TES locations from the Pacitan Regency Spatial Plan (RTRW) did not meet the safe area criteria used in this study. Based on population distribution and a safe distance from the tsunami hazard zone, eight alternative TES locations were proposed to replace the two locations in the RTRW. The evacuation route modeling resulted in 16 evacuation paths, five of which achieved a travel time of ≤11 minutes. Some of these paths traverse agricultural land for time efficiency. The study suggests that providing an early warning system, constructing evacuation access, disseminating the mitigation plan, and conducting regular simulations are necessary to enhance the success of tsunami disaster evacuations on the coast of Watukarung Village. Submitted: 2025-09-08 Revisions:  2025-09-18 Accepted: 2025-09-25 Published: 2025-09-2

    Evaluasi Algoritma Machine Learning untuk Klasifikasi dan Prediksi Penggunaan Lahan

    Full text link
    Abstrak. Pemantauan, perencanaan, dan pengelolaan sumberdaya lahan membutuhkan data penggunaan lahan yang akurat. Banyak penelitian telah dilakukan mengenai klasifikasi dan prediksi penggunaan lahan. Namun, penelitian terkait penentuan metode klasifikasi dan prediksi yang akurat masih sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi algoritma machine learning dalam klasifikasi dan prediksi penggunaan lahan serta menganalisis perubahan penggunaan lahan tahun 2002- 2032. Area studi penelitian ini yaitu Sub DAS Tanralili, klasifikasi menggunakan Dzetsaka dengan algoritma seperti kNN, GMM, RF, dan SVM, dan prediksi menggunakan MOLUSCE dengan model CA yang dikombinasi dengan ANN, LR, WoE, dan MCE. Model dievaluasi menggunakan overall accuracy dan kappa, akurasi tertinggi pada tahun 2002, 2012, dan 2022 masing-masing adalah kNN (kappa 0,92), SVM (kappa 0,86), dan GMM (kappa 0,74). Algoritma SVM memiliki kappa rata-rata tertinggi untuk klasifikasi sebesar 0,83, sedangkan model CA-ANN menunjukkan nilai kappa tertinggi untuk prediksi sebesar 0,65. Pada periode 2002-2022, terjadi penurunan hutan sekunder (4.184,0 ha), pertanian lahan kering (1.259,3 ha), dan badan air (328,0 ha), sedangkan peningkatan pada semak belukar (5.303,3 ha), sawah (367,0 ha), padang rumput (64,5 ha), dan permukiman (36,5 ha). Pada periode 2022-2032 menunjukkan penurunan hutan sekunder (554,2 ha), sawah (332,6 ha), padang rumput (192,8 ha), dan badan air (33,4 ha), sedangkan peningkatan pada semak belukar (700,9 ha), pertanian lahan kering (401,1 ha), dan permukiman (1,1 ha). Abstract. Monitoring, planning, and managing land resources require accurate land use data. Many studies have been conducted on land use classification and prediction. However, research related to determining accurate classification and prediction methods is still very important. This study aimed to evaluate machine learning algorithms in land use classification and prediction and analyzed land use change from 2002 to 2032. The study area of this research was the Tanralili Sub Watershed, with classification using Dzetsaka and algorithms such as kNN, GMM, RF, and SVM, and prediction using MOLUSCE with the CA model combined with ANN, LR, WoE, and MCE. The models were evaluated using overall accuracy and kappa; the highest accuracy in 2002, 2012, and 2022 were kNN (kappa 0.92), SVM (kappa 0.86), and GMM (kappa 0.74), respectively. The SVM algorithm had the highest average kappa for classification at 0.83, while the CA-ANN model showed the highest kappa value for prediction at 0.65. In the period 2002-2022, there was a decrease in secondary forests (4,184.0 ha), dry land agriculture (1,259.3 ha), and water bodies (328.0 ha), while an increase in shrubs (5,303.3 ha), rice fields (367.0 ha), grasslands (64.5 ha), and settlements (36.5 ha). The 2022-2032 period predicted a decrease in secondary forests (554.2 ha), rice fields (332.6 ha), grasslands (192.8 ha), and water bodies (33.4 ha), while an increase in shrubs (700.9 ha), dry land farming (401.1 ha), and settlements (1.1 ha). Submitted: 2024-08-14 Revisions:  2024-11-13 Accepted: 2025-02-17 Published: 2025-02-17

    Analisis Tren Frekuensi Banjir Kali Mriwong

    No full text
    Abstract. Pembangunan berkelanjutan berpegang pada prinsip keadilan antar generasi. Banjir menjadi bencana global paling merusak dalam skala tingkat geografis. Lahan yang berubah fungsi peruntukan dan meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan terganggunya lokasi penyimpanan cadangan air. Perubahan peruntukan lahan andil dalam meningkatnya bencana banjir. Populasi manusia yang mendiami daerah rawan banjir merasakan dampak kerugian materi dan kesehatan yang semakin parah. Kecamatan Pulung termasuk wilayah dengan curah hujan tinggi di Kabupaten Ponorogo. Kali Mriwong menjadi sungai berdebit handal yang dimanfaatkan untuk irigasi. Perkembangan pertanian semusim di hulu daerah tangkapan air mempengaruhi kontinyuitas debit Kali Mriwong. Sepanjang 2020 tercatat 12 bencana banjir dan 1 kekeringan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis ambang batas banjir dan tren frekuensi kejadian banjir Kali Mriwong. Metode yang dipakai adalah analisis persentil dan analisis tren debit. Data yang digunakan adalah debit Kali Mriwong tahun 2014-2020. Hasil Penelitian menunjukkan ambang batas banjir yang sesuai untuk Kali Mriwong adalah Q95. Kemudian pada frekuensi kejadian banjir terdeteksi adanya tren meningkat pada bulan Maret dan tren menurun pada bulan April. Kenaikan dan penurunan frekuensi kejadian banjir pada bulan berurutan menjadi indikasi awal pergeseran musim hujan. Oleh karena itu, penanggulangan banjir Kabupaten Ponorogo perlu mempertimbangkan penelitian yang lebih komprehensif tentang hujan. Pengembangan sistem peringatan dini dalam penanggulangan banjir Kabupaten Ponorogo perlu menganalisis ambang batas banjir di stasiun pantau debit lainnya (Cokromenggalan, Wilangan, Gendol, Ngebel, Kedung Celeng, Watu Putih, Galok dan Sungkur). Saran untuk penelitian selanjutnya, perlu dicoba jenis persamaan lainnya dalam menganalisis R2 untuk menemukan model persamaan yang paling mewakili tren frekuensi banjir Kabupaten Ponorogo.Abstract. Sustainable development adheres to the principle of intergenerational justice. Floods are the most destructive global disasters on a geographical scale. Land use changes and increasing population growth result in the distrution of locations for storing water. Land use changes contribute to the increasing flood disaster. The human population living in flood-prone areas feels the impact of increasingly severe material and health losses. Pulung District is an area with high rainfall in Ponorogo Regency, East Java, Indonesia. Mriwong utilized for irrigation. The development of agriculture in the catchment area of Mriwong River affects the discharge continuity. Throughout 2020, 12 flood disasters and 1 drought were recorded. The intent of this research is to analyze the flood threshold and trend analysis of Mriwong River Flood Frequency. The methods used are percentile analysis and trend analysis. The data utilized are Mriwong River discharges 2014 to 2020. The research results show that the appropriate flood threshold for Mriwong River is Q95. Then, an increasing trend of flood frequency was detected in March, and a decreasing trend occurred in April. The increase and decrease of flood frequency trends is an early indication of rainy season change. Therefore, flood management in Ponorogo Regency needs to consider comprehensive research on rainfall. The flood early warning system management in Ponorogo Regency required analyzing the flood threshold at other discharge monitoring stations (Cokromenggalan, Wilangan, Gendol, Ngebel, Kedung Celeng, Watu Putih, Galok, and Sungkur). Suggestions for further research: It is necessary to try other types of equations in analyzing R2 to find the best equation model that represents the trend of flood frequency in Ponorogo Regency. Submitted: 2024-11-28 Revisions:  2025-03-12 Accepted: 2025-06-20  Published: 2025-08-08  

    Alternatif Nature-based Solution untuk Daerah Rawan Bahaya Pesisir Barat Kabupaten Pangandaran

    Full text link
    Abstrak. Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat bagian selatan yang memiliki wilayah kepesisiran cukup luas dan beragam secara biofisik. Kawasan pesisir ini memiliki peran strategis dalam mendukung aktivitas ekonomi, sosial, dan ekologi masyarakat sekitar. Akan tetapi, kawasan pesisir juga menghadapi berbagai potensi bahaya alam seperti abrasi, banjir rob, gelombang ekstrem, dan perubahan garis pantai baik akibat dari faktor alam maupun dari faktor manusia. Setiap tipologi pesisir berperan strategis pengurangan risiko bencana yang berbeda menurut potensi dan ancamannya. Oleh karena itu, penentuan tipologi pesisir sangat penting untuk menilai tingkat bahaya dalam pengelolaan wilayah kepesisiran agar dapat memberikan solusi atas bahaya dengan tetap  memperhatikan keberlanjutan sumber daya di wilayah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat dari bahaya kepesisiran dan menyusun alternatif pengelolaan bahaya tersebut berdasarkan prinsip Nature-based Solutions (NbS) atau solusi berbasis alam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Coastal Hazard Wheel (CHW). Metode tersebut digunakan untuk menerjemahkan karakteristik biogeofisik berupa geological layout, paparan gelombang, rentang pasang surut, flora dan fauna, keseimbangan sedimen, serta storm climate menjadi bahaya kepesisiran. Metode CHW menghasilkan tingkat bahaya yang dapat menjadi landasan untuk menentukan tipe arahan pengelolaan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pesisir Barat Pangandaran memiliki empat tipe alternatif arahan pengelolaan, yaitu TSR (tidal inlet/sand split/river mouth), BA-5 (barrier), R-1 (sloping hard rock coast), dan PL-5 (sediment plain). Adapun rekomendasi Nature-based Solutions (NbS) yang diberikan untuk masing-masing dari keempat indeks pengelolaan, yaitu pada indeks BA-5 agar difokuskan pada upaya perbaikan sistem transportasi sedimen dan rehabilitasi struktur dinding batu guna mengurangi risiko pendangkalan dan banjir; pada indeks PL-5 penanganan utama dilakukan melalui pembangunan penghalang pantai serta optimalisasi pergerakan sedimen sebagai bentuk dari mitigasi; pada indeks TSR disarankan dilakukan pemulihan lahan basah untuk memperbaiki ekosistem mangrove yang mengalami degradasi akibat tekanan aktivitas alam dan manusia; sedangkan pada indeks R-1 tidak memerlukan tindakan prioritas karena kondisi kawasan dinilai stabil dan relatif aman dari ancaman signifikan. Abstract. Pangandaran Regency, located in the southern part of West Java, features diverse coastal areas that play strategic roles in supporting local economic, social, and ecological activities. However, these coastal zone face various natural hazards including coastal abrasion, tidal flooding, extreme waves, and shoreline changes caused by both natural processes and human activities. Each coastal typology requires a different disaster risk reduction strategy based on its specific potential and threats. Therefore, identifying coastal typologies is crucial for assessing hazards and for guiding coastal management in a way that ensures the sustainability of coastal resources. This study aims to assess the level of coastal hazards and to formulate alternative hazard management strategies based on the principles of Natured-based Solutions (NbS). The method employed in this research is the Coastal Hazard Wheel (CHW), which translates biogeophysical characteristics-such as geological layout, wave exposure, tidal range, flora and fauna, sediment balance, and storm climate into coastal hazard classifications. The CHW method provides hazard level outputs that serve as a foundation for determining appropriate types of sustainable management approaches. The results of the study indicate that the western coast of Pangandaran falls into four management index categories: TSR (tidal inlet/sand split/river mouth), BA-5 (barrier), R-1 (sloping hard rock coast), dan PL-5 (sediment plain). The recommended Nature-based Solutions (NbS) for each of these categories are as follows: for the BA-5 index, efforts should focus on improving sediment transport systems and rehabilitating rock wall structures to reduce sedimentation and flood risks; for the PL-5 index, the main strategy involves constructing coastal barriers and optimizing sediment movement as a form of mitigation; for the TSR index, wetland restoration is recommended to rehabilitate degradaded mangrove ecosystems impacted by both natural and human pressures; and for the R-1 index, no priority action is required, as the area is considered stable and relatively safe from significant threats.Submitted:2024-11-20 Revisions:2025-08-13 Accepted: 2024-09-11 Published:2025-09-0

    Studi Kebencanaan Kritis terhadap Konstruksi Gagasan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Kalimantan Tengah

    Full text link
    Abstrak. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kebencanaan kritis dengan metodologi etnografi untuk menganalisis proses pembingkaian peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang dikonstruksi sebagai bencana alam beserta kaitannya dengan diskusi neoliberalisme dan biopolitik. Pendekatan ini menekankan agar pengkajian bencana tidak hanya terbatas pada aspek fisik saja namun juga didalamnya mencakup sosial, politik, ekonomi, politik, dan budaya termasuk didalamnya adalah urusan tata kelola. Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah memiliki cara tersendiri dalam menavigasi lanskap hutan rawa gambut untuk pemenuhan kebutuhan subsistensi dan mata pencaharian selama ratusan tahun dengan bantuan penggunaan api. Namun sejak tiga episode kebakaran tahun 1997, 2015, dan 2019, mereka kini menjadi sasaran konfigurasi ulang oleh kekuasaan. Kekuasaan menciptakan kondisi ‘kerentanan’ lewat gagasan bencana alam sebagai pemicu dari terlaksananya beragam kepentingan ekonomi politik lewat narasi-narasi baru mengenai hutan rawa gambut. Penciptaan itu dapat dilihat dari proses degradasi lanskap hutan rawa gambut sehingga berakhir pada terjadinya bencana kebakaran dan  hilangnya akses pemanfaatan hutan secara bebas. Abstract. This study utilizes critical disaster studies approach with ethnographic methodology to analyse the framing process of forest fires that constructed as natural disasters and its dialectic to the discourse of biopolitics and neoliberalism. This approach emphasizes that disaster studies inquiries should not be confined to the physical aspects, it should expand them to the social, political, economic, and cultural aspects, including governmental process. Dayak Ngaju indigenous community in Central Kalimantan has its own way of navigating the peat swamp forest landscape to meet their subsistence and livelihood needs for hundreds of years along with fire assistance. However, since the three episodes of disastrous fires in 1997, 2015, and 2019, the indigenous Dayak Ngaju community have become the target of state reconfiguration that led them to a state of vulnerability. The idea of natural disasters became a trigger for the implementation of various economic and political interests through the creation of new narratives regarding peat swamp forests. This creation can be seen in the process of peat swamp forest landscape degradation, which potentially leads to forest fires and the loss of free access to forest use.Submitted:2025-05-26 Revisions: 2025-08-22 Accepted:2025-08-26 Published:2025-08-2

    Estimasi distribusi PDRB kawasan Kedungsepur secara spasial menggunakan Geographically Weighted Regression untuk mendukung pengembangan wilayah

    Full text link
    Abstrak Salah satu tujuan utama perencanaan pembangunan adalah menghasilkan kebijakan dan program untuk mendorong pertumbuhan ekonomi agar kualitas hidup masyarakat yang tinggal dan bekerja meningkat. Perencanaan yang cermat diperlukan kerincian data aktivitas ekonomi yang cukup rinci paling tidak hingga pada tingkat komunitas yang dapat menggambarkan heterogenitas dari wilayah untuk analisis yang lebih detail dan lebih mendalam mengenai dinamika produksi dan transaksi yang merupakan jantung dari analisis ekonomi. Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang ada saat ini hanya pada skala makro yang mengasumsikan nilainya merata di seluruh wilayah administrasi dan tidak menggambarkan heterogenitas hingga pada tingkat komunitas dan sebaran sentra-sentra kegiatan ekonomi. Penurunan skala (downscaling) PDRB secara spasial perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan menguji teknik downscaling untuk menghasilkan nilai estimasi dengan skala yang lebih kecil dari pada nilai aktual dengan menggunakan metode Geographically Weighted Regression (GWR) dari data nighttime light dan tutupan lahan yang ditambahkan data indeks vegatasi. Indeks vegetasi ditambahkan untuk meningkatkan akurasi dari hasil estimasi PDRB. Karena data tutupan lahan saja tidak cukup sensitif terhadap sebaran produktivitas lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GWR downscaling dengan menambahkan indeks vegatasi mempunyai nilai R2 yang mendekati nilai 1 yaitu sebesar 0.9980, 0.9992, dan 0.9991 untuk masing-masing estimasi PDRB sektor primer, sektor sekunder dan tersier, dan total PDRB. Nilai R2 yang mendekati nilai 1 menunjukkan bahwa metode yang dilakukan efektif untuk mengestimasi nilai PDRB downscaling.Abstract One of the main goals of development planning is to produce policies and programs to stimulate economic growth so that the quality of life of the people living and working improves. Careful planning requires detailed economic activity data that are sufficiently detailed at least to the community level that can depict the heterogeneity of the region for a more detailed and in-depth analysis of the dynamics of production and transactions that are at the heart of economic analysis. The current Gross Domestic Product (GDP) data only on a macro scale assumes equal values across the administrative territory and does not describe heterogeneity up to the community level and the spread of economic activity centers. A spatial downscaling of GDP needs to be done. The study aims to test downscaling techniques to generate estimates of a scale smaller than the actual value using the Geographically Weighted Regression (GWR) method of nighttime light and land cover data added to the vegetation index data. Vegetation index is added to improve the accuracy of the GDP estimates because land coverage data alone is not sensitive enough to the land productivity spread. The results of the study showed that GWR downscaling by adding the vegetable index has R2 values that are close to the value of 1, i.e. 0.9980, 0.9992, and 0.9991 for each estimate of GDP of the primary, secondary and tertiary sectors, and total GDP. A value of R2 that is close to value 1 indicates that the method used is effective to estimate the GDP value of downscaling. Submitted: 2024-03-31 Revisions:  2024-09-25 Accepted: 2024-09-11 Published: 2025-03-1

    Pemodelan Spasial Lahan Terbangun Kota Jambi

    Full text link
    Abstrak. Kota Jambi memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Provinsi Jambi, yang mendorong perubahan penggunaan lahan akibat ketidakseimbangan antara pertumbuhan populasi dan ketersediaan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika penutup lahan terbangun dari tahun 2013 hingga 2023 dan mensintesis prediksi penutup lahan terbangun tahun 2033 terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Penelitian ini menggunakan metode klasifikasi terbimbing dengan algoritma Random Forest (RF) pada citra satelit Landsat 8 untuk menganalisis perubahan dari tahun 2013, 2016, 2019, hingga 2023 yang telah diuji akursi dan validasi menggunakan indeks kappa. Untuk prediksi penutup lahan masa depan tahun 2033, digunakan metode MLP-CAMC melalui perangkat lunak Terrset 2020, dengan mempertimbangkan variabel seperti lereng, jarak dari jalan, jarak dari badan air (sungai dan danau), jarak dari pusat ekonmi, jarak dari sekolah, dan jarak dari prasarana tranportasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan terbangun di Kota Jambi diproyeksikan meningkat secara signifikan hingga mencapai 11.892,52 hektar atau 70,41% dari total luas wilayah pada tahun 2033 Peningkatan ini terkonsentrasi di wilayah dengan kemiringan tanah datar hingga landai, dengan jarak dari jalan sebagai faktor paling berpengaruh. Pertumbuhan pesat lahan terbangun terutama terjadi di Kecamatan Paal Merah, Alam Barajo, dan Kota Baru. Dari sisi analisis kesesuaian dengan RTRW, pada tahun 2033 lahan terbangun diproyeksikan memiliki tingkat kesesuaian sebesar 90,5% terhadap kategori peruntukan lahan terbangun yang direncanakan, sementara 9,5% sisanya tergolong tidak sesuai. Penelitian ini menekankan pentingnya pengelolaan tata ruang yang terencana untuk mengantisipasi dampak negatif pertumbuhan lahan terbangun. Pengawasan ketat dan evaluasi RTRW secara berkala diperlukan guna mendukung pembangunan berkelanjutan di Kota Jambi. Abstract. Jambi experiences the highest population density in Jambi Province, which significantly impacts land use due to the mismatch between population growth and land availability. This study aims to analyze the dynamics of built-up area from 2013 to 2023 and synthesize projections for built-up area in 2033 in accordance with the Regional Spatial Plan (RTRW). The research employs a supervised classification method utilizing the Random Forest (RF) algorithm on Landsat 8 satellite imagery to track changes from the years 2013, 2016, 2019, and 2023, with accuracy validated using the kappa index. For forecasting land cover in 2033, the MLP-CAMC method was applied through Terrset 2020 software, incorporating factors such as slope, proximity to roads, distance from water bodies (including rivers and lakes), distance to economic centers, proximity to schools, and access to transportation infrastructure. The findings indicate a significant projected increase in built-up land in Jambi City, reaching 11,892.52 hectares or 70.41% of the total area by 2033. This growth is primarily concentrated in flat to gently sloping areas, with proximity to roads identified as the most influential factor. Notable expansion of built-up land is particularly observed in the subdistricts of Paal Merah, Alam Barajo, and Kota Baru. In terms of alignment with the RTRW, the projected built-up land for 2033 is anticipated to achieve a compatibility rate of 90.5% with the designated land-use categories, while 9.5% is classified as non-compliant. This study highlights the necessity of strategically planned spatial management to mitigate the adverse effects of built-up land expansion. Rigorous monitoring and regular evaluations of the RTRW are crucial to support sustainable development in Jambi City.Submitted: 2024-07-09 Revisions: 2024-12-06  Accepted: 2025-02-17 Published: 2024-02-1

    Kuantifikasi Penyusutan Gletser di Pegunungan Jayawijaya dan Relasinya dengan Perubahan Iklim

    Full text link
    Abstrak. Gletser tropis di Pegunungan Jayawijaya adalah indikator iklim yang sensitif dan telah mencair secara signifikan selama beberapa dekade terakhir. Kajian jangka panjang yang mengaitkan dinamika luas gletser Jayawijaya dengan indikator iklim global masih terbatas. Studi ini menggunakan citra Landsat selama 28 tahun (1995-2023) dan algoritma Normalized Difference Snow Index (NDSI) dalam platform Google Earth Engine untuk memantau pencairan gletser. Untuk mengidentifikasi hubungan antara pencairan gletser dan indikator perubahan iklim lainnya, yaitu perubahan suhu permukaan tanah dan perubahan permukaan air laut, uji korelasi dan kesesuaian model regresi berbasis linier dilakukan. Ekstrapolasi ke masa depan dan masa lalu juga diestimasi untuk memprediksi dan meramalkan area gletser. Hasil menunjukkan bahwa pada 2023, 95,95% area gletser telah hilang dibandingkan tahun 1995 dan lebih cepat 2,6 dan 6 kali daripada penyusutan di gletser lintang tinggi. Tiga dari lima gletser telah lenyap, menyisakan East Northwall Firn dan Carstensz. Berdasarkan hasil, diperkirakan seluruh gletser akan menghilang pada tahun 2024. Selain itu, ditemukan hubungan kuat antara pencairan gletser dengan suhu dan muka laut (r = -0,89 dan 0,90). Temuan ini memperkuat pemahaman tentang dampak iklim di wilayah tropis melalui data dengan resolusi spasial dan temporal tinggi dan menegaskan percepatan dampak iklim di daerah tropis. Abstract. Tropical glaciers in the Jayawijaya Mountains are sensitive climate indicators and have retreated markedly over recent decades. Long-term studies linking Jayawijaya glacier-area dynamics to global climate indicators remain limited. This study uses 28 years of Landsat imagery and the Normalized Difference Snow Index (NDSI) on the Google Earth Engine platform to monitor glacier loss. To identify relationships with other climate-change indicators—namely land surface temperature and sea-level change—we performed correlation tests and simple linear regression model fitting. We also used extrapolation to hindcast and forecast glacier area. Results show that by 2023, 95.95% of glacier area had disappeared relative to 1995, of which 2.6 and 6 times faster than the retreat rate on high-latitude glaciers. Three of five glaciers have vanished, leaving only East Northwall Firn and Carstensz. Based on our results, all glaciers were projected to disappear by 2024. We find strong relationships between glacier retreat and temperature and sea level (r = −0.89 and 0.90). These findings enhance understanding of tropical climate impacts using long, high-resolution satellite records and underscore accelerating climate risks in the tropics.Submitted: 2025-03-11 Revisions:  2025-09-11  Accepted: 2024-09-11 Published: 2025-09-22 

    Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terhadap Keberlanjutan Pertanian di Desa Argalingga Majalengka

    Full text link
    Abstrak. Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti telepon genggam  di bidang pertanian memberikan  peluang besar untuk mendukung tercapainya pertanian berkelanjutan. Namun, implementasinya di tingkat petani belum sepenuhnya optimal karena berbagai kendala, seperti keterbatasan pemahaman petani tentang peran TIK di bidang pertanian, akses petani terhadap TIK, literasi digital petani, infrastruktur dan lainnya. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini bertujuan menganalisis peran TIK khususnya penggunaan telepon genggam terhadap keberlanjutan pertanian. Penelitian ini dilakukan di Desa Argalingga, Kecamatan Argapura Majalengka dengan melibatkan 100 petani yang dipilih secara acak (random sampling). Data yang dianalisis terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara terstruktur dengan petani menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan sejumlah informan. Sementara itu, data sekunder dikumpulkan dari instansi pemerintah. Pengukuran variable TIK menggunakan skala likert dan dianalisis secara deskriptif kualitatif yang diperkuat dengan hasil in-depth interview. Hasil penelitian menemukan bahwa TIK, seperti telepon genggam yang dimanfaatkan petani dalam kegiatan pertanian telah berperan dalam membantu mengakses informasi penting, seperti pengelolaan lahan dan prediksi cuaca dan iklim, ketersediaan faktor produksi, pasar dan sistem pemasaran serta sebagai media komunikasi antarpetani, konsultasi antara petani dengan penyuluh/mitra. Selain itu, menurut para petani TIK yang dimanfaatkan dalam kegiatan pertanian tersebut telah berkontribusi positif dalam mewujudkan keberlanjutan pertanian. Hasil temuan ini mengindikasikan bahwa TIK khususnya telepon genggam, telah mampu mengefisiensi waktu, biaya dan tenaga dalam berbagai aktivitas pertanian. Oleh karena itu, untuk meningkatkan peran TIK dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan  maka upaya peningkatan literasi digital, sarana jaringan digital dan aksesnya bagi para petani menjadi sangat urgen untuk dilakukan.Abstract. The presence of information and communication technology (ICT), such as mobile phones, in agriculture offers significant opportunities to support the achievement of sustainable farming. However, its implementation at the farmer level has not yet been fully optimized due to several challenges, including farmers’ limited understanding of ICT’s role in agriculture, limited access to ICT, low digital literacy, inadequate infrastructure, and other constraints. Based on these issues, this study aims to analyze the role of ICT, particularly the use of mobile phones, in promoting agricultural sustainability. The research was conducted in Argalingga Village, Argapura District, Majalengka Regency, involving 100 farmers selected through random sampling. The data analyzed consisted of both primary and secondary sources. Primary data were collected through structured interviews with farmers using questionnaires, as well as in-depth interviews with several key informants. Meanwhile, secondary data were obtained from government institutions. ICT variables were measured using a Likert scale and analyzed through a qualitative descriptive approach, supported by the results of in-depth interviews. The findings reveal that ICT, particularly mobile phones used by farmers in agricultural activities, plays an important role in facilitating access to essential information, such as land management, weather and climate predictions, availability of production inputs, market information and marketing systems, as well as serving as a medium for farmer-to-farmer communication and farmer–extension worker/partner consultations. Furthermore, farmers reported that the use of ICT in agricultural activities has contributed positively to achieving agricultural sustainability. These results indicate that ICT, particularly mobile phones, has effectively enhanced efficiency in terms of time, cost, and labor across various farming activities. Therefore, to further strengthen the role of ICT in realizing sustainable agriculture, it is urgent to improve farmers’ digital literacy, digital network facilities, and access to ICT. 

    189

    full texts

    419

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Geografi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇