Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
Menelisik Makna “Kritis” dalam Geografi Kritis
Abstrak. Dalam perkembangannya, geografi manusia menginkorporasikan isu-isu politis sebagai bentuk pergerakan oposisional terhadap prevalensi masalah sosial, seperti ketimpangan, rasisme, gender, dan problem lingkungan. Peradikalan geografi manusia dalam tataran metodis terjadi melalui trajektori pemikiran Marxisme yang dimajukan oleh David Harvey. Pembacaan Harvey terhadap geografi mendekatkan diri dengan Marx dan pemikir-pemikir setelahnya, seperti Henri Lefebvre, untuk mencari aspek keruangan dari dominasi kapitalisme. Geografi kritis kemudian menambahkan berbagai gaya pemikiran—di antaranya, feminisme, pascakolonialisme, dan pascastrukturalisme—dalam upaya membongkar, mendekonstruksi, dan mengubah berbagai bentuk penindasan. Keterlibatan tradisi selain Marxisme menimbulkan diskursus yang terlampau luas yang semuanya kini disatukan dalam term payung “geografi kritis”. Kondisi ilmu geografi dewasa ini menuntut pertanyaan mengenai delineasi geografi kritis di samping geografi adjektival lainnya (“geografi fisik”, “geografi sosial”, “geografi regional”). Tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut melalui beberapa pembagian bahasan sebagai berikut. Pertama, tulisan ini akan melacak sejarah perkembangan geografi kritis dari perkembangan geografi sebelumnya yang memantik kehadiran metode radikal. Kemudian, geografi kritis akan ditampilkan secara kontekstual dalam perkembangannya sebagai geografi yang inklusif terhadap berbagai diskursus filosofis. Kedua, tulisan ini akan menjabarkan secara kritis konsep-konsep yang esensial di dalam geografi kritis bersama dengan, ketiga, metodologi yang menjadi benang merah antara berbagai pendekatan dan gaya dalam geografi kritis. Keempat, tulisan ini akan melihat cara kerja geografi kritis dalam literatur yang telah tersedia untuk melihat persimpangan geografi kritis dengan berbagai bidang ilmu dan masalah, seperti hukum, aktivisme sosial, dan mitigasi bencana. Terakhir, tulisan ini ditutup dengan kajian reflektif mengenai makna term “kritis” dan penggunaannya dalam diskursus geografi kritis serta membayangkan ulang geografi di Indonesia dalam bentuk yang memungkinkan interaksi secara intens dengan bidang-bidang sosial humaniora. Hal ini akan menggambarkan garis besar geografi yang bersifat multidisipliner, termasuk mengambil wawasan dari filsafat. Abstract. This paper explores the progress of human geography's incorporation of political issues as a form of oppositional movement against prevalent social problems, such as inequality, racism, gender, and environmental issues. The radicalisation of human geography on a methodological level emerged through the trajectory of Marxist thought, as advanced by David Harvey. Harvey’s interpretation of geography aligns with Marx and later thinkers, such as Henri Lefebvre, to uncover the spatial dimensions of capitalist domination. Critical geography then integrated various intellectual approaches—feminism, postcolonialism, and poststructuralism—to deconstruct and transform various forms of oppression. The inclusion of traditions beyond Marxism has broadened the discourse, all of which now fall under the umbrella term "critical geography." The current state of geography raises questions regarding the delineation of critical geography alongside other adjectival forms of geography ("physical geography”, "social geography”, "regional geography"). This study addresses these questions in several sections. First, it traces the historical development of critical geography from earlier geographic traditions, which sparked the emergence of radical methodologies. It also contextualises critical geography as an inclusive field that embraces various philosophical discourses. Second, the paper critically examines essential concepts within critical geography, followed by, third, an exploration of the methodologies that link diverse approaches and styles in critical geography. Fourth, it analyses the application of critical geography in the existing literature, highlighting its intersections with various fields and issues such as law, social activism, and disaster mitigation. Finally, the paper concludes with a reflective analysis of the term "critical" and its usage in the discourse of critical geography, reimagining geography in Indonesia in a way that allows for intensive interaction with the social sciences and humanities. This reflection outlines the multidisciplinary of geography by drawing insights from philosophy.Submitted: 2024-09-30 Revisions: 2025-02-17 Accepted: 2025-02-17 Published: 2025-02-1
Toponimi Lanskap Karst Berdasarkan Hidromorfologi Karst Gunungsewu, di Kecamatan Giritontro, Jawa Tengah
Abstrak. Artikel ini mengkaji toponimi di kawasan karst Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Penelitian ini berfokus pada bagaimana proses penamaan tempat di wilayah karst mencerminkan karakteristik geografi, sejarah, dan budaya masyarakat setempat. Toponimi tidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis tetapi juga sebagai cerminan interaksi manusia dengan lingkungannya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, dan wawancara mendalam. Data yang dikumpulkan mencakup nama-nama objek alam seperti bukit, gua, dan mata air, serta nama-nama buatan manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penamaan tempat di kawasan karst Giritontro banyak dipengaruhi oleh karakteristik morfologi dan hidrologi karst. Misalnya, istilah seperti "giri" dan "gunung" digunakan untuk menyebut perbukitan dan kubah karst, sedangkan "luweng" dan "telaga" digunakan untuk menamai doline atau lubang runtuh. Selain itu, istilah penamaan hidrologi juga digunakan seperti istilah “Teleng”, “Sumber/Mber”, “Dung” dan “Kali”. Proses morfologi kata seperti blending, coinage, dan compounding ditemukan dalam pembentukan toponim di wilayah ini. Penelitian ini menyoroti pentingnya pemahaman tentang sejarah dan kearifan lokal dalam konservasi lanskap karst, yang unik karena struktur hidrologi dan morfologinya. Hasil kajian ini juga menunjukkan bahwa toponimi dapat menjadi alat penting untuk memahami dan mendokumentasikan perubahan lanskap dan penggunaan lahan di kawasan karst, serta dapat menginspirasi masyarakat untuk menjaga warisan geologi dan budaya mereka. Abstract. This study explores toponymy in the karst region of Giritontro District, Wonogiri Regency, Central Java, focusing on how place-naming processes reflect the local community's geographical, historical, and cultural characteristics. Toponymy acts as both a geographical marker and a representation of human-environment interaction. The research employs a qualitative descriptive approach, with data collected through field observations and in-depth interviews. The data includes names of natural features, such as hills, caves, springs, and man-made locations. Findings reveal that the naming of places in the Giritontro karst region is strongly influenced by its unique morphological and hydrological characteristics. For instance, terms like "giri" and "gunung" refer to hills and karst domes, while "luweng" and "telaga" denote dolines or sinkholes. Hydrological terms such as "Teleng," "Sumber/Mber," "Dung," and "Kali" are also commonly used. Additionally, word formation processes such as blending, coinage, and compounding play a significant role in toponym creation. This study underscores the importance of understanding local history and wisdom in conserving karst landscapes, renowned for their unique hydrological and morphological features. Furthermore, it demonstrates that toponymy is a valuable tool for documenting and understanding landscape changes and land use while inspiring communities to safeguard their geological and cultural heritage. Submitted: 2024-10-04 Revisions: 2025-01-17 Accepted: 2025-02-17 Published: 2025-02-17
Analisis Spasial Ketersediaan dan Keterjangkauan Fasilitas Kesehatan untuk Mendukung Kesehatan Wisata di Kecamatan Kuta Kabupaten Badung
Abstrak. Penelitian ini menganalisis ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas kesehatan di Kecamatan Kuta, Bali, untuk mendukung kesehatan wisata. Kecamatan Kuta merupakan destinasi wisata utama di Bali dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis jarak dan waktu tempuh antara fasilitas kesehatan dengan area wisata dan permukiman. Analisis spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS) dalam penentuan lokasi optimal fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan umumnya dapat diakses dalam radius 3000 meter, namun beberapa area wisata, terutama di sepanjang pantai, membutuhkan akses yang lebih dekat. Analisis juga menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah di Kecamatan Kuta dapat dijangkau dalam waktu 5 menit menuju fasilitas kesehatan. Namun, penelitian ini merekomendasikan peningkatan fasilitas kesehatan di Seminyak, area wisata utama, dan peningkatan kualitas layanan di Puskesmas Pembantu Seminyak yang melayani sebagian besar penduduk setempat. Temuan ini menyoroti pentingnya integrasi kesehatan dan pariwisata untuk menjamin keberlanjutan pariwisata di Kecamatan Kuta. Abstract. This research examines the spatial availability and affordability of healthcare facilities in Kuta District, Bali, to support tourism health. Kuta District is a major tourist destination in Bali, with a high influx of international tourists. This study utilizes a quantitative approach to analyze the distance and travel time between healthcare facilities and tourist areas and residential areas. Spatial analysis using Geographic Information System (GIS) in determining the optimal location of health facilities. The research found that while healthcare facilities are generally accessible within a 3000-meter radius, some tourist areas, particularly along the coast, require closer access. The analysis also revealed that most areas in Kuta District can be reached within a 5-minute travel time to healthcare facilities. However, the study recommends improving healthcare facilities in Seminyak, a major tourist area, and enhancing the quality of services at the Seminyak Public Health Center, which serves a significant portion of the local population. These findings highlight the significance of integrating health and the tourism to assure the sustainability of tourism in Kuta Sub-district. Submitted: 2025-02-13 Revisions:2025-03-04 Accepted: 2025-03-13 Published: 2025-03-1
Penentuan Lokasi Optimal Stasiun Bike Sharing Dalam Mendukung Pariwisata di Kota Surakarta
Abstrak. Tren pariwisata di Kota Surakarta terus berkembang seiring dengan meningkatnya jumlah wisatawan dan kebutuhan transportasi yang ramah lingkungan. Meningkatnya wisatawan telah menambah masalah kemacetan dan emisi karbon sehingga diperlukan solusi mobilitas yang berkelanjutan. Sistem bike sharing menjadi salah satu solusi yang dapat mendukung mobilitas wisatawan dan mengurangi dampak lingkungan. Saat ini, Kota Surakarta telah memiliki transportasi wisata berupa Bus Werkudara dan kendaraan listrik khusus wisata. Peneliti melihat, potensi pengembangan moda transportasi sepeda untuk transportasi sebagai alternatif mobilitas mengingat Kota Surakarta sudah memiliki jalur sepeda serta transportasi umum yang cukup baik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lokasi optimal stasiun bike sharing yang mendukung kegiatan pariwisata di Kota Surakarta. Penelitian mendorong pentingnya mendukung pariwisata berkelanjutan yang juga memperkaya pengalaman wisatawan. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah komponen 4A yang mendukung aktivitas kepariwisataan. Penelitian ini menggunakan metode analytical hierarchy process dan analisis spasial multi kriteria untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi optimal stasiun bike sharing untuk mendukung kegiatan pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 12 stasiun bike sharing yang dapat dikembangkan berdasarkan analisis AHP dan analisis spasial multi kriteria. Sebagian stasiun bike sharing memiliki jarak rata-rata kurang dari 3 kilometer menuju obyek-obyek wisata di Kota Surakarta. Pusat Kota Surakarta terutama di sepanjang koridor Jalan Slamet Riyadi merupakan lokasi yang paling sesuai untuk pengembangan stasiun bike sharing karena memiliki tingkat bikeability yang tinggi juga memiliki fasilitas pendukung kepariwisataan. Penempatan stasiun bike sharing dengan jarak antar stasiun sekitar 1 kilometer dinilai efektif untuk mendukung mobilitas wisatawan. Selain itu, hasil penelitian ini memberikan rekomendasi bagi pemerintah daerah untuk memperkuat infrastruktur sepeda di area wisata utama. Abstract. The tourism trend in Surakarta City continues to grow along with the increasing number of tourists and the need for environmentally friendly transportation. The increase in tourists has added to the problem of congestion and carbon emissions so that a sustainable mobility solution is needed. Bike sharing system is one of the solutions that can support tourist mobility and reduce environmental impact. Currently, Surakarta City already has tourist transportation in the form of the Werkudara Bus and special tourist electric vehicles. The researcher sees the potential for developing bicycle transportation modes for transportation as an alternative mobility considering that Surakarta City already has bicycle lanes and good public transportation. This research aims to determine the optimal location of bike sharing stations that support tourism activities in Surakarta City. The research encourages the importance of supporting sustainable tourism that also enriches the tourist experience. The data used in this research is the 4A components that support tourism activities. This research uses the analytical hierarchy process method and multi-criteria spatial analysis to analyse the factors that influence the determination of the optimal location of bike sharing stations to support tourism activities. The results showed that there are 12 bike sharing stations that can be developed based on AHP analysis and multi-criteria spatial analysis. Most of the bike sharing stations have an average distance of less than 3 kilometres to tourist attractions in Surakarta City. Surakarta City Centre, especially along the Jalan Slamet Riyadi corridor, is the most suitable location for the development of bike sharing stations because it has a high level of bikeability and also has tourism support facilities. Placement of bike sharing stations with a distance of about 1 kilometre between stations is considered effective to support tourist mobility. In addition, the results of this study provide recommendations for local governments to strengthen bicycle infrastructure in major tourist areas.Submitted: 2024-10-09 Revisions: 2025-03-04 Accepted: 2025-03-13 Published: 2024-09-1
Pemantauan invasi mantangan (Merremia peltata) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menggunakan Google Earth Engine
Abstrak Mantangan merupakan spesies yang secara masif menginvasi bagian selatan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan diperkirakan sebarannya semakin meluas. Mantangan tumbuh dengan cara melilitkan batangnya pada inang hingga menutupi permukaan tubuh dan tajuk inangnya serta dapat merambat dari satu inang ke inang yang lain, selain itu mantangan juga dapat tumbuh secara vegetatif melalui batangnya yang terpotong kemudian menyentuh tanah sehingga menghasilkan generasi baru. Oleh karena itu, informasi sebaran spasial mantangan perlu diketahui dengan pemantauan secara berkala. Dewasa kini, pemantauan dapat dilakukan dengan penginderaan jauh, misalnya menggunakan data citra satelit. Perkembangan Google Earth Engine (GEE) menjadi salah satu pilihan untuk pemantauan invasi mantangan. GEE menyediakan data citra satelit berbasis komputasi awan dan dapat menghasilkan citra satelit multitemporal yang bebas awan, sehingga menjadi solusi permasalahan big data serta tidak memerlukan biaya untuk penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luas invasi mantangan tahun 2019 – 2023 menggunakan GEE. Penelitian dilakukan dengan menggunakan citra satelit, citra DEM, dan transformasi indeks EVI dengan algoritma random forest. Objek penelitian difokuskan pada daerah selatan TNBBS yang secara khusus terinvasi oleh mantangan yaitu pada empat resor diantaranya Pemerihan, Way Haru, Way Nipah, dan Tampang. Objek penelitian kemudian dijadikan sebagai area of interest (AOI). Hasil penelitian menunjukkan hasil akurasi yang baik dengan nilai 93,49% (user accuracy), 95,18% (producer accuracy), 95,23% (overall accuracy), dan 90,18% (kappa accuracy) pada kelas mantangan. Perubahan sebaran mantangan mencapai 7.374,89 ha (2019), 8.237,88 ha (2021), dan 8.716,84 ha (2023). Berdasarkan hasil, diketahui bahwa mantangan menginvasi lebih masif pada Resor Tampang dan Resor Way Haru yang disebabkan oleh kejadian masa lalu seperti pembukaan lahan dan kebakaran serta habitat yang sesuai untuk pertumbuhan mantangan.Abstract Mantangan is a species that has massively invaded the southern part of Bukit Barisan Selatan National Park (BBSNP) and is expected to expand its distribution. Mantangan grows by wrapping its trunk around the host until it covers the surface of the host's body and crown and can creep from one host to another, besides that mantangan can also grow vegetatively through its trunk which is cut and then touches the ground to produce a new generation. Therefore, information on the spatial distribution of mantangan needs to be known through regular monitoring. Nowadays, monitoring can be done by remote sensing, for example using satellite image data. The development of Google Earth Engine (GEE) is one option for monitoring mantangan invasion. GEE provides cloud computing-based satellite image data and can produce cloud-free, multitemporal satellite images, so it is a solution to the big data problem and does not require fees for its use. This study aims to determine the extent of mantangan invasion in 2019 – 2023 using GEE. The research was conducted using satellite images, DEM images, and EVI index transformation with random forest algorithm. The research object focused on the southern area of BBSNP which was specifically invaded by mantangan, namely in four resorts including Pemerihan, Way Haru, Way Nipah, and Tampang. The research object is then used as an area of interest (AOI). The results showed good accuracy results with values of 93.49% (user accuracy), 95.18% (producer accuracy), 95.23% (overall accuracy), and 90.18% (kappa accuracy) in the mantangan class. Changes in the distribution of challenges reached 7,374.89 ha (2019), 8,237.88 ha (2021), and 8,716.84 ha (2023). Based on the results, it is known that mantangan invaded more massively in Tampang Resort and Way Haru Resort due to past events such as land clearing and fires as well as suitable habitat for mantangan growth.
Pemetaan Potensi Demam Berdarah Dengue Berbasis Weighted Overlay di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk
Abstrak. Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk mengalami peningkatan signifikan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dari 10 kasus pada Tahun 2023 menjadi 57 kasus pada Tahun 2024. Kenaikan kasus DBD ini diduga berkaitan dengan faktor lingkungan seperti curah hujan, kelembapan udara, suhu. Indeks kerapatan vegetasi, dan indeks kebasahan. Pemetaan spasial berbasis data citra satelit dan sistem informasi geografis telah banyak digunakan dalam studi epidemiologi, namun demikian penerapannya masih terbatas dalam konteks lokal dengan pendekatan kuantitatif berbasis fisiografi wilayah dan indeks spektral. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan potensi risiko DBD menggunakan pendekatan weighted overlay berbasis Principal Component Analysis (PCA). Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif, dengan data diperoleh melalui studi pustaka, observasi, dokumentasi, serta analisis citra satelit. Hasil PCA menunjukkan variabel paling berpengaruh adalah curah hujan (0,530), kelembapan udara (0,509) dan kerapatan vegetasi (0,421), sedangkan suhu (-0,509) dan indeks kebasahan (0,148) memberikan kontribusi yang lebih rendah. Pemetaan menunjukkan tiga kategori potensi DBD, yaitu tinggi (6 desa), sedang (4 desa), dan rendah (13 desa). Temuan ini memperlihatkan bahwa weighted overlay dapat digunakan sebagai alat prediksi spasial untuk mendukung mitigasi risiko dan kewaspadaan dini terhadap DBD, dengan mempertimbangkan dinamika iklim lokal dan karakteristik lingkungan wilayah.Abstract. The Rejoso District in Nganjuk Regency experienced a significant increase in Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) cases, rising from 10 cases in 2023 to 57 cases in 2024. This increase in DHF cases is thought to be related to environmental factors such as rainfall, air humidity, temperature, vegetation density index, and wetness index. Spatial mapping based on satellite imagery data and Geographic Information Systems has been widely used in epidemiological studies, but its application is still limited in the local context, with a quantitative approach based on regional physiography and spectral index. This study aims to map the potential risk of DHF using a weighted overlay approach based on Principal Component Analysis (PCA). This study is a descriptive, quantitative research, with data collected through literature reviews, observations, documentation, and satellite image analysis. PCA results show that the most influential variables are rainfall (0.530), air humidity (0.509) and vegetation density (0.421), while temperature (-0.509) and wetness index (0.148) provide a lower contribution. The mapping revealed three categories of dengue fever potential: high (in 6 villages), medium (in 4 villages), and low (in 13 villages). These findings demonstrate that weighted overlay can be used as a spatial prediction tool to support risk mitigation and early warning of dengue fever, taking into account local climate dynamics and the region's environmental characteristics
Penurunan Minat Studi Geografi di Indonesia: Tren, Tantangan, dan Prediksi ke Depan
Abstrak. Geografi merupakan ilmu yang penting bagi kehidupan dan karir. Akan tetapi, data statistik menunjukkan bahwa program studi pendidikan geografi dan geografi nonkependidikan tidak banyak diminati di perguruan tinggi negeri di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren dan prediksi peminat studi geografi, baik pada bidang pendidikan maupun nonkependidikan di perguruan tinggi negeri di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus menekankan peneliti untuk mengumpulkan berbagai data yang akan diproses dan dianalisis secara mendalam. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis statistik deskriptif yang melibatkan deskripsi temuan tren dan prediksi ke depan pada periode yang telah ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peminat geografi pada periode 2019-2024 cenderung mengalami penurunan. Peminat tersebut dapat dilihat dari jumlah pendaftar program studi geografi di perguruan tinggi negeri melalui jalur prestasi. Peminat program studi pendidikan geografi pada tahun 2019 jauh lebih banyak dibandingkan peminat geografi nonkependidikan. Namun, penurunan tren menyebabkan jumlah peminat pendidikan geografi di tahun 2024 tidak jauh berbeda dengan peminat geografi nonkependidikan. Peminat studi geografi juga berbeda-beda menurut persebaran wilayahnya. Peminat paling banyak berada di Pulau Jawa (67,20%). Hasil perhitungan proyeksi menunjukkan bahwa program studi geografi nonkependidikan jauh lebih banyak diminati daripada pendidikan geografi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah peminat geografi di perguruan tinggi negeri di Indonesia cenderung mengalami tren yang menurun, baik pada bidang pendidikan maupun nonkependidikan. Prediksi ke depan menunjukkan bahwa peminat program studi pendidikan geografi akan cenderung lebih rendah dari peminat geografi nonkependidikan. Abstract. Geography is an important science for life and career. However, statistical data shows that the study programs in geography education and non-education geography are not highly favored at state universities in Indonesia. This study aims to analyze the trends and predictions of interest in geography studies, both in the field of education and non-education, at state universities in Indonesia. This research is descriptive and exploratory with a qualitative approach. The research design used is a case study. The case study emphasizes the researcher to gather various data that will be processed and analyzed in-depth. The data used in this study is secondary data obtained from the Ministry of Education and Culture. Data analysis is conducted using descriptive statistical analysis that involves describing the findings of trends and predictions for the future in the specified period. The results of the study show that interest in geography between 2019 and 2023 tends to decrease. This interest can be seen from the number of applicants for geography study programs at state universities through achievement-based pathways. In 2019, there were far more applicants for geography education programs compared to non-education geography programs. However, the declining trend has caused the number of people interested in geography education in 2023 to be nearly the same as those interested in non-education geography, both around 3.000. Interest in geography studies also varies by region. The highest number of applicants is in Java Island (71.88%). The projection calculation results show that non-education geography programs are much more popular than geography education programs. However, the number of applicants from outside Java and Sumatra is expected to be less than 200 people. The conclusion of this study is that interest in geography at state universities in Indonesia tends to show a downward trend, both in the education and non-education fields. Predictions for the future indicate that interest in geography education programs will tend to be lower than that of non-education geography programs
Analisis statistik kinerja dan koreksi kesalahan data curah hujan berbasis satelit di Provinsi Bali
Abstrak.Data curah hujan yang akurat, reliabel, dan mendekati waktu nyata adalah faktor penting dalam analisis peramalan dan mitigasi bencara alam hidro klimatologi (banjir, tanah longsor, topan, dan curah hujan ekstrim), pemodelan hidrologi, prakiraan cuaca, perencanaan pertanian, manajemen ekologi, dan manajemen sumber daya air. Observasi curah hujan stasiun menghadapi kendala di Provinsi Bali, terutama pengukuran jarang ditemui di daerah terpencil dan pegunungan. Oleh karena itu, perlu mencari sumber data hujan yang dapat diandalkan seperti produk hujan berbasis satelit, yang menyediakan data dalam waktu mendekati waktu nyata (near real-time), deretan waktu hujan yang tidak terputus dengan resolusi spasial tinggi. Penelitian ini mengevaluasi kinerja produk hujan satelit global yang mendekati waktu nyata dengan 43 stasiun di Provinsi Bali. Produk curah hujan satelit yang dianalisis adalah Integrated Multi-satellitE Retrievals for Global Precipitation Measurement-Early Run (IMERG-ER) dan The Precipitation Estimation from Remotely Sensed Information using Artificial Neural Networks - Dynamic Infrared Rain Rate near real-time (PDIR-Now). Selanjutnya, kedua data curah hujan berbasis satelit tersebut dikoreksi menggunakan tiga pendekatan, yaitu koreksi rasio bias, koreksi rata-rata deviasi, dan koreksi nilai fungsi distribusi probabilitas. Metode tradisional berbasis titik ke piksel bersama dengan pengukuran statistik kontinu, metrik kategoris, serta indeks volumetrik diimplementasikan untuk mengevaluasi kinerja produk satelit. Studi ini menunjukkan bahwa meskipun kedua dataset memiliki kelebihan masing-masing, IMERG-ER cenderung lebih konsisten dan andal dalam berbagai kondisi dibandingkan PDIR-Now, terutama setelah koreksi dilakukan. Koreksi nilai fungsi distribusi probabilitas menunjukkan peningkatan kinerja paling signifikan dibandingkan dengan metode koreksi yang lainnya. Hasil studi ini juga mempertegas bahwa koreksi kesalahan perlu dilakukan sebelum data curah hujan berbasis satelit diaplikasikan dan berbagai bidang.Abstract. Accurate, reliable, and near-real-time rainfall data are critical factors for forecasting and mitigating hydro-meteorological natural disasters (such as floods, landslides, typhoons, and extreme rainfall), hydrological modeling, weather forecasting, agricultural planning, ecological management, and water resource management. Rainfall observations from station measurements face challenges in Bali Province, particularly due to the scarcity of measurements in remote and mountainous areas. Therefore, it is necessary to seek reliable sources of rainfall data, such as satellite-based rainfall products, which provide near real-time data, uninterrupted rainfall time series, and high spatial resolution. This research evaluates the performance of global near real-time satellite rainfall products with data from 43 stations across Bali Province. The satellite rainfall products analyzed include the Integrated Multi-satellite Retrievals for Global Precipitation Measurement-Early Run (IMERG-ER) and the Precipitation Estimation from Remotely Sensed Information using Artificial Neural Networks - Dynamic Infrared Rain Rate near real-time (PDIR-Now). Subsequently, the satellite-based rainfall data were corrected using three approaches: bias ratio correction, mean deviation correction, and probability distribution function value correction. Traditional point-to-pixel methods, along with continuous statistical measurements, categorical metrics, and volumetric indices, were implemented to evaluate the performance of satellite products. The study reveals that although both datasets have their respective strengths, IMERG tends to be more consistent and reliable under various conditions compared to PERSIANN, especially after corrections are applied. The probability distribution function value correction demonstrated the most significant performance improvement compared to the other correction methods. The findings of this study also emphasize the necessity of error correction before satellite-based rainfall data is applied across various fields. Submitted: 2024-09-14 Revisions: 2025-03-06 Accepted: 2024-09-11 Published: 2025-03-1
Pemantauan Batas Wilayah Berdasarkan Klasifikasi Bentuk Lahan Menggunakan Metode Topographic Position Index
Abstrak. Berkaitan dengan konteks batas intra-nasional, batas intra-nasional memerlukan perhatian khusus dalam pemeliharaan dan pemantauan garis batas, sebagaimana diatur dalam teori boundary making yang mencakup alokasi, delimitasi, demarkasi, dokumentasi, dan pemeliharaan. Namun, di Indonesia belum ada aturan spesifik yang mengatur pemantauan garis batas setelah penetapan, sebagaimana disebutkan dalam Permendagri No. 141 Tahun 2017 tentang batas daerah yang hanya mengatur mekanisme dan kaidah penarikan garis batas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi metode Topographic Position Index (TPI) dalam mendukung pemeliharaan batas administratif pada skala batas kabupaten menggunakan Digital Elevation Model (DEM) dengan resolusi berbeda, yaitu ALOS AW3D, SRTM V3 Global 1-arcsecond, dan DEMNAS serta untuk mengidentifikasi DEM, metode, dan pendekatan yang tepat. Analisis dilakukan pada segmen batas Kabupaten Magelang–Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Magelang–Kabupaten Wonosobo dengan dua Area of Interest (AoI) berbeda berdasarkan luas wilayah dan variasi elevasinya. TPI digunakan untuk mengklasifikasikan bentuk lahan ke dalam 10 kategori berdasarkan nilai topografi dari neighborhood kecil dan besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga kelas utama, yaitu canyons, deeply incised streams; mountain tops, high ridges; dan local ridges, hills in valleys, mendominasi peta klasifikasi dengan lebih dari 20% pada setiap kelas. Uji kesesuaian peta terhadap unsur geografis menunjukkan akurasi lebih dari 89% pada ketiga DEM, meskipun resolusi masing-masing berbeda. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa metode TPI mampu memetakan dan memantau garis batas administratif secara kartometrik tanpa memerlukan survei lapangan langsung, sehingga sangat relevan untuk wilayah dengan akses terbatas atau variasi elevasi yang kompleks. Dengan demikian, TPI menawarkan manfaat signifikan dalam mendukung pemeliharaan dan pemantauan batas administratif pada batas alam, serta dapat menjadi solusi praktis dalam mengatasi keterbatasan regulasi terkait pemantauan garis batas di Indonesia.Abstract. In the context of intra-national boundaries, special attention is required for the maintenance and monitoring of boundary lines, as outlined in the boundary making theory, which includes allocation, delimitation, demarcation, documentation, and maintenance. However, in Indonesia, there is no specific regulation governing the monitoring of boundary lines after their establishment, as mentioned in Permendagri No. 141 of 2017 concerning regional boundaries, which only regulates the mechanisms and principles for drawing boundary lines. This study aims to explore the potential of the Topographic Position Index (TPI) method in supporting the maintenance of administrative boundaries at the district scale using Digital Elevation Models (DEMs) with different resolutions, namely ALOS AW3D, SRTM V3 Global 1-arcsecond, and DEMNAS, as well as to identify the appropriate DEM, method, and approach. The analysis was conducted on boundary segments between Magelang Regency–Purworejo Regency and Magelang Regency–Wonosobo Regency with two different Areas of Interest (AoIs) based on area size and elevation variations. TPI was used to classify landforms into 10 categories based on topographic values from both small and large neighborhoods. The results show that three main classes, namely canyons, deeply incised streams; mountain tops, high ridges; and local ridges, hills in valleys, dominate the classification map with over 20% in each class. The accuracy test of the classification map against geographical features showed more than 89% accuracy for all three DEMs, despite their different resolutions. The main finding of this study shows that the TPI method is capable of mapping and monitoring administrative boundaries cartometrically without the need for direct field surveys, making it highly relevant for areas with limited access or complex elevation variations. Thus, TPI offers significant benefits in supporting the maintenance and monitoring of administrative boundaries, particularly natural boundaries, and can be a practical solution in addressing regulatory limitations related to boundary monitoring in Indonesia.Submitted: 2024-05-06 Revisions: 2024-12-06 Accepted: 2025-02-15 Published: 2025-02-1
Penggunaan Data Sistem Lahan Skala 1 : 50.000 untuk Pemetaan Rawan Longsor di Kabupaten Majalengka
Abstrak. Penelitian ini mencoba mengoptimalkan pemanfaatan data sistem lahan untuk mengidentifikasi daerah rawan bencana tanah longsor di Kabupaten Majalengka. Data kejadian longsor dan peta sistem lahan digunakan sebagai sumber data utama, dengan fokus meihat pola kejadian longsor pada setiap unit sistem lahan. Metode analisis tumpang susun antara peta sistem lahan dan data kejadian longsor dikombinasikan dengan analisis geomorfologi digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat kerawanan longsor. Hasilnya menunjukkan bahwa wilayah dengan sistem lahan Tanggamus, Gamnokora, dan Talamau memiliki tingkat kerawanan paling tinggi, sementara wilayah dengan sistem lahan Maput, Cipancur, dan Bukit Balang memiliki tingkat kerawanan sedang. Kelas kemiringan lereng digunakan untuk mendetilkan kelas kerawanan longsor pada setiap unit sistem lahan. Hasil pemetaan kerawanan longsor divalidasi dengan peta rawan bencana dari BNPB, menunjukkan persentase kesamaan sebesar 63.51%. Meskipun memiliki akurasi rendah, peta hasil dari data sistem lahan memiliki pola identik pada kelas kerawanan tinggi dan tidak rawan dengan peta referensi. Ini menunjukkan bahwa data sistem lahan dapat digunakan sebagai alternatif dalam pemetaan kerawanan longsor terutama untuk daerah dengan cakupan wilayah yang luas atau pada skala lebih kecil.Abstract. This research aims to optimize the utilization of land system data used to identify areas susceptible to landslide hazards in Majalengka Regency. Landslide occurrence data and land system maps are used as the main data sources, focusing on landslide occurrence patterns in each land system unit. An overlay analysis method between land system maps and landslide occurrence data combined with geomorphological analysis is used to classify the susceptibility levels to landslides. The results indicate that areas with Tanggamus, Gamnokora, and Talamau land systems have the highest susceptibility levels, while areas with Maput, Cipancur, and Bukit Balang land systems have moderate susceptibility levels. Slope classes are used to detail the susceptibility levels to landslides in each land system unit. The landslide susceptibility mapping results are validated with disaster-prone maps from BNPB, showing a similarity percentage of 63.51%. Despite having low accuracy, the mapping results from land system data exhibit identical patterns in high susceptibility and non-susceptibility classes compared to the reference maps. This indicates that land system data can be used as an alternative in landslide susceptibility mapping, especially for areas with extensive coverage or on a smaller scale. Submitted: 2024-05-14 Revisions: 2024-09-19 Accepted: 2024-10-25 Published: 2025-02-1