Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
    419 research outputs found

    Paradigma Filsafat Geografi Kontemporer: Kajian Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Keterampilan Sainstik

    No full text
    Abstrak Paradigma filsafat geografi mengalami dinamika perkembangan ilmu pengetahuan secara teori, metodelogi, dan aplikasi. Perkembangan keilmuan geografi dipengaruhi isu global, metode penelitian, statistik, komputer, internet, big data, lingkungan, manusia, dan kebijakan. Tantangan kontemporer kajian filsafat geografi harus mampu menunjukkan perkembangan ilmu geografi secara dimensi sejarah dan waktu yang terjadi sampai dengan saat ini. Artikel ini bertujuan memberikan gambaran perkembangan filsafat ilmu geografi dengan kajian ontologi, epistemologi, aksiologi, dan keterampilan sainstifik secara kontenporer. Kajian ontologi mendefinisikan geografi aspek ruang konkrit dan abstrak berdasarkan makna material fenomena geosfer. Aspek epistemologi menekankan proses metode penelitian berbasis lapangan dan online sesuai perkembangan teknologi menggunakan pendekatan deduktif atau induktif fokus pada teori maupun pengetahuan. Aspek aksiologi memberikan kebermanfaatan ilmu geografi secara online dan kehidupan manusia. Kajian filsafat geografi kontemporer menekankan penguatan konten ruang lingkup geografi berdasarkan hasil penelitian dan diaplikasikan melalui pendidikan sehingga terjadi proses hilirisasi paradigma pengetahuan. Hubungan filsafat geografi kontemporer sesuai hasil pemikiran filosofis merujuk teori dan temuan penelitian yang meningkatkan muatan esensi ilmu geografi. Penafsiran filosofis menunjukkan hakikat bidang pemikiran tentang ruang alam dan manusia. Studi perkembangan filsafat geografi kontemporer untuk menemukan pembenaran rasional secara konteks generalisasi dan sistematika faktual dengan mencermati kesenjangan pengetahuan geografi melalui proses metodelogi ilmiah. Aspek konseptual dan terminologi filsafat geografi kontemporer ditentukan tren pendekatan metodelogi ilmiah yang digunakan untuk studi geografi. Ciri khusus analisis paradigma filsafat geografi kontemporer pada saat ini hasil kombinasi harmonis landasan ilmiah dan filosofis yang konkret secara obyektif menunjukkan hubungan sains dan filsafat. Proses eksplorasi filosofis dan geografis menjadi contoh konkret berbagai riset geografi modern secara inter disiplin atau multidiplin ilmu. Pendekatan terpadu kajian analisis ruang geografi menjadi entitas dialektika metodelogi dari model tradisional menuju pendekatan integrasi menjadi identitas geografi kontemporer.Abstract The paradigm of philosophy geography experiences the dynamics scientific development in theory, methodology and application. The scientific development geography is influenced by global issues, research methods, statistics, computers, internet, big data, environment, people, and policies. The contemporary challenge of studying philosophy geography is to be able to show development of geography in terms history and time that has occurred up to now. This article aims to provide an overview development of the philosophy geography with a contemporary study ontology, epistemology, axiology, and scientific skills. The study of ontology defines geography concrete and abstract aspects space based on the material meaning geosphere phenomena. The epistemological aspect emphasizes process field-based and online research methods according to technological developments using a deductive or inductive approach focusing on theory and knowledge. The axiological aspect provides the benefit of online geography and human life. Contemporary geographical philosophy studies emphasize the strengthening of geographic scope content based on research results and applied through education so that a knowledge paradigm downstreaming process occurs. The relationship between contemporary geographical philosophy and results of philosophical thought refer to theories and research findings that increase the essence of geographic science. Philosophical interpretation shows the nature of the field thinking about natural and human space. Study of the development contemporary geographical philosophy to find rational justification the context of factual generalizations and systematics by examining gaps in geographical knowledge through process scientific methodology. Conceptual aspects and terminology contemporary geographical philosophy determine trends in scientific methodological approaches used for study of geography. The special characteristic analysis of contemporary geographical philosophical paradigms time is the result of a harmonious combination concrete scientific and philosophical foundations that objectively shows relationship between science and philosophy. The process of philosophical and geographical exploration is a concrete example various modern geographical research in an interdisciplinary or multidisciplinary manner. An integrated approach study geographic become metodhological analysis dialectical from traditional models to contemporary geographic identity

    Model Prediksi Perubahan Penutup Lahan di Kabupaten Majalengka Menggunakan Metode Cellular Automata Markov Chain

    Full text link
     Abstrak. Salah satu bentuk pembangunan yang ada di Kabupaten Majalengka yaitu pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat yang mengakibatkan terjadinya perubahan penutup lahan. Perubahan penutup lahan dapat di analisis menggunakan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi. Selain itu model prediksi perubahan penutup lahan dapat di analisis dengan menggunakan metode cellular automata markov chain. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) menyusun model prediksi perubahan penutup lahan tahun 2026 dan 2030 di Kabupaten Majalengka, (2) melakukan analisis perbandingan antara model prediksi penutup lahan tahun 2030 dengan peta pola ruang tahun 2011-2031. Perubahan penutup lahan yang terjadi selama 2014 sampai 2030 menunjukkan penurunan luas bukan lahan pertanian sebesar 225,241 Km2 dan adanya peningkatan luas lahan pertanian, lahan terbuka, dan lahan terbangun masing-masing sebesar 136,172 Km2, 57,768 Km2, dan 30,774 Km2. Model prediksi penutup lahan tahun 2030 memiliki keseuaian dengan nilai minimal dengan peta pola ruang tahun 2011-2031 dengan luas penutup lahan tertinggi pada lahan pertanian dengan persentase luas masing-masing 68,013% dan 71,180%. Abstract. One form of development in Majalengka Regency is the construction of the West Java International Airport which resulted in changes in land cover. Land cover changes can be analyzed using remote sensing technology and geographic information systems. apart from that, the prediction model for land cover changes can be analyzed using the cellular automata Markov chain method. The objectives of this research are (1) to develop a prediction model for land cover changes in 2026 and 2030 in the Majalengka Regency, and (2) to carry out a comparative analysis between the 2030 land cover prediction model and the 2011-2031 spatial pattern map. Changes in land cover that occurred from 2014 to 2030 showed a decrease in the area of non-agricultural land by 225,241 Km2 and an increase in the area of agricultural land, open land, and built-up land of 136,172 Km2, 57,768 Km2, and 30,774 Km2 respectively. The 2030 land cover prediction model agrees with the minimum value of the 2011-2031 spatial pattern map with the highest land cover area on agricultural land with area percentages of 68.013% and 71.180% respectively.Submitted: 2023-11-17 Revisions:  2024-04-01 Accepted: 2024-09-11 Published: 2024-09-1

    Distribusi dan Karakteristik Penderita Hipertensi di Daerah Istimewa Yogyakarta

    Full text link
    Salah satu isu kesehatan yang menjadi perhatian dunia adalah masalah hipertensi. Hipertensi merupakan kondisi tekanan darah tidak normal yang mampu memicu masalah kesehatan lainnya seperti jantung, ginjal, masalah otak dan lainnya. Kasus di Indonesia, lebih dari sepertiga penduduk di Indonesia mengidap hipertensi. Artinya bahwa kasus hipertensi memerlukan perhatian lebih melihat kondisi tersebut. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan provinsi tertinggi keempat untuk kasus hipertensi di Indonesia. Berdasarkan hasil pengukuran dalam data Riskesdas 2019, prevalensi penderita hipertensi DIY di atas 30 persen. Sedangkan berdasarkan diagosis dokter/obat prevalensinya sebesar 10,68 persen. Oleh karenanya hipertensi menjadi salah satu masalah utama kesehatan penduduk di DIY. Meskipun begitu penting, publikasi dasar mengenai distribusi dan karakteristik penderita hipertensi di DIY belum dibahas secara komperehensif. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan distribusi dan karakteristik pada penderita hipertensi di DIY. Temuan hasil ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar perencanaan kebijakan utamanya dalam pengendalian dan pengobatan hipertensi di DIY. Desain penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Data dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif dan komparatif. Data utama yang digunakan adalah profil penderita hipertensi berdasarkan hasil pengukuran dari data Riskesdas 2019. Akurasi data-data tersebut memiliki tingkat interval kepercayaan (confidence interval) 95 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi prevalensi penderita hipertensi di DIY terbanyak berada di Kabupaten Gunungkidul. Sedangkan berdasarkan jumlahnya, terbanyak di Kabupaten Sleman. Penderita hipertensi di DIY memiliki karakteristik dominan di usia lansia (65 tahun ke atas), berjenis kelamin perempuan, berpendidikan rendah, tinggal di perdesaan serta dominan bekerja di sektor pertanian. Profil tersebut menjelaskan bahwa selain rentan karena kesehatannya, profil penderita hipertensi di DIY juga rentan dari sisi kondisi sosial ekonominya. Oleh karenanya penanganan yang tepat diperlukan agar masalah hipertensi di DIY dapat tertangani dengan baik

    Karakteristik Elevasi Muka Air Laut di Selat Madura

    Full text link
    Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami karakteristik elevasi muka air laut di Selat Madura dengan memanfaatkan data altimetri dan divalidasi menggunakan data tide gauges. Data pengukuran diambil pada bulan Agustus 2022. Metode analisa menggunakan statistik dan FFT untuk memperoleh nilai komponen pasang surut dan elevasi air laut rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan variasi nilai SSH di wilayah perairan Indonesia berkisar 0.4 - 0.8 m dan ± 0.6 m di Selat Madura, sedangkan hasil analisa tide gauge menunjukkan 1.2 – 1.4 m. Ada perbedaan signifikan dan ditunjukkan oleh nilai RMSE pada stasiun Surabaya 0.81; Kalianget 0.98; dan Probolinggo 0.94. Data tide gauges diolah lebih lanjut menggunakan metode admiralty sehingga diperoleh 15 komponen harmonik pasang surut, terdiri atas komponen diurnal [M1, K1, O1, P1, Q1, J1, OO1], semidiurnal [M2, S2, K2, N2, L2, 2N2], dan shallow water [M4 dan MS4], sehingga diketahui dominasi komponen diurnal (P1 dan K1) di stasiun pengukuran Surabaya dan Kalianget maupun komponen semidiurnal (N2 dan L2) di stasiun pengukuran Probolinggo. Hasil analisis FFT menunjukkan tipe pasang surut di Selat Madura tergolong tipe pasang surut campuran condong ganda/semidiurnal dengan nilai elevasi muka air laut tidak jauh berbeda pada tiga lokasi pengukuran. Nilai HHWL tertinggi di stasiun Probolinggo (3.3455 m), nilai LLWL terendah di stasiun Kalianget (0.5493 m). Nilai MSL masing-masing stasiun Surabaya, stasiun Kalianget, dan stasiun Probolinggo secara berturut-turut 1.4262 m; 1.2616 m; dan 1.8541 m. Perbedaan nilai MSL sesuai hasil analisa data altimetri dan tide gauge berkaitan dengan lokasi penelitian yang berada di wilayah pantai. Diharapkan bahwa penggunaan metode FFT dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam mengetahui karakteristik pasang surut dari stasiun pengukuran yang tersebar di Selat Madura.Abstract This study aims to understand the characteristics of sea level elevation in the Madura Strait by tide gauges and SSH data at three stations around the Madura Strait. Measurement was taken in August 2022. The analysis used statistics and FFT approach. The variation of SSH in Indonesian waters ranges from 0.4 - 0.8 m and ± 0.6 m in the Madura Strait, while the results of tide gauge analysis show 1.2 - 1.4 m. There is a significant difference and is shown by the RMSE value at Surabaya station 0.81; Kalianget 0.98; and Probolinggo 0.94. The tide gauge data were also further processed using the admiralty method to obtain 15 tidal harmonic components, consisting of diurnal component [M1, K1, O1, P1, Q1, J1, OO1], semidiurnal [M2, S2, K2, N2, L2, 2N2], and shallow water [M4, and MS4], so that the dominance of diurnal components (P1 and K1) at Surabaya and Kalianget measurement stations and semidiurnal components (N2 and L2) at Probolinggo measurement station is known. Meanwhile, the results of the FFT analysis show that the tidal type in the Madura Strait is classified as a mixed double-semidiurnal tidal type with sea level elevation values not much different at the three measurement locations. The highest HHWL value at Probolinggo station (3.3455 m), the lowest LLWL value at Kalianget station (0.5493 m). The MSL values of Surabaya station, Kalianget station, and Probolinggo station are 1.4262 m; 1.2616 m; and 1.8541 m, respectively. The difference in MSL values between altimetry and tide gauge data is caused by the location which is a coastal area, where SSH altimetry data is loss data in the area. It is expected thatt the use of the FFT method can be used as an alternative in knowing the tidal characteristics of measurement stations spread in the Madura Straits.Submitted: 2024-02-28 Revisions:  2024-09-11 Accepted: 2024-09-25 Published: 2024-09-2

    Analisis spasial infeksi Cryptosporidium spp. terhadap penggunaan sumber air bersih pada balita stunting di Kabupaten Jember

    Full text link
    Abstrak. Cryptosporidium spp. adalah parasit intestinal yang secara global ditularkan melalui air (waterborne diseases), dengan banyak kejadian wabah di dunia yang dilaporkan terkait dengan sumber air konsumsi. Mayoritas penyakit ini tidak bergejala (asimptomatis) pada orang dewasa dengan rute penularan dari orang-ke-orang, hewan-ke-orang, melalui air dan makanan. Namun infeksi ini menyebabkan diare kronis hingga malnutrisi pada kelompok rentan yaitu balita dan merupakan faktor risiko terjadinya stunting.  Salah satu media transmisi Cryptosporidium spp. adalah air bersih yang dikonsumsi dan digunakan sehari-hari. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis risiko sumber air bersih yang digunakan sehari-hari terhadap infeksi Cryptosporidium spp. pada balita stunting secara spasial di Kabupaten Jember. Penelitian ini dilakukan pada populasi balita stunting di Kecamatan Kaliwates, Panti, Rambipuji dan Sukorambi Kabupaten Jember menggunakan desain cross sectional. Analisis spasial moran index dan nearest neigbor index (NNI) digunakan untuk mengetahui pola persebaran infeksi Cryptosporidium spp. terhadap suatu wilayah. Uji chi-square dilakukan untuk mengetahui hubungan faktor risiko sumber air  bersih  dengan infeksi Cryptosporidium spp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 18 dari 528 (3,41%) balita stunting diketahui terinfeksi Cryptosporidium spp. Nilai moran index menunjukkan adanya pola persebaran mengelompok (clustered) dengan autokorelasi positif di Kecamatan Sukorambi sedangkan daerah lainnya memiliki pola yang acak (random). Hasil NNI di Kecamatan Sukorambi menunjukkan pola yang acak, sedangkan 3 kecamatan lain menunjukkan pola menyebar (dispersed). Jenis sumber air bersih menunjukkan korelasi terhadap infeksi Cryptosporidium spp. Pola spasial infeksi Cryptosporidium spp. di Kecamatan Sukorambi dan korelasinya dengan jenis sumber air bersih ini menunjukkan bahwa pola infeksi ini cenderung mengelompok (clustered) karena penggunaan sumber air bersih yang sama pada penduduk di kecamatan ini yaitu sumber mata air alami yang digunakan bersama-sama seluruh warga, meskipun jarak antar penggunanya tidak berdekatan atau acak sesuai hasil NNI. Di 3 kecamatan lain, pola spasial cenderung menyebar (dispersed) karena penggunaan sumber air yang berbeda dan tidak digunakan secara bersama-sama. Kesimpulan, infeksi Cryptosporidium spp. cenderung meningkat pada sumber air bersih yang digunakan secara bersama-sama. Perlu edukasi pada kelompok masyarakat agar mengolah dulu air yang digunakan sebelum dikonsumsi untuk mengurangi risiko penyebarannya.Abstract. Cryptosporidium spp . are intestinal parasites that are transmitted worldwide by water(waterborne disease), with many of the reported outbreaks in the world associated with sources of drinking water. Most cases of the disease are asymptomatic in adults, and transmission is person-to-person, animal-to-person, waterborne, and foodborne. However, the infection causes chronic diarrhea and malnutrition in vulnerable children under the age of five and is a risk factor for stunting. One of the modes of transmission of Cryptosporidium spp . is through clean water, which is consumed and used daily. The study aimed to spatially analyze the risk of daily clean water sources on Cryptosporidium spp. infection among stunted children in Jember Regency. This study was conducted on a population of stunted young children in Kaliwates, Panti, Rambipuji and Sukorambi sub-districts of Jember Regency using a cross-sectional design. The Moran and NNI index were used to determine the distribution pattern of infection in a region. Chi-squared test was conducted to determine relationship between risk factors of clean water source and Cryptosporidium spp. It was found that 18 out of 528 (3.41%) stunted infants were known to have Cryptosporidium spp. infection. The Moran index value shows a clustered distribution pattern with positive autocorrelation in the Sukorambi sub-district, while the other areas show arandom pattern. The results of the NNI in Sukorambi sub-district show a random pattern, and 3 other sub-districts show adispersed pattern. The spatial pattern of Cryptosporidium spp . infection in Sukorambi subdistrict and its correlation with the type of clean water source shows that this infection pattern tends to cluster because the population in this subdistrict uses the same clean water source, natural springs, which are shared by all residents, although the distance between users is not close or random according to NNI results. In the other three sub-districts, the spatial pattern tends to be more dispersed due to the use of different water sources that are not shared. In summary, there is a tendency for the incidence of Cryptosporidium spp. to increase in shared water supplies. There is a need to educate community groups to treat the water they use prior to consumption in order to reduce the risk of its spread.Submitted: 2024-01-22  Revisions:  2024-09-11 Accepted: 2024-09-25 Published: 2024-09-2

    Analisis Multitemporal Pengaruh Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Klasifikasi Resapan Air Tanah di Kota Surakarta

    Full text link
    Abstrak. Meningkatnya mobilitas penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan air serta perubahan penggunaan lahan di perkotaan. Adanya peningkatan kebutuhan air, maka sangat diperlukan sumber-sumber air baru khususnya dari air tanah. Disisi lain, perubahan lahan sangat mempengaruhi kemampuan pengisian air tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara multitemporal dari perubahan penggunaan lahan tahun 2010-2040 dan mengidentifikasi kondisi resapan air tanah di Kota Surakarta. Adapun metode yang digunakan untuk prediksi Land Use Land Cover (LULC) yaitu menggunakan pendekatan metode Cellular Automata – Artificial Neural Network (CA-ANN) dimana untuk mengevaluasi hasil prediksi LULC menggunakan metode akurasi kappa, sedangkan untuk analisis kondisi resapan air tanah menggunakan metode skoring. Bahan yang digunakan yaitu LULC dari citra Landsat 7 ETM+ dan Landsat OLI tahun 2000, 2010, dan 2020, DEM, jenis tanah, kemiringan lereng, dan curah hujan. Hasil prediksi LULC di Kota Surakarta menunjukkan bahwa terjadi peningkatan  LULC untuk kawasan terbangun dengan total luasan sebesar 71,08% pada tahun 2030 dan 71,83% pada tahun 2040. Selain kawasan terbangun, area vegetasi mengalami penurunan sebesar 1,26% di tahun 2040. Hasil simulasi kondisi resapan air tanah di Kota Surakarta tahun 2020 dan 2040 menunjukkan bahwa lokasi penelitian memiliki 5 kelas klasifikasi yaitu kondisi resapan baik, normal alami, mulai kritis, agak kritis, dan kritis. Kota Surakarta didominasi oleh kelas agak kritis dan kritis dengan luasan area sebesar 17,29 km2 tahun 2020 menjadi 20,85 km2 tahun 2040 untuk kelas IV yaitu agak kritis, dan untuk kelas V yaitu kritis memiliki luasan area sebesar 13,91 km2 tahun 2020 menjadi 15,08 km2 tahun 2040. Abstract. Increased population mobility leads to increased water demand and changes in land use in urban areas. With the increase in water demand, new water sources, especially from groundwater, are needed. On the other hand, land use change greatly affects groundwater recharge capacity. This research aims to analyse multitemporal land use change from 2010-2040 and identify the condition of groundwater recharge in Surakarta City. The method used for Land Use Land Cover (LULC) prediction is using Cellular Automata - Artificial Neural Network (CA-ANN) method approach where to evaluate the LULC prediction results using the kappa accuracy method, while for the analysis of groundwater recharge condition using scoring method. The materials used are LULC from Landsat 7 ETM+ and Landsat OLI images in 2000, 2010, and 2020, DEM, soil type, slope, and rainfall. The prediction results of LULC in Surakarta City show that there is an increase in LULC for built-up areas with a total area of 71.08% in 2030 and 71.83% in 2040. In addition to the built-up area, the vegetation area decreased by 1.26% in 2040. Meanwhile, the simulation results of groundwater infiltration conditions in Surakarta City in 2020 and 2040 show that the research location has 5 classification classes, namely good infiltration conditions, natural normal, starting to be critical, somewhat critical, and critical. Surakarta City is dominated by the mildly critical and critical classes with an area of 17.29 km2 in 2020 to 20.85 km2 in 2040 for class IV which is mildly critical, and for class V which is critical has an area of 13.91 km2 in 2020 to 15.08 km2 in 2040

    Alur kerja pembelajaran mesin pada pemodelan spasial kerawanan longsor

    Full text link
    Abstrak Salah satu instrumen pengurangan risiko bencana longsor adalah peta kerawanan longsor yang dihasilkan dari pemodelan spasial. Alur kerja pemodelan spasial kerawanan longsor menggunakan model pembelajaran mesin belum terakomodasi dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku saat ini (tahun 2024). Penelitian ini berusaha menjelaskan variasi langkah-langkah dalam alur kerja pembelajaran mesin dan menunjukkan perbedaannya dengan alur kerja model statistik. Model statistik regresi logistik dan model pembelajaran mesin random forest dipilih untuk menjelaskan perbedaan alur kerja pemodelan spasial kerawanan longsor. Formulasi alur kerja pemodelan spasial kerawanan longsor diterapkan untuk memetakan kerawanan longsor di Kabupaten Pacitan. Pada tanggal 27-29 November 2017, 743 longsor terjadi di Kabupaten Pacitan dipicu oleh hujan yang sangat lebat akibat Siklon Tropis Cempaka. Kabupaten Pacitan merupakan salah satu wilayah rawan longsor di Provinsi Jawa Timur. Alur kerja pemodelan spasial kerawanan longsor terbagi atas beberapa langkah yaitu penyiapan data, pra-pemrosesan data (pre-processing), melatih dan menyetel model, memvalidasi model, pemodelan spasial, dan uji akurasi. Hasil uji akurasi model RF dan LR yang diterapkan di Kabupaten Pacitan masing-masing sebesar 0,75 dan 0,73. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam penyusunan SNI pemetaan kerawanan longsor di masa mendatang serta dapat digunakan sebagai acuan dalam pemetaan kerawanan longsor secara umum di Indonesia. Abstract One of the landslide risk reduction instruments is landslide susceptibility maps which can be produced by spatial modeling. The landslide susceptibility modeling based on machine learning workflows have not been accommodated in the current verison of Indonesian National Standard (SNI). This study seeks to explain the variation of machine learning workflows and show how they differ from statistical learning workflows. Logistic regression model and random forest machine learning models were selected to explain variations in landslide susceptibility modeling workflows. The modeling workflows were applied to map landslide susceptibility in Pacitan Regency. On 27-29 November 2017, 743 landslides occurred in Pacitan Regency triggered by very heavy rain due to Tropical Cyclone Cempaka. Pacitan Regency is one of the landslide-prone areas in East Java Province. The landslide susceptibility modeling workflow is divided into several steps, i.e. data preparation, data pre-processing, training and tuning the model, validating the model, spatial modeling, and accuracy testing. The accuracy test results of the RF and LR models applied in Pacitan Regency were 0.75 and 0.73 respectively. This research is expected to provide a benchmark for landslide susceptibility mapping in Indonesia.

    Kajian Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Menghadapi Potensi Multi-Bencana

    No full text
    Abstrak Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki kompleksitas potensi multi-bencana. Dalam menghadapi kondisi ini, maka identifikasi respons masyarakat dalam wujud kearifan lokal menjadi penting. Penelitian ini bertujuan untuk memahami potensi multi-bencana di wilayah pesisir DIY pada geographical settings yang berbeda, mengeskplorasi kearifan lokal masyarakat pesisir DIY dalam menghadapi potensi multi-bencana, serta menganalisis tingkat pengaplikasian kearifan lokal tersebut pada geographical settings yang berbeda. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi data yaitu wawancara (wawancara semi terstruktur dan mendalam), observasi lapangan, dan studi literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan geographical settings wilayah kepesisiran DIY telah memengaruhi keberagaman potensi multi-bencana di wilayah ini. Masyarakat pesisir DIY memiliki kearifan lokal yang sangat beragam dalam menghadapi potensi multi-bencana. Kearifan lokal ini tumbuh secara intrinsik, ekstrinsik, dan intrinsik-ekstrinsik. Pengaplikasian kearifan lokal secara intrinsik dalam menghadapi potensi multi-bencana di wilayah pesisir DIY dominan memiliki tingkat klasifikasi sedang, sedangkan pengaplikasian kearifan lokal secara ekstrinsik dominan memiliki tingkat klasifikasi tinggi. Abstract The Special Region of Yogyakarta (DIY) has the complexity of multi-disaster potentials. In facing this condition, the identification of community responses in the form of local wisdom becomes crucial. This research aims to understand the multi-disaster potentials in the coastal areas of DIY in different geographical settings, explore the local wisdom of coastal communities in DIY in dealing with multi-disaster potentials, and analyze the level of application of this local wisdom in different geographical settings. Data collection in this research uses data triangulation, namely interviews (semi-structured and in-depth interviews), field observations, and literature studies. The results of this research indicate that the differences in geographical settings in the coastal areas of DIY have influenced the diversity of multi-disaster potentials in this region. Coastal communities in DIY have a highly diverse local wisdom in dealing with multi-disaster potentials. This local wisdom grows intrinsically, extrinsically, and intrinsically-extrinsically. The intrinsic application of local wisdom in dealing with multi-disaster potentials in the coastal areas of DIY predominantly has a moderate classification level, while the extrinsic application of local wisdom predominantly has a high classification level

    Sebaran ostracoda sebagai bioindikator kondisi perairan lepas pantai Balikpapan, Kalimantan Timur

    Full text link
    Abstrak Perairan lepas pantai Balikpapan memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan kualitas air yang diakibatkan sedimentasi di sekitar kawasan tersebut. Oleh sebab itu, penelitian mengenai kondisi lingkungan perairan di daerah ini penting dilakukan.  Salah satu bioindikator yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas perairan adalah ostracoda, yang merupakan mikroorganisme dari jenis Crustacea. Penelitian ini dilakukan di selatan Teluk Balikpapan menggunakan data kemelimpahan ostracoda dalam sedimen Resen pada 25 sampel permukaan dasar laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi lingkungan perairan di area penelitian berdasarkan distribusi ostracoda. Hasil penelitian menunjukkan kemelimpahan ostracoda semakin rendah ke arah perairan laut terbuka, dan dari tingkat keanekaragamannya diketahui kondisi perairan tergolong stabil. Hasil analisis cluster membagi area penelitian menjadi dua biotop yakni Biotop1, merupakan lingkungan laut dangkal dengan spesies penciri Cytherella semitalis, Cytherelloidea sp., Phlyctenophora orientalis dan Neomonoceratina indonesiana; Biotop2, berasosiasi dengan lingkungan terumbu karang ditandai dari kehadiran spesies Bairdopillata paraalcyonicola, Paranesidea sp., dan Loxoconcha sp.  Abstract The offshore waters of Balikpapan considered as vulnerable in term of changes in water quality due to high sedimentation. Therefore, research on the condition of the aquatic environment in this area is necessary. One bioindicator that can be used to determine water quality is ostracods, the Crustacean microorganisms that commonly found in the seabed sediments. This research was conducted in southern Balikpapan Bay using ostracod abundance in Recent sediments on 25 seabed surface samples. The aim of this research is to determine the condition of the aquatic environment based on the distribution of ostracods. The results show that the abundance of ostracods is lower towards open sea waters, and from the level of diversity it is known that water conditions are relatively stable. The results of the cluster analysis divided the research area into two biotopes, Biotope1, a shallow marine environment with the diagnostic species Cytherella semitalis, Cytherelloidea sp., Phlyctenophora orientalis and Neomonoceratina indonesiana; Biotope2, associated with coral reef environments, is characterized by the presence of Bairdopillata paraalcyonicola, Paranesidea sp., and Loxoconcha sp

    Keuangan Inklusif antar Provinsi di Indonesia dan Hubungannya dengan Ketimpangan Pendapatan

    Full text link
    Abstrak. Keuangan inklusif merupakan sistem keuangan yang memberikan dukungan kepada masyarakat berpenghasilan rendah untuk dapat mengakses keuangan. Pada kenyataan, akses keuangan tidak dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, seperti akses keuangan yang tidak merata, ketersediaan layanan dan infrastruktur yang tiduk mendukung. Hal inilah yang kemudian menjadi tantangan sekaligus untuk menjawab tujuan bagaimana mengukur indeks inklusi keuangan antar provinsi di Indonesia, menganalisis determinan inklusi keuangan dan menganalisis hubungan inklusi keuangan dan ketimpangan. Penelitian ini menggunakan analisis regresi Tobit, analisis tipologi klassen dan analisis kausalitas granger. Indeks inklusi keuangan antar provinsi di Indonesia berada pada kategori rendah, kecuali DKI Jakarta, Bali dan Kalimantan Selatan masuk dalam kategori sedang. Hasil estimasi determinan inklusi keuangan ditemukan bahwa pengangguran, internet, ponsel, laju pertumbuhan dan rasio jalan berpengaruh terhadap inklusi keuangan.Abstract.Inclusive finance is a financial system that provides support for low-income people to be able to access finance. In reality, financial access is not enjoyed by all levels of society, such as unequal financial access, inadequate availability of services and infrastructure. This then becomes a challenge as well as to answer the objectives of how to measure the financial inclusion index between provinces in Indonesia, analyze the determinants of financial inclusion and analyze the relationship between financial inclusion and inequality. This research uses Tobit regression analysis, Klassen typology analysis and Granger causality analysis. The financial inclusion index between provinces in Indonesia is in the low category, except for DKI Jakarta, Bali and South Kalimantan which are in the medium category. The estimation results of the determinants of financial inclusion found that unemployment, internet, mobile phones, growth rate and road ratio have an influence on financial inclusio

    189

    full texts

    419

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Geografi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇