Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
    419 research outputs found

    Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Kopi di Area Sekitar Danau Toba

    No full text
    Abstrak Youngest Toba Tuff (YTT) merupakan material pembentuk tanah andosol yang dominan di Kaldera Toba. YTT memiliki karakteristik yang berbeda dengan tanah andosol hasil dari material gunungapi aktif. YTT tersusun atas material ignimbrite tebal yang kaya akan batuapung. Material YTT tersebut tergolong subur untuk berbagai jenis tanaman yang ada pada Kaldera Toba bagian dalam. Kajian kesesuaian lahan untuk peruntukan tanaman tertentu belum pernah dilakukan di Kaldera Toba bagian dalam. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengkajian kesesuaian lahan untuk tanaman kopi. Metode yang digunakan adalah weight matching dengan konsep faktor terberat menjadi penentu klasifikasi utama kelas kesesuaian lahan. Unit analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistem lahan. Karakteristik klimatologi DTA Danau Toba sesuai untuk tanaman kopi dengan curah hujan 2.000-2.500 mm/tahun, bulan kering 3%), permeabilitas cepat, dan tekstur geluh pasiran. Formasi YTT termasuk dalam kelas kesesuaian lahan S1 dan S2 untuk tanaman kopi, sedangkan material endapan danau, dan lava termasuk kelas S3 dan N untuk tanaman kopi.  Abstract Youngest Toba Tuff (YTT) is the dominant andosol soil-forming material in the Toba Caldera. YTT has different characteristics from the andosole soil resulting from active volcanic material. YTT is composed of thick ignimbrite material that is rich in pumice. YTT material belongs fertile to various kinds of plants that exist on the Toba Caldera inside. Soil suitability studies to have never been carried out in the inner Toba caldera. Therefore, this study aims to examine the suitability of the soil for coffee crops. The method used is weight matching with the concept of the heaviest factor being the primary determinant of the classification of the land suitability class. The unit of analysis used in this study is the land system. Climate Characteristics Toba Caldera is suitable for coffee plants with rainfall of 2,000-2.500 mm/year, dry months 3%), fast permeability, and sandy loam textures. YTT material belongs to the soil suitability classes S1 and S2 for coffee plants, while lake sediment and lava are classified in the classes S3 and N for coffee plantations.

    Pasar Kerja dan Migran Kembali di Kabupaten Perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak

    Full text link
    Abstrak. Pengalaman sebagai migran seharusnya dapat membantu migran kembali untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik guna mengurangi tekanan ekonomi. Tekanan ekonomi cenderung mendorong warga untuk menjadi migran berulang yang sebagian berstatus ilegal. Sementara itu, Kabupaten Sambas berbatasan darat dengan Sarawak, Malaysia, yang banyak menawarkan pekerjaan berketerampilan rendah dengan upah yang relatif tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi pasar kerja lokal dan menginvestigasi jenis pekerjaan migran kembali. Penelitian ini menggunakan data sekunder terutama yang bersumber dari BPS dan data primer yang dikumpulkan dengan melakukan wawancara terstruktur dan mendalam serta observasi nonpartisipasi. Hasil penelitian memberikan konfirmasi bahwa Sambas adalah sumber pekerja migran, di mana penawaran tenaga kerja perempuan usia muda lebih tinggi dari laki-laki. Penawaran tenaga kerja didominasi oleh tamatan sekolah menengah, sementara sebagian besar permintaan tenaga kerja adalah untuk tamatan SD atau lebih rendah. Permintaan tenaga kerja juga didominasi oleh sektor primer, buruh/karyawan bagi laki-laki serta pekerja tak dibayar bagi perempuan. Pasar kerja di Sambas telah menyebabkan pengalaman sebagai migran kurang berdampak terhadap jenis pekerjaan migran kembali. Sebagian besar pekerjaan responden saat kembali tidak jauh berbeda dengan pekerjaan saat migrasi. Tingkat upah yang lebih rendah di tempat asal pada akhirnya mendorong sebagian mantan migran kembali menjadi pekerja migran. Abstract. The migration experience should help returning migrants find better jobs in their place of origin, reducing their economic pressures and the likelihood of re-migrating to Malaysia and working illegally. Meanwhile, Sambas district shares a land border with Sarawak which offers many low-skilled jobs with relatively high wages. This research used secondary data mainly published by Statistics Indonesia and primary data collected by conducting structured and in-depth interviews and non-participatory observation. Findings in this research confirm that Sambas as a source of labour migrants. That is indicated by the higher female than male labour supply in the 15-19 age group. The labour supply is dominated by high school graduates, while labour demand is mostly for completed primary education or less. Labour demand is also dominated by the primary sector, male labourers/employees and unpaid female workers. The job market in Sambas has made migration experience have less impact on the employment of returning migrants, as they mostly work in occupations similar to or worse than those during their migration. The low wage level in their place of origin ultimately encourages some former migrants to re-migrate for work. Submitted: 2024-03-03 Revisions:  2024-04-26 Accepted: 2024-09-11 Published: 2024-09-2

    Studi Komparasi Teknik Klasifikasi berbasis Objek terhadap Citra Resolusi Spasial Menengah dan Tinggi untuk Pemetaan Tutupan Lahan di Sebagian Kabupaten Kulonprogo

    No full text
    Abstrak Tingginya kebutuhan informasi tutupan lahan dalam berbagai sektor perencanaan dapat disediakan secara time-and-cost effective melalui analisa citra penginderaan jauh, diantaranya menggunakan OBIA (object based image analysis). Teknik tersebut banyak diterapkan pada berbagai macam citra, baik resolusi spasial tinggi maupun menengah. Namun studi komparasi pada citra resolusi spasial yang berbeda masih belum banyak dilakukan secara comparable, dimana umumnya terdapat banyak perbedaan variable komparasinya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan secara langsung penerapan OBIA terhadap resolusi spasial citra yang berbeda dengan membatasi variable berpengaruh terhadap akurasi, diantaranya: klasifikasi jenis tutupan lahan, saluran masukan citra, dan kriteria serta teknik klasifikasi OBIA. Berdasarkan studi komparasi, diketahui bahwa penggunaan Pleaides memberikan akurasi yang lebih tinggi dibanding Landsat-8 OLI namun memerlukan strategi klasifikasi yang lebih rumit. Sedangkan ditinjau dari overall accuracy dan indeks kappa, disimpulkan bahwa OBIA mampu memberikan akurasi hasil yang termasuk dalam acceptable thresholds untuk derivasi tutupan lahan menggunakan citra resolusi spasial tinggi ataupun menengah.Abstract The high demand for land cover information for vast planning sectors could be provided in time-and-cost-effective techniques using remote sensing image analysis, including employing OBIA (object based image analysis). The technique is widely applied to various kinds of imageries, for high and medium spatial resolution as well. However, comparative studies on the usage of different spatial resolution imageries have not been carried out in a comparable condition, where several variables could be in different terms. The study aims is to straightly compare OBIA’s application in diverse spatial resolution of imagery by limiting the affecting variables to its accuracy, including classification of land cover schemes, imagery channels input, and OBIA’s criteria and techniques. The comparative study reveals the usage of Pleaides provides higher accuracy than Landsat-8 OLI but requires a more complicated classification strategy. Meanwhile, the overall accuracy and kappa index of both maps exposes that OBIA could provide scientifically acceptable accurate land cover maps derived from both high and medium spatial resolution imagery

    Dampak Redistribusi Tanah Terhadap Penghidupan Masyarakat di Kawasan Fora 2 (Ternate) Maluku Utara

    No full text
    Abstrak Reforma agraria, atau land reform plus, adalah konsep yang bertujuan untuk mengubah struktur kepemilikan dan penggunaan tanah demi mengurangi ketimpangan kepemilikan dan ketidakadilan di sektor pertanian. Di Kelurahan Foramadiahi, Ternate, Provinsi Maluku Utara sudah dilakukan bagian dari reforma agraria yakni redistribusi tanah hasil pelepasan kawasan hutan berdasarkan Surat Keputusan Pelepasan Kawasan Hutan Nomor 1001/MENLHK/SEKJEN/PLA.2/11/2019 di tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak reforma agraria, khususnya redistribusi tanah, terhadap kehidupan masyarakat di Kawasan Fora 2, Kelurahan Foramadiahi setelah 2 (dua) tahun pelaksanaan program tersebut. Melalui pendekatan kualitatif dengan mewawancarai 42 subjek penerima Tanah Objek Reforma Agraria (TORA), penelitian ini mengungkapkan bahwa pemberian kepastian hukum terhadap tanah yang sebelumnya tidak dimiliki telah memberikan kepuasan kepada masyarakat. Meskipun demikian, dampak ekonominya belum signifikan dirasakan oleh masyarakat. Pengakuan hukum atas kepemilikan tanah secara efektif telah mencegah praktik penyerobotan lahan, munculnya mafia tanah, dan mengurangi masalah-masalah pertanahan lainnya di lokasi penelitian. Namun, kendala utama terletak pada kurangnya pendampingan dalam pengelolaan hasil pertanian, yang menjadi faktor penghambat peningkatan nilai tambah produk pertanian. Diharapkan bahwa rencana pemberian penataan akses di tahun 2023, serta pendampingan dalam pengelolaan pertanian, akan memberikan dampak positif pada perekonomian masyarakat Kawasan Fora 2 di masa mendatang. Abstract Agrarian reform, or land reform plus, is a concept that aims to change the structure of land ownership and use in order to reduce ownership inequality and injustice in the agricultural sector. In Foramadiahi Village, Ternate, North Maluku Province, part of agrarian reform has been carried out, namely, the redistribution of land resulting from the release of forest areas based on Forest Area Release Decree Number 1001/MENLHK/ SEKJEN/PLA.2/11/2019 in 2021. This study aims to analyze the impact of agrarian reform, especially land redistribution, on the lives of people in Fora 2 Area, Foramadiahi Village, after two years of program implementation. Through a qualitative approach, interviewing 42 subjects who received Land for Agrarian Reform Objects (TORA), this study reveals that providing legal certainty over previously unowned land has satisfied the community. However, the economic impact has not been significantly felt by the community. Legal recognition of land ownership has effectively prevented land- grabbing practices, the emergence of land mafias, and reduced other land problems in the research locations. However, the main obstacle lies in the lack of assistance in the management of agricultural products, which is an inhibiting factor in increasing the added value of agricultural products. It is expected that the plan to provide access arrangements in 2023, as well as assistance in agricultural management, will have a positive impact on the economy of the Fora 2 community in the future

    Pengukuran Kinerja Keberlanjutan Pengembangan Mixed-use di Kota Semarang Menggunakan Pendekatan Leadership in Energy and Environmental Design (LEED)

    Full text link
    Abstrak. Bentuk kota sangat berperan dalam strategi keberlanjutan karena secara langsung akan berpengaruh dalam isu energi, vitalitas perkotaan, dan keberlanjutan lingkungan. Kota Semarang merupakan salah satu dari lima kota metropolitan di Indonesia yang dalam RTRW Kota Semarang 2011-2031 menerapkan konsep mixed-use. Namun demikian masih banyak penerapan konsep ini yang berfokus pada superblock yang berorientasi ekonomi tanpa mengindahkan keberlanjutan lingkungan, oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah mengukur derajat mixed-use di Kota Semarang serta menilai kinerja keberlanjutannya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah mixed-use measurement yang menitiberatkan pada kedekatan dan interaksi penggunaan lahan utama dan penilaian kinerja berkelanjutan menggunakan alat Leadership in Energy and Environmental Design (LEED-ND). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kota Semarang memiliki derajat mixed-use mayoritas pada tingkat sedang dan tinggi sementara derajat mixed-use paling tinggi di Kecamatan Semarang Barat. Pada penilaian LEED-ND di Kecamatan Semarang Barat ditemukan bahwa nilai keberlanjutan yang cukup rendah pada aspek Smart Location Linkage, dimana memiliki tujuan untuk mengurangi perjalanan dan jarak tempuh kendaraan sehingga berkaitan dengan penyediaan infrastruktur transportasi. Selanjutnya, pada aspek Neighbourhood Pattern Design juga memiliki nilai keberlanjutan yang cukup rendah khususnya pada variabel Walkable Street dan Compact Development, dimana memiliki tujuan efisiensi pergerakan dan kelayakan huni sehingga berkaitan dengan penyediaan hunian yang kompak dan jalur pedestrian. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus dalam perencanaan pembangunan untuk mencapai standar pra-persyaratan penilaian LEED berdasarkan aspek tersebut. Abstract. The shape of the city plays a role in sustainability strategies because it will directly affect the issues of energy, urban vitality, and environmental sustainability. Semarang City is one of the five metropolitan cities in Indonesia which in the Semarang City RTRW 2011-2031 applies the concept of mixed-use. However, there are still many applications of this concept that focus on economic-oriented superblocks without regard to environmental sustainability, therefore the purpose of this study is to measure the degree of mixed-use in Semarang City and assess its sustainability performance. The methods used in this study are mixed-use measurement which focuses on proximity and interaction of key land uses and sustainable performance assessment using the Leadership in Energy and Environmental Design (LEED-ND) tool. The results of this study show that Semarang City has the majority of mixed-use degrees at medium and high levels while the highest mixed-use degrees are in West Semarang District. In the LEED-ND assessment in West Semarang District, it was found that the sustainability value is quite low in the aspect of Smart Location Linkage, which has the aim of reducing vehicle trips and mileage so that it is related to the provision of transportation infrastructure. Furthermore, the Neighbourhood Pattern Design aspect also has a fairly low sustainability value, especially in the variables of Walkable Street and Compact Development, which have the aim of movement efficiency and habitability so that it is related to the provision of compact housing and pedestrian paths. Therefore, special attention is needed in development planning to achieve the LEED assessment pre-requirement standards based on these aspects.Submitted: 2024-03-02 Revisions: 2024-04-02 Accepted: 2024-09-11 Published: 2024-09-1

    Analisis Rencana Pemekaran Kelurahan Mangunsari dan Dukuh Kota Salatiga sebagai Upaya Perwujudan Good Governance

    No full text
    Abstract  The expansion plan of Mangunsari and Dukuh Sub-districts in Sidomukti District arises from the dynamics of the community. These sub-districts are crucial to expand due to their extensive territories and high population density, which hampers the government's efforts to distribute development programs equitably. This study aims to (1) understand community perceptions of the expansion plan; (2) determine policy stakeholders' views on the plan; (3) identify stakeholders’ roles in the expansion; and (4) analyze the technical feasibility of the expansion plan, including proposing alternative government center locations. Qualitative descriptive analysis and triangulation processed primary data, while quantitative analysis determined expansion feasibility based on community satisfaction surveys, technical viability, and centrality index. Findings indicate support from both the community and the government for the sub-district expansion plan. The territorial expansion involves stakeholders from the government, community, and academia. Feasibility analysis shows both sub-districts fall short in area but exceed minimum population and infrastructure requirements. Researchers propose Dusun Jangkungan and Ngawen in Mangunsari, also Dusun Kembangarum and Krajan in Dukuh as central service locations post-expansion.  Abstrak Rencana pemekaran Kelurahan Mangunsari dan Dukuh di Kecamatan Sidomukti merupakan isu yang muncul akibat dinamika kondisi masyarakat. Kedua kelurahan tersebut penting dimekarkan karena cakupan wilayah yang luas dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Hal ini dapat mengakibatkan pemerintah terkendala dalam melakukan pemerataan program pembangunan. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk (1) mengetahui persepsi masyarakat tentang rencana pemekaran;  (2) menganalisis persepsi dan peran stakeholders dalam rencana pemekaran; dan (3) menganalisis kelayakan teknis rencana pemekaran dan lokasi alternatif pusat pemerintahan. Metode analisis deskriptif kualitatif dan triangulasi digunakan untuk mengolah data primer, analisis deskriptif kuantitatif untuk menentukan kelayakan pemekaran, dan indeks sentralitas digunakan untuk menentukan lokasi alternatif pusat pemerintahan. Hasil kajian ini diperoleh bahwa rencana pemekaran kelurahan didukung oleh masyarakat maupun pemerintah. Proses pemekaran wilayah ini melibatkan peran tiap stakeholders yang berasal dari pemerintah, masyarakat, dan akademisi. Analisis kelayakan indikator pemekaran menunjukkan bahwa kedua kelurahan belum memenuhi syarat luas wilayah tetapi telah melampaui jumlah minimal penduduk kelurahan serta ketersediaan sarana dan prasarana. Peneliti menyarankan Dusun Jangkungan dan Dusun Ngawen di Kelurahan Mangunsari serta Dusun Ngemplak dan Dusun Krajan di Kelurahan Dukuh sebagai lokasi pusat pemerintahan pada kelurahan baru.

    Karakteristik Hidrogeologi dan Hidrogeokimia DAS Tempuran Lereng Barat Kompleks Gunungapi Bromo-Tengger

    Full text link
    Abstrak Lereng bagian barat Gunungapi Bromo meiliki peranan penting dalam penyediaan air untuk masyarakat disekitarnya. Penggunaan air tanah cukup intensif baik domestik, pertanian, dan industri pada lereng bagian barat Gunungapi Bromo. Lerang bagian barat bagian barat Gunungapi Bromo belum pernah dilakukan kajian detail baik potensi, kualitas, dan imbuhan air tanah. Kajian tersebut di tujukan untuk mengetahui kondisi air tanah di lereng bagian barat Gunungapi Bromo supaya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas pengamatan batuan, pengukuran muka air tanah, pengukuran kimia air tanah TDS, pH, EC, dan suhu, analisis geokimia berdasarkan diagram piper, diagram fingerprint, dan diagram kurlov, analisis isotop asal usul air tanah dan imbuhan air tanah. Litologi di area kajian terdiri atas endapan pasir kerikilan, endapan pasir, batupasir, konglomerat, breksi laharik, lapilli tuff, tuff, breksi, dan lava andesit. Nilai TDS, pH, Suhu, dan EC di DAS Tempuran semakin meningkat dari hulu ke hilir. Pola aliran air tanah pada DAS Tempuran secara umum mengalir dari arah selatan menuju utara. Satuan lava dan breksi andesit merupakan akuifer, lava andesit dan breksi andesit merupakan akuiklud, jatuhan piroklastik merupakan akuifer, dan tuf dan lapilli tuf merupakan akuitard. Tipe air tanah pada DAS Tempuran didominasi oleh tipe kalsium bikarbonat (diagram piper) dan kalsium magnesium bikarbonat (diagram kurlov), dan diagram fingerprint terdapat 3 sistem air tanah. Sampel air tanah di DAS Tempuran keseluruhan berasal dari air meteorik. Imbuhan air tanah di DAS termpuran berasal dari elevasi 430-805 mdpl. Daerah imbuhan air tanah terdapat di Kecamatan Pasepran, Puspo, dan Tutur. Air tanah di area kajian secara kualitas dan kuantitas tergolong sangat baik.Abstract The western slopes of Mount Bromo have an important role in providing water for the surrounding community. Groundwater use is quite intensive, both domestically, agriculturally, and industrially, on the western slopes of Mount Bromo. The western slope of Mount Bromo has never had a detailed study of its potential, quality, and groundwater recharge. The study was aimed at determining the condition of groundwater on the western slopes of Mount Bromo so that it can be used sustainably. The methods used in this research consist of rock observations, measurements of groundwater levels, measurements of groundwater chemistry (TDS, pH, EC, and temperature), geochemical analysis based on Piper diagrams, fingerprint diagrams, and Kurlov diagrams, isotope analysis of the origin of groundwater, and recharge. groundwater. The geology in the study area consists of gravelly sand deposits, sandstone, conglomerate, laharic breccia, lapilli tuff, andesite breccia, and andesitic lava. The TDS, pH, temperature, and EC values in the Tempuran watershed increase from upstream to downstream. The groundwater flow pattern in the Tempuran watershed generally flows from south to north. Units of lava and andesite breccia are aquifers; andesite lava and andesite breccia are aquicludes; pyroclastic falls are aquifers; and tuff and tuff lapilli are aquitards. The groundwater types in the Tempuran watershed are dominated by calcium bicarbonate (Piper diagram) and calcium magnesium bicarbonate (Kurlov diagram), and in the fingerprint diagram, there are 3 groundwater systems. The entire groundwater sample in the Tempuran watershed comes from meteoric water. Groundwater recharge in the purest watershed comes from an elevation of 430–805 meters above sea level. Groundwater recharge areas are in the Pasepran, Puspo, and Tutur Districts. The study area’s groundwater quality and quantity are rated as very goo

    Dampak Perubahan Penutup dan Penggunaan Lahan Terhadap Nilai Jasa Ekosistem di Kabupaten Sleman

    No full text
    Perubahan penutup dan penggunaan lahan di suatu wilayah adalah sebuah keniscayaan, konsisi ini juga terjadi di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada dasarnya penutup penggunaan lahan merupakan bagian dari ekosistem yang bisa dihitung nilai jasa ekosistemnya. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan penutup dan penggunaan lahan dan menganalisi dampak perubahan penututup penggunaan lahan terhadap nilai jasa ekosistem di Kabupaten Sleman pada tahun 1991, 2001, 2013 dan 2022. Data utama yang digunakan adalah Citra Satelit Landsat 5 tahun 1991, Landsat 7 tahun 2001, Landsat 8 tahun 2013 dan Landsat 9 tahun 2022. Klasifikasi multispektral supervised dengan algoritma maksimum likelihood digunakan untuk mendapatkan data penutup dan penggunaan lahan. Berdasarkan hasil klasifikasi penutup dan penggunaan lahan selama kurun waktu 31 tahun, lahan terbangun memiliki nilai landuse dynamic index (K) paling tinggi yaitu 4,5%. Penutup lahan yang paling stabil hanya sedikit mengalami perubahan adalah tubuh air dan lahan pertanian. Perubahan penutup dan penggunaan lahan memiliki dampak terhadap nilai jasa ekosistem dengan nilai elastisitas sebesar 0,4% dari tahun 1991-2022

    Perspektif Time Geography terhadap Upaya Pemenuhan Kebutuhan Air Perempuan Kepala Keluarga Dusun Gunung Butak, Gunungkidul

    No full text
    Abstrak Pemenuhan kebutuhan air masyarakat Dusun Gunung Butak yang termasuk dalam kawasan Karst Gunungsewu merupakan tantangan, terlebih untuk Perempuan Kepala Keluarga (Pekka). Tujuan penelitian : 1) mengidentifikasi sumber air bersih di Dusun Gunung Butak untuk memenuhi kebutuhan selama setahun, 2) menganalisa upaya pemenuhan kebutuhan air oleh Pekka menggunakan perspektif Time Geography. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Indepth interview dengan Pekka dan key persons dengan alat penelitian kalender musim dan panduan/protokol wawancara dilakukan untuk menggali informasi. Pemetaan juga dilakukan dengan menggunakan software GIS. Data divalidasi dengan strategi validasi dalam penelitian kualitatif dan dianalisa menggunakan metode analisa fenomenologis terstruktur. Pada tujuan 2 digunakan analisa dari perspektif Time Geography dan analisa spasial. Hasil penelitian menunjukkan terjadi perubahan sumber air yang digunakan di dusun ini. Berdasarkan analisa Time Geography, adanya pipa PDAM di dusun ini menghemat waktu, memperpendek jalur individu, dan mengurangi kendala mobilitas Pekka dalam memenuhi kebutuhan air terutama saat kemarau. Abstract Meeting the water needs of the community in Gunung Butak Hamlet which is located in the Gunungsewu Karst area is a challenge, especially for Women Headed Household (WHH). The aims of the study are : 1) to identify sources of clean water in Gunung Butak Hamlet to meet one year's needs, and 2) to analyze the fulfillment efforts of water needs by WHH using Time Geography perspective. This research is a qualitative research with a phenomenological approach. Indepth interviews with WHH and key persons using seasonal calendar research tools and interview guidelines/protocols were conducted to gather information. Mapping was also done using GIS software. The data was validated using a validation strategy in qualitative research and analyzed using a structured phenomenological analysis method. Analysis from the perspective of Time Geography and spatial analysis was implemented in the second aim of this research. The results showed that there was a change in the source of water used in this hamlet. Based on Time Geography analysis, the presence of PDAM pipes in this hamlet saves time, shortens Pekka's individual paths and reducing their mobility constraint in fulfilling water needs, especially during the dry season

    Kasus Stunting sebagai Salah Satu Tantangan Pembangunan Berkelanjutan di Kota Salatiga

    Full text link
    Abstrak Stunting merupakan salah satu fokus pembangunan di Kota Salatiga sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan insan yang sehat dan cerdas menuju Salatiga yang bersih dan sehat. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi stunting, menjelaskan faktor penyebab stunting, serta menganalisis strategi dan implementasi penanggulangan kasus stunting di Kota Salatiga melalui studi literatur, observasi lapangan, indepth interview dengan stakeholders, serta pengisian angket oleh keluarga terdampak stunting. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif serta dilakukan triangulasi menggunakan data-data sekunder yang telah dikumpulkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa stunting disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor kesehatan, faktor sosial budaya, dan faktor ekonomi yang tidak terlalu dominan. Isu stunting yang disebabkan oleh faktor dari berbagai dimensi sebisa mungkin diselesaikan dengan koordinasi berbagai pihak terkait, seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APP-KB), Kantor Urusan Agama, Puskesmas, dan tentu saja dengan dukungan masyarakat. Abstract Stunting is a development focus in Salatiga City to achieve healthy and intelligent human for the clean and health of Salatiga.. Aim of this study is to identify the condition of stunting, explain the cause, and analyze the strategy and implementation in Salatiga city by using literature review, observation, in-depth interviews with all stakeholders and also filling a questionnaire for the family who have stunting kids. Data processing was carried out using descriptive qualitative and quantitative analysis and its triangulated by secondary data that had been collected. Results found that stunting is caused by many factors like health conditions, culture and society, and economy but not dominant. Therefore, stunting is caused by many factors should be done by coordination and teamwork of all stakeholders: Development Planning Agency at Sub-National Level, Department of Women's Empowerment, Child Protection, Population Control, and Family Planning (DP3APP-KB), Department of Religious Affairs, public health center, and the most is support by citizens

    189

    full texts

    419

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Geografi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇