Majalah Geografi Indonesia
Not a member yet
419 research outputs found
Sort by
Karakteristik Hidrokimia dan Model Konseptual Sistem Akuifer di Desa Sumberarum, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah
Di Desa Sumberarum, Kecamatan Tempuran, Magelang, Jawa Tengah terdapat kemunculan mata air panas. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik fisika-kimia dan kandungan kimiawi air tanah dengan maksud untuk menentukan model konseptual sistem akuifer di daerah penelitian berdasarkan hidrokimia. Observasi hidrogeologi dan pengambilan sampel air tanah dilakukan secara periodik per-bulan selama 6 bulan. Karakteristik fisika-kimia air panas menunjukkan nilai pH 6.7-7, nilai suhu 33.7-35.7°C, nilai TDS 1650-2000mg/l dan nilai DHL 3300-4000µS/cm. Sedangkan, sumur gali memiliki nilai pH 4.6-6, nilai suhu 27.1-29°C, nilai TDS 90-295mg/l dan nilai DHL 180-590µS/cm. Tipe air tanah pada area penelitian terbagi menjadi 3 yaitu Tipe Na-Cl, Tipe Ca-HCO3 dan Tipe Ca-HCO3-Cl. Secara umum, kandungan hidrokimia pada mata air panas relatif konstan dibanding sumur gali. Berdasarkan hasil diatas, diketahui sistem akuifer pada area penelitian terbagi menjadi sistem akuifer dangkal (sumur gali) dan sistem akuifer dalam (mata air panas) yang diperkirakan berada pada kedalaman kurang lebih 200m dari permukaan tanah
Kesiapsiagaan masyarakat desa tangguh bencana terhadap ancaman tsunami di Kabupaten Cilacap
Abstrak Wilayah pesisir Kabupaten Cilacap memiliki potensi ancaman tsunami yang dapat terjadi setiap saat, sehingga masyarakat yang tinggal di dalamnya dituntut memiliki kesiapsiagaan yang baik. Adanya intervensi program “Desa Tangguh Bencana” (Destana), tidak serta-merta menjamin kesiapsiagaan masyarakat selalu dalam kondisi baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kesiapsiagaan masyarakat Destana tsunami, menggunakan empat parameter kesiapsiagaan masyarakat (pengetahuan risiko bencana, rencana tanggap darurat, sistem peringatan bencana, dan mobilisasi sumberdaya). Penelitian ini dilakukan dengan metode survei menggunakan kuesioner, terhadap 100 responden rumah tangga yang ada di 8 desa yang sudah ditetapkan menjadi Destana di Kabupaten Cilacap. Analisis data dilakukan dengan analisis indeks untuk mengetahui tingkat kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman tsunami. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesiapsiagaan masyarakat Destana tsunami di Kabupaten Cilacap berada pada kategori hampir siap, dengan indeks kesiapsiagaan masyarakat 55. Adanya intervensi program Destana belum mampu menjadikan tingkat kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman tsunami pada level siap ataupun sangat siap. Hal tersebut disebabkan karena keempat parameter kesiapsiagan belum optimal, dimana mobilisasi sumberdaya menjadi parameter yang paling belum optimal. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman tsunami di Kabupaten Cilacap. Abstract The coastal area of Cilacap Regency has the potential for a tsunami hazard that can occur at any time, so that the community who live in it are required to have good preparedness. The program intervention of Disaster Resilient Village (Destana) does not necessarily guarantee that community preparedness is always in good condition. This research aims to assess the level of preparedness of the tsunami village community, using four parameters of community preparedness (disaster risk knowledge, emergency response plans, disaster warning systems, and resource mobilization). This research was conducted using a survey method using a questionnaire, to 100 household respondents in 8 villages that had been designated as the Destana. Data analysis was carried out using index analysis to determine the level of community preparedness against the threat of a tsunami. The results showed that the community preparedness level of the Destana tsunami was in the almost ready category, with a community preparedness index of 55. The four parameters of preparedness are not optimal, with resource mobilization being the least optimal parameter. Support from various parties is urgently needed to increase community preparedness against the tsunami hazard in Cilacap Regency.
Kajian kedaulatan atas Kepulauan Paracel dan dampaknya terhadap delimitasi batas maritim antara Cina dan Vietnam di Laut Cina Selatan
Kepulauan Paracel merupakan kumpulan fitur maritim di Laut Cina Selatan yang sampai saat ini masih disengketakan antara Negara Cina dan Negara Vietnam. Sengketa yang terjadi bukan hanya sebatas masalah kedaulatan atas kepemilikan fitur-fitur maritim, tetapi juga hak berdaulat atas zona maritimnya. Penelitian ini menyajikan dua opsi terkait simulasi delimitasi batas maritim antara Negara Cina dan Negara Vietnam. Opsi yang pertama, yaitu berdasarkan klaim yang diajukan oleh Negara Cina dengan mengacu pada Pasal 46 – 47 UNCLOS 1982. Opsi yang kedua, yaitu berdasarkan klaim yang diajukan oleh Negara Vietnam atas dasar prinsip tindakan pendudukan dengan mengacu pada putusan kasus Pulau Sipadan – Ligitan dan Pulau Palmas. Menurut UNCLOS 1982, salah satu cara yang dilakukan untuk mencapai solusi yang adil dalam delimitasi batas maritim adalah dengan menerapkan prinsip garis tengah atau sama jarak pada area yang tumpang tindih. Hasil dari penelitian ini berdampak pada penambahan dan pengurangan luas ZEE kedua negara
Pemetaan kondisi hutan mangrove di kawasan pesisir Selat Madura dengan pendekatan Mangrove Health Index memanfaatkan citra satelit Sentinel-2
Abstrak. Pemetaan dan pemantauan kondisi hutan mangrove diperlukan untuk rehabilitasi dan konservasi lingkungan. Mangrove Health Index (MHI) menggunakan analisis citra satelit merupakan pendekatan baru yang bisa digunakan untuk mengetahui kualitas lingkungan ekosistem hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui struktur komunitas hutan mangrove dan melakukan analisis spasial-temporal MHI di kawasan pesisir Surabaya dan Sidoarjo menggunakan citra satelit. Data yang digunakan untuk analisis struktur komunitas mangrove pada penelitian ini adalah hasil pengamatan lapang di 10 transek. Untuk analisis MHI menggunakan citra Sentinel 2 perekaman tahun 2015, 2018, 2021. Hasil analisis menunjukkan bahwa spesies mangrove yang paling dominan di lokasi penelitian adalah Avicennia marina. Analisis citra satelit mendeteksi pertambahan luas mangrove yang signifikan dari tahun 2015 hingga 2021 yaitu lebih dari 500 Ha. Berdasarkan analisis MHI, terjadi perubahan positif dari kondisi hutan mangrove dominansi buruk (MHI 66,68%). Pertambahan luas hutan mangrove diiringi dengan perbaikan kondisi ekosistem dengan indikator meningkatnya MHI.Abstract. Mapping and monitoring the condition of mangrove forests is needed for environmental rehabilitation and conservation. Mangrove Health Index (MHI) using satellite image analysis is a new approach that can be used to determine the environmental quality of mangrove forest ecosystems. This study aims to determine the structure of the mangrove forest community and conduct a spatial and temporal MHI analysis in the coastal areas of Surabaya and Sidoarjo. The data used in this study were the results of field observations on 10 transects. MHI analysis using Sentinel 2 imagery recorded in 2015, 2018, 2021. The results of the analysis show that the most dominant mangrove species in the research location is Avicennia marina. Analysis of satellite imagery detects a significant increase in mangrove area from 2015 to 2021, which is more than 500 Ha. Based on the MHI analysis, there was a positive change from poor dominant mangrove forest conditions (MHI 66.68%). The increase in the area of mangrove forests is accompanied by improvements in ecosystem conditions with indicators of increasing MHI.
Diversifikasi dan Diferensiasi Pola Konsumsi Pangan Lokal di Desa Bleberan Playen
Abstrak. Diversifikasi pangan merupakan salah satu bentuk upaya manusia untuk menganekaragamkan ketersedian pangan. Namun, pada kenyataan tidak semua manusia mampu melakukan diversifikasi pangan, sehingga terjadilah diferensiasi pola konsumsi pangan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji diversifikasi pangan dan diferensiasi pola konsumsi pangan lokal pada rumahtangga tani, serta faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sejumlah sampel rumahtangga tani secara random sampling. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara dengan kepala rumahtangga. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan uji statistic regresi liner berganda. Hasil penelitian menemukan diversifikasi produksi pangan maupun diversifikasi olahan pangan yang dihasilkan rumahtangga tani sangat beragam. Demikian juga dilihat dari diferensiasi pola konsumsi pangan lokalnya tampak terlihat bervariasi. Adanya variasi diversifikasi pangan maupun diferensiasi pola konsumsi pangan lokal tidak terlepas dari pengaruh faktor demografi, social-budaya maupun ekonomi rumatangga tani.Abstract. Food diversification is a form of human effort to diversify food availability. However, in reality not all humans are able to diversify food, so there is a differentiation of food consumption patterns. This research was conducted with the aim of studying food diversification and the differentiation of local food consumption patterns in farming households, as well as the factors that influence them. This research was conducted by taking a number of farm household samples by random sampling. Data collection uses interviews with the head of the household. Data analysis was carried out in a quantitative descriptive manner with multiple linear regression statistical tests. The results of the study found that the diversification of food production and the diversification of processed food produced by farm households was very diverse. Likewise, seen from the differentiation of local food consumption patterns, they appear to vary. The existence of variations in food diversification and differentiation in local food consumption patterns cannot be separated from the influence of demographic, socio-cultural and farm household economic factors
Analisis dampak perubahan penggunaan lahan terhadap kualitas lingkungan permukiman di Kapanewon Depok
Konversi lahan menjadi permukiman di Kapanewon Depok terjadi secara intensif sehingga memicu terjadinya penurunan kualitas lingkungan permukiman. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dampak perubahan penggunaan lahan terhadap kualitas lingkungan permukiman. Parameter kualitas lingkungan permukiman dan penggunaan lahan didapatkan melalui interpretasi citra Quickbird. Uji ketelitian hasil interpretasi menggunakan metode confusion matrix. Penilaian kualitas lingkungan permukiman menggunakan metode scoring. Uji t-test digunakan untuk melihat dampak dari perubahan penggunaan lahan terhadap kualitas lingkungan permukiman. Hasil menunjukkan perubahan penggunaan lahan sawah dan semak belukar menjadi permukiman sangat tinggi selama periode 2010 - 2020 .Kualitas lingkungan permukiman pada tahun 2020 di dominasi kelas buruk dengan pola mengelompok. Permukiman yang berada di sepanjang sungai dengan tumpukan sampah menjadi lingkungan permukiman paling buruk. Lingkungan permukiman kelas buruk meningkat lebih dari 500% selama periode ini. Urbanisasi dan kawasan pendidikan menjadi pemicu konversi lahan menjadi area permukiman yang berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan permukiman
Come to be stranded: the dynamics of refugee influx in three Indonesian government regimes
Abstrak. Indonesia telah menjadi salah satu negara transit pengungsi sejak abad ke-20. Namun, hanya beberapa sarjana yang mempelajari dinamikanya. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika pengungsi internasional di Indonesia dari tahun 1978 hingga 2022 dengan menggunakan pendekatan geografi sejarah dan desktop research. Studi ini menemukan bahwa pengungsi yang masuk ke Indonesia pada masa Orde Baru dan masa Transisi mayoritas berasal dari Asia Tenggara. Krisis besar yang terjadi pada masa itu antara lain krisis manusia perahu, krisis pengungsi Kamboja, pengusiran warga Timor Timur, dan krisis pengungsi MENA. Pada era reformasi hingga saat ini, jumlah pengungsi dan sebaran negara asal semakin meningkat dengan krisis utama adalah krisis laut Andaman dan krisis Rohingya. Faktor-faktor yang mendasari para pengungsi internasional memilih Indonesia sebagai negara suaka adalah kedekatan geografis, konflik regional, kedekatan sosial, sejarah, dan budaya, serta kebijakan anti pengungsi dari negara penerima. Sementara itu, kebijakan internal terkait pengungsi antar pemerintahan tidak terlalu berpengaruh pada dinamika pengungsi sebab indonesia konstan pada posisinya sebagai non penerima pengungsi. Abstract. Since the twentieth century, Indonesia has been a refugee transit country. However, only a few academics have investigated its dynamics. This study uses historical geography and desktop research methods to explain the dynamics of international refugees in Indonesia from 1978 to 2022. According to this study, most refugees who arrived in Indonesia during the New Order era and the crisis transition period were from Southeast Asia. The boat people crisis, the Cambodian refugee crisis, the East Timorese refugees, and the MENA refugee crisis were all major crises at the time. The number of refugees and the distribution of countries of origin have increased during the reform era, with the main crises being the Andaman Sea and the Syrian refugee crises. Geographic proximity, regional conflicts, social, historical, and cultural proximity, as well as the receiving country's anti-refugee policies, all contribute to international refugees choosing Indonesia as a country of asylum. Meanwhile, internal refugee policies have little impact on the dynamics of refugees because Indonesia continues to be a non-recipient of refugees.
Determinan kesenjangan kemiskinan desa-kota di Indonesia
Abstrak. Artikel ini bertujuan mengidentifikasi beberapa faktor yang diperkirakan menentukan kesenjangan kemiskinan desa-kota di Indonesia. Data antar-provinsi tahun 2000-2020 dianalisis dengan teknik regresi data panel. Kesenjangan kemiskinan desa-kota (variabel dependen) diukur dengan dua cara, yakni selisih dan rasio angka kemiskinan desa-kota. Variabel-variabel independen yang dianalisis adalah produk domestik regional bruto per kapita, produktivitas sektor pertanian, transformasi perdesaan, indeks kapasitas fiskal, dan rata-rata jumlah tahun bersekolah penduduk perdesaan. Kedua model itu memberikan hasil estimasi tanda parameter yang konsisten searah. Variabel independen yang secara signifikan berbanding terbalik dengan kedua variabel dependen adalah produktivitas sektor pertanian dan rata-rata jumlah tahun bersekolah penduduk perdesaan, sedangkan yang berbanding lurus adalah PDRB/Kapita dan indeks kapasitas fiskal. Dengan kata lain, dua variabel independen yang pertama itu mengurangi angka kemiskinan perdesaan sedemikian efektif sehingga mampu memperkecil kesenjangan kemiskinan desa-kota. Kebijakan pertumbuhan ekonomi dan kebijakan fiskal daerah terbukti mengurangi kemiskinan di kota lebih efektif daripada di desa, akibatnya justru berdampak memperlebar kesenjangan tersebut. Temuan lain menunjukkan bahwa transformasi perdesaan yang diukur dengan kesempatan kerja non-pertanian di perdesaan tidak cukup efektif mengurangi angka kemiskinan di pedesaan, sehingga tidak berdampak signifikan pada kesenjangan kemiskinan desa-kota. Abstract. This article analyzes some factors which might have determined rural-urban poverty gap in Indonesia. Provincial data for the years of 2000-2020 are analyzed by using panel data regression techniques. The gap between rural-urban poverty rates (dependent variable) is measured by two methods, i.e. rural-urban poverty difference and ratio. Gross regional product per capita, agriculture sector productivity, rural transformation, fiscal capacity index, and rural mean years of schooling are regressed on each of the gap measures. The two models give consistently equivalent signs of the estimated parameters. The independent variables that negatively and significantly affect the dependent variables are productivity of agriculture sector and rural mean years of schooling, whereas those that are positive and significant areGDP/Capita and fiscal capacity index. In other words, the first two independent variables decrease the rural poverty rates so effectively that they can reduce the rural-urban poverty gap. Economic growth policy and regional fiscal policy decrease poverty more effectively in urban than they do in rural areas, and hence they widen the poverty gap. Another finding shows that rural transformation that is measured by non-agriculture employment in rural areas is not so effective to reduce rural poverty, that it does not significantly effect on the poverty gap
Pemetaan cepat batimetri perairan dangkal menggunakan citra Sentinel-2 dan Google Earth Engine di Perairan Tanjung Kelayang – Pulau Belitung
Abstrak Peta batimetri perairan dangkal dapat membantu pengelolaan, pemantauan, dan perlindungan bagi ekosistem di dalamnya. Namun, ketersediaan peta batimetri di wilayah perairan dangkal di Indonesia masih terbatas. Untuk itu, diperlukan sebuah metode pemetaan cepat estimasi batimetri di perairan dangkal di Indonesia. Penelitian ini mencoba mengaplikasikan metode otomatisasi pemetaan batimetri perairan dangkal di Tanjung Kelayang menggunakan band biru dan hijau dari mosaik clean-coastal-water citra Sentinel-2, klorofil-a dari aqua-MODIS pada platform Google Earth Engine (GEE). Tujuan dari penelitian ini adalah menguji keandalan metode pemetaan cepat batimetri dengan menggunakan data mosaik citra satelit Sentinel-2, klorofil-a dan algoritma band-ratio pada platform GEE di wilayah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan model SDB (Satellite Derived Bathymetry) memiliki R2 sebesar 0,62, mean absolute erorr (MAE) sebesar 1,77 meter dan RMSE sebesar 2,02 meter dengan estimasi nilai kedalaman optimum 5 meter dan maksimum 10 mter. Dengan demikian, model SDB yang dihasilkan dapat diandalkan sebagai alternatif untuk pemetaan cepat batimetri di perairan dangkal, meskipun harus berkompromi dengan akurasi peta batimetri yang dihasilkan. Abstract Bathymetric maps of shallow waters can aid in managing, monitoring, and protecting ecosystems within them. However, the availability of bathymetric maps for shallow water regions in Indonesia still needs to be improved. Therefore, a method of rapid mapping for bathymetry in shallow waters in Indonesia is needed. This study attempts to apply an automated method for mapping shallow water bathymetry in Tanjung Kelayang using the blue and green bands of the clean-coastal-water mosaic of Sentinel-2 images, chlorophyll-a data from aqua-MODIS, and the Google Earth Engine (GEE) platform. This research aims to test the reliability of the rapid bathymetry mapping method using Sentinel-2 image mosaics, chlorophyll-a data, and band-ratio algorithms on the GEE platform in the study area. The results of the study show that the Satellite Derived Bathymetry (SDB) model has an R2 value of 0,62, a mean absolute error (MAE) of 1,77 meters, and a root mean square error (RMSE) of 2,02 meters, with an estimated optimal depth value of 5 meters and a maximum depth value of 10 meters. Thus, the generated SDB model can be considered a reliable alternative for rapid bathymetry mapping in shallow waters, although it may compromise the accuracy of the resulting bathymetric maps.
Pemanfaatan google earth engine untuk pemantauan lahan agroforestri dalam skema perhutanan sosial
Abstrak. Strategi pengelolaan hutan secara agroforestri dalam skema Perhutanan Sosial (PS) perlu dipantau menggunakan teknologi penginderaan jauh. Teknologi analisis citra penginderaan jauh dan teknologi informasi saat ini telah berkembang ke dalam penggunaan cloud computing dan Big Data seperti platform Google Earth Engine (GEE) yang membuat perolehan data turunan citra satelit seperti tutupan lahan menjadi sangat cepat. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis citra satelit multiwaktu menggunakan platform GEE dengan algoritma Random Forest (RF) dan Classification and Regression Trees (CART) dalam konteks pemantauan program perhutanan sosial. Hasil uji penilaian akurasi klasifikasi menunjukkan bahwa algoritma RF memiliki hasil akurasi lebih baik dengan nilai overall accuracy sebesar 94,64% dan kappa accuracy sebesar 92,23% dibandingkan dengan algoritma CART yang mendapatkan nilai overall accuracy sebesar 89,77% dan nilai kappa accuracy sebesar 85,54%. Penggunaan platform google earth engine untuk pemantauan skema PS terbukti berhasil di beberapa daerah dalam penerapan mitigasi peningkatan deforestasi dan degradasi hutan. Abstract. Agroforestry forest management needs to be carried out and monitored using remote sensing technology. The latest development related to remote sensing technology today is using cloud computing and Big Data such as the Google Earth Engine (GEE), which makes the acquisition of derived data from satellite imagery such as land cover very quickly. This paper aims to analyze multi-time satellite imagery using GEE with Random Forest (RF) and Classification and Regression Trees (CART) algorithms. The results show that the RF algorithm has better classification accuracy with an overall accuracy value of 94.64% and kappa accuracy of 92.23% compared to the CART algorithm which gets an overall accuracy value of 89.77% and kappa accuracy value of 85.54%. The use of GEE platform for monitoring PS schemes has proven successful in several areas in implementing mitigation of increased deforestation and forest degradation.