191 research outputs found

    The human tRNA m5C methyltransferase Misu is multisite-specific

    No full text
    International audienceThe human tRNA m 5 C methyltransferase Misu is a novel downstream target of the proto-oncogene Myc that participates in controlling cell division and proliferation. Misu catalyzes the transfer of a methyl group from S-adenosyl-L-methionine to carbon 5 of cytosines in tRNAs. It was previously shown to catalyze in vitro the intron-dependent formation of m 5 C at the first position of the anticodon (position 34) within the human pre-tRNA. In addition, it was recently reported that C48 and C49 (CAA) Leu 2 are methylated in vivo by Misu. We report here the expression of hMisu in Escherichia coli and its purification to homogeneity. We show that this enzyme methylates position 48 in tRNA with or without intron and positions 48, 49 and 50 in tRNA in vitro. Therefore, hMisu is the enzyme responsible for the methylation of at least four cytosines in human tRNAs. By comparison, the orthologous yeast enzyme Trm4 catalyzes the methylation of carbon 5 of cytosine at positions 34, 40, 48 or 49 depending on the tRNAs

    Instalación de un Sistema Integral de Supervisión y Monitoreo con el ZXM10

    No full text
    Las condiciones impuestas al país para la adquisición de productos, obligan a la renovación de los mismos, con nuestros esfuerzos. Ejemplo de ello es la adquisición del ZXM10 MISU (NP). Una vez culminado este trabajo quedó instalado y en funcionamiento un sistema de supervisión sencillo con el ZXM10 MISU (NP). Para ello se hizo una descripción de los módulos del mismo, así como de la puesta en marcha. Se realizó pues una guía para el estudio, y posteriores mejoramientos, del sistema de supervisión donde el MISU está implicado.Facultad de Ingeniería Eléctrica. Departamento de Electrónica y Telecomunicacionesnon-publishe

    STUDI TENTANG KESADARAN BERPIKIR METAKOGNISI MAHASISWA SEMESTER I JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UHO

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk (1) meninjau kesadaran metakognisi mahasiswa JurusanPendidikan Matematika FKIP UHO secara umum, (2) meninjau kesadaran metakognisimahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UHO berdasarkan nilai UN Matematikadi SMA, (3) meninjau kesadaran metakognisi mahasiswa Jurusan Pendidikan MatematikaFKIP UHO berdasarkan asal SMA, dan (4) meninjau kesadaran metakognisi mahasiswaJurusan Pendidikan Matematika FKIP UHO berdasarkan jenis kelamin. Kedasaranmetakognisi mahasiswa terdiri atas 4 tingkatan/level yakni level 1 (tacit use), level 2(aware use), level 3 (strategic use), dan level 4 (reflective use). Berdasarkan hasilpenelitian disimpulkan bahwa: (1) Umumnya (53,9%) Tingkat Kesadaran Metakognisimahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UHO berada pada level 1 (tacit use),dan sebagian kecil (12,7%) berada pada level 4 (reflective use). (2) Umumnya (55,82%)mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UHO yang memiliki nilai UNmatematika antara 70 sampai 90, dan hanya 13,95% memperoleh nilai UN matematika90 ke atas. Dari nilai UN matematika mahasiswa yang kurang dari 90, umumnya masihberada pada level 1 (tacit use), sedangkan nilai UN matematika mahasiswa 90 ke atasumumnya sudah berada pada level 4 (reflective use). (3) Umumnya (53,97%) mahasiswaJurusan Pendidikan Matematika FKIP UHO berdomisili di luar kota. Dan dari mahasiswayang berdomisili diluar kota tersebut, umumnya (61,77%) tingkat kesadaran metakognisimahasiswa masih berada pada Level 1 (tacit use), dan hanya 2,94% berada pada level 4(reflective use). Sedangkan mahasiswa yang berdomisili di kota, tingkat kesadaranmetakognisi mahasiswa yang berada pada Level 1 (tacit use) hanya 44,83%), dan padalevel 4 (reflective use) ada 24,14%. Dan (4) Umumnya (63,49%) mahasiswa JurusanPendidikan Matematika FKIP UHO adalah perempuan. Sedangkan tingkat kesadaranmetakognisi mahasiswa antara laki-laki dan perempuan relatif sama.</jats:p

    ANALISIS KEMAMPUAN MAHASISWA MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DALAM MEMAHAMI KONSEP KALKULUS INTEGRAL

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah (1)Untuk menghasilkan profil kemampuan mahasiswa matematika dalam memahami konsep kalkulus integral, dan (2) menghasilkan profil kemampuan mahasiswa pendidikan matematika dalam memahami konsep kalkulus integral. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa matematika dan pendidikan matematika yang telah mempelajari kalkulus integral, dan berada pada semester yang sama. Jenis penelitian ini eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data utama penelitian ini diperoleh dengan menggunakan teknik Wawancara. Selain itu, ada data pendukung yang merupakan hasil pekerjaan tertulis subyek penelitian (SP) dalam memahami pertanyaan kalkulus integral. Hasil penelitian ini sebagai berikut: (1) Mahasiswa matematika dapat memahami konsep kalkulus integral khususnya pada kategori interpreting, Exemplifying, Inferring, dan Explaining; dan (2)Mahasiswa pendidikan matematika dapat memahami konsep kalkulus integral khususnya pada kategori Exemplifying, Classifying, Inferring, dan Explainin

    KAITAN KEMAMPUAN PENALARAN FORMAL DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK SISWA SMA

    No full text
    Anak yang berumur di atas 12 tahun sudah berada pada tingkat operasi formal. Sehingga siswa pada jenjang pendidikan SMA sudah berada pada tingkat kemampuan penalaran formal. Pengembangan kemampuan penalaran formal siswa erat kaitannya dengan pemecahan masalah matematik. Pemecahan masalah melibatkan beberapa kombinasi konsep dan keterampilan dalam suatu situasi baru atau situasi yang berbeda. Oleh karena itu, bila siswa terbiasa menyelesaikan masalah yang komplek maka dapat meningkatkan penalaran formalnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kaitan antara kemampuan penalaran formal dengan pemecahan masalah matematik siswa SMA. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas XII SMAN 6 Kendari, terdiri atas kelas&nbsp; IPA dan kelas IPS. Pengumpulan data penelitian ini terdiri atas data kemampuan penalaran formal, dan data kemampuan pemecahan masalah matematik. Data ini dianalisis secara deskriptif, yakni melihat persentase dan rata-rata dari setiap tahap baik tahap-tahap kemampuan penalaran formal maupun tahap-tahap pemecahan masalah matematik. Berdasarkan hasil penelitian,&nbsp; disimpulkan bahwa: Kemampuan penalaran formal siswa SMAN 6 Kendari umumnya sudah berada pada tahap penalaran proporsional, namun untuk kelas IPA sebagian sudah berada pada tahap penalaran kombinatorik. Kemampuan pemecahan masalah matematik siswa SMAN 6 Kendari umumnya masih rendah hanya mampu menyelesaikan permasalahan matematik yang sederhana. Ada kaitan antara kemampuan penalaran formal dengan pemecahan masalah matematik siswa

    PENGEMBANGAN TEORI PEMBELAJARAN PERILAKU DALAM KAITANNYA DENGAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK SISWA DI SMA

    No full text
    Umumnya, kemampuan siswa baik sekolah dasar maupun sekolah menengah dalam memecahkan masalah matematik sangat rendah. Ini disebabkan karena dalam proses pembelajaran guru kurang melatihkan siswanya dengan soal-soal cerita dan soal opend ended. Disamping itu, ada beberapa kendala dalam memaksimalkan interaksi kooperatif, yaitu banyak waktu terbuang karena materi prasyarat kurang dikuasai, siswa belum terbiasa belajar kooperatif, kemampuan kritis dan kreatif siswa rendah sehingga tidak memiliki banyak strategi dalam memecahkan masalah matematik. Selanjutnya, untuk mengatasi lemahnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematik, guru perlu melatih siswa tentang karakter dan perilaku yang mengarah pada kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran selama di dalam kelas. Ada beberapa hal yang perlu dikembangkan oleh seorang guru kaitannya dengan pemecahan masalah matematik adalah (1) pemilihan kooperatif sebagai pendekatan pembelajaran, (2) melatih siswa menghadapi berbagai masalah yang semakin kompleks, (3) pemecahan masalah lebih ditekankan pada masalah dunia nyata, dan (4) pada proses pembelajaran siswa diberikan penguatan positif dan penguatan negative. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa 1. Kemampuan pemecahan masalah matematik siswa masih sangat rendah. 2. Kemampaun pemecahan masalah matematik siswa di kelas IPA lebih baik dari kelas IPS. 3. Pada proses pembelajaran umumnya guru belum sepenuhnya menerapkan teori perilaku dan pemberian soal-soal cerita serta permasalahan yang kompleks. Kata Kunci: Teori Pembelajaran Perilaku, Pemecahan Masalah Matematik Sisw

    Le misure alternative alla detenzione e la liberazione anticipata (§§ 1, 1.1, 3, 3.1, 3.2, 3.3, 3.4, 3.5, 3.6, 9, 9.1, 9.2, 9.3)

    No full text
    1. Le misure alternative al carcere. – 1.1. Natura e caratteri delle misure alternative. – 3. La detenzione domiciliare: profili generali. – 3.1. La detenzione domiciliare umanitaria (e le sue connessioni con il rinvio dell’esecu¬zione della pena). – 3.2. La detenzione domiciliare generica. – 3.3. La detenzione domiciliare speciale. – 3.4. Il controllo elettronico. – 3.5. La concessione e la revoca. – 3.6. L’esecuzione della pena presso il domicilio. – 9. Disposizioni di carattere generale. I controlli sul rispetto delle prescrizioni. – 9.1. Sopravvenien-za di nuovi titoli e sospensione cautelativa delle misure. – 9.2. Divieti di concessione. – 9.3. Misu-re alternative ed esecuzione delle pene accessorie

    Reducing the ecological impact of computing through education and Python compilers

    No full text
    We read with interest the Comment by Portegies Zwart on the ecological impact of high-performance computing in astrophysics. We fully agree with its take-home message: scientists should be mindful of their carbon footprint. One of the proposed solutions, however, is to avoid the Python programming language. We contend that this would be counterproductive and that scientific programs written in Python can be efficient and energy-friendly. We argue that human factors, such as education, and the advancement of compiler technology are much more important than choice of language
    corecore