22,788 research outputs found

    Grill and Toast Restaurant/ Muhammad Imran Sabri

    Get PDF
    Grill and Toast Restaurant will be moderately priced 60 seat restaurant offering traditional food and self-service. Emping, Ayam Buah Keluak, Opok-Opok, Kerabu Sare and any other things are all on the menu. The restaurant will be own by sole proprietorship and under experienced management, headed by General, Muhammad Imran bin Sabri. The restaurant will have a Finance Manager, an Operations Manager, a Marketing Manager and Administrative Manager this organization emphasizes functional specialities to perform task. Grill and Toast Restaurant will be located at Jeti Semeling, 08000, Sg. Petani, Kedah. Although the location was previously utilized as a restaurant, the former tenant removed the majority of the furniture, fixtures, and equipment which will need to be replaced. The location will also require some additional renovation to increase table space in dining area. The restaurant will operate five days a week. Sales projection assume 300 customers per month and RM15.00 per person resulting in month’s sales of just over RM25,000.00 or RM363,000.00 annually. Our pricing strategy will be based on the objectives to get reasonable profit and ensure the satisfaction of the customers to continue doing the business in the future

    PEMIKIRAN KEAGAMAAN MUHAMMAD BASUNI IMRAN

    No full text
    Basuni Muhammad Imran (1883-1976) was a Indonesian reformer who live in Sambas, West Kalimantan, it has brought this area to reach the peak of science and modernity. The main patterns of Muhammad Basuni Imran thought is traditionalism, inklusifism and flexible in medium but strong in thawabit. This study revealed substantial contributions of Muhammad Basuni Imran in Islamic legal thought especially in purposes in Islamic laws (maqasid shari’ah) and Islamic politic (siyasah shar’iyyah), through the implementation of the concept tadarruj, Maslahah mursalah, al-Tahaluf al-Siyasi, and local wisdom of jurisprudence in adopting the opinion of the validity prayers Friday at least 40 people

    PEMIKIRAN KEAGAMAAN MUHAMMAD BASUNI IMRAN

    No full text
    Basuni Muhammad Imran (1883-1976) was a Indonesian reformer who live in Sambas, West Kalimantan, it has brought this area to reach the peak of science and modernity. The main patterns of Muhammad Basuni Imran thought is traditionalism, inklusifism and flexible in medium but strong in thawabit. This study revealed substantial contributions of Muhammad Basuni Imran in Islamic legal thought especially in purposes in Islamic laws (maqasid shari’ah) and Islamic politic (siyasah shar’iyyah), through the implementation of the concept tadarruj, Maslahah mursalah, al-Tahaluf al-Siyasi, and local wisdom of jurisprudence in adopting the opinion of the validity prayers Friday at least 40 people.</jats:p

    PEMIKIRAN KEAGAMAAN MUHAMMAD BASUNI IMRAN

    Get PDF
    Basuni Muhammad Imran (1883-1976) was a Indonesian reformer who live in Sambas, West Kalimantan, it has brought this area to reach the peak of science and modernity. The main patterns of Muhammad Basuni Imran thought is traditionalism, inklusifism and flexible in medium but strong in thawabit. This study revealed substantial contributions of Muhammad Basuni Imran in Islamic legal thought especially in purposes in Islamic laws (maqasid shari’ah) and Islamic politic (siyasah shar’iyyah), through the implementation of the concept tadarruj, Maslahah mursalah, al-Tahaluf al-Siyasi, and local wisdom of jurisprudence in adopting the opinion of the validity prayers Friday at least 40 people

    Islamic Thoughts of Sambas Ulama of the 19th and 20th Centuries: Typology of Thoughts of Ahmad Khatib Sambas and Muhammad Basiuni Imran

    Get PDF
    Kesultanan Sambas wilayah paling utara Borneo Barat tidak ketinggalan dalam perkembangan pemikiran keislaman, dengan tampilnya ulama besar Sambas yaitu Ahmad Khatib Sambas dan Muhammad Basiui Imran. Secara khusus kajian ini membicarakan tentang tipologi pemikiran keislaman kedua ulama tersebut. Kajian ini menggunakan metodologi penelitian sejarah meliputi empat langkah yaitu heuristik (pengumpulan data) berupa naskah-naskah seperti Daftar Sedjarah Perdjalanan Hidup Dari Hadji Mohammad Basiuni Imran dan Surat Penghargaan Kepada Muhammad Basini Imran, sumber dari buku, jurnal dan tulisan ilmiah yang relevan dengan kajian. Lalu dilakukan verifikasi (kritik sumber), interpretasi sampai pada penulisan sejarah yang disebut historiografi. Hasil kajian menunjukkan bahwa tipologi dua pemikiran ulama yaitu Ahmad Khatib Sambas dengan tipologi pemikiran tradisional dan Muhammad Basiui Imran mengembangan dua tipologi pemikiran sekaligus yaitu tradisional dan modern. Tipologi pemikiran tradisional Ahmad Khatib Sambas tampak dari aktivitas pendidikan dan pengajaran yang lebih terikat dengan tasawuf dan tarekat, bahkan beliau pendiri Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Sedangkan tipologi pemikiran Muhammad Basiuni Imran di bidang aqidah, fikih dan pendidikan lebih bersifat modern, tetapi di bidang tafsir cenderung bersifat tradisional. Implikasi pemikiran kedua ulama tampak dari keberlanjutan ajaran sampai perjuangan pergerakan, memantik kajian-kajian keislaman dan meninggalkan ingatan zaman

    Resonansi Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran (1885-1976) di Sambas

    Get PDF
    Penelitian ini berjudul “Resonansi Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran (1885-1976) dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Sosial, Budaya, Politik di Sambas”, yaitu berangkat dari peristiwa sejarah bahwa Muhammad Basiuni Imran dilantik menjadi Maharaja Imam, sebuah jabatan agama tertinggi di kesultanan Sambas. Jabatan tersebut bersifat Ascribed Status, yakni kedudukan ini diperoleh yang disebabkan oleh keturunan, ayah dan Kakeknya adalah Maharaja Imam. Akan tetapi ketika jabatan tersebut dipegang oleh Muhammad Basiuni Imran telah terjadi Perubahan-Perubahan dalam masyarakat Sambas yang disebabkan oleh kondisi sosial, budaya dan politik yang terjadi di Sambas, disamping kemampuannya dalam bidang agama yang mumpuni. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah yang dilakukan dengan empat tahap, yaitu: heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi dan menggunakan pendekatan sosial dan politik. &nbsp; Abstrac The research is about "The Resonance of Maharaja Imam Muhammad Basiuni Imran (1885-1976) and Its Impact on Social, Cultural, Political Life in Sambas", which departs from historical events of Muhammad Basiuni Imran was appointed become Maharaja Imam, a highest religious position in the Sambas sultanate . The position is Ascribed Status, namely this position is obtained due to offspring, father and grandfather are Maharaja Imam. However, when the position was held by Muhammad Basiuni Imran there were changes in the Sambas community caused by social, cultural and political conditions that occurred in Sambas, in addition to his ability in the field of qualified religion. This research is a historical research conducted in four stages, namely: heuristics, verification, interpretation and historiography and using social and political approache

    POLA PENAFSIRAN MUHAMMAD BASIUNI IMRAN DALAM TAFSIR TUJUH SURAH DAN AYAT AS-SIYAM TERHADAP TAFSIR MUHAMMAD RASYID RIDHA (Kajian Intertekstualitas)

    Get PDF
    Pada abad ke-20 M, penulisan tafsir al-Qur’an yang lahir di Nusantara umumnya menampilkan ciri kemodernannya, baik dari segi bahasa dan aksara. Namun, berbeda dengan Tafsīr Tūjuh Sūrah yang ditulis pada tahun 1935 M dan Tafsīr Āyāt aṣ-Ṣiyām yang ditulis pada tahun 1936 M oleh Muhammad Basiuni Imran, seorang ulama dari Kesultanan Sambas, Kalimantan Barat, yang masih menggunakan bahasa dan aksara tafsir klasik Nusantara, yakni menggunakan bahasa Melayu dan aksara Jawi. Di sisi lain, dari penelusuran awal, pola penafsiran Muhammad Basiuni Imran dalam kedua tafsirnya cenderung berkutat pada wilayah teks dan kurang menghubungkan dengan wilayah konteks, sehingga penafsirannya lebih cenderung mirip dengan karya tafsir Muhammad Rasyid Ridha. Oleh karena itu, cara yang komprehensif untuk memahami kedua tafsir Muhammad Basiuni Imran adalah melalui kajian intertekstualitas. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (library research) dengan data primernya, yaitu Tafsīr Tūjuh Sūrah dan Āyāt aṣ-Ṣiyām karya Muhammad Basiuni Imran. Sementara itu, data sekundernya, yaitu karya tafsir Muhammad Rasyid Ridha, buku, ensiklopedia, jurnal, artikel dan termasuk juga literatur lain yang ada relevansinya dengan penelitian ini. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analitis. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kodikologi. Teori yang digunakan adalah teori intertekstualitas Julia Kristeva. Hasil penelitian ini adalah pertama, lahirnya kedua tafsir Muhammad Basiuni Imran pada abad ke-20 M dalam bentuk bahasa Melayu-Jawi, karena lahir pada periode keemasan (1920-1960 M) dalam periodisasi tafsir al-Qur’an bahasa Melayu-Jawi. Kedua, aspek kodikologi kedua tafsirnya, meliputi identifikasi naskah, aspek buku, aspek tulisan dan penjilidan. Ketiga, posisi fenoteks, genoteks, dan proses pembentukan makna kedua tafsir Muhammad Basiuni Imran terhadap tafsir Muhammad Rasyid Ridha, adalah: 1) teks fenoteks adalah Tafsīr Tūjuh Sūrah dan Āyāt aṣ-Ṣiyām karya Muhammad Basiuni Imran, sedangkan teks genoteks adalah Tafsīr al-Fātiḥah wa Sittu Suwar min Khawātīm al-Qur’ān dan al-Manār karya Muhammad Rasyid Ridha; 2) pembentukan makna kedua tafsir Muhammad Basiuni Imran melalui proses signifikasi, yakni cenderung menginduk kepada penafsiran Muhammad Rasyid Ridha karena memang ia sangat terinspirasi, termotivasi dan mengagumi sosok gurunya. Keempat, unsur intrinsik, pola penafsiran kedua tafsir Muhammad Basiuni Imran dengan tafsir Muhammad Rasyid Ridha, meliputi pola munāsabah, hadis dan pendapat ulama. Dari pola penafsirannya itu, bentuk-bentuk intertekstualitas yang digunakan adalah paralel, transformasi dan haplologi. Sementara itu, bentuk intertekstualitas yang paling sering digunakan adalah paralel dan transformasi, sehingga menjadikan Tafsīr Tūjuh Sūrah sebagai terjemahan dari Tafsīr al-Fātiḥah wa Sittu Suwar min Khawātīm al-Qur’ān, dan Tafsīr Āyāt aṣ-Ṣiyām sebagai terjemahan dari Tafsīr al-Manār. Unsur ekstrinsik, konteks kemunculan kedua tafsir Muhammad Basiuni Imran dalam bahasa Melayu-Jawi karena dipengaruhi oleh sosio-geografis, sejarah kitab-kitab yang berkembang dan kondisi keagamaan

    Pemikiran Pembaruan Pendidikan Islam Muhammad Basiuni Imran di Sambas Kalimantan Barat Tahun 1885-1976.

    No full text
    Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menggali dan mengkaji secara mendalam: pemikiran pembaruanpendidikan Islam Muhammad Basiuni Imran di Sambas Kalimantan Barat tahun 1885-1976. Muhammad Basiuni Imran merupakan tokoh agama yang memiliki ketertarikan dengan dunia pendidikan, adanya keinginan untuk memajukan pendidikan Islam di Sambas yang kemudian melahirkan pemikiran pembaruan. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran pembaruan, mengidentifikasi corak pemikiran dan menganalisis relevansi pemikiran pembaruan pendidikan Islam Muhammad Basiuni Imran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode historis dan metode penelitian menggunakan Teknik analisis konten. Pengambilan data dilakukan melalui studi dokumen dan wawancara. Studi dokumen dilakukan dengan mengumpulkan karya tulis Muhammad Basiuni Imran dan surat-surat yang berhubungan dengan pendidikan dan tokoh Muhammad Basiuni Imran. Wawancara dilakukan sebagai upaya memperdalam data yang akan diambil, melalui wawancara kepada anak, murid, dan peneliti yang mendalami tentang Muhammad Basiuni Imran. Analisis data menggunakan analisis sejarah dengan pendekatan situasional dari Jr. Berkhofer, yaitu: aktor, intepretasi situasi, dan tindakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muhammad Basiuni Imran memiliki pemikiran pembaharuan Pendidikan Islam Muhammad Basiuni Imran di Sambas merupakan konsep revivalis-reformis pembaruan yang menginginkan penggabungan dua kebudayaan yakni Islam dan Barat. Artinya, pembaruan ini tetap menginginkan sesuatu yang baru dengan tidak meninggalkan tradisi lama atau tetap berpegang teguh kepada wacana keislaman (Islam rasional). Corak Pemikiran Pembaruan Pendidikan Islam Muhammad Basiuni Imran mengembangkan corak neo-modernis. Corak pemikiran neo modernis yang dianut Muhammad Basiuni Imran ditujukan kepada pemurnian ajaran Islam (puritanisasi, tajdid), mengembangkan (modernisasi, ishlah) institusinya, dan pengembangan kehidupan keduniaan Islam Sambas. Menyesuaikan keadaan lingkungan sosial masyarakat secara rill sering juga dikatakan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran dengan metode kontekstual hingga saat ini dianggap sangat efektif dalam pembelajaran. Pembelajaran yang kontekstual akan tetap relevan meski berganti kurikulum

    PEMBARUAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD BASIUNI IMRAN (1906-1976 M)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembaruan pemikiran Pendidikan Islam Muhammad Basiuni Imran tahun 1906 sampai 1976. Tahun 1906 adalah tahun ia mulai mengajar di sekolah Sultaniyah. Tahun 1909 ia melanjutkan pendidikan ke Mesir dengan tujuan al-Azhar. Pada saat itulah ia mengenal pembaruan pemikiran pendidikan Islam Muhammad Rasyid Rida. Tahun 1913 ia pulang ke Sambas dan dilantik menjadi Maharaja Imam. Tahun 1916 menjadi guru di Madrasah al-Sultaniyah. Tahun 1918 ditunjuk menjadi pengawas pada sekolah yang sama. Tahun 1936 mendirikan sekolah Tarbiyatul Islam. Tahun 1963 mendirikan sekolah Kulliyatul Muballighin. Penelitian ini menggunakan metode s}ejarah dengan pendekatan sosiologi, antropologi, prosopografi dan sejarah intelektual. Teori yang digunakan adalah teori pembaruan dan perubahan sosial. Penelitian ini juga menggunakan dua kajian yaitu pustaka dan lapangan. Kajian pustaka untuk melacak pemikiran pembaruan melalui karya-karyanya yang banyak. Sementara kajian lapangan melihat praktek pembaruan yang dilakukan Muhammad Basiuni Imran. Penelitian ini menunjukkan bahwa pada tahun 1906 Muhammad Basiuni Imran memotivasi para siswa akan pentingnya pendidikan. Pendidikan bagi Muhammad Basiuni Imran adalah kunci utama untuk meraih kemajuan. Tahun 1916 ketika ia diangkat menjadi guru pada Madrasah al-Sultaniyah, ia berhasil  mengintegrasikan kurikulum agama dan umum secara bertahap dan perlahan dan berlanjut pada sekolah Tarbiyatul Islam tahun 1936. Pada sekolah yang kedua yaitu sekolah Tarbiyatul Islam ia juga berhasil mengenalkan sekaligus menerapkan ko-edukasi dan manajemen sekolah berbasis administrasi. Upaya yang dilakukannya tersebut melawan arus
    corecore