1,720,998 research outputs found
The Strategy of the Educational Institution Ma’arif Nahdlatul Ulama of Central Java In Preventing Radicalism
This study aims to describe the strategy of the Education Institution Ma’arif Nahdlatul Ulama of Central Java in preventing radicalism. This research uses descriptive qualitative method with interview and observation techniques. The results of the study, the strategy of the Education Institution Ma’arif Nahdlatul Ulama of Central Java was carried out in several ways. Starting from the strengthening of school quality, ideology, literacy, curriculum, teachers, and school management. Until April 2019, there have been no reports of schools or Islamic School under the Education Institution Ma’arif Nahdlatul Ulama of Central Java that were exposed to or entered into radicalism. For this reason, although this strategy has only been running for one year, it has been effective in preventing radicalism. Despite receiving a positive response and the support of various parties, the Education Institution Ma’arif Nahdlatul Ulama of Central Java itself experienced obstacles and opportunities. With the support of foreign institutions, the government, universities, the strategy of the Education Institution Ma’arif Nahdlatul Ulama of Central Java is optimistic to stem radicalism in schools and Islamic School during a period of management
Penggunaan Umpatan Thelo, Jidor, Sikem, Sikak sebagai Wujud Marah dan Ekspresi Budaya Warga Temanggung
This study aims to describe the utterances of thelo, jidor, sikem, and sikak as typical curses of Temanggung Regency, Central Java. This study chose Temanggung Regency as the location for data collection aimed at revealing the meaning of thelo swear, jidor, sikem, sikak in citizens' communication behavior. This study uses qualitative methods to maximize data collection by interview and observation. From the results of the study, researchers found the form of swear in Temanggung, which is in the form of words and inscriptions in the form of phrases. There are two purposes for using the utterances of thelo, jidor, sikem, sikak. First, as a form of anger or resistance to crime, anomalies, or kazaliman that afflict the citizens of Temanggung. When someone commits a crime on one of the residents, the citizen spontaneously pronounces thelo, jidor, sikem, or sikak based on his crime rate. Second, as a cultural expression to express pleasure, admiration, surprise, and wonder. The thelo, jidor, sikem, or sikak speeches are not spoken for committing a crime, instead as a form of protest against crime. When someone steals, people usually say thelo, jidor, sikem or sikak for the incident. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan ujaran thelo, jidor, sikem, dan sikak sebagai umpatan khas Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Penelitian ini memilih Kabupaten Temanggung sebagai lokasi pengambilan data ini bertujuan untuk mengungkap makna umpatan thelo, jidor, sikem, sikak dalam perilaku komunikasi warga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk memaksimalkan pengumpulan data dengan wawancara dan observasi. Dari hasil penelitian, peneliti menemukan bentuk umpatan di Temanggung, yaitu berupa kata dan makian berbentuk frasa. Ada dua tujuan penggunaan ujaran thelo, jidor, sikem, sikak. Pertama, sebagai bentuk marah atau perlawanan atas kejahatan, anomali, atau kazaliman yang menimpa warga Temanggung. Ketika ada orang melakukan kejahatan pada salah satu warga, maka warga secara spontanitas mengucapkan thelo, jidor, sikem, atau sikak berdasarkan tingkat kejahatannya. Kedua, sebagai ekpresi budaya untuk mengekspresikan rasa senang, kagum, terkejut, dan heran. Ujaran thelo, jidor, sikem, atau sikak tidak diucapkan untuk melakukan kejahatan, justru sebagai bentuk protes terhadap kejahatan. Ketika ada orang mencuri, maka warga biasa mengucap thelo, jidor, sikem, atau sikak atas kejadian tersebut
Strategi Membendung Islamofobia melalui Penguatan Kurikulum Perguruan Tinggi Berwawasan Islam Aswaja Annahdliyah
This article discusses the dynamics of Islamophobia and strategies to stem it. This study uses a descriptive qualitative approach that focuses on review Islamophobia and the strategy STAINU Temanggung to stem it through strengthening the curriculum. The results of this study, Islamophobia is a fear of everything that smells of Islam and Muslims. Islamophobia is not a product of Islam, because is caused propaganda, political interests, the influence of the mass media, hatred, Western fears of Islam, and a partial understanding of Islam. The strategy of STAINU Temanggung stemmed Islamophobia through strengthening the KKNI-SNPT curriculum based on Aswaja Annahdliyah in the dimensions of the Tri Dharma of Universities. All aspects of education-teaching, research, and community service are directed towards building competency, character, and values of Aswaja Annahdliyah, moderation, and values of mabadi khaira ummah. Through this strengthening, the face of Islam appears moderate, tolerant, friendly, and not radical, which in the long run stemming Islamophobia, especially in plural areas automatically
Upaya Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Card Sort pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Materi Pokok Iman Kepada Rasul-Rasul Allah di Kelas IV Semester 2 MI Himmatul Muta’allimin Dukuhseti Pati Tahun Pelajaran 2011-2012
Penelitian ini berawal dengan adanya permasalahan di kelas IV MI Himmatul Muta’allimin Dukuhseti Pati pada tahun pelajaran 2011-2012 yaitu rendahnya keaktifan dan nilai rata-rata peserta didik pada materi iman kepada rasul-rasul Allah dikarenakan sulitnya peserta didik untuk memahami secara langsung apa yang dipelajari dan keabstrakkan peserta didik pada materi tersebut. Karena pada dasarnya, pembelajaran Akidah Akhlak dibutuhkan pemahaman materi secara mendalam. Selain itu berdasarkan pengamatan juga diperoleh fakta bahwa rendahnya keaktifan dan nilai belajar peserta didik dikarenakan pembelajaran masih didominasi oleh guru, peserta didik yang tidak memahami materi tersebut tidak mau bertanya. Diharapkan pembelajaran melalui model Card Sort akan meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik pada materi iman kepada rasul-rasul Allah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah melalui model pembelajaran Card Sort dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak materi pokok Iman kepada rasul-rasul Allah di Kelas IV Semester 2 MI Himmatul Muta’allimin Dukuhseti Pati tahun pelajaran 2011-2012.
Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas IV MI Himmatul Muta’allimin Dukuhseti Pati tahun pelajaran 2011-2012 sejumlah 7 peserta didik. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus, masing-masing siklus terdiri atas 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sedangkan teknik pengambilan data ada 3 metode yaitu (1) Dokumentasi, (2) Observasi, (3) Tes.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran Akidah Akhlak menggunakan model Card Sort meningkat baik dengan rata keaktifan pra siklus 45,24%, siklus I 61,91 % dan siklus II 84,51 %. Dan hasil belajar pra siklus nilai rata-rata peserta didik 48,14 dengan persentase peserta didik yang tuntas 14,28%, pada siklus I menjadi nilai rata-rata menjadi 69,57 dengan persentase peserta didik yang tuntas 42, 86%. Pada siklus I dan pada siklus II mengalami peningkatan nilai rata-rata peserta didik 83, 57 dan persentase peserta didik yang tuntas mencapai 100 %
Penguatan Karakter Toleran dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Whole Language di Madrasah Ibtidaiyah
This article discusses the dynamics of intolerance from aspects of mind, language, action and solution through strengthening the education of tolerant character in learning Indonesian. Intolerance in practice can be harsh words, hate speech, harassment, until the action of radicalism. Strengthening character education is a mandate that must be implemented in Islamic elementary education. There are seventeen required implemented characters. Start religious character, honest, tolerant, disciplined, hard working, creative independent, democratic, curiosity, spirit of nationality, love of the homeland, appreciate achievement, communicative, love peace, love reading, caring environment, social care, and responsible. Tolerance became one of the urgent characters strengthened in this era of the fourth industrial revolution. The language of the children represents its character. The more polite, refined, and tolerant of their language, the stronger the character is polite, refined, and tolerant to them, and vice versa. Indonesian language learning with whole language approach can strengthen the tolerant character because it is done intact, integral, not partial from aspects of listening, reading, writing and speaking. The language understanding in this approach is not just textual, but contextual and even intertextual. Indonesian language learning through whole language approach aims to strengthen the character of tolerant, polite, social care and boils down to the attitude of religious tolerance. There are two indicators of religious tolerance, to people of fellow religion, and tolerance to people of different religions
RELASI NILAI NASIONALISME DAN KONSEP HUBBUL WATHAN MINAL IMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM
This article aims to find out the concept of hubbul wathan minal imanand nationalism in Islamic education. It also describes the genealogy of nationalism and hubbul wathan minal iman, the dynamics of the anti-nationalism group, and the character of nationalism in Islamic education. The findings in this article indicate the character of nationalism is very influential on the resilience of the nation, one of them through the program strengthening character education established by the government. In that program, there is a character of the spirit of nationalism and love of the homeland as a form of hubbul wathan minal iman that can be applied by all Islamic educational institutions to maintain the spirit of nationalism.Artikel ini bertujuan untuk mengetahui konsep hubbul wathan minal iman dan nasionalisme dalam pendidikan Islam. Selain itu juga mendeskripsikan genealogi nasionalisme dan hubbul wathan minal iman, dinamika kelompok antinasionalisme, dan karakter nasionalisme dalam pendidikan Islam. Temuan dalam artikel ini menunjukkan karakter nasionalisme sangat berpengaruh terhadap ketahanan bangsa, salah satunyamelalui program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang ditetapkan pemerintah. Dalam progam itu, terdapat karakter semangat kebangsaan dan cinta tanah air sebagai wujud hubbul wathan minal iman yang bisa diterapkan semua lembaga pendidikan Islam untuk menjaga ruh nasionalisme
PENGUATAN PENDIDIKAN PANCASILA DI PERGURUAN TINGGI DALAM MEMBANGUN GENERASI TAAT KONSTITUSI
Penguatan Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi menjadi solusi membangun generasi taat konstitusi. Penguatan Pendidikan Pancasila sangat mendukung untuk mewujudkan Gerakan Nasional Revolusi Mental, Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Mahkamah Konstitusi. Perkuliahan Pendidikan Pancasila harus mengacu nilai-nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong. Ketiga nilai utama itu ditujukan dalam rangka mencapai budaya bangsa yang bermartabat, modern, maju, makmur, dan sejahtera berdasarkan Pancasila. Ketaatan pada konstitusi dimulai dari beberapa hal. Pertama, kesadaran hukum yang bisa dikuatkan dalam perkuliahan Pendidikan Pancasila. Kedua, pemenuhan seorang untuk paham hukum agar tidak melanggarnya dan terkena sanksi. Ketiga, identifikasi terhadap ketakutan terhadap hukum itu sendiri. Keempat, internalisasi ketaatan hukum itu sendiri agar benar-benar memahami dan mengimplementasikan Pancasila, konstitusi, dan hukum itu sendiri. Ketaatan pada konstitusi diwujudkan dengan menaati semua substansi yang ada pada UUD 1945 beserta segala aspek yang dikuatkan melalui Pendidikan Pancasila. Kompetensi perkuliahan Pendidikan Pancasila harus berorientasi pada mutu dan perilaku nyata. Kompetensi di sini tidak sekadar berupa pengetahuan dan keterampilan, namun ditekankan pada pembentukan sikap dan tindakan nyata untuk taat konstitusi. Membangun negara demokrasi konstitusional bisa dikuatkan melalui implementasi Pancasila lewat sila-silanya. Dalam jangka panjang bisa dilakukan perguruan tinggi dengan menguatkan mata kuliah Pendidikan Pancasila agar mereka paham politik, konstitusi, demokrasi, Pemilu dan lainnya
Development of Plants and Animals Puppet Media Based on Conservation Values in Learning to Write Creative Drama Scripts in Elementary Schools
This research is motivated dissatisfaction of teachers and students on learning media in school. The purpose of this study is (1) describe the development needs of plants and animals puppet media, (2) determining the value of the puppet characters of plants and animals, (3) describe the use of plants and animals puppet media, (4) test the effectiveness of the use of plants and animals puppet media. The method used is Research and Development (R & D). The eight stages covering explore the potential and problems, analyze the needs, preparation of media design, media validation, revision, testing a limited scale, revision back, and wide-scale trials. The results of this study indicate that (a) the needs of the media by the learner, including packaging, contents, materials, physical, and values contained in the media; (B) the character of the value of plants and animals puppet media is conservation values; (C) the utilization of plants and animals puppet media carried out in groups with one group consists of 2-3 people; (D) the development of plants and animals puppets charged effective conservation for students fifth grade elementary school
PENGUATAN LITERASI BARU PADA GURU MADRASAH IBTIDAIYAH DALAM MENJAWAB TANTANGAN ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Abstract: In answering the fourth industrial revolution era, basic Islamic education institutions did not adequately apply old literacy (reading, writing, arithmetic), but had to apply new literacy (data literacy, technology literacy and human resource literacy or humanism). This article discusses the challenges and opportunities of basic Islamic education in the era of the fourth industrial revolution. Strengthening new literacy in Islamic elementary education teachers as a key to change, revitalizing literacy-based curriculum and strengthening the role of teachers who have digital competencies. The teacher plays a role in building competency generation, character, having new literacy skills, and high-level thinking skills. Islamic elementary education as a basis for determining intellectual, spiritual, and emotional intelligence in children must strengthen 21st century literacy skills. Start creative aspects, critical thinking, communicative, and collaborative. Islamic elementary education is urgently needed to strengthen new literacy and revitalize digital-based curriculum. Curriculum revitalization refers to five basic values of good students, namely resilience, adaptability, integrity, competence, and continuous improvement. Islamic elementary education educators must be digital teachers, understand computers, and be free from academic illness. The goal is to realize high competency generation, character and literacy to answer the challenges of the fourth industrial revolution era.
Abstrak: Dalam menjawab era Revolusi Industri 4.0, lembaga pendidikan dasar Islam tidak cukup menerapkan literasi lama (membaca, menulis, berhitung), tetapi harus menerapkan literasi baru (literasi data, literasi teknologi dan literasi sumber daya manusia atau humanisme). Artikel ini membahas tantangan dan peluang pendidikan dasar Islam di era Revolusi Industri 4.0. Penguatan literasi baru pada guru pendidikan dasar Islam sebagai kunci perubahan, revitalisasi kurikulum berbasis literasi dan penguatan peran guru yang memiliki kompetensi digital. Guru berperan membangun generasi berkompetensi, berkarakter, memiliki kemampuan literasi baru, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Pendidikan dasar Islam sebagai dasar penentu kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional pada anak, harus memperkuat keterampilan literasi abad 21. Mulai aspek kreatif, pemikiran kritis, komunikatif, dan kolaboratif. Pendidikan dasar Islam urgen memperkuat literasi baru dan revitalisasi kurikulum berbasis digital. Revitalisasi kurikulum mengacu pada lima nilai dasar dari peserta didik yang baik, yaitu ketahanan, kemampuan beradaptasi, integritas, kompetensi, dan peningkatan berkelanjutan. Pendidik pendidikan dasar Islam harus menjadi guru digital, paham komputer, dan bebas dari penyakit akademis. Tujuannya mewujudkan generasi berkompetensi tingkat tinggi, karakter dan literasi untuk menjawab tantangan era Revolusi Industri 4.0
Peningkatan Keterampilan Menulis Resensi Buku Ilmiah pada Mahasiswa Melalui Program Satu Semester Satu Resensi (TUTER TENSI)
Keterampilan menulis resensi buku ilmiah pada mahasiswa dapat ditingkatkan melalui penerapan program “Satu Semester Satu Resensi” (Tuter Tensi). Penelitian ini bertujuan meningkatkan keterampilan menulis resensi buku ilmiah pada mahasiswa yang dimuat di media massa. Penelitian menggunakan metode action research (penelitian tindakan) dengan empat komponen, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 89 mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung mengalami peningkatan signifikan pada keterampilan menulis resensi buku ilmiah. Pada tindakan 1, didapatkan hasil signifikan. Aspek menulis judul resensi sebanyak 70 mahasiswa (78 persen) tuntas, aspek menulis nama peresensi dan afiliasi sebanyak 87 mahasiswa (97 persen) tuntas, menulis biodata buku dengan ketuntasan 76 mahasiswa (85 persen), menulis isi resensi sebanyak 73 mahasiswa (82 persen) tuntas, aspek menulis kekurangan dan kelebihan buku sebanyak 78 mahasiswa (87 persen) tuntas, dan penggunaan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebanyak 75 mahasiswa (84 persen) tuntas. Pada tindakan 2, aspek menulis judul resensi sebanyak 85 mahasiswa (95 persen) tuntas, menulis nama peresensi dan afiliasi sebanyak 89 mahasiswa (100 persen) tuntas, menulis biodata buku dengan ketuntasan 86 mahasiswa (96 persen), menulis isi resensi 86 mahasiswa (96 persen) tuntas, aspek menulis kekurangan dan kelebihan buku 88 mahasiswa (98 persen) tuntas, dan penggunaan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebanyak 84 mahasiswa (94 persen) tuntas
- …
