401 research outputs found
Perhitungan penanggalan Bugis-Makassar : analisis konversi penanggalan Bugis-Makassar dan penanggalan Masehi
Penanggalan Bugis-Makassar merupakan salah satu penanggalan lokal yang mengacu pada peredaran matahari dengan jumlah hari dalam setahun 365/366 hari. Penanggalan Bugis-Makassar memiliki persamaan dengan Masehi tetapi belum memiliki pola atau rumus konversi antara penanggalan Bugis-Makassar dengan Masehi .
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbentuk kajian pustaka (Library Research) dengan pendekatan deskriptif analisis. Metode pengumpulan datanya dengan studi dokumen dan wawancara. Adapun sumber primer yaitu Buku karya Nor Sidin yang berjudul Bilang Taung Sistem Penanggalan Masyarakat Sulawesi Selatan Berdasarkan Naskah Lontara. Data sekundernya adalah Ephemeris Hisab Rukyat, buku karangan Dr. Ahmad Izzuddin yang berjudul Ilmu Falak Praktis serta artikel dan penelitian yang berkaitan dengan penanggalan Bugis-Makassar.
Penelitian ini menghasilkan dua temuan. Pertama, penanggalan ini merupakan penanggalan aritmatik yang selalu mengikuti penanggalan Masehi. Epoch penanggalan ini dimulai pada tanggal 16 Mei 1669 Masehi (1 Sarawanai 1 Bugis). Umur tiap bulan berkisar 30, 31, dan 32 hari. Untuk tahun panjang, Penanggalan ini terletak pada tahun ketiga dalam satu siklus atau tahun yang jika dibagi empat mempunyai sisa 3. Untuk bulan yang mendapat tambahan hari pada tahun kabisat terdapat pada bulan ke-10. Temuan yang kedua dalam konversi diperlukan formulasi tambahan setelah memperoleh sisa bagi 1461 (Jumlah hari dalam satu siklus). Formulasi tambahan ini sifatnya fleksibel mengikuti pada koreksi gregorius suatu tahun yang dikurang 10. Formulasi tambahan ini menjadi penjumlah ketika konversi Masehi ke Bugis-Makassar dan menjadi pengurang pada konversi Bugis-Makassar ke Masehi.
ABSTRACT:
The Bugis-Makassar calendar is one of the local calendars that refers to the circulation of the sun with 365/366 days in a year. The Bugis-Makassar calendar has similarities with the Gregorian calendar but does not yet have a conversion pattern or formula between the Bugis-Makassar calendar and the Masehi calendar.
This research is a qualitative research in the form of literature review (Library Research) with a descriptive analysis approach. Methods of data collection by document study and interviews. The primary source is Nor Sidin's book entitled Bilang Taung, the Calendar System for the Society of South Sulawesi Based on the Lontara Manuscript. The secondary data is Ephemeris Hisab Rukyat, a book written by Dr. Ahmad Izzuddin entitled Practical Astronomy as well as articles and research related to the Bugis-Makassar calendar.
This research resulted in two findings. First, this calendar is an arithmetic calendar which always follows the Gregorian calendar. The epoch of this calendar begins on May 16, 1669 AD (1 Sarawanai 1 Bugis). The age of each month ranges from 30, 31, and 32 days. For long years, this calendar is located in the third year in a cycle or a year which, if divided by four, has a remainder of 3. For months that get an additional day in a leap year, it is in the 10th month. The second finding in conversion required additional formulation after obtaining the remainder for 1461 (Number of days in one cycle). This additional formulation is flexible in nature following the Gregorian correction of a year that is subtracted by 10. This additional formulation becomes the sum when converting AD to Bugis-Makassar and becomes a deduction in the conversion of Bugis-Makassar to Christian
REINTERPRETASI ADAT PERNIKAHAN SUKU BUGIS SIDRAP SULAWESI SELATAN
Abstrak: Adat Istiadat dalam pernikahan Suku Bugis telah mengalami pergeseran nilai seiring perkembangan zaman dan pengaruh era globalisasi. Tanggapan miring pun tidak terelakkan, namun hal tersebut seyogyanya disikapi secara arif dan bijaksana. Untuk itu, perlu reinterpretasi makna adat pernikahan suku Bugis yang sesunguhnya, mengambil nilai-nilai positif pada setiap prosesi adat pernikahan, serta menambahkan nilai-nilai baru yang sesuai dengan semangat dan prinsip adat istiadat suku Bugis. Abstract: Marriage custom among the Bugis people has shifted in values due to globalization and modernization. Consequently, negative response was inevitable. However, the response should be addressed wisely. This article is aimed to re-interpret the meanings of marriage among the Bugis. It is also to address some positive values in every stages of customary marriage, new meanings and values which in turn restoring the spirit and principles within the marriage custom. Kata Kunci: Adat, pernikahan, budaya, Bugis, siri’.
TRADISI SOMPA DALAM PERNIKAHAN MASYARAKAT BUGIS MALANGKE PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
Penelitian ini membahas tradisi sompa dalam pernikahan masyarakat Bugis Malangke Perspektif Hukum Islam, adapun tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan proses tradisi pemberian sompa dalam pernikahan masyarakat Bugis Malangke dan menganalisis kesesuaian antara tradisi pemberian sompa
dalam pernikahan masyarakat Bugis Malangke dengan pandangan Hukum Islam. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian fenomologi dan sosiologis, adapun sumber data yang digunakan dalam
penelitian adalah data sekunder dan primer. Kemudian teknik pengumpulan data didalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik pengelolaan data dan analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu: reduksi
data, penyajian data, dan deflasi kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi pemberian sompa dalam
pernikahan masyarakat Bugis Malangke merupakan salah satu aspek penting didalam prosesi pernikahan. Sompa ini dianggap sebagai simbol penghormatan dan penghargaan calon suami kepada calon istri atas haknya, serta sebagai bentuk keadilan dan kesetaraan didalam melaksanakan pernikahan. Tradisi ini masih
dipertahankan dan dihormati oleh masyarakat Bugis Malangke. Pandangan Hukum Islam terhadap tradisi pemberian sompa dalam pernikahan masyarakat Bugis Malangke sesuai dengan pandangan Hukum Islam yaitu keadilan, kesetaraan dan penghormatan terhadap hak istri. Pemberian sompa dalam
pernikahan masyarakat Bugis Malangke juga memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh Hukum Islam seperti kemapuan calon mempelai pria, hak sompa sepenuhnya milik calon istri, dan tidak ada unsur paksaan atau eksploitasi
Orang Bugis di Sulawesi Tenggara. Skripsi. Program Studi Pendidikan Antropologi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Mengetahui proses kedatangan orang Bugis di Desa Ambapa Kecamatan Tinondo Kabupaten Kolaka Timur Sulawesi Tenggara, 2) Hubungan antara orang Bugis dengan orang Tolaki., serta 3) Dampak hubungan orang Bugis dengan orang Tolaki di Desa Ambapa Kecamatan Tinondo Kabupaten Kolaka Timur Sulawesi Tenggara. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang dalam proses pengumpulan data peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa : 1) proses kedatangan orang Bugis di Desa Ambapa Kecamatan Tinondo Kabupaten Kolaka Timur Sulawesi Tenggara pada tahun 1989 sampai akhirnya menetap dan tinggal di desa ini. 2) hubungan antara orang Bugis dengan orang Tolaki di Desa Ambapa Kecamatan Tinondo Kabupaten Kolaka Timur Sulawesi Tenggara. yaitu interaksi sosial orang bugis mencakup kerja sama (gotong royong), dan akomodasi. Dan kehidupan sehari-hari orang bugis dengan orang tolaki di desa Ambapa. 3) dampak hubungan orang Bugis dengan orang Tolaki di Desa Ambapa Kecamatan Tinondo Kabupaten Kolaka Timur Sulawesi Tenggara, yaitu dalam kehidupan berdampak di bidang sosial dengan terjadinya pernikahan diantara orang bugis dengan orang tolaki, dibidang ekonomi, yaitu pembauran dalam pola pemukiman dan dibidang kebudayaan, yaitu dalam prakteknya orang bugis tetap berusaha mempertahankan kebudayaanya
DUI MENRE DALAM TRADISI PERKAWINAN BUGIS DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
This study describes the problem Dui Menre in Bugis Marriage Traditions in the perspective of Islamic law. The type of research is to study the phenomenology. While the data analysis techniques used were: 1) Analysis of Inductive, 2) a deductive analysis, and 3) Comparative Analysis. From the research results obtained information and the understanding that: 1) Dui Menre in the tradition of marriage in the District Bugis Bacukiki Parepare City is one of the mandatory requirement in customary marriage Bugis. 2) The response of the Bugis community Menre Dui, Dui Menre that the number of marriages in Bugis tradition is high and becomes a burden for the men to hold the marriage. 3) Law Dui Bugis Menre in the tradition of marriage is permissible under Islamic law to be done and does not constitute one of the pillars and conditions of the implementation of a marriage
PELATIHAN KEMAMPUAN BERBAHASA BUGIS DI KALANGAN WARGA MALAYSIA KETURUNAN BUGIS DI JOHOR- MALAYSIA
Pelatihan ini bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan kemampuan berbahasa Bugis di kalangan masyarakat Malaysia keturunan Bugis, khususnya yang berdomisili di Johor. Kegiatan ini merupakan program kerja sama antara STIEM Bongaya Makassar, Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan Persatuan Bugis Sedunia-Johor. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 18 Juli 2024 bertempat di Muzium Rumah Bugis-Pontian, Johor. Jumlah peserta pelatihan sebanyak 35 peserta yang merupakan warga Malaysia keturunan bugis yang berdomisili di Johor. Metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, peserta diajak untuk mempelajari kosakata, tata bahasa, dan budaya Bugis. Dengan meningkatkan kemampuan berbahasa Bugis, peserta diharapkan dapat berperan aktif dalam menjaga kelangsungan tradisi lisan dan memperkuat identitas budaya Bugis. Selain itu, pelatihan ini juga bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama keturunan Bugis serta menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya Bugis. Dari hasil kegiatan pelatihan ini di harapkan pemahaman dan pengetahuan warga Malaysia keturunan bugis meningkat dan selanjutnya diharapkan para peserta dapat mempraktekkan penggunaan bahasa bugis dalam kesehariannya untuk melestarikan bahasa bugis di Malaysi
Pelatihan Kemampuan Berbahasa Bugis di Kalangan Warga Malaysia Keturunan Bugis di Johor- Malaysia
Pelatihan ini bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan kemampuan berbahasa Bugis di kalangan masyarakat Malaysia keturunan Bugis, khususnya yang berdomisili di Johor. Kegiatan ini merupakan program kerja sama antara STIEM Bongaya Makassar, Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan Persatuan Bugis Sedunia-Johor. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 18 Juli 2024 bertempat di Muzium Rumah Bugis-Pontian, Johor. Jumlah peserta pelatihan sebanyak 35 peserta yang merupakan warga Malaysia keturunan bugis yang berdomisili di Johor. Metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, peserta diajak untuk mempelajari kosakata, tata bahasa, dan budaya Bugis. Dengan meningkatkan kemampuan berbahasa Bugis, peserta diharapkan dapat berperan aktif dalam menjaga kelangsungan tradisi lisan dan memperkuat identitas budaya Bugis. Selain itu, pelatihan ini juga bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama keturunan Bugis serta menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya Bugis. Dari hasil kegiatan pelatihan ini di harapkan pemahaman dan pengetahuan warga Malaysia keturunan bugis meningkat dan selanjutnya diharapkan para peserta dapat mempraktekkan penggunaan bahasa bugis dalam kesehariannya untuk melestarikan bahasa bugis di Malaysi
PERANCANGAN ANIMASI 2D TENTANG PENGENALAN AKSARA LONTARA BUGIS BAGI SISWA SMAN 4 LUWU UTARA
Perancangan ini bertujuan untuk membuat media pengenalan Aksara Lontara Bugis
pada mata pelajaran muatan lokal bahasa Bugis berupa animasi dua dimensi (2D)
bagi siswa kelas X di SMAN 4 Luwu Utara sebagai alternatif media pendukung
pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa terhadap
bahasa Bugis dan Aksara Lontara Bugis. Pengumpulan data diperoleh melalui studi
pustaka dari buku pelajaran dan kurikulum 2013 yang digunakan, serta observasi,
angket, dan wawancara terhadap siswa kelas X, guru mata pelajaran bahasa Bugis
kelas X. Metode perancangan yang digunakan adalah metode penelitian dan
pengembangan atau Research and Development (R&D) model ASSURE melalui 3
tahap yakni Analyze Learner Characteristics (analisis karakteristik siswa) guna
mengetahui karakter dan kebutuhan siswa sebagai target pemirsa; State
Performance Objectives (penentuan kompetensi atau tujuan pembelajaran) dengan
meninjau kurikulum dan tujuan pembelajaran yang digunakan dan ingin dicapai;
dan Select Media and Material (pemilihan materi serta bahan ajar) dalam menyusun
konsep dan materi animasi. Perancangan ini menghasilkan video animasi pendek
2D berukuran 1920x1080 piksel format MP4 dengan gaya visual kartun berjumlah
6 materi berbeda, masing-masing berdurasi 1-2 menit dengan isi pesan tentang
pengenalan huruf-huruf Aksara Lontara Bugis berdasarkan materi dalam buku
pelajaran Bahasa dan Sastra Bugis kelas X serta seputar kehidupan sekolah.
Animasi tersebut diunggah di Youtube dengan nama saluran “Kelas Lontara” dan
poster dibuat sebagai media pendukungnya.
Kata Kunci: Animasi; Aksara Lontara Bugis; Sisw
Nilai-Nilai Budaya Bugis Sebagai Media Komunikasi Budaya
Tulisan ini membahas tentang nilai-nilai budaya bugis yang dapat dijadikan sebagai ikon komunikasi budaya. Masyarakat bugis terdahulu terlahir dengan aturan sistem sosial, yaitu Pangadereng diartikan sebagai norma yang mengatur bagaimana masyarakat berperilaku. Salah satu unsur yang ada didalamnya adalah Ade’ sebagai kunci budaya untuk mengatur apa yang pantas dilakukan dan menghipun orang agar tidak bercerai berai. Dalam arti, mengajarkan tentang rasa malu (siri), kepatutan, kejujuran, amanah, kecendekiaan dan usaha
MELESTARIKAN METODE BACA AL-QURAN MENGGUNAKAN AKSEN BUGIS DI KECAMATAN LAMURU KABUPATEN BONE
Learning to read the Qur'an is central to education that needs attention. Various religious problems are caused by the inability of people to read and understand the Qur'an properly. The method of recitation using the bugis accent, is a classical Qur'anic teaching method. Therefore, preservation is needed so that the Bugis accent as a method of reading the Quran can be maintained properly. The research method used is to use descriptive qualitative, using in-depth interview techniques. The results found were stakeholder efforts to realize the method of reading the Quran using the Bugis language and there were problems in preserving the method of reading the Quran using the Bugis language
- …
