87 research outputs found

    Al Mawaddah In The Quran (A Thematic Interpretation Perspective)

    Get PDF
    This writing discusses the interpretation of al-mawaddah from the perspective of the Qur'an. The aim of this research is to understand how al-mawaddah is interpreted from the perspective of the Qur'an. To obtain data, the author conducted data collection through a literature study to understand the concepts of interpreting the term from the perspective of the Qur'an. From the data analysis conducted, the author found that al-mawaddah can be interpreted as "love expressed through attitudes and behaviors similar to obedience as a result of admiration for someone." The interpretation of the word mawaddah is not only associated with the context of marriage. However, after further research, it was found that the word mawaddah also speaks in the context of peace or friendship and even war. From the analysis of the verse on al-mawaddah, we can draw several important conclusions: compassion as the foundation of relationships, emotional involvement in relationships, mutual understanding and self-respect, relationships that understand and respect each party's uniqueness have the potential to develop well, compassion as an expression of love, emphasis on "signs for those who reflect" indicates that loving human relationships are one of the manifestations of Allah's greatness, and humans are invited to reflect and appreciate this blessing. The verse on al-mawaddah teaches that relationships based on love, mutual understanding, and compassion are not only desirable but also a religious mandate. This serves as a guideline for building a society characterized by love and tolerance, creating a peaceful and blessed environment. With this article, the author hopes to present a comprehensive understanding of the meaning of al-mawadda

    Dialektika al-Qur’an dalam al-Urf: Studi Kritis Pergeseran Makna Budaya Mappasikarawa pada Perkawinan Bugis di Era Modern

    No full text
    This study examines the transformation of meaning in the Bugis society’s mappasikarawa culture, which has undergone significant shifts in values due to modernity. It employs a dialectical approach between the Qur’an and local cultural context as al-urf to map the dynamic relationship between universal Islamic values and local wisdom. Using a qualitative analytical-critical method, data was gathered through in-depth interviews, participant observation, and document analysis in Bugis regions. Findings show that mappasikarawa serves not only as a symbolic ritual but also integrates Qur’anic values sakinah, mawaddah, and rahmah. Thus, a contextual reinterpretation based on maqaṣid al-shariah and hifz al-nafs is essential to maintain its relevance and harmony with Islamic law.Kajian ini mengkaji transformasi makna budaya mappasikarawa pada masyarakat Bugis, yang telah mengalami pergeseran nilai signifikan akibat modernitas. Studi ini menggunakan pendekatan dialektika antara Al-Qur’an dan konteks budaya lokal as al-\u27urf  untuk memetakan hubungan dinamis antara nilai-nilai Islam universal dan kearifan lokal. Dengan metode kualitatif analitis-kritis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen di wilayah Bugis. Temuan menunjukkan bahwa mappasikarawa tidak hanya berfungsi sebagai ritual simbolis, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai Qur’ani sakinah, mawaddah, dan rahmah. Oleh karena itu, reinterpretasi kontekstual berdasarkan maqasid al-shariah dan hifz al-nafs penting untuk menjaga relevansinya dan keselarasan dengan hukum Islam

    Dialektika al-Qur’an dalam al-Urf: Studi Kritis Pergeseran Makna Budaya Mappasikarawa pada Perkawinan Bugis di Era Modern

    No full text
    This study examines the transformation of meaning in the Bugis society’s mappasikarawa culture, which has undergone significant shifts in values due to modernity. It employs a dialectical approach between the Qur’an and local cultural context as al-urf to map the dynamic relationship between universal Islamic values and local wisdom. Using a qualitative analytical-critical method, data was gathered through in-depth interviews, participant observation, and document analysis in Bugis regions. Findings show that mappasikarawa serves not only as a symbolic ritual but also integrates Qur’anic values sakinah, mawaddah, and rahmah. Thus, a contextual reinterpretation based on maqaṣid al-shariah and hifz al-nafs is essential to maintain its relevance and harmony with Islamic law.Kajian ini mengkaji transformasi makna budaya mappasikarawa pada masyarakat Bugis, yang telah mengalami pergeseran nilai signifikan akibat modernitas. Studi ini menggunakan pendekatan dialektika antara Al-Qur’an dan konteks budaya lokal as al-\u27urf  untuk memetakan hubungan dinamis antara nilai-nilai Islam universal dan kearifan lokal. Dengan metode kualitatif analitis-kritis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen di wilayah Bugis. Temuan menunjukkan bahwa mappasikarawa tidak hanya berfungsi sebagai ritual simbolis, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai Qur’ani sakinah, mawaddah, dan rahmah. Oleh karena itu, reinterpretasi kontekstual berdasarkan maqasid al-shariah dan hifz al-nafs penting untuk menjaga relevansinya dan keselarasan dengan hukum Islam

    Upaya Meningkatkan Kemampuan Sosial Melalui Permainan Mencari Pasangan Pada Anak Usia 4-5 Tahun di TK ABA III Tetehosi I Gunungsitoli Idanoi

    Get PDF
    Penelitian ini dilatar belakangi belum meningkatnya sosial anak dikarenakan Penyebab anak kurangnya bersosial ialah adanya hal-hal yang dituntut kelompok, tetapi sikap permusuhan terhadap orang lain, maka mereka melawan norma kelompok, akibatnya mereka diabaikan dan ditolak oleh kelompok. Sehingga sosial anak terganggu dalam banyak hal yaitu : Negativisme, agresi pertengkaran, mengejek dan menggertak, egosentrisme, prasangka, antagonisme dan jenis kelamin. Adapun jenis dari telitian tersebut yakni memakai penelitian tindakan kelas (PTK) dan memakai subyek telitian sianak yang berusia 4 hingga thn diantaranya oleh 12 kanak. Untuk obyek penelitiannya yakni dengan tingkatkan social anak dalam melakukan permainan mencari pasangan. Tehnik kumpulkan pendataan lewat mengobservasi dalam bentuk checklist serta pendokumentasian semacam poto. Tehnik menganalisis pendataan memakai analisys kualitative serta kuantitative. Dilihat dari hasilan meneliti bisa tersimpulkan bahwasanya peningkatan sosial sianak tingkatkan selanjutnya memiliki penindakan lewat permainan mencari pasangan dan menggunakan media gambar. Ketika dilaksanakan mengobservasi pratindak, mempresentase peningkatan sosial sejumlah 3,5%, selanjutnya alami ketingkatan terhadap siclus 1 pertemuan I 3,91% dan pertemuan II sebesar 5,33% serta terhadap penjalanan siclus 2 pun alami ketingkatan pertemuan I sejumlah 6,58% dan pertemuan II 7,83%. Untuk tahapannya akan dijalani hingga peningkatan sosial sianak ditingkatkan adalah : aktivitas prakembangkan, aktivitas kembangkan, sertas aktivitas pnutupan. Berikan tujuan secara active yang dilaksanakan ketika aktivitas berikan hadiah ketika aktivitas penutupa

    Reaktualisasi Makna Simbolik Perkawinan Adat Bugis Soppeng Persfektif Maqsid Al-Syari'ah

    Get PDF
    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) segala bentuk tahapan pelaksanaan dalam perkawinan adat Bugis Soppeng yang terdiri dari tiga tahapan inti; tahap pra perkawinan, tahap pelaksanaan perkawinan, dan tahap pasca perkawinan. Merupakan segala bentuk tahapan yang harus dilaksanakan dalam pelaksanaan perkawinan adat Bugis Soppeng secara khusus. 2) makna filosofis yang terkandung di dalam setiap simbol pada tahapan perkawinan adat Bugis Soppeng secara umum merupakan bentuk keinginan, harapan-harapan baik atau sennu-sennureng (tafa’ul) kepada calon pengantin agar kiranya dapat membangun serta membina bahtera rumah tangga yang Sakinah mawaddah warahmah. 3) perspektif Maqāṣid Al-Syarīʻah terhadap perkawinan adat Bugis Soppeng termasuk dalam jenis Al-‘Urf al-shahih, yaitu kebiasaan-kebiasaan baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam serta dilihat dari kemaslahatan dalam pelaksanaannya berada pada tataran dharuriyyat, hajiyyat, dan tahsiniyat yaitu tahapan pelaksanaannya berada pada kategori kebutuhan yang berbeda sesuai dengan tingkat kemaslahatannya pada maqasid al-syari’ah. Implikasi dari penelitian ini, diharapkan agar masyarakat tetap berpegang teguh pada syariat Islam. Memberikan wadah kepada usia muda agar nilai-nilai agama dalam pelaksanaan perkawinan adat Bugis Soppeng, dapat dipahami dengan bijak, serta adat yang dilakukan masyarakat dapat dijaga dan tetap dilestarikan sesuai dengan syariat Isla

    The rebranding of Spritzer Pop / Mawaddah Mohamad

    No full text
    Spritzer Pop has long been in the market and for it to be produced and manufactured by a recognized local water producer; it should have been well known throughout the country. Unfortunately, some people do not remember or even known its existence. Although it has been displayed on the shelves along the drinking aisle in the supermarket or in the fridge of a 24-hour mini mart, people seem to ignore the product. According to the observation that has been made, it gives the impression that Spritzer Pop does not have its interest point. Customers do not get attracted to the product. Even the children who are supposed to be the main target audience of Spritzer Pop prefer to have another type of carbonated fruity flavored drinks.This research is made to figure out the reason behind the issue of lack of acknowledgement among customers as well as to gather the needs of this customer in order to increase the market sale of Spritzer Pop. According to “Market Smart: The Best in Age- and Lifestyle-Specific Design”, marketers as well as designers need to follow a few simple rules when marketing to children age 3-8 and teenagers and based on the survey that has been conducted by the researcher, these children and teenagers are the major consumers of Spritzer Pop. The author of the book highlighted among the rules are to understand the specific targets and how they are having a grasp of their cognitive, emotional and social attributes and capabilities; understand how young consumers process information; and how to communicate through visuals

    MENGGAPAI SAKINAH, MAWADDAH, DAN RAHMAH DALAM PERNIKAHAN PERSPEKTIF MARXISME DAN SUFISME

    Get PDF
    This article seeks to answer the question of how a married couple can achieve sakinah, mawaddah, and rahmah families. To get the answer, the writer conducted a qualitative research by tracing written sources historically-chronologically-philosophically with a concentration on Marxism and Sufism. Although the author is also a taker of several other figures. The author gets the answer that a husband and wife partner to be able to reach a sakinah, mawaddah, and rahmah family must take a winding road and a long process. If a married couple has succeeded in achieving it, then that is a happy family. The ideal happy family according to the Quran is to have succeeded in achieving a solid degree of faith in Allah SWT and knowledgeable.Keywords: Sakinah, mawaddah, and rahmah, Marxism, Sufis

    PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TENTANG MATTAWA’ DALAM ADAT PERKAWINAN SUKU BUGIS DIKEL. PULAU KIJANGKEC. RETEHKAB.INDRAGIRI HILIR

    Get PDF
    Perkawinan merupakan suatu hal yang sangat penting dan mulia, agar tercapainya rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah, perkawinan harus sesuai syarat-syarat sah nya dalam syari’at Islam, namun pada prakteknya sering terjadi perbedaan dan kontradiksi antara syari’at dengan sistem adat istiadat pada suatu daerah dan telah menjadi hukum adat maupun kebiasaan. Adapun perumusan masalah dari penelitian ini adalah apa yang melatar belakangi terjadinya Mattawa (Nikah Batin) pada masyarakat Bugis di Kel. Pulau Kijang, Kec. Reteh, Kab.Indra Giri Hilir, dampak Mattawa terhadap kehidupan dalam rumah tangga, bagaimana perspektif Hukum Islam terhadap Mattawa pada masyarakat Suku Bugis di Kel. Pulau Kijang, Kec. Reteh, Kab. Indra Girihilir. Mattawa (Nikah Batin) adalah sebuah adat yang menjadi kebiasaan dalam perkawinan suku bugis, selain adat dan kebiasaan hal ini menjadi permasalahan yang kontroversial pada masyarakat Suku Bugis yang belum menemukan titik kejelasan. Keadaan seperti inilah yang kemudian menjadi perhatian sehingga peneliti tertarik melaksanakan sebuah riset untuk mendapatkan status hukum Mattawa (Nikah Batin) dalam perspektif Hukum Islam. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat penilitan lapangan (field research) yang dilakukan pada masyarakat Suku Bugis di Kel. Pulau Kijang, Kec. Reteh, Kab.Indra Giri Hilir, dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan metode observasi, wawancara, studi perpustakaan kemudian penulis menggunakan metote analisis data Deskriptif analisis. Dalam penelitian ini menggunakan tiga metode penulisan yaitu; metode Induktif, yaitu mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti dari yang bersifat khusus kemudian diambil kesimpulan bersifat umum. Metode Deduktif, yaitu mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti dari yang bersifat umum kemudian diambil kesimpulan bersifat khusus. Metode Deskriftif, yaitu mengumpulkan data-data, lalu dianalisa secara khusus sehingga dapat disusun sesuai kebutuhan penulis. Dalam masyarakat suku bugis kepercayaan terhadap upacara Mattawa, jika tidak dilaksanakan maka akan mengakibatkan rumah tangga yang tidak dapat langgeng, dan akan dilanda banyak masalah dan musibah. Kepercayaan yang tidak mendasar dan tidak dapat dibenarkan seperti itulah yang dilarang oleh syara’, karena perbuatan tersebut termasuk perbuatan Syirik, yaitu menggantungkan sesuatu kepada selain Allah SWT

    "Philosophical Values of Islamic Family Law towards the Mapaenre Botting and Mapparola Traditions in Bugis Community Weddings": NILAI NILAI FILOSOFIS HUKUM KELUARGA ISLAM TERHADAP TRADISI MAPAENRE BOTTING DAN MAPPAROLA DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT BUGIS

    No full text
    Marriage is a very important matter where marriage can form a household that is sakinah mawaddah warahmah, happy and prosperous. That is why marriage in Islam is highly recommended for those who can afford it. Husband and wife For the Bugis community, mappenre-botting is an activity of accompanying the groom to the bride's house to fulfill the marriage contract. In carrying out this ritual, the mappaenre bottling procession must take place before the sun reaches its peak. Mapparola is the bride's mutual visits to the groom's house. Implementation of mappa parola begins when the entire wedding procession is finished. Usually, the execution takes place a day or so after the wedding after consultation with both families. Formal events, such as weddings, the bride and groom sit in the aisle and take place during the day and usually continue into the evening. Keyword: Marriage,Mappaenre botting, MapparolaPerkawinan merupakan perkara yang sangat penting dimana perkawinan dapat membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah, bahagia dan sejahtera. Itulah sebabnya menikah dalam Islam sangat dianjurkan bagi mereka yang mampu. Pasangan suami istri Bagi masyarakat Bugis, mappenre-botting adalah kegiatan mengantar mempelai pria ke rumah mempelai wanita untuk memenuhi akad nikah. Dalam melakukan ritual ini, prosesi pembotolan mappaenre harus dilakukan sebelum matahari mencapai puncaknya. Mapparola adalah saling kunjung mempelai wanita ke rumah mempelai pria. Pelaksanaan mappa parola dimulai saat seluruh prosesi pernikahan selesai. Biasanya, eksekusi dilakukan satu hari atau lebih setelah pernikahan setelah berkonsultasi dengan kedua keluarga. Acara formal, seperti pernikahan, mempelai wanita dan pria duduk di pelaminan dan berlangsung pada siang hari dan biasanya berlanjut hingga malam hari. Kata Kunci : Perkawinan, Mappaenre Botting, Mapparola

    Pelatihan Parenting dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

    Get PDF
    The implementation of the activities uses the participatory action research (PAR) method. The goal is to improve the skills of parents in carrying out care and upbringing in their own families and explain to parents about the process of good child education. As for the object of the real professional work course (KKNP) for the author for 2 months, namely parents. In parenting training activities in realizing a sakinah mawaddah mawahmah family in Desa Bulu Tanah, Kec. Kajuara, Kab. Bone.  Parenting training is held once during KKN-P. The place is located in the Fastabiqul Khairat Mosque in Dusun Cangkano
    corecore