Al-Ulum
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
Analisis Konsep Keadilan Syed Muhammad Naquib al-Attas Terhadap Krisis Kebenaran di Era Post-truth
This research aims to answer how Syed Muhammad Naquib al-Attas\u27s concept of justice can offer solutions to the crisis of truth in the post-truth era. The post-truth phenomenon is characterized by the dominance of hoaxes, misinformation, and manipulation of public emotions, which reflects the loss of intellectual discipline in treating knowledge. Epistemological defects occur when truth is treated on an equal footing with opinions and conjectures, thus giving birth to epistemic injustice. This study uses a qualitative approach through a literature review of al-Attas\u27 works. The analysis shows that the essence of justice according to al-Attas puts everything in its place and can be applied in the realm of knowledge through manners and the placement of knowledge. This perspective shows that efforts to counter hoaxes, misinformation, and information manipulation are not enough with technical verification alone, but require a reconstruction of epistemic consciousness rooted in the Islamic worldview.Penelitian ini bertujuan untuk menjawab bagaimana konsep keadilan Syed Muhammad Naquib al-Attas dapat menawarkan solusi bagi krisis kebenaran di era post-truth. Fenomena post-truth ditandai dengan dominasi hoaks, misinformasi, dan manipulasi emosi publik, yang mencerminkan hilangnya disiplin intelektual dalam memperlakukan pengetahuan. Kecacatan epistemologis terjadi ketika kebenaran diperlakukan setara dengan opini dan dugaan, sehingga melahirkan ketidakadilan epistemik. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui tinjauan pustaka karya-karya al-Attas. Analisis menunjukkan bahwa esensi keadilan menurut al-Attas menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dapat diterapkan dalam ranah pengetahuan melalui adab dan penempatan pengetahuan. Perspektif ini menunjukkan bahwa upaya penanggulangan hoaks, misinformasi, dan manipulasi informasi tidak cukup hanya dengan verifikasi teknis, tetapi membutuhkan rekonstruksi kesadaran epistemik yang berakar pada pandangan dunia Islam
Pendekatan Pedagogis dalam Pengajaran Hadis di Era Pendidikan Islam Kontemporer
This study explores the effectiveness of innovative pedagogical approaches in hadith instruction at Athirah 2 Islamic School Makassar. The research focuses on how interactive methods, technological integration, and contextual approaches enhance students’ comprehension, participation, and motivation in internalizing hadith values. Employing a qualitative case study design, data were collected through semi-structured interviews and classroom observations, and analyzed using thematic techniques to identify key patterns and themes. The findings reveal that the use of learning technologies, group discussions, and contextual material development significantly strengthen student engagement and the relevance of hadith to everyday life. The contribution of this research lies in proposing a new pedagogical model that integrates cognitive, moral, and spiritual dimensions, while also highlighting challenges such as human resource limitations and teacher readiness as critical factors in implementation. Penelitian ini mengkaji efektivitas pendekatan pedagogis inovatif dalam pengajaran hadis di Sekolah Islam Athirah 2 Makassar. Fokus utama penelitian adalah bagaimana metode interaktif, integrasi teknologi, dan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan pemahaman, partisipasi, serta motivasi belajar siswa dalam menginternalisasi nilai-nilai hadis. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi kasus, data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi kelas, kemudian dianalisis dengan teknik tematik untuk mengidentifikasi pola dan tema utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi pembelajaran, diskusi kelompok, serta pengembangan materi kontekstual mampu memperkuat keterlibatan siswa dan relevansi hadis dengan kehidupan sehari-hari. Kontribusi penelitian ini terletak pada tawaran model pedagogi baru yang mengintegrasikan dimensi kognitif, moral, dan spiritual, sekaligus menyoroti keterbatasan sumber daya manusia dan kesiapan guru sebagai tantangan utama
The Positivism of the Indonesian Ulema Council’s Fatwa on Dui Menre in Bugis Society: The Perspective of the Qur’an
This study aims to examine the legal positivization of the Indonesian Council of Ulama’s (MUI) Fatwa No. 2 of 2022 and to explore its potential as a foundation for formal regulation. Employing a descriptive qualitative method with a case study approach, data were collected through document analysis, Islamic legal literature, and interviews with MUI figures and local communities. The findings demonstrate that the fatwa reflects Qur’anic principles of justice, public interest (maṣlaḥah), and equality, while simultaneously affirming the legal status of fatwas as normative products with potential for positivization or legalization into valid written regulations, at least in the form of local bylaws (Perda). The fatwa thus functions as a normative bridge connecting Islamic law, customary norms, and state law. The study recommends synergy between MUI, local government, and traditional leaders to advance the transformation of fatwas into contextual and equitable regulationsKajian ini bertujuan menelaah positivisasi hukum dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 2 Tahun 2022 dan mengeksplorasi potensinya sebagai dasar regulasi formal. Dengan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan studi kasus, data diperoleh melalui telaah dokumen, literatur keislaman, wawancara dengan tokoh MUI dan masyarakat. Temuan menunjukkan bahwa fatwa tersebut merefleksikan prinsip keadilan, kemaslahatan, dan kesetaraan dalam al-Qur’an, sekaligus menegaskan kedudukan fatwa sebagai produk hukum memiliki potensi untuk dipositivisasi atau dilegalisasi sebagai peraturan tertulis yang sah, minimal regulasi formal seperti Peraturan Daerah (Perda). Fatwa ini berperan sebagai jembatan normatif antara hukum Islam, adat, dan hukum negara. Kajian merekomendasikan sinergi MUI, pemerintah daerah, dan tokoh adat untuk mendorong transformasi fatwa menjadi regulasi kontekstual dan berkeadilan
Dialektika al-Qur’an dalam al-Urf: Studi Kritis Pergeseran Makna Budaya Mappasikarawa pada Perkawinan Bugis di Era Modern
This study examines the transformation of meaning in the Bugis society’s mappasikarawa culture, which has undergone significant shifts in values due to modernity. It employs a dialectical approach between the Qur’an and local cultural context as al-urf to map the dynamic relationship between universal Islamic values and local wisdom. Using a qualitative analytical-critical method, data was gathered through in-depth interviews, participant observation, and document analysis in Bugis regions. Findings show that mappasikarawa serves not only as a symbolic ritual but also integrates Qur’anic values sakinah, mawaddah, and rahmah. Thus, a contextual reinterpretation based on maqaṣid al-shariah and hifz al-nafs is essential to maintain its relevance and harmony with Islamic law.Kajian ini mengkaji transformasi makna budaya mappasikarawa pada masyarakat Bugis, yang telah mengalami pergeseran nilai signifikan akibat modernitas. Studi ini menggunakan pendekatan dialektika antara Al-Qur’an dan konteks budaya lokal as al-\u27urf untuk memetakan hubungan dinamis antara nilai-nilai Islam universal dan kearifan lokal. Dengan metode kualitatif analitis-kritis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen di wilayah Bugis. Temuan menunjukkan bahwa mappasikarawa tidak hanya berfungsi sebagai ritual simbolis, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai Qur’ani sakinah, mawaddah, dan rahmah. Oleh karena itu, reinterpretasi kontekstual berdasarkan maqasid al-shariah dan hifz al-nafs penting untuk menjaga relevansinya dan keselarasan dengan hukum Islam
Salat Jumat Perempuan di Gorontalo dalam Konstelasi Agama, Budaya, dan Ruang Publik: Analisis Filsafat Sosial
This research focuses on the controversy of women\u27s Friday prayers in Gorontalo which arises from differences in ideological views, worship practices, and dynamics of socio-religious relations. The purpose of this research is to uncover the root of the conflict, explain the causative factors, and examine its social impact through the lens of social philosophy, especially related to power relations, the structure of religious authority, and the formation of religious public spaces. The research methods used are qualitative with theological-normative, sociological, religious, and social philosophy analysis approaches through observation, interviews, and documentation. The analysis was carried out inducively through reduction, verification, and data presentation by utilizing the concept of Stuart Hall reception. The results of the study show that there is a diversity of interpretations of QS. al-Jumu\u27ah verse 9 and hadith related to Friday obligations that result in dominant reception, negotiation, and opposition. These differences affect the configuration of religious power, strengthen gender boundaries in the worship space, and cause disharmony.Penelitian ini berfokus pada kontroversi salat Jumat perempuan di Gorontalo yang muncul dari perbedaan pandangan ideologis, praktik ibadah, dan dinamika relasi sosial-keagamaan. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap akar pertentangan tersebut, menjelaskan faktor penyebabnya, serta menelaah dampak sosialnya melalui kacamata filsafat sosial, khususnya terkait relasi kekuasaan, struktur otoritas keagamaan, dan pembentukan ruang publik religius. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan teologis-normatif, sosiologis, religius, dan analisis filsafat sosial melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan secara induktif melalui reduksi, verifikasi, dan penyajian data dengan memanfaatkan konsep resepsi Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman penafsiran terhadap QS. al-Jumu‘ah ayat 9 dan hadis terkait kewajiban Jumat yang menghasilkan resepsi dominan, negosiasi, dan oposisi. Perbedaan tersebut memengaruhi konfigurasi kekuasaan religius, memperkuat batas-batas gender dalam ruang ibadah, serta menimbulkan disharmon
Typology of Listening in the Qur’an: An Analytical Study of M. Quraish Shihab’s Tafsir al-Mishbah
This study aims to explore the typology of “listening” in the Qur’an as interpreted in Tafsir al-Mishbah by M. Quraish Shihab. Employing a qualitative library research design with a descriptive–analytical approach, this study examines Qur’anic verses discussed in Tafsir al-Mishbah as its primary data sources. Data analysis follows the Miles and Huberman model, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that Tafsir al-Mishbah identifies five typologies of listening: (1) physical listening, understood as a biological function and a sign of existence; (2) attentive listening, reflecting spiritual and intellectual awareness; (3) listening in the sense of granting or responding to supplications, which underscores God’s active responsiveness to human prayers; (4) listening with a positive response, signifying obedience, acceptance, and faith; and (5) listening with a negative response, which represents rejection and defiance of truth. These findings affirm that the Qur’anic concept of istimāʿ, as interpreted by Quraish Shihab, extends beyond physical activity and embodies deeper dimensions of consciousness, intention, and moral orientation
Spiritual Quotient (SQ) Of The Prophet Muhammad SAW. Perspectives Of Hadith and Sirah Nabawi
This research deals with spiritual quotient based on the perspective of the Prophet Muhammad\u27s hadith and Prophetic narrative (Sirah Nabawi). The research was conducted using hadith science and psychology as research approaches. This research is a scientific literature-based research that is descriptive qualitative and is a library research. The results found in this study that basically quotient is not only intellectual quotient and emotional quotient, but there is also what is called spiritual quotient. In Islam, the spiritual quotient has been taught by the Prophet Muhammad PBUH in life as well as in his various traditions which can be seen in the Sirah nabawi. The spiritual quotient taught by the Prophet Muhammad in his hadith and life (Sirah nabawi) is the main indicator of piety. Piety can be achieved by being generous, and getting closer to Allah swt. by interacting with Him through worship and remembrance (dhikr).Penelitian ini berkaitan dengan kecerdasan spiritual berdasarkan perspektif hadis Nabi Muhammad saw. dan sirah Nabawi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan ilmu hadis dan ilmu psikologi sebagai pendekatan penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian yang berbasis literatur ilmiah yang bersifat kualitatif deskriptif dan merupakan penelitian kepustakaan. Adapun hasil yang ditemukan dalam penelitian ini bahwa pada dasarnya kecerdasan tidak hanya kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional, namun terdapat juga yang disebut kecerdasan spiritual. Dalam Islam kecerdasan spiritual telah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. dalam kehidupan serta dalam berbagai hadis beliau yang dapat dilihat dalam sirah nabawi. Kecerdasan spiritual yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. dalam hadisnya serta dalam kehidupan (sirah nabawi) memiliki indikator utama yaitu ketakwaan. Ketakwaan tersebut dapat dicapai dengan bersikap dermawan, serta mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan berinteraksi-Nya melalui ibadah dan zikir
The Effect of Teaching Kitab of Hadith al-Arba’in al-Nawawiyah on Improving the Character of MAPK Makassar Students
This quantitative study explores the novel effect of teaching al-Arba\u27in al-Nawawiyah on character development among MAPK students in Makassar. By employing linear regression analysis on a sample of 92 students, we show that student motivation is the primary predictor of character development, explaining 23% of the variance. The data were collected through a questionnaire. While teaching methods and teacher qualifications were not significant predictors, the findings offer new insights into motivation-driven character formation in Islamic education. This study contributes to the growing body of literature by providing empirical evidence for the role of intrinsic motivation in enhancing moral and social behaviors among secondary school students, particularly in the context of hadith-based learning. Although the regression model used explained 23% of the variation in student character, student motivation was proven to be the main factor in better character formation
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengajaran kitab Hadis al-Arba’in al-Nawawiyah terhadap pembentukan karakter siswa di MAPK Makassar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linear. Sampel penelitian terdiri dari 92 siswa yang memilih untuk mengikuti pelajaran kitab hadis al-Arba’in al-Nawawiyah. Data dikumpulkan melalui angket yang mengukur variabel metode pengajaran, kualifikasi guru, motivasi siswa, dan karakter siswa. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa pengajaran kitab hadis al-Arba’in al-Nawawiyah memiliki dampak positif terhadap karakter siswa. Berdasarkan analisis korelasi dan regresi menunjukkan bahwa motivasi siswa memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan karakter siswa (p < 0,05), sementara metode pengajaran (p-value = 0,44) dan kualifikasi guru (p-value = 0,722 tidak memberikan pengaruh signifikan. Meskipun model regresi yang digunakan menjelaskan 23% variasi karakter siswa, motivasi siswa terbukti sebagai faktor utama dalam pembentukan karakter yang lebih bai
Living Hadis dan Moderasi Beragama : Analisis Toleransi Agama di Kota Manado, Sulawesi Utara
This study aims to analyze the implementation of religious tolerance values through the concept of Living Hadith within the framework of religious moderation in Manado City, North Sulawesi. Using a qualitative approach with a case study method, data were collected through interviews with religious leaders, community figures, local residents, as well as observations of interfaith social and religious activities. The analysis integrates hadith texts with field findings to explore how hadith values on tolerance, non-violence, humanity, national commitment, and respect for local traditions are internalized and manifested in social practices. The findings indicate that these values are embedded in communal traditions such as Mapalus, religious celebrations, customary events, and interfaith harmony. The Interfaith Harmony Forum (FKUB) plays a significant role as a platform for dialogue and conflict prevention. This study affirms that the Living Hadith concept contributes to fostering inclusive tolerance and strengthening religious moderation in Manado.Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan nilai toleransi agama melalui konsep Living Hadis dalam moderasi beragama di Kota Manado, Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data diperoleh melalui wawancara dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, warga, serta observasi kegiatan sosial dan keagamaan lintas agama. Analisis dilakukan dengan memadukan teks hadis dan temuan lapangan untuk melihat bagaimana nilai-nilai hadis tentang toleransi, anti-kekerasan, kemanusiaan, komitmen kebangsaan, dan penghormatan terhadap tradisi lokal diinternalisasi dalam praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut hidup dalam tradisi gotong royong seperti Mapalus, perayaan keagamaan, kegiatan adat, serta harmoni antarumat beragama. FKUB berperan penting sebagai wadah dialog dan pencegahan konflik. Penelitian ini menegaskan bahwa Living Hadis mendukung terwujudnya toleransi inklusif dan moderasi beragama di Manado
Sufistic Psychotherapy Through Wirid Dalail Khairat: Towards A Resilient Mental Character
Modernization has generated various life challenges that contribute to the rise of mental and psychological disorders, highlighting the need for alternative approaches beyond medical treatment. This study focuses on the Wirid Dalail Khairat as a form of Sufi psychotherapy in addressing mental health issues. The research employs a qualitative method using content analysis to examine the texts and meanings of Dalail Khairat, interpreted through the theoretical framework of Sufi psychotherapy. The findings indicate that the practice of Dalail Khairat contains psychological, moral, and spiritual dimensions that play a significant role in calming the mind, reducing stress, controlling excessive desires, fostering inner peace, and strengthening closeness to Allah. Therefore, Dalail Khairat can be understood as an effective Sufi psychotherapeutic method that contributes positively to individual well-being and quality of life in the context of modern challenges.
Modernisasi membawa berbagai persoalan kehidupan yang berdampak pada meningkatnya gangguan mental dan psikologis. Kondisi ini menuntut adanya pendekatan alternatif selain medis, salah satunya melalui pendekatan spiritual. Penelitian ini berfokus pada kajian Wirid Dalail Khairat sebagai bentuk psikoterapi tasawuf dalam membantu pemulihan kesehatan mental. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis isi (content analysis) terhadap teks dan makna Dalail Khairat, yang dianalisis menggunakan kerangka teori psikoterapi sufistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik Dalail Khairat mengandung dimensi psikologis, moral, dan spiritual yang berperan dalam menenangkan jiwa, mengurangi stres, mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan ketenangan batin dan kedekatan dengan Allah SWT. Dengan demikian, Dalail Khairat dapat dipahami sebagai salah satu metode psikoterapi tasawuf yang berkontribusi positif terhadap peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup individu.Kunci: Dalail Khairat, Psikoterapi, Sufisti