Al-Ulum
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
Implementasi Nilai-Nilai Sibaliparri’ Di Masyarakat Pesisir Kabupaten Majene Sulawesi Barat (Tinjauan Living Qur’an dan Hadis)
This research examines the implementation of Sibaliparri values (a local mutual assistance ethic) in coastal communities in Majene Regency, West Sulawesi with a review of the Qur\u27an and Hadith analyzed using a phenomenological approach. Sibaliparri represents a mutual assistance ethic in all situations such as Palluluareang (brotherhood), Siasayangngi (compassion), Sianauang pa\u27mai (care) and Sukku\u27 Mattulung, covering both material and spiritual aspects in Islamic values. Coastal communities primarily engaged in fishing must adopt adaptation strategies to address diverse life challenges, including by integrating Sibaliparri values into their social life. The research method used is a qualitative-descriptive to describe the meaning of lived experiences. The results showed that Sibaliparri is interpreted with various meanings, including; as an expression of gratitude, mutual cooperation and social solidarity, practicing Islamic teachings, economic activities, and manifestations of love and affection.Penelitian ini mengkaji tentang nilai-nilai Sibaliparri (gotong royong) dalam masyarakat pesisir di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat dengan tinjauan Al-Qur\u27an dan Hadis yang dianalisis menggunakan pendekatan fenomenologis. Sibaliparri mewakili etika saling membantu dalam segala situasi seperti Palluluareang (persaudaraan), Siasayangngi (kasih sayang), Sianauang pa\u27mai (perhatian) dan Sukku\u27 Mattulung yang mencakup aspek material dan spiritual dalam nilai-nilai Islam. Masyarakat pesisir yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan harus mengadopsi strategi adaptasi untuk mengatasi berbagai tantangan hidup, termasuk dengan mengintegrasikan nilai-nilai Sibaliparri ke dalam kehidupan sosial mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif untuk mendeskripsikan makna pengalaman hidup mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sibaliparri diinterpretasikan dengan berbagai makna, antara lain; sebagai ungkapan rasa syukur, kerja sama timbal balik, solidaritas sosial, mengamalkan ajaran Islam, kegiatan ekonomi, serta manifestasi cinta dan kasih sayang
Provocative Preaching and the Ethics of the Qur\u27an: Critical Study of Surah An-Nahl 125
This study criticizes the phenomenon of provocative da\u27wah on social media through the perspective of Qur\u27anic ethics in Surah An-Nahl verse 125. With the qualitative method of content analysis and thematic hermeneutics, the results of the study show that: (1) Provocative da\u27wah theologically deviates from the principles of Qur\u27anic da\u27wah and ethically violates Islamic moral values such as al-ḥilm (politeness) and ar-raḥmah (compassion); (2) The three pillars in Surah An-Nahl verse 125 offer a comprehensive communication ethics framework for digital da\u27wah, which is integrated with digital literacy and moral responsibility; (3) The implementation of this framework has academic implications for the development of thematic interpretation studies and digital communication science, as well as practical implications in the form of operational guidelines for dai to create a calming, unifying, and dignified digital da\u27wah ecosystem (rahmatan lil \u27alamin).Penelitian ini mengkritisi fenomena dakwah provokatif di media sosial melalui perspektif etika Qur’ani dalam Surah An-Nahl ayat 125. Dengan metode kualitatif analisis konten dan hermeneutika tematik, Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Dakwah provokatif secara teologis menyimpang dari prinsip dakwah Qur’ani dan secara etis melanggar nilai-nilai akhlak Islam seperti al-ḥilm (kesantunan) dan ar-raḥmah (kasih sayang); (2) Tiga pilar dalam Surah An-Nahl ayat 125 menawarkan kerangka etika komunikasi yang komprehensif untuk dakwah digital, yang terintegrasi dengan literasi digital dan tanggung jawab moral; (3) Implementasi kerangka ini memiliki implikasi akademis bagi pengembangan kajian tafsir tematik dan ilmu komunikasi digital, serta implikasi praktis berupa pedoman operasional bagi para dai untuk menciptakan ekosistem dakwah digital yang menyejukkan, mempersatukan, dan bermartabat (rahmatan lil ‘alamin)
Islamic Wealth Management: Empowerment of Inherited Assets in Sharia-Based Productive Economic Development
This study develops an operational framework that integrates Sharia principles, modern management practices, and socioeconomic impact measurement in the context of empowering inheritance assets, using a qualitative approach with an integration of Islamic financial theory analysis methods and empirical studies. The results of the study indicate that the implementation of an Islamic wealth management-based inheritance management model has succeeded in creating a sustainable asset development system and providing a multiplier effect for improving the welfare of heirs and the surrounding community. The business model developed shows innovation in three aspects: Integration of digital technology in the operational management of inheritance assets, development of a tiered profit-sharing system between heirs and managers, and implementation of a Sharia-based sustainability program. The socioeconomic impact is identified through the creation of more than 200 jobs, the strengthening of the local economy, and the development of community capacity.Penelitian ini mengkaji transformasi pengelolaan warisan dari pola konsumtif menjadi produktif melalui penerapan pengelolaan kekayaan syariah dalam pengembangan usaha lahan tebu. Penelitian ini mengembangkan kerangka operasional yang mengintegrasikan prinsip-prinsip Syariah, praktik manajemen modern, dan pengukuran dampak sosial ekonomi dalam konteks pemberdayaan aset warisan, menggunakan pendekatan kualitatif dengan integrasi metode analisis teori keuangan Islam dan studi empiris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pengelolaan warisan berbasis pengelolaan kekayaan syariah telah berhasil menciptakan sistem pengembangan aset yang berkelanjutan dan memberikan multiplier effect untuk meningkatkan kesejahteraan ahli waris dan masyarakat sekitar. Model bisnis yang dikembangkan menunjukkan inovasi dalam tiga aspek: Integrasi teknologi digital dalam pengelolaan operasional aset warisan, pengembangan sistem bagi hasil berjenjang antara ahli waris dan manajer, dan implementasi program keberlanjutan berbasis Syariah. Dampak sosial ekonomi diidentifikasi melalui penciptaan lebih dari 200 lapangan kerja, penguatan ekonomi lokal, dan pengembangan kapasitas masyarakat
English
This article evaluates financial management\u27s openness and accountability in mosques in Gorontalo City. The research employs a sociological and economic framework utilizing inductive, deductive, and comparative analytical methodologies. The study\u27s results indicate that numerous NU-based mosques lack transparency. It stems from the antiquated belief that disclosing mosque donations diminishes the donor\u27s altruism. Meanwhile, mosques affiliated with Muhammadiyah exhibit transparency by publicly disclosing financial information to the audience through posted notifications or direct communication before the Friday sermon. Financial management accountability for NU-based mosques is executed through reports from the treasurer to the head of takmirand other members. The data provided is partial due to the existing trust among them, resulting in a lack of rigorous demands for comprehensive accountability. Concurrently, Muhammadiyah-affiliated mosques adopt an accountability framework by conducting management meetings with mosque congregants to get a detailed presentation on the allocation of mosque finances, encompassing both revenue and expenditures.Artikel ini mengkaji keterbukaan dan akuntabilitas pengelolaan keuangan masjid di Kota Gorontalo. Penelitian ini menggunakan kerangka sosiologis dan ekonomi dengan menggunakan metodologi analisis induktif, deduktif, dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak masjid berbasis NU yang kurang transparan. Hal ini bermula dari anggapan kuno bahwa pengungkapan sumbangan masjid akan mengurangi altruisme donatur. Masjid yang berafiliasi dengan Muhammadiyah menunjukkan transparansi dengan mengungkapkan informasi keuangan kepada jemaah, baik melalui pengumuman yang ditempel maupun komunikasi langsung sebelum khotbah Jumat. Akuntabilitas pengelolaan keuangan masjid berbasis NU dilakukan melalui laporan bendahara kepada ketua takmir dan anggota lainnya. Data yang diberikan bersifat parsial karena adanya rasa saling percaya di antara mereka, sehingga tidak ada tuntutan akuntabilitas yang menyeluruh. Bersamaan dengan itu, masjid yang berafiliasi dengan Muhammadiyah mengadopsi kerangka akuntabilitas dengan melakukan rapat manajemen dengan jemaah masjid untuk mendapatkan presentasi terperinci tentang alokasi keuangan masjid, yang mencakup pendapatan dan pengeluaran
Ketika Hukum Menyentuh Ibadah: Kajian tentang Aturan Pengeras Suara di Masjid Perspektif Sosiologi Hukum
This research examines the social dynamics and public reactions to mosque loudspeaker regulations in Indonesia, both on social media and in mosques in Bandung, West Java. The study is based on the Circular Letter of the Minister of Religious Affairs No. 1 of 2024, which outlines guidelines for the observance of Ramadan and Eid al-Fitr 1445 H/2024 M, including rules on the use of mosque loudspeakers. Data were collected using a qualitative method through online observation and interviews with religious leaders and interfaith community members in Bandung, West Java. The findings reveal that many people on social media oppose the regulation, citing emotional concerns and fears that it may disrupt religious traditions. However, in reality, its implementation has garnered widespread support. Several mosques, such as Masjid Al-Hasanah, Masjid Kifayatul Akhyar, and Masjid Raya Bandung, back the policy to foster tolerance and maintain good interfaith relations. Even in predominantly Muslim areas, the regulation is seen as important for respecting the needs of residents who require peace, such as those resting, working, or ill. This research concludes that the implementation of the regulation should consider diverse social contexts and be sensitive to religious pluralism. Additionally, further dialogue is needed to preserve social harmony in a pluralistic society.Penelitian ini mengkaji dinamika sosial dan reaksi masyarakat terhadap regulasi pengeras suara masjid di Indonesia, baik di media sosial mapun secara langsung di masjid-masjid di Kota Bandung, Jawa Barat, berdasarkan Surat Edaran Menteri Agama No. 1 tahun 2024 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1445 H/2024 M yang di dalamnya mengatur penggunaan pengeras suara masjid. Dengan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi online dan wawancara dengan tokoh agama dan masyarakat lintas agama di Kota Bandung, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaksi masyarakat beragam. Di media sosial, banyak pihak menolak regulasi ini, dengan alasan emosional dan kekhawatiran bahwa tradisi keagamaan akan terganggu. Namun, di dunia nyata, penerapannya banyak didukung. Beberapa masjid, seperti Masjid Al-Hasanah, Masjid Kifayatul Akhyar, dan Masjid Raya Bandung, mendukung kebijakan ini untuk menjaga toleransi dan hubungan baik antaragama. Bahkan di wilayah mayoritas Muslim, regulasi ini dianggap penting untuk menghormati warga yang membutuhkan ketenangan, istirahat, bekerja, dan sakit. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan regulasi harus mempertimbangkan konteks sosial yang beragam dan memperhatikan sensitivitas terhadap keragaman agama, serta perlu adanya dialog lebih lanjut untuk menjaga harmoni sosial di masyarakat plural
Strategi Memanfaatkan Media Sosial dalam Meningkatkan Kepribadian Siswa di SMA Perspektif Pendidikan Islam
The purpose of this research is to find strategies for using social media that are effective in improving the personality of students from an Islamic education perspective. The research method used is qualitative, descriptive in nature, with a phenomenological model. The research was conducted on students at SMAN 3 Parepare. Research resultThe use of social media among students is to establish interaction with fellow friends and also with teachers, apart from that social media is sometimes used in the learning process while online learning is carried out. Furthermore, social media is also used by students to search for literature to add insight. has implications for the personality of students, both positive and negative, while the positive implications include, making students more creative in completing assignments given, students can participate in discussions conducted through social media. With this, students will become independent individuals, easily adaptable to socializing with others and able to manage friendship networks.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan strategi penggunaan media sosial yang efektif dalam meningkatkan kepribadian siswa dari perspektif pendidikan Islam. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif, deskriptif, dengan model fenomenologis. Penelitian dilakukan pada siswa di SMAN 3 Parepare. Hasil penelitian penggunaan media sosial di kalangan siswa adalah untuk menjalin interaksi dengan sesama teman dan juga dengan guru, selain itu media sosial terkadang digunakan dalam proses pembelajaran sementara pembelajaran daring dilakukan. Selain itu, media sosial juga digunakan oleh mahasiswa untuk mencari literatur untuk menambah wawasan. memiliki implikasi terhadap kepribadian siswa, baik positif maupun negatif, sedangkan implikasi positifnya antara lain, membuat siswa lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, siswa dapat berpartisipasi dalam diskusi yang dilakukan melalui media sosial. Dengan ini, siswa akan menjadi individu yang mandiri, mudah beradaptasi untuk bersosialisasi dengan orang lain dan mampu mengelola jaringan pertemanan
Integrative Da\u27wah Strategy For Bengkulu Syarafal Anam Group In A Cultural Perspective
The axiology of da\u27wah can actually play an important role in the development of the character of the people through various models and varied strategies. Human nature as a social being egocentrically stimulates individuals to understand and adopt the value system in their culture, environment or group. The purpose of this study is to describe the integrated da\u27wah strategy in the syarafal anam group. It is known that the process of da\u27wah can occur anywhere and anytime and people will even more quickly accept a teaching in a cultural frame. The method in this research uses a qualitative approach to phenomenological research. This paradigm holds the view that truth is not singular, but dialectical, which will depend on the context and culture of society. The results of the study show that syarafal anam can be a traditional art-based da\u27wah strategy, this is indicated by the activities of individuals or groups that experience a positive change in cognition, affection and behavior that is relevant to religious teachings and social values.Aksiologi dakwah sejatinya dapat berperan penting dalam perkembangan karakter umat melalui berbagai model dan strategi yang bervariatif. Fitrah manusia sebagai makhluk sosial secara egosentris menstimulus individu untuk memahami dan mengadopsi sistem nilai dalam budaya, lingkungan ataupun kelompoknya. Tujuan dari penelitian ini ialah mendeskripsikan strategi dakwah yang terintegrasi dalam kelompok syarafal anam. Diketahui bahwa proses dakwah dapat terjadi dimanapun dan kapanpun bahkan masyarakat akan lebih cepat menerima suatu ajaran dalam bingkai kultural. Metode dalam riset ini menggunakan pendekatan kualitatif riset fenomenologi. Paradigma ini berpandangan bahwa kebenaran itu tidak tunggal, tetapi dialektik, yang akan sangat tergantung pada konteks dan kultur masyarakat. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa syarafal anam dapat menjadi strategi dakwah berbasis seni tradisi, hal ini ditunjukkan dari aktifitas individu atau kelompok yang mengalami suatu perubahan positif secara kognisi, afeksi dan perilaku yang relevan pada ajaran-ajaran agama serta nilai social
Matan Jazariyyah Learning Model in Improving Al-Qur\u27an Tahsin Ability
This study examines the model of learning matan jazariyah and its implications for improving the ability of tahsin Al-Quran in students at PTQ Darussaqqaf Polman. The type of research is qualitative, case study approach, and constructivism paradigm. Data sources are leaders, ustadz-ustadzah, and students. Data analysis techniques use grounded theory through three stages, namely open coding, axial coding, and selective coding. The results show that, the implementation of tajwid learning through a systematic and structured halaqah method, combining memorization, theory, and practice, is carried out in groups every after Fajr. The implications of learning matan jazariyyah can improve the ability to read the Qur\u27an fluently, according to good and correct tajwid rules, thereby improving the quality of tahsin students. The development model of learning Matan Jazariyyah refers to the halaqah model developed into Halaqah Matan Jazariyyah which emphasizes the deepening of tajwid material in a structured manner, direct practice, and evaluation of memorization and reading of the Qur\u27an. The Halaqah Matan Jazariyyah approach is more transformative because it prioritizes memorization of the Qur\u27an and a deep understanding of the rules of tajwid.Penelitian ini mengkaji model pembelajaran matan jazariyah dan implikasinya terhadap peningkatan kemampuan tahsin Al-Quran pada siswa di PTQ Darussaqqaf Polman. Jenis penelitiannya adalah kualitatif, pendekatan studi kasus, dan paradigma konstruktivisme. Sumber data adalah pemimpin, ustadz-ustadzah, dan mahasiswa. Teknik analisis data menggunakan grounded theory melalui tiga tahap, yaitu open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pelaksanaan pembelajaran tajwid melalui metode halaqah yang sistematis dan terstruktur, menggabungkan hafalan, teori, dan praktik, dilakukan secara kelompok setiap setelah Subuh. Implikasi pembelajaran matan jazariyyah dapat meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur\u27an dengan lancar, sesuai dengan kaidah tajwid yang baik dan benar, sehingga meningkatkan kualitas siswa tahsin. Model pengembangan pembelajaran Matan Jazariyyah mengacu pada model halaqah yang dikembangkan menjadi Halaqah Matan Jazariyyah yang menekankan pada pendalaman materi tajwid secara terstruktur, praktik langsung, dan evaluasi hafalan dan pembacaan Al-Qur\u27an. Pendekatan Halaqah Matan Jazariyyah lebih transformatif karena mengutamakan hafalan Al-Qur\u27an dan pemahaman yang mendalam tentang aturan tajwid
Judicial Disparities in Asset Confiscation Rulings in Online Trading Cases in Indonesia: A Maqashid al-Shariah Analysis
This study examines the disparity in court rulings concerning the status of confiscated assets in online trading crime cases. The Banten High Court Decision No. 117/Pid.Sus/2022/PT BTN ordered the return of assets to victims, whereas the Bandung High Court Decision No. 1/Pid.Sus/2023/PT BDG ruled that such assets be confiscated for the state. This divergence generates legal uncertainty and raises fundamental questions of justice. The research aims to critically assess the extent to which these rulings are consistent with the objectives of maqāṣid al-sharīʿah, particularly the principle of ḥifẓ al-māl (protection of property). A normative legal approach is employed, drawing on statutory analysis, judicial decisions, and comparative perspectives. The findings indicate that the Banten ruling more closely reflects ḥifẓ al-māl by safeguarding victims’ property rights, while the Bandung ruling risks undermining justice, as the state did not directly incur losses. Beyond highlighting this jurisprudential inconsistency, the study underscores the urgency of harmonizing regulatory frameworks so that the principle of ḥifẓ al-māl can be systematically integrated into Indonesian criminal justice practice, thereby advancing substantive justice and strengthening public trust in the law.Penelitian ini mengkaji disparitas putusan pengadilan terkait status aset sitaan dalam perkara trading online. Putusan Pengadilan Tinggi Banten Nomor 117/Pid.Sus/2022/PT BTN mengembalikan aset kepada korban, sedangkan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor 1/Pid.Sus/2023/PT BDG merampasnya untuk negara. Perbedaan ini menimbulkan ketidakpastian hukum dan problem keadilan. Tujuan penelitian adalah menilai secara kritis konsistensi putusan tersebut dengan maqashid al-syari‘ah, khususnya prinsip hifz al-mal. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif melalui analisis peraturan, putusan, dan perbandingan hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa putusan Banten lebih selaras dengan prinsip ḥifẓ al-māl karena melindungi hak kepemilikan korban, sementara putusan Bandung berpotensi mengabaikan keadilan karena negara bukan pihak yang mengalami kerugian langsung. Temuan ini tidak hanya mengungkap adanya disparitas yurisprudensi akibat kekosongan norma, tetapi juga menegaskan urgensi harmonisasi regulasi agar prinsip ḥifẓ al-māl dapat diimplementasikan secara konsisten dalam praktik peradilan pidana di Indonesia, sehingga keadilan substantif dan kepercayaan publik terhadap hukum dapat terwujud
Halal Certification for MSMEs: what Drives the Interest of MSMES in Indonesia and Malaysia?
This study explores the factors influencing interest in halal certification, focusing on certification fees, government involvement, and the certification process, particularly for halal MSMEs (Micro, Small, and Medium Enterprises). A survey of 65 respondents from businesses in Indonesia and Malaysia was analyzed using Smart PLS 3.0, a tool for Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results show that certification fees (p-value = 0.226) and government involvement (p-value = 0.966) do not significantly affect interest, while the certification process (p-value = 0.009) has a significant impact. These findings suggest that simplifying the certification procedure could increase participation, especially for MSMEs facing challenges related to cost and understanding the process. The study’s practical implication is that certification bodies should prioritize simplifying the process to encourage more MSMEs to pursue halal certification. This research provides valuable insights for academic research, industry practices, and MSME empowerment.Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi minat terhadap sertifikasi halal, dengan fokus pada biaya sertifikasi, peran pemerintah, dan prosedur sertifikasi, khususnya untuk UMKM halal (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Survei yang melibatkan 65 responden dari bisnis di Indonesia dan Malaysia dianalisis menggunakan Smart PLS 3.0, alat untuk Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya sertifikasi (p-value = 0,226) dan peran pemerintah (p-value = 0,966) tidak berpengaruh signifikan terhadap minat, sementara prosedur sertifikasi (p-value = 0,009) memiliki pengaruh signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa menyederhanakan prosedur sertifikasi dapat meningkatkan partisipasi, terutama untuk UMKM yang menghadapi tantangan terkait biaya dan pemahaman proses. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah lembaga sertifikasi harus memprioritaskan penyederhanaan proses untuk mendorong lebih banyak UMKM untuk mengikuti sertifikasi halal. Penelitian ini memberikan wawasan berharga untuk penelitian akademik, praktik industri, dan pemberdayaan UMKM