1,767,445 research outputs found
Foto Dokumenter Bambang Dalam Mozaik
Proses pembuatan karya seni fotografi ini merupakan laporan penulis dengan judul “ Foto dokumenter Bambang dalam mozaik” laporan ini berusaha menjelaskan kebiasaan kehidupan setiap Bambang di kecamatan Danurejan Kota Yogjakarta, ke dalam sebuah karya dengan media fotografi.
Bambang adalah orang yang berjenis kelamin laki-laki biasanya berumur lebih dari 25 tahun, dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda. menurut sebagian orang Bambang selalu dihubungkan dengan hal yang negatif. Pendapat itu tidak benar karena masih banyak Bambang yang lain yang baik dan menjadi panutan masyarakat. Semua ini tergantung dari setiap individu.
Foto kehidupan setiap hari Bambang nantinya akan dibuat secara mozaik, yang ditata menjadi satu kesatuan rangkaian dan hasil akhirnya akan menimbulkan gambar baru yang mewakili dari setiap Bamban
Foto dokumenter Bambang dalam mosaik
Lporan ini berusaha menjelaskan kebiasaan kehidupan setiap Bambang di kecamatan Danurejan kota Yogyakarta ke dalam sebuah karya mosaik dengan media fotografi. Bambang adalah orang berjenis kelamin laki-laki, biasanya berumur lebih dari 25 tahun, dengan latar belakang sosial & ekonomi yang berbeda. Adapun tujuan laporan ini adalah :1. Untuk menampilkan karya foto dokumenter secara mosaik, dan mengenalkan Bambang dengan berbagai perbedaan.2. Memperluas pengetahuan secara umum akan wacana foto dokumenter secara mosaik
Bunga rampai permuseuman
Buku ini dihimpun dari Artikel Majalah Museografia. Laporan Seminar Pemugaran dan Perlindungan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, buku Pusaka Art of Indonesia, Indonesian Heritage Ancient History dan naskah-naskah yang disusun oleh Alm. Drs. Bambang Sumadio
KONSTRUKSI PASANGAN CALON DALAM PILGUB JATENG 2008 OLEH MEDIA MASSA (KASUS PEMBERITAAN JAWA POS RADAR SEMARANG DAN SUARA MERDEKA)
Pilgub Jateng 2008 adalah pemilihan kepala daerah langsung pertama yang
terjadi di Jawa Tengah. Ada lima pasangan yang mencalonkan diri sebagai
gubernur-wakil gubernur. Mereka adalah Bambang Sadono-M. Adnan (Partai
Golkar), Agus Soeyitno-Kholiq Arif (PKB), Sukawi Sutarip-Sudharto (Partai
Demokrat-PKS), Bibit Waluyo-Rustriningsih (PDI-P) dan HM. Tamzil-Rozaq
Rais (PPP-PAN). Mekanisme pemilihan langsung berakibat jarak antara pasangan
calon dengan pemilih menjadi semakin dekat sehingga setiap pasangan calon
dituntut untuk memanfaatkan media dalam membangun citra positif. Dalam hal
ini peran media sebagai sarana komunikasi politik menjadi cukup vital. Bagi
pasangan calon, media adalah sarana strategis untuk menyebarluaskan pesan
politik kepada khalayak. Media sebagai salah satu sumber informasi bagi
masyarakat harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik dengan berpegang
pada netralitas. Namun, dalam operasionalnya media selalu dipengaruhi faktor
internal dan eksternal yang membuat mereka tidak dapat sepenuhnya objektif.
Media bukanlah institusi yang bebas nilai. Isi media tidaklah merefleksikan
realitas yang ada namun mengkonstruksikan serangkaian fakta yang terjadi.
Metode triangulasi digunakan untuk mengetahui bagaimana harian Jawa
Pos Radar Semarang dan Suara Merdeka mengkonstruksikan masing-masing
pasangan calon. Juga untuk mengetahui kecenderungan pemberitaan serta politik
redaksional masing-masing media. Objek penelitian yang dipilih adalah beritaberita
tentang pasangan calon di harian Jawa Pos Radar Semarang dan Suara
Merdeka pada halaman satu dan rubrik khusus selama 26 Maret-22 Juni 2008.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harian Jawa Pos Radar Semarang
berusaha responsif dengan isu-isu politik memberikan konstruksi yang favorable
kepada pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif, Bibit Waluyo-Rustriningsih dan
HM. Tamzil-Rozaq Rais. Sebaliknya, mereka memberikan konstruksi
unfavorable kepada pasangan Bambang Sadono-M. Adnan dan Sukawi Sutarip-
Sudharto. Sedangkan Suara Merdeka memilih gaya pemberitaan yang aman dan
tidak tendesius kepada masing-masing pasangan calon. Hasilnya, mereka
cenderung mengkonstruksikan pasangan Bambang Sadono-M. Adnan, Bibit
Waluyo-Rustriningsih dan HM. Tamzil-Rozaq Rais dengan bingkai yang
favorable. Sedangkan pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif dan Sukawi Sutarip-
Sudharto dalam bingkai unfavorable.
Pilgub Jateng 2008 adalah pemilihan kepala daerah langsung pertama yang
terjadi di Jawa Tengah. Ada lima pasangan yang mencalonkan diri sebagai
gubernur-wakil gubernur. Mereka adalah Bambang Sadono-M. Adnan (Partai
Golkar), Agus Soeyitno-Kholiq Arif (PKB), Sukawi Sutarip-Sudharto (Partai
Demokrat-PKS), Bibit Waluyo-Rustriningsih (PDI-P) dan HM. Tamzil-Rozaq
Rais (PPP-PAN). Mekanisme pemilihan langsung berakibat jarak antara pasangan
calon dengan pemilih menjadi semakin dekat sehingga setiap pasangan calon
dituntut untuk memanfaatkan media dalam membangun citra positif. Dalam hal
ini peran media sebagai sarana komunikasi politik menjadi cukup vital. Bagi
pasangan calon, media adalah sarana strategis untuk menyebarluaskan pesan
politik kepada khalayak. Media sebagai salah satu sumber informasi bagi
masyarakat harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik dengan berpegang
pada netralitas. Namun, dalam operasionalnya media selalu dipengaruhi faktor
internal dan eksternal yang membuat mereka tidak dapat sepenuhnya objektif.
Media bukanlah institusi yang bebas nilai. Isi media tidaklah merefleksikan
realitas yang ada namun mengkonstruksikan serangkaian fakta yang terjadi.
Metode triangulasi digunakan untuk mengetahui bagaimana harian Jawa
Pos Radar Semarang dan Suara Merdeka mengkonstruksikan masing-masing
pasangan calon. Juga untuk mengetahui kecenderungan pemberitaan serta politik
redaksional masing-masing media. Objek penelitian yang dipilih adalah beritaberita
tentang pasangan calon di harian Jawa Pos Radar Semarang dan Suara
Merdeka pada halaman satu dan rubrik khusus selama 26 Maret-22 Juni 2008.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harian Jawa Pos Radar Semarang
berusaha responsif dengan isu-isu politik memberikan konstruksi yang favorable
kepada pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif, Bibit Waluyo-Rustriningsih dan
HM. Tamzil-Rozaq Rais. Sebaliknya, mereka memberikan konstruksi
unfavorable kepada pasangan Bambang Sadono-M. Adnan dan Sukawi Sutarip-
Sudharto. Sedangkan Suara Merdeka memilih gaya pemberitaan yang aman dan
tidak tendesius kepada masing-masing pasangan calon. Hasilnya, mereka
cenderung mengkonstruksikan pasangan Bambang Sadono-M. Adnan, Bibit
Waluyo-Rustriningsih dan HM. Tamzil-Rozaq Rais dengan bingkai yang
favorable. Sedangkan pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif dan Sukawi Sutarip-
Sudharto dalam bingkai unfavorable
Programs Development Aiming at Interfacing Different Engineering Disciplines
With eleven bachelor departments and seven diplomas, the Faculty of Engineering, Diponegoro University is experiencing individualism of departments in offering trainings and short courses for external community. In order to interface departments or labs for not being a stand alone system, the Faculty has initiated a Center of Continuing Engineering Education. This Center, on the Faculty level, will act as organizer and try to be a facilitating institution for interfacing departments and labs within the Faculty. For initial step the Center will develop data base of staffs, departments’ and labs’ competencies. Also to collect information what trainings and short courses that have been done by individual department or lab and those done collaboratively
Tari Sajo di Desa Bambang Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data yang jelas dan akurat mengenai: 1) Latar belakang Tari Sajo di Desa Bambang Kecamatan Bambang Kebupaten Mamasa, dan 2) Bentuk penyajian Tari Sajo di Desa Bambang Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik yang digunakan untuk mendapatkan data-data dalam penelitian ini yaitu studi pustaka, teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi.
Hasil penelitian tentang Tari Sajo di Desa Bambang Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa, yang di latar belakangi oleh kepercayaan nenek moyang yang disebut dengan Ada’ Mappurondo. Tari Sajo pada masyarakat Bambang merupakan suatu tarian yang dipentaskan pada upacara Pa’bissuan Baine yaitu upacara khusus perempuan. Tarian ini dilakukan pada upacara tingkat tinggi yaitu upacara Melambe dan Malangngi yakni upacara syukuran tercapainya nasar sebuah keluarga. Tarian ini befungsi sebagai tari hiburan, tari upacara dan pertunjukan bagi masyarakat yang menganut Ada’ Mappurondo bisa juga di tarikan pada saat penyambutan tamu, pesta pernikahan, dan hiburan pada masyarakat sekitar. Tari Sajo melambangkan kegembiraan bagi keluarga yang melaksanakan upacara. Bentuk penyajian tari Sajo ditarikan dalam bentuk kelompok oleh para perempuan yang siap untuk Melambe dan Malangngi. Jumlah penari yang ideal 2-12 tapi bisa saja lebih sesuai dengan berapa banyak yang ikut menari atau pada upacara Melambe dan Malangngi
Pidato pengukuhan guru besar Prof. Dr. Bambang Sunarto, M. Sn.: KONSTRUKSI DASAR ILMU-ILMU SENI
Pidato pengukuhan Prof. Dr. Bambang Sunarto, M.Sn. sebagai Guru Besar ISI Surakarta menyoroti "Konstruksi Dasar Ilmu-Ilmu Seni" sebagai wacana penting dalam pengembangan akademik seni. Dalam pidato ini, beliau menguraikan konsep dasar ilmu seni yang mencakup objek material dan objek formal. Objek material meliputi berbagai fenomena seni, seperti seni pertunjukan, seni rupa, seni kriya, dan lainnya, sedangkan objek formal berfokus pada perspektif ilmiah untuk memahami seni. Prof. Bambang juga membahas cakupan ilmu seni melalui dua pendekatan: disiplin kajian seni yang bersifat interdisipliner dan disiplin ilmu artistik yang berorientasi pada kedalaman esensi seni. Beliau menegaskan pentingnya epistemologi, metodologi, dan metode sebagai fondasi penelitian seni. Epistemologi yang digunakan mencakup positivistik-rasionalistik, substantif-esensialistik, serta konstruktivistik-eksistensialistik. Metodologi kualitatif dan kuantitatif menjadi instrumen utama untuk menjelajahi seni sebagai fenomena budaya dan artistik. Penekanan pada paradigma, model, dan pendekatan dalam penciptaan dan analisis seni mencerminkan kompleksitas dan kedalaman keilmuan seni. Dengan pandangan yang holistik, pidato ini mendorong tumbuhnya etos akademik yang berkontribusi pada pengembangan ilmu seni yang relevan dengan kebutuhan zaman dan masyarakat
JEJAK MU’ALAF TIONGHOA HAJI BAMBANG SUJANTO (HAJI LIU MIN YUAN) SOSOK DISIPLIN DAN PEKERJA KERAS: MENCARI KEYAKINAN AGAMANYA (KAJIAN PERILAKU MAKNA KONVERSI KE AGAMA ISLAM)
This research focuses on the conversion behavior of a Chinese Mu'alaf who is known as an important figure among the East Java Chinese ethnic group. He is Haji Bambang Sujanto or known by his Chinese name Haji Liu Min Yuan, Chairman of the Haji Muhammad Cheng Hoo Surabaya Foundation as well as one of the important figures of PITI (Pebina Iman Tauhid Islam) East Java. The important thing that needs to be underlined in this research is to find the meaning behind the act of converting to Islam from Haji Bambang Sujanto (Haji Liu Min Yuan) so that later lessons can be learned as life lessons on how the problem of religious belief is very fundamental in one's life to seek happiness. essential. As a study, this journal reveals individual phenomena and their social meaning after making changes in religious understanding (conversion) which then have implications or continue with more meaningful individual and social actions (behavior).Penelitian ini memfokuskan pada perilaku konversi seorang Mu’alaf Tionghoa yang dikenal sebagai tokoh penting di kalangan etnis Tionghoa Jawa Timur. Beliau adalah Haji Bambang Sujanto atau dikenal dengan nama Tionghoa- nya Haji Liu Min Yuan, Ketua Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Surabaya sekaligus sebagai salah satu tokoh penting dari PITI (Pembina Iman Tauhid Islam) Jawa Timur. Hal penting yang perlu digaris-bawahi dalam penelitisn ini adalah mencari makna di balik tindakan konversi ke agama Islam dari Haji Bambang Sujanto (Haji Liu Min Yuan) agar nantinya dapat dipetik hikmah menjadi pelajaran hidup betapa masalah keyakinan agama sangat fundamental dalam kehidupan seseorang untuk mencari kebahagiaan hakiki. Sebagai sebuah penelitian, jurnal ini mengungkapkan fenomena individual dan makna sosialnya setelah melakukan perubahan pemahaman keagamaan (konversi) yang kemudian berimplikasi atau berlanjut dengan tindakan (perilaku) individual dan sosial yang lebih bermakna.
Kata kunci: Makna, Perilaku, Konvers
Reinterpretation of Bambang Sumatri Story in Sujiwo Tejo’s Graphic Novel Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati
This paper aims to analyze the reinterpret the story of Bambang Sumantri in Sujiwo Tejo’s graphic novel Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati. The meaning of heroism in this novel was reexamined through various doubts, unawareness, and wonder of Bambang Sumantri. The data were collected through reading, observing, and taking notes. The data were analyzed with the semiotic method. The interpretation is done by interpreting changes through looking at the relationship between the signifier and the signified within which the implicit, indirect, and uncertain meanings operate, by interpreting the meanings hiddeng behind the words, phrases, and sentences that are called connotative meanings (second layer) by semiotics. The reinterpretation on this graphic novel shows that in addition to Bambang Sumantri depicted as truly heroic, there are many other “hands” who helped him become a figure and hero. The heroism of Bambang Sumantri is not the center of this book. Instead, there are also other figures who made him a hero. Therefore, the author reinterpreted the heroism of Bambang Sumantri from different point of view.This paper aims to analyze the transformation of Bambang Sumatri in Sujiwo Tejo’s graphic novel Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati. The goal of the study is to discuss the reinterpretation of Wayang (shadow puppet) story into the graphic novel. The story of Bambang Sumantri is one of the three epic stories in Serat Tripama (three role models) written by KGPAA Mangkunegara IV (1809-1881). Serat Tripama is tembang (song) Dandanggula which consists of seven stanzas telling about Bambang Sumantri, Kumbakarna, and Adipati Karna’s heroism which serves as role model for every warrior. Sujiwo Tejo transformed the three of the stories into graphic novels in which Bambang Sumantri is the central character of the first book entitled Serat Tripama: Gugur Cinta di Maespati which was first published in February 2016. The story of Maespati Kingdom’s duke becomes the first of three books as per the order of the tembang: the first and the second stanzas narrate the heroism of Bambang BS, the third and the forth tell about Kumbakarna, the fifth and the sixth tell about Adipati Karna, while the last serves as the conclusion. The transformation in this graphic novel shows that Bambang BS is not always depicted as truly heroic, but also shows many other “hands” which made him the figure and hero. The heroism of Bambang BS is not the center of this book, instead there are also other figures who made him as hero. Therefore the author made the transformation by viewing the character through different way. Key Words: reinterpretation; heroism; serat tripama; grapic nove
Perancangan Film Dokumenter Biografi Bambang Soegeng
Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan Pemerintah kepada Warga
Negara Indonesia yang semasa hidupnyamelakukan tindakan kepahlawanan dan
berjasa luar biasa bagi kepentingan Bangsa dan Negara Indonesia. Namun ada
beberapa orang yang seharusnya mendapat gelar pahlawan nasional tapi Negara
belum memberikannya, salah satunya adalah Bambang Sugeng yang berasal dari
Temanggung yang telah berjasa dan memiliki karir militer yang telah
mengharumkan nama bangsa dan Negara. Namun, masyarakat kota Temanggung
tidak begitu mengenal siapa sosok Bambang Sugeng itu, dengan metode
penelitian Linier strategymaka dilakukan perancangan sebuah film dokumenter
biografi Bambang Sugeng sehingga diharapkan masyarakat lebih dapat mengenal
sosok Bambang Sugeng
- …
