758 research outputs found
Sayyid Muhsin Ali-Al-Musawa Al-Palembani Ulama Nusantara Di Panggung Dunia: Studi Pergerakan Dan Pemikirannya
Ulama Nusantara memiliki peran penting dalam perkembangan keilmuan Islam, baik di tingkat lokal maupun global. Salah satu tokoh yang menonjol adalah Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa, ulama asal Palembang yang hidup pada awal abad ke-20 dan berkiprah dalam jejaring keilmuan di Haramain. Meskipun wafat pada usia yang relatif muda, ia meninggalkan jejak intelektual dan institusional yang signifikan. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kebutuhan untuk mengungkap kembali kontribusi ulama Nusantara yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dalam kajian sejarah intelektual Islam. Tujuan penelitian ini adalah menelusuri pemikiran dan pergerakan Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa dalam bidang ushul fiqh, fiqh, dan hadis, serta kontribusinya dalam pendirian lembaga pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan melalui telaah literatur primer dan sekunder berupa kitab, artikel, dan kajian akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam bidang ushul fiqh, Sayyid Muhsin menulis Madkhal al-Wushul ila ‘Ilm al-Ushul yang menegaskan kepakarannya dalam teori hukum Islam. Dalam bidang fiqh, ia menyusun al-Nafhah al-Hasiniyah yang berfokus pada ilmu faraidh. Sementara itu, kontribusinya di bidang hadis tampak dari otoritas sanad yang dimilikinya, sehingga dipercaya mengajar kitab-kitab hadis utama di Masjidil Haram. Selain itu, perannya dalam mendirikan Madrasah Dar al-‘Ulum al-Diniyyah di Makkah menjadi bukti nyata komitmennya dalam membangun institusi pendidikan bagi pelajar Nusantara. Dengan demikian, pemikiran dan pergerakan Sayyid Muhsin tidak hanya memperkuat tradisi intelektual ulama Nusantara, tetapi juga memberikan pengaruh besar dalam jejaring keilmuan Islam internasional
Muhsin Batur
Taha Toros Arşivi, Dosya No: 78-Muhsin, Afife, Enis Batur. Not: Gazetenin "Dünyada Bugün" köşesinde yayımlanmıştır.Unutma İstanbul projesi İstanbul Kalkınma Ajansı'nın 2016 yılı "Yenilikçi ve Yaratıcı İstanbul Mali Destek Programı" kapsamında desteklenmiştir. Proje No: TR10/16/YNY/010
THE ENGLISH TRANSLATION OF ARABIC SUFFIX PRONOUN HA IN SURAH AL-SYAMSU BY ABDULLAH YUSUF ALI; TAHEREH SAFFARZADEH; AND BY MUHAMMAD TAQIUDIN AL-HILALI AND MUHAMMAD MUHSIN KHAN
This paper discusses the English translation of Arabic suffix pronoun ha in surah al-Syamsu by Abdullah Yusuf Ali; Tahereh Saffarzadeh; and by Muhammad Taqiudin Al-Hilali and Muhammad Muhsin Khan. There are two research questions in this research: (1) how are suffix pronoun ha in surah al- Syamsu translated into English by Abdullah Yusuf Ali; Tahrerh Saffarzadeh; Muhammad Taqiudin Al-Hilali and Muhammad Muhsin Khan, and (2) what equivalence is used in the translation of suffix pronoun ha in surah al-Syamsu of Abdullah Yusuf Ali; Tahereh Saffarzadeh; Muhammad Taqiudin Al-Hilali and Muhammad Muhsin Khan according Nida and Taber theory. The method used in this research is qualitative research. The theory of Arabic suffix pronoun ha is used to collect the data and identify the meaning of SL. This research also uses the theory of word classes by Quirk to explain the TL. Equivalence theory by Nida and Taber is used in in this research to identify the type of equivalence that translators adopt in translating suffix pronoun ha into English. The suffix pronoun ha in surah al-Syamsu are translated in various sense by their translations. There are 18 suffix pronoun ha found in surah al -Syamsu those are translated similarly and differently by Abdullah Yusuf Ali, Tahereh Saffarzadeh, Muhammad Taqiuddin Al-Hilali and Muhammad Muhsin Khan. The suffix pronoun ha in Arabic are translated into English pronoun, noun, and adverb. In Ali’s translation, all of suffix pronoun ha is translated into pronoun. In Tahereh’s translation, suffix pronoun ha are translated into pronoun in 17 cases and noun in one case. Then in Muhammad Taqiudin Al-Hilali and Muhammad Muhsin Khan’s translations, suffix pronoun ha are translated into pronoun in 17 case and adverb in one case
EVALUATION OF THE COLLODIAFISER ANGLE IN MEN AND WOMEN Ahmed ALI MUHSIN ALSHAIKHLI
Kollodiafizer açının cinsiyete ve yaşa göre belirlenmesi bu bölgede çalışan uzman hekime, anatomistlere ve de adli antropologlara yol gösterici niteliktedir. Bu çalışmanın amacı; kollodiafizer açının cinsiyete ve yaşa göre değişimini belirlemektir. Bu çalışma çeşitli sağlık problemleri ile Karabük Üniversitesi Eğitim ve Araştırma Hastanesine başvuru yapan 25-65 yaş aralığıdaki 156 kadın, 199 erkeğe ait alt ekstremite Bilgisayarlı Tomografi görüntüleri üzerinden gerçekleştirilmiştir. Elde edilen görüntüler Digital Imaging and Communications in Medicine (DICOM) formatında Radiant programına aktarıldı. Aktarılan görüntüler 3D Curved Multiplanar Reconstruction (MPR) kullanılarak axial, sagittal ve coronal düzlemde görüntüler elde edildi. Görüntülerin promontorium noktası baz alınarak ortogonal düzleme getirme işlemi uygulandı. Daha sonra her iki taraftaki caput femoris ile collum femoris arası uzunluk, collum femoris ile corpus femoris arasındaki uzunluk ve kollodiafizer açıya bakıldı. Bu parametreler excel ortamında kaydedildi. Çalışmamızın sonucunda cinsiyete göre sağ kollodiafizer açı erkeklerde 119,928°, kadınlarda 128,238° (p=0,000), sol kollodiafizer açı erkeklerde 120,825°, kadınlarda 128,599° (p=0,000), sağ caput femoris ile collum femoris arası uzunluk erkeklerde 6,393 cm, kadınlarda 5,804 cm (p=0,000), sağ collum femoris ile corpus femoris arası uzunluk erkeklerde 36,804 cm, kadınlarda 36,136 cm (p=0,000), sol caput femoris ile collum femoris arası uzunluk erkeklerde 6,469 cm, kadınlarda 5,782 cm (p=0,000), sol collum femoris ile corpus femoris arası uzunluk erkeklerde 36,804 cm, kadınlarda 36,136 (p=0,000) olarak bulundu. Ayrıca çalışmamızdaki bireyler dört ayrı yaş grubuna bölündü. Bu gruplara ait tanımlayıcı istatistiklere ve anlamlılık değerlerine yer verildi. Cinsiyetlere göre farklı yaş gruplarındaki elde edilen bu farklılığın doğum fizyolojisi ve hormonal etki kaynaklı olduğunu düşünmekteyiz.According to the gender and age of the collodiaphyseal aspect, these working specialists and forensic anthropologists are guided. This construction purpose; to determine the variation of the collodiaphyseal angle and age, and to try to predict gender and age. This study was carried out on lower extremity computed tomography images of 156 women and 199 men between the ages of 25-65 who applied to Karabük University Training and Research Hospital with various health problems. These images were transferred to the Radiant program in Digital Imaging and Communications in Medicine (DICOM) format. These transferred images were obtained by using 3D Curved Multiplanar Reconstruction (MPR) in axial, sagittal and coronal planes. The process of bringing these images to the orthogonal plane was applied based on the promontory point. Then, the length between the caput femoris and the collum femoris on both sides, the length between the collum femoris and the corpus femoris and the collodiaphyseal angle were examined. These parameters were recorded in Excel environment. As a result of our study, the right collodiaphyseal angle by gender was 119,928° in men, 128,238° in women (p = 0,000), left collodiaphyseal angle was 120,825° in men, 128,599° in women (p = 0.000), the length between right caput femoris and collum femoris was 6,393 cm in men and 5,804 cm in women (p = 0,000). The length between right collum femoris and corpus femoris is 36,804 cm in males, 36,136 cm in females (p = 0,000), the length between left caput femoris and collum femoris is 6,469 cm in males, 5,782 cm in females (p = 0,000), the length between left collum femoris and corpus femoris in males is 36,804 cm, 36,136 cm (p = 0,000) in women. In addition, the individuals in our study were divided into four different age groups and descriptive statistics and significance values of these groups were included. We consider the birth physiology and hormonal domain of this difference obtained in different age groups according to the sexes.
Peranan Kh Muhsin Salim Dalam Mentransmisikan Ilmu Qira?at Sab?ah Di Jakarta Selatan (1986-2012)
Penelitian ini membahas tentang Peranan KH. Muhsin Salim dalam Mentransmisikan Ilmu Qira‟at Sab‟ah di Jakarta Selatan (1986-2012). Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana peranan KH Muhsin Salim dalam transmisi ilmu qira?at sab?ah di Jakarta Selatan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut menggunakan metode historis dengan pendekatan sejarah sosiologis. Sumber yang digunakan antara lain dari studi lapangan dan studi literatur. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni menggunakan teori agensi yang diperkenalkan oleh Anthony Giddens. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini bahwa peranan KH. Muhsin Salim dalam perkembangan ilmu qira?at di Jakarta sangat besar pertama, mulai dari mengajar di rumahnya, majelis-majelis yang ada di Jakarta dan di tempat mengajarnya seperti PTIQ dan LBIQ. Kedua, Ia juga membuat buku tentang qira?at sab?ah untuk mempermudah dalam segi pemahaman. Ketiga, mengkaderisasi murid-muridnya yang sekarang ini ada yang tersebar di Jakarta Selatan, Jakarta Barat dan Tangerang Selatan, yang mereka mempunyai lembaga Alqurannya sendiri
The First Part of "Al-Amali Min Al-Hikayat Al-Hisaniya Dictated" by Mr. Abi Abdullah Al-Muhsin ibn Ali ibn Kojak, who passed away after the year (394 AH/1003 CE) " Investigation and Study"
المُلَخَّصُ: يَتَنَاوَلُ هَذا البَحْثُ تَحْقِيْق وَدِرَاسَةَ "الجُزْءِ الأَوَّلِ مِنْ أَمَالِي الأُسْتَاذِ أَبِي عَبْدِ اللهِ المُحَسِّنِ بنِ عَلِيِّ بنِ كُوجَكَ مِنَ الحِكَايَاتِ الحِسَانِ"، وَالَّذِي تَأَتِي أَهَمِّيَّةُ مِنْ تَضَافُرِ أُمُورٍ عِدَّةٍ، مِنْهَا: تَفَرُّدُهُ بنُصُوصٍ نَثْرِيَّةٍ وَشِعْرِيَّةٍ لا تُوجَدُ فِي مَصْدَرٍ آخَرَ سِوَاهُ، بِالإِضَافَةِ إِلَى أنَّهُ الأَثَرُ الوَحِيْدُ لِمُؤَلِّفِهِ.
وَقَد اقتَضَتْ طَبِيعَةُ البَحْثِ أَنْ يَأتِي فِي قِسمَينِ، الأَوَّلُ: الدِّرَاسَةُ، وَقَد جَاءَ فِي مَبْحَثَينِ، سُلِّطَ الضُّوءُ فِي المَبْحَثِ الأَوَّلِ عَلى المُؤَلِّفِ، وَفِي المَبحَثِ الثَّانِي دَرَسْتُ الكِتَابَ.
أَمَّا القِسمُ الثَّانِي، فَهُو النَّصُّ المُحَقَّقُ.
الكَلِمَاتُ المِفتَاحِيَّةُ: الأَمَالِي- الجُزْءُ الأَوَّلُ- ابنُ كُوجَكَ- تَحْقِيْقٌ ودِرَاسَةٌ.
The First Part of "Al-Amali Min Al-Hikayat Al-Hisaniya Dictated" by Mr. Abi Abdullah Al-Muhsin ibn Ali ibn Kojak, who passed away after the year (394 AH/1003 CE)
" Investigation and Study"
Abstract: The present study deals with investigating and studying the first section of "Al-Amali Min Al-Hikayat Al-Hisaniya," which was dictated by Mr. Abi Abdullah Al-Muhsin ibn Ali ibn Kojak. This study holds significance due to the convergence of various factors, notably its uniqueness in presenting literary and poetic texts that are not found in any other source.
The nature of the research necessitated it to be divided into two parts: The study; it divided into sections: the first one focuses on the author, while in the second part, the researcher studied the book. As for the second section, it focuses on the verified text.
Keywords: Al-Amali,The first part, ibn Kojak, Investigation and stud
DAKWAH KH MOH ANANG MUHSIN DALAM PENGAJIAN RUTIN DI MASJID AL MUNAWAR TULUNGAGUNG
Skripsi di tulis oleh Muhammad Ulin Nuha pada tahun 2024 dengan judul “Dakwah KH Moh Anang Muhsin dalam pengajian rutin di masjid Al Munawar Tulungagung”, program studi komunikasi dan penyiaran Islam, jurusan dakwah,fakultas ushuluddin adab dan dakwah, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung,dosen pembimbing Luthfi Ulfa Ni’amah, M.KOM.I.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana metode dakwah KH Anang Muhsin terhadap jamaah pengajian rutin di masjid Al Munawar Tulungagung serta untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan metode dakwah KH Moh Anang Muhsin terhadap jamaah pengajian rutin di masjid Al Munawar Tulungagung. Sehingga dapat memberikan efektivitas penyampaian pesan dakwah kepada jamaah pengajian rutin di masjid Al Munawar Tulungagung.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif berdasarkan teori retorika Aristoteles dan metode dakwah bil lisan. Subjek penelitian adalah jamaah pengajian rutin di masjid Al Munawar Tulungagung,dengan sumber data yang diperoleh melalui teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan KH Moh Anang Muhsin dan observasi ke tempat pengajian rutin di masjid Al Munawar Tulungagung. Kemudian data yang di dapatkan di kategorisasikan berdasarkan teori retorika Aristoteles.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa KH Moh Anang Muhsin telah menerapkan teori retorika Aristoteles yang mencakup aspek: ethos, pathos dan logos serta KH Moh Anang Muhsin juga menerapkan metode dakwah bil lisan yang sesuai dengan gaya bahasa Al-Qur’an yang meliputi: qaulan baligha, qaulan layyina, qaulan ma’rufa, qaulan masyura, qaulan karima, qaulan sadida dalam dakwahnya pada pengajian rutin di masjid Al Munawar Tulungagung. Adapun faktor pendukung dan penghambat dakwah KH Anang Muhsin di masjid Al Munawar Tulungagung meliputi: Faktor pendukung metode dakwah bil lisan pengajian rutin KH Moh Anang Muhsin di masjid Al Munawar Tulungagung,sebagai berikut: Materi-materi dakwah bil lisan mudah diterima oleh mad’u,Penekanan materi dakwah bil lisan, Metode dakwah bil lisan lebih fleksibel, dan adanya dukungan dari berbagai pihak. Faktor penghambat metode dakwah bil lisan pada pengajian rutin KH Moh Anang Muhsin di masjid Al Munawar Tulungagung,sebagai berikut: Da’i tidak sepenuhnya mengetahui pemahaman mad’u,Komunikasi hanya berlangsung dalam satu arah, dan Sifat malas dalam mengikuti kegiatan dakwah.Kata kunci : Metode Dakwah, Pengajian Rutin, Teori Retorika Aristoteles
FUNGSI PENGAWASAN DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SANTRI PONDOK PESANTREN AL MUHSIN PUTRI METRO UTARA KOTA METRO
ABSTRAK
Upaya pengawasan kepada santri putri di pondok pesantren Al Muhsin
putri sesuai dengan peraturan serta pemberian sanksi dalam
meningkatkan kedisiplinan belum maksimal . Hal ini dilihat dari bentuk
permasalahan menyangkut berbagai bidang dari pengurus pondok
pesantren Al Muhsin dan santri pondok pesantren Al Muhsin putri .
Salah satu permasalahan sering timbul dari kurang optimal
ustadz/ustadzah dalam menyikapi perilaku pelanggaran santri pondok
pesantren Al Muhsin putri. Penegasan dalam melaksanakan aturan
haruslah di upayakan sebaik-baik mungkin agar bisa mencapai tujuan
peraturan dan memberikan efek jera kepada santri pondok pesantren Al
Muhsin putri untuk menaati peraturan yang sudah di rancang
sebagaimana mestinya. Karna tujuan dari peraturan dan sanksi ialah
untuk meningkatkan kedisiplinan santri pondok pesantren Al Muhsin
putri. Pelaksanaan peraturan serta sanksi untuk santri pondok pesantren
Al Muhsin putri yang melanggar sangat penting untuk bisa menjaga dan
menciptakan lingkungan sosial warga pondok pesantren Al Muhsin
putri.
Berdasarkan latar belakang masalah dapat di atas dapat di ambil
rumusan masalah tentang bagaimana Fungi Pengawasan dalam
Meningkatkan Kedisiplinan Santri Pondok Pesantren Al Muhsin Putri
Metro Utara Kota Metro. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui bagaimana Fungi Pengawasan dalam Meningkatkan
Kedisiplinan Santri Pondok Pesantren Al Muhsin Putri Metro Utara
Kota Metro sedangkan untuk metode penelitian penulis menggunakan
metode observasi,metode wawancara dan metode dokumentasi. Hasil penelitian yang penulis dapat disimpulkan bahwasannya Bentuk
perilaku tidak disiplin santri di Pondok Pesantren Al Muhsin Putri
didasari dengan berbagai bentuk dan pengaruh dan dalam
menanggapinya pengurus pondok harus memberikan ketegasan sanksi
sebagai bentuk pendisiplinan santri agar segala bentuk kualifikasi
pelanggaran tidak dilakukan maupun di ulangi oleh santri guna
memberikan pelajaran kepada santri yang lain sebagai himbauan agar
tidak melanggar aturan jika tidak ingin termendapatkan sanksi sesuai
dengan kualifikasi bobot pelanggarannya. Sesuai dengan manajerial
bagian kedisiplinan santri dari ibadah, pembelajaran,rukhtar atau
hafalan, kebersihan , kesehatan dan perizinan harus lebih teliti dan
bertanggung jawab guna akan mempengaruhi kedisipliann santri dalam
menaati peraturan di pondok pesantren Al Muhsin putri.
Kata Kunci : Pengawasan, disiplin, santri, pondok pesantren. ABSTRACT
Supervision efforts for female students at the Al Muhsin female Islamic
boarding school in accordance with regulations and the imposition of
sanctions to improve discipline have not been maximized. This can be
seen from the form of problems concerning various fields from the
management of the Al Muhsin Islamic boarding school and students of
the Al Muhsin female Islamic boarding school. One of the problems
often arises from the less than optimal ustadz / ustadzah in responding
to the behavior of violations by students of the Al Muhsin female
Islamic boarding school. Affirmation in implementing the rules must be
attempted as well as possible in order to achieve the objectives of the
regulations and provide a deterrent effect on students of the Al Muhsin
female Islamic boarding school to obey the regulations that have been
designed properly. Because the purpose of the regulations and sanctions
is to improve the discipline of students of the Al Muhsin female Islamic
boarding school. Implementation of regulations and sanctions for
students of the Al Muhsin female Islamic boarding school who violate
is very important to be able to maintain and create a social environment
for residents of the Al Muhsin female Islamic boarding school.
Based on the background of the problem above, the formulation of the
problem can be taken about how the Supervisory Function in Improving
the Discipline of Students at the Al Muhsin Putri Islamic Boarding
School, North Metro, Metro City. The purpose of this study is to
determine how the Supervisory Function in Improving the Discipline
of Students at the Al Muhsin Putri Islamic Boarding School, North Metro, Metro City, while for the research method the author uses the
observation method, interview method and documentation method.
The results of the study that the author can conclude are that the form
of undisciplined behavior of students at the Al Muhsin Putri Islamic
Boarding School is based on various forms and influences and in
responding to it, the boarding school administrators must provide firm
sanctions as a form of student discipline so that all forms of violation
qualifications are not carried out or repeated by students in order to
provide lessons to other students as an appeal not to violate the rules if
they do not want to be subject to sanctions according to the qualification
of the weight of the violation. In accordance with the management of
the discipline of students from worship, learning, rukhtar or
memorization, cleanliness, health and permits must be more careful and
responsible in order to influence the discipline of students in obeying
the rules at the Al Muhsin Putri Islamic Boarding School.
Keywords: Supervision, discipline, students, Islamic boarding school
PEMIKIRAN GENDER MENURUT PARA AHLI: Telaah atas Pemikiran Amina Wadud Muhsin, Asghar Ali Engineer, dan Mansour Fakih
Ajaran agama memiliki potensi dominan dalam penerapan ideologi gender yang bias. Dalam konteks itu pula, agama bisa memberikan inspirasi dan dorongan munculnya ketidakadilan gender. Bagaimana mungkin agama bisa berpotensi menimbulkan ketidakadilan? Tentu saja potensi ketidakadilan itu bukan bersumber dari prinsip agama, melainkan karena proses perkembangan agama yang didominasi oleh budaya patriarkhat. Untuk itu, ajaran agama harus ditinjau kembali dan dianalisis secara krisis, terutama ajaran tentang faktor kodrati atau ilahi dan faktor yang bukan kodrati.Pada dasarnya, setiap agama mengajarkan bahwa manusia diciptakan sama derajatnya, baik laki-laki maupun perempuan. Terdapat beberapa pemikir yang memiliki perhatian besar atas persoalan gender telah mengupas secara teoretis, dan metodologis, diantaranya Amina Wadud Muhsin, Asghar Ali Engineer, dan Mansour Fakih.
PEMIKIRAN GENDER MENURUT PARA AHLI: Telaah atas Pemikiran Amina Wadud Muhsin, Asghar Ali Engineer, dan Mansour Fakih
<p class="IIABSTRAK333">Ajaran agama memiliki potensi dominan dalam penerapan ideologi gender yang bias. Dalam konteks itu pula, agama bisa memberikan inspirasi dan dorongan munculnya ketidakadilan gender. Bagaimana mungkin agama bisa berpotensi menimbulkan ketidakadilan? Tentu saja potensi ketidakadilan itu bukan bersumber dari prinsip agama, melainkan karena proses perkembangan agama yang didominasi oleh budaya patriarkhat. Untuk itu, ajaran agama harus ditinjau kembali dan dianalisis secara krisis, terutama ajaran tentang faktor kodrati atau ilahi dan faktor yang bukan kodrati.Pada dasarnya, setiap agama mengajarkan bahwa manusia diciptakan sama derajatnya, baik laki-laki maupun perempuan. Terdapat beberapa pemikir yang memiliki perhatian besar atas persoalan gender telah mengupas secara teoretis, dan metodologis, diantaranya Amina Wadud Muhsin, Asghar Ali Engineer, dan Mansour Fakih.</p><div> </div></jats:p
- …
