1,721,034 research outputs found
Suluk sang pembaharu : perjuangan dan ajaran syaikh siti jenar (buku empat)
Pada buku ketiga sampai kelima kami menghadirkan "identitas" baru pada seri "syaikh siti jenar" karya agus sunyoto ini dengan judul sang pembaharu : perjuangan dan ajaran syaikh siti jenar.x, 376 hlm, 18 x 11,9 c
KONSEP MASYARAKAT SYEIKH SITI JENAR DALAM NOVEL HEPTALOGY KARYA AGUS SUNYOTO
Sebagai seorang sastrawan, Agus Sunyoto cukup unik dan menarik untuk melihat Konsep masyarakat Syeikh siti jenar. Salah satunya dengan Novel Heptalogy Syeikh Siti Jenar yang menggambarkan perjuangan untuk keluar dari keterpurukan dan penindasan terhadap masyarakat. Selain itu, cara peneltian yang dilakukan oleh Agus sunyoto tidak hanya berdasarkan sumber naskah ataupun teks-teks badab. Akan tetapi uniknya Agus Sunyoto melakukan penelitian sosial terhadap ajaran Syeikh Siti Jenar yang ada di sekitarnya.
Adapun Rumusan Masalah dari penelitian ini untuk mengetahui Bagaimana Konsep masyarakat Syeikh Siti Jenar dalam Novel Heptalogy karya Agus sunyoto. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka yang bersifat Kualitatif-deskriptif kemudian menggunakan analisis deskriptif-hermeneutika.
Subjek penelitian ini adalah adalah tujuh Novel Syeikh Siti Jenar karya Agus Sunyoto. Yaitu, Suluk Abdul Jalil, Perjalanan Ruhani Syeikh Siti Jenar jilid satu dan dua. Kemudian, Suluk Sang Pembaharu, Perjuangan dan Ajaran Syeikh Siti Jenar jilid ke tiga, empat, dan lima. Suluk Malanag Sungsang, Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syeikh Siti Jenar jilid enam dan tujuh.
Dari penelitian ini, penulis menarik kesimpulan bahwa Konsep Masyarakat Syeikh Siti Jenar adalah membangun tatanan baru yang di dalamnya terdapat sebuah masyarakat yang sadar akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang merdeka, sederajat, dan seluruh aspek kehidupan baik berupa nilai, amal perbuatan, jalan fikiran, jiwa dan raga terpancar dari nilai-nilai islam. Konsep masyarakat menurut Syeikh Siti Jenar adalah sekumpulan manusia yang memiliki derajat yang sama dan saling bekerja sama. Pemikiran Syeikh siti jenar tentang konsep masyarakat tidak seluruhnya dapat diterima oleh umat islam itu sendiri, karena terdapat suatu ide yang dianggap kotroversial
Konsep manusia perspektif Syaikh Siti Jenar dalam novel Heptalogi karya Agus Sunyoto
This study aims to discuss and provide an explanation of the concept of human beings in the view of Syaikh Siti Jenar in the heptalogi novel by Agus Sunyoto. The method used in this study is the literature method using a qualitative approach. The primary source in this study is the heptalogi novel book by Agus Sunyoto which totals seven books. Meanwhile, secondary data is in the form of journal articles, papers, and other documents that support the research. The result of this research is a depiction of how the concept of man according to Shaikh Siti Jenar in the novel heptalogi by Agus Sunyoto. According to Syaikh Siti Jenar, every human being is in his firtah free, there is no justification for the concept of kawula-gusti in man, according to him, man is also a being who has privileges and a perfect being (insan al-kamil) who has the duty of being God's representative on this earth (caliph Allah fi al-ardh) to change and provide renewal in a better direction for mankind.
Penelitian ini bertujuan untuk membahas dan memberikan penjelasan tentang konsep manusia dalam pandangan Syaikh Siti Jenar dalam novel heptalogi karya Agus Sunyoto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun sumber primer dalam penelitian ini adalah buku novel heptalogi karya dari Agus Sunyoto yang berjumlah tujuh buku. Sedangkan data sekunder berupa artikel jurnal, makalah, dan juga dokumen lain yang mendukung dengan penelitian tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah suatu penggambaran tentang bagaimana konsep manusia menurut Syaikh Siti Jenar dalam novel heptalogi karya Agus Sunyoto. Menurut Syaikh Siti Jenar, setiap manusia itu pada firtahnya adalah merdeka, tidak dibenarkan adanya konsep kawula-gusti dalam manusia, menurutnya pula manusia itu adalah makhluk yang memiliki keistimewaan dan makhluk yang sempurna (insan al-kamil) yang memiliki tugas sebagai wakil Allah di muka bumi ini (khalifah Allah fi al-ardh) mengubah dan memberikan pembaharuan ke arah yang lebih baik lagi bagi umat manusia
Hubungan Intertekstual Novel Ramayana Karya C. Rajagopalachari dengan Rahuvana Tattwa Karya Agus Sunyoto serta Ideologinya.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Ideologeme yang ada dalam novel berdasarkan penemuan oposisi, transposisi dan transformasi; (2) unsur intrinsik kedua novel; dan (3) bentuk intertekstualitas yang berupa persamaan atau persetujuan, perbedaan atau pengingkaran, penambahan dan pengurangan.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini yaitu novel Ramayana karya C. Rajagopalachari dan Rahuvana Tattwa karya Agus Sunyoto, sedangkan data penelitian berupa teks yang mengacu pada penelitian intertekstualitas Julia Kristeva yang di dalamnya memuat tentang oposisi, transposisi dan transformasi sebagai kunci untuk menghasilkan ideologeme, yaitu teks yang berhubungan dengan sosial budaya masyarakat. Teknik keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan uji validitas semantis dan expert judgement, serta uji reliabilitas intrarater. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik baca, catat, dan kepustakaan. Adapun teknik analisis data dilakukan dengan teknik suprasegmental dan intertekstual, untuk mengetahui ideologi Agus Sunyoto melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, adanya oposisi yang ditemukan dalam novel Ramayana karya C. Rajagopalachari, yaitu meliputi baju kulit kayu dan baju mewah, alas tidur kasur dan rumput, kejahatan dan kebaikan. Sedangkan transposisi dan transformasinya adalah perubahan sikap Dewi Kaikeyi dan Wibisana. Oposisi pada novel Rahuvana Tattwa karya Agus Sunyoto adalah sistem kekerabatan patriarki dan matriarki, peradaban bangsa Arya dan Daksha, serta Sesembahan Siva dan Indra. transposisi dan transformasinya adalah Rsi Abiyasa yang menolong Raksasha dan berubahnya peradaban bangsa Arya. Ditemukan juga unsur intrinsik pada novel Ramayana karya C. Rajagopalachari dan Rahuvana Tattwa karya Agus Sunyoto untuk menentukan persamaan, perbedaan, penambahan dan pengurangan dari kedua novel tersebut
PANDANGAN PENGARANG TERHADAP KONTEKS SOSIAL DALAM NOVEL SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU KARYA AGUS SUNYOTO
Karya sastra sebagai cerminan kehidupan manusia tidak menutup kemungkinan memuat realitas tentang sosial dan budaya. Salah satu karya sastra novel yang mempunyai keterkaitan tentang aspek sosial dan budaya adalah novel Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu karya Agus Sunyoto. Novel tersebut sarat dengan persoalan-persoalan sosial maupun budaya yang terjadi dalam masyarakat.
Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan latar belakang sosial dan budaya masyarakat yang digambarkan dalam novel SJHPD karya Agus Sunyoto, (2) Mendeskripsikanpandangan pengarang terhadapkonteks sosial dalam novel SJHPD karya Agus Sunyoto, dan (3) Mendeskripsikan hubungan antara pandangan pengarang dengan realitas sosial yang melingkupi karya sastra tersebut karya Agus Sunyoto.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian sastra dengan pendekatan sosiologi sastra. Objek penelitian adalah teks sastra berupa kata, frasa, kalimat serta penggalan teks yang diduga sebagai data yang terdapat dalam novel. Metode pengumpulan data adalah metode simak, pencatatan, dan analisis. Teknik analisis data adalah menggunakan metode strukturalisme genetik Lucien Goldmann.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) latar belakang sosial budaya masyarakat dalam novel SJHPD adalah adanya tiga kelompok masyarakat yaitu kelompok masyarakat kelas atas; kelompok priyai yang senang membanggakan
diri sebab asal usulnya yang tinggi, kelompok masyarakat kelas menengah; kelompok santri yang religius, kelompok abangan yang masih setengah-setengah dalam mengamalkan ajaran islam, kelompok masyarakat berpendidikan yang senang menganalogikan sesuatu dengan ilmu yang pernah didapatkannya dan berpikir realistis, dan kelompok berpendidikan namun berperilaku menyimpang, senang melanggar aturan dan norma-norma agama, dan kelompok masyarakat kelas bawah ; kelompok masyarakat biasa yang tersesat karena kurangnya pemahaman tentang agama, kelompok pinggiran yang tidak memedulikan tentang cara berperilaku yang benar, dan kelompok wanita tuna susila yang senantiasa memikirkan hal-hal seputar seks, (2) pandangan pengarang bahwa persoalan sosial yang meliputi pendidikan harus diperhatikan, terutama bagi masyarakat pedesaan, selain itu persoalan pemahaman yang menyimpang terhadap agama
harus diperhatikan dan disikapi dengan baik dan benar, (3) terdapat konteks sosial antara pandangan pengarang dengan realitas sosial yang ada.
vi
Simpulan penelitian ini adalah latar belakang sosial budaya masyarakat dalam novel SJHPD karya Agus Sunyoto ada tiga kelompok masyarakat yaitu kelompok masyarakat kelas atas; kelompok priyai, kelompok masyarakat kelas menengah; kelompok santri yang religius, kelompok abangan, kelompok masyarakat berpendidikan, dan kelompok berpendidikan namun berperilaku menyimpang, dan kelompok masyarakat kelas bawah ; kelompok masyarakat biasa yang tersesat, kelompok pinggiran, dan kelompok wanita tuna susila Kemudian pandangan pengarang dalam novel ini adalah humanisme religius serta konteks sosial dan pandangan pengarang. Novel SJHPD adalah gambaran masyarakat sekitar Surabaya dan masyarakat kota Bombay. Kepada pembaca dalam memaknai isi novel, disarankan mengambil manfaat yang positif sebagai pedoman dalam kehidupan. Bagi pendidik, permasalahan-permasalahan sosial dalam novel SJHPD baik untuk dijadikan bahan pembelajaran
Metode Suluk dalam Buku Atlas Walisongo Karya Agus Sunyoto dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam
ABSTRAK
Dariyanto, Yusuf Eko. 2021. Metode Suluk dalam Buku Atlas Walisongo Karya Agus Sunyoto dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam. Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing, Fata Asyrofi Yahya, M.Pd.I
Kata Kunci: Metode, Suluk, Walisongo, Tujuan Pendidikan Islam.
Metode yang baik lebih utama daripada materi pelajaran yang lengkap. Pemilihan metode yang tepat sering menjadi tantangan bagi setiap pendidik. Metode alternatif hasil pemikiran para tokoh pendidikan banyak disajikan, namun belum tentu sesuai dengan karakteristik peserta didik. Agus Sunyoto dalam bukunya yaitu Atlas Walisongo, mengungkapkan bahwa Walisongo berhasil membentuk masyarakat Islam Nusantara dan menanamkan nilai-nilai luhur. Salah satu usahanya adalah asimilasi sistem pendidikan Syiwa-Budha dengan menanamkan nilai-nilai tauhid Islam. Metode yang digunakan adalah metode dengan pendekatan tasawuf/sufi yang kemudian disebut suluk.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan konsep metode suluk yang terkandung dalam buku Atlas Walisongo karya Agus Sunyoto, (2) menjelaskan relevensi antara konsep metode suluk dalam buku Atlas Walisongo karya Agus Sunyoto dengan tujuan pendidikan Islam.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini dibuat dengan menggunakan metode riset kepustakaan (library reseach), di mana peneliti melakukan kajian terhadap pemikiran Agus Sunyoto mengenai metode suluk dalam buku Atlas Walisongo kemudian merelevansikannya dengan tujuan pendidikan Islam. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah metode dokumentasi atau teks. Sedangakan teknik analisisnya menggunakan content analysis.
Berdasarkan analisis data, ditemukan bahwa (1) Metode suluk dalam buku Atlas Walisongo digunakan oleh empat tokoh Walisongo. Pertama, Sunan Ampel dengan bentuk riyadhah hidup zuhud yaitu latihan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara berdzikir, menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah sunnah serta selalu bertawajjuh kepada-Nya. Kedua, Sunan Bonang yang mendidik masyarakat melalui Suluk Wujil dan Primbon Bonang agar menjaga diri dari tiga musuh utama, yaitu dunia, hawa nafsu dan setan serta selalu menjaga diri untuk tidak menyekutukan Allah SWT. Ketiga, Sunan Kalijaga yang mendidik masyarakat melalui pagelaran wayang yang menceritakan naskah Suluk Linglung untuk berhati-hati dengan tiga nafsu penghalang hati yaitu nafsu lawwa>mah), nafsu amma>rah, nafsu sufliyah. Keempat, Sunan Drajat memberikan tujuh falsafah hidup yang disebut Pepali Pitu yang tujuannya agar tercipta kemakmuran dan kesejahteraan bersama dengan menjaga solidaritas sosial dan gotong royong. (2) Metode suluk dalam buku Atlas Walisongo memiliki relevansi dengan tujuan pendidikan Islam, khususnya untuk tujuan pendidikan rohani manusia
REKONSTRUKSI FAKTA SEJARAH TENTANG SYEKH SITI JENAR DALAM NOVEL SYAIKH SITI JENAR SULUK SANG PEMBAHARU KARYA AGUS SUNYOTO
Sejarah tidak hanya dalam bentuk lisan dapat pula ditemukan dalam bentuk tulisan. Tulisan ada yang ilmiah dan fiksi. Dalam tulisan fiksi ini biasanya terdapat fakta meskipun telah ditambahkan dengan gaya bahasa seseorang. Sejarah yang ditulis dalam bentuk fiksi/karya sastra sudah ada tambahan imajinasi oleh pengarang. Hal ini banyak terkandung dalam novel yang merupakan salah satu bentuk tulisan fiksi yang di dalamnya mengambil dari pengalaman kehidupan manusia yang digambarkan melalui beberapa tokoh.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rekonstruksi fakta sejarah yang terdapat dalam novel Syaikh Siti Jenar Suluk Sang Pembaharu karya Agus Sunyoto. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif interpretatif, yakni dengan mendeskripsikan hasil interpretasi pada suatu teks. Teori yang digunakan yaitu teori strukturalisme genetik Lucian Goldmann dan teori dekonstruksi Derrida. Penelitian ini menghasilkan rekonstruksi fakta sejarah tentang Syekh Siti Jenar dalam Novel Syaikh Siti Jenar Suluk Sang Pembaharu karya Agus Sunyoto, yakni tentang fakta sosial masyarakat sekitar abad ke-15 M. Melalui novel ini, Agus Sunyoto mengkonstruksi bahwa Syekh Siti Jenar seorang pendakwah yang memiliki jiwa sosial yang tinggi yaitu memperlakukan masyarakatnya tanpa memandang kelas sosial atau dikatakan memandang semua masyarakat sederajat/setara. Ada beberapa ranah yang direkonstruksi melalui novel, yakni tentang: a) Islamisasi di tanah Jawa; b) Islam yang Menjaga Kepercayaan Masyarakat Jawa, yakni hubungan Islam dengan animisme, hubungan Islam dinamisme, dan hubungan Islam ajaran kapitayan; c) Peristiwa Perang Bubat; d) Menghilangkan Pengaruh Majapahit di Bumi Pasundan; e) Perebutan Kekuasaan di Bumi Pasundan dan Perang Saudara atau Paregreg; dan f) Masyarakat pada Zaman Nabi Muhammad SAW. Adapun teknik yang digunakan oleh Agus Sunyoto dalam merekonstruksi pandangan masyarakat tentang Syekh Siti Jenar dalam Novel Syaikh Siti Jenar Suluk Sang Pembaharu menggunakan teknik konstruktif. Maksudnya Agus Sunyoto berusaha meyakinkan publik atau masyarakat atas cerita yang selama ini ada sehingga mereka menjadi semakin percaya karena melakukannya dengan teknik pengumpulan sumber dan verifikasi data.
Kata Kunci :
Fakta sejarah, rekonstruksi, strukturalisme genetik Goldmann, dekonstruksi Derrida, Syekh Siti Jenar
Konsep Manusia Perspektif Syaikh Siti Jenar Dalam Novel Heptalogi Karya Agus Sunyoto
Penelitian ini bertujuan untuk membahas dan memberikan penjelasan tentang konsep manusia dalam pandangan Syaikh Siti Jenar dalam novel heptalogi karya Agus Sunyoto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun sumber primer dalam penelitian ini adalah buku novel heptalogi karya dari Agus Sunyoto yang berjumlah tujuh buku. Sedangkan data sekunder berupa artikel jurnal, makalah, dan juga dokumen lain yang mendukung dengan penelitian tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah suatu penggambaran tentang bagaimana hakikat manusia dalam Al-Qur’an dan juga bagaimana konsep manusia menurut Syaikh Siti Jenar dalam novel heptalogi karya Agus Sunyoto. Dalam pandangan Al-Quran, manusia itu memiliki tugas utama yaitu untuk beribadah kepada Allah, menjadi Khalifah di muka bumi ini dan juga memakmurkan bumi. Dan menurut Syaikh Siti Jenar, setiap manusia itu pada firtahnya adalah merdeka, tidak dibenarkan adanya konsep kawula-gusti dalam manusia juga manusia itu adalah makhluk yang memiliki keistimewaan dan makhluk yang sempurna (insan al-kamil) yang memiliki tugas sebagai wakil Allah di muka bumi ini (khalifah Allah fi al-ardh) mengubah dan memberikan pembaharuan ke arah yang lebih baik lagi bagi umat manusia
ADAT ISTIADAT DALAM NOVEL SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU KARYA AGUS SUNYOTO
Adat istiadat merupakan warisan budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang untuk generasi yang akan datang. Hal itu ditujukan agar generesi yang akan datang dapat mengenali budaya nenek moyangnya, sehingga memiliki rasa kepedulian untuk merawat serta melestarikan adat istiadat tersebut, baik yang berkaitan dengan religusitas maupun yang lainnya. Agus Sunyoto banyak menceritakan adat istiadat masyarakat Jawa Timur dan India melalui novelnya yang berjudul Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Adat istiadat dalam novel tersebut berkaitan dengan kepercayaan masyarakat dan aturan-aturan yang ada di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang adat istiadat masyarakat Jawa yang ada di daerah Jawa Timur dan adat istiadat masyarakat India yang ada di daerah Maharashtra dalam novel Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu karya Agus Sunyoto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deksriptif dengan bentuk kualitatif, yang mana dalam metode ini data yang dianalisis berbentuk deskripsi dan tidak berupa angka-angka. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan antropologi sastra. Sumber data dalam penelitian ini yaitu sumber data utama yang berupa novel Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu karya Agus Sunyoto, dan sumber data pendukung yaitu berupa buku-buku literatur pendukung yang berkaitan dengan penelitian ini. Hasil analisis data dalam penelitian ini, yaitu mengenai: (1) adat istiadat masyarakat di daerah Jawa Timur yang berkaitan dengan kepercayaan dan aturan-aturan yang terdapat di dalam masyarakat, (2) adat istiadat masyarakat di daerah India yang berkaitan dengan kepercayaan dan aturan-aturan yang terdapat di dalam masyaraka
Metode dakwah Syekh Siti Jenar dalam novel Sang Pembaharu karya Agus Sunyoto
Berdakwah murupakan tugas setiap umat Islam. Setiap muslim wajib melakukan amar ma;ruf nahi munkar. Namun dakwah pada masa sekarang ini mempunyai tantangan yang lebih kompleks. Kondisi mad’u yang sangat beragam memaksa da’i untuk menggunakan metode beragam agar mendapatkan hasil maksimal proses dakwah. Dari situ timbul pertanyaan tentang metode seperti apa yang harus dilakukan agar dakwah menjadi semakin efektif. Metode dakwah walisongo adalah salah satu metode yang dianggap paling efektif dalam penyebaran Islam di Indonesia pada zaman dahulu. Syekh Siti Jenar merupakan salah satu dari anggota walisongo yang terkenal dengan kontroversialnya, namun penulis Agus Sunyoto menemukan bahwa kontribusi Syekh Siti Jenar dalam penyebaran agama Islam juga sangat besar. Hal ini mengindikasikan bahwa Syekh Siti Jenar menggunakan Metode yang tidak biasa dalam menyiarkan agama Islam pada zamannya.Novel Sang Pembaharu karya Agus Sunyoto menjabarkan secara intrinsik perihal metode dakwah yang diaplikasikan oleh Syekh Siti Jenar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilakukan dengan library research. Adapun metode pengumpulan data adalah observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teori konten analisis konfersasi Kripendorf. Hasil penelitian ini adalah bahwa Syekh Siti Jenar menggunakan tiga metode dakwah yakni, Hikmah, Mauidzah hasanah, dan Mujadalah. Dari tiga metode ini Syekh Siti Jenar mengaplikasikannya dalam dua hal yakni pendirian dukuh Lemah Abang dengan konsep Masyarakat dan kegiatan belajar mengajar di pondok Giri Amparan Jati, Cirebon. Konsep Masyarakat ini yang mengangkat derajat sesama manusia yang pada zaman itu masih terperangkap dalam feodalisme, dan hal ini pula yang membuat proses belajar-mengajar tidak bisa dinikmati oleh semua kalangan
- …
