6,940 research outputs found

    Terapi sufistik melalui SEFT : studi analisis buku Spiritual Emotional Freedom Technique karya Ahmad Faiz Zainuddin

    Get PDF
    Pada dasarnya inti masalah yang dialami manusia adalah keadaan kejiwaan seseorang tersebut, dalam satu kondisi kejiwaan mereka berada pada titik ground yang rendah penuh dengan kemarahan, rasa ketidakmampuan, keluh kesah, keiridengkian, dendam, negative thinking, sakit hati, dan sombong. Seseorang mudah mengalami stres dalam menjalani kehidupannya bahkan mengalami depresi, gangguan jiwa sampai kepada hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka membutuhkan konseling Islam berupa penetralan atau grounding yaitu suatu metode penetralan yang diterapkan sebagai efek proses penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs) baik secara fisik, emosi, spiritual, dan sosial untuk menuju kehidupan yang sehat. Proses penetralan pada jiwa narapidana membutuhkan sebuah pelatihan yaitu pelatihan mengolah jiwa atau pelatihan menata hati dengan SEFT. Permasalahan yang diteliti adalah bagaimana terapi sufistik melalui SEFT dalam Buku Spiritual Emotional Freedom Technique karya Ahmad Faiz Zainuddin?. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis terapi sufistik melalui SEFT dalam Buku Spiritual Emotional Freedom Technique karya Ahmad Faiz Zainuddin Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis, dengan sumber data primer yaitu buku Spiritual Emotional Freedom Technique karya Ahmad Faiz Zainuddin dan sumber data sekunder yaitu buku, jurnal dan artikel tentang terapi sufistik. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah library research. Data yang terkumpul kemudian di analisis menggunakan metode content analysis dan metode deduktif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: terapi sufistik melalui SEFT dalam Buku Spiritual Emotional Freedom Technique karya Ahmad Faiz Zainuddin ditekankan pada 5 unsur penting yaitu yakin, khusyu, keikhlasan, kepasrahan dan rasa syukur melalui teknik The set-up, The tune-in, The tapping sehingga dapat menyembuhkan seseorang dari berbagi penyakit melalui kekuatan emosi dan spiritual

    PENGELOLAAN EMOSI KLIEN DENGAN SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) MENURUT AHMAD FAIZ ZAINUDDIN

    No full text
    Dalam penelitian ini peneliti mengangkat permasalahan tentang pengelolaan emosi klien dengan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) menurut Ahmad Faiz Zainuddin. Pengelolaan emosi merupakan suatu tindakan untuk mengatur pikiran, perasaan dan bagaimana merespon emosi yang dirasakannya sehingga dapat mencegah sesuatu yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique), sebuah terapi yang digagas pertama kali oleh Ahmad Faiz Zainuddin yang merupakan terapi gabungan antara kekuatan spiritual dan energi psikologi sebagai salah satu cara yang dapat mengelola emosi dengan memanfaatkan sistem energi tubuh klien. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian library research atau studi kepustakaan. Sumber data pada penelitian ini terdiri dari sumber data primer yaitu buku karya Ahmad Faiz Zainuddin dan data sekunder adalah data yang diambil dari buku – buku, artikel, jurnal dan semua sumber bacaan lain yang relevan dengan objek penelitian dan dapat dipertanggungjawabkan. Setelah data terkumpul dan dianalisis sehingga diperoleh suatu kesimpulan bahwa pengelolaan emosi klien dengan SEFT menurut Ahmad Faiz Zainuddin terbukti banyak membantu dalam mengatasi berbagai masalah emosi. Kata Kunci : Pengelolaan Emosi, SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique)

    Strategi Pengembangan Dakwah Kh. Ahmad Dahlan Di Yogyakarta Dan Tgh. Muhammad Zainuddin Abdul Majid Di Lombok (Studi Komparasi)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan strategi pengembangan dakwah KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta dan TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid di Lombok. Jenis Penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan kajian pustaka. Berdasarkan hasil penelusuran buku-buku yang ada, dapat diketahui bahwa strategi pengembangan dakwah yang dilakukan oleh kedua tokoh ini menggunakan pendekatan kultural, yaitu sama-sama konsen di bidang sosial dan pendidikan. Untuk memperkuat dan memperlancarkan jalannya dakwah keduanya mendirikan organisasi kemasyarakatan. Namun TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, selain menggunakan pendekatan kultural, ia juga menggunakan pendekatan struktural yaitu masuk partai politik. Secara prinsip kedua tokoh tersebut memiliki persamaan ideologi yaitu di samping al-qur’an dan hadist, keduanya mengacuh pada aqidah Ahlus Sunnah Wa Al-Jamaah dan Mazhab Imam Syafi’i dalam bidang fiqih.. Namun meskipun sama-sama menganut faham Ahlus Sunnah Wa Al-Jamaah, kedua tokoh ini memiliki perbedaan dalam penerapannya, KH. Ahmad Dahlan tidak menciptakan suatu tradisi di kalangan Muhammadiyah, sementara TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid melalui organisasi NW mengembangkan tarekat hizib NW dan mempraktikkan ajaran sufi yang menekankan loyalitas dan ketaatan kepada tuan guru. Dalam pengambilan hukum, kedua tokoh ini memiliki perbedaan. KH. Ahmad Dahlan memakai sumber pokok al-qur’an dan hadist ditambah dengan hasil kupasan dari kitab-kitab yang telah dibaca, kemudian diperbandingkan dan diambillah hukum yang paling sesuai dengan al-qur’an dan hadist. Dan ia tidak fanatik terhadap satu Mazhab, sedangkan TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid secara tegas menganut Mazhab Imam Syafi’i. Secara teologi, KH. Ahmad Dahlan kembali pada pendapat para ulama salaf dan dia tidak suka berpikir secara mendalam tentang hal itu. Pemikirannya memang banyak menunjukkan segi paraktis dari agama. Sedangkan TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, teologinya mengacu pada teologi al-Asy’ari dan al-Maturidi, namun tidak semua apa yang telah dirumuskan oleh Asy’ari dan al-Maturidi, diambil oleh TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, ia hanya mengambil beberapa saja dari pemikiran kedua teologi di atas yaitu paham tentang wahyu, sifat-aifat Allah dan tentang perbuatan manusia. Kat

    Strategi dakwah Ahmad Zainuddin Al-Banjary pada akun media sosial Instagram @RifqanTV

    Get PDF
    Kehadiran media khususnya media komunikasi internet banyak dimanfaatkan oleh para aktivis dalam kegiatan dakwahnya. Dakwah tidak hanya dilakukan secara langsung melalui mimbar, saat ini dakwah juga dilakukan di media sosial. Salah satu aktivis dakwah yang menggunakan media sosial sebagai media dakwah yaitu Ahmad Zainuddin Al Banjary melalui instagram dengan akun bernama @Rifqantv. Akun Instagram @rifqantv ini menyampaikan banyak. Pesan dakwah yang memotivasi, memberi nasihat persoalan yang mebdasar seperti keyakinan, aqidah, akhlak juga syariat. Tujuan penelitian ini untuk strategi dakwah Ahmad Zainuddin Al Banjary pada akun media sosial instagram @rifqantv dengan pendekatan sentimentil, rasional dan juga indrawi. Teori yang digunakan yaitu teori strategi dakwah Al Bayanuni yang lebih menekankan pada unsur pendekatan dakwah sentimentil, pendekatan dakwah rasional dan juga pendekatan dakwah indrawi. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif yang digunakan untuk menganalisis strategi dakwah yang dilakukan Ahmad Zainuddin Al-Banjary pada akun media sosial instagram @rifqantv. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa akun Instagram @rifqantv menghasilkan materi dakwah yang menekankan pada aspek emosional, kekeluargaan, kasih sayang, serta penggunaan kisah kisah yang membangkitkan perasaan pengikutnya sebgai bentuk strategi sentimentil. Pendekatan yang didasarkan logika dan argumentasi yang kuat, seperti penjelasan ayat-ayat Al- Quran, Hadis, atau argumen-argumen ilmiah yang relavan dengan konteks yang dibahas sebagai bentuk strategi rasional. Selain itu, akun ini juga memilih untuk mengangkat topik kontroversial sebagai bagian dari strategi yang logis dan terencana serta menunjukkan keteladanan melalui konten-konten yang diposting dengan pengemasan konten dalam bentuk video, audio, dan poster sebagai bentuk strategi indrawi

    Jinās dalam Kitab Fathul Mu'in Karya Ahmad Zainuddin Alfannani Bab (Shalat, Zakat, Puasa, Haji dan Umrah, Jual Beli, dan Ijarah) Kajian Ilmu Badi'.

    No full text
    Penelitian ini berangkat dari Kenyataan bahwa kitab-kitab terdahulu banyak terdapat keindahan bahasa, baik dari segi lafadz maupun makna. Kitab Kitab Fathul Mu'in merupakan salah satu kitab yang dikarang oleh Ahmad Zainuddin Alfannani, kitab ini membahas tentang fiqih dalam kitab ini cukup lengkap karena mencangkup bab thaharah hingga jinayat atau pidana,. Kitab Fathul Mu'in merupakan salah satu kitab yang banyak terdapat keindahan bahasa didalamnya, yaitu jinās,. Jinās adalah keserupaan dua lafadz dalam pengucapan, akan tetapi makna keduanya berbeda. Dalam penelitian ini bermaksud melakukan analisis jinas yang terdapat dalam Kitab Fathul Mu'in, dan berdasarkan latar belakang tersebut, maka masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1) Jinās apa saja yang terdapat dalam Kitab Fathul Mu'in Karya Ahmad Zainuddin Alfannani Bab (Sholat, Zakat, Puasa, Haji dan umrah, jual beli, dan ijarah ) Karya Ahmad Zainuddin Alfannani, 2) Bentuk Jinās apa saja yang terdapat dalam Kitab Fathul Mu'in Karya Ahmad Zainuddin Alfannani Bab (Sholat, Zakat, Puasa, Haji dan umrah, jual beli, dan ijarah ) Karya Ahmad Zainuddin Alfannani.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis, metode deskriptif analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta kemudian disusul dengan analisis. Metode deskriptif analisis tidak semata-mata menguraikan melainkan juga memberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya tentang jinās dalam Kitab Fathul Mu'in dengan menggunakan pendekatan ilmu balāghah. Setelah melakukan penelitian, maka peneliti menarik hasil dari analisis, bahwa jenis dan bentuk Jinās yang terdapat dalam kitab Fathul Mu'in Bab (Sholat, Zakat, Haji Haji dan umrah, jual beli, ijarah) karya Ahmad Zainuddin Bin Abdul Aziz Alfannani adalah : jenis Jinās, berjumlah 87 jenis Jinās, yang Meliputi 7 jenis Jinās, yaitu Jinās tām mumāsil, Jinās tām mustaufi, Jinās ghair tām naqis mudhōri', Jinās tām , Jinās ghair tām naqis lāhi), Jinās ghair tām qolab kul, dan Jinās ghair tām qolab ba'di kulk, dan Bentuk Jinās, berjumlah 145 bentuk, yaitu terdiri dari susunan fi'il (kata kerja) dan isim (kata benda). Fi'il tersebut adalah fi'il Mādi dan Fi'il Mudōri. Isim yang terdapat dalam kitab tersebut adalah isim masdar, isim fa'il isim maf'ul dan isim jamid

    Konsep Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) Ahmad Faiz Zainuddin dan implementasinya dalam konseling Islam

    Get PDF
    Nila Fatmah Izzatun Nashroh (1601016095) Hampir semua praktik konseling membutuhkan model-model terapi yang dapat membantu keberhasilannya, termasuk konseling Islam. Salah satu konsep terapi yang dapat digunakan dalam konseling Islam ialah konsep terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) yang dirancang oleh Ahmad Faiz Zainuddin. Pada kesempatan ini penulis ingin menguraikan bagaimana pengaplikasian konsep tersebut pada proses konseling Islam. penulis tertarik mengambil konsep yang memadukan antara aspek jasmani, psikis dan spiritual tersebut karena kemudahan dan kesederhanaan tekniknya serta ia dapat dipelajari oleh semua orang dari berbgai kalangan dan umur. Sesuai dengan judulnya penelitian ini ingin menjawab 2 permasalahan utama, yakni bagaimana konsep SEFT Ahmad Faiz Zainuddin dan bagaimana pula implementasinya pada konseling Islam. pada penelitian ini peneliti menggunakan metode countent analisi dengan bersumber pada dokumen-dokumen pustaka serta menggunakan pendekatan deskriptif analitis dengan harapan dapat menggambarkan teknik SEFT dengan baik dan benar serta teranalisis sesuai dengan syarat dan sistematika penulisan ilmiah. Hasilnya penelitian ini menunjukkan bahwa konsep konsep SEFT Ahmad Faiz Zainuddin merupakan sebuah konsep yang memang dirancang untuk membantu individu yang membutuhkan bimbingan untuk mengatasi persoalam-persoalan hidup yang dialaminya, baik persoalan fisik maupun emosi. Selain itu konsep tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang yang didasarkan pada kekuatan Allah SWT, melalui tahap awal berupa Set Up, tahap kedua adalah proses tune-in dan tahap ketiga adalah proses Tapping. Konsep ini memiliki kelebihan yaitu mampu menyinergikan antara Spiritual Power dengan Energy Psychology. Namun disamping itu ia juga memiliki kelemahan, yaitu sulitnya mengukur keberhasilan SEFT, karena 90% konsep tersebut menitikberatkan pada spiritulitas. Hasil analisis lainnya juga menunjukkan bahwa Konsep SEFT dapat diimplementasikan di dalam Konseling Islam mengingat beberapa hal, yaitu: Pertama, antara SEFT dan Konseling Islam menitikberatkan kepada penyelesaian permasalahan berdasarkan spiritualitas atau agama. Kedua, metode yang digunakan tidaklah berbeda. Baik SEFT maupun Konseling Islam dapat dilaksanakan secara individual maupun kelompok serta dapat dilakukan dengan metode al-hikmah, al-mauidzah al-hasanah ataupun al-mujadalah. Ketiga, Asas-asas Konseling Islam tercover dalam kelima kunci keberhasilan SEFT (yakin, khusyu, keikhlasan, kepasrahan dan rasa syukur) yang digagas oleh Ahmad Faiz Zainuddin. Keempat, teknik-teknik yang dilakukan dalam SEFT tidak bertentangan dengan ajaran Islam, justru dalam teknik-teknik tersebut dilakukan sebagai bagian dari penanganan permasalahan langsung pada titik fokusnya. Penerapan atau implementasi teknik SEFT pada bimbingan konseling islam harus memperhatikan langkah-langkah yang sesuai dengan tahapan konseling Islam. Langkah pertama yaitu identifikasi masalah, langkah kedua diagnosis, tahapan selanjutnya terapi dengan SEFT, dan yang terakhir mengevaluasi keberhasilan teknik yang sudah diberikan kepada klien

    STUDI KOMPARASI RUJUK TANPA IZIN ISTRI PERSPEKTIF SYEKH AHMAD ZAINUDDIN AL-MALIBARI DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM (KHI)

    Get PDF
    Talak menurut bahasa berarti melepas tali dan membebaskan. Talak dibenarkan oleh agama, akan tetapi ia merupakan Tashri’ yang bersifat pengecualian dikarenakan adanya situasi yang darurat setelah gagal melakukan berbagai upaya penyelamatan. Setelah terjadinya talak, agama islam memperbolehkan rujuk kembali tanpa harus adanya saksi sepanjang dalam masa iddah, hal ini menunjukkan bahwa sebisa mungkin talak harus dihindari. Rujuk adalah kembalinya suatu ikatan pernikahan setelah terjadinya perceraian kepada pernikahan yang sebelumnya terjadi perceraian. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalah: Bagaimana konsep rujuk tanpa izin istri perspektif Syekh Ahmad Zainuddin Al-Malibari dan KHI dan bagaimana persamaan dan perbedaan konsep rujuk tersebut, serta bertujuan untuk mengetahui bagaimana alasan adanya persamaan dan berbedaan konsep rujuk Perspektif Syekh Ahmad Zainuddin Al-Malibari dan KHI. Jenis penelitian ini adalan penelitian kepustakaan (Library Research). Sumber data dari penelitian ini meliputi data primer yang berasal dari Kitab Fathul Mu’in dan bersumber dari data sekunder yang berasal dari buku-buku, jurnal, skripsi, dan dari internet atau web. Adapun data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan teori rujuk. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: pertama, rujuk yang dipaparkan peneliti perspektif Syekh Ahmad Zainuddin Al-Malibari adalah ketika mantan suami hendak merujuk mantan istrinya maka tidak perlu adanya persetujuan dari pihak mantan istri, dengan catatan istri yang hendak dirujuk masih dalam masa iddah. Sedangkan konsep rujuk yang terpapar dalam KHI adalah ketika mantan suami hendak merujuk mantan istrinya maka harus ada persetujuan dari mantan istrinya, hal ini di karenakan talak tidak dapat dilakukan secara sepihak karena dalam pelaksanaanya harus ada izin dari Pengadilan. Pengadilan mengabulkan hak talak jika ada persetujuan dari istri. Dengan demikian yang memiliki kepentingan untuk rujuk adalah suami dan istri, sehingga persetujuan dari istri juga diperlukan. Kedua, adapun perbedaan konsep rujuk ialah dalam KHI ketika mantan suami hendak rujuk maka harus dengan izin istri sedangkan menurut Syekh Ahmad Zainuddin Al-Malibari tidak memerlukan izin dari mantan istri. Ketiga, alasan adanya perbedaan dan persamaan adalah konsep rujuk perspektif Syekh Ahmad Zainuddin Al-Malibari ini terjadipada zaman dahulu, sedangkan konsep dalam KHI ini terjadi setelah adanya pembaharuan hukum sehingga sangat menjunjung hak dan martabat seorang perempuan. Kata Kunci: Konsep Rujuk, Persamaan dan Perbedaan Konsep Rujuk, Alasan Persamaan dan Perbedaan

    Jinās dalam Kitab Fathul Mu'in Karya Ahmad Zainuddin Alfannani Bab (Shalat, Zakat, Puasa, Haji dan Umrah, Jual Beli, dan Ijarah) (Kajian Ilmu Badī)

    Get PDF
    This research departs from the fact that the previous books contained many beauties, both in terms of lafadz and meaning. The Fathul Mu'in Book is one of the books written by Ahmad Zainuddin Alfannani, this book discusses the jurisprudence in this book is quite complete covering the chapter thaharah for jinayat or law. The book Fathul Mu'in is one of the books which is more the beauty of language in it, namely jin. Jinn language is the likeness of two lafadz in pronunciation, but the meaning is different. In this study discuss the analysis contained in the Book of Fathul Mu'in, and based on this background, the research is formulated as follows: 1) What is included in the Book of Fathul Mu'in by Ahmad Zainuddin Alfannani Chapter (Prayer, Zakat, Fasting) , Hajj and Umrah, buying and selling, and ijarah) The work of Ahmad Zainuddin Alfannani, 2) Any form of Jinapa which is included in the Book of Fathul Mu'in by Ahmad Zainuddin Alfannani Chapter (Prayer, Zakat, Fasting, Hajj and Umrah, buying and selling, and ijarah) The work of Ahmad Zainuddin Alfannani. This study uses descriptive analysis method, descriptive analysis method is done by describing the facts then followed by analysis. The descriptive method of analysis is not only eye-breaking, but also provides sufficient understanding and explanation of jinās in the Fathul Mu'in book by understanding Balāghah. After conducting the research, the researcher draws the results of the analysis, that the types and forms of Jinās contained in the Fathul Mu'in Chapter (Prayer, Zakat, Hajj and Umrah, buying and selling, ijarah) by Ahmad Zainuddin Bin Abdul Aziz Alfannani are: types Jinās, numbering 87 kinds of Jinās, which includes 7 types of Jinās, namely Jinās tām mumāsil, Jinās tām mustaufi, Jinās ghair tām naqis mudhōri ', Jinās tām, Jinās ghair tām naqis lāhi), Jinās ghair tām qolab kul, and Jinās ghair tām qolab ba'di kulk, and Form Jinās, totaling 145 forms, which consist of fi'il (verb) and isim (noun) arrangement. The fiil is fi'il Mādi and Fi'il Mudōri. The isim in the book is masdar isim, isim fa'il isim maf'ul and isim jamid

    JinÄs dalam Kitab Fathul Mu’in Karya Ahmad Zainuddin Alfannani Bab (Shalat, Zakat, Puasa, Haji dan Umrah, jual beli, dan Ijarah) Kajian Ilmu Badi’.

    No full text
    Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa kitab-kitab terdahulu banyak terdapat keindahan bahasa, baik dari segi lafadz maupun makna. Kitab Kitab Fathul Mu’in merupakan salah satu kitab yang dikarang oleh Ahmad Zainuddin Alfannani, kitab ini membahas tentang fiqih dalam kitab ini cukup lengkap karena mencangkup bab thaharah hingga jinayat atau pidana,. Kitab Fathul Mu’in merupakan salah satu kitab yang banyak terdapat keindahan bahasa didalamnya, yaitu jinÄs,. JinÄs adalah keserupaan dua lafadz dalam pengucapan, akan tetapi makna keduanya berbeda. Dalam penelitian ini bermaksud melakukan analisis jinas yang terdapat dalam Kitab Fathul Mu’in, dan berdasarkan latar belakang tersebut, maka masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1) JinÄs apa saja yang terdapat dalam Kitab Fathul Mu’in Karya Ahmad Zainuddin Alfannani Bab (Sholat, Zakat, Puasa, Haji dan umrah, jual beli, dan ijarah ) Karya Ahmad Zainuddin Alfannani, 2) Bentuk JinÄs apa saja yang terdapat dalam Kitab Fathul Mu’in Karya Ahmad Zainuddin Alfannani Bab (Sholat, Zakat, Puasa, Haji dan umrah, jual beli, dan ijarah ) Karya Ahmad Zainuddin Alfannani.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis, metode deskriptif analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta kemudian disusul dengan analisis. Metode deskriptif analisis tidak semata-mata menguraikan melainkan juga memberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya tentang jinÄs dalam Kitab Fathul Mu’in dengan menggunakan pendekatan ilmu balÄghah. Setelah melakukan penelitian, maka peneliti menarik hasil dari analisis, bahwa jenis dan bentuk JinÄs yang terdapat dalam kitab Fathul Mu’in Bab (Sholat, Zakat, Haji Haji dan umrah, jual beli, ijarah) karya Ahmad Zainuddin Bin Abdul Aziz Alfannani adalah : jenis JinÄs, berjumlah 87 jenis JinÄs, yang Meliputi 7 jenis JinÄs, yaitu JinÄs tÄm mumÄsil, JinÄs tÄm mustaufi, JinÄs ghair tÄm naqis mudhÅri’, JinÄs tÄm , JinÄs ghair tÄm naqis lÄhi), JinÄs ghair tÄm qolab kul, dan JinÄs ghair tÄm qolab ba’di kulk, dan Bentuk JinÄs, berjumlah 145 bentuk, yaitu terdiri dari susunan fi’il (kata kerja) dan isim (kata benda). Fi’il tersebut adalah fi’il MÄdi dan Fi’il MudÅri. Isim yang terdapat dalam kitab tersebut adalah isim masdar, isim fa’il isim maf’ul dan isim jamid. Â

    JINĀS DALAM KITAB FATHUL MU’IN KARYA AHMAD ZAINUDDIN ALFANNANI BAB (SHALAT, ZAKAT, PUASA, HAJI DAN UMRAH, JUAL BELI, DAN IJARAH) (KAJIAN ILMU BADĪ)

    No full text
    This research departs from the fact that the previous books contained many beauties, both in terms of lafadz and meaning. The Fathul Mu\u27in Book is one of the books written by Ahmad Zainuddin Alfannani, this book discusses the jurisprudence in this book is quite complete covering the chapter thaharah for jinayat or law. The book Fathul Mu\u27in is one of the books which is more the beauty of language in it, namely jin. Jinn language is the likeness of two lafadz in pronunciation, but the meaning is different. In this study discuss the analysis contained in the Book of Fathul Mu\u27in, and based on this background, the research is formulated as follows: 1) What is included in the Book of Fathul Mu\u27in by Ahmad Zainuddin Alfannani Chapter (Prayer, Zakat, Fasting) , Hajj and Umrah, buying and selling, and ijarah) The work of Ahmad Zainuddin Alfannani, 2) Any form of Jinapa which is included in the Book of Fathul Mu\u27in by Ahmad Zainuddin Alfannani Chapter (Prayer, Zakat, Fasting, Hajj and Umrah, buying and selling, and ijarah) The work of Ahmad Zainuddin Alfannani. This study uses descriptive analysis method, descriptive analysis method is done by describing the facts then followed by analysis. The descriptive method of analysis is not only eye-breaking, but also provides sufficient understanding and explanation of jinÄs in the Fathul Mu\u27in book by understanding BalÄghah.            After conducting the research, the researcher draws the results of the analysis, that the types and forms of JinÄs contained in the Fathul Mu\u27in Chapter (Prayer, Zakat, Hajj and Umrah, buying and selling, ijarah) by Ahmad Zainuddin Bin Abdul Aziz Alfannani are: types JinÄs, numbering 87 kinds of JinÄs, which includes 7 types of JinÄs, namely JinÄs tÄm mumÄsil, JinÄs tÄm mustaufi, JinÄs ghair tÄm naqis mudhÅri \u27, JinÄs tÄm, JinÄs ghair tÄm naqis lÄhi), JinÄs ghair tÄm qolab kul, and JinÄs ghair tÄm qolab ba\u27di kulk, and Form JinÄs, totaling 145 forms, which consist of fi\u27il (verb) and isim (noun) arrangement. The fiil is fi\u27il MÄdi and Fi\u27il MudÅri. The isim in the book is masdar isim, isim fa\u27il isim maf\u27ul and isim jamid
    corecore