1,720,984 research outputs found

    GAYA TILAWAH JAWI MUHAMMAD YASER ARAFAT

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini berjudul GAYA TILAWAH JAWI MUHAMMAD YASER ARAFAT. Kehebohan lantunan al-Qur’an saat acara Isra’ Mi’raj di Istana Negara pada Jum’at 15 Mei 2015 telah menuai pro dan kontra. Yaser yang didapuk sebagai Qari’ oleh Menteri Agama dinilai tidak lazim dalam membaca al-Qur’an oleh beberapa kalangan ulama. Kecaman ini kian meningkat saat diunggahnya video bacaan Yaser melalui situs youtube. Berdasarkan ilmu pengetahuan mengenai pelaguan al-Qur’an, Yaser yang dihimpit berbagai kecaman, pada kenyataannya tetap konsisten dengan tilawah jawi yang dirapalkannya. Fenomena tilawah jawi Yaser dibahas baik dari musikalitas dan virtuositasnya. Hal-hal yang berkaitan dengan individu dan kehidupan sosial, kultur, yang mempengaruhi kesenimanan seorang Yaser sebagai Qari’ untuk tetap konsisten pada tilawah jawi-nya. Hal ini menjadi penting menilik latar belakang Yaser sebagai orang Sumatera Utara – Batak, dengan marga Sitorus. Berdasarkan kenyataan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang lahirnya tilawah jawi yang menuai kontroversi serta latar belakang seorang Yaser sebagai tokoh yang disoroti. Sosok Yaser akan dilihat berdasarkan kehidupan, proses pembentukan dan perkembangan kesenimanan, sehingga dapat diketahui faktor-faktor yang menjadi alasan Yaser memasukkan unsur musik Jawa dalam tilawah. Proses kreatif Yaser diungkap dengan melihat gaya musik Yaser dalam Seni Tilawati Qur’an. Pendekatan biografi dan analisis gaya musik adalah dua elemen penting yang dibahas dalam bab ini mengungkap permasalahan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, studi data tertulis, dan dokumen. Analisis proses kesenimanan dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan kesimpulan. Selanjutnya dilakukan analisis bentuk dan struktur musik untuk melihat gaya musik Yaser. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bakat seni, kesenangan, serta dukungan sosial di sekitar Yaser merupakan faktor utama yang membentuk sikap konsisten Yaser untuk memilih hidup menjadi seniman –Qari’ tilwah jawi. Yaser telah memberikan kontribusi dengan melahirkan karya baru, yaitu melagukan al-Qur’an dengan membubuhkan unsur musik Jawa ke dalam tilawahnya tanpa merusak hukum-hukum tajwid. Yaser merupakan seniman yang kreatif hal ini dapat dibuktikan Yaser dengan membuat bentuk dan struktur lagu baru pada Seni Tilawatil Qur’an, yaitu dengan mengganti sistem maqamat arabiyah dengan laras pelog nem. Kata Kunci: Kontroversi; Kesenimanan; Gaya Musik; Kreati

    NISAN HANYAKRAKUSUMAN Batu Keramat dari Pasarean Sultanagungan di Yogyakarta

    Full text link
    Mulai tahun 2003 saya tinggal di daerah Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Lazimnya orang NU, maka di antara hal yang pertama-tama menarik perhatian saya adalah beberapa makam tua. Lantas saya menulusuri makam tua yang berada dekat dengan tempat tinggal saya. Makam tersebut oleh masyarakat sekitar disebut Ki Jogo Tamu. Terlintas pertanyaan di benak saya, kenapa nama makam itu Ki Jogo Tamu, dan siapakah beliau tersebut? Saya juga menelusuri makam tua ke arah Piyungan terus ke timur hingga naik ke puncak bukit. Di sana ada Dusun Jalasutra yang masih termasuk Kelurahan Srimulyo. Saya kaget mendengar cerita juru kunci dan cerita masyarakat setempat. Ternyata makam di Jalasutra tersebut berhubungan dengan kisah para wali, terutama Sunan Kalijaga dan Sunan Geseng. Di Dusun Jalasutra itu ada upacara budaya kupatan. Dua puluh tahunan sebelumnya saya mendengar cerita bahwa upacara itu digelar untuk memperingati Sunan Kalijaga. Hanya saja, pada tahun 1980-an hingga saat ini tokoh yang diperingati adalah Sunan Geseng. Kabar lain lagi saya dapatkan ketika saya membaca Serat Babad Jalasutra yang menyebutkan bahwa makam yang disebut “Sunan Geseng” itu adalah Sunan Panggung. Tokoh terakhir ini, dalam Suluk Malang Sumirang, dikisahkan pernah dibakar di Demak. Setelah apinya padam, ia malah keluar dari sisa-sisa pembakaran dengan membawa naskah suluk tulisan tangannya. Setelah itu ia berjalan pergi ke selatan dan sampai di Bukit Jalasutra ini. Satu versi kisah menyebut bahwa Sunan Panggung adalah Tatanan Islam Berkebudayaan Pada Era Sultan Agung M. Jadul Maula Lesbumi PB Nahdlatul Ulama x xiv X NISAN HANYAKRAKUSUMAN cucunya Syekh Siti Jenar, dan dengan demikian, menurut satu versi itu, ia adalah putranya Sunan Kalijaga. Dari kabar-kabar ini saya menemukan bahwa bukit Jalasutra itu dikaitkan dengan banyak nama wali. Mulai dari Sunan Kalijaga, Sunan Geseng, Sunan Panggung, dan sekilas saya juga mendengar nama Sunan Bayat. Tentu saja banyak pertanyaan tentang kebenaran siapakah sebenarnya yang dimakamkan di sana. Pada akhirnya saya jadi sadar bahwa kawasan Yogyakarta ini adalah medan perjuangan dan dakwah para wali. Pada titik ini, saya tentu tidak menelusuri makam-makam itu secara sistematis, akademis, dan ilmiah sebagaimana dikerjakan M. Yaser Arafat di buku ini. Saya hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyimpulkan berdasarkan bacaan-bacaan masyhur perihal dakwah para wali di Yogyakarta

    Arafat y Palestina: un legado oneroso

    Full text link
    La muerte de Yaser Arafat abre la posibilidad de que surja un liderazgo palestino democrático y legítimo. La muerte del líder palestino Yaser Arafat abre una nueva era, auguran políticos, expertos y analistas de todo el mundo. La mayoría de los centenares, si no miles, de comentarios publicados en las últimas semanas coinciden por lo menos en que su desaparición podría permitir la reapertura de la ventana de oportunidad cerrada estrepitosamente tantas veces anteriores (para alguno se trata incluso de “una puerta grande que se abre de par en par”). Efectivamente, quedó entreabierto un resquicio en la ventana de oportunidad, pero en lugar de la brisa de esperanza que muchos presagian y desean, podrían muy bien soplar nuevamente los vientos de guerra que la cierren estrepitosamente por enésima vez si los líderes de ambas partes y las potencias involucradas no actúan coherentemente

    Andante 11. Orfeón Donostiarra, boletín trimestral de divulgación de nuestra actividad

    Full text link
    "MAAZEL, Batuta magma", "Lugar privilegiado", "Jesús López Cobos resucita el Stabat Mater de Rossini", "En homenaje al amigo CHILLIDA", "Estreno Mundial de TERRA SANTA obra encargada por Yaser Arafat a Fernando Arbex", "Andre Maria, bigarren etxea", "Exito con"FIDELIO" en el Festival de Peralada", "'Iván el Terrible' en Santiago de Compostela", "Concierto Sacro en Torreciudad"

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Respons Pesindhen dan Qari’ Terhadap Lantunan Al-Qur’an Langgam Jawa

    Full text link
    Javanese Qur'an chants performed by Yaser Arafat at the State Palace in 2015 during the commemoration of Isra' Mi'raj. The use of Javanese musicals influenced the formation of Javanese cloves in his singing. Javanese cloves as decorations for chanting the Qur'an should be able to make people who listen to it interested. However, in fact it caused controversy. This study aims to determine the Javanese clove formed and the response of a pesindhen and qari'-qari'ah to the chanting of the Javanese Qur'an. The research method used is a qualitative research method with a a musicological approach and case studies. This research has the object to be studied, namely the chanting of QS. Al-Isra' verse 1 and QS. An-Najm verses 1-15. Data collection was carried out by means of desk-based research, interviews, documentation and literature studies which were analyzed musicologically and using the Miles and Huberman model. The results showed that the chanting of the Javanese Qur'an by Yaser Arafat found Javanese cloves in the form of luk. Luk was formed accidentally by adjusting the law of tajweed. Pesindhen's response still appreciates his chants even though only luk was found. However, it does not agree with the use of macapat Pangkur. Similarly, reciters do not approve of using macapat Pangkur in their chants. Meanwhile, the reciter gave a response that did not approve of his chanting because he adhered to the hadith and maqamat of Al-Arabiyyah

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods
    corecore