66 research outputs found

    PENGARUH KOMUNIKASI PEMASARAN TERHADAP KEPUTUSAN MEMBELI PADA HERO SUPERMARKET GATOT SUBROTO

    No full text
    PUSPITA LIANTI PUTRI. 2009. The Impact of Marketing Communication to Purchase Decision at Hero Supermarket Gatot Subroto. DIII Marketing Management Study Program. Departement of Management. Faculty of Economics. Satate University of Jakarta. Scientific work aims to determine the impact of marketing communications to purchase decision at Hero Supermarket Gatot Subroto. The author takes the title is to know about marketing communication activities conducted Hero Supermarket Gatot Subroto and find out whether or not the impact of marketing communications to purchase decision at Hero Supermarket Gatot Subroto. The method used in this research is descriptive analysis by using data gathered through a literature study, interviews and questionnaires. Type of scale used is a Likert scale. The sampling technique used by random sampling. In this study the authors used the technique of data analysis qualitative and quantitative with product moment correlation. From the result of this scientific work we can conclude that the presence of a positive relationship between marketing communication with purchase decision at Hero Supermarket Gatot Subroto is 0.55 and the magnitude of the impact of marketing communications in Hero Supermarket Gatot Subroto explained the purchase decision is 30.25% with a significance level 5% ( = 5%). Thus we can conclude that H0 is rejected and H1 is accepted

    PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK PENANAMAN NILAI-NILAI LOKAL

    No full text
    Persaingan pada abad ke-21 ini telah dilanda oleh arus egoisme dan sektarianisme. Akibatnya penanaman nilai-nilai lokal melalui pendidikan menjadi kurang mampu dilakukan dengan optimal. Salah satu mata pelajaran yang secara eksplisit bertugas menanamkan nilai-nilai lokal yaitu sejarah, juga kurang mampu menunaikan tugas dengan optimal. Permasalahan yang dikaji dalam tulisan ini adalah mengapa pelajaran sejarah tidak mampu bekerja optimal? Dari penelusuran terhadap buku teks pelajaran sejarah untuk kurikulum 2013 dan berbagai penelitian yang telah dilakukan, dua permasalahan utama yang menjadi kendala pelajaran sejarah di SMA adalah materi dan proses pembelajarannya. Materi pelajaran sejarah lebih menonjolkan keunggulan bangsa asing dan pengaruhnya terhadap masyarakat Indonesia. Akar permasalahannya adalah terdapatnya unsur neo-kolonialisme dan kepentingan kelompok penguasa yang mempengaruhi konstruksi materi pelajaran sejarah. Di pihak lain, proses pembelajaran sejarah terkendala oleh kapabilitas guru dan metode yang diterapka

    Evaluasi Kualitas Visual Koridor Berdasarkan Persepsi Pejalan Kaki (Studi Kasus: Jl. Laksamana Martadinata dan Gatot Subroto, Kota Malang)

    No full text
    Koridor Jalan Laksamana Martadinata dan Jalan Gatot Subroto meruapakan salah satu koridor di Kota Malang dengan aktivitas yang padat dan direncanakan sebagai pengembangan kawasan perdagangan jasa berupa pusat perbelanjaan. Aktivitas ini mendorong pertumbuhan dan perkembangan kawasan menjadi cepat sehingga memengaruhi perkembangan kondisi fisik kawasan yang kurang serasi dengan lingkungan sekitarnya. Seiring dengan perubahan kondisi fisik ini maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas visual koridor serta memberikan arahan rekomendasi yang sesuai dengan persepsi pejalan kaki. Penilaian kualitas visual dari pejalan kaki akan dianalisis menggunakan Scenic Beauty Estimation (SBE) yang kemudian dikombinasikan dengan penilaian Analytical Hierarchy Process (AHP) melalui para ahli untuk mengetahui prioritas pembobotan kriteria penataan koridor. Metode pengambilan sampel masyarakat ditetapkan menggunakan metode accidental sampling dimana responden merupakan seluruh pejalan kaki yang melintasi Koridor Jalan Laksamana Martadinata dan Jalan Gatot Subroto. Penetapan tiga sampel ahli dipilih sesuai dengan bidang yang berkaitan dengan perancangan kota dan desain arsitektur. Melalui penilaian SBE ditemukan 8 foto tergolong dalam kualitas visual tinggi, 5 foto dengan kualitas visual sedang, dan 9 foto berkualitas visual rendah. Sementara itu, melalui penilaian AHP berdasarkan ahli ditemukan bahwa aspek visual sesuai dengan urutan prioritas pembobotannya dalam menunjang koridor diawali oleh keindahan, kebersihan, landmark, keleluasaan visual, warna bangunan, vegetasi, bentuk bangunan, skala bangunan, dan keseimbangan elemen. Hasil dari hubungan kedua analisis ini akan digunakan dalam menyusun arahan rekomendasi penataan visual koridor Jalan Laksamana Martadinata dan Jalan Gatot Subroto. Berdasarkan hasil ditunjukkan bahwa lansekap dengan nilai kualitas visual yang tinggi berada pada Segmen 3 dan Segmen 4. Sementara itu, nilai kualitas visual yang rendah berada pada Segmen 1 dan Segmen 2. Lansekap dengan kualitas visual tinggi ini akan dijadikan8 sebagai acuan rekomendasi penataan bagi lansekap dengan kualitas visual rendah. Rekomendasi penataan visual koridor ini akan disesuaikan dengan aspek material, dominansi, skala, kesatuan, dan kenyamanan

    POWER SHIFT AND SOCIO-POLITICAL CHANGES ON BANJARMASIN IN 19TH-20TH CENTURY

    No full text
    The arrival of Dutch at Banjarmasin has become the historical pillar which signifies the changes in the life of people in many aspects. In an economic aspect, it introduced money economy. From a political aspect, it created centered administration and managed government system. This system management was refuted by the nobles because it did not suit local people system which had been long established and passed down from generation to generation. Despite this objection, the colonial government insisted on performing the management of government system in order to achieve its political goal.After the conquest of Banjarmasin in 1860, the power of colonial government got stronger. As a result, the government performed the implementation of policies and consolidation in the effort to manage administration. The Dutch Colonial government kept insisting on the idea of the administration management to ensure monitoring and centralized governance. The government’s policy had greatly influenced the mind set and perspective of the society about the importance of administration. The implementation of this administration system on the city government has resulted in changes which are greatly contrast with the prevailing culture. The status of people was no longer determined by its family background, but their position in government determined the level of social status. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v12i22017p12

    Jaksa dengan berbagai kasus kontroversial

    No full text
    Intelijen Kejaksaan adalah lnteiijen Yustisial yang diarahkan untuk mendukung pelaksanaan tugas penegakan hukum dengan mengedepankan intelijen yang berbasis informasi agar dapat mendeteksi dini dalam melakukan tugas penyelidikan mengolah informasi guna dilaporkan/disampaikan kepada pimpinan untuk diambil keputusan dan dilaksanakan oleh bidang yang berwenang untuk itu

    PENGARUH PENERAPAN SISTEM INFORMASI AKADEMIK PANCASAKTI (SIAP) DAN KUALITAS PELAYANAN ADMINISTRASI TERHADAP TINGKAT KEPUASAN MAHASISWA (Studi Kasus Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan mengindentifikasi penerapan aplikasi sistem informasi akademik pancasakti (SIAP) dan kualitas pelayanan di dalam meningkatkan kepuasan mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan objek penelitian mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal. Pendekatan menggunakan purposive sampling method dan rumus Yamane. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 mahasiswa. Dengan menggunakan analisis data regresi linear berganda, Uji T, Uji F dan Koefisien Determinasi. Penelitian ini menemukan bahwa Sistem Informasi Akademik Pancasakti (SIAP) dan Kualitas Pelayanan Administrasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan mahasiswa. Dan secara parsial sistem informasi akademik pancasakti berpengaruh signifikan terhadap kepuasan mahasiswa, Kualitas Pelayanan Administrasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan mahasiswa. Hasil penelitian juga menkorfimasi atas penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya

    PELATIHAN MENJADI PEMANDU WISATA BERBAHASA INGGRIS GUNA PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA DI DESA KARANG BUNGA

    No full text
    This training activity aims to improve the ability of local tour guides in mastering English and readiness to become guides in interacting with domestic and foreign tourists. The location of the service is located in Karang Bunga Village, Mandastana District, Barito Kuala Regency, South Kalimantan Province. The training was held in July and attended by 30 participants. The method used in the training uses the lecture method, practice, and mentoring. At the end of the training, participants are required to take an English test. The results of the training show that tour guides in the transmigration village of Karang Bunga Village get good results for areas that are newly opened natural tourist destinations. This training is carried out as an effort so that when foreign tourists visit Karang Bunga Village, the people in the village can easily explain their natural tourism.Kegiatan pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan para pemandu wisata lokal dalam penguasaan bahasa Inggris dan kesiapan menjadi pemandu dalam berinteraksi dengan para wisatawan nusantara maupun wisatawan asing. Lokasi pengabdian bertempat di Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Pelatihan dilaksanakan pada bulan Juli dengan diikuti 30 peserta. Metode yang digunakan dalam pelatihan menggunakan metode ceramah, praktik, serta pendampingan. Pada akhir pelatihan, peserta dituntut untuk mengikuti tes bahasa Inggris. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa pemandu wisata di kampung transmigrasi Desa Karang Bunga mendapatkan hasil yang bagus untuk daerah yang baru dibuka tujuan wisata alam. Pelatihan ini dilakukan sebagai upaya agar ketika ada wisatawan asing berkunjung ke Desa Karang Bunga masyarakat yang berada di desa tersebut dengan mudah menjelaskan terkait wisata alamnya

    Sistem Penyediaan Air Bersih Pada Bangunan

    No full text
    32 hlm., 29 c

    EVALUASI PROGRAM PENGEMBANGAN PROFESI GURU MATEMATIKA SMP PADA MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP)

    No full text
    Salah satu upaya meningkatkan profesionalisme guru, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan membuat kebijakan tentang Standar Pengembangan Kelompok Kerja Guru (KKG) Sekolah Dasar dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) SMP, SMA, dan SMK (Depdiknas, 2008). Kebijakan ini didasari oleh Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang diharapkan dapat memberikan kesempatan yang tepat bagi guru untuk mengikuti pelatihan, penulisan karya ilmiah, pertemuan pada KKG atau MGMP. Tujuan penelitian ini secara umum untuk memperoleh informasi tentang keefektifan program pengembangan profesi guru Matematika SMP pada MGMP di Kota Tangerang ditinjau dari perspektif model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) dan Kirkpatrick (Reaction, Learning, Behavior, Result). Metode penelitian menggunakan kombinasi komponen kedua model tersebut yang dibentuk menjadi empat komponen evaluasi, yaitu: (1) Perceptions: kombinasi Context-Input dan Reaction; (2) Experience: kombinasi Process dan Learning; (3) Continuity: kombinasi Product dan Behavior; dan (4) Impact: kombinasi Product dan Results. Temuan penelitian menunjukkan terdapat empat kegiatan yang dilakukan pada MGMP dari 13 standar program kegiatan, yaitu seminar, pelatihan, peer coaching, dan lesson study. Hasil evaluasi program pengembangan profesi guru Matematika SMP pada MGMP di Kota Tangerang memiliki dampak manfaat bagi lembaga sekolah berupa peningkatan kualitas pembelajaran. Program ini juga efektif meningkatkan profesionalitas guru dan berkontribusi positif meningkatkan hasil belajar peserta didik. Meskipun nilai hasil belajar masih dalam kategori kurang, namun terdapat perbedaan yang signifikan dari sebelumnya. Dengan demikian, kebijakan tentang pengembangan program kegiatan MGMP direkomendasikan dapat dilanjutkan dengan perbaikan, yakni perbaikan dalam hal dukungan pemangku kepentingan untuk pemenuhan melakukan 13 standar program kegiatan MGMP dan perbaikan kualitas pengelolaan MGMP berbasis permasalahan guru secara nyata dalam mengelola pembelajaran. **************************** One of the efforts to improve teacher professionalism, the Directorate General of Quality Improvement of Educators and Education Personnel makes policies on the Development Standards of Teachers Working Groups (TWG) for Elementary Schools and Subject Teachers’ Forum (STF) for Middle Schools, High Schools and Vocational Schools (Depdiknas, 2008). This policy is based on the Law of the Republic of Indonesia number 14 of 2005 concerning Teachers and Lecturers, which is expected to provide the right opportunity for teachers to attend training, writing scientific papers, meeting at TWG or STF. The purpose of this study in general is to obtain information about the effectiveness of the professional development program for junior high school mathematics teachers in STF in the region of Kota Tangerang from the perspective of the CIPP (Context, Input, Process, Product) and Kirkpatrick (Reaction, Learning, Behavior, Result) evaluation models. The research method uses a combination of the components of the two models formed into four evaluation components, namely: (1) Perceptions: a combination of Context-Input and Reaction; (2) Experience: a combination of Process and Learning; (3) Continuity: a combination of Product and Behavior; and (4) Impact: a combination of Product and Results. The research findings show that there are four activities carried out in the STF of 13 standard program activities, namely seminars, training, peer coaching, and lesson study. The results of the evaluation of the professional development program for junior high school mathematics teachers at STF in Kota Tangerang have a beneficial impact on school institutions in the form of improving the quality of learning. This program is also effective in increasing teacher professionalism and positively contributing to student learning outcomes. Although the score of learning assesssment is still in the less category, there are significant differences from before. Thus, the policy regarding the development of STF program activities is recommended to be continued with improvements, namely improvements in terms of stakeholder support for the fulfillment of 13 standard STF program activities and improvement in the quality of STF management based on teacher's real problems in managing learning

    Ruko Sentra Onderdil Bsd.

    No full text
    50 hlm.;ill.;tab.;lamp
    corecore