302 research outputs found
SENTUHAN KREATIF SENIMAN TERHADAP TRADISI BERSIH DESA DI DUSUN KELIRAN
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan asal-usul diadakannya upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran, prosesi jalannya upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran, makna simbolik sesaji dalam upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran, fungsi Foklor upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran serta peran atau sentuhan seniman untuk turut menjaga kelestarian upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran bagi masyarakat pendukungnya.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dengan observasi partisipasi, wawancara mendalam dengan sesepuh, pinisepuh, perangkat desa dan penulis sendiri yang terlibat serta memiliki pengetahuan tentang upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan alat bantu perekam, kamera video dan alat tulis. Analisis data yang digunakan adalah kategorisasi dan perbandingan berkelanjutan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan metode.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Asal-usul upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran berawal dari pesan yang diberikan oleh Kyai Ageng Kelir yang merupakan cikal bakal upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran kepada Widodo Pujo Bintoro (penulis) untuk melakukan upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran dengan mengadakan kirab dan kenduri di Minggu Kliwon bulan Agustus, (2) Rangkaian upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran meliputi: (a) persiapan yaitu kerja bakti membersihkan lingkungan dan pembuatan jodhang atau gunungan serta pembuatan sesaji, (b) pelaksanaan meliputi kenduri, makan sesaji bersama dan kesenian; (3) Makna simbolik sesaji dalam upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran, (4) Fungsi upacara Kirab Napak Tilas Dusun Keliran tersebut antara lain (a) fungsi spiritual, (b) fungsi ekonomi, (c) fungsi sosial dan (d) fungsi pelestarian tradisi
STRATEGI BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK DALAM KEWASPADAAN DINI DAN PENANGANAN KONFLIK DI KOTA TANGERANG
Kota Tangerang memiliki letak strategis dan salah satu kota satelit vital dalam kawasan metropolitan Jakarta dan kemudahan, memberikan pengaruh secara langsung dan tidak langsung dalam tingginya mobilisasi masyarakat setempat maupun masyarakat urban sehingga berpotensi konflik. Salah satu sub bidang pada Badan Kesbangpol Kota Tangerang adalah Kewaspadaan dini dan Penanganan konflik. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa dan menjelaskan startegi kewaspadaan dini dan penanganan konflik Badan Kesbangpol Kota Tangerang dengan penggunaan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan data wawancara, literatur dan referensi dari berbagai sumber yaitu jurnal dan internet. Temuan dari penelitian ini adalah Badan Kesbangpol Kota Tangerang telah melakukan program kewaspadaan dini dan penanganan potensi konflik pada fokus : pemilu, ormas, wawasan kebangsaan, politik, potensi konflik sosial dengan seoptimal mungkin dan koordinasi multi stakeholder. Dalam implementasi kegiatan sering kali membutuhkan koordinasi dengan para pemangku kepentingan karena keterbatasan kewenangan. Tantangan lain adalah perlu pemahaman secara berkelanjutan kepada masyarakat karena beberapa konflik disebabkan oleh keterlibatan organisasi masyarakat yang menjadi pemicu eskalasi konflik
Diplomasi Pertahanan Indonesia Dalam Mewujudkan Poros Maritim Dunia
Abstrak – Sebagai negara yang memiliki wilayah kelautan atau kemaritiman yang besar, Indonesia sudah sewajarnya mampu memaksimalkan pemanfaatan potensi tersebut demi kemajuan bersama. Pada faktanya, Indonesia belum mampu secara maksimal untuk memanfaatkan potensi tersebut, dengan sebab satu diantaranya yakni masih lemahnya sektor pertahanan dalam bidang maritim. Dalam prosesnya, muncul upaya memajukan Indonesia utamanya melalui sektor maritim dengan adanya pencanangan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia pada tahun 2014 oleh Presiden Joko Widodo. Dengan latar belakang tersebut, pada akhirnya penelitian ini dilakukan dengan bertujuan untuk menganalisis upaya diplomasi pertahanan yang dilakukan Indonesia dalam mewujudkan Poros Maritim Dunia. Selanjutnya, dengan ruang lingkup periode tahun 2014-2017, penelitian ini berfokus kepada pembangunan sarana diplomasi pertahanan dan cara diplomasi pertahanan Indonesia yang dilakukan dengan merujuk pada bingkai teori yang relevan untuk digunakan. Penelitian ini disusun menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara, studi dokumen, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarana yang dibangun demi mendukung diplomasi pertahanan adalah dengan kerjasama dengan negara-negara mitra dan pembangunan postur pertahanan negara. Cara yang digunakan dalam diplomasi pertahanan Indonesia adalah dengan meningkatkan peran aktif dalam forum atau organisasi mulai taraf regional hingga internasional. Dua aspek atau unsur tersebut pada akhirnya bertujuan untuk mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia utamanya dalam pencapaian pilar nomor dua, yakni pertahanan, keamanan, penegakkan hukum, dan keselamatan laut.Kata Kunci : Diplomasi Pertahanan, Kebijakan Kelautan Indonesia, Poros Maritim Dunia Abstract – Having such enormous and strategic nautical-territory, Indonesia ought to draw upon such potential for the national development. Nevertheless, Indonesia has not yet been able to exert the resources, as a consequence of the lack in maritime security and defense. Given to the circumstances, an effort to advance Indonesia primarily in the maritime sector had been taken place as in 2014 President Joko Widodo legitimately declare the national vision to become Global Maritime Fulcrum. Build upon the case, this research aims to analyze the efforts made by Indonesian government in assisting the realization of Global Maritime Fulcrum through Defense Diplomacy. Furthermore, this writing attempts to disclose the development of defense diplomacy’s instruments and how the government made use of those. In order to reveal this case, various aspects of Indonesia’s defense diplomacy that had been occured within 2014 – 2017 will be examined with the relevant theoritical frameworks. This research was arranged using descriptive analysis with qualitative approach. Supporting data is obtained through interviews, document, and literature study. The results shows that the defense diplomacy’s intruments was built upon series of international cooperations and the development of state’s defense posture itself. Therewith, Indonesian government undertake the defense diplomacy efforts by playing an active role in forums or organizations from regional to international levels. These two aspects eventually have a prime significance in shaping Indonesia as the Global Maritime Fulcrum, especially in the achievement of defense, security, law enforcement, and marine safety.Keywords: Defense Diplomacy, Global Maritime Fulcrum, Indonesia’s Maritime Polic
Pengambilan Keputusan Strategik Energi dan Implementasinya Studi Kasus Pembangunan Energi Nuklir (PLTN) untuk Mengatsi Kelangkaan
MEMBANGUN SISTEM HUKUM KEAMANAN NASIONAL DALAM RANGKA MENINGKATKAN KETAHANAN NASIONAL DI WILAYAH PERBATASAN INDONESIA DENGAN NEGARA TETANGGA
Indonesia belum mempunyai Undang-undang keamanan nasional yang mensinkronkan antara keamanan negara, masyarakat dan individu dalam sebuah sistem hukum keamanan nasional di wilayah perbatasan. Kondisi sistem hukum keamanan saat ini masih menggunakan Undang-undang sektoral yakni UU no 2 tahun 2002 tentang Polri, UU no 3 tahun 2002 tentang pertahanan negara, UU no 34 tahun 2004 tentang TNI, UU no 43 tahun 2008 tentang wilayah negara, UU no 23 tahun 2014 tentang pemda dan peraturan-peraturan turunannya. Kondisi kelembagaan masih bersifat koordinasi, belum mempunyai tenaga pelaksana, dan mempunyai kelemahan kemampuan sumber daya manusia dan teknologi. Kondisi kultur masyarakat perbatasan belum sejahtera, krisis kepercayaan dan ketertinggalan menjadi penyebab kegiatan illegal dan tidak patuh hukum.
Terdapat kelemahan konstitusi UUD NRI 1945 dan belum sinkronnya UU sektoral, pembagian tugas kelembagaan yang tidak seimbang dan belum terikatnya masyarakat dengan nilai-nilai pancasila serta adanya pengaruh global berdampak terhadap sistem hukum keamanan saat ini belum mampu mengatasi ancaman kedaulatan, kesejahteraan dan kehidupan nasional.
Penelitian ini bertujuan: Pertama, untuk menganalisis dan mengungkap sistem hukum keamanan saat ini belum mampu menanggulangi berbagai ancaman di perbatasan Indonesia. Kedua, menganalisis dan mengungkap sistem hukum keamanan saat ini menurut UUD NRI 1945 dan peraturan perundang-undangan. Ketiga, untuk menganalisis dan mengkonstruksi sistem hukum keamanan nasional secara ideal berdasarkan substansi, struktur dan kultur. Kemudian penelitian ini, berakhir pada pembentukan naskah akademik sebagai pedoman pembentukan Undang-Undang dan Badan Keamanan Nasional serta pemilihan pimpinan yang berkarakter kebangsaan dan peningkatan kearifan lokal. Proses penelitian ini memilih mempergunakan tradisi kualitatif, paradigma post positivism dan pendekatan socio-legal. Arus model analisis dilakukan secara interaktif. Validasi datanya dilakukan dengan triangulasi sumber dan diskusi dengan teman sejawat.
Studi ini menyimpulkan: (1) Sistem hukum keamanan nasional saat ini belum mampu menanggulangi ancaman kedaulatan, kesejahteraan dan kehidupan nasional dikarenakan: Pertama, Terdapat kelemahan UUD NRI 1945, Belum sinkronnya UU Sektoral turunannya, Kedua, Belum ada Badan Keamanan Nasional dan Perbatasan serta belum ada harmonisasi dan keseimbangan pembagian tugas TNI, Polri dan Intelijen. Ketiga, Keterlibatan kearifan lokal terbatas, krisis kepercayaan terhadap pimpinan dan belum seimbang fungsi negara dan pemerintah.
Adapun konstruksi ideal sistem hukum keamanan nasional di wilayah perbatasan Indonesia dengan cara membangun: (i) Amandemen terhadap substansi UUD NRI 1945, mensinkronkan UU Sektoral serta harmonisasi aktor-aktor keamanan, kesejahteraan dan keselamatan. Kedua, Membentuk Badan Keamanan Nasional dan Perbatasan serta membagi tugas keamanan TNI, Polri dan Intelijen. Ketiga, Mengaktifkan peran kearifan lokal, memilih pemimpin yang berkarakter kebangsaan, dan mengatur keseimbangan fungsi negara dan pemerintah sesuai pancasila dan UUD NRI 1945
HUBUNGAN ANTARA RINITIS ALERGI DENGAN FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI PADA SISWA SLTP KOTA SEMARANG USIA 13-14 TAIIUN DENGAN MEMPERGUNAKAN KUESIONER INTERNATIONAL STUDI of ASTHMA and ALLERGIES in CHILDHOOD (ISAAC)
Latar belakang: Pada 3 dekade terakhir penyakit atopi seperti rinitis alergi (RA), asma dan dermatitis atopi cenderung meningkat. Di banyak negara telah dilakukan penelitian mengenai prevalensi dan faktor risiko yang mungkin menyebabkan terjadinya peningkatan penyakit atopi dengan mempergunakan kuesioner International Study of Asthma and Allergies in Chlidhood (ISAAC). Di Indonesia khususnya Kota Semarang belum pernah dilakukan penelitian epidemiologik RA dan faktor-faktor risiko yang mempengaruhi dengan mempergunakan kuesioner yang terstandarisasi secara internasional.
Metode: Rancangan penelitian ini adalah crossectional study. Siswa SLTP Kota Semarang yang berusia 13-14 tahun dan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutkan dalam penelitian ini. Sebanyak 10 SLTP dipilih secara acak, siswa kelas II dan Ili diminta mengisi kuesioner ISAAC. Analisis statistik dilakukan dengan menghitung rasio prevalensi (RP), interval kepercayaan dan uji chi-square.
Hasil: Dan 3527 siswa, hanya 2237 siswa yang memenuhi kriteria inklusi, 1225 (54,8%) perempuan dan 1012 (45,2%) laki-laki. Prevalensi RA dalam 12 bulan terakhir 17,3%. Memelihara kucing tidak berpengaruh terhadap RA (RP:1,045, 95% CI 0,811-1,370). .Memelihara anjing tidak berpengaruh terhadap RA (RP: 1,21, 95% CI 0,777-2,087). Kendaraan bus/truk yang melintas di depan rumah tidak berpengaruh terhadap RA (RP: 0,84 , 95% CI 0,576-1,134). Bapak merokok tidak berpengaruh terhadap RA (RP:1,06, 95% CI 0,857-1,332). Ibu merokok tidak berpengaruh terhadap RA (RP: 0,72, 95% CI 0,265-1,749). Bahan bakar minyak tanah/ gas tidak berpengaruh terhadap RA ( RP: 0,92, 95% CI 0,527-1,549). Jumlah anggota keluarga dalam sate rumah tidak berpengaruh terhadap RA (RP:1,03 95% CI 0,657-1,407). Riwayat asma dan dermatitis atopi berpengaruh terhadap RA dengan (RP: 2,31, 95% CI 2,094-4,536) dan RA (RP: 2,54, 95% CI 2,334-5,647).
Kesimpulan: Memelihara kucing / anjing, asap diesel, bapak dan atau ibu merokok, asap dapur, jumlah anggota keluarga tidak berpengaruh terhadap RA, sedangkan riwayat asma dan dermatitis atopi sangat berpengaruh terhadap RA
Analisis koreografi Tari Goyang Sonder karya Widodo Pujo Bintoro
Tari Goyang Sander merupakan tarian yang terinspirasi dari tari Tayub. Tarian ini tidak meniru aslinya, tetapi lebih menekankan pada pola pengembangan dengan mengambil gaya Yogyakarta sebagai pijakannya. Analisis koreografi merupakan penelitian yang menguraikan tentang keseluruhan aspek-aspek yang terdapat dalam tari Goyang Sander. Aspek-aspek tersebut adalah gerak yang meliputi tenaga, ruang dan waktu. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis koreografi tari Goyang Sander
Analisis Koreografi Tari Goyang Sonder Karya Widodo Pujo Bintoro
Analisis koreografi merupakan penelitian yang menguraikan tentang keseluruhan aspek-aspek yang terdapat dalam tari Goyang Sonder. Aspek-aspek tersebut adalah gerak yang meliputi tenaga, ruang dan waktu. Iringan, tata rias dan busan a kemudian dianalisis perbagian sehin gga dapat menunjukkan secara lengkap analisis koreografi tari Goyang Sonder. Metode yang digunakan adalah diskriptif analisis yaitu mendeskripsikan dan menganalisi s koreografi tari Goyang Sonder. Buku karangan Jacqueline Smit h yang berjudul Dance ComposUion : A Practical guide for teachers, terjemahan Ben Soeharto in i digunakan untuk mernbedah permasalahan yang berkaitan dengan proses pemciptaan tari Goyang Sonder. Buku ini menerangkan tentang proses penciptaan tari yang dilalui lewat beberapa tahap, yaitu lewat rangsa ng visual dengan melihat tari Tayub , rangsang kinestetik yaitu dengan mengolah beberapa motif gaya Yogyakarta, Surakarta dan Sunda, rangsang dengar yang di peroleh dari gendi ng-gend i ng gaya Yogyakarta dan Sunda. Buku Lo ui s Elfedt yang berjud ul A Premier for Choreograpers, terjemahan Sal Murgianto ini digunakan untuk membantu permasalahan yang terdapat pada penggunaan elemen gerak yaitu tenaga, ruang dan waktu yang terdapat pada tari Goyang sonde r.
Tari Goyang Sonder rnerupakan tarian yang terinspirasi dari tari Tayub. Tariar, ini tidak meniru aslinya tetapi lebih menekankan pada pola pengembangan, dengan mengambil gaya Yogyakarta sebaga i pijakannya. Seperti motif k;nantang, keplok as/a, atur-atur dan kicat. Gerak tersebut dikernbangkan rnenjadi sebuah motif baru yang kemudian dipadukan dengan motif gerak Sunda dan Su raka rta lringannya dibuat dinamis dan tidak monoton, ha! ini terlihat digunakanya ketipung renteng yang suaranya mirip dengan kend angan Sunda ini agar dapat menghidupkan geraknya. Untuk kostumnya dibuat agar terlihat lebi h menarik yaitu dengan atasan sebatas perut dan celana yang pada sisi kanan dan kiri tidak dibuat menyatu dan disambung tali seh i ngga pahanya sedikit terlihat
Facing the Threat of Modern Islamic State Insurgence to Increase National Resilience
The threat of insurgency or modern rebellion of Islamic State in Indonesia is strongly influenced by the Southeast Asian regional environment which has a region with religious, ethnic, and cultural diversity. Ethnic, religious, racial, and intergroup conflicts have caused economic, political, and psychological losses. This article aims to describe and analyze using a variety of approaches applied in Indonesia to face the modern insurgency of the Islamic State using qualitative analysis methods. The technique of collecting data and information is through literature study. There are several jihadi organizations and groups that carry out operations, such as Jamaah Islamiyah, the Indonesian Mujahideen Council, and others. The vitality of radical and extremist groups is able to rise to renew leadership in the organizational network structure based on personal closeness, friendship, and family. National resilience as a dynamic condition of the nation and the conception of national development in achieving the goals and ideals of the nation, which is tough and tenacious and capable of developing national strength in dealing with all kinds and forms of threats, challenges, obstacles, and disturbances both coming from within and from within. outside, which threatens and endangers the integrity, identity and survival of the nation and state, especially the threat of modern Islamic State insurgency. Modern insurgency may never develop sufficient military strength to carry out conventional operations and must therefore rely on terrorism and psychological and political means. Therefore, facing the threat of the Islamic State, the Government of Indonesia must map the transformation of ISIS in Southeast Asia, especially in Indonesia, so that it is faced with proportional efforts and actions such as dealing with domestic insurgency, regional cooperation, and the involvement of extraregional forces within the ASEAN framework
- …
