312 research outputs found
PERAN EDUKASI GIZI TERHADAP ASUPAN ENERGI-PROTEIN DAN INDEKS MASSA TUBUH PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS DENGAN TERAPI CONTINUOUS AMBULATORY PERITONEAL DIALYSIS (CAPD)
Background: Nutrition are the essential factor to maintain body weight, body mass index and food intake in CAPD patients. Dialysis could increase nutrients lost and had to be replaced by adequate intake. Nutrition education should be needed to increase patient’s knowledge, food intake and body mass index.Objectives: To determine the role of nutrition education towards energy-protein intake and body mass index in patient with continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD)Method: A cross-sectional study design with total sampling technique to obtains thirthy CAPD outpatient at RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Energy and protein intake were assessed by 3-days-food records (weekday and weekend). Nutritional status were obtained with BMI by dry body weight. Data were analyzed with independent t-test.Results: Most of subject are male outpatients, 25 – 55 years old (76.7%), had hypertension (83.3%) and normal BMI (50%). Most of subject had been undergoing peritoneal dialysis more than a year (67%), and had less than two times education per year. Energy intake were categorized as sufficient (80%) but protein intake were categorized as insufficient. There were no differences between frequency of nutrition education with energy-protein intake and nutritional status (p0.05)Conclusion: There are no differences between energy-protein intake and nutritional status with the frequency of nutrition education. Nutritional education by nutritionist and/or dietitian according to the recommendations help to maintain normal body mass index
Pengembangan Modul Sejarah Lokal Pamekasan (1945-1950) Sebagai Penunjang Kompetensi Dasar 3.10 dan 4.10 Kelas XII MIPA 2 SMAN 2 Pamekasan
ABSTRAK Pratiwi, Utari Diah. 2017. Pengembangan Modul Sejarah Lokal Pamekasan (1945-1950) Sebagai Penunjang Kompetensi Dasar 3.10 dan 4.10 Kelas XII MIPA 2 SMAN 2 Pamekasan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Najib Jauhari, S.Pd., M. Hum, (II) Drs. Kasimanuddin Ismain, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan, modul, sejarah lokal di Pamekasan Pembelajaran Sejarah di sebagian sekolah masih memanfaatkan sumber belajar berupa LKS yang memuat materi tentang sejarah nasional. Adanya materi sejarah lokal kurang mendapat perhatian dalam pembelajaran Sejarah di sekolah tersebut. Tidak adanya porsi jam untuk sejarah lokal juga menjadi salah satu alasan minimnya pemahaman siswa terhadap situs lokal di daerahnya. Permasalahan yang sama juga terjadi dalam pembelajaran Sejarah di SMAN 2 Pamekasan. Sumber belajar yang digunakan pada pembelajaran Sejarah di SMAN 2 Pamekasan mengacu pada LKS dan belum memanfaatkan buku-buku yang berbasis sejarah lokal. Oleh karena itu penulis mengembangkan bahan ajar berupa modul yang berjudul Sejarah Lokal Pamekasan (1945-1950) sebagai penunjang Kompetensi Dasar 3.10 dan 4.10 dalam pembelajaran Sejarah Indonesia tingkat SMA kelas XI di Kabupaten Pamekasan. Prosedur penelitian dan pengembangan ini menggunakan langkah-langkah yang diadaptasi dari Sugiyono. Metode ini memiliki sepuluh tahap, namun dalam penelitian ini hanya digunkan sembilan tahap, yaitu: (1) potensi dan masalah; (2) mengumpulkan informasi; (3) desain produk; (4) validasi desain; (5) revisi desain; (6) uji coba produk; (7) revisi produk; (8) uji coba pemakaian; dan (9) revisi produk. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa lembar validasi ahli materi dan ahli bahan ajar, serta angket respon siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul layak digunakan sebagai bahan ajar sejarah lokal. Berdasarkan hasil validasi ahli materi diketahui bahwa tingkat kelayakan modul sebesar 91%, sedangkan validasi ahli bahan ajar sebesar 82%. Tingkat kelayakan yang diperoleh menunjukkan bahwa menurut ahli materi dan ahli bahan ajar modul sangat layak untuk digunakan sebagai bahan ajar dengan kategori valid. Hasil uji coba kelompok kecil diketahui tingkat kelayakan modul sebesar 87% dengan revisi pada aspek pemahaman siswa terhadap soal latihan, namun dari keseluruhan modul dapat digunakan tanpa revisi. Hasil uji coba kelompok besar diketahui tingkat kelayakan sebesar 90%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa modul siap dimanfaatkan dan diproduksi sesuai kebutuhan. Saran yang digunakan pada penelitian ini adalah (1) modul dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa dalam proses belajar dan pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas; (2) modul dapat diproduksi massal dan dapat dipergunakan untuk kelas XI di SMA/MA se-Kabupaten Pamekasan; (3) modul berbasis sejarah lokal dapat dikembangkan kembali dengan inovasi yang lebih menarik dengan cakupan materi yang lebih luas dan penambahan bahan ajar berbasis audio-visual sehingga lebih menarik untuk dipelajari oleh siswa
SUBALTERNITAS TOKOH DIAH AYU DAN MAHARANI: ANTARA KUTUKAN DAN SENJATA
The story of “Kutukan Dapur” by Eka Kurniawan presents a colonial setting: Dutch colonialism and postcolonialism in the image of two characters, Diah Ayu and Maharani. Maharani is in patriarchal shackles, which is ingrained in her family life and social structure. Meanwhile, Diah Ayu is in the bonds of Dutch colonialism, which is brought back by the author. Both are in a subaltern position but in different conditions. Based on this description, this research asks two questions which are analyzed using Gayatri Spivak\u27s subaltern theory, (1) what the position of Diah Ayu and Maharani in "Kutukan Dapur" short story, and (2) how the subaltern is constructed through the efforts of the two characters to get out of that position is. The method used is qualitative. The narratives are classified and analyzed to understand the subaltern\u27s position and construction and its resistance efforts. This research indicates that Maharani and Diah Ayu are subalterns of Maharani dominated by patriarchy, while Diah Ayu is dominated by Dutch colonialism. Maharani fought back, but only with an idea or ideas. Unlike Diah Ayu, she is able to fight in a real form. However, as the author, Eka is trapped in a biased construction in addition to gender bias and representation. In subaltern studies, representation is only a tool towards more real domination. The two figures seem to be fighting against the power structure (colonial and patriarchal) but are still trapped in the dominance of the other.The story of “Kutukan Dapur” by Eka Kurniawan presents a colonial setting: Dutch colonialism and postcolonialism in the image of two characters, Diah Ayu and Maharani. Maharani is in patriarchal shackles, which is ingrained in her family life and social structure. Meanwhile, Diah Ayu is in the bonds of Dutch colonialism, which is brought back by the author. Both are in a subaltern position but in different conditions. Based on this description, this research asks two questions which are analyzed using Gayatri Spivak\u27s subaltern theory, (1) what the position of Diah Ayu and Maharani in "Kutukan Dapur" short story, and (2) how the subaltern is constructed through the efforts of the two characters to get out of that position is. The method used is qualitative. The narratives are classified and analyzed to understand the subaltern\u27s position and construction and its resistance efforts. This research indicates that Maharani and Diah Ayu are subalterns of Maharani dominated by patriarchy, while Diah Ayu is dominated by Dutch colonialism. Maharani fought back, but only with an idea or ideas. Unlike Diah Ayu, she is able to fight in a real form. However, as the author, Eka is trapped in a biased construction in addition to gender bias and representation. In subaltern studies, representation is only a tool towards more real domination. The two figures seem to be fighting against the power structure (colonial and patriarchal) but are still trapped in the dominance of the other
Tinjauan Kriminologi Terhadap Pencurian Sepeda Motor (Studi Di Polsek Torgamba Labuhan Batu Selatan).
Mencuri berarti mengambil harta milik orang lain dengan hak untuk
dimiliki tanpa sepengetahuan pemiliknya. Mencuri hukumnya adalah haram dan
seiring berjalanya waktu, tindakan mencuri juga mengalami perkembangan.
Masalah pencurian kendaraan bermotor merupakan jenis kejahatan yang selalu
menimbulkan gangguan dan ketertiban masyarakat. Kejahatan pencurian bermotor
yang sering disebut curanmor ini merupakan perbuatan yang melanggar hukum
dan diatur dalam KUHP.. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui modus
yang dilakukan dalam melakukan pencurian sepeda motor, untuk mengetahui
faktor penyebab terjadinya pencurian sepeda motor, dan untuk mengetahui upaya
penanggulangan pencurian sepeda motor.
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian yuridis empiris dengan sumber
data data primer dengan melakukan wawancara dan data sekunder dengan
mengolah data dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan
hukum tersier, dan juga penelitian ini mengelola data yang ada dengan
menggunakan analisis kualitatif. Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah
wawancara dengan Aiptu CH. Suhartono selaku penyidik Reskrim Polsek
Torgamba Labuhan Batu Selatan dan studi dokumentasi.
Berdasarkan hasil penelitian dipahami bahwa modus yang dilakukan
pelaku pencurian kendaraan bermotor roda dua di Polsek Torgamba Labuhan Batu
Selatan menggunakan alat seperti gunting khusus besi, kunci T, karcis palsu, dan
kunci kontak palsu, cara atau proses pencurian dilakukan dengan memotong atau
merusak gembok, merusak kunci kontak, memesan atau membuat karcis palsu,
atau menggandakan kunci kontak. Kemudian faktor-faktor yang mempengaruhi
sehingga kejahatan pencurian kendaraan bermotor terjadi Kecamatan Torgamba
Labuhan Batu Selatan, yaitu: faktor ekonomi, faktor pendidikan, faktor
lingkungan dan faktor pekerjaan. Serta upaya-upaya yang dilakukan dalam
menangani kejahatan pencurian kendaraan motor dalam ruang lingkup Polsek
Torgamba Labuhan Batu Selatan adalah upaya preventif (pencegahan) dan
represif (penindakan), seperti memberikan himbauan kepada masyarakat akan
pentingnya saling menjaga dan saling melindungi antar warga, meningkatkan
langkah-langkah praktis dalam pengamanan diri dari hal-hal yang dapat
menimbulkan kejahatan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor, dan
memberikan penerangan kepada masyarakat apabila terjadi tindak pidana
pencurian kendaraan bermotor dihimbau agar segera melaporkan kepada pihak
yang berwajib
MODALITAS TSUMORI DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG 日本語におけるモダリティ「つもり」
ABSTRACT
Pertiwi, Diah Mulya. 2017. “Structure and Meaning of Japanese Tsumori Modality”. Thesis. Department of Japanese Studies, Faculty of Humanities. Diponegoro University. Thesis supervisor Lina Rosliana, S.S., M.Hum.
This thesis discusses about “Structure and Meaning of Japanese Tsumori Modality”. The purpose of this thesis are to describe the structure; it also to explain about the meaning of Japanese tsumori modality.
The data of this research obtained from a online short stories “Aozora Bunko” and Online Japanese Newspaper “Asahi Shinbun”. The data were collected using note taking technique. The author used agih method to analyze the structure and the meaning of words; and the results of analysis are expressed in an informal way using ordinary words.
Based on the data analysis, the result showed that the tsumori modality as one of ishi modality that can be attached to verbs, adjectives or nouns. Tsumori is used to reveal the presence or absence of a person's intention to do a thing and whether the intention is accomplished or not, and indicate a belief and desire someone will a thing or action taken.
Keywords : tsumori, structure, meaning
KEBIJAKAN BUPATI ACEH TAMIANG SESUAI SK NO 541 TAHUN 2016 TENTANG IZIN LINGKUNGAN (STUDI KASUS : MASUKNYA KAWASAN EKOSISTEM LEUSER (KEL) DALAM AREA PENAMBANGAN BATU GAMPING PT TRIPA SEMEN ACEH (TSA) DI DESA KALOY KECAMATAN TAMIANG HULU KABUPATEN ACEH TAMIANG)
Studi Analisis Awal Waktu Shalat Shubuh (Kajian Atas Relevansi Nilai Ketinggian Matahari Terhadap Kemunculan Fajar Shadiq)
Abstrak Penentuan awal waktu shalat merupakan hal urgen dan fundamental dalam pelaksanaan ibadah shalat. Walaupun begitu, sampai saat ini tidak begitu banyak perhatian terhadapnya jika dibandingkan dengan persoalan penentuan awal bulan Qamariyah yang setiap tahunnya selalu menjadi kontroversi di kalangan masyarakat. Dalam penetapan awal waktu shalat posisi matahari merupakan faktor utama yang harus diperhatikan, akibat yang ditimbulkan adalah setiap beda hari dan beda tempat maka waktu shalat juga akan berbeda pula. Perbedaan tersebut juga didapati dalam penetapan awal waktu shalat Shubuh, dalam hal ini ada beberapa pendapat mengenai ketinggian matahari yang digunakan, walaupun dalam aspek fiqh nya tidak ada ditemukan kontroversi. Ketinggian matahari merupakan salah satu unsur utama dalam perhitungannya, sehingga dalam hal ini harus ada kepastian. Beberapa kriteria ditawarkan oleh beberapa ahlinya, mulai dari -14 derajat sampai -20 derajat. Kata Kunci: Sholat, Hukum Isla
Analisis Pengaruh Air Gap dan Rasio Ketebalan Magnet Terhadap Gaya Aksial Pada Permanent Magnetic Bearing
Bearing memegang peranan penting dalam menjalankan peralatan yang menunjang kehidupan manusia, salah satunya transportasi. Fungsi utama bearing adalah untuk mengurangi gesekan dan menjaga komponen yang bergerak linier agar selalu pada jalurnya. Salah satu bearing yang banyak digunakan yaitu angular contact ball bearing. Kerusakan pada bearing menjadi alasan paling sering yang menyebabkan mesin breakdown. Maka perlu dilakukan inovasi perancangan yang tepat, teliti, dan akurat, seperti magnetic bearing. Magnetic bearing dapat dengan signifikan menghilangkan gesekan dan mengefisiensi energi. Penelitian ini dilakukan untuk merancang sebuah axial permanent magnetic bearing untuk dibandingkan dengan produk bearing dari NSK Bearing Co., Ltd dengan kode 7003 A W (M), T, TYN DB DF DT.
Analisis dilakukan dengan variabel air gap, air gap minimum yang digunakan adalah 0,01 mm dan air gap maksimum yang digunakan adalah 3 mm. Selanjutnya analisis dengan variabel ketebalan magnet, tebal magnet didapat dengan memperbesar tebal inner dan memperkecil tebal outer berdasarkan rasio ketebalan yang disusun, begitu pula sebaliknya. Analisis meliputi permodelan pada proses simulasi dan parameter yang diukur. Setelah dilakukan pemodelan pada software ANSYS Electronics Maxwell 3D, dilakukan simulasi dengan menggunakan penyelesaian magnetostatic. Hasil analisa magnetostatic berhasil apabila hasil yang didapatkan memiliki energy error yang konvergen dan sesuai dengan parameter yang telah ditentukan dengan besar nilai error dibawah atau sama dengan 1 %.
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa air gap dan rasio ketebalan magnet memiliki pengaruh terhadap gaya aksial yang dihasilkan permanent magnetic bearing. Variasi air gap sebesar 0,01 mm merupakan variasi celah udara yang menghasilkan gaya aksial terbesar yaitu 76,85 N. Namun terdapat kekurangan yang terjadi akibat dari celah udara yang terlalu kecil yaitu gaya aksial yang dihasilkan menjadi fluktuatif dan proses pembuatan permanent magnetic bearing terbilang tidak mudah sehingga perlu dilakukan banyak pertimbangan lebih lanjut. Pada variasi ketebalan magnet saat tebal inner lebih besar dibandingkan tebal outer dengan rasio ketebalan inner dibanding outer 9/7 didapatkan gaya aksial maksimal sebesar 61,625 N.
================================================================================================
Bearing plays an important role in carrying out equipment that supports human life, one of them is transportation. The main function of the bearing is to reduce friction and keep the linear moving components in line. One bearing that is widely used is angular contact ball bearing. Bearing damage is the most frequent reason that causes the engine to breakdown. So it is necessary to do precise design innovations, detail and accurate, such as magnetic bearings. Magnetic bearings can significantly eliminate friction and reduce energy efficiency. This research was conducted to design an axial permanent magnetic bearing for comparison with bearing products from NSK Bearing Co., Ltd with code 7003 A W (M), T, TYN DB DF DT.
The analysis was done with variable air gap, the minimum air gap used is 0.01 mm and the maximum air gap used is 3 mm. Furthermore, by analyzing the thickness of the magnet, the thickness of the magnet was obtained by enlarging the inner thickness and reducing the thickness of the outer based on the thickness ratio arranged, and vice versa. Analysis included modeling the simulation process and measured parameters. After modeling the ANSYS Electronics Maxwell 3D software, a simulation was performed using magnetostatic solutions. The results of magnetostatic analysis were successful if the results obtained have a convergent energy error and are in accordance with predetermined parameters with a large error value below or equal to 1%.
Based on the results of the research, it could be seen that the air gap and the thickness ratio of the magnet have an influence on the axial force produced by permanent magnetic bearing. The variation of the air gap of 0.01 mm was the variation of the air gap which results in the largest axial force of 76.85 N. However, there were deficiencies that occur due to the air gap that was too small, the axial force produced becomes fluctuating and the process of making permanent magnetic bearings was not easy so it needs further consideration. In variations in magnetic thickness when inner thickness was greater than outer thickness with inner thickness ratio compared to outer 9/7 the maximal axial force is 61.625 N
Rancang Bangun Alat Penyiram Otomatis Pada Budidaya Tanaman Secara Vertikultur Menggunakan Arduino
Saat ini sayur sangat diminati oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan mereka telah memahami manfaat sayur bagi tubuh. Salah satu jenis sayuran yang sering dikonsumsi adalah sawi hijau (Brassica rapa var. Parachinensis L). Kebutuhan sayuran terus meningkat setiap tahun, akan tetapi persedian dan produksi tidak seimbang. Hal tersebut disebabkan karena pertumbuhan penduduk, perkembangan teknologi dan industri sehingga menggeser lahan pertanian. vertikultur merupakan solusi sistem penanaman yang hemat lahan. Budidaya vertikultur perlu dilakukan perawatan, salah satunya adalah penyiraman untuk menjaga kelembaban tanah yang optimal. Kelembaban tanah menunjukkan ketersediaan air yang mempengaruhi laju pertumbuhan tanaman sawi serta menentukan produksi hasil panen. Penyiraman tanaman yang tidak tepat membuat hasil produksi tanaman sawi tidak maksimal bahkan tanaman sawi bisa mati. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk merancang alat penyiram otomatis yang dapat membantu mempermudah pemeliharaan dan mengontrol kebutuhan air yang tepat. Alat penyiram otomatis menggunakan sensor kelembaban tanah, dan arduino sebagai sistem kontrol yang bekerja sesuai program yang dibuat.
Pada penelitian ini dilakukan pengujian komponen-komponen penyusun dari sistem kontrol otomatis sebelum digunakan dan pengukuran kadar air tanah untuk menentukan nilai set point Komponen yang diuji meliputi Arduino, sensor kelembaban tanah, LCD, relay, SD card, dan RTC. Hasil uji coba menunjukkan bahwa komponen layak diaplikasikan dalam sistem penyiraman vertikultur dan nilai kadar air tanah kapasitas lapang 34,11% dan layu sementara 27,86 %. Setelah sistem kontrol otomatis diuji coba, selanjutnya sistem kontrol otomatis diaplikasikan pada media tanam dan dihubungkan pada sistem penyiraman, lalu
dilakukan pengambilan data untuk pengujian alat penyiram otomatis secara keseluruhan. Pengujian tersebut meliputi pengujian sistem kontrol penyiram otomatis dan sebaran air pada sistem penyiraman. Pengujian sistem kontrol penyiram otomatis ini mengacu pada nilai set point, apabila kadar air yang terdeteksi kurang dari set point batas bawah maka pompa akan hidup, dan apabila kadar air yang terdeteksi lebih dari batas atas maka pompa akan mati. Berdasarkan pengujian yang dilakukan sistem kontrol penyiraman dapat dikatakan berhasil dikarenakan pompa hidup dan mati sesuai dengan batas set point yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengujian sebaran air sistem penyiraman dilakukan dengan cara pengambilan data pada beberapa titik tertentu yaitu titik atas, titik tengah, dan titik bawah. Hasilnya adalah nilai pada tiap titik tidak jauh berbeda, sehingga penyebaran air dapat dikatakan rata pada sistem penyiraman yang dilakukan
- …
