1,720,981 research outputs found

    Analisis Semiotika Tayangan Wawancara Kursi Kosong pada Episode Spesial "Mata Najwa Menanti Terawan" di Kanal Youtube Najwa Shihab

    No full text
    This research is entitled semiotic analysis of empty chair interview show on special Episode "“Mata Najwa Menanti Terawan”" on Najwa Shihab YouTube channel. This study aimed to find the overall meaning of the empty seat interview on the special episode “Mata Najwa Menanti Terawan” on Najwa Shihab’s YouTube channel. In this case, the researcher uses several relevant theories, for instance, Mass Communication, New media, and Roland Barthes semiotics. This research uses qualitative research methods with a constructivist paradigm. The semiotic analysis refers to Roland Barthes's semiology of two-order signification; denotation and connotation. Roland Barthes' semiology emphasizes the role of the reader, where a sign which already has a denotative meaning or connotation, still requires the activeness of the reader to function. The results of this study found that in this show, the empty seat displayed was a symbol that emphasized the unwillingness of Terawan Agus Putranto who had been invited to be interviewed several times. Meanwhile, Najwa Shihab tried to convey the community’s voice, namely criticism of Terawan Agus Putranto to demand that he step down from his position. In addition, this particular episode was deliberately aired by Najwa Shihab and the Narasi’s editorial team to encourage Terawan Agus Putranto to account for his role and function for the public interest.119 HalamanSkripsi Sarjan

    INTEGRASI SIMRS DAN MSDM DI INSTALASI FARMASI RSUD NGUDI WALUYO WLINGI

    Get PDF
    Menurut Menteri Kesehatan RI, Letjen TNI (Pur.) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad(K), inovasi-inovasi yang telah dikembangkan diharapkan mampu membangun ekosistem digital yang terintegrasi dengan baik serta kinerja, efektivitas, dan efisiensi meningkatkan pelayanan kesehatan kepada Indonesia dan dapat benar-benar diimplementasikan dengan baik

    Analisis Wacana Monolog Najwa Shihab Pada Kursi Kosong Dalam Tayangan Mata Najwa Edisi Menanti Terawan

    Get PDF
    Pemerintah turut berupaya mencegah & mengantisipasi dengan berbagai kebijakan. Namun banyak faktor yang menyebabkan pandemi Covid-19 di Indonesia tak kunjung usai. Mulai dari masyarakat yang mengabaikan prokes dan kebijakan, serta pejabat publik yang miskomunikasi dalam menyampaikan kebijakan, salah satunya menkes Terawan Agus Putranto. Sejak awal adanya Covid-19 beliau menanggapi dengan pernyataan yang memicu kontroversi dan kerap melontarkan candaan sehingga tidak terkesan serius dalam memberikan kejelasan kepada masyarakat. Atas dasar itu beliau menjadi minim tampil dihadapan publik hingga diwakilkan oleh Sesditjen P2P Achmad Yurianto maupun jubir lainnya. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan paradigma kritis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah analisis isi. Hasil penelitian menemukan bahwa pertama analisis teks, adanya kesan negatif yang merujuk pada narasumber yang dianggap lepas dari tanggung jawabnya sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Pada praktik sosiokultural pembawa acara merepresentasikan kursi kosong sebagai satir untuk Terawan Agus Putranto. Pada praktik sosial didapatkan, bahwa nama besar Najwa Shihab berhasil menarik simpatisan melalui keresahan masyarakat. Adapun pandangan mengenai tayangan ini bernada satir dan condong kearah negatif terhadap sikap Terawan, serta pandangan bentuk kekecewaan masyarakat dan Najwa Shihab dari kinerja dari Menteri Kesehatan. Menurut peneliti meski tidak sepenuhnya keliru, namun alangkah bijaknya apabila pihak Mata Najwa mencari terlebih dahulu fakta yang sebenarnya mengenai menghilangnya Terawan dari publik melalui orang-orang disekitar, agar nantinya tercipta narasi yang proposional

    Semiotics Analysis of Tempo and Gatra Magazine Cover for September 2020 Edition

    No full text
    This study discusses symbols or signs related to the coronavirus (Covid-19) pandemic that are found on the covers of Tempo and Gatra magazines edition September 2002. The two magazines has front cover to show the pandemic situation in Indonesia. At the time Indonesia was in a very serious pandemic with a number of victims every day both ordinary people or medical officer. The purpose of this study is to determine the meaning contained on cover of Tempo and Gatra by using semiotics analysis of the Charles Sanders Peirce model. It consists of three points namely sign, object, and interpretant. The research method uses a descriptive qualitative approach. The data obtained in this study were sourced from documentation and literature study such as books, literatures, notes, and a number of other related websites. The result of the research is they differ each other. Tempo tries to portray The Minister of The Health of Republic of Indonesia Terawan Agus Putranto as a character who has fun and takes unilateral advantage of the policies he makes. While on the cover of Gatra, Terawan Agus Putranto is described as overwhelmed and incompetent in fulfilling his duties as minister of health.&nbsp

    Strategi Komunikasi di Masa Krisis: Pemerintah, Publik dan Covid-19

    Get PDF
    Krisis merupakan suatu kejadian yang tidak bisa dihindarkan dan tidak dapat dengan pasti diprediksi kemunculannya. Strategi komunikasi pemimpin di masa krisis menentukan ketahanan dan keamanan suatu Negara. Riset menggunakan studi kasus dengan pendekatan komunikasi krisis. Objek kajian terhadap karakteristik pemimpin yang aktual di Indonesia, dalam hal ini Terawan Agus Putranto. Hasil menunjukkan bahwa strategi komunikasi pemerintah di masa krisis amat diperlukan guna menampilkan informasi yang valid dan transparan kepada publik. Peran pemimpin yang berkarakter kuat dibutuhkan dalam menanggulangi krisis yang terjadi, terutama pada krisis yang tejadi secara global dan berpotensi mengganggu ketahanan Nasional seperti halnya dalam penanganan Covid-19

    JURNALISME DAN WAWANCARA KURSI KOSONG MENTERI TERAWAN (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES DALAM EPISODE WAWANCARA KURSI KOSONG MATA NAJWA TAHUN 2020)

    No full text
    Journalism on television is present as a bridge for society in fulfilling everyone's right to obtain information that is in accordance with the facts. Senior journalist Najwa Shihab came with a different spectacle that had never happened in Indonesia, he presented an interview with an empty chair. This study uses a constructivist paradigm with descriptive qualitative research methods through the semiotic approach of Roland Barthes. The purpose of this study is to describe how the vacant seat interview show "Mata Najwa" can represent an empty seat as Minister of Health of the Republic of Indonesia Terawan Agus Putranto. This research shows that the show “Mata Najwa” titled #MataNajwaMenantiTerawan represents an empty seat as Minister Terawan with an analysis of denotation, connotation, and myth. The results of this analysis were obtained through taking pictures, the sentences spoken and the meaning of myths in the "Mata Najwa" impressions of the empty chair interview.Jurnalisme dalam televisi hadir sebagai jembatan masyarakat dalam memenuhi hak setiap orang untuk mendapat informasi yang sesuai dengan fakta. Jurnalis senior Najwa Shihab hadir dengan tontonan yang berbeda dan belum pernah terjadi di Indonesia, ia menampilkan tayangan wawancara dengan sebuah kursi kosong. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dengan metode penelitian kualitatif deskriptif melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana tayangan wawancara kursi kosong “Mata Najwa” dapat merepresentasi kursi kosong sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia Terawan Agus Putranto. Penelitian ini menunjukkan bahwa tayangan “Mata Najwa” bertajuk #MataNajwaMenantiTerawan merepresentasikan kursi kosong sebagai Menteri Terawan dengan analisis denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil analisis ini diperoleh melalui pengambilan gambar yang dilakukan, kalimat yang diucapkan serta makna mitos pada tayangan “Mata Najwa” wawancara kursi kosong

    Analisis sentimen pengguna youtube terhadap tayangan #matanajwamenantiterawan dengan metode naive bayes classifieri

    No full text
    Tayangan #MataNajwaMenantiTerawan menuai pro dan kontra setelah Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa mewawancarai kursi kosong yang direpresentasikan sebagai Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Wawancara dengan kursi kosong biasa dilakukan di luar negeri yang memiliki histori pers yang lama. Seperti yang dilakukan Piers Morgan di CNN dan Kay Burley di acara Kay Burley Show di Sky News. Media sosial mengalami peningkatan penggunaan sehingga analisis sentimen perlu dilakukan untuk mengetahui opini publik terhadap isu yang sedang terjadi. Analisis sentimen dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penilaian publik terhadap tayangan #MataNajwaMenantiTerawan di Youtube. Data dalam penelitian ini diambil dengan cara scrapping dari komentar video youtube #MataNajwaMenantiTerawan. Dataset mentah hasil scrapping dilakukan preprocessing untuk memudahkan proses klasifikasi. Algoritma Naive Bayes digunakan untuk mengklasifikasikan komentar ke kategori sentimen positif, sentimen negatif dan netral. Algoritma Naive Bayes menghasilkan akurasi sebesar 90.36%. Sentimen netral lebih mendominasi dengan jumlah 1232 data netral, 90 data negatif dan 78 data positif

    Perbandingan berita media Tempo.co dan CNN Indonesia tentang Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto periode 2019-2020

    Get PDF
    Peristiwa pandemic Covid-19 menjadi tantangan pada tahun 2020 dan melanda seluruh dunia begitu juga Indonesia, dalam hal ini menjadi penanganan serius bagi menteri kesehatan Terawan yang mempunyai kewenangan dalam memutus penyebaran Covid-19. Mengingat menkes Terawan yang mempunyai pengalaman kontroversi sebagai dokter di militer dan sempat hangat diperbincangkan ketika tahun 2018 yang memperkenalkan terapi cuci otak untuk mengobati penyakit stroke. Tempo.co dan CNN Indonesia sebagai surat kabar independent merupakan salah satu media yang memberitakan kebijakan yang diambil oleh menkes Terawan dalam pemberitaan Tempo.co pada 26 April 2020 dan CNN Indonesia pada 04 April 2020. Berangkat dari permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana media Tempo.co dan CNN Indonesia memberitakan kebijakan yang diambil oleh menkes Terawan ketika menghadapi pandemi global, dan bagaimana pula Tempo.co dan CNN Indonesia mengambil peranannya sebagai sarana transformasi kebijakan pemerintah. Selain itu, penelitian bertujuan mengetahui strategi transformasi tersebut kepada khalayak pembaca. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis model Norman Fairclough yang berfokus pada analisis teks dari segi intertekstual dan tekstual (ketransitifan). Objek analisisnya adalah teks berita Tempo.co pada 26 April 2020 dan CNN Indonesia pada 04 April 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Meskipun dua media ini memiliki perbedaan yang signifikan dari latar belakang, redaksional, dan karakteristik media. Kedua media ini mencoba untuk menyampaikan kepada publik peristiwa yang terjadi dengan gaya yang berbeda. Seperti Tempo.co dengan teknik depth report dan investigasinya, dan CNN Indonesia dengan kecepatan pemberitaannya. Dapat kita simpulkan bahwa secara konteks isi pesan dari kedua media ini memiliki kesamaan namun berbeda dalam gaya penulisan dan teknik produksi beritanya

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore