1,721,452 research outputs found

    MAKNA TASBIH DALAM AL-QUR’AN(Kajian Terhadap Surah-surah yang diawali dengan Ungkapan Tasbih). (Skripsi)

    Full text link
    Penelitian ini secara spesifik berjudul “Makna Tasbih Didalam al-Qur’an (Kajian Terhadap Surah-surah yang diawali dengan Ungkapan Tasbih)”. Adapun latar belakang penelitian ini bermula dari banyaknya ayat-ayat yang berbicara mengenai tasbih kepada Allah SWT, dimana semua yang ada dilangit dan dibumi beserta isinya bertasbih kepadaNya. Terlebih lagi, terdapat delapan surah yang diawali dengan ungkapan tasbih. Oleh karena itu, didalam skripsi ini akan dibahas mengenai : 1.Bagaimanakah makna tasbih dalam al-Qur’an? 2.Adakah relevansi tasbih yang terdapat diawal surah terhadap isi kandungan surahnya? Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library Research) dengan menggunakan pendekatan kualitatif berupa penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci (key instrument). Dimana, penelitian ini bersifat deskriptif yaitu dengan cara menguraikan, menyajikan atau menjelaskan secara tegas dan sejelas-jelasnya terhadap seluruh permasalahan yang ada, kemudian disimpulkan secara induktif, yaitu dengan cara menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus ke umum, sehingga hasil penelitian ini dapat dipahami dengan mudah bagi para pembaca. Untuk itu, penelitian ini menggunakan metode maudhu’i yaitu menghimpun ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai maksud yang sama dalam arti yang sama-sama membicarakn satu topik masalah dan menyusunya berdasarkan kronologi sebab turunnya ayat-ayat tersebut, kemudian memberikan keterangan dan penjelasan serta mengambil kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dalam pembahasan ini maka didapatkan kesimpulan bahwa tasbih tidak hanya bermakana sekedar pensucian Allah dari sifat-sifat yang tidak layak bagiNya. Seperti, menyamakanNya dengan sesuatu, menyatakan bahwa Dia beranak, dan mempunyai sekutu. Sebagaimana yang tertera dalam tasbih di awal surah an-Nahl, al-Jumu’ah, As-Shaff serta surah al-A’la. Atau mengartikan tasbih dalam pengertian berzikir dengan menggunakan nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang agung, seperti yang tertera dalam Asmaul husna, dengan cepat dan berulang. Lebih dari itu, tasbih menggambarkan tentang kekuasaan Allah terhadap semua ciptaanNya. Sebagamana yang diungkapkan melalui surah al-Hasyr dan at-Thaghabun. Selain itu, tasbih juga bermakna sebagai gambaran kebesaran Allah SWT, sebagaimana yang penulis pahami melalui tasbih pada surah al-Hadid. Adapun suah al-Isra’, memiliki dua makna yaitu sebagai ungkapan kesucian sekaligus kekuasaanNya. Penulis juga menemukan adanya relevansi antar tasbih diawal surah dengan isi kandungan surahnya. Dimana, tasbih yang terdapat di permulaan surah (fawatih as suwar) bukan hanya sebagai pengindah saja. Tetapi juga mewakili isi kandungan surah-surahnya. Dari semua surah-surah yang diawali ungkapan tasbih tersebut, lima surah (Q.S. al-Hadid, Q.S. al-Hasyr, Q.S. ash-Shaff, Q.S. al-Jumu’ah, dan Q.S. ath-Thaghabun) menyatakan bahwa segala sesuatu di langit dan dibumi bertasbih kepadaNya sejak dahulu, sekarang, dan masa yang akan datang. Dia-lah yang memiliki semua kekuasaan dan yang Maha bijaksan

    PEMBIASAAN SHALAT TASBIH DALAM MENINGKATKAN KONSENTRASI BELAJAR SANTRIWATI DI PONDOK PESANTREN DAARUT TASBIH AR-RAFI TANGERANG

    No full text
    Konsentrasi merupakan salah satu faktor penting yang dapat menentukan keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Namun faktanya masih banyak siswa yang sulit untuk berkonsentrasi karena pengaruh dari faktor pribadi dan lingkungan sekitarnya. Tubuh yang rileks menghasilkan konsentrasi, untuk menghasilkan tubuh yang rileks maka diperlukan stimulus. Stimulus sesuai syariat Islam yakni mendirikan shalat dan berdzikir kepada Allah SWT. Pembiasaan melaksanakan Shalat Tasbih yang dilakukan di Pondok Pesantren Daarut Tasbih Ar-Rafi Tangerang adalah salah satu contoh untuk meningkatkan konsentrasi belajar santriwati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rangkaian pelaksanaan, landasan pelaksanaan dan dampak Shalat Tasbih terhadap konsentrasi belajar santriwati di Pondok Pesantren Ar-Rafi Tangerang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Pembiasaan Shalat Tasbih dilaksanakan dengan baik dan konsisten, serta didukung oleh dzikir tasbih di kegiatan lainnya dalam keseharian. Karena pembiasaannya dilakukan dengan baik, maka keutamaan yang ada didalamnya menghasilkan dampak positif yakni konsentrasi belajar. 2)\ud Peningkatan konsentrasi belajar santriwati setelah melakukan pembiasaan Shalat Tasbih ini dalam kondisi baik. Hal ini dibuktikan dari hasil kuisioner indikator konsentrasi belajar yang mendapatkan presentasi tinggi. ******************************************************* Concentration is one of the important factors that can determine student success in the learning process. But in fact there are still many students who find it difficult to concentrate because of the influence of personal factors and the surrounding environment. A relaxed body produces concentration, to produce a relaxed body meditation is needed. Meditation according to Islamic law is to establish prayer and dhikr to Allah SWT. The habit of carrying out the Tasbih Prayer at the Daarut Tasbih Ar-Rafi Islamic Boarding School in Tangerang is one example of increasing the concentration of student learning. This study aims to determine the series of implementation and foundation of Pondok Pesantren Ar-Rafi Tangerang in carrying out the habit of praying Tasbih for female students. This study uses a qualitative metho with a descriptive analysis approach. Data was collected through observation, interviews and questionnaires. The results showed: 1) The habit of praying Tasbih was carried out properly and seriously. Because the habituation is done well, the virtue in it produces a positive impact, namely learning concentration. 2) Increasing the concentration of female students after making the habit of praying the Tasbih Prayer is ery good. This is evidenced by the results of the questionnaire on the indicator of learning concentration which got of high presentation

    Salat Tasbih, Sunnah atau Bid’ah? (Studi Atas Kualitas Hadith Salat Tasbih)

    Full text link
    This research discusses the hadith about the Tasbih prayer. The researcher focuses on the quality of the sanad and the matan of the hadiths. Based on the researcher discussion, it concluded that although there were many narrations about the sunnah of the Tasbih prayer which have weaknesses in the narrators, but the hadiths related to it were valid to be used as evidence in terms of both the sanad and the matan. Among the narrations about the Tasbih prayer was the hadith of Ibn Abbas ra. from the path of Ikrimah ra. and the Hadith of Al-Anshary from the path of Urwan bin Ruawimi. The opinion, therefore, which permitted the prayer of tasbih circumcision to be carried out, was stronger than that which prohibited it. The argument about the Tasbih prayer, whether it was sunnah or not, was the foundation of this research

    Pemaknaan Kata Tasbih pada Awal Surat Al-Qur’an

    No full text
    In the al-Qur’an, there are seven surahs that start with the root word of sabbaha in various forms. The word tasbih is a maṣdar of the word sabbaha which means to keep God away from bad qualities. This study aims to seek clarification of the expression of tasbih and seek the opinion of mufasir on the differences in the expression of tasbih at the beginning of the surahs of the al-Qur’an. The research method used in this study is the mauḍū'i method. This type of research is library research. Primary data sources come from Tafsr mafātih al-Ghayb, Tafsr al-Misbah, Tafsr Sayyid Quṭb, Tafsr Wahbah al-Zuhayli, and Tafsr al-Qurṭubi. The results showed that the word tasbih using maṣdar (Subhāna) states as an affirmation. The word tasbih using fi'l māḍi (Sabbaha) means that from the past until now all creatures on the earth and sky are glorifying. The word tasbih using fi'l muḍāri' (Yusabbihu) does not only states in the present and the future but also states as a past and the act of glorifying is done repeatedly. The word tasbih uses fi'l al-amr (Sabbih) works as a reminder to always glorify during prayer times and off prayer times.  Di dalam al-Quran, ada tujuh surah yang dimulai dari akar kata sabbaha dan dalam berbagai bentuk. Kata Tasbih merupakan maṣdar dari kata sabbaha yang bermakna menjauhkan Allah dari sifat-sifat buruk. Penelitian ini bertujuan mencari klarifikasi ungkapan tasbih dan mencari pendapat mufassir terhadap perbedaan ungkapan tasbih di awal surah-surah al-Quran. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode mauḍū‘i. Jenis penelitian bersifat studi kepustakaan (library research). Sumber data primer berasal dari Tafsīr mafātih al-Ghayb, Tafsīr al-Misbah, Tafsīr Sayyid Quṭb, Tafsīr Wahbah al-Zuhayli, dan Tafsīr al-Qurṭubi. Hasil penelitian menunjukkan kata tasbih dengan menggunakan maṣdar (Subhāna) berfungsi sebagai penegasan. Kata tasbih dengan menggunakan fi‘l māḍi (Sabbaha) bermakna dari dulu hingga sekarang seluruh makhluk di muka bumi dan langit bertasbih. Kata tasbih dengan menggunakan fi‘l muḍāri‘ (Yusabbihu) tidak hanya berfungsi zaman kini dan akan datang, tetapi juga berfungsi sebagai masa lampau dan perbuatan bertasbih dilakukan secara berulang-ulang. Kata tasbih dengan menggunakan fi‘l al-amr (Sabbih) sebagai peringatan untuk senantiasa bertasbih baik di luar waktu ṣalat maupun di dalam waktu salat.

    NILAI-NILAI EDUKASI SPIRITUAL DALAM REDAKSI HADIS SHALAT TASBIH

    Full text link
    Shalat Tasbih adalah shalat sunnah yang pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. kepada pamannya, al-‘Abbas. Tata cara shalat ini berbeda dengan shalat fardu dan shalat sunnah lainnya. Shalat sunnah tasbih berjumlah 4 rakaat; pada tiap rakaatnya dibaca tasbih 75 kali, sehingga total bacaan tasbih sebanyak 300 kali. Ditinjau dari perspektif ilmu hadis, hadis tentang Shalat Tasbih ditemukan pada Sunan Abi Dawud (w. 275 H), hadis nomor 1297; Sunan al-Tirmidzi (w. 279 H), hadis nomor 481, Sunan Ibn Majah (w. 273 H), hadis nomor 1387, Shahih Ibn Khuzaimah (w. 311 H), alMustadrak ‘ala al-Shahihain karya al-Imam al-Hakim (w. 405 H), dan al-Sunan alKubra karya al-Imam al-Baihaqi (w. 458 H). Hadis-hadis shalat tasbih memiliki kualitas yang hasan (bagus) karena jalur periwayatannya (sanad) banyak dan bersambung. Terdapat perawi yang dianggap majhul (tidak diketahui), tetapi setelah ditelusuri dapat dibuktikan kejujurannya serta ketersambungan sanadnya. Ada juga yang dianggap lemah hafalannya, tetapi didukung hadis penguat (syāhid) sehingga peringkatnya naik menjadi hasan li-ghairi (bagus karena didukung hadis lain). Untuk memahami hadis shalat tasbih, terdapat dua metode, yaitu metode ahli hadis dan metode ahli fikih. Metode ahli hadis cenderung tekstualis dan menerima shalat tasbih sebagai amal sunnah yang disyariatkan. Metode ahli fikih lebih kontekstual dan rasional serta memahami shalat tasbih sebagai sunnah yang disyariatkan dengan cara tertentu. Hasil analisis terhadap redaksi hadis, ditemukan pula nilai-nilai edukasi spiritual yang amat berharga, yaitu: (1) pengulangan bacaan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir sebanyak 300 kali, (2) anjuran mengulangi shalat tasbih minimal setahun sekali atau seumur hidup, (3) penguatan sikap tawajjuh (fokus menghadap) kepada Allah Swt. dalam durasi yang lama, (4) penguatan kesabaran dan keteguhan hati dalam beribadah, (5) penguatan nilai kesetaraan dalam kehidupan sosial dan nilai kerendahan manusia di hadapan Sang Khalik sebagai aktulisasi rukuk dan sujud, (6) pengampunan atas semua dosa yang pernah dilakukan, (7) benefit spiritual berupa ketenteraman dan kebahagiaan hati

    Dilālah Maqomlafaz Tasbih in the Perspective of the Quran

    Full text link
    The word tasbih, as an expression of praise for the greatness of Allah, has an important position in the teachings of the Koran. Although tasbih is generally understood as a form of exaltation, in the Al-Quran, tasbih contains various maqom that reflect spiritual dimensions and deeper understanding. This research aims to examine the maqom of lafaz tasbih in the perspective of the Koran, with a focus on the four main maqom: Maqom tanzih (gift of purity), maqom at-Thalab (supplication), maqom nafi (disclaimer), and maqom al-Ta'ajjub (surprise). The method used is qualitative with a descriptive-analytic approach to understand the context and purpose of using tasbih lafaz in the verses of the Koran. The results of the research show that the pronunciation of tasbih has varied functions according to the context, including as a form of glorification of Allah's holiness (maqom Tanzih), a request for His mercy (maqom at-Thalab), an affirmation of the denial of bad qualities for Allah (maqom Nafi), and an expression of surprise at His power (maqom al-Ta'ajjub). In conclusion, understanding the maqom maqom of tasbih provides depth in the practice of worship and appreciation of the nature of God's greatness which is reflected in every word of the tasbih

    PELAKSANAAN METODE TASBIH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL QURAN

    Full text link
    The Tasbih Method emphasizes structured repetition and consistency in recitation practice, similar to the use of tasbih in dhikr. This research uses a qualitative method with a literature study approach and interviews to examine theories, concepts, and research results related to the Tasbih Method. Ustadz Rahman explained that the book "Tasbih Method: A Quick Solution to Reading the Al-Qur’an" aims to help Muslims read the Al-Qur’an fluently and quickly without reducing the accuracy of tajweed and makhraj. This book has also been recognized by the Indonesian Ministry of Religious Affairs as one of the methods of learning to read the Qur\u27an. Learning with the Tasbih Method involves repeating the Qur\u27anic verses with rhythm and hand movements to help memorize and understand the verses. This technique makes the learning process more interesting and effective, especially for children. Ustadz Rahman also emphasizes the importance of family support in learning the Qur\u27an, as well as the need for teachers who are experienced in teaching tajweed to improve the quality of learning. The results showed that the Tasbih Method significantly improved learners\u27 ability to read the Qur\u27an. This method also helps in strengthening memory and deepening the participants\u27 understanding of the Qur\u27anic verses. With its fun and engaging approach, the Tasbih Method has great potential to be widely applied in Qur\u27anic education in various Islamic educational institutions

    KONSTRUKSI SHALAT TASBIH PADA SETIAP MALAM JUM’AT WAGE

    Full text link
    Tasbih prayer is worship that one of the goals is to ask forgiveness for sins that have been committed to Allah SWT. And because of Allah from. Which is evil. This paper examines what the tasbih prayer has at the An-Nur Islamic Boarding School 1 starting from the factors behind the tasbih prayer, the procedures for practicing the tasbih prayer, and also the impact that are obtained after the tasbih prayer. This paper also tells about Manaqib Shaykh Abdul Qadir al-Jailani, which is also a tradition and is read regularly after the tasbih prayer at the An-Nur Islamic Boarding School 1. The method used in this study is a qualitative research method, the data obtained from observations and interviews conducted by researchers. This paper is expected to be able to answer various questions that form the basis of the subject in this paper. The implementation of the tasbih prayer at Pondok Pesantren An-Nur 1 has a strong foundation so that it makes it a tradition and continues to be carried out to this day both by students and alumni

    Makna tasbih dalam Al-Qur’an (studi tafsir tematik)

    Full text link
    Para ahli tafsir dalam menafsirkan tasbih itu Tanzih Ilallah akan tetapi dalam memahami bagaimana bentuk tasbih makhluk yang Ghairu Mukallaf mereka berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa tasbih makhluk Ghairu Mukallaf itu dimaknai dengan makna Hakiki ada yang dimaknai dengan makna Majazi. Akan tetapi pada dasarnya, Allah telah memberikan rambu-rambu untuk manusia yang terdapat dalam al-Qur’an surat al-Isra ayat 44 yaitu bahwa semua apa-apa yang ada di langit tujuh dan bumi semuanya bertasbih akan tetapi kalian semua tidak akan mengetahui tasbih mereka. Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah pertama, bagaimana konsep tasbih dalam Al-Qur'an, kedua Bagaimana cara bertasbih sesuai dengan penjelasan al-Qur’an dan yang ketiga Apa relevansi anjuran bertasbih dalam kehidupan, sedangkan untuk penelitian skripsi ini bersifat library murni. Mengumpulkan seluruh ayat-ayat Al-Qur'an yang berhubungan, sebagai data deskriptif,. Pendekatannya ilmu tafsir, karena yang menjadi kajian adalah ayat-ayat Al-Qur'an. Dalam usaha penafsiran makna kata tasbih dalam Al-Qur'an agar mendapatkan sebuah pemahaman yang pas dan sesuai dengan kehendak sang pencipta, maka penafsiran ini menggunakan metode tafsir maudhui atau tafsir tematik, dengan metode tafsir tematik tersebut diharapkan mendapatkan informasi tentang makna kata tasbih secara komprehensif dan lebih dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dengan menggunakan penafsiran secara tematik, dapat diketahui bahwa ternyata konsep tasbih dalam Al-Qur'an memiliki pemahasucian terhadap apa-apa yang disekutukan kepada Allah. Maka dalam Pengungkapan ayat-ayat tasbih digandengkan dengan kata Mustakbirun, Yasifuun, Musyrikun, dan juga banyak yang terdapat kata yang meng-Esa-kan Allah Swt seperti kata wahidan, dan juga banyak kata tasbih selalu diakhiri dengan Asmaul Husna yang menunjukkan makna ketinggian dan kebesaran-Nya yaitu seperti kata ‘Uluwan, Kabiir, Qahhar, Adapun dalam cara atau bentuk bertasbihnya disini ada dua pendapat akan tetapi pada hakikatnya semuanya bertasbih tidak terkecuali apapun, adapun tasbih mereka dengan menggunakan bahasa mereka sendiri dan bentuk fitrah mereka yaitu yang selalu tunduk dan patuh atas perintah Allah Swt. Akan tetapi al-Qur’an memberikan isyarat yang terdapat dalam QS. Ar-Rad: 13 yaitu Tusabbih Ar-Ra’du Bi Hamdihi ini mengindikasikan bahwa alam bertasbih dengan bacaan tahmid yaitu al-hamdulillah seperti halnya tasbih Malaikat. Adapun relevansinya tasbih dalam kehidupan terutama pada manusia yaitu supaya manusia itu menjadi manusia yang sabar, tawakkal dan taubat yaitu dalam al-Qur’an kata tasbih di awali dengan kata sabar (Fasbir ’Ala Maa Taquuluun Wa Sabbih Bi hamdi rabbika) dan Tawakkal (Watawakkal ’Ala Al-Hayyi Al-Ladzi La Yamut Wasabbih Bi Hamdihi) dan taubat (Fasabbih Bi Hamdika Wastagfirh) Adapun dalam waktu pentasbihan kepada Allah Swt dalam al-Qur’an disebutkan yaitu lail dan nahar (malam dan siang) dan buqrah dan ashil (pagi dan petang) akan tetapi kebanyakan ahli tafsir menafsirkan Lail, Nahar, Bukrah, Ashil ini waktu yang begitu panjang, terus menerus tidak ada habisnya. Dalam al-Qur’an juga diperingatkan bagi makhluk yang tidak bertasbih yaitu adab yang begitu pedih ’Adaba al-Jahiim. Karena tasbih tidak ada batasannya maka jika salah satu alam tidak bertasbih maka kehancuran dan kebinasaanlah yang akan terjadi. Karena alam semesta ini dibuat dengan tasbih dan tahmid. Maka begitu pentingnya tasbih bagi kehidupan manusia dan alam semesta. Wallahu A’alam Bi Muradi
    corecore