1,720,985 research outputs found

    Character Values In The Local Tradition Of Syariful Anam In The Malay Community Of The Riau Island

    Full text link
    This study examines the character values ​​that exist and is contained in the syariful anam tradition of the Malay people of the Riau Archipelago. The syariful anam tradition is a unique tradition that combines religious elements and cultural elements of the Riau Archipelago Malay community, which has been carried out for generations. The practice of syariful anam is a hair cut procession or haircut for babies who have not yet entered the age of 2 years. The religious element contained in this tradition is the reading of praise or community poetry and barzanji of the Prophet Muhammad SAW. The cultural component of this tradition is the activity of white flour. The haircutting process for the child is carried out at home or in a room. A small piece of hair is put in a container, and the child is carried or supported by his family to the nearest mosque accompanied by the recitation of barzanji in response; then, the child will be sprinkled with plain flour. Implementing the Syariful Anam tradition is held on the anniversary of one of the essential Islamic days, the Birthday of the Prophet Muhammad. This research method is field research by conducting observations, distributing questionnaires with participants, and conducting interviews with community leaders and elders who understand this syariful anam tradition, then analyzing all the data collected and describing the findings. The content of character values ​​in this syariful anam tradition includes the importance of faith and Islamic worship, belief in prophets and apostles, the value of gratitude to Allah SWT, servitude, surrender, obedience, respect, maintaining cleanliness, helping others. , tenacious, patient, challenging, and independent

    Preferensi Penggunaan Mushaf Al-Qur`an di Kalangan Santri- Mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon: Studi Kasus Pondok Pesantren Tahfidz Syariful Anam Kelurahan Karyamulya

    Full text link
    Penelitian Skripsi ini membahas tentang Preferensi Penggunaan Mushaf Al- Qur`An Di Kalangan Santri-Mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon: Studi Kasus Pondok Pesantren Tahfidz Syariful Anam Kelurahan Karyamulya. Bertujuan untuk mengetahui preferensi dan efektivitas dari penggunaan mushaf Al-Qur`an di era digital ini. Apakah dengan adanya digitalisasi di lingkungan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon ini mempengaruhi para penghafal Al-Qur`an untuk menggunakan media digital atau tetap mempertahankan mushaf cetak sebagai media menghafal mereka. Maka dari itu penelitian ini mencantumkan dua rumusan masalah yakni, bagaimanakah preferensi dan efektifitas dari penggunaan kedua media tersebut dalam menggunakan mushaf Al-Qur`an cetak maupun digital. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (field research), metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian untuk preferensi dari penggunaan Al-Qur`an cetak vs Al-Qur`an digital ini santri Syariful Anam mendapatkan hasil bahwa Al-Qur`an cetak lebih dominan dalam pencapaian hafalan mereka dibanding dengan Al-Qur`an digital. Kemudian karena bisa ditandai, kata atau ayat yang dihafal mudah diingat karena letak dan posisinya jelas sehingga penghafal lebih memilih menggunakan Al-Qur`an cetak dalam menghafal. Untuk Al-Qur`an digital biasanya hanya digunakan untuk muroja`ah diluar Asrama atau hanya sekedar membaca saja. Adapun untuk efektifitas penggunaan Al-Qur`an cetak lebih dominan digunakan oleh santri penghafal Al-Qur`an di Syariful Anam ini. Karena dirasa lebih nyaman, khusu`, terasa lebih nikmat dan dekat dalam beribadah dengan menggunakan Al-Qur`an cetak

    ETIKA DALAM PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) PADA GENERASI Z DI PONDOK PESANTREN SYARIFUL ANAM KOTA CIREBON

    Full text link
    Pada abad post modern ini, teknologi telah menjadi komponen kunci dalam mendefinisikan manusia dan masyarakat. Kehadiran teknologi, terutama dalam bentuk teknologi informasi dan komunikasi seperti Artificial Intelligence (AI), telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah untuk memberikan pemahaman dasar tentang teknologi AI pada santri di pesantren  Syariful Anam, sehingga para santri dapat lebih memahami cara kerjanya dan potensi pemanfaatannya serta meningkatkan kesadaran tentang etika dan memberikan wawasan tentang dampak teknologi AI secara luas dan memberikan perspektif yang lebih holistik. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu dengan memberikan seminar sebagai upaya interaktif dan diskusi untuk menyampaikan informasi dan pengetahuan kepada peserta. Hasil dari kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa peserta, termasuk Generasi Z, menunjukkan antusiasme dan kesadaran yang tinggi tentang pentingnya etika dalam pemanfaatan teknologi AI. Dengan pemahaman etika yang mendalam tentang penggunaan teknologi AI, Generasi Z diharapkan dapat menjadi pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran etika yang tingg

    Murshid Contestation: Betwen Iktisābī and Minhāh Ilāhiyyah

    Full text link
    A murshid has a great duty and responsibility to conduct suluk formation (spiritual journey) to his students. So that the murshid are also required to have adequate competence and qualifications, in order to carry out their duties and functions. The functions and duties of the murshid in the tarekat (the path of Islamic Mysticsm) are very important, because only a murshid has the qualifications, abilities and expertise that can carry out their functions correctly, correctly and run accordingly. So that this aspect of ability and expertise will later be discussed as a discussion of the qualifications of a murshid in the tarekat. What is the actual qualification of murshid in the tarekat and what is its function in that proximity. This research is a type of field research. That is with the object of the study of the murshid of the Naqsabandiyyah Khalidiyyah in the sub-district of wedung precisely in the village of Jetak (KH. Abdul Haq), Buko village (KH. Ali Hafidz and KH. Ahmad Dalhar) and Mutih village (KH. Mansur Sanusi). The author collects data using the method of field observation, interviews and documentation. Next, the writer analyzes the data using descriptive analysis and understands the meaning. The results of the study stated that the murshid of the Naqsabandiyyah Khalidiyah tarekat in Wedung District argued that between the murshid tarekat function is hifdz sanad, talqin, tawassul, rabitah, tawajjuh and irsyad. While the qualifications to become murshid, among others; First, a murshid must be someone who is pious and amil bi ilmihi. The second has a clean heart, Third, has completed or khatam dzikir and khalwat tarekat (riyadhah), Fourth, has a murshid sanad, even though the inqitha'us sanad is from its predecessor murshid but continued with other murshid teachers in the same type of tarekat. Fifth, get permission from the murshid teacher. Sixth, knowing the wisdom behind all acts of worship (if possible). Through this research, the author recommends the need to study more about the wider range of murshid tarekat qualifications and not just the Naqsabandiyyah Khalidiyyah tarekat Indonesia. Thus, the form of the murshid qualifications will be found in several comprehensive tareka

    Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Metanol Benalu Batu(Begonia sp.): Ethnomedicine Suku Wana Sulawesi Tengah

    No full text
    Benalu batu (Begonia sp.) merupakan tumbuhan obat tradisional yang digunakan oleh suku Wana di Sulawesi Tengah untuk mengobati berbagai macam penyakit, termasuk penyakit kanker. Dalam usaha mendapatkan obat antikanker yang potensial dari bahan alam, maka dilakukan pengujian aktivitas antikanker ekstrak metanol herba benalu batu terhadap sel kanker leher rahim (HeLa) dan sel kanker payudara (T47D) serta menentukan golongan senyawa kimia dari ekstrak yang diduga bertanggung jawab terhadap aktivitas antikanker. Penelitian ini meliputi ekstraksi herba kering benalu batu dengan metode sokhletasi menggunakan pelarut metanol, dilanjutkan dengan penguapan pelarut menggunakan rotarivapor sampai didapatkan ekstrak kental. Pengujian aktivitas antikanker ekstrak metanol benalu batu terhadap sel kanker leher rahim (HeLa) dan sel kanker payudara (T47D) dilakukan secara in vitro dengan metode tetrazolium bromida (MTT). Seri konsentrasi ekstrak metanol yang digunakan adalah 250, 125, 62,5 dan 31,25 μg/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol benalu batu memberikan efek hambatan pertumbuhan sel kanker leher rahim (HeLa) lebih besar (IC50 = 70,97 μg/mL) daripada terhadap sel kanker payudara (T47D) (IC50 = 122,21μg/mL). Hasil analisis komponen kimia ekstrak menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT) mengindikasikan bahwa golongan senyawa polifenol flavonoid berperan dalam memberikan aktivitas antikanker

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    KOMPLEKSITAS UNSUR PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN SALAF ASRAMA PERGURUAN ISLAM TEGALREJO MAGELANG DAN PONDOK PESANTREN MODERN PABELAN MAGELANG (STUDI KOMPARASI)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk 1) Menjelaskan unsur pendidikan di Pondok Pesantren API Tegalrejo dan Pondok Pesantren Pabelan. 2) Menjelaskan proses pendidikan di Pondok Pesantren API Tegalrejo dan Pondok Pesantren Pabelan. 3) Menjelaskan perbandingan unsur pendidikan di Pondok Pesantren API Tegalrejo dengan Pondok Pesantren Pabelan. 4) Menjelaskan perbandingan proses pembelajaran di Pondok Pesantren API Tegalrejo dengan Pondok Pesantren Pabelan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang dan Pondok Pesantren Pabelan Magelang pada bulan Februari sampai April 2017. Narasumber dalam penelitian ini berjumlah empat belas, dari masing-masing pondok pesantren berjumlah tujuh narasumber yang terdiri dari satu pimpinan pondok, tiga pengurus dan tiga santri. Data dikumpulkan melalui tiga teknik, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data ditentukan dengan cara triangulasi, yaitu membandingkan hasil wawancara pimpinan pondok, pengurus dan santri, dan membandingkan hasil wawancara dengan pengamatan yang dilakukan peneliti. Analisis data yang digunakan yaitu mengklasifikasikan data-data yang diperoleh, kemudian dikumpulkan untuk dianalisis dan diambil kesimpulan. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa: 1) Pada masing-masing pondok pesantren memiliki unsur pendidikan yang sama akan tetapi dengan model pelaksanaan dan implementasi yang berbeda. 2) Proses pembelajaran yang dilaksanakan pada masing-masing pondok pesantren yaitu dengan sistem pembelajaran klasikal dengan didukung pembelajaran mandiri di bawah bimbingan pendamping kamar. 3) Unsur pendidikan yang terdapat di Pondok Pesantren API Tegalrejo sangat sederhana sesuai dengan model pendidikan di pondok pesantren salaf, sedangkan unsur pendidikan yang terdapat di Pondok Pesantren Pabelan lebih modern dan cendrung seperti unsur pendidikan yang terdapat di lembaga pendidikan formal. 4) Proses pembelajaran di pondok pesantren API Tegalrejo masih sangat mempertahankan tradisi pesantren, yaitu dengan materi 100% pendidikan agama dan hanya bersumber dari kitab kuning, sehingga metode dan peralatan yang digunakan tidak bisa mengikuti perkembangan. Sebaliknya yang terdapat di Pondok Pesantren Pabelan, karena materi pelajarannya sudah menggunakan kurikulum campuran maka pembelajaran yang berlangsung bisa mengikuti perkembangan yang terdapat di dunia pendidikan saat ini, peralatan sebagai media pembelajarannya sudah modern seperti penggunaan proyektor, internet dan berbagai ruang laboratorium
    corecore