1,721,015 research outputs found

    Transformasi Bentuk Zipper ke Gerak Tubuh Wanita sebagai Ide Penciptaan Karya Patung

    Full text link
    Zipper (ritsluiting) adalah alat untuk membuka dan menutup pakaian. Ketertarikan penulis mengangkat zipper sebagai karya patung karena zipper mempunyai bentuk-bentuk yang unik dan menarik dengan asumsi bahwa bentuk-bentuk zipper tersebut mampu mewakili berbagai gerak tubuh wanita dan gerak estetis dari kesan gerak tubuhnya. Tujuan dari penciptaan seni patung ini adalah untuk menemukan berbagai kemungkinan bentuk zipper dan mentransformasikan bentuk zipper ke gerak tubuh wanita. Bahan pembuat patung menggunakan plastik dan logam

    Studi Keragaan Udang Windu (Penaeusmonodon) Dan Udang Putih (Litopenaeusvannamei) Yang Dipelihara Pada Tambak Semi Plastik

    Full text link
    The cultures of white shrimp (L.vannamei) in Indonesia have highly developed Since its introduction on the beginning of 2000’s. This species which is originated from Central America has successfully triggered shrimp cultures in Indonesia due to its high productivity. White shrimp has several advantages such as high survival rate (SR), high density, high disease resistance, low feed conversion ratio (FCR) as well as lower feed cost. The aim of this research was to study the performances of white shrimp and black tiger shrimp (P. monodon) cultured intensively in semi plastic pond including yield, SR, FCR, and average daily gain (ADG). Method of this research was case study of white shrimp and black tiger cultures in The Province of Lampung. Data were taken from 20 of 0.5 ha-shrimp pondsrespectively. Results showed that the average productivity of black tiger shrimp was 3,147kgs per pond with initial stock of 255,451 pl’s, SR of 54%, FCR of 1,46 and ADG of 0,17 gram per day. While the average productivity of white shrimp was 7,503 kgs per pond with initial stock of 514,035 pl’s, SR of 83%, and ADG of 0,14 gram per day.Key words : Black tiger shrimp, white shrimp, semi plastic pon

    PENERAPAN METODE IN HOUSE TRAINGING GUNA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU DALAM MENGGUNAKAN APLIKASI GOOGLE CLASSROOM SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN GURU MI DARUL HIKAM

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan metode In House Training dalam meningkatkan kompetensi guru dalam menggunakan aplikasi Google Classroom sebagai media pembelajaran daring masa pandemi Covid-19 pada guru MI Darul Hikam Kalirejo Undaan Kudus.Penelitian ini menggunakan penelitian lapangan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dalam penilitian ini mengguanakan observasi dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa kompetensi guru MI Darul Hikam Kalirejo sudah mengalami peningkatan, masuk dalam kriteria cukup. Sehingga kriteria tersebut belum mampu memberikan hasil yang signifikan. Sehingga peneliti menghasilkan bahwa sudah memahami dengan baik tentang penggunaan aplikasi Google Classroom sebagai media pembelajaran jarak jauh dengan baik. Hal tersebut nampak dari kesiapan para guru untuk mempersiapkan dokumen tentang penggunaan aplikasi Google Classroom sebagai media pembelajaran jarak jauh. Dari hasil kegiatan In house training 2  dapat simpulkan bahwa pada dasarnya kompetensi guru dalam penggunaan aplikasi Google Classroom sebagai media pembelajaran jarak jauh telah memenuhi kriteria keberhasilan

    ANALISIS DIATOM EPIPELIC SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS LINGKUNGAN TAMBAK UNTUK BUDIDAYA UDANG

    Full text link
    Manajemen kualitas air dan dasar tambak mempunyai peran yang sangat penting pada keberhasilan budidaya udang. Diatom epipelic merupakan salah satu microalgae yang banyak ditemui di sedimen tambak dan keberadaannya dipengaruhi oleh kualitas air maupun sedimen. Karena hidup di dasar tambak, jenis dan kelimpahannya sangat dipengaruhi kondisi dasar perairan. Pengembangan studi tentang diatom epipelic sebagai indikator kualitas air dan kesuburan suatu ekosistem budidaya masih terbatas jika dibandingkan dengan plankton. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemungkinan pemanfaatan diatom epipelic sebagai indikator kualitas lingkungan tambak untuk budidaya udang, yaitu dengan cara : (1) menganalisis keberadaan diatom epipelic yang ada di tambak budidaya udang dan (2) menganalisis hubungan antara berbagai parameter kualitas air dan kualitas sedimen dengan kelimpahan dan keragaman diatom epipelic pada tambak udang. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif untuk mempelajari struktur diatom epipelic yang ada di tambak udang. Pengumpulan data dilakukan terhadap 12 unit tambak udang pada masa persiapan air (pratebar) dengan letak tambak yang berbeda dari pintu masuk air. Pengumpulan data epipelic algae dilakukan dengan metode lens tissue trapping. Selain diatom epipelic, data yang dikumpulkan antara lain kualitas air dan kualitas sedimen tambak. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa diatom epipelic di lokasi tambak budidaya udang didominasi oleh Nitzschia dan Pleurosigma. Diatom epipelic dapat dijadikan indikator kualitas lingkungan tambak untuk budidaya udang. Hal ini dapat dilihat dari hubungan diatom epipelic dengan kualitas air dan sedimen. Keragaman diatom epipelic dipengaruhi oleh alkalinitas (rs = 0,75), TOM (rs = 0,71), dan nitrat (rs = 0,66), sedangkan kualitas sedimen yang berpengaruh terhadap keragaman diatom epipelic antara lain : KPK tanah (rs = 0,72), kandungan liat (rs = 0,65), dan kandungan bahan organik (rs = 0,62). Water quality and pond bottom management play an important role in the success of shrimp culture. Epipelic diatom is one of benthic microalgae that can be excessively found in the brackish water pond sediment and its existence are influenced by water quality and type of sediment. Due to living at the bottom of pond, the species type and abundance are extremely affected by the condition of pond bottom water. Study on the development of epipelic diatom as an indicator of water quality and of productivity certain ecosystem is still limited compared to the study of plankton. The use of epipelic diatom to support the quality analysis of the brackish water pond area may highly helpful especially for demersal-lived species cultivation just like shrimp. The aim of this research was to evaluate the possibility of using epipelic diatom as an indicator of the brackish water pond environment quality for shrimp culture, there were by : (1) analyzing the presence of epipelic diatom in the shrimp culture pond, and (2) analyzing the relation between various parameters of water and sediment quality with the abundance and epipelic diatom diversity in the shrimp pond. This research was an explorative one to study about epipelic diatom structure that present in the shrimp pond. Data collection was done in 12 shrimp pond units during water preparation period (pre-spreading) with the different locations of each pond from the watergate. The data collection of epipelic diatom was done by using lens tissue trapping method. In addition to epipelic diatom, other collected data was water and sediment quality. From the research results showed that epipelic diatom in the location of the brackish water pond were dominated by Nitzschia and Pleurosigma. Epipelic diatom could be an indicator of brackish water pond environment quality, because of relation among them. Epipelic diatom diversity was influenced by alkalinity (rs = 0.75), TOM (rs = 0.71), and nitrate (rs = 0.66), meanwhile sediment quality parameter influential on epipelic diatom diversity were among others: cation exchange capacity (rs = 0.72), clay content (rs = 0.65), and organic matter content (rs = 0.62)

    Evaluasi Kualitas Sedimen Beberapa Tambak Udang Di Kabupaten Tulang Bawang Provinsi Lampung

    Full text link
    Pond bottom  management play  an important role in the success of shrimp culture. Study on the     use of pond bottom pond as an indicator of shrimp pond productivity is still limitted.   Shrimp culture has been developing in tulang Bawang Regency, Province of Lampung since early 1990.  The waste produced by shrimp culture activity is possible to reduce pond bottom soil quality due to high organic compund and toxic material. The aim of this research was to evaluate the shrimp ponds bottom condition in Tulang Bawang Regency, Province of Lampung.  This research was an explorative one.  Data collection was done towards 12 shrimp pond units during water preparation period (pre-spreading) with the different locations of each pond from the watergate. The collected data of pond soil qualities were organic matter content, chlorophyll a, cation exchange capacity, oxidation-reduction potential, pH, and soil texture. The research results showed that soil qualities in shrimp ponds in Tulang Bawang Regency were still in range for shrimp culture. In generally, shrimp ponds in the area have soil textute of clay, sandy, and sandy clay.Chlorophyll a content, oxidation reduction potential (ORP) and organic carbon matter content were 21,5 μg/g, 76 mv and 1,26% in average respectively.  Meanwhile  cation exchange capacity and soil pH were 11,2 me/100g and 6,8 in average

    KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (STUDI KASUS PADA KELOMPOK KERJA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( KKG PAI ) DI UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN BRATI KABUPATEN GROBOGAN)

    Full text link
    Profesionalisme guru dihubungkan dengan tiga faktor penting, yaitu kompetensi, sertifikasi, dan tunjangan profesi. Ketiga faktor tersebut mempengaruhi kualitas pendidikan. Pasca sertifikasi seyogyanya merupakan tonggak awal bagi guru untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme secara kontinyu. Untuk memfasilitasi peningkatan kompetensi guru, diperlukan manajemen pengembangan kompetensi guru. Hal ini perlu dipikirkan oleh berbagai pihak yang berkepentingan, karena peningkatan kompetensi guru merupakan indikator peningkatan profesionalisme guru. Manajemen pengembangan kompetensi guru dimaksudkan untuk memajukan dan meningkatkan mutu, keahlian, kemampuan, dan keterampilan guru PAI kesempurnaan pelaksanaan pekerjaannya. Salah satu wahana pengembangan kompetensi guru melalui Kelompok Kerja Guru. Hambatan yang muncul meliputi cara meningkatkan kompetensi pedagogik guru, peran Kelompok Kerja Guru (KKG) dalam meningkatkan kompetensi profesional/pedagogik guru, dan format kegiatan kelompok kerja guru yang ideal sehingga mampu membantu meningkatkan kompetensi pedagogik guru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, artinya lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antara fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah. Subyek penelitian ini adalah Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam Kecamatan Brati Kabupaten Grobogan anggotanya dan programnya.. Teknik pengambilan data dengan menggunakan metode wawancara, metode observasi (pengamatan), metode dokumentasi, dan teknik analisis data menggunakan model Spradley, kemudian menyajikan data, dan mengambil kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam Kecamatan Brati Kabupaten Grobogan memiliki peran penting dalam membantu meningkatkan kompetensi guru. Melalui program kerja yang telah direncanakan, para guru mengakui bahwa kegiatan itu sangat membantu guru dan berbagai aspek. Secara normatif tidak dapat diukur sejauh mana peran yang telah dilakukan namun semangat guru untuk terus meningkatkan kompetensinya melatih berbagai kegiatan patut diapresiasi. Berdasarkan hasil wawancara, guru-guru Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam Kecamatan Brati Kabupaten Grobogan mengharapkan agar kegiatan KKG diisi dengañ kegiatan diklat, workshop, studi banding, IHT, bedah kurikulum atau kegiatan sejenis yang mampu meningkatkan kompetensinya sebagai guru. Kata Kunci : Peningkatan Kompetensi Pedagogik guru, Kelompok Kerja Gur

    Strategi implementasi teknologi biofloc dalam budidaya udang putih Litopenaeus vannamei di Provinsi Lampung

    No full text
    Abstract.Biofloc technology in shrimp farming is a new technology that has advantages over other technologies. Biofloc technology can maintain water quality, especially ammonia and pH, suppress Vibrio growth, enhance immunity, and as natural food for shrimp. The application of this technology in shrimp farming still faces several obstacles, so not all farmers apply it. This study aims to evaluate the application of biofloc systems in white shrimp farming and formulate appropriate strategies to increase farmer productivity. The study was conducted using the survey and interview method for the perpetrators of white shrimp cultivation in Lampung Province. Collected data were strengths, weaknesses, opportunities, and threats of the application of biofloc technology in the cultivation of white shrimp. The obtained data were analyzed descriptively, while the formulation of strategies was conducted using SWOT analysis. The results showed that shrimp culture technology with biofloc technology has good prospects for increasing shrimp production. However, biofloc technology also has weaknesses that can lead to the failure of shrimp farming. The application of white shrimp biofloc technology was in quadrant I (aggressive) where this system has a good internal strength to capture existing external opportunities (SO strategy). Internal strengths include a high survival rate, relatively faster growth, environmentally friendly, able to minimize disease agents that enter the culture system, and lower feed conversion, while the opportunities they have include: shrimp prices are relatively high, there is a revitalization program unproductive ponds by the government, the issue of eco-labeling, and the growing demand for shrimp exports.Keywords:SWOT analysis, water quality, strategy, shrimp production, aggressiveAbstrak. Teknologi biofloc dalam budidaya udang merupakan teknologi baru yang memiliki keunggulan dibandingkan teknologi lainnya.Teknologi biofloc dapat menjaga kualitas air terutama amoniak dan pH, menekan pertumbuhanVibrio, meningkatkan imunitas, serta sebagai pakan alami bagi udang.Penerapan teknologi ini dalam budidaya udang masih mengalami beberapa kendala, sehingga tidak semua petambak menerapkannya.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan sistem bioflocdalam budidaya udang putih dan merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan produktivitas petambak. Penelitian dilakukan dengan metode surve dan wawancara terhadap pelaku budidaya udangputih di Provinsi Lampung.Data yang dikumpulkan berupa kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity) dan ancaman (threat) penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang putih.Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, sedangkan perumusan strategimenggunakananalsis SWOT.Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi budidaya udang dengan teknologi biofloc mempunyai prospek yang baik untuk meningkatkan produksi udang.Namun demikian,teknologi biofloc juga memiliki kelemahan yang dapat menimbulkan kegagalan budidaya udang. Penerapan teknologibiofloc udang putih berada pada kuadran I(agresif)dimana sistem ini mempunyai kekuatan internal yang baik untuk menangkap peluang eksternal yang ada (strategi SO).Kekuatan internal yang dimiliki antara lain:tingkat kelulushidupan tinggi, pertumbuhan relatif lebih cepat, ramah lingkungan, mampu meminimalisir agen penyakit yang masuk dalam sistem budidaya, dan konversi pakan lebihrendah, sementara peluang yang dimiliki antara lain:harga udang relatif tinggi, adanya program revitalisasi tambak yang tidak produktif oleh pemerintah, adanya isueco labeling, serta permintaan ekspor udang yang terus meningkat.Kata kunci:Analisis SWOT, kualitas air, strategi, produksi udang, agresi

    Factors influencing the retention of early juvenile green-lipped mussels, Perna canaliculus (Gmelin, 1791), in aquaculture production

    No full text
    The global mussel aquaculture industry relies heavily on the regular supply of wild seed mussels, known as spat, to initiate aquaculture production. Supplies of wild mussel spat have a lower cost than spat produced in a shellfish hatchery, but wild spat are often highly variable in quantity, size and nutritional condition, which greatly affects their performance after being seeded out onto coastal mussel farms. For example, high losses of more than 80% of spat consistently occur within the first few weeks after seeding out in New Zealand’s green-lipped mussel (Perna canaliculus) industry. These losses have often been associated with variability of the size and nutritional condition of wild spat prior to seeding. This current study has confirmed that variability of size of green-lipped mussel spat prior to seeding affects their subsequent retention, where spat of larger than 1 mm in shell length have a higher propensity to remain attached to aquaculture longlines when compared to spat of less than 1 mm. Wild spat collected and transported for ~40 h from their collection site show reduced nutritional condition, as indicated by their low glycogen reserves. When exposed to periods of experimental starvation of up to two weeks, spat were found to utilise glycogen reserves as their primary source of energy. Observations during this current study indicated that sufficient supplies of high quality food appear to be important for spat retention both in the laboratory and field situations. Spat that were experimentally starved for up to two weeks, to emulate conditions experienced during spat transportation from the collection sites to the seeding sites, showed a lower retention in the laboratory than spat that were well fed. However, once spat were seeded out, the local environmental conditions at the seeding site at coastal mussel farms appeared to play an important role in determining the subsequent retention of mussel spat. The unfavourable environmental conditions at the mussel farm used for experimentation, may have included low water velocities and insufficient food supply, the presence of which was thought to reduce the retention of spat on the mussel farm, despite them being well fed prior to seeding. The potential use of commercially available concentrated microalgal products were experimentally evaluated as complete and partially substitutes for feeding live microalgae to mussel spat. Concentrated microalgal products can be used to replace up to 50% of live microalgae for feeding spat without compromising their survival and nutritional condition. Overall, the research presented in this study improves our understanding of the effects of size and nutritional condition of spat at the time of seeding out onto coastal mussel farms on their subsequent retention, and the nutritional requirements of spat and how these may be met through feeding live microalgae and substitute products

    Kontribusi Bakat Mekanik, Motivasi Intrinsik, dan Bimbingan Karir Terhadap Prestasi Belajar Siswa Program Keahlian Teknik Bisnis Sepeda Motor Di Smk Negeri 1 Kaligondang.

    No full text
    Penelitian bakat mekanik, motivasi intrinsik, dan bimbingan karir di SMK Negeri 1 Kaligondang pada jurusan Bisnis dan Teknik Sepeda Motor bertujuan untuk (1) mengetahui seberapa besar kontribusi bakat mekanik yang dimiliki peserta didik terhadap hasil belajar Program Keahlian Teknik Bisnis Sepeda.Motor, (2) mengetahui seberapa besar kontribusi motivasi intrinsik dalam proses belajar terhadap hasil belajar peserta didik pada Program Keahlian Teknik Bisnis Sepeda Motor, (3) mengetahui seberapa besar kontribusi bimbingan karir dalam proses belajar terhadap hasil belajar peserta didik pada Program Keahlian Teknik Bisnis Sepeda Motor, dan (4) mengetahui seberapa besar kontribusi Bakat Mekanik, Motivasi Intrinsik dan Bimbingan Karir secara bersama-sama terhadap hasil belajar Program Keahlian Teknik Bisnis Sepeda Motor. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode Ex-Post Facto. Hal itu digunakan untuk mengetahui dampak bakat mekanik, motivasi intrinsik, dan bimbingan karir terhadap prestasi belajar siswa. Subjek penelitian yaitu siswa kelas XI Program Teknik Bisnis Sepeda Motor di SMK Negeri 1 Kaligondang sebanyak 30 siswa. Metode pengumpulan data dilakukan dengan quisioner dengan skala linkert. Instrumen yang digunakan yaitu pre-test dan post-test, untuk validitas menggunakan acuan 0,5 % dan sementara tingkat reliabilitas menggunakan dasar acuan Nilai Cronbach Alpha > 0,70. Sementara metode analisis data yang digunakan yaitu deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukan bahwa analisis parsial menunjukkan adanya pengaruh bakat mekanik, motivasi intrinsik, dan bimbingan karir terhadap perstasi belajar siswa. Namun ada beberapa siswa yang kenaikan hasil belajarnya ditopang oleh variabel lainnya atau tergantung dengan variabel lain karena hasil pre-test dan post-test menunjukan hasil yang sama akan tetapi nilai ulangan mengalami peningkatan. Selain itu kontribusi bakat mekanik terhadap hasil belajar siswa yaitu bakat mekanik memberikan pengaruh 4,7% terhadap hasil belajar siswa, motivasi intrinsik memberikan pengaruh 4,51% terhadap hasil belajar siswa dan bimbingan karir memberikan pengaruh sebesar 6,35% terhadap hasil belajar siswa
    corecore