1,725,128 research outputs found
Chiral Diselenides in the Total Synthesis of (+)-Samin
Chiral selenium compounds are applied to stoichiometric as well as
to catalytic reactions in the
synthesis of substituted tetrahydrofuran derivatives: The selenium
compound 1 was used in
catalytic amounts for a rapid access to chiral diselenide 3.
The efficient stereoselective addition to
alkene 5 yields product 8 with a selenium
functionality as a precursor for an intramolecular radical
cyclization. In this way a short total synthesis of (+)-samin
(11), a naturally occurring furofuran
lignan, was achieved
Samin-derived flavonolignans, a new series of antidiabetic agents having dual inhibition against α-glucosidase and free radicals
A series of novel flavonolignans were synthesized by the reaction between a lignan named samin (1) and a range of flavonoids. This simple and rapid approach allowed direct assembly of these two bulky motifs in good yields without the formation of byproducts. Upon evaluation of antidiabetic activity of the synthesized products, epicatechinosamin (β-2g) was the most active α-glucosidase inhibitor toward maltase and sucrase. The kinetic study indicated that β-2 g inhibited the enzymes in a mixed manner of competitive and noncompetitive inhibition.</p
Interaksi Sosial Komunitas Samin dengan Masyarakat Sekitar
Komunitas Samin merupakan bagian dari masyarakat desa Klopoduwur yang menganut dan mempertahankan ajaran Samin Surosentiko. Komunitas Samin mempunyai tata cara, adat istiadat, bahasa serta norma-norma yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Dalam kajian ini penulis menjelaskan tentang bentuk interaksi sosial antara komunitas Samin dengan masyarakat sekitar desa Klopoduwur, faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial antar komunitas Samin dengan masyarakat desa Klopoduwur dan kendala yang dihadapi dalam interaksi sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk interaksi sosial antara komunitas Samin dengan masyarakat sekitar berupa kerja sama, akomodasi dan asimilasi. Sedangkan konflik atau pertentangan dalam interaksi sosial antara komunitas Samin dengan mayarakat sekitar desa Klopoduwur tidak tampak jelas. Interaksi sosial antara komunitas Samin dengan masyarakat sekitar dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni situasi sosial, kekuasaan norma kelompok, tujuan pribadi, kedudukan dan kondisi individu serta penafsiran situasi. Kendala-kendala yang dihadapi dalam interaksi sosial antara komunitas Samin dengan masyarakat sekitar adalah perbedaan bahasa yang sulit dipahami oleh masyarakat sekitar,dan adanya perbedaan nilai antara kedua kelompok sosial tersebut.. Samin community is part of the village community Klopoduwur who embrace and defend the teachings of Surosentiko Samin. Samin community has ordinances, customs, language and norms that are different from society at large. In this study, the author describes forms of social interaction between Samin and their surrounding community in Klopoduwur village, factors that affect the social interaction and the obstacles they faced. The study results indicate that these forms of social interaction between the community of Samin and local residents take the form of cooperation, accommodation and assimilation. There are no conflicts or contradictions in the social interaction between the Samin community and their neighbours. Samin social interaction between communities and local residents affected by various factors, namely the social situation, the power of group norms, personal goals, status and condition of the individual as well as the interpretation of the situation. Constraints encountered in the social interaction between communities and local residents Samin is the difference in language, and the value difference between the two social groups
PAJAK DAN SAMIN : MAKNA MEMBAYAR PAJAK PADA MASYARAKAT SAMIN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna membayar pajak menurut
masyarakat samin. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi etnografi. Ajaran
Samin yang berpedoman pada paham Manunggaling Kawula Gusti ini melahirkan
ajaran baik dan tercermin dalam perilaku membayar pajak masyarakat Samin.
Perilaku ini tidak terlepas dari ajaran falsafah hidup masyarakat Samin yang yang
meliputi 4 unsur yakni Panggada, Pangrasa, Pangrungu dan Pangawas yang
menempatkan seseorang pada tingkatan tertinggi dirinya sendiri. Peneliti ingin
fokus menyoroti tentang perilaku perpajakan masyarakat Samin karena masyarakat
Samin terkenal unik karena pandangannya mengenai perpajakan. Penelitian
etnografi sebagai metodologi penelitian ini juga akan memberikan wawasan lebih
luas mengenai riset perpajakan
Masyarakat Samin (Studi Tentang Interaksi Masyarakat Samin dan non-Samin Di Desa Baturejo Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati)
Masyarakat Samin merupakan bagian dari masyarakat Desa Baturejo yang menganut dan mempertahankan ajaran Samin Surosentiko. Masyarakat Samin mempunyai tata cara, adat istiadat, bahasa serta norma-norma yang berbeda dengan masyarakat non-Samin di Baturejo. Masyarakat Samin merupakan potret kehidupan masyarakat tradisional Jawa. Secara historis memiliki karakter masyarakat yang sangat tertutup, sedangkan masyarakat non-Samin merupakan bentuk masyarakat yang sudah modern, terbuka dengan adanya unsur baru yang berasal dari luar kebudayaan mereka. Meskipun memiliki perbedaan kultur sosial, masyarakat Samin dan non-Samin di Desa Baturejo hidup berdampingan dan melakukan interaksi antara satu dengan yang lain. Hal ini dibuktikan dengan adanya kontak sosial dan komunikasi diantara mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang bagaimana bentuk interaksi sosial antara masyarakat Samin dengan masyarakat non-Samin di Desa Baturejo, hal-hal yang mendorong masyarakat Samin berinteraksi dengan masyarakat non-Samin di Desa Baturejo, dan kendala yang dihadapi masyarakat Samin dalam berinteraksi dengan masyarakat non-Samin di Desa Baturejo. Untuk mendapatkan analisis data lebih mendalam, penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik analisis on going analysis serta penentuan sampel purposive sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk interaksi sosial antara masyarakat Samin dengan masyarakat non-Samin berupa kerja sama antara satu dengan yang lain, sikap gotong-royong antara satu dengan yang lain. Hal yang mendorong masyarakat Samin berinteraksi dengan masyarakat non-Samin adalah rutinitas masyarakat Samin dalam kehidupan sehari-hari yang melibatkan masyarakat non-Samin, sikap saling menghormati dan menghargai antara masyarakat Samin dengan non-Samin, keinginan untuk saling memahami antara masyarakat Samin dan non-Samin sehingga tercipta kerja sama diantara masyarakat Samin dan non-Samin. Kendala yang dihadapi masyarakat Samin dalam berinteraksi dengan masyarakat non-Samin adalah perbedaan adat istiadat antara satu dengan yang lain, aturan yang mengikat masyarakat Samin, perbedaan logat dan penafsiran bahasa yang sulit dipahami oleh masyarakat non-Samin sehingga terkadang memicu kesalahpahaman yang terjadi antara masyarakat Samin dengan non-Samin dan menyebabkan ruang gerak masyarakat Samin dan non-Samin untuk berinteraksi menjadi terganggu
Etnoastronomi masyarakat Samin
Masyarakat Samin sebagaimana halnya dengan masyarakat lain di dunia, memiliki tanggapan aktif atau menaruh perhatian terhadap peristiwa-peristiwa alam semesta. Ilmu tentang gejala alam dan ilmu perbintangan serta tentang waktu (pengkalenderan) melahirkan perhitungan petangan jawi atau dikenal dengan istilah ilmu titen. Pengetahuaan ini digunakan dan dipercaya oleh masyarakat secara turun-temurun melalui lisan, terlebih pada masyarakat Samin yang memiliki falsafah ditulis tanpa papan. Perkembangan zaman yang semakin modern ini dapat mengubah masyarakat Samin menjadi masyarakat moderen mengikuti perkembangan zaman. Sangat dikhawatirkan dan disayangkan apabila pengetahuan ini tidak terdokumentasi serta hilang tergerus oleh zaman dan modernitas, padahal pengetahuan ini dapat digali dalam wadah etnoastronomi sebagai ilmu yang mengkaji tentang budaya terkait astronomi.
Disertasi ini menjawab pertanyaan pokok mengenai etnoastronomi masyarakat Samin yang dirinci dalam sub pertanyaan berikut: 1) Bagaimana konsep etnoastronomi pada masyarakat Samin? Dan 2) Mengapa penerapan dan pemahaman etnoastronomi dilakukan oleh masyarakat Samin?
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif lapangan, untuk memahami fenomena yang dialami atau terjadi pada masyarakat Samin sehingga dapat memahami dan mendeskripsikan etnoastronomi pada masyarakat Samin. Data dalam penelitian ini didapat dengan observasi dan wawancara yang kemudian dikonfirmasikan melalui referensi-referensi yang relevan. Temuan penelitian ini memberikan suatu pemahaman bahwa 1) Terdapat empat konsep etnoastronomi masyarakat samin, yakni pertama, konsep tentang benda langit. Kedua, konsep kalender, yakni kalender Jawa (dalam hal ini kalender Jawa kurup Aboge), dan kalender pranotomongso. Ketiga, konsep arah dan gejala alam. Dan Keempat, perhitungan atau petangan jawi dan adat. 2) Bagi masyarakat Samin, penerapan dan pemahaman etnoastronomi dilakukan karena untuk menjaga identitas dan mempertahankan warisan leluhur yang turun temurun di tengah perkembangan zaman. Sehingga ritus kebudayaan dan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Samin tidak tergerus oleh kemoderenan. Sedangkan dalam pemahamannya, budaya Astronomi masyarakat Samin memiliki 2 (dua) tipologi, yaitu etnoastronomi dan etnoaritmatik.
ABSTRACT:
Samin society as well as other society in the world, who response actively or pay attention to natural phenomena. The knowledge of natural phenomena, astrology and about time (calendar) resulted petangan jawi, also known as titen knowledge. This knowledge is used and trusted by the society from generation to generation orally, especially among the Samin society who have a philosophy written without boards. The development of modern era, changes the Samin society to be up to date modern society. It is very worried and pitied if this knowledge is not documented and is lost by modern era, even though this knowledge can be explored in ethnoastronomy as a knowledge studies culture related to astronomy.
This dissertation answered the main question about the ethnoastronomy of the Samin society which are detailed in the following sub-questions: 1) How is the concept of ethnoastronomy in the Samin society? 2) Why did the Samin society do application and understanding of ethnoastronomy?
This research is a qualitative field research, to understand the phenomena that are experienced or occur in the Samin society so that they can understand and describe ethnoastronomy in the Samin society. The data in this study were obtained by observation and interviews then confirmed with relevant references. The research findings of this study provide an understanding that; 1) There are 4 (four) ethnoastronomical concepts of the Samin society: the first, the concept of celestial objects. The second is the concept of a calendar, namely the Javanese calendar (in this case the Javanese Kurup Aboge calendar), and the Pranotmongso calendar. The third is the concept of direction and natural phenomena. The fourth is calculations or petangan jawi and cultures. 2) For Samin society, the appliying and understanding of ethnoastronomy is done to maintain heritages from generation to generation arround development era. So that the cultural rites and local wisdoms owened by the Samin people are not eroded by modernity. Whereas in the understanding, the Astronomical culture of the Samin society has 2 (two) typologies, namely ethnoastronomy and ethnoarithmeti
Tindakan Sosial Masyarakat Samin Terhadap Industrialisasi Studi Masyarakat Samin Pasca Reformasi - 2017 Di Kabupaten Blora)
Salah satu cara untuk membangun perekonomian negara adalah dengan cara industrialisasi. Dengan adanya industrialisasi struktur ekonomi negara yang bermula tradisional yang dititikberatkan di sektor pertanian akan berubah ke ekonomi modern yang didominasi oleh sektor industri. Masyarakat Samin pada umumnya berprofesi sebagai petani. Melihat perkembangan zaman, masyarakat Samin pasti akan terkena dampak industrialisasi. Penelitian ini menyajikan dua poin penting, pertama, tindakan sosial masyarakat Samin terhadap industrialisasi. kedua, upaya pemerintah untuk menjaga keberadaan masyarakat Samin. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Blora, yang merupakan tempat kelahiran Samin Surosentiko dan tempat pertamakalinya ajaran Samin disebar luaskan. Dalam melakukan penelitian ini peneliti mendapatka data melalui observasi, wawancara dan studi pustaka. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan teori tindakan sosial Max Weber. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tindakan-tindakan sosial masyarakat samin tergantung pada kelompok masyarakat Samin itu sendiri. Masyarakat Samin yang masih menjaga ajaran Samin Surosentiko bersifat lebih menolak adanya industrialisasi dan memilih tetap hidup sebagai seorang petani, dan setiap tindakan-tindakan sosialnya masuk kedalam tindakan berorientasi nilai, tradisional dan afektif. Sedangkan untuk masyarakat Samin yang telah menerima perubahan masuk kedalam tindakan sosial instrumental. Dengan adanya industrialisasi menyebabkan peninggalan budaya atau ajaran Samin yang dilakukan oleh masyarakat Samin yang beranjak dewasa dan pada tahap pencarian pekerjaan. Dengan adanya maslah tersebut sebaiknya instansi terkait memberikan pelatihan pekerjaan atau ketrampilan kepada masyarakat Samin agar keberadaan masyarakat Samin tidak hilang termakan oleh wakt
KOMUNIKASI SIMBOLIK LIMA AJARAN SAMIN PADA TUGU SEDULUR SIKEP SAMIN (STUDI KASUS GENERASI MUDA BOJONEGORO)
Thesis with the title "Symbolic communication of samin teachings at the sedulur sikep samin monument" Written by Salsabilla Faraicha Wijaya with the supervisor Prof. Dr. Muslimin Mahmud M.si, P.hd. This thesis research is motivated by Saminism, a teaching and a communitywithunique values that are different from others. Saminism or the Samin movement is anothername for the Samin community. Java is home to the Samin community, which is believedtohave started in the Kolopoduwur region in Blora, Central Java. The pioneer of saminissamin surosentiko. Tugu Sedulur sikep Samin is a monument of the Samintribe, the monument as a means of symbolic communication of the Samin tribe. On the monumentthere are teachings of Samin Surosentiko. The beliefs of the Samin people place astrongemphasis. On principles such as honesty, simplicity, community, justice and hard work. The research paradigm uses criticism, qualitative research approach, descriptive research type, and case study research basis. The findings on the Samin sedulur sikep monument are the existence of symbolic communication in the form of teachings, the teachings are honesty, mutual cooperation, not to be jealous and not to talk dirty. On the samin sedulur sikep monument there are also carvings of samin figures with the aim of symbolic communication. In conclusion, the monument of Sedulur sikep Samin is a marker of the existenceof theSamin community and on the monument there is symbolic communication froma sculptureand its teachings
PERGESERAN RELASI GENDER PEREMPUAN SAMIN (STUDI TENTANG PEMBAGIAN KERJA DALAM MASYARAKAT SAMIN DESA KEMANTREN KABUPATEN BLORA)
Socio-cultural changes that occurred in the Samin community has changed gender relations and division of labor system Samin community. This paper aims to clarify the role of women in the past Samin and the role of women in the present Samin. In the past, the role of women Samin confined to household work, do not have public access, and restrictions on education. At present, women Samin has been engaged in productive and reproductive work, and has been active in social activities. Samin female gender relations shift occurs due to internal factors, namely a change of mind and improvement of the economy, as well as external factors namely the development of information technology and transportation in their lives. This shift in gender roles also occurred due to the role of several actors, such as village officials, religious leaders, and community agencies.</p
Intercultural Communication Kelompok Samin Dan Masyarakat Sekitar (Outgroup): Kajian Anxiety/uncertaint Management Theory
This paper wants to tell about how intercultural communication is intertwined in the community of Samin community and the outside community around the Samin area. The author uses the position of emic approach that sees from the perspective of the Samin group. The author focuses only on the anxiety and uncertainty that occurs. This difference in cultural background certainly affects communication between them. Different cultures and ways of communicating with Samin groups and communities around this Samin may cause various obstacles. Some of the obstacles in question are anxiety and uncertainty between the two parties. Samin groups can be called mindless groups in communicating because Samin groups do not fully pay attention to what they say and do and can not categorize their interlocutors. Samin groups will become mindful when they can be slightly open to information coming from outside the group and acknowledge that there are multiple perspectives for interpreting messages in intercultural communication situations so that communication with outgroups is more effective
- …
