55 research outputs found

    KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS 1 MIN 14 HULU SUNGAI TENGAH DI ERA NEW NORMAL

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan pembelajaran membaca permulaan di era new normal pada siswa kelas 1 MIN 14 Hulu Sungai Tengah dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pelajaran membaca permulaan di era new normal siswa Kelas 1 MIN 14 Hulu Sungai Tengah. Jenis penelitian ini adalah field research dengan pendekatan yang bersifat kualitatif, suatu pendekatan yang sifatnya mendasar dan naturalis atau bersifat alami. Dan juga bisa disebut metode interpretative karena data hasil penelitian ini berkenaan dengan interpretasi terhadap data yang ditemukan di lapangan. Pengumpulan data dalam penelitian ini diambil dengan cara observasi, wawancara dan documenter. Setelah data terkumpul selanjutnya proses melalui editing, prosentase, selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh simpulan bahwa kemampuan membaca permulaan pada masa era new normal di kelas 1 MIN 14 Hulu Sungai Tengah dilihat dari penilaian siswa pada tahap visiual memory, phonological memory, dan simantik memory, siswa yang tuntas hanya 94,74% dan yang tidak tuntas 5,26% dikarenakan fokus siswa yang tidak terbentuk. Faktor pendukung membaca permulaan faktor intelektual yang membuat kecerdasan siswa, faktor lingkungan, motivasi dan minat. Sedangkan faktor penghambat membaca permulaan ialah faktor intelektual yang membuat siswa lamban dalam membaca, faktor lingkungan dikarenakan kurang perhatian orang tua, faktor minat dan motivasi

    EFEKTIVITAS PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DI DESA HAUWAI KECAMATAN HALONG KABUPATEN BALANGAN

    No full text
    The Hope Family Program (PKH) is one of the programs launched by the central government to reduce poverty in Indonesia. This program is implemented by providing non-cash assistance to poor households  in the form of education and health assistance. In the authors' initial observations, it was found that there was an increase in the number of PKH participants in Balangan Regency, namely in 2017 only 2,219 households and in 2018 there were 3,863 households. The increase in the number of PKH program participants raises the question whether the program that has been running so far has been effective in reducing the existing poverty problems. The results showed that the Family Hope Program (PKH) in the village of Hauwai was effective enough to help people who were very poor and vulnerable especially to access education and health. The factors that influence the effectiveness of the Family Hope Program (PKH) are KPM's willingness to fulfill its obligations as well as facilities and infrastructure for Very Poor Family (KPM) coordinators and assistants

    Tindak Tutur Ilokusi Teks Deklarasi Kemerdekaan Palestina

    No full text
    This study discusses the types and functions of illocutionary speech acts contained in the text of the Palestinian Declaration of Independence. The text of the Palestinian Declaration of Independence was written by a Palestinian poet, Mahmoud Darwish and then read by the First President of Palestine Yasser Arafat in Algeria on November 15, 1988. This research was analyzed using qualitative descriptive methods and Searle\u27s (1979) speech act theory. In the text of the Palestinian Declaration of Independence, the researcher found 14 utterances containing illocutionary speech acts with different functions. There are 4 assertive utterances with the function of stating, 3 directive utterances with the function of asking and inviting, 3 commissive utterances with the function of promising, 2 expressive utterances with the function of expressing disappointment and criticism, and 2 declarative utterances with the function of declaring the independence of Palestine and appointing the Palestine Liberation Organization (PLO) as the legitimate representative of Palestine

    INCREASING REGIONAL COMPETITIVENESS THROUGH ENTREPRENEURSHIP DEVELOPMENT IN ECOTOURISM ACTIVITIES.

    No full text
    Regional competitivesness is originated from an internal forces that produce an added value. The internal forces is based on technological innovation and entrepreneurial abilities (Drabenstott, 2006). The innovation is illustrated as a fuel, while entrepreneurship is the engine. Both are a source of employment, income and welfare. An entrepreneurial ability of local people on ecotourism activities in the Bromo Tengger Semeru National Park (BTS NP) has developed naturally (Nugroho, 2006; 2007; Nugroho and Negara, 2008). The people are often involved in ecotourism development programs held by the BTS NP. The author’s study (Nugroho, Negara and Purnomowati, 2010) proved that the ecotourism activities were economically viable than the horticultural farm. However, these experiences have not fully produced significant benefits in the development of ecotourism. Characteristic of the ecotourism activities is a cluster (Fodor and Sitanyi, 2008a, 2008b), which always put the local people in a less advantageous position. The ecotourism cluster is an ecotourism organization (Prieto, Gilmore and Osiri, 2009) that involve the local people, non-governmental organizations, private actors, the national parks and government to produce ecotourism entrepreneurship. The result of research the author (Nugroho, Negara and Nugroho, 2009) shows that the phenomenon of social entrepreneurship is an important component of conceptual framework of ecotourism entrepreneurship. This requires all parties to act to be a social entrepreneur in a framework of ecotourism organization.Iwan Nugroho, Purnawan D. Negara, and Wiwin Purnomowati. 2011. INCREASING REGIONAL COMPETITIVENESS THROUGH ENTREPRENEURSHIP DEVELOPMENT IN ECOTOURISM ACTIVITIES. The 3rd IRSA International Institute. 2011 19-21 July 2011, Padang – West Sumatra Indonesia</div

    Hubungan Pemberian MP-ASI Dini Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Usia 2-3 Tahun di Desa Gunung Wetan Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas

    No full text
    ABSTRAKEvada Safitri1, Wiwin Reny Rahmawati2, Bambang Sarwono3Hubungan Pemberian MP-ASI Dini Terhadap Kejadian Stunting pada Anak Usia 2-3 Tahun di Desa Gunung Wetan Kecamatan Jatilawang Kabupaten BanyumasMakanan Pendamping ASI (MP-ASI) merupakan makanan tambahan yang diberikan setelah bayi berusia lebih dari sama dengan 6 bulan sebagai pendamping ASI hingga usia 2 tahun. MP-ASI yang diberikan sebelum bayi berusia 6 bulan dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan bayi sehingga bayi mengalami gangguan pada penyerapan gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan sehingga bayi mengalami stunting. Stunting adalah kondisi kekurangan gizi kronis dimana ditandai dengan tinggi badan atau panjang badan yang tidak sesuai dengan umur atau lebih pendek dari angka normal. Angka stunting di Banyumas pada tahun 2019 mencapai 16.581 kasus.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian MP-ASI dini dengan kejadian stunting padaa anak usia 2-3 tahun di desa Gunung Wetan kecamatan Jatilawang kabupaten Banyumas.Metode penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 76 ibu yang memiliki anak usia 2-3 tahun. Sampel penelitian ini sebanyak 43 orang. Teknik sampling penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Uji statistik dalam penelitian ini menggunakan koefisien-kontingensi.Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara pemberian MP-ASI dini dengan kejadian stunting pada anak usia 2-3 tahun, dengan p value adalah 0,002. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian MP-ASI dini memiliki hubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 2-3 tahun di desa Gunung Wetan kecamatan Jatilawang kabupaten Banyumas. Diharapkan orang tua dapat memahami dampak dari pemberian MP-ASI dini sebagai penyebab stunting pada anak, sehingga anak dapat tercukupi gizi tumbuh kembangnya.Kata kunci : MP-ASI dini, stuntin

    Tinjauan Kondisi Fisik Atlet Voli Klub Adroit Kota Sungai Penuh

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui kondisi fisik atlet voli klub Adroit Kota Sungai Penuh. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Hasil pengukuran dari tes komponen kondisi fisik kemudian dianalisis dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif kuantitatif yang diterapkan dalam bentuk persentase. Ada enam komponen kondisi fisik yang akan dilakukan tes yaitu daya tahan, kekuatan, daya ledak, kecepatan, kelincahan dan kelentukan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pemain bola voli putri klub Adroit kota Sungai Penuh yang berjumlah 20 orang. Teknik penarikan sampel dengan menggunakan total sampling, sampel pada penelitian ini seluruh peserta pemain pemain bola voli putri klub Adroit kota Sungai Penuh yang berjumlah 20 orang. Hasil dari penelitian ini rata-rata lari 12 m adalah sebesar 2 Km dengan persentase 40% termasuk kriteria sedang, rata-rata push up adalah 2,4 repetisi dengan persentase sebesar 48% termasuk kategori sedang, rata-rata lari 30 m yaitu 1,9 detik dengan persentase 36% termasuk kategori kurang, rata-rata agility run test yaitu 1,8 detik dengan persentase sebesar 37% termasuk kategori sedang, rata-rata tes kelentukan 3,2 inci dengan persentase 63% termasuk kriteria baik. Rata-rata kondisi fisik atlet klub Adroit yaitu 14 dengan persentase 45% dan termasuk dalam kategori sedang. Kata Kunci: Tinjauan, Kondisi Fisi

    Hubungan Pengetahuan WUS Tentang Kebersihan Area Genital Dengan Kejadian Keputihan di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Manisrenggo Klaten

    No full text
    Background: Leucorrhoea is a disease of the reproductive system that suffered by many women most of the world. One of the causes leucorrhea is a lack of knowledge keep cleaning the genital area. Many factors affecting by the lack of knowledge, one of which is the lack of information. Data on the public health center Manirenggo Klatenin 2013, 153 women of reproductive age on Ngemplak Seneng Village District of Klaten Manis renggo most experience vaginal discharge.&#x0D; Aim: The aim of this research is to know the correlation between knowledge about hygiene the genital area WUS with leucorrhoea, to find out knowledge about hygiene WUS genital area, to find out how much the incidence of leucorrhoea in public health center district Manisrenggo Klaten.&#x0D; Method: This was on non experimental research with also correlation descriptive research that using The cross-sectional design. This research uses purposive sampling with 60 respondents. Analyzed using univariate, bivariate analysis with the Chi-Square test and contingency coefficient test. The research was conducted in public health center district Manisrenggo, Klaten, Central Java, in April until May 2014.&#x0D; Result: Percentage Women of Reproductive Age which has a high knowledge is (56.7%) or about 34 respondents. 26 respondents had low knowledge and 7 (11.7%) of them experienced a leucorrhoea. Parametric test contingency correlation coefficient to determine the relationship of knowledge Women of Reproductive Age about hygiene the genital area with a leucorrhoea incident obtained p-value 0.001. Having interpreted C=0,384 shows a fairly close relationship.&#x0D; Conclusion: There was correlation between knowledge Women of Reproductive Age  about hygiene the genital area with a leucorrhea incident. Knowledge of Women of Reproductive Age about hygiene the genital area is in the high category a number of 34 with a percentage of 56.7%, and the incidence of leucorrhoea in public helath center district Manisrenggo Klaten a number of 7 with a percentage of 11.7%.</jats:p

    Transformasi Nilai-nilai Islam dalam Norma Hukum Masyarakat Melayu

    No full text
    Permasalahan dalam artikel ini adalah berangkat dari sejarah pendikotomian pemikiran penjajah Belanda yang memunculkan dua teori: teori receptie dan teori receptive in complexu, yang menggambarkan tentang hubungan antara hukum Islam dan norma hukum yang berlaku di dalam masyarakat masyarakat Melayu, salah satu etnis yang ada di Indonesia, yakni hukum adat. Secara sederhana nilai dipahami sebagai ide-ide tentang apa yang baik, benar dan adil. Nilai merupakan salah satu unsur dasar pembentukan orientasi budaya. Nilai melibatkan konsep budaya yang menganggap sesuatu itu sebagai baik atau buruk, benar atau salah, adil atau tidak adil, cantik atau jelek, bersih atau kotor, berharga atau tidak berharga. Sedangkan norma adalah tata kelakuan yang dibangun agar hubungan antar masyarakat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Tata kelakuan itu berisi perintah atau larangan atas suatu perbuatan. Ia berfungsi memberikan batas-batas pada perilaku individu, mengidentifiksi individu dengan kelompoknya dan menjaga solidaritas antar anggota masyarakat. Dengan demikian, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini ialah untuk mengetahui dan mencari konsep tentang Transformasi Nilai-nilai Islam dalam Norma Hukum Masyarakat Melayu. Jenis penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah penelitian pustaka/library research dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Kesimpulan dalam penelitian ini menjelaskan bahwa mentransformasikan nilai-nilai Islam adalah menggunakan nilai-nilai dalam Islam yang dianggap baik, penting dan bermanfaat. Transformasi menghasilkan integrasi hukum dan agama ke dalam satu kesatuan sistem hukum yang terbentuk dari otentitas hukum masyarakat Melayu yang mayoritas beragama Islam. Hal ini berarti sama dengan membangun peradaban Islam tanpa mendirikan negara Islam
    corecore