1,720,994 research outputs found

    Karya cipta Boi G. Sakti

    No full text
    Tesis tentang tari kontemporer Minang ini merupakan suatu kajian yang ditinjau dari estetis koreografis yang membahas tentang penjelasan judul, penjelasan tema, bentuk penciptaan, jumlah penari, garapan musik, tata rias & busana, tempat pertunjukan, garapan properti & setting stage, serta penataan cahaya dari beberapa karya Boi G. Sakti.Untuk menginterpretasi hasil analisa karya Boi G. Sakti, penulis mencoba dengan menggunakan konsep hermeneuein to express, hermeneuein to explain, & hermeneuein to translate. Tiga bentuk hermeneuein tersebut menekankan pada pemahaman hermeneuein understand. Hermeneuein adalah sebuah mediasi dimana pemahaman manusia dapat menangkap makna & menyampaikannya pada orang lain

    Metode ‘TaTuPa’ Tabuh Tubuh Padusi sebagai Musik Internal Visualisasi Koreografi NeoRandai

    Full text link
    Setiap koreografi selalu mengandung dua aspek yang tidak terpisahkan antara isi dan bentuk. Di satu pihak, koreografi disikapi sebagai ‘craft’ yang menekankan prinsip-prinsip objektif dan aturan komposisi. Di lain pihak, hal tersebut merupakan‘proses’ yang menekankan cara kerjanya yang kreatif. Tujuan penelitian ini menawarkan metode TaTuPa (Tabuh Tubuh Padusi) yaitu sebuah koreografi sebagai karya seni yang merupakan salah satu bentuk kreativitas dalam eksplorasi musik internal yang dibangun oleh tubuh penari itu sendiri, baik dari suara vokal, petik jari, tepuk tangan, tepuk dada, tepuk paha, maupun hentakan kaki. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode TaTupa yang mengkombinasikan antara isi dan bentuk menjadi sebuah kesatuan yang utuh dari eksplorasi gerak menghasilkan irama musik internal. NeoRandai Minang sebagai kreativitas seniman dapat dipahami sebagai suatu gejala sosial ‘kekinian’ yang berdimensi ‘mikro’ sehingga menjadi salah satu di antara berbagai kemungkinan cara memahami, melihat, dan mengkaji yang sebenarnya sangat kompleks ini. Pada saat ini, pandangan orang tentang karya seni tari selalu mengalami perkembangan dan pergeseran sesuai atau sejalan dengan konsep estetik yang muncul pada setiap zaman. Pandangan yang menyatakan bahwa estetik itu sesungguhnya berkaitan atau mengkaji sesuatu yang indah, kini bergeser sehingga perlu dikoreksi kembali mengingat kecenderungan karya-karya seni tari-tari kontemporer tidak lagi hanya sekedar menawarkan pemilihan gerak sebagai keindahan, tetapi lebih diutamakan pada makna dan aksi mental.The ‘TaTuPa’ Method of Tabuh Tubuh Padusi as an Internal Music Visualization of NeoRandai Choreography. Each choreography always contains two inseparable aspects between content and form. On the one hand, it behave choreography as 'craft' which emphasizes objective principles and rules of composition. On the other hand as a 'process' which emphasizes creative ways of working. The purpose of this study is to offer the TaTuPa Method ( Tabuh Tubuh Padusi ) is a choreography as an art work which is one form of creativity in the exploration of internal music built by the body of the dancer itself, both from vocal sounds, pick fingers, applause, chest pat, pat thighs, and foot pounding. The results of this study the TaTupa Method by combining content and form into a whole unity from exploration of motion that produces internal music rhythms. Neo Randai Minang as an artist's creativity, can be understood as a social phenomenon of 'contemporary' with a 'micro' dimension, which is one of the various possible ways of understanding, seeing, and studying what is actually very complex. At this time people's views on dance art always experience development and shift according to or in line with the aesthetic concepts that arise in every age. The view that states that aesthetics are actually relating or reviewing something beautiful, is now shifted and corrected again considering the tendency of contemporary dance works to no longer merely offer the selection of motion as beauty, but more prioritize meaning and mental action.Keywords: tatupa method; padusi; choreography; music internal; neoranda

    Filosofi Minangkabau Alam Terkembang Jadi Guru Menjadi Inspirasi Pembelajaran

    No full text
    Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa di Nusantara yang memiliki falsafah ‘Alam Terkembang Jadi Guru’. Falsafah ini merupakan pandangan hidup yang mempunyai dimensi kulturalis dan religius. Di balik dimensi kulturalis dan religius tersebut ada filsafat tali tigo sapilin yang merupakan kelompok yang terdiri atas ninik mamak, alim ulama, dan intelektual yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Filsafat adat Minangkabau merupakan filsafat yang mendasarkan diri pada ketentuan hukum agama dan hukum alam.Epistemologi dalam filsafat adat Minangkabau cenderung dimaknai sebagai bentukpemahaman yang didasarkan pada fenomena alam sebagai sumber ide dan inspirasi. Namun,pemahaman secara kosmosentris terhadap filsafat ‘alam takambang jadi guru’ tersebut, tidakdimaksudkan sebagai pengetahuan objektif mengenai alam itu sendiri,tetapi alam dijadikan analog untuk membentuk tata nilai dan tata prilaku dalam kontekskehidupan bersama bagi masyarakat Minangkabau. Filsafat adat Minangkabaumenempatkan pengetahuan sebagai sintesis dari aspek empirik dan rasionalitas. Hasilpengetahuan menurut filsafat adat Minangkabau tidak hanya didasarkan pada tangkapanindrawi dan rasionalitas semata, tetapi juga berpijak pada aspek hatisehingga bermuara pada konsep etis-argumentatif. Relevansikajian epistemologi filsafat Minangkabau adat bersandi syarak-syarak bersandi kitabullah, relevansinya  dengan seni, agama, dan budaya terletak padaproses dialog yang dilakukan masyarakat Minangkabau.Adat dan agama merupakan pandangan hidup bagi masyarakat Minangkabau merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.  Kata kunci:  filosofi Minangkabau, budaya Minangkabau, tingkatan adat, pendidikan surau

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Folklor sastra Minangkabau sebagai identitas keIndonesiaan dan kekuatan kultural di era globalisasi

    Full text link
    Masyarakat Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat beragam. Identitas Keindonesiaan yaitu keberagaman masyarakat Indonesia yang terdiri atas berbagai macam etnik sebagai kekuatan kultural Bangsa Indonesia. Dari keberagaman bentuk kebudayaan yang dimilikinya, namun tetap mempunyai kesamaan dengan moto, meskipun berbeda-beda, namun tetap satu juga

    Menyingkap seni pertunjukan etnik di Indonesia Pengaruh, revitalisasi dan hermeutika tari minang

    No full text
    Buku ini merupakan kumpulan tulisan beberapa orang tentang bentuk kesenian minang yang dilengkapi dengan bentuk kesenian di luar minang seperti seni pertunjukan di Indonesia bagian timur, barat dan tengah. Buku ini dapat menjadi materi dalam perkuliahan di jurusan seni pertunjukan indonesia, sejarah tari, pengetahuan tari, kritik tari dan perbandingan seni

    Situs Megalitik Tutari sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Koreografi Site-Specific “Tutari MegArt Lithic”

    Full text link
    The Tutari Megalithic Site is a large stone age civilization site located in Doyo Lama Village, Waibu District, Jayapura Regency, Papua. Visually, on this site, there are stones with various motifs of prehistoric paintings on them. However, if it is studied in-depth, primarily through the perspective of choreography, this site has a broad potential to be a source of inspiration for creating works of art. Collaborating with previous research from the Papua Archeology Center, the creation of this Tutari MegArt Lithic artwork is focused on specific parts of the Tutari Megalithic site that can be used as inspiration for creating artworks. The method used in this writing is descriptive analysis. The purpose of this paper is to provide an overview of how choreography can collaborate across disciplines in the creation of works of art staged at the Tutari archaeological site. This paper describes the sources of inspiration for creating site-specific choreographic works of art entitled Tutari MegArt Lithic, including visual inspiration, artistic inspiration and idea inspiration.Keywords: Tutari Megalithic Site; site-specific choreography; source of inspiration; painting motiv

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore