76 research outputs found

    Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Sekolah Dasar Islam Annajah Pebayuran Bekasi dalam Menyusun Soal Berbasis HOTS melalui Kegiatan BIMTEK

    Full text link
    Pembuatan soal yang baik dan benar menjadi syarat pokok dalam menunjang kompetensi profesional pedagogik seorang pendidik. Kegiatan BIMTEK ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan para pendidik di SD Islam Annajah Pebayuran Bekasi terkait dengan teknik penyusunan soal yang berbasis Hight Order Thinking Skill (HOTS). Kegiatan ini didasari oleh masih rendahnya kompetensi pendidik dalam menyusun soal berkategori HOTS. Kagiatan ini dilaksanakan pada Senin 07 November 2022 yang bertempat di aula Pesantren Islam Hidayatunnajah Bekasi. Metode penelitian ini menggunakan kaji tindak partisipatif. Metode ini merupakan keikutsertaan seseorang dalam melaksanakan sesuatu atau pengambilan bagian dari sesuatu yang harus dilaksanakan oleh pelakunya. Jadi, peneliti dalam BIMTEK ini terlibat secara aktif dalam kegiatan penyusunan soal berbasis HOTS. Hasil dari aktivitas BIMTEK ini dapat menambah wawasan dan kompetensi para pendidik dalam menyusun soal berbasis HOTS dengan mengembangkan materi dari Kompentensi Dasar, merumuskan indikator sesuai dengan level kognitif, dan menulis butir soal yang tepat sesuai dengan indikator soal

    MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN WARGA BELAJAR MENCAPAI KOMPETENSI KEAKSARAAN USAHA MANDIRI:Studi Pengembangan pada Kelompok Belajar di Desa Tugumukti Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah rendahnya kemampuan warga belajar dalam menguasai kompetensi keaksaraan usaha mandiri (KUM). Masalah tersebut antara lain disebabkan oleh rendahnya kualitas pembelajaran, terutama kurang tepatnya strategi pembelajaran yang selama ini dilaksanakan dengan tujuan program keaksaraan usaha mandiri . Kelemahan dalam proses pembelajaran KUM meliputi: 1) tutor cenderung masih menerapkan strategi pembelajaran yang konvensional, metode ceramah dan latihan calistung semata sebagai andalan dalam proses pembelajaran. 2) pelaksanaan pembelajaran KUM belum menyentuh pada ranah kebutuhan atau masalah warga belajar, 3) keputusan tentang pembelajaran lebih banyak dilakukan oleh tutor. 3) kewirausahaan atau jenis usaha yang dikembangkan melalui pendidikan keaksaraan masih terbatas pada aspek pengetahuan bukan pada pengalaman mendalam. 4) tindak lanjut kewirausahaan sebagai strategi keaksaraan, masih menghadapi kendala terutama pada aspek jaringan dan modal usaha, sehingga proses pembelajaran hanya sebatas memenuhi tuntutan pemberi subsidi saja. Bertolak dari kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk : 1) memeperoleh gambaran tentang kondisi empiris pembelajaran pendidikan keaksaraan usaha mandiri (KUM) di lapangan; 2) mengembangkan rancangan model konseptual model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan warga belajar dalam mencapai kompetensi keaksaraan usaha mandiri; 3) mendeskripsikan hasil implementasi model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan warga belajar mencapai kompetensi keaksaraan usaha mandiri; dan 4) memperoleh gambaran efektivitas model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan warga belajar dalam mencapai kompetensi keaksaraan usaha mandiri. Konsep dan teori yang dijadikan acuan dalam penelitian ini meliputi konsep belajar dan model pembelajaran, konsep pembelajaran berbasis masalah, konsep andragogi (pendidikan orang dewasa) dalam pendidikan keaksaraan dan konsep kompetensi keaksaraan usaha mandiri (KUM). Secara metodologis penelitian ini menggunakan prosedur penelitian dan pengembangan (research and development), menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dan berlokasi di kelompok belajar pendidikan KUM Desa Tugumukti Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat, dengan desain ekperimen pre-test dan post-test yang diujicobakan pada kelompok tunggal (One-Group Pretest-Posttest Design), dan tidak menggunakan kelompok kontrol. Hasil penelitian mendapat gambaran : Pertama, secara empirik pengelolaan pembelajaran pendidikan keaksaraan usaha mandiri selama ini belum dilaksanakan secara optimal, sehingga berakibat kemampuan warga belajar dalam mencapai kompetensi keaksaraan usaha mandiri masih rendah. Salah satu faktor penyebab rendahnya kompetensi warga belajar adalah model dan strategi pembelajaran yang belum relevan dengan tujuan program pendidikan keaksaraan usaha mandiri. Kedua, secara konseptual model pembelajaran berbasis masalah yang dikembangakan dengan berpijak pada landasan teori, landasan yuridis dan landasan empiris, meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Ketiga, dengan dukungan berbagai pihak antara lain pengelola, tutor, warga belajar dan tokoh masyarakat yang ada, model pembelajaran berbasis masalah dapat diimplementasikan sesuai dengan harapan. Keempat, model pembelajaran yang dikembangkan setelah melalui implementasi menunjukkan hasil yang efektif dalam meningkatkan kemampuan warga belajar mencapai kompetensi keaksaraan usaha mandiri. Hal ini berarti bahwa implementasi model yang dikembangkan secara efektif mampu meningkatkan kemampuan warga belajar mencapai kompetensi keaksaraan usaha mandiri.Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah terbukti mampu meningkatkan kompetensi warga belajar pendidikan keaksaraan usaha mandiri (KUM). Hal ini memberi indikasi bahwa model tersebut dapat memberi masukan dan mendukung keberhasilan program pendidikan keaksaraan usaha mandiri yang dikembangkan selama in

    OUTCOME-BASED EDUCATION PADA KURIKULUM MERDEKA: LINIERITAS PEMBELAJARAN DENGAN ASESMEN UNTUK MENCAPAI TUJUAN PEMBELAJARAN

    Full text link
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengekplorasi linieritas pembelajaran dengan asesmen untuk mencapai tujuan pembelajaran pada sekolah yang mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Secara lebih spesifik, penelitian ini menggali bagaimana Outcome-Based Education dilaksanakan pada tataran praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran melalui pembelajaran yang berpusat pada murid. Penelitian ini menggunakan studi kasus yang berpayung pada metode penelitian kualitatif. Penelitian ini melibatkan dua sekolah pengguna Kurikulum Merdeka dan 18 orang guru  dari Komite Pembelajaran. Data diperoleh dari dokumen rencana pembelajaran, observasi pembelajaran, dan wawancara semi-struktur. Data dari dokumen modul ajar, observasi, dan wawancara diinterpretasikan dengan cara analisis deskriptif-naratif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Outcome-Based Education tidak muncul pada ranah implementasi pembelajaran terlihat dari dokumen rencana pembelajaran dan pada pelaksanaan pembelajaran. Ketidaklinieran ditemukan pada: 1) capaian pembelajaran dengan tujuan pembelajaran, 2) tujuan pembelajaran dengan rencana pembelajaran, 3) rencana pembelajaran dengan asesmen, dan 4) tujuan pembelajaran dengan kriteria ketercapaian pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar guru meningkatkan kemahiran dalam merancang pembelajaran yang linier dengan asesmen sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.  Abstract:  This study aims to identify and explore the linearity of learning with assessment to achieve learning objectives in schools implementing the Merdeka Curriculum. More specifically, this study investigates how Outcome-Based Education is implemented in practical terms to achieve learning objectives through student-centered learning. This research utilizes a case study approach grounded in qualitative research methods. It involves two schools that use the Merdeka Curriculum and 18 teachers from the Learning Committee. Data is obtained from lesson plan documents, classroom observations, and semi-structure interviews. PeneData from teaching module documents, observations, and interviews are interpreted through descriptive-narrative analysis. The results of this research indicate that Outcome-Based Education does not appear in the realm of learning implementation, as seen in lesson plan documents and during teaching. Non-linearity is found in: 1) learning outcomes with learning objectives, 2) learning objectives with lesson plans, 3) lesson plans with assessments, and 4) learning objectives with criteria for achievement. Based on the research findings, it is recommended that teachers enhance their skills in designing linear learning with assessments to effectively achieve learning objectives

    ANALISIS EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN DARING DI SEKOLAH DASAR PADA MASA PANDEMI COVID-19

    Full text link
    Kondisi pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 mengalami banyak sekali perbedaan yang signifikan yang dirasakan langsung oleh pelaku pendidikan, didalamnya Guru dan juga Siswa. Ada yang sudah siap menghadapi perubahan, tetapi ada juga yang belum. Hal ini terjadi juga pada salah satu Sekolah Negeri yang ada di daerah terpelosok di Kabupaten Maluku Barat Daya. Dimana melalui sistem pembelajaran Daring sekolah mengalami banyak sekali kendala saat proses pembelajaran, baik dari segi ketersediaan sarana prasarana, guru dan siswa yang kurang terampil dalam melaksanakan pembelajaran daring, minimnya jaringan akses internet, kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak dan lain sebagainya. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengukur seberapa jauh ke efektifan pelaksanaan pembelajaran daring yang dilakukan selama masa pandemi covid-19. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah menggunakan metode kualitatif, tipe deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, kuesioner dan dokumentasi terhadap data primer dan sekunder. Dari hasil analisis data yang dilakukan, maka diperoleh hasil penelitian diantaranya, minimnya kemampuan siswa dan guru dalam memahami proses belajar daring, kesulitan guru dalam melaksanakan proses penilaian terhadap siswa dengan situasi yang tidak bertatap muka secara langsung, kurangnya ketersediaan IT dan siswa yang kurang puas belajar daring karena menghadapi beberapa kendala saat belajar. Namun disisi lain, jika proses pembelajaran daring dilakukan tanpa ada halangan, tentu saat proses pelaksanaan akan sangat efektif, karena dapat efektif jarak, tenaga, waktu dan juga efisien dan ekonomis. Oleh karena itu pembelajaran daring dapat dipandang sebagai salah satu keunggulan kompetitif suatu institusi pendidikan

    SAJUTA: PERSEPSI KESEJAHTERAAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DALAM MEMPERTAHANKAN PROFESI

    No full text
    Abstrak:Guru pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menghadapi banyak tantangan dalam melaksanakan tugas mengejar, membimbing dan mendampingi siswa. Tuntutan profesionalisme terhadap guru PAUD untuk menjadikan pendidikan anak usia dini lebih baik tidak diikuti dengan kesejahteraan yang baik. Masekipun demikian, Semangat para guru PAUD dalam mempertahankan profesinya tidak berkurang, mereka tetap bertahan. Penelitian ini membahas temuan kualitatif dari hasil observasi dan wawancara mendalam yang meneliti persepsi kesejahteraan guru PAUD dalam mempertahankan profesinya. Sampel populasi terdiri dari 30 orang guru yang sudah mengajar sedikitnya 3 tahun dan sebagian besar telah  menyelesaikan pendidikan tinggi. Ditemukan bahwa persepsi kesejahteraan guru PAUD dimaknai dengan SAJUTA (Sabar, Jujur, Tawakal) merupakan cerminan motivasi dalam mempertahankan profesinya.Abstract:Teachers in Early Childhood Education (PAUD) face many challenges in carrying out the task of pursuing, guiding and assisting students. The demand for professionalism of PAUD teachers to make early childhood education better is not followed by good welfare. Even so, the enthusiasm of PAUD teachers in maintaining their profession has not diminished, they persist. This study discusses qualitative findings from observations and in-depth interviews that examine perceptions of the welfare of PAUD teachers in maintaining their profession. The population sample consists of 30 teachers who have taught at least 3 years and most have completed higher education. It was found that the perception of the welfare of PAUD teachers interpreted by SAJUTA (Patience, Honesty, Tawakal) is a reflection of motivation in maintaining their profession

    Foundations of Kurikulum Merdeka development in elementary education (from a philosophical perspective)

    Full text link
    The mismatch of philosophical foundations often causes the ineffectiveness of curriculum implementation. Ideally, the philosophical basis of a curriculum guides its implementation direction. This research examines the philosophical foundation for developing primary education curricula, particularly the Kurikulum Merdeka. The method employed Library Research by sourcing data from nationally and internationally indexed journals. This study is crucial to understanding the philosophical basis underlying the "Kurikulum Merdeka" in primary education. Findings reveal diverse approaches in the learning process, reinforcement of specific values, and a unique focus in preparing students for complex societal life. The Kurikulum Merdeka in basic education is based on various philosophical schools ranging from idealism, realism, pragmatism, existentialism, and perennialism to progressivism, reconstructivism, postmodernism, and humanism in education to create a learning environment that is diverse, responsive, and relevant for students' overall development. By applying these streams, the curriculum aims to create a responsive and holistic learning platform that caters to students' needs in this ever-evolving era. Abstrak Ketidakefektifan implementasi kurikulum sering kali disebabkan oleh ketidaksesuaian landasan filosofi yang digunakan. Landasan filosofi sebuah kurikulum memperjelas arah implementasinya. Penelitian ini bertujuan mengamati landasan filosofis yang digunakan dalam pengembangan kurikulum pendidikan dasar, khususnya Kurikulum Merdeka. Metode pada penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan pengambilan data dari jurnal yang terindeks nasional dan internasional yang memiliki kaitan dengan Kurikulum Merdeka. Penelitian ini penting untuk memahami dasar filosofis yang melandasi Kurikulum Merdeka pada pendidikan dasar. Hasilnya menunjukkan beragam pendekatan dalam proses pembelajaran, penguatan nilai-nilai khusus, dan fokus unik dalam mempersiapkan siswa menghadapi masyarakat yang kompleks. Kurikulum Merdeka pada pendidikan dasar didasarkan pada berbagai aliran filsafat mulai dari idealisme, realisme, pragmatisme, eksistensialisme, perenialisme, hingga progresivisme, rekonstruktivisme, postmodernisme, dan humanisme dalam pendidikan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang beragam, responsif, dan relevan bagi perkembangan siswa secara menyeluruh. Dengan menerapkan aliran-aliran ini, kurikulum tersebut bertujuan menciptakan platform pembelajaran yang responsif dan holistik bagi kebutuhan siswa di era yang terus berkembang. Kata Kunci: Landasan filosofis; pengembangan kurikulum; pendididkan dasa

    PENGARUH KARAKTER POSITIF SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI PENGUKURAN LUAS MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL TEACHING AND LEARNING

    Full text link
    This research aims to (1) enhancing student,s positive character in Area Meassurement skills (2)white enhance students' skills in measuring area through the contextual teaching and learning approach (CTL), and (3) examine whether the contextual approach to the concept of area can improve students' learning outcomes. The method used is qualitative with a descriptive and inductive analysis approach as explained by Rahmat. The results of the study show that at the initial stage, teachers did not fully understand the CTL approach with an average document analysis score of 2, observations of student learning activities averaged 1.75, and student learning outcomes reached an average of 69, which did not meet the Minimum Completeness Criteria (KKM). After a series of interventions through the application of the CTL approach, the results of teacher document analysis increased to 3.75, observations of student learning activities reached an average of 3.73, and student learning outcomes increased significantly with an average of 87. This increase indicates that the CTL approach is effective in improving teacher understanding, student learning activity, and student learning outcomes on the concept of area measurement. With the achievement of significant improvement, this study was stopped at this stage

    Pembelajaran Matematika Materi Pembagian Menggunakan Bar Diagram dan Leftover Game Board

    Full text link
    Pedagogy mastery for primary school teachers is a key to delivering meaningful learning yet fun. Teachers should know the best methods for students to engage in learning activities that enrich their learning experience. Making mathematics way more fun could be formulated by adopting such a visual model to uplift students’ understanding of mathematics concepts. Sharpening students’ mathematics thinking could also be modeled as a game. This study aimed to describe how fruitful teaching division in mathematics is for fourth grade using a bar diagram and leftover game board. This has been researched with a descriptive qualitative approach using the case study method. The subjects of this study are eight students in grade four. The data sources were collected from students' activity during the learning process observation sheet, students’ worksheets, and students’ interview sheets. The data was analyzed through data collection, data reduction, data display, and conclusion. This study revealed that teaching division using a bar diagram could ease students’ lack of dividing numbers with two number digits and leftover game board activity could make students come over with positive attitudes towards mathematics, such as fascination, pleasure, and passion, engage in healthy academic competition during in-class activities.Pedagogy mastery for primary school teachers is a key to delivering meaningful learning yet fun. Teachers should know the best methods for students to engage in learning activities that enrich their learning experience. Making mathematics way more fun could be formulated by adopting such a visual model to uplift students’ understanding of mathematics concepts. Sharpening students’ mathematics thinking could also be modeled as a game. This study aimed to describe how fruitful teaching division in mathematics is for fourth grade using a bar diagram and leftover game board. This has been researched with a descriptive qualitative approach using the case study method. The subjects of this study are eight students in grade four. The data sources were collected from students' activity during the learning process observation sheet, students’ worksheets, and students’ interview sheets. The data was analyzed through data collection, data reduction, data display, and conclusion. This study revealed that teaching division using a bar diagram could ease students’ lack of dividing numbers with two number digits and leftover game board activity could make students come over with positive attitudes towards mathematics, such as fascination, pleasure, and passion, engage in healthy academic competition during in-class activities

    PANCASILA AS THE PHILOSOPHICAL FOUNDATION OF THE INDONESIAN CURRICULUM

    Full text link
    Being Indonesia’s philosophical foundation, Pancasila, comprised of five principles, plays a significant role in shaping the country’s education system. These principles guide curriculum design, implementation, and evaluation, reflecting the nation’s educational goals and desired student outcomes. This paper examines the philosophical underpinnings of Pancasila, with a focus on content and graduate competency standards, their relationship with educational objectives, and their implications for the national curriculum. Utilizing the literature review method, this research highlights the critical influence of Pancasila on curriculum development and educational planning in Indonesia. The findings indicate that Pancasila serves as a central philosophical framework guiding Indonesia’s national education system, with a particular emphasis on character education, tolerance, citizenship education, and inclusive learning. The study reviews the evolution of content and graduate competency standards in Indonesian education, drawing attention to changes in government regulations and Pancasila’s underlying philosophical assumptions. However, further research is required to explore the influence of these assumptions on other educational standards

    Penilaian Karakteristik Siswa Untuk Pembelajaran Yang Efektif Di SMA Negeri 1 Purwakarta

    Full text link
    Dalam pendidikan sekolah menengah, mengembangkan metode pengajaran yang efektif sangat penting untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya belajar tetapi juga berkembang dalam pengejaran akademis mereka. Salah satu pendekatan untuk mencapai hal ini adalah dengan memahami dan memenuhi karakter siswa. Penilaian karakter siswa adalah aspek penting dalam dunia pendidikan yang melibatkan evaluasi aspek non-akademik dari siswa, termasuk nilai-nilai moral, sikap, keterampilan sosial, dan kepemimpinan. Dalam konteks siswa SMA, karakter siswa yang baik memainkan peran yang krusial dalam keberhasilan akademik dan masa depan mereka. Penilaian karakter menjadi proses penting untuk menentukan metode pembelajaran yang paling efektif untuk siswa. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dan menguraikan  pentingnya penilaian karakter siswa dalam menentukan metode pembelajaran pada siswa di SMA Negeri 1 Purwakarta. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi pentingnya memahami sifat-sifat karakter siswa dalam metode pengajaran yang efektif, teknik untuk mengidentifikasi sifat-sifat karakter siswa, dan langkah-langkah untuk mengembangkan dan menerapkan metode pengajaran yang memenuhi sifat-sifat karakter yang berbeda
    corecore