13 research outputs found

    Efektivitas Vaksin Bakterial (Streptococcus agalactiae) dengan Penyalut Berbeda terhadap Peningkatan Kinerja Imunitas Ikan Nila (Oreochromis niloticus).

    No full text
    Ikan nila merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang produksinya terus meningkat, sehingga komoditas ini banyak dibudidayakan dalam skala intensif. Permasalahan yang terjadi pada kondisi budidaya skala intensif, ikan mudah stres dan berakibat mudah terinfeksi penyakit. Penyakit yang sering menyerang ikan nila adalah Streptococcocis yang disebabkan oleh Streptococcus agalactiae. Vaksinasi adalah salah satu tindakan yang efektif untuk pencegahan penyakit ikan. Hal ini dapat dilakukan melalui injeksi, yang sudah terbukti dapat meningkatkan respons imun ikan. Peningkatan sistem imun melalui vaksinasi memberikan proteksi terhadap serangan penyakit tertentu (imunitas spesifik). Preparasi vaksin dilakukan dengan cara inaktivasi sel patogen S. agalactiae, sehingga mampu menginduksi sistem imun akibat adanya zat asing yang masuk dalam tubuh. Vaksin umumnya berbentuk cair karena mudah dalam pembuatan dan penggunaannya. Vaksin cair juga memiliki kelemahan, karena kurang praktis dan mudah rusak selama penyimpanan dan transportasi. Oleh karena itu perlu dilakukan preparasi vaksin bentuk keringbeku sebagai solusi dari permasalahan vaksin cair. Dalam preparasinya, penyediaan vaksin S. agalactiae bentuk kering beku menimbulkan permasalahan tersendiri karena performa produk yang lengket dan tidak larut dalam air, sehingga dibutuhkan penyalut untuk melapisi vaksin sekaligus melindungi vaksin sebelum dikeringbekukan. Penelitian ini mencoba membuat vaksin bentuk keringbeku yang disalut dengan salah satu bahan biomaterial yakni kitosan, susu skim, dan maltodekstrin dosis 1% atau 10% untuk diseleksi dua perlakuan terbaik (in-vitro) yang selanjutnya diujicobakan ke ikan nila dan diuji tantang S. agalactiae (in-vivo). Dari penelitian ini didapatkan penyalut vaksin keringbeku yang terbaik dalam menstimulasi sifat - sifat imunitas ikan uji. Tahap uji in-vitro terdiri atas enam perlakuan. Vaksin cair S. agalactiae ditambahkan dengan salah satu bahan penyalut: kitosan, susu skim, dan maltodekstrin dengan dosis masing-masing 1% atau 10% kemudian dilakukan pengeringbekuan selama 3 hari dengan suhu di bawah -100 °C. Produk preparasi vaksin keringbeku diseleksi secara deskriptif dengan parameter uji kelarutan, viabilitas sel, konsentrasi protein, dan berat molekul protein. Hasil uji kelarutan menunjukkan kondisi larut sempurna pada vaksin yang disalut kitosan dan maltodekstrin pada dosis 1% dan 10%, sedangkan vaksin disalut susu skim menunjukkan kondisi sedikit larut. Uji viabilitas sel, menunjukkan semua perlakuan menghasilkan sel patogen yang inaktif / not viable cells dan aman untuk dijadikan vaksin. Uji konsentrasi protein dan berat molekul protein menunjukkan hanya perlakuan vaksin disalut kitosan dan susu skim yang mennghasilkan nilai, berbeda dengan vaksin disalut maltodekstrin yang tidak menghasilkan nilai. Hasil seleksi dua terbaik dari empat pengujian in vitro diperoleh vaksin yang disalut kitosan 1% dan kitosan 10%. Kedua vaksin ini yang diujicobakan ke tahap in-vivo. Tahapan uji in-vivo terdiri atas enam perlakuan dan tiga ulangan yaitu ikan uji yang diinjeksi dengan: (G) Phosphat Buffered Saline (PBS), (H) vaksin cair, (I) vaksin keringbeku disalut kitosan 1%, (J) vaksin keringbeku disalut kitosan 10%, (K) kitosan 1% dan (L) kitosan 10% dan diuji tantang dengan bakteri S. agalactiae. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 42 hari dengan 21 hari vaksinasi, 21 hari uji tantang, dan dilakukan sampling seminggu sekali. Pengamatan parameter tahap invivo meliputi sintasan, relative percent survival (RPS), titer antibodi, total eritrosit, total leukosit, dan respiratory burst (RB). Sintasan tertinggi sampai akhir pemeliharaan ikan uji ditunjukkan pada perlakuan I dengan nilai 92.22 ± 3.85% berbeda nyata (P < 0.05) dengan perlakuan J (75.56 ± 8.39%), L (72.22 ± 5.09%), H (72.22 ± 6.94%), K (68.89 ± 8.39%), dan G (46.67 ± 8.82%). Begitu juga dengan RPS, nilai tertinggi ditunjukkan pada perlakuan I (85.21 ± 7.20%) berbeda nyata dengan perlakuan J (55.00 ± 8.58%), L (48.01 ± 1.76%), H (46.74 ± 10.73%), dan K (42.28 ± 6.87%). Untuk mengonfirmasi secara akurat sistem imun spesifik dilakukan pengukuran titer antibodi. Hasil tertinggi pasca uji tantang ditunjukkan perlakuan I (vaksin keringbeku disalut kitosan 1%), diikuti perlakuan J (vaksin keringbeku disalut kitosan 10%), dan perlakuan H (vaksin cair S. agalactiae). Parameter total eritrosit, total leukosit, dan respiratory burst tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antara vaksin keringbeku berpenyalut dengan vaksin cair. Kisaran total eritrosit selama pemeliharaan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan dengan kisaran perlakuan G (1.23 - 1.89 x 106 sel mm-3), H (1.59 – 2.05 x 106 sel mm-3), I (1.58 – 1.87 x 106 sel mm-3), J (1.40 – 1.94 x 106 sel mm-3), K (1.12 – 2.06 x 106 sel mm-3), dan L (1.35 – 1.91 x 106 sel mm-3). Kisaran total leukosit selama pemeliharaan pada perlakuan G (1.45 – 2.79 x 105 sel mm-3), H (2.17 – 3.48 x 105 sel mm-3), I (1.93 – 3.59 x 105 sel mm-3), J (2.51 – 3.61 x 105 sel mm-3), K (1.46 – 3.46 x 105 sel mm-3), dan L (1.77 – 3.97 x 105 sel mm-3). Kisaran nilai respiratory burst selama pemeliharaan perlakuan G (0.112 – 0.309 OD), H (0.122 – 0.309 OD), I (0.131 – 0.309 OD), J (0.096 – 0.309 OD), K (0.122 – 0.495 OD), dan L (0.100 – 0.361 OD). Dengan demikian, perlakuan I (vaksin keringbeku S. agalactiae yang disalut kitosan 1%) mampu meningkatkan sintasan dan menstimulasi sifat – sifat imunitas lebih baik dibanding perlakuan lainnya yang ditunjukkan dengan nilai titer antibodi tertinggi saat uji tantang

    LITERASI INFORMASI MANAJEMEN KESEHATAN PERIKANAN

    No full text
    This article contains information literacy related to fish health management. This writing was conducted by means of a literature study. This paper focuses on the ability of fishermen and fish cultivators to be able to find appropriate information related to fish health management and efforts to prevent fish disease. In this article, the conceptual meaning of information literacy and fish health management is carried out. Next, the discussion is carried out with the elaboration between the two concepts. The results of the discussion found that fish health management requires a process whereby understanding the right information, the right source of information, and comparing the information to be decided to take. Fish health management information literacy is important for fishermen and fish farmers. fishermen and fish cultivators can independently and accompanied find the information needed related to fish health management information and how to prevent disease in fish

    POTENTIAL OF LOOSE PALM OIL AS AN ALTERNATIVE FEED TO INCREASE THE GROWTH OF CATFISH (Clarias batrachus)

    No full text
    Kegiatan budidaya umumnya menggunakan pakan komersial untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ikan. Penggunaan pakan komersial dapat meningkatkan biaya produksi, karena masih menggunakan bahan baku impor. Untuk menekan biaya produksi, dapat menggunakan pakan alternatif dengan memanfaatkan bahan lokal. Kelapa sawit merupakan salah satu bahan lokal yang jumlahnya melimpah di Indonesia dan menghasilkan limbah yang kurang termanfaatkan seperti brondolan kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan brondolan kelapa sawit sebagai pakan alternatif pada ikan lele. Penelitian terdiri dari tiga perlakuan (kontrol, brondolan kelapa sawit lunak, dan brondolan kelapa sawit berulat) yang masing-masing tiga ulangan. Pakan diberikan secara ad satiation selama 28 hari. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan panjang mutlak, dan laju pertumbuhan spesifik. Hasil menunjukkan perlakuan terbaik adalah penggunaan pakan brondolan kelapa sawit berulat dengan tingkat kelangsungan hidup 100%, pertumbuhan bobot mutlak 44,23 g, pertumbuhan panjang mutlak 6,20 cm, dan laju pertumbuhan spesifik 10,22 %.Aquaculture activities generally use commercial feed to fullfill the nutritional needs of fish. The use of commercial feed can increase production costs, because they still use imported raw materials. To reduce production costs, can use alternative feed by utilizing local materials. Palm oil is one of the abundant local raw materials in Indonesia and produce underutilized waste such as loose palm oil. This study aims to determine the effect of using loose palm oil as an alternative feed on catfish. This study consisted of three treatments (control, soft loose palm oil, and wormy loose palm oil) of three repeats each. Feeding catfish with ad satiation for 28 days. Parameters observed include survival rate, absolute weight growth, absolute length growth, and spesific growth rate. The results showed that the best treatment was the use of wormy loose palm oil feed with a survival rate of 100%, absolute weight growth of 44,23 g, absolute length growth of 6,20 cm, and spesific growth rate of 10,22%

    Profil Hematologis dan Bakteri Asam Laktat pada Ikan Hoven (Leptobarbus Hoevenii) yang diberi Pakan Pektin dari Kulit Jeruk Mandarin

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menentukan dosis terbaik melalui suplementasi pektin dari kulit jeruk dalam pakan terhadap parameter hematologi (kadar hemoglobin, kadar hematokrit, total eritosit, total leukosit, limfosit, monosit dan neutrofil) dan jumlah bakteri asam laktat dalam usus ikan jelawat. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan 3 ulangan dengan masing-masing perlakuan diberi dosis pektin dari kulit jeruk sebesar 0 (P0), 5 (P1), 10 (P2) dan 15 g/kg pakan (P3). Ikan jelawat dengan ukuran 9-10 cm dipelihara sebanyak 10 ekor per wadah berisi air 40 L dan diberi pakan secara at satiation dengan frekuensi pemberian sebanyak 2 kali sehari selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan yang ditambahkan pektin dari kulit jeruk dapat meningkatkan parameter hematologi dan jumlah bakteri asam laktat dalam usus ikan jelawat. Penambahan pektin dari kulit jeruk dengan dosis 5 g/kg pakan menunjukkan hasil terbaik dengan kadar hemoglobin 8,33%, kadar hematokrit 45,07%, total eritrosit 3,05 x 106 sel/mm3, total leukosit 3,19 x 104 sel/mm3, monosit 10,32%, neutrofil 5,32% dan jumlah bakteri asam laktat 6,93 x 104 CFU/mL. Pada limfosit menunjukkan dosis pektin dari kulit jeruk 15 g/kg pakan tertinggi dengan nilai 89,27%. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan pektin dari kulit jeruk dapat meningkatkan parameter hematologi dan jumlah bakteri asam laktat dalam usus ikan jelawat namun masih dalam kisaran normal untuk ikan jelawa

    Effectivity of Streptococcus Agalactiae Bacterial Vaccine with Different Coatings for Increasing the Immunity System on Nile Tilapia Oreochromis Niloticus (Linnaeus, 1758)

    No full text
    Vaccination is one of the most effective control measure in preventing Streptococcus agalactiae infection. In this study, vaccine coatings were prepared with certain biomaterials such as chitosan, skim milk, and maltodextrin at concentration 1 % or 10 %, and further freeze-dried. Vaccine selected (in vitro) by tests: viability cell, solubility, protein concentration and protein molecular weight. The result of in vitro test showed that chitosan coating at doses 1 % and 10 % were the best in solubility and protein concentration test. Vaccine coated with chitosan was administrated again by injection (in vivo) in nile tilapia (Oreochromis niloticus) before challenged by S. agalactiae. This test consists of six treatments and three replications, i.e. the fish were injected with liquid vaccine (A), Phospat Buffered Saline (PBS) (B), vaccine with chitosan coating 1 % (C), vaccine with chitosan coating 10 % (D), chitosan 1 % (E), and chitosan 10 % (F). Parameters were observed including survival rate, relative percent survival (RPS), antibody titre, and total leucocyte. The results showed that treatment C showed a significant difference (P &lt; 0,05) in survival rate 92.22 ± 3.85 %, RPS 85.21 ± 7.20 %, and antibody titre highest result, but not significant (P &gt; 0,05) to increase total leukocyte in experimental fish against S. agalactiae infection. In conclusion, vaccine freeze dry with chitosan coated 1 % is effective to improve immunity system of nile tilapia

    Supplementation of red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) peels flour as a prebiotic in tilapia (Oreochromis niloticus)

    No full text
    Red dragon fruit peels (Hylocereus polyrhizus) are an organic waste that has not been widely used with nutrients such as fibre, carotene, calcium phosphorus, vitamin B and vitamin C as antibacterial and antioxidant. This research was conducted to analyze the addition of red dragon fruit peel flour as a prebiotic for tilapia (Oreochromis niloticus). Fingerling of tilapia with an average size of 17.76 ± 1.35 g were reared for 30 days in an aquarium with a volume of 30 L. The fish were fed three times a day at satiation with treated feed, namely P0 0%; P1 5%; P2 10%; and P3 15% dragon peel flour kg-1 of feed. Each treatment was repeated three times. Parameters observed included the number of lactic acid bacteria in the gut of fish, growth performance, survival rate and haematological parameters. The results showed that the highest number of lactic acid bacteria at P3 was 5.38 log CFU mL-1, the absolute weight growth was 12.60 g, and the specific growth rate was 1.87% day-1. Supplementation of red dragon fruit peel flour did not affect the survival rate of tilapia, which ranged from 73.33- 80.00% and the haematological parameters showed a normal range. Based on this, red dragon fruit peel flour has the potential as a prebiotic in tilapia up to a dose of 15% kg-1 of feed.Keywords: Dragon Fruit Peels Flour; Growth Performance; Hematological Parameters; Prebiotics; Tilapi

    Analisis Keanekaragaman Plankton Sebagai Bioindikator Kesehatan Budidaya Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii di Bontang, Kalimantan Timur

    No full text
    Kota Bontang merupakan wilayah pesisir strategis di Kalimantan Timur dengan potensi budidaya rumput laut yang besar, terutama jenis Kappaphycus alvarezii. Namun, budidaya rumput laut menghadapi tantangan serius terkait kualitas lingkungan yang memengaruhi kestabilan produksi dan kesehatannya. Keadaan ini diperparah dengan perubahan iklim global yang berdampak negatif pada hasil panen. Kesehatan rumput laut sangat tergantung pada kualitas air yang optimal, agar fotosintesis dan pertumbuhan tanaman berlangsung maksimal. Plankton sebagai bioindikator dari kualitas air sangat sensitif terhadap perubahan fisika dan kimia perairan yang dapat mencerminkan kesehatan ekosistem budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi komunitas plankton melalui analisis indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi sebagai metode bioindikator yang efektif dalam memantau kesehatan rumput laut. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel pada 3 stasiun menggunakan metode acak. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi plankton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelimpahan plankton didominasi Kelas Bacillariophyceae (fitoplankton), Kelas Copepoda (zooplankton), indeks keanekaragaman plankton (H’) 1,90-2,19 kategori sedang, indeks keseragaman plankton (E’) 0,97-0,98 kategori tinggi, dan indeks dominansi plankton (D’) 0,12-0,16 kategori tinggi. Kombinasi jenis kelimpahan plankton dan ketiga indeks ini dapat menjadi bioindikator efektif untuk menilai kondisi kesehatan budidaya rumput laut

    ANALISIS KUALITAS PRODUK ARANG BRIKET PADA KEBUTUHAN PASAR EKSPOR DI TIMUR TENGAH DAN EROPA PADA PT. NUDIRA SUMBER DAYA INDONESIA: Product Quality, Export, Charcoal Briquette, Middle East, Europe

    No full text
    This research is entitled “Analysis of the Quality of Briquette Charcoal Products on the Needs of Export Markets in the Middle East and Europe of PT. Nudira Sumber Daya Indonesia). Coconut briquette charcoal is one of Indonesia\u27s leading products that is widely popular in various world markets, limiting research to only the Middle East and European markets. This study was made for prospective exporters with the aim of analyzing the quality of coconut briquette charcoal products in the European and Middle Eastern markets. This study also aims to provide solutions, information to prospective exporters of coconut briquette charcoal to better know what kind of market needs are suitable to penetrate the market in each existing segment. This study uses primary and secondary data with data collection techniques through observation, interviews, and documentation studies. The data analysis method used is descriptive qualitative. The author found several differences in product attributes based on the taste of coconut briquette charcoal in the two markets. The author also suggests that further research into broader markets other than the Middle East and European markets

    Efficacy of plant extracts in enhancing growth and molting of crab (Scylla serrata) in a traditional pond system

    No full text
    This study explores the impact of mixed plant extracts containing Boesenbergia pandurata, Solanum ferox, and Zingiber zerumbet on Scylla serrata crabs cultivated in traditional ponds. Crabs (450 crabs weighing 136 ± 8.5 g) were divided into five groups for four weeks, with three replicates. The five treatments involved a control without extract (P1), 20 (P2) and 30 (P3) mL/kg of the mixed extracts of S. ferox and B. pandurata, and 20 (P4) and 30 (P5) mL/kg of the mixed extracts of S. ferox and Z. zerumbet. The most favorable crab growth outcomes were observed in P3 (74.30 g), which also exhibited the highest molting percentage (100 %). The highest survival rate was observed in P2 (97.50 %). The dosage of 30 mL/kg of S. ferox and B. pandurata is appropriate for stimulating growth, average molting rate, and molting percentage. But, notably, both doses of all three studied extracts proved to be more effective than the control for enhancing growth, molting, and survival in crab culture. This study suggests that S. ferox, B. pandurata, and Z. zerumbet combination diets in crab culture in traditional ponds can improve crab growth, molting, and survival rates, enhancing animal welfare

    Asuhan Keperawatan untuk masalah Keperawatan Pola Nafas Tidak Efektif Pasien Tuberculosis Paru dengan menggunakan Penerapan Posisi Orthopnea di Rs Pertamina Bintang Amin

    No full text
    ABSTRAK Menurut Groenewald (2014), tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan serius yang menyerang masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Lebih dari 99% populasi dunia dan kasus TBC dilaporkan di 202 negara dan wilayah, menurut data WHO. Indonesia merupakan salah satu dari lima negara di dunia yang mempunyai kasus tuberkulosis aspirasi (TB) terbanyak. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia, terdapat lebih dari 724.000 kasus baru tuberkulosis paru pada tahun 2022 dan 809.000 kasus pada tahun 2023. Untuk RS Pertamina Binang Amin Lampung pada tahun 2023 terdapat 127 pasien yang dirawat di ruang paru yang mengalami kendala kebutuhan oksigen, khususnya TBC, dengan keluhan sesak nafas. Melaksanakan asuhan keperawatan pada penderita TBC paru di RS Pertamina Bintang Amin dengan menerapkan posisi orthopnea. Data program pengendalian TBC tahun 2015 yang diberitahukan sebanyak 330.812 kasus TBC baru, Pemeriksaan ini merupakan bentuk ekspresif eksplorasi dengan pendekatan investigasi kontekstual. Subjek dalam pemeriksaan ini adalah dua orang responden penderita tuberkulosis paru yang berada di ruang aspirasi di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin. Pada pasien TBC, penerapan posisi ortopnea memberikan efek mengurangi sesak napas. Penerapan tindakan keperawatan pada posisi ortopnea yang penulis lakukan selama tiga hari kurang efektif dalam mengatur pola pernafasan. Klien Bapak membuktikan bahwa masalah pola pernafasan tidak efektif pada pasien TBC, dimana permasalahan kedua klien teratasi. Ny. K dan Klien bekerja sama selama prosedur kedua dan memiliki laju pernapasan normal. Kata Kunci: Lansia, TB Paru, Orthopniea  ABSTRACT  According to Groenewald. (2014), tuberculosis is still a serious health issue that affects people all over the world, including Indonesia. More than 99% of the world's population and TB cases are reported in 202 countries and territories, according to WHO data. Indonesia is one of the five nations on the planet that has the most instances of aspiratory tuberculosis (TB). According to Indonesia's Health Profile, there were more than 724,000 new cases of pulmonary tuberculosis in 2022 and 809,000 cases in 2023. For Pertamina Binang Amin Lampung Hospital in 2023, 127 patients were treated in the lung room who experienced problems with their oxygen needs, specifically tuberculosis, with complaints of shortness of breath.Carry out nursing care for pulmonary tuberculosis sufferers at Pertamina Bintang Amin Hospital by applying the orthopnea position.The 2015 Tuberculosis control program data that was notified was 330,812 new TB cases, This examination is a kind of expressive exploration with a contextual investigation approach. The subjects in this examination were two respondents experiencing pneumonic tuberculosis who were in the aspiratory ongoing room at Pertamina Bintang Amin Medical clinic.. In TB patients, applying the orthopnea position had the effect of reducing shortness of breath. Implementing nursing actions in the orthopnea position, which the author carried out for three days, was ineffective in managing breathing patterns. The client Mr. proved that the problem of breathing patterns was ineffective in TB patients, where both clients' issues were resolved. Mrs. K and The client cooperates during the second procedure and has a normal respiratory rate. Keywords: Elderly, Pulmonary TB, Orthopne
    corecore