398 research outputs found

    Complex entanglements: Moving from policy to public sociology in the Arab world

    Full text link
    In this article, the author surveys his own career to illustrate some of the dilemmas of research, especially when it assumes a critical and public face. He shows how his work on Palestinian refugees, their socioeconomic rights, their right of return and their camps evolved toward complex forms of traditional and organic public sociology. The article concludes with reflections on one of the major dilemmas researchers face: conducting public research without losing its critical edge, even toward the deprived groups it seeks to protect. The moral of the story: good scientists are not always popular. © The Author(s) 2014.Adorno T, 1980, ADORNO READER, P239; Burawoy M, 2005, AM SOCIOL REV, V70, P4; Government of Lebanon, 2008, COMM CHALL SHAR RESP; Hale CR, 2006, CULT ANTHROPOL, V21, P96, DOI 10.1525-can.2006.21.1.96; Hanafi S, 2012, IDAFAT, V20-21, P4; Hanafi S, 2011, CURR SOCIOL, V59, P291, DOI 10.1177-0011392111400782; Wolff KH, 1992, RENAISSANCE SOCIOLOG, P2010

    Pemikiran Politik Hassan Hanafi (Studi Terhadap Pemikiran Kiri Islam)

    No full text
    Kajian terhadap pemikiran politik para pemikir Islam masih sangat relevan untuk dibahas dan ditelusuri karena terus berkembang. Pemikiran politik Islam sangat digandrungi oleh para ilmuwan Islam kontemporer maupun para ilmuwan barat karena mengelaborasi hubungan antara manusia dengan manusia maupun manusia dengan Tuhan. Begitu juga bagi para mahasiswa yang sedang menyelesaikan penelitiannya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat Kiri dan Islam ataupun Kiri Islam yang digagas oleh Hassan Hanafi , baik faktor-faktor yang meliputinya ataupun tujuan akhir dari pemikiran Kiri Islam tersebut. Bagi penulis, hasil dari penelitian ini ialah mengetahui dan mempertegas makna pemikiran Hassan Hanafi terhadap tujuan Islam dalam menyeru kebenaran, membela kaum tertindas, dan rahmat bagi sekalian alam.69 HalamanSkripsi Sarjan

    Explaining spacio-cide in the Palestinian territory: Colonization, separation, and state of exception

    Full text link
    This article argues that the Israeli colonial project is 'spacio-cidal' (as opposed to genocidal) in that it targets land for the purpose of rendering inevitable the 'voluntary' transfer of the Palestinian population primarily by targeting the space upon which the Palestinian people live. The spacio-cide is a deliberate ideology with unified rational, albeit dynamic process because it is in constant interaction with the emerging context and the actions of the Palestinian resistance. By describing and questioning different aspects of the military-judicial-civil apparatuses, this article examines how the realization of the spacio-cidal project becomes possible through a regime that deploys three principles, namely: the principle of colonization, the principle of separation, and the state of exception that mediates between these two seemingly contradictory principles. © The Author(s) 2012.Abu-Saba C, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P413; Agamben G, 1998, HOMOSACER SOVEREIGN; Ajzenstadt M, 2008, 1 ISA FORUM SOCIOLOG; Arendt Hannah, 1985, ORIGINS TOTALITARIAN; Azoulay Ariella, 2008, REGIME WHICH IS NOT; Bogdanovic B, 1993, NEW YORK REV BOOKS, VXL; Coward M, 2007, THEORY EVENT, V10, P234; Dayan H, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P281; Farsakh L, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P379; Foucault M., 1995, DISCIPLINE PUNISH BI; Funk M, 2010, VICTIMS RIGHTS ADVOC; Gordon N, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P239; Graham Stephen, 2004, CITY, V8, P165, DOI 10.1080-1360481042000242148; Haggerty K.D., 2006, NEW POLITICS SURVEIL; Hanafi Sari, 2009, CONT ARAB AFFAIRS, V2, P106; HEWITT K, 1983, ANN ASSOC AM GEOGR, V73, P257, DOI 10.1111-j.1467-8306.1983.tb01412.x; Monterescu D, 2009, PUBLIC CULTURE, V21, P403, DOI 10.1215-08992363-2008-034; Ophir Adi, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P15; Pandolfi M., 2002, ANTHR SOC, V26, P29, DOI 10.7202-000701ar; Pappe Ilan, 2006, ETHNIC CLEANSING PAL; Parizot C, 2001, THESIS EHESS PARIS; Peace Now, 2006, BREAK LAW W BANK PRI; Ran G, 2009, ISRAELI REGIME SEA R; ROY S, 1987, J PALESTINE STUD, V17, P56, DOI 10.1525-jps.1987.17.1.00p0144f; Shamir R, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P587; Weizman Eyal, 2007, HOLLOW LAND ISRAELS; Yehouda Shenhav, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P337; Yiftachel O, 2006, ETHNOCRACY: LAND AND IDENTITY POLITICS IN ISRAEL-PALESTINE, P121

    TA'LIQ TALAQ ACCORDING TO IMĂM HANAFI AND IMĂM SYAFI'I (COMPARATIVE STUDY)

    No full text
    Ta'liq Talaq adalah kebalikan dari Talaq langsung, Menurut pandangan para ulama ulama Islam hal ini adalah menggantungkan beberapa kandungan isi yang di beri nama Jaza yang mana saling tergantung dengan kandungan isi yang diberi nama syarat (requirement). Ta'liq Taliq menjadikan ucapan Talaq sebagai jaza (akibat) dan menjadikan perbuatan seorang suami atau orang ke tiga sebagai syarat jatuhnya talak Ada beberapa macam dari pada hal itu yang mempunyai hukum khusus, ada beberapa hal yang di setujui oleh ulama-ulama muslim sedangkan yang lain tidak di setujui. Ta'liq Taläq juga terjadi di dalam hubungan antara suami dan istri atau di luar dari pada itu. Contohnya: sewaktu seseorang berkata, "Apabila kamu pergi ke kampungmu, maka kamu tertaläq. tertaläq. Atau hal itu akan menunjukkan kepada keadaan yang mungkin apabila hal itu terjadi atau menunjukkan kepada perbuatan seorang suami, istri dan orang ketiga. Yang terakhir adalah bermaksud dengan janji untuk melakukan sesuatu atau melarangnya. Menurut skripsi yang ditulis oleh Maulud Siregar, bahwasanya motivasinya untuk menulis skripsinya adalah untuk mengetahui jatuhnya ta'liq talaq menurut pandangan Ibnu Hazm dan Ibnu Taimiyah, dan mereka berdua adalah ulama muta'akhirin. Sedangkan penulis didalam penelitiannya memilih pandangan Imam Hanafi dan Imam Syafi'i untuk membahas secara mendalam tentang ta'liq talaq mengenai persamaan dan perbedaannya Berdasarkan sangat pentingnya permasalahan ini, mendorong penulis untuk menulis tentang tinjauan Imam Hanafi dan Imam Shafi'i dalam Ta'liq Talaq, persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan Ta'liq Talaq. Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan Imam Hanafi dan Imam Shafi'i dalam Ta'liq Talaq, dan untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan perbandingan Ta'liq Talaq diantara dua imam. Jenis penelitian ini adalah penelitian literatur, dengan menggunakan metodologi pendekatan historis sosiologis. Pengumpulan data di mulai den dengan mengumpulkan data dari beberapa pokok permasalahan dari literatur. Penulis menggunakan teknik komparatif deskriptif di dalam pembahasannya. Dan teknik pengumpulan data penulis menggunakan metode observasi dan dokumenter untuk mengetahui sejarah hidup Imam Hanafi and Imam Shafi'i dan guru-guru mereka dan murid-murid mereka, dan tulisan-tulisan mereka. Dan teknik untuk menganalisa data penulis menggunakan cara berfikir induktif dan deduktif dan kemudian di analisa dengan teknik komparatif deskriptif dalam mengampil kesimpulan akhir. Kesimpulan dari pembahasan ini, Ta'liq Talaq menurut pandangan Imam Hanafi adalah: Talaq yang disandarkan terhadap isi kalimat yang terjadi di hasil dari isi kalimat yang lain, sedangkan Ta'liq Talaq menurut Imam Shafi'i adalah: Seorang suami menggantungkan jatuhnya talaq terhadap terjadinya sebuah sifat, atau syarat, sedangkan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan antara Imam Hanafl dan Imam Shafi'i adalah: persamaan-persamaan mereka dalam syarat jatuhnya Ta'liq Talaq, macam-macam Ta'liq Talaq, bentuk Ta'liq Talaq yang tiga macam. Dan mereka berbeda di dalam empat permasalahan; 1. di dalam syarat, Imam hanafi membuat dua syarat dalam Ta'liq Talaq, dan Imam Shafi'i membuat tiga syarat. 2. di dalam Jatuhnya kepemilikan, Imam Hanafi memberi alasan bahwa talaq disandarkan pada kepemilikan, tetapi ia telah meyandarkan kepada barang milik dalam kepemilikan. Hal ini akan menjadi talaq tetap, sampai jatuhnya syarat, apabila Ja ja telah berkat kepada wanita yang tidak dikenal: apabila saya menikahi kamu, kamu tertalaq hal ini menjadi Ta'liq sesungguhnya, dan talaq tidak jatuh dan talaqnya jatuh setelah menikah. Dan Imam Shafi'i mernberi alasan bahwa Ta'liq seperti Tanjiz, apabila seseorang mentalaq seorang wanita, dan ia mempunyai kepemilikan dalam talaq maka tidak jatuh. Karena talaq harus disandarkan kepada kepemilikan. 3. di dalam jatuhnya terhadap waknu, Imam Hanafi telah berkata: apabila seseorang telah berkata kepada istrinya: kamu tertalak di akhir tahun, ia telah berkata jatuh talaqnya secara langsung. Tetapi Imam Shafi'i telah berkata: talaknya tidak jatuh sampai akhir tahun. Dan ia telah bersetubuh dengannya setelah jatuh talaknya tiga apabila ia telah mentalaqnya talaq bain atau satu talaq dan ia harus membayar mahar seperti mahar pertama kali ia menikah. 4, di dalam jatuhnya Ta'liq Tanjiz: Imam Hanafi telah berkata: sewaktu seorang suami telah berkata kepada istrinya sewaktu kamu masuk sebuah daerah dan sebelum melakukan persetubuhan talaqnya tidak jatuh kecuali talaq satu dan talaqnya jatuhnya bergiliran. Imam Shafi'l telah berkata: apabila seorang suami berkata kepada istrinya bahwasanya ia mentalaq istrinya talaq satu dan setelah itu satu apabila suami berkata kepada istrinya ia mentalaq istrinya talaq satu kemudian satu sesudah dan sebelumnya, maka jatuh talaq dua walaupun ia telah berkata saya hanya telah berkata talaq satu Akhimya, penulis mengakui bahwasanya masih banyak kekurangan di dalam penelitian ini. Tetapi penulis berharap usaha ini akan memberikan beberapa kegunaan-kegunaan, dan dapat di gunakan sebagaimana mestinya. Selanjutnya hal ini bisa memberikan banyak pengetahuan untuk penelitian mendalam selanjutnya

    GAGASAN AL-USHULIYAH AL-ISLAMIYYAH HASSAN HANAFI

    Full text link
    Pertentangan antara kelompok Islam di satu sisi berhadapan dengan hegemoni dan dominasi Barat dan represifitas penguasa disisi lain memunculkan wacana Fundamentalisme Islam ( Islamic Fundamentalism ) yang secara umum dipahami sebagai gerakan radikal Islam yang lebih mengedepankan kekerasan dalam menjalankan ajarannya. Kelompok Islam melihat Barat dan penguasa tiran sebagai lawan dari Islam, demikian pula sebaliknya, Barat dan penguasa melihat kelompok Islam tersebut sebagai ancaman bagi kepentingan mereka. Sehingga Fundamentalisme Islam lebih memiliki pemahaman yang pejoratif dan negatif. Hassan Hanafi sebagai seorang pemikir Islam yang juga pernah aktif dalam organisasi Islam, yakni Ikhwanul Muslimin, merasa perlu memberikan perhatian terhadap fenomena tersebut, untuk itu Hanafi mengusulkan gagasan Al- Ushuliyyah al-Islamiyyah. Penulis melakukan penelitian ini untuk mengetahui, Pertama, apa gagasan al-Ushuliyyah al-Islamiyyah Hanafi tersebut. Kedua, mengetahui relevansi konsep al-Ushuliyyah al-Islamiyyah tersebut dengan kondisi umat Islam saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka yang dalam hal ini penulis menggunakan data primer, yakni buku yang berjudul al-Ushuliyyah al-Islamiyyah dalam rangkain proyek ad-Din Wa as-Sawrah fi Misr 1952-1981 dan data sekunder yang berkaitan dengan tema yang diangkat. Untuk itu, penulis menggunakan teori dialektika, yang merupakan salah satu metodologi pemikiran Hanafi sendiri, terhadap data yang telah penulis dapatkan, baik primer ataupun sekunder untuk kemudian mendeskripsikan gagasan Hanafi tersebut. Setelah mendeskripsikannya semaksimal mungkin, penulis kemudian melakukan analisa terhadap pemikiran Hanafi tersebut dengan menggunakan analisis-filosofis. Hasil penelitian diperoleh bahwa 1). Al-Ushuliyyah al-Islamiyyah adalah gagasan yang lahir dari pertentangan-pertentangan. Dalam hal ini, Pertama, kemunculan Fundamentalisme Islam sebagai tantangan terhadap hegemoni dan dominasi Barat yang masih terasa terhadap dunia Islam. Kedua, kemunculan Fundamentalisme Islam sebagai tantangan terhadap represifitas penguasa di berbagai Negara yang masih belum dirasakan memberikan keadilan pada massa rakyat, terutama umat Islam. Dari ketegangan tersebut diharapkan munculnya integrasi untuk dapat mensejajarkan Barat dengan bangsa-bangsa lain dan untuk mengembalikan umat Islam pada kebebasan dan kemerdekaannya. 2). Gagasan al-Ushuliyyah al-Islamiyyah Hanafi memiliki relevansi yang kuat dalam upaya mengembalikan kepercayaan diri umat Islam yang masih tertindas dan terbelakang hingga saat ini. Kepercayaan diri yang dimaksud bukan kepercayaan diri membabi buta yang justru akan memunculkan konservatisme, eksklusifisme dan radikalisme, akan tetapi kepercayaan diri untuk menghadapi realitas dengan tangan terbuka, menghadapi tantangan zaman dengan lapang dada dan berjiwa besar. Strategi pengembangan pergerakan Islam kontemporer dengan merangkul semua ideologi dan aliran sembari tetap setia pada tradisi tanpa harus menjadi konservatif sangat sesuai untuk diterapkan bagi kondisi umat Islam saat ini secara menyeluruh sekaligus memahami dengan sebenarnya tentang Islam sebagai Rahmat bagi alam semesta

    Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia Pada Mata Pelajaran Statika Siswa Kelas X Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1 Blitar

    No full text
    ABSTRAK Hanafi, Rahmat. 2014. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis MultimediaPada Mata Pelajaran Statika Siswa Kelas X Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1 Blitar. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Mujiyono, M. Pd., (II) Dra. Sri Agrariani Judowati, M. Pd. Kata Kunci: pengembangan, multimedia pembelajaran, mata pelajaran statikaMultimedia pembelajaran merupakan alat bantu untuk mempermudah guru dalam menyampaikan materi pelajaran dalam proses belajar mengajar di kelas. Sajian visualisasi dan audio untuk mempermudah penyampaian dalam proses belajar mengajar dapat disajikan menggunakan multimedia pembelajaran. Mata pelajaran statika dengan pokok bahasan memahami ilmu statika merupakan materi yang memerlukan penjelasan prosedural dan membutuhkan visualisasi.Kondisi kegiatan belajar mengajar di SMK Negeri 1 Blitar masih banyak ditemui: (1) metode pembelajaran yang konvensional khususnya untuk pembelajaran teori, (2) kurangnya motivasi dari guru, (3) kurangya pemberian contoh-contoh riil yang ada dilapangan terkait materi statika, (4) masih belum memanfaatkan media pembelajaran secara maksimal, dimana dampak atau efek terhadap siswa cepat bosan, kurang motivasi, minat terhadap proses pembelajaran berkurang, yang akan berpengaruh juga pada hasil belajar yang rendah. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pengembangan multimedia pembelajaran statika.    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas kelayakan multimedia pembelajaran statika yang di kembangkan menggunakan power point. Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan prosedural, yaitu model pengembangan secara deskriptif mengenai langkah-langkah yang akan di lakukan dalam mengembangkan produk awal. Tahap pengembangan multimedia ini adalah sebagai berikut (1) analisis isi, (2) tahap desain, (3) tahap pengembangan, (4) tahap uji coba produk, (5) tahap penilaian. Jenis data yang di gunakan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Instrumen pengumpulan data berupa angket uji coba produk untuk data kuantitatif dan komentar para ahli untuk data kualitatif. Validasi kualitas multimedia ini dilakukan oleh ahli isi mata pelajaran, ahli media, ahli desain media pembelajaran yang masing-masing keahlian diambil 1 ahli serta uji coba user/pengguna untuk melihat kelayakan multimedia pembelajaran.    Hasil pengembangan menunjukkan bahwa secara umum multimedia pembelajaran statika ini layak untuk digunakan dalam proses belajar mengajar. Kesimpulan validasi sebagai berikut: (1) Kelayakan isi mata pelajaran 86%, (2) Kelayakan media pembelajaran 83%, (3) Kelayakan desain media pembelajaran 100% menunjukkan bahwa multimedia ini layak untuk digunakan dalam proses belajar mengajar, serta uji coba user/pengguna menunjukkan penilaian terhadap multimedia 87% yang mempunyai arti bahwa multimedia pembelajaran layak digunakan untuk proses belajar mengajar.    Adapun saran untuk pengembangan multimedia ini secara lebih lanjut menambahkan beberapa video dan animasi mengenai pembuatan jembatan.

    PENGARUH PEMBELAJARAN AQUATIK DENGAN METODE FLIPPED CLASSROOM TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI SISWA SMAN 10 BANDUNG PADA KELAS PENDIDIKAN JASMANI

    Full text link
    ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaraan flipped classroom terhadap kepercayaan diri siswa di SMAN 10 Bandung. Populasi dan sampel penelitian ini siswa kelas XI. Untuk menentukan besar nya sampel penelitian dengan teknik pengambilan sampel yang di gunakan yaitu cluster random sampling atau pengambilan sampel acak berdasar area. Dari populasi yang ada kemudian di peroleh sampel sebanyak dua kelas yang masing- masing kelas berjumlah 36 siswa, satu kelas sebagai kelas experimen dan satu kelas sebagai kelas control. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah quasi experimen.Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data angket. Analisis data dalam penelitian ini dengan menggunakan SPSS uji paired sample T-test dan independensample T-test. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh model pembelajaran flipped classroom terhadap kepercayaan diri siswa pada kelas pendidikan jasmani siswa di SMAN 10 Bandung. Nilai signifikan probability 0,000 < 0,05, berarti terdapat pengaruh yang signifikan dari model pembelajaran flipped classroom terhadap kepercayaan diri siswa pada kelas pendidikan jasmani di SMAN 10 Bandung. Sebelum diberikan model pembelajaran flipped classroom berada pada rata-rata 57,83 dan pada saat posttest meningkat menjadi 65,92. Ternyata besarnya rata- rata setelah diberikan model pembelajaran flipped classroom berpengaruh terhadap kepercayaan diri siswa pada kelas pendidikan jasmani. Simpulan, Dari hasil perhitungan analisis data bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran flipped classroom terhadap kepercayaan diri siswa pada kelas pendidikan jasmani siswa SMAN 10 Bandung. Kata kunci: Model flipped classroom, kepercayaan diri siswa, pendidikan jasmani ABSTRACT The objective of this study is to determine the effect of the flipped classroom learning model on students’ self-confidence at SMAN 10 Bandung. The population and sample in this study consisted of 11th-grade students. The sampling technique used was cluster random sampling, which involves random sampling based on area. From the existing population, two classes were selected as samples, with each class consisting of 36 students. One class was designated as the experimental class, and the other as the control class.The method used in this study is a quasi-experimental design. Data collection was conducted using a questionnaire to assess students' self-confidence. Data were analyzed using SPSS with paired sample t-test and independent sample t-test. This research aims to find out how significant the effect of the flipped classroom learning model is on students’ self-confidence in physical education classes at SMAN 10 Bandung. The significance value obtained was 0.000 < 0.05, which indicates a significant effect of the flipped classroom learning model on students’ self-confidence in physical education classes at SMAN 10 Bandung. Before applying the flipped classroom model, the students' average self-confidence score was 57.83, which increased to 65.92 in the posttest. This increase in the average score demonstrates that the flipped classroom model has a positive effect on students' self-confidence in physical education. Conclusion, based on the results of data analysis, it can be concluded that there is a significant influence of the flipped classroom learning model on students’ self-confidence in physical education classes at SMAN 10 Bandung. Keywords: Flipped classroom model, students' self-confidence, physical education

    Pemikiran politik Islam : studi komparasi antara pemikiran Hassan Hanafi dan Ulil Abshar Abdalla

    Full text link
    Dalam sejarah Islam hubungan antara agama dan negara telah diberikan teladannya oleh Nabi Muhammad SAW. Hubungan Islam dengan politik dan sistem kenegaraan pada masa-masa awal Islam mengungkapkan fakta sejarah yang sangat kaya sekaligus sangat kompleks. Pada dasarnya dalam Islam tidak ada pemisahan antara agama dan politik. Pada masa awal Islam, setelah hijrah ke madinah, Nabi membangun satu bentuk negara-kota (city-state) yang bersifat ketuhanan. Kajian terhadap pemikiran politik para pemikir Islam masih sangat relevan untuk dibahas dan ditelusuri karena terus berkembang. Pemikiran politik Islam sangat digandrungi oleh para ilmuwan Islam kontemporer maupun para ilmuwan barat karena mengelaborasi hubungan antara manusia dengan manusia maupun manusia dengan Tuhan. Hasil dari penelitian ini ialah mengetahui dan mempertegas makna pemikiran Hassan Hanafi terhadap tujuan Islam dalam menyeru kebenaran, membela kaum tertindas, dan rahmat bagi sekalian alam. Penelitian ini mengangkat judul ”PEMIKIRAN POLITIK ISLAM (Studi Komparasi antara Pemikiran Hassan Hanafi dan Ulil Abshar Abdalla) dengan rumusan masalah bagaimana pemikiran politik Islam Hassan Hanafi dan Ulil Abshar Abdalla? dan faktor apa yang mempengaruhi pemikiran politik Islam Hassan Hanfi dan Ulil Abshar Abdalla? Dalam penelitian ini pendekatanya menggunakan pola analisis deskriptif. Sangat beragam pendapat para pengkaji politik Islam tentang pandangan agama Islam terhadap konsepsi dasar dari teori politik Hassan Hanafi dan Ulil Abdalla.Mengingat sejarah politik Islam juga banyak menyisakan pertanyaan etis. Sejak Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah untuk yang pertama kalinya, sudah menjadi inspirasi bagi kaum muslim di belahan dunia ini dalam melihat pola dan sistem yang diajarkan oleh Nabi SAW, dalam menggagas politik yang berkarakter Islamis. Kiri Islam merupakan salah satu proyek pemikiran Hassan Hanafi, yang lahir karena keresahan yang dihadapinya dalam melihat realitas sosial di lingkungannya. Berbagai bentuk penindasan, kemiskinan, dan penderitaan yang dialami rakyat menjadi bumbu munculnya pemikiran Kiri Islam. Hanafi menghendaki agama sebagai ruh kehidupan mampu mendorong lahirnya kehidupan yang bermartabat dengan semangat pembebasan, kesejahteraan, dan keadilan. Kiri Islam tak lahir di ruang hampa. Ia merupakan proyeksi tentang tatanan kehidupan ideal yang dibayangkan Hassan Hanafi. Kelahiran Islam liberal di Indonesia yang digagas oleh Ulil Abshar Abdalla, juga dapat dikatakan sebagai respon terhadap berbagai gerakan yang bersifat fundamental dan radikal. Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Oleh sebab itu, Agama Islam selalu sejalan dengan fitrah manusia, tidak hanya mengatur bagaimana tata cara manusia berhubungan dengan Tuhannya, tetapi juga meliputi segala aspek kehidupan sosial politik dan budaya manusia. Sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia, agama Islam selalu relevan dan tidak bertentangan dengan kemajuan-kemajuan modern yang telah ditemukan oleh manusia pada masa sekarang ini. Gagasan-gagasan pembaruan di kalangan intelektual, khususnya dari Barat yang menggagas Liberalisasi Islam sangat berpengaruh terhadap pola pemikiran intelektual Indonesia

    Ketentuan Masa ‘Iddah Wanita Hamil Yang Diceraikan Qobla Dukhul Menurut Mazhab Hanafi dan Syafi’i

    Full text link
    This study aims to protect and prevent the author, especially Muslims in general, from falling into the practices prohibited by Islam and to be able to understand the \u27iddah regulations for divorced pregnant women to find out when the qobla dukhul occurred, which in this case the author is from the Hanafi school From the perspective of Shafiyi. The reason why the author only gives the views of the Hanafi and Shafi’i schools is that only these two schools believe that women who become pregnant through adultery can marry without waiting for the birth of a child. Her fetus. The research method used in this work is a qualitative method, which belongs to the type of library research (library research). Research analysis shows that Islam is a perfect religion and Allah has ordained everything that is good for the servant. An example in this case is how Islam strictly forbids adultery among its people, this is for the protection of Maqasid Sharia, one of which is to protect future generations. Also, the period of \u27iddah for a pregnant woman divorced from Qobla Dukhul is determined according to the Hanafi and Syafi\u27i schools, so in this case the two schools of thought differ in the meaning of Qobla Dukhul, which may have legal implications. Therefore, the two schools of thought hardly differ in their determination.Keywords: The period of \u27Iddah; Qobla Dukhul; Hanafi; Shafi\u27i AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjaga dan mencegah diri penulis secara khusus dan kaum muslimin secara umum agar tidak terjatuh pada perbuatan yang diharamkan oleh Islam serta dapat mengetahui ketentuan ‘iddah wanita hamil yang diceraikan apabila terjadi qobla dukhul, yang dalam hal ini penulis ambil dari perspektif mazhab Hanafi dan Syafi’i. Adapun alasan penulis hanya mencukupkan perspektif mazhab Hanafi dan Syafi’i adalah karena hanya kedua mazhab inilah yang memandang bahwa wanita yang hamil karena sebab zina maka ia boleh dinikahi tanpa harus menunggu lahirnya janin yang ia kandung. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode Kualitatif, dengan jenis penelitian kepustakaan (Library Research). Analisa penelitian menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, sehingga segala hal yang merupakan hal baik bagi seoang hamba menurut Allah telah diatur dengan sedemikian rupa. Sebagai contoh dalam hal ini adalah bagaimana Islam itu melarang keras ummatnya melakukan zina, hal ini untuk menjaga maqashid syari’ah yang mana salah satunya adalah untuk menjaga keturunan. Begitu pula tentang penentuan masa ‘iddah wanita hamil yang diceraikan qobla dukhul menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, maka dalam hal ini kedua mazhab tersebut berbeda pandangan dalam maksud dari qobla dukhul yang dapat berimplikasi hukum, sehingga dalam penentuannya ada sedikit perbedaan pandangan antara kedua mazhab tersebut.Kata kunci: Masa ‘Iddah; Qobla Dukhul; Hanafi; Syafi’

    Nikah Muhallil: Studi Perbandingan Antara Pendapat Iman Hanafi Dan Imam Safi’i

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; Untuk mengetahui bagaimana Hukum hukum Nikah Muhallil menurut Pendapat Hanafi dan Imam Safi’i dan untuk Mengetahui bagaimana Metode Istinbat Hukum Hanafi dan Imam Safi’i tentang Sahnya Nikah Muhalli. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunkan metode Conten Analysis. Adapun sumber primer yaitu Kitab AlUmm, al-Buwaiti, al-Imla’, dan Mukhtashar Muzani, kitab “al-Mabsuth” Badai’i As-Shanai’i yang. Sedangkan sumber sekundenya yaitu buku-buku yang berhubungan dengan penelitian. Berdasarkan hasil analisa yang penulis lakukan, dapat simpulkan bahwa: 1 )Nikah muhallil adalah nikah yang dimaksudkan untuk menghalalkan bekas istri yang telah ditalak tiga kali. Adapun Imam Syafi'i berpendapat bahwa akadnya rusak dan batal sehingga perkawinan selanjutnya oleh mantan suami pertama tidak sah, namun akadnya dianggap sah. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa nikah muhallil itu sah. Jika dilakukan dengan akad yang sah, syarat tahlil yang diucapkan sebelum akad atau ketika akad tidaklah membatalkan sahnya akad. Bahkan lakilaki yang menikahi itu mendapat pahala, jika dia bermaksud untuk memperdamaikan antara kedua suami istri yang sudah bercerai itu, tetapi jika maksudnya semata-mata untuk melepaskan hawa nafsu (syahwat ), maka hukumnya makruh dan perkawinan itu sah juga; 2)Menurut penulis nikah muhallil itu sah dan qiyas yang digunakan Imam Syafi'i sudah tepat karena peran dan fungsi perkawinan itu sendiri adalah untuk menghalalkan hubungan suami istri. Persoalan adanya rekayasa dalam nikah muhallil adalah tidak bisa dijadikan alasan yang kuat untuk mengharamkan nikah muhallil. Metode Ijtihad yang digunakan Imam Abu Hanifah dalam perkawinan tahlil ini pertama berdasarkan ayat al-Quran, secara umum Imam Abu Hanifah lebih memandang kepada keumuman ayat surat al-Baqarah ayat 230 yang berbunyi “Hingga dia kawin dengan suami yang lain” Kemudian dari segi sunnah rasulullah SAW Imam Abu Hanifah dalam memahami maksud hadist tersebut menurut persi beliau bukanlah suatu hal yang membatalkan walaupun para jumhur mengatakan batal. Selanjutnya dari segi istihsan, Imam Abu Hanifah memandang sunnah seseorang yang melakukan nikah tahlil jika niatnya mendamaikan kedua belah pihak suami istri yang bercerai, demi kemaslahtan rumah tangga mereka, menggunakan imajinasi dan penyelidikan; d) Diferensiasi antara bekerja dan bermain; e ) Otoritarisme; f ) Tidak menghargai fantasi
    corecore