SKRIPSI Jurusan Teknik Sipil - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
1269 research outputs found
Sort by
Hybrid Anaerobic Baffled Reactor-Filter Downflow UntukMendukung Green Building DalamPengolahan Air Limbah Domestik
RINGKASANCayarini, Filomina Dwi. 2019. Hybrid Anaerobic Baffled Reactor - Filter Downflow Untuk Mendukung Green Building Dalam Pengolahan Air Limbah Domes-tik. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Anie Yulistyorini, S.T.,M.Sc.,Ph.D (II) Drs. Mujiyono, M.Pd.Kata kunci: green building, pengolahan air limbah domestik, HABR-filter downflowKonservasi air adalah sebuah metode yang dapat dilakukan untuk mendaur ulang air limbah dalam mendukung green building. Metode ini dapat dilakukan dengan mengolah air limbah yang dihasilkan dari bangunan hunian. Pada penelitian ini sistem Hybrid Anaerobic - Filter Downflow (HABR-filter downflow) digunakan untuk mengolah air limbah domestik. Sistem HABR-filter downflow merupakan sistem pengolahan air limbah kombinasi antara sistem ABR dengan media filter pada beberapa ruangnya (chamber) dengan tipe aliran air downflow pada kompartemen filternya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat kimia dan fisik air limbah domestik sebelum dan sesudah diolah dengan sistem HABR-filter downflow serta performa sistem HABR-filter downflow. Penelitian berlokasi di IPAL KPP Purworupo, Jalan Bareng Raya 2, Kota Malang. Pengambilan sampel air limbah dilakukan di 3 titik yaitu inlet, sebelum filter dan outlet. Penelitian dilakukan selama 5 minggu, dengan pengambilan sampel 2 kali seminggu. Air limbah domestik yang belum dan sudah diolah diuji di Lab Jasa Tirta I Kota Malang. Kemudian hasil uji parameter dibandingkan dengan standar baku mutu air limbah domestik yang berlaku (PERMENLHK NO.68 Tahun 2016 and PERDA JATIM NO.2 Tahun 2008). Hasil desain HABR-filter downflow berupa reaktor berbahan fiber glass berukuran 75 x 20 x 45 cm, debit 20 lt/hari, memiliki 6 kompartemen (chamber), pada 2 kompartemen terdapat filter dengan tebal ± 20 cm, aliran berupa U-turn, HRT 72 jam (3 hari), memiliki perpipaan yang alirannya downflow pada kompartemen filter. Sifat kimia air limbah yang belum diolah memiliki BOD 279,433 mg/L, TSS 314,3 mg/L, TKN 22,325 mg/L, Total Fosfor (TF) 10,116 mg/L, Total Coliform (TC) 252,28 MPN/100 ml, DO 1,135 mgO2/L, dan pH 6,81, sedangkan sifat fisik berupa suhu24°C, warna air cokelat gelap, memiliki endapan pada bagian bawah reaktor, dan berbau menyengat. Pada air limbah yang telah diolah memiliki sifat kimia berupa BOD 16,819 mg/L, TSS 12,912 mg/L, TKN 7,732 mg/L, TF 6,053 mg/L, TC 150,3 MPN/100 mL, pH 7,99, dan DO 3,389 mgO2/L, sedangkan sifat fisik berupa suhu 24°C, warna air bening kekuningan, tidak memiliki endapan pada bagian bawah reaktor, dan tidak berbau menyengat. Nilai efisiensi penurunan kadar BOD, TSS, TKN, TF, dan TC sebesar 94%, 96%, 65,4%, 40,2%, dan 40,4%
Pengaruh Penambahan Shear Connector Pada Balok Komposit Beton-Baja Canai Dingin (Cold Formed) Profil Box Tipe Double Channel Terhadap Kuat Geser Balok
ABSTRAKSetiawan, Rafid Yuda. 2019. Pengaruh Penambahan Shear Connector Pada Balok Komposit Beton-Baja Canai Dingin (Cold Formed) Profil Box Tipe Double Channel Terhadap Kuat Geser Balok. Skripsi, Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Ir. B. Sri Umniatu, M.T. (II) Drs. Adjib Karjanto, S.T., M.T.Kata kunci : Baja Canai Dingin, Balok Tulangan Canai, Shear Connector, Kuat Geser.Baja ringan adalah jenis baja yang terbuat dari campuran logam dan terdiri dari besi (FE) dan karbon (C). Baja dibentuk dengan memproses kembali komposisi atom dan molekulnya sehingga menjadi baja yang lebih fleksibel. Salah satu tipe baja ringan yang dapat digunakan untuk struktur gedung yaitu tipe G550 yang memiliki kekuatan tarik sebesar 550 MPa. Secara teoritis baja ringan dapat digunakan sebagai pengganti tulangan konvensional pada teknologi beton. Shear connector adalah alat yang berfungsi untuk menahan gaya geser antara baja dan beton. Jenis shear connector yang digunakan adalah jenis paku. Penelitian komposit beton-baja canai dingin dengan penambahan shear connector ini dilakukan terhadap struktur balok, dengan mengemati kuat geser balok. Benda uji balok didesain dengan menggunakan material baja ringan mutu G550, tebal 1 mm dan shear connector menggunakan baut M10. Mutu balok tanpa shear connector adalah 14 MPa dan balok dengan shear connector adalah 10 MPa. Penelitian ini menggunakan variasi pemakaian shear connector dan tanpa pemakaian shear connector. Spesimen balok dicetak dengan ukuran balok 180x130x1000 mm. Benda uji terdiri dari 3 buah silinder beton untuk uji kuat tekan beton, 4 buah balok beton tulangan canai dingin, 2 buah balok beton tulangan baja ringan tanpa shear connector, dan 2 buah balok beton bertulangan baja ringan dengan shear connector. Balok diuji dengan metode four-point bending test yaitu dengan dua titik pembebanan penempatan beban dan mengacu pada SNI 4431-2011.Hasil pengujian adalah nilai rata-rata kapasitas geser balok beton tulangan baja ringan tanpa shear connector sebesar 32,6105 kN. Nilai rata-rata kapasitas geser balok beton tulangan baja ringan dengan shear connector sebesar 32,901 kN. Perbandingan kuat geser berdasarkan nilai rata-rata pengujian adalah 1 : 1,01. Perbandingan ini menunjukkan kuat geser balok tulangan canai dingin dengan shear connector lebih tinggi 1,01 kali dibanding balok tanpa shear connector
PENGGUNAAN LIMBAH PLASTIK PET SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN DALAM CAMPURAN ASPAL PENETRASI 60/70
Kata kunci: Polyethylene Terephthalate (PET), Aspal Penetrasi 60/70, Tambahan Aspal, Lapis Permukaan Jalan Permasalahan sampah di Indonesia merupakan masalah yang belum terselesaikan hingga saat ini, sementara itu dengan bertambahnya jumlah penduduk maka akan mengikuti pula bertambahnya volume sampah yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Sampah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia diperkirakan pada tahun 2019 akan mencapai 68 juta ton, dimana terdapat sampah plastik mencapai 9,52 juta ton . Plastik merupakan bahan yang tidak dapat lepas dari kehidupan sehari-hari, dimana sering kali kita jumpai dalam bentuk kemasan botol air mineral yang termasuk dalam golongan plastik Polyethylene Terephthalate (PET). Permasalahan sampah plastik tersebut apabila semakin banyak jumlahnya di lingkungan maka akan berpotensi mencemari lingkungan, menyumbat saluran drainse, selokan dan sungai sehingga menyebabkan banjir. Oleh karena itu dengan jumlah PET yang besar tersebut dicoba sebagai penambahan pada aspal penetrasi 60/70. Aspal adalah bahan pengikat utama pada campuran beraspal yang berasal dari pengolahan minyak bumi. Sama seperti hasil pengolahan minyak bumi lainnya, ketersedian aspal di alam semakin lama akan mengalami defisit atau semakin menipis karena merupakan bahan yang tidak dapat diperbaharui. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sifat fisik bahan-bahan penyusun dalam campuran perkerasan Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC) dan pengaruh penggunaan limbah plastik PET pada campuran perkerasan Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC). Metode penelitian dimulai dengan melakukan pengujian bahan penyusun perkerasan yaitu; pengujian agregat kasar, agregat halus, filler, dan pengujian aspal. Kemudian melakukan pembuatan benda uji marshall untuk menentukan KAO dengan kadar aspal 5%, 5,5%, 6%, 6,5%, dan 7% menggunakan alat Marshall sehingga diketahui nilai stabilitas, flow,MQ, VIM, VMA dan VFA. Selanjutnya KAO tersebut diberi penambahan limbah plastik PET yang dicacah 1-2 cm yang kemudian dicampur kandengan cara basah kedalam aspal dengan kadar 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat total KAO. Pengujian pada penelitian ini mengacu pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 Rev 3 Divisi 6 tentang Perkerasan Aspal. Hasil pada penelitian ini menunjukkan sifat fisik bahan-bahan penyusun dalam campuran perkerasan Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC) yang terdiri dari agregat kasar, agregat halus, filler dan aspal pen 60/70 memenuhi standar Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 Rev 3 Divisi 6 tentang Perkerasan Aspal dengan KAO sebesar 5,5% dan penambahan limbah plastik PET kedalam aspal pen 60/70 membuat campuran aspal menjadi lebih plastis yang ditunjukkan oleh turunnya nilai penetrasi dan daktilitas pada pengujian aspal dengan penambahan PET. Pengaruh penggunaanlimbahplastik PET pada campuran perkerasan Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC) tidak mampu meningkatkan nilai stabilitas marshall danflow. Hal inidisebabkandengan penambahan PET padaaspal, aspaltidak dapat mengisipori di dalam campuran sehingga nilai VIM bertambah atau campuran menjadi lebih berongga, akibatnya nilai VMA dan VFA meningkat. Seiring bertambahnya kadar PET maka nilai stabilitas, flowdan VFA semakin menurun sedangkan dengan nilai VIM dan VMA semakin meningkat
Pengekangan (Confinement) Baja dengan Sengkang Lepas (Hoop) pada Beton Silinder dengan Tulangan Pokok Bambu
ABSTRAKHabibah, Syahna. 2019. Pengekangan (Confinement) Baja dengan Sengkang Lepas (Hoop) pada Beton Silinder dengan Tulangan Pokok Bambu. Skripsi, Program Studi S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nindyawati, S.T., M.T., (II) Mohammad Sulton, S.T., M.T.Kata Kunci: Jarak Pengekangan Baja Hoop, Tulangan Bambu, Kuat Tekan, Modulus ElastisitasKolom merupakan salah satu struktur utama untuk struktur bangunan tahan gempa selain balok. Dalam perencanaannya kolom diharapkan tidak terjadi sendi plastis terlebih dahulu sebelum balok (strong column weak beam). Indonesia terletak di daerah dengan tingkat resiko gempa bumi yang tinggi. Untuk mengantisipasi kerusakan bangunan akibat gempa, diperlukan inovasi untuk membuat bangunan bertingkat yang memiliki dimensi elemen struktur yang kecil agar massa dari bangunan itu sendiri juga kecil, yaitu dengan mengontrol mutu beton dan pemberian tulangan sengkang hoop agar inti penampang kolom tetap menyatu dan tidak pecah. Penggunaan bambu sebagai tulangan utama karena bambu merupakan alternatif pengganti baja yang ramah lingkungan. Keretakan yang terjadi pada bangunan juga penting untuk diketahui sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuat tekan dan modulus elastisitas beton, adakah perbedaan tegangan regangan serta pola retak yang terjadi dari beton tanpa tulangan dan beton akibat pemberian tulangan bambu dan pengekangan baja hoop dengan variasi jarak 3 cm, 5 cm, dan 7 cm. Benda uji berupa silinder beton ukuran 150 mm x 300 mm, kuat tekan rencana beton 20 MPa. Tulangan longitudinal yang digunakan dari bambu berukuran (12 x 12) mm dan tulangan sengkang dari baja diameter 6 mm. Benda uji terdiri dari 20 silinder beton masing-masing 5 beton dengan variasi jarak sengkang hoop 3 cm, 5 cm, 7 cm, dan tanpa tulangan. Beton diuji pada umur 28 hari menggunakan alat Universal Testing Machine (UTM) dengan kapasitas 1000 kN. Analisis menggunakan uji beda (Anova Oneway).Hasil penelitian ini, yaitu: (1) kuat tekan beton tanpa tulangan sebesar 21,6 MPa dan modulus elastisitasnya 150.225,73 MPa; (2) kuat tekan beton jarak sengkang 3 cm sebesar 35,0 MPa, jarak sengkang 5 cm sebesar 23,8 MPa, dan pada jarak sengkang 7 cm sebesar 22,4 MPa; (3) modulus elastisitas beton jarak sengkang 3 cm sebesar 60.191,07 MPa, jarak sengkang 5 cm sebesar 62.198,41 MPa, dan pada jarak sengkang 7 cm sebesar 68.884,34 MPa; (4) adanya perbedaan tegangan dan regangan antara sampel tiap variasi benda uji; (5) retak yang terjadi pada benda uji tanpa tulangan yaitu retak columnar, sedangkan retak yang terjadi pada benda uji dengan jarak pengekangan (confinement) baja hoop 3 cm, 5 cm, dan 7 cm adalah retak cone dan split. ABSTRACTHabibah, Syahna. 2018. Confinement of Steel with Stirrup Hoop on Cylinder Concrete with Bamboo Reinforcement. Undergraduated-thesis, Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, State University of Malang. Preceptor: (I) Dr. Nindyawati, S.T., M.T., (II) Mohammad Sulton, S.T., M.T.Keywords: Hoop Steel Restraint Distance, Bamboo Reinforcement, Compressive Strength, Modulus of Elasticity.Columns are one of the main structures for earthquake resistant structures other than beams. In planning the column it is expected that plastic joints do not occur before the beam (strong column weak beam). Indonesia is located in an area with a high level of earthquake risk. To anticipate building damage due to the earthquake, innovation is needed to create multi-storey buildings that have small dimensions of structural elements so that the mass of the building it self is also small, namely by controlling the quality of concrete and giving hoop reinforcement so that the cross section core remains unified and does not break. The use of bamboo as the main reinforcement is because bamboo is an alternative substitute for steel that is environmentally friendly. Cracks that occur in buildings are also important to know in advance.This study aims to determine the value of compressive strength and modulus of elasticity of concrete, is there a difference in strain stress and crack patterns that occur from unreinforced concrete and concrete due to the giving of bamboo reinforcement and steel hoop restraints with variations in distance of 3 cm, 5 cm and 7 cm. The test object is a concrete cylinder size of 150 mm x 30 mm, compressive strength of a 20 MPa concrete plan. The longitudinal reinforcement used from bamboo is (12 x 12) mm and stirrup reinforcement of steel 6 mm in diameter. The specimens consisted of 20 concrete cylinders of 5 concrete each with variations in hoop stirring distance of 3 cm, 5 cm, 7 cm, and without reinforcement. Concrete is tested at the age of 28 days using a Universal Testing Machine (UTM) with a capacity of 1000 kN. The analysis uses a different test (Anova Oneway).The results of this study, namely: (1) compressive strength of unreinforced concrete is 21,6 MPa and the modulus of elasticity is 150,225.73 MPa; (2) concrete compressive strength of 3 cm stirrup distance of 35,0 MPa, 5 cm crossing distance of 23,8 MPa, and at 7 cm crossing distance of 22,4 MPa; (3) the modulus of elasticity of concrete with 3 cm crossing distance of 60,191.07 MPa, 5 cm crossing distance of 62,198.41 MPa, and at 7 cm crossing distance of 68,884.34 MPa; (4) the difference in voltage and strain between samples of each variation of the test object;(5) cracks that occur in specimens without reinforcement are columnar cracks, while cracks that occur in specimens with confinement of hoop steel 3 cm, 5 cm, and 7 cm are cracked cones and splits
Perencanaan Diversion Channel untuk Mengurangi Debit Banjir Sungai Kemuning Kabupaten Sampang
ABSTRAK Murrozaq, Ibnu Novim. 2019. Perencanaan Diversion Channel untuk Mengurangi Debit Banjir Sungai Kemuning Kabupaten Sampang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mujiyono, M.Pd., (II) Gilang Idfi, S.T., M.T. Kata Kunci: Debit Banjir, Diversion Channel Banjir terjadi ketika air limpasan hujan tidak mampu ditampung oleh suatu sungai, akibat debit air yang mengalir melebihi kapasitas pengalirannya. Banjir dapat terjadi di manapun, salah satunya yang terjadi di sungai Kemuning Kabupaten Sampang. Karena Kabupaten Sampang dialiri oleh sungai Kemuning yang menurut beberapa warga setempat sudah tidak mampu lagi menampung debit kiriman dari bagian hulu. Faktor eksisting profil sungai yang mengalami pendangkalan juga menjadi penyebab terjadinya banjir terutama pada musim penghujan. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi debit banjir pada sungai Kemuning dengan merencanakan diversion channel sebagai solusinya menggunakan pemodelan HEC HMS dan HEC RAS. Diversion channel merupakan saluran pembagi debit atau shorcut untuk mengurangi debit banjir pada sungai yang langsung dialirkan ke laut. Pada penelitian ini direncanakan tiga alternatif solusi, alternatif 1 direncanakan menggunakan penampang segiempat, alternatif 2 direncanakan menggunakan penampang trapesium dan alternatif 3 direncanakan menggunakan penampang trapesium serta melakukan penambahan dan peninggian tanggul sungai eksisting. Hasil analisa dan perencanaan menunjukkan bahwa debit banjir rencana kala ulang 25 tahun pada pemodelan HEC HMS sebesar 781,9 m3/detik. Hasil pemodelan HEC RAS dengan input hidrograf banjir kala ulang 25 tahun, kondisi sungai Kemuning mengalami overtopping pada semua station setinggi 1-4 m. Dari hasil trial and error pada pemodelan HEC RAS didapat kapasitas maksimum sungai Kemuning sebesar 90 m3/detik. Berdasarkan kapasitas maksimum sungai Kemuning di rencanakan diversion channel alternatif 1 dan alternatif 2 untuk menampung debit banjir sebesar 681,9 m3/detik. Pada diversion channel alternatif 3 direncanakan hanya mengalirkan debit banjir sebesar 300 m3/detik dengan penambahan dan peninggian tanggul pada sungai Kemuning. Semua alternatif perencanaan diversion channel mampu mengurangi debit banjir dengan prosentase 88,5% untuk alternatif 1 dan 2, 38,4% untuk alternatif 3
Kuat Cabut Sambungan Glued in Rod Tegak Lurus Radial Arah Serat dengan Variasi Diameter Batang Baja dan Ketebalan Lem pada Bambu Laminasi
ABSTRAKIhsan, Ahmad Syarif Fajarul. 2019. Kuat Cabut Sambungan Glued in Rod Tegak Lurus Radial Arah Serat dengan Variasi Diameter Batang Baja dan Ketebalan Lem pada Bambu Laminasi. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Karyadi, M.P., M.T., (II) Drs. Prijono Bagus Susanto, S.T., M.T.Kata Kunci: Bambu Laminasi, Glued in Rod, Tegak Lurus Radial Arah Serat, Kuat Cabut, Slip, Pola KerusakanBambu menjadi salah satu material yang berpotensi besar untuk menggantikan kayu. Sebagai elemen struktur bangunan, tentu bambu laminasi baik berupa kolom maupun balok membutuhkan desain sambungan yang tepat. Salah satu jenis sambungan yang dapat digunakan adalah glued in rod. Penelitian-penelitian pada bambu laminasi masih terbatas pada kondisi dimana sambungan glued in rod dipasang sejajar arah serat. Sehingga dirasa sangat perlu untuk mengembangkan penelitian sambungan glued in rod ini dengan kondisi dipasang tegak lurus arah serat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh diameter batang baja dan ketebalan lem terhadap kuat cabut, nilai slip dan pola kerusakan dari sambungan glued in rod pada bambu laminasi.Jenis Bambu yang digunakan pada penelitian ini adalah bambu petung (Dendrocalamus Asper) usia 3-5 tahun. Benda uji menggunakan bambu laminasi dengan ukuran 100 x 100 x 100 mm. Jenis batang baja yang digunakan adalah thread rod variasi diameter 8 mm, 10 mm dan 12 mm dengan mutu baja berturut-turut 404 MPa, 360 MPa dan 507 MPa. Jenis lem yang digunakan pada sambungan adalah epoxy resin merek Sikadur®-732 dengan variasi ketebalan lem 2 mm, 3 mm dan 4 mm. Sambungan dipasang pada bambu laminasi yang sudah dibor dengan kedalaman 40 mm. Pengujian pada penelitian ini adalah pull-out test dengan menggunakan Universal Testing Machine (UTM).Data hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar diameter thread rod, maka semakin besar nilai kuat cabut yang terjadi. Pada diameter thread rod 8 mm dan 10 mm semakin besar ketebalan lem, maka semakin besar nilai kuat cabut yang terjadi. Sedangkan pada diameter thread rod 12 mm semakin besar ketebalan lem, maka semakin kecil nilai kuat cabut yang terjadi. Hasil nilai kuat cabut tertinggi terdapat pada variasi diameter 12 mm dengan ketebalan lem 2 mm sebesar 24,24 kN. Kemudian nilai slip dipengaruhi oleh diameter thread rod dan ketebalan lem, dimana semakin besar diameter thread rod dan ketebalan lem maka semakin besar nilai slip yang terjadi. Hasil nilai slip modulus pada penelitian ini berkisar antara 4439,04 N/mm s/d 6799,80 N/mm. Selain itu, hampir seluruh benda uji sambungan glued in rod tegak lurus radial arah serat pada penelitian ini adalah kerusakan tipe IV, yaitu sebanyak 43 benda uji mengalami kerusakan berupa robek pada bambu laminasi. Sedangkan terdapat 2 benda uji yang mengalami kerusakan tipe II, yaitu kerusakan berupa lepasnya lem perekat dari bambu laminasi. kerusakan yang terjadi pada sambungan glued in rod bersifat getas (brittle)
Pengaruh Teknik Pemadatan Terhadap Kuat Lentur Balok Beton Gradasi
Balok beton gradasi merupakan salah satu inovasi terkini yang pada prinsipnya adalah mengoptimalkan suatu struktur balok beton bertulang dengan cara menciptakan gradasi mutu beton secara vertikal pada satu benda uji untuk mengurangi penggunaan semen. SejauhiniStandard Operational Procedure (SOP) teknik pencetakan balok beton gradasi masih belum ada karena tergolong baru. Pencetakan gradasi pada balok beton gradasi dilakukan dengan perbandingan mutu 1:1 atau beton dengan mutu yang lebih tinggi 30 MPa setinggi ½ h balok dan sisanya beton mutu lebih rendah 25 MPa dicetak diatas beton 30 MPa hinggga penuh.Dalam penelitian ini dilakukan komparasi antara 4 (empat) variasi teknik pemadatan. Empat variasi teknik pemadatan tersebut yaitu: 1) tanpa pemadatan atau tanpa melakukan pemadatan apapun pada daerah zona transisi balok beton gradasi. 2) vibrasi akhir atau hanya melakukan penggetaran menggunakan vibrator saat semua beton sudah masuk keadalam bekisting. 3) vibrasi bertahap atau penggetaran di setiap layernya. 4) dan tamping bertahap atau merojok beton disetiap layernya. Masing-masing dari variasi teknik pemadatan terdapat 2 sampelsehingga total benda uji balok beton gradasi berjumlah 8. Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengujian kuat lentur sehingga akan dibandingkan momen lentur, lendutan maksimum, grafik hubungan beban-defleksi, dan kelebihan kekurangan masing-masing balok beton gradasi. Hasil dari penelitian ini ditentukan teknik pemadatan terpilih agar selanjutnya menjadi acuan untuk memadatkan balok beton gradasi. Balok beton gradasi dengan kuat lentur terbesar dihasilkan oleh teknik pemadatan vibrasi akhir sebesar 28.14 kN.mm, selanjutnya oleh tamping bertahap sebesar 27.17 kN.mm, tanpa pemdatan sebesar 26.94 kN.mm dan terakhir vibrasi bertahap sebesar 25.92 kN.mm. Secara statistic angka probalilitas 0.17 > α = 0.05, sehingga dalam penelitian ini masing-masing teknik pemadatan balok beton gradasi tidak memberikan perbedaan kuat lentur yang signifikan
Pengekangan (Confinement) Baja dengan Sengkang Lepas (Hoop) pada Beton Silinder dengan Tulangan Pokok Bambu
ABSTRAKHabibah, Syahna. 2019. Pengekangan (Confinement) Baja dengan Sengkang Lepas (Hoop) pada Beton Silinder dengan Tulangan Pokok Bambu. Skripsi, Program Studi S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nindyawati, S.T., M.T.,(II)Mohammad Sulton, S.T., M.T.Kata Kunci: Jarak Pengekangan Baja Hoop, Tulangan Bambu, Kuat Tekan, Modulus ElastisitasKolom merupakan salah satu struktur utama untuk struktur bangunan tahan gempa selain balok. Dalam perencanaannya kolom diharapkan tidak terjadi sendi plastis terlebih dahulu sebelum balok (strong column weak beam). Indonesia terletak di daerah dengan tingkat resiko gempa bumi yang tinggi. Untuk mengantisipasi kerusakan bangunan akibat gempa,diperlukan inovasi untuk membuat bangunan bertingkat yang memiliki dimensi elemen struktur yang kecil agar massa dari bangunan itu sendiri juga kecil, yaitu dengan mengontrol mutu beton dan pemberian tulangan sengkang hoop agar inti penampang kolom tetap menyatu dan tidak pecah. Penggunaan bambu sebagai tulangan utama karena bambu merupakan alternatif pengganti baja yang ramah lingkungan. Keretakan yang terjadi pada bangunan juga penting untuk diketahui sebelumnya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuat tekan dan modulus elastisitas beton, adakah perbedaan tegangan regangan serta pola retak yang terjadi dari beton tanpa tulangan dan beton akibat pemberian tulangan bambu dan pengekangan baja hoop dengan variasi jarak 3 cm, 5 cm, dan 7 cm. Benda uji berupa silinder beton ukuran 150 mm x 300 mm, kuat tekan rencana beton 20 MPa. Tulangan longitudinal yang digunakan dari bambu berukuran (12 x 12) mm dan tulangan sengkang dari baja diameter 6 mm. Benda uji terdiri dari 20 silinder beton masing-masing 5 beton dengan variasi jarak sengkang hoop 3 cm, 5 cm, 7 cm, dan tanpa tulangan. Beton diuji pada umur 28 hari menggunakan alat Universal Testing Machine (UTM) dengan kapasitas 1000 kN. Analisis menggunakan uji beda (Anova Oneway).Hasil penelitian ini, yaitu: (1) kuat tekan beton tanpa tulangan sebesar 21,6 MPa dan modulus elastisitasnya 150.225,73 MPa; (2) kuat tekan beton jarak sengkang 3 cm sebesar 35,0 MPa, jarak sengkang 5 cm sebesar 23,8 MPa, dan pada jarak sengkang 7 cm sebesar 22,4 MPa; (3) modulus elastisitas beton jarak sengkang 3 cm sebesar 60.191,07 MPa, jarak sengkang 5 cm sebesar 62.198,41 MPa, dan pada jarak sengkang 7 cm sebesar 68.884,34 MPa; (4) adanya perbedaan tegangan dan regangan antara sampel tiap variasi benda uji;(5) retak yang terjadi pada benda uji tanpa tulangan yaitu retak columnar, sedangkan retak yang terjadi pada benda uji dengan jarak pengekangan (confinement) baja hoop 3 cm, 5 cm, dan 7 cm adalah retak cone dan split
Analisis Cara Penyelesaian Keterlambatan Pekerjaan Pada Proyek Pembangunan Gedung Widya Bhakti Di Kota Malang
RINGKASANWijaya, Robertus Ageng. 2019. Analisis Cara Penyelesaian Keterlambatan Pekerjaan Pada Proyek Pembangunan Gedung Widya Bhakti Di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Drs. H. Suparno, S. T. M.T., (II) Drs. Boedi Rahardjo, M. Pd., M.T.Kata Kunci: Cara Penyelesaian, Keterlambatan PekerjaanSuatu pekerjaan konstruksi dapat dinilai kinerjanya baik atau buruk berdasarkan biaya, mutu dan waktu yang dihasilkan. Dalam pelaksanaan proyek banyak situasi-situasi yang tidak terduga yang dapat menyebabkan permasalahan. Sehingga dampak yang sering terjadi adalah keterlambatan waktu penyelesaian proyek. Masalah keterlambatan selalu menjadi momok bagi pihak kontraktor, selain akan bertambahnya waktu pengerjaan proyek, biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan proyek tersebut juga akan bertambah besar. Keterlambatan penyelesaian proyek merupakan suatu kegagalan yang dilakukan kontraktor pelaksana. Namun pada kenyataannya faktor keterlambatan didasari juga oleh banyak sebab.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan: (1) Faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab keterlambatan pekerjaan proyek pembangunan gedung Widya Bhakti di kota Malang; (2) Penyebab keterlambatan yang terjadi pada proyek pembangunan gedung Widya Bhakti di kota Malang; (3) Cara apa yang dilakukan untuk mengatasi masalah keterlambatan proyek pembangunan gedung Widya Bhakti di kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif yang digunakan untuk mengungkapkan faktor penyebab keterlambatan serta cara yang digunakan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data model Spradley. Penelitian ini menggunakan triangulasi dengan sumber data dan triangulasi dengan teori sebagai alat ukur keabsahan data.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Faktor keterlambatan yang terjadi pada proyek pembangunan gedung Widya Bhakti terdiri dari 4 faktor, yaitu faktor pekerja, faktor peralatan kerja, faktor pemilik proyek, serta faktor fasilitas; (2) Keempat faktor keterlambatan yang ditemukan dilatarbelakangi oleh beberapa hal antara lain perilaku dalam bekerja yang rendah, durasi jam kerja yang tidak menentu, pengawasan yang lemah, terbatasnya jumlah peralatan, kondisi peralatan yang digunakan, kelengkapan peralatan, area pekerjaan, permintaan perubahan desain oleh pihak pemilik, meliburkan kegiatan proyek, ketersediaan sumber listrik yang terbatas; (3) Terdapat dua cara penyelesaian yang digunakan kontraktor untuk mengatasi keterlambatan. Cara penyelesaian yang pertama yaitu penggantian tim tenaga kerja dengan tim tenaga kerja yang memiliki kualitas lebih bagus baik dari segi kecekatan dalam bekerja dan kerapian hasil pekerjaan serta memiliki kemampuan khusus dibidang pekerjaan finishing. Cara penyelesaian yang kedua yaitu penambahan jumlah scaffolding untuk menunjang pekerja dan memaksimalkan pekerjaan
Analisis Manajemen PemeliharaanJalan Kewenangan Teknis UPTD Kecamatan Mojoagung dan Mojowarno Di Kabupaten Jombang
ABSTRAKPrakoso, Rendi. 2019. Analisis Manajemen Pemeliharaan Jalan Kewenangan Teknis UPTD Kecamatan Mojoagung dan Mojowarno Di Kabupaten Jombang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Drs. N. Bambang Revantoro, S.T., M.T., (II) Drs. H. Sugiyanto, S.T., M.T.Kata Kunci: Manajemen Pemeliharaan Jalan, Kewenangan TeknisSuatu jalan memerlukan pemeliharaan dan perawatan pada kontruksi jalan serta bagian-bagian kontruksi jalan tersebut. Dengan adanya pemeliharaan jalan dapat mempertahankan kondisi jalan pada saat jalan tersebut selesai dibangun sampai tercapainya umur rencana yang telah ditentukan pada jalan tersebut. Jalan sangat dibutuhkan oleh suatu masyarakat baik di perkotaan maupun dipedesaan. Jalan mempunyai peranan penting dalam bidang ekonomi, sosial budaya, lingkingan hidup, politik, pertahanan dan keamanan, serta dipergunakan untuk sebesar–besar kemakmuran masyarakat. Jalan sebagai prasarana distribusi barang dan jasa merupakan urat nadi kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara sehingga akan mendorong pengembangan semua sarana wilayah, pengembangan dalam usaha mencapai tingkat perkembangan antar daerah yang semakin merata.Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa hal, antara lain, (1) Bagaimanakah perencanaan pada pemeliharaan jalan di Kabupaten Jombang, (2) Bagaimanakah pelaksanaan pada pemeliharaan jalan di Kabupaten Jombang, (3) Bagaimanakah pengendalian pada pemeliharaan jalan di Kabupaten Jombang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Dalam penelitian ini digunakan metode analisis data dengan skala lingket.Hasil penelitian ini menyatakan bahwa berdasarkan hasil analisis data, diperoleh (3) kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut, (1) perencanaan pemeliharaan jalan meliputi kegiatan, (a) sistem informasi, informasi data kondisi jalan rusak di peroleh dari laporan Unit Pelaksana Teknis Daerah atau masyarakat langsung, (b) sistem manajemen aset, jalan di Kabupaten Jombang dengan total panjang 1.159,50 km, 75% sudah tertangani. (2) pelaksanaan pemeliharaan jalan meliputi kegiatan, (a) pemeliharaan rutin, secara keseluruhan frekuensi deskripsi pemeliharaan rutin, sangat baik, (b) pemeliharaan berkala, secara keseluruhan frekuensi deskripsi pemeliharaan berkala, sangat baik, (c) rehabilitas, secara keseluruhan frekuensi deskripsi rehabilitas, sangat baik, (d) rekonstruksi, secara keseluruhan frekuensi deskripsi rekonstruksi, sangat baik, (e) manajemen pemeliharaan pelaksanaan pengendalian, secara keseluruhan frekuensi deskripsi pelaksanaan pengendalian, termasuk sangat baik. (3) pengendalian pada pemeliharaan jalan meliputi kegiatan, (a) membentuk permukaan, pembentukan kembali material krikil/tanah yang hilang, dengan tim regular, (b) membersihkan tumbuh-tumbuhan, semak, pepohonan, dengan tim reguler difokuskan untuk pembersihan yang terdapat di sisi jalan. (c) melancarkan drainase permukaan jalan, tim reguler yang difokuskan membersihkan drainase, agar pembuangan air di permukaan jalan bisa lancar. Manfat penelitian ini untuk intitusi dan untuk penelitian adalah hasil dari penelitian ini bisa menjadi pijakan dalam kebijakan pembangunan merancang dan pembangunan jalan di masa depan