SKRIPSI Jurusan Teknik Sipil - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
1269 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan batu kumbung dari Tuban sebagai pengganti batu bata untuk pasangan dinding ditinjau dari sifat kuat tekannya
Batu bata dan batako merupakan bahan baku elemen bangunan yang menjadi pilihan utama sebagai elemen pasangan dinding, penyusun dinding dan sebagainya. Pemakaian batu bata yang terus menerus dapat merusak lingkungan dan polusi, sebab batu bata adalah batuan yang dibuat dari cetakan adonan tanah plastis (tanah liat) melalui proses radiasi dan pembakaran untuk mendapatkan sifat kekalnya dengan menggunakan bahan bakar kayu. Sedangkan batako terbuat dari campuran semen ditambah pasir dan air. Batu kumbung merupakan batuan sedimen yakni batuan dari endapan kapur atau batuan dolomite yang ditambang dari perbukitan dan dipotong-potong persegi dengan berbagai ukuran sesuai dengan fungsi dan kegunaannya. Batu kumbung memiliki rumus kimia CaMg (CO3)2 Riyanto (dalam Djadmiko, 1994). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara fisual keadaan fisik batu kumbung serta menyelidiki kualitas kuat tekan batu kumbung yang berasal dari wilayah Tuban yang dalam pengujiannya diperlakukan sama dengan batu bata dan batako yang ditinjau dari kuat tekan. Manfaat penelitian ini adalah agar berkembangnya batu kumbung yang berkulitas baik dan memenuhi syarat teknik sesuai dengan SSI 0021-78 dan standar industri Indonesia (SSI. 0284 ? 80) Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah research Eksploratif yaitu jenis penelitian yang bertujuan untuk menemukan suatu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat yang memakai pendekatan standart dan Peraturan Persyaratan Umum Kualitas Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI ? 1989), Standart SK SNI S ? 04 ? 1989 ? F dan Standart Industri Indonesia ( SII. 0284 ? 80) yang berlaku di Indonesia. Sampel dalam penelitian ini adalah batu kumbung yang diambil dari wilayah Tuban. Obyek penelitian ini yaitu 10 (sepuluh) buah batu kumbung yang dibuat kubus dengan sisi 14 cm yang menggunakan campuran spesi dengan perbandingan 1 semen : 2 pasir, tujuannya untuk mengikat dan meratakan bidang tekan batu kumbung. Pasir yang digunakan adalah pasir yang lolos ayakan atau saringan nomor 3 mm. Hasil analisa batu kumbung secara fisual memiliki bentuk empat persegi panjang dengan ukuran 27 cm x 10 cm x 14 cm. Serta kuat tekan dengan menggunakan standart kuat tekan diperoleh dari 10 (sepuluh) buah batu kumbung yang diuji didapat kuat tekan rata-rata 9,82 N/mm2, ini memenuhi syarat pada kuat tekan batu bata untuk kelas 25 dan 50 yang mempunyai kuat tekan sebesar 2,5 N/mm2 dan 5 N/mm2. Kesimpulan penelitian ini yaitu batu kumbung memiliki ukuran 10 cm x 14 cm x 27 cm sedangkan ukuran batu bata 5 cm x 10 cm x 23 cm. Berdasarkan kesimpulan diatas maka di sarankan untuk penelitian selanjutnya dapat menganalisa atau meneliti tentang sifat-sifat fisik lainnya seperti kecepatan penyerapan air, intensitas, volume, batu kumbung sebagai bahan penyusun dinding
Hubungan Persepsi Siswa Terhadap Kenyamanan Studio Gambar Dengan Prestasi Belajar Dalam Mata Diklat Menggambar Teknik Bangunan Siswa SMK Negeri 3 Boyolangu
SMK merupakan salah satu bagian lembaga pendidikan di Indonesia yang penting dalam mencetak tenaga kerja yang terampil. SMK juga dituntut untuk mampu menghasilkan lulusan sebagaimana yang diharapkan oleh dunia kerja. Oleh karena itu SMK jurusan menggambar teknik bangunan harus memiliki bangunan kelas yang menunjang dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Bangunan kelas harus memiliki kenyamanan tata ruang. Karena dengan rasa nyaman di dalam kelas siswa lebih giat belajar di kelas. Kenyamanan studio gambar ini meliputi kenyamanan thermal, visual, dan audial. Kondisi nyaman atau tidak nyamannya pada studio gambar dapat dirasakan langsung oleh siswa/pengguna yang diungkapkan dengan persepsi mereka . Sistem persepsi yang berpengaruh untuk menilai kenyamanan studio gambar adalah sistem penglihatan, sistem pendengaran, sistem cita rasa, sistem peraba (haptic). Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung. Penelitian ini dengan cara mengumpulkan data mengenai persepsi siswa terhadap kenyamanan studio gambar. Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif korelasional dalam bentuk survei dan angket. Untuk uji hipotesis analisa korelasional menggunakan uji normalitas dan uji linieritas. Kedua uji hipotesis tersebut menunjukkan bahwa data yang dianalisa normal dan linier. Oleh sebab itu untuk mencari hubungan kedua variabel menggunakan teknik analisa Product Momen Pearson. Data menunjukkan bahwa di SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung pada aspek kenyamanan studio gambar rata-rata adalah nyaman. Sistem yang berperan untuk kenyamanan thermal adalah sistem sistem peraba. Untuk aspek kenyamanan visual sistem yang berperan adalah sistem penglihatan. Sedangkan kenyamanan audial sistem persepsi yang berperan adalah sistem pendengaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang siginfikan antara tingkat kenyamanan studio gambar dengan prestasi belajar
Pengaruh Penambahan Anyaman Serat Bambu dengan Berbagai Variasi Jarak terhadap Kuat Lentur, Tekan dan Tarik Papan Partikel dari Serbuk Kayu Sengon
ABSTRAK Sandi, Triaga, Ria. 2008. Pengaruh Penambahan Anyaman Serat Bambu dengan Berbagai Variasi Jarak terhadap Kuat Lentur, Tekan dan Tarik Papan Partikel dari Serbuk Kayu Sengon. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Karyadi, S.Pd., M.P., M.T., (II) Drs. Eko Setyawan, S.T., M.T. Kata kunci: kuat lentur, kuat tekan, kuat tarik, papan partikel. Kayu memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari yang sangat sederhana seperti bahan bakar sampai kebutuhan yang sangat besar seperti pembuatan rumah, konstruksi bangunan, alat transportasi air dan lain sebagainya. Kebutuhan kayu di Indonesia dari tahun ketahun semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan penggunaan kayu dalam kehidupan sehari-hari. Pada industri pengolahan kayu, limbah yang berupa serbuk gergaji kayu biasanya digunakan sebagai bahan bakar tungku, atau dibakar begitu saja tanpa penggunaan yang berarti, sehingga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Menyikapi keadaan tersebut, maka diperlukan suatu usaha peningkatan efisiensi pemakaian kayu dengan cara memanfaatkan limbah industri kayu menjadi produk yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi tinggi, salah satunya diolah menjadi papan partikel. Dari penelitian ini diharapkan mengetahui: (1) nilai kerapatan dan (2) pengaruh penambahan anyaman serat bambu pada papan partikel yang diberi perlakuan jarak anyaman serat bambu 5mm, 10mm, 15mm, 20mm, 25mm terhadap kuat lentur, tekan dan tarik papan partikel yang dibuat dari serbuk gergaji kayu sengon. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen menggunakan desain faktorial 1 x 6, dimana variabel bebasnya adalah variasi jarak anyaman serat bambu dengan berbagai variasi jarak, variabel terikatnya adalah kuat lentur, kuat tekan dan kuat tarik, sedangkan perekat urea formaldehyde sebanyak 15% sebagai variabel kontrol. Acuan yang digunakan dalam pengujian kerapatan, kuat lentur, tekan dan tarik papan partikel yaitu ASTM 2003, D 1037-99. Teknik analisa data untuk mengetahui pengaruh penambahan anyaman serat bambu dengan berbagai variasi jarak terhadap kuat lentur, tekan dan tarik papan partikel dari serbuk kayu sengon menggunakan analisa regresi. Dari hasil analisa regresi untuk pengaruh penambahan anyaman serat bambu dengan berbagai variasi jarak terhadap kuat lentur, tekan dan tarik diperoleh nilai MOR berkisar antara 0,2425-1,3237 Mpa dengan rerarta 0,8913 MPa, nilai MOE berkisar antara 245,4974-369,2285 MPa dengan rerata 298,465 MPa, nilai kuat tekan berkisar antara 14,781-16,233 Mpa dengan rerata 15,6315 MPa, dan nilai kuat tarik berkisar antara 18,4766-20,7639 MPa dengan rerata sebesar 19,6351 MPa. Menurut standard FAO papan partikel yang diteliti masuk dalam klasifikasi papan partikel tipe rendah. Papan partikel tipe rendah hanya cocok untuk produk furniture yang diletakkan di dalam bangunan dan tidak dapat menahan beban struktur, contohnya antara lain: meja belajar, lemari, dan sebagai penyekat ruangan. Sedangkan kuat tekan papan partikel, menurut standard FAO papan partikel yang diteliti masuk dalam klasifikasi papan partikel tipe sedang. Papan partikel tipe sedang cocok untuk produk furniture yang diletakkan di dalam bangunan dan dapat menahan beban struktur yang ringan, contohnya antara lain: meja komputer, lemari, dan kotak salon
Penggunaan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw untuk Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas II dalam Mata Diklat Gambar Teknik Bangunan di SMK Negeri I Balikpapan
ABSTRAK Mujiwati, Tuti. 2008. Penggunaan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw untuk Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas II dalam Mata Diklat Gambar Teknik Bangunan di SMK Negeri I Balikpapan. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Made Wena, M.Pd. M.T, (II) Drs. H. Tri Kuncoro, S.T. M.Pd. Kata kunci : hasil belajar, jigsaw, gambar bangunan. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas II pada mata diklat gambar bangunan diperlukan suatu metode yang tepat, meningkatkan hasil belajar siswa kelas II Teknik Gambar Bangunan pada mata diklat gambar bangunan dicobakan pembelajaran teknik jigsaw. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penerapan metode jigsaw terhadap prestasi belajar siswa, dan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk perencanaan pembelajaran yang inovatif untuk peningkatan prestasi belajar siswa. Teknik jigsaw adalah salah satu metode pembelajaran yang menggunakan pendekatan kooperatif dengan penekanan pelaksanaan pembelajaran berpusat pada siswa, yaitu kelas dibagi dalam kelompok kecil terdiri dari 3-5 orang, dengan masing-masing kelompok mendapat tugas berbeda, dimaksudkan untuk membentuk sifat kebersamaan, saling menghargai, menerima kekurangan dan kelebihan. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri I Balikpapan, mulai tanggal 19 Desember 2007 sampai 20 Februari 2008. Subjek penelitian adalah siswa kelas II Teknik Gambar Bangunan, sebanyak 18 siswa dan dua orang guru. Dilaksanakan dua siklus, penelitian ini mengacu pada model yang dikembangkan Kemmis dan Taggart. Setiap siklusnya dengan tahapan perencanaan, tindakan observasi dan refleksi. Angket diberikan kepada siswa untuk menjaring umpan balik pelaksanaan pembelajaran, tes digunakan untuk mengukur taraf kemampuan akademis siswa baik sebelum dan sesudah pembelajaran, observasi untuk menilai aktivitas siswa dan guru di dalam pelaksanaan pembelajaran. Hasil menunjukan bahwa hasil belajar siswa meningkat; dari ketuntasan belajar klasikal siswa pada siklus I hasil pre tes 71,52% dan post tes 83,3%, siklus II pre tes 75% dan pos tes 100%. Dari angket tingkat pemahaman siswa rata-rata siklus I sebelum pembelajaran 47,91% sesudah 64,35% dan siklus II sebelum 62% sesudah 91%. Dari hasil observasi rata-rata tingkat keaktifan relatif siklus I 69,41% tergolong dalam kategori aktif dan siklus II 80,53% berarti sangat aktif. Hasil angket tentang tanggapan siswa prosentase tingkat penerimaan siswa adalah 73,19%, berarti siswa dapat menerima positif model pembelajaran ini. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat di simpulkan bahwa; teknik jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar, siswa jadi lebih senang dan aktif dalam mengikuti pembelajaran. Guru sering mengimplementasikan teori-teori belajar sehingga hasil uji kompetensi siswa jurusan Gambar Teknik Bangunan dapat ditingkatkan.
Perbandingan Produktivitas Tenaga kerja Ditinjau dari Waktu Pelaksanaan Pasangan Batu bata Secara Riel dengan Analisa Moderen (Ir. Soedrajat. S)
ABSTRAKNasikhin, Khoirun. 2007. Perbandingan Produktivitas Tenaga kerja Ditinjau dariWaktu Pelaksanaan Pasangan Batu bata Secara Riel dengan AnalisaModeren (Ir. Soedrajat. S). Proyek Akhir, Program Studi Teknik Sipildan Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas NegeriMalang. Pembimbing Drs. Mujiyono, M.Pd.Kata kunci: produktivtas, tenga kerja, pasangan batu bataDinding dapat diartikan sebagai bagian struktur bangunan yang berbentukbidang vertikal dan yang berguna untuk melingkungi, membagi, atau melindungibangunan (Revantoro).Selain fungsi di atas, dinding juga dapat menerima beban (load bearingwall) dari konstruksi lantai atas atau atap dan menyalurkan beban itu kepada sloofdan pondasi.Tujuan studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat produktifitastenaga kerja di lapangan dalam pemasangan dinding batu bata ditinjau dari waktupelaksanaan, untuk mengetahui perbandingan tingkat produktifitas tenaga kerjamenurut kajian teori analisa moderen dalam pemasangan dinding batu bataditinjau dari waktu pelaksanaan, untuk mengetahui tingkat produktifitas tenagakerja antara riel dengan analisa moderen ditinjau dari waktu pelaksanaanStudi lapangan ini membahas mengenai produktvitas pekerjaan tenagakerja pasangan batu bata yang dibandingkan dengan analisa moderen (Ir. A.Soedrajat). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah denganmenggunakan teknik interview, observasi dan dokumentasi.Dari hasil perhitungan studi di lapangan pada pekerjaan pasangan batubata dalam 1 jam pada ketinggian 0 - 3 meter untuk 1 orang tukang batu batadibantu dengan 3 orang pekerja menghasilkan pasangan 0,97 m2 sampai 1,48 m2,sementara pada pada analisa moderen (Soedrajat) dalam pekerjaan pasangandinding batu bata dalam 1 jam dapat menghasilkan 1 m2 sampai 4 m2Tingkat produktivitas pekerjaan pasangan batu bata di lapangan dan analisamodern mempunyai perbedaan 0,03 m2 - 2,52 m2/jam (103,1 % - 270,3 %) lebihproduktif pada analisa moderen (Ir. A. Soedrajat. S))
Pola Perilaku Perempuan dalam Pemilihan Moda di Kota Malang Bagian Barat
ABSTRAK Wardhani, Cindy Kusuma. 2007. Pola Perilaku Perempuan dalam Pemilihan Moda di Kota Malang Bagian Barat. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Boedi Rahardjo, M.Pd., M.T., (II) Pranoto, S.T., M.T. Kata kunci: pola, perilaku perempuan, pemilihan moda Pergerakan yang dilakukan oleh manusia umumnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akibat dari pemenuhan kebutuhan hidup ini mengakibatkan pergerakan manusia menjadi meningkat. Pergerakan dapat dilakukan dengan moda transportasi maupun tanpa moda transportasi. Pergerakan yang dilakukan umumnya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, tergantung dari tujuan dalam melakukan pergerakan tersebut. Sedangkan dalam melakukan aktivitas biasanya pelaku perjalanan akan dihadapkan pada suatu pilihan jenis moda transportasi apa yang akan digunakan. Tujuan penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut: (1) mengidentifikasi perilaku perempuan dalam pemilihan moda di kota Malang bagian barat, (2) mendapatkan pola perilaku perempuan dalam pemilihan moda di kota Malang bagian barat. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner. Untuk mengetahui perilaku perempuan dalam pemilihan moda di kota Malang bagian barat digunakan analisis deskriptif kuantitatif. Sedangkan untuk mengetahui pola perilaku perempuan dalam pemilihan moda di kota Malang bagian barat digunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan: dominan para responden adalah pelajar/ mahasiswa dengan rentang usia terbanyak adalah 16-25 tahun. Responden terbanyak memiliki tingkat pendidikan terakhir SLTA/ sederajat, dengan penghasilan rata-rata perbulan terbanyak sebesar ≤ Rp500.000,00. pelaku perjalanan terbanyak memiliki jumlah anggota keluarga 4 orang. Kendaraan yang dimiliki responden terbanyak adalah roda dua pribadi sebanyak 1 buah. Paling banyak responden melakukan perjalanan dari rumah menuju sekolah/ kampus, dengan maksud perjalanan adalah sekolah. Biasanya dalam sehari melakukan perjalanan rutin sebanyak 1 kali, dan kendaraan yang banyak digunakan untuk melakukan pergerakan adalah motor pribadi, dengan alasan karena dengan mengendarai motor pribadi, waktu perjalanan lebih singkat. Dalam penelitian ini diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: (1) untuk kendaraan pribadi dengan Adj R2 = 0,689 (2) untuk kendaraan umum dengan Adj R2 = 0.704, dimana = Utilitas Kendaraan Pribadi, = Utilitas Kendaraan Umum, = Waktu Perjalanan, = Jarak Tempuh, dan = Biaya Perjalanan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menambah variabel-variabel lain yang potensial dalam memberikan kontribusi terhadap perubahan variabel utilitas kendaraan, selain variabel waktu perjalanan, jarak tempuh dan biaya perjalanan.
Kesiapan Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran Bangunan Gedung di Lingkungan Universitas Negeri Malang.
ABSTRAKAdhianto, Aris. 2007. Kesiapan Pencegahan dan Penanggulangan BahayaKebakaran Bangunan Gedung di Lingkungan Universitas Negeri Malang.Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik,Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Tri Kuncoro, S.T.,M. Pd (II) Drs. Made Wena, M. Pd., M.T.Kata kunci: kesiapan, pencegahan dan penanggulangan kebakaran, gedungKebakaran bangunan gedung mengakibatkan kerugian berupa materiil dannon materiil. Hal ini disebabkan bukan hanya karena kelalaian manusia tetapijuga karena rendahnya kualitas sistem proteksi pasif, sistem proteksi aktif, dantidak diterapkannya sistem manajemen penanggulangan kebakaran dalam gedung.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesiapan pencegahan danpenanggulangan bahaya kebakaran bangunan gedung. Ada tiga hal yangdideskripsikan, yaitu (1) kelengkapan infratruktur bangunan gedung; (2) kondisigedung dan sistem proteksinya; dan (3) pemahaman tentang kegiatan pencegahandan penanggulangan kebakaran gedung.Menurut Lasino dan Fefen Suhedi (2005:12), bukti bahwa pencegahan danpenanggulangan kebakaran gedung telah diterapkan dengan baik yaitu:(1) pemahaman dan perhatian pada strategi keselamatan kebakaran; (2) RTDKyang diketahui secara umum oleh seluruh penghuni bangunan; (3) kemauan untukmengubah tingkah laku yang membahayakan.Di Universitas Negeri Malang, populasi gedung 110 bangunan, yaitu 73bangunan 2 lantai atau lebih dan 37 bangunan 1 lantai. Sampel gedung dalampenelitian ini adalah 20 bangunan gedung 2 lantai atau lebih dan diambil denganteknik pusposif claster sampling, dimana claster berdasarkan fungsi gedung, yaitugedung perkantoran, perkuliahan, perpustakaan, laboratorium. Sampel responden60 orang diambil dengan teknik purposif sampling, dimana dari masing-masinggedung diambil 3 orang, yaitu pimpinan, staf, dan keamanan. Pengumpulan datamenggunakan instrumen berupa kuesioner. Analisis data deskriptif menggunakansoftwere komputer Statistical Program for Social Saint (SPSS) 14.0 for windows.Hasil penelitian menunjukkan (1) kelengkapan infrastruktur gedung,responden menyatakan 62% ada sistem proteksi pasif , 69% tidak ada sistemproteksi aktif, 85% tidak ada Tim Penanggulangan Kebakaran, 75% tidak adasistem Manajemen Penanggulangan Kebakaran; (2) kondisi gedung dan sistemproteksinya, responden menyatakan 85% kondisi gedung dan sekitarnya baik,57% kondisi sistem proteksinya buruk; (3) pemahaman tentang kegiatanpencegahan dan penanggulangan kebakaran gedung, responden menyatakan 93%pemahaman tim penanggulangan kebakaran sedang, 96% pemahaman ManajemenPenanggulangan Kebakaran sedang.Kesimpulan penelitian ini adalah (1) kelengkapan infrastruktur gedungbelum terpenuhi; (2) kondisi gedung dan sistem proteksinya cukup baik; (3)pemahaman kegiatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran gedung cukupbaik. Untuk lebih menjamin keselamatan gedung dan penghuninya, para pimpinaninstitusi perlu meningkatkan kualitas sistem proteksi bahaya kebakaran danmanajemen pengelolahanny
Minat Berprofesi Menjadi Guru Bagi Siswa Bidang Keahlian Bangunan di SMK Negeri 1 Singosari
ABSTRAK Dillah, Embun Dini. 2006. Minat Berprofesi Menjadi Guru Bagi Siswa Bidang Keahlian Bangunan di SMK Negeri 1 Singosari. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan, Jurusan Teknik Sipil, FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mujiyono, M.Pd., (II) Drs. Bambang Widarta, M.T. Kata kunci: minat, profesi guru Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang disahkan pada tanggal 6 Desember 2005, telah mengangkat jabatan guru menjadi profesi yang kedudukannya sejajar dengan profesi lainnya. Dengan diundangkannya Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tersebut diduga respon masyarakat terhadap profesi guru mengalami peningkatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar minat siswa SMK Negeri 1 Singosari Bidang Keahlian Bangunan terhadap profesi guru. Dengan demikian diharapkan dengan lahirnya Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 pembangunan nasional dalam bidang pendidikan atau mutu pendidikan meningkat. Minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu dan merupakan suatu dorongan kuat untuk melakukan sesuatu demi tercapainya tujuan dan cita-cita yang diinginkan. Minat adalah keingintahuan atau suatu keadaan yang menyebabkan seseorang ingin tahu dan belajar tentang suatu hal serta mengambil bagian pada hal tersebut atau yang membangkitkan perhatian. Minat juga dapat muncul dari pengaruh luar yaitu lingkungan selain muncul dari dalam diri sendiri. Penelitian ini adalah penelitian deskripsi. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMK Negeri 1 Singosari sejumlah 301 siswa. Teknik sampel yang digunakan adalah sampel acak berstrata atau stratified random sampling yang diambil 20% dari jumlah keseluruhan yaitu kelas1 (97 siswa), kelas 2 (104 siswa) dan kelas 3 (100 siswa) Bidang Keahlian Bangunan. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner atau angket yang hasilnya dianalisa dengan perhitungan prosentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi minat berprofesi menjadi guru adalah faktor intrinsik dengan indikator minat dan bakat (kelas 1 (45%), kelas 2 (40%) dan kelas 3 (50%)), motivasi ekstrinsik dengan indikator peningkatan kesejahteraan, kepedulian sosial terhadap pendidikan dan karir pofesi guru bagus (kelas 1 (40%), kelas 2 (50%) dan kelas 3 (70%)) dan persepsi positif dengan indikator guru selalu belajar dan guru sangat dihormati di masyarakat (kelas 1 dan 3 (75%), kelas 2 (60%)). Berdasarkan hasil penelitian, disarankan bagi siswa SMK Negeri 1 Singosari Bidang Keahlian Bangunan yang cenderung untuk memilih profesi guru setelah lulus studi lebih diarahkan untuk melanjutkan jenjang pendidikan keguruan. Bagi lembaga pendidikan Universitas Negeri Malang Jurusan Teknik Sipil Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan hendaknya dapat memenuhi fungsinya sebagai lembaga yang menyiapkan tenaga pendidik yang profesional.
Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Kinerja Karyawan pada Perusahaan Jasa Konstruksi
ABSTRAK Nurhidayati, 2009, Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Kinerja Karyawan pada Perusahaan Jasa Konstruksi, Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Isnandar, M.T., (II) Drs. Bambang Widarta, M.T. Kata kunci: kinerja karyawan, tingkat pendidikan, perusahaan jasa konstruksi Tingkat pendidikan diduga berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan tehadap kinerja karyawan, dilakukan dengan cara membandingkan skor rata-rata kinerja antara tingkat pendidikan tinggi, tingkat pendidikan menengah, dan tingkat pendidikan dasar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan tingkat pendidikan dan kinerja karyawan perusahaan jasa konstruksi, (2) membandingkan kinerja karyawan antar tingkat pendidikan tinggi, tingkat pendidikan menengah, dan tingkat pendidikan dasar, serta (3) menghitung besarnya koefisien pengaruh variabel tingkat pendidikan terhadap kinerja karyawan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk bahan kajian oleh instansi pendidikan dalam menyusun kurikulum serta dapat digunakan sebagai salah satu prasyarat dalam rekruitmen tenaga kerja. Tingkat pendidikan adalah suatu proses jangka panjang yang menggunakan prosedur sistematik dan terorganisir, yang mana tenaga kerja manajerial mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis, sedangkan kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya. Populasi penelitian ini yaitu (1) populasi perusahaan yaitu perusahaan jasa konstruksi yang tergabung dalam asosiasi perusahaan jasa konstruksi GAPEKSINDO di Malang Raya yang berjumlah 35 perusahaan. Sampel perusahaan sebanyak 23 perusahaan diambil menggunakan teknik non proportional stratifiel random sampling, yaitu sebanyak 4 dari 4 perusahaan grade 5 (100%), 9 dari 18 perusahaan grade 4 (50%), 5 dari 7 perusahaan grade 3 (71%), dan 5 dari 6 perusahaan grade 2 (85%). (2) populasi responden sebanyak 64 orang dan semuanya diambil sebagai sampel yaitu 17 orang tingkat pendidikan tinggi, 26 orang tingkat pendidikan menengah, dan 21 orang tingkat pendidikan dasar. Analisa data dilakuka dengan cara (1) diskriptif untuk mendiskripsikan tingkat pendidikan dan kinerja karyawan (2) anava satu jalur untuk mengetahui perbedaan kinerja karyawan pada tingkat pendidikan tinggi, tingkat pendidikan menengah, dan tingkat pendidikan dasar (3) menghitung koefisien η2 untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel tingkat pendidikan terhadap variabel kinerja karyawan. Dari hasil penelitian diperoleh (1) 17 karyawan tingkat pendidikan tinggi dengan nilai kinerja yang baik yaitu 36.59; 26 karyawan tingkat pendidikan menengah dengan nilai kinerja yang cukup baik yaitu 34.62; dan 21 karyawan tingkat pendidikan dasar dengan nilai kinerja yang baik yaitu 36.10 (2) hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan anava satu jalur menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan kinerja karyawan antara tingkat pendidikan tinggi, tingkat pendidikan menengah, dan tingkat pendidikan dasar (F = 3.097 ; p = 0.052 > 0.05) (3) besarnya koefisien η2 = 0.092 (9.2%) yang berarti tingkat pendidikan hanya memberikan konstribusi sebesar 9.2% terhadap variabel kinerja karyawan, sedangkan 90.8% ditentukan oleh variabel lain. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap kinerja karyawan, oleh karena itu dalam rekruitmen karyawan, perusahaan diharapkan tidak hanya melihat dari tingkat pendidikan semata, akan tetapi juga memperhatikan faktor-faktor lain. Sehingga diharapkan karyawan selain memiliki sikap dan rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya juga diharapkan mempunyai wawasan yang luas terhadap perkembangan yang terjadi