2,453 research outputs found
Counter-argumentations on a comment of Tarik H. Alami's Currency Substitution vs. Dollarizaion: A portfolio balance model, Journal of Policy Modeling 23 (2001) 473-479
[No abstract available]Alami TH, 2001, J POLICY MODEL, V23, P473, DOI 10.1016-S0161-8938(01)00063-1; CUDDINGTON JT, 1983, J INT MONEY FINANC, V2, P111, DOI 10.1016-0261-5606(83)90010-411
Delapan Obat Alami
Buku ini tentang obat alami yang ditulis oleh dr. Ethel R. Nelson dari Amerika Serikat. Berdasarkan pengalamannya, dokter ini menuliskan buku yang dibagi menjadi delapan bab tentang pengobatan alami. Bab 1 tentang Gizi berisikan tentang bahasan bahwa makanan orang Barat yang berbahaya bagi orang Asia, lemak, kolesterol, hipertensi, kalori kosong, gula, serat, penyakit, dll. Bab 2 tentang gerak badan yang merupakan obat ajaib bagi tubuh. Bab 3 tentang air yang sangat penting bagi tubuh. Bab 4 tentang manfaat sinar matahari dan bahayanya bagi tubuh. Bab 5 tentang berpantang pada rokok dan alkohol. Bab 6 tentang pentingnya udara segar. Bab 7 tentang pentingnya istirahat bagi tubuh. Bab 8 tentang jalan keluar bagi depresi yaitu berharappada kuasa Tuhan
REGENERASI ALAMI SEMAI Rhizophora Apiculata DI KAWASAN INDUSTRI PERMINYAKAN DAN KAWASAN NON INDUSTRI PROVINSI RIAU
Hutan mangrove menyediakan berbagai pelayanan ekologi, namun saat ini sedang mengalami tekanan dari aktivitas manusia seperti industrialisasi di wilayah pesisir. Kajian regenerasi alami semai populasi Rhizophora apiculata telah dilakukan diantara kawasan industri perminyakan dan kawasan non industri Provinsi Riau. Hasil penelitian menunjukan bahwa kerapatan regenerasi semai alami R. apiculata tertingginya berada di kawasan non industri (Stasiun 4) dan kerapatan semai alami terendahnya berada di kawasan industri perminyakan (Stasiun 1, 2 dan 3). Selain itu, faktor kualitas perairan masih dalam batasan toleransi bagi kehidupan regenerasi semai alami R. apiculata dengan suhu perairan tertingginya berada di Stasiun 3, salinitas (Stasiun 4), pH (Stasiun 1), DO (Stasiun 4) dan potensial redoks (Stasiun 1). Selain itu, berdasarkan analisis keterkaitan kualitas perairan terhadap regenerasi semai alami R. apiculata mengunakan PCA, pada Stasiun 2, 3 dan 4 dicirikan oleh parameter suhu dan DO. Sementara Stasiun 1 dicirikan oleh parameter potensial redoks dan pH
PROSES PRODUKSI ALOE JELLY DRINK DENGAN PEWARNA ALAMI BUAH NAGA
Aloe Jelly Drink adalah minuman yang terbuat dari sari lidah buaya, jelly lidah buaya, air dan pewarna alami buah naga. Aloe Jelly Drink termasuk kedalam minuman fungsional. Minuman fungsional merupakan salah satu jenis pangan fungsional. Pangan fungsional adalah segolong makanan atau minuman yang mengandung bahan-bahan yang diperkirakan dapat meningkatkan status kesehatan dan mencegah penyakit tertentu. Tujuan dari pembuatan Tugas Akhir ini agar a). mahasiswa menguasai komposisi bahan baku dalam proses pembuatan Aloe Jelly Drink dengan Pewarna Alami Buah Naga, b). mahasiswa menguasai seluruh proses pembuatan Aloe Jelly Drink dengan Pewarna Alami Buah Naga hingga menjadi produk jadi, c). mahasiswa dapat melakukan kegiatan pemasaran produk Aloe Jelly Drink dengan Pewarna Alami Buah Naga, d). mahasiswa dapat melakukan perhitungan analisis usaha produksi Aloe Jelly Drink dengan Pewarna Alami Buah Naga. Proses produksi dilakukan di Padasan Rt 04 Rw 08 Mranggen, Polokarto, Sukoharjo. Proses pembuatan Aloe Jelly Drink dimulai dengan penimbangan, pencucian, pengupasan, pemotongan dan pemblenderan lidah buaya, pembuatan jelly lidah buaya, pembuatan pewarna, pembuatan sari lidah buaya, pengemasan Aloe Jelly Drink. Pengemasan Aloe Jelly Drink menggunakan plastik wawan sebagai kemasan primer dan plastik bening jenis PP (polypropylene) sebagai kemasan sekunder. Proses pemasaran yang dilakukan secara online dan offline. Pemasaran online melalui media instagram dan whatsapp. Pemasaran secara offline dilakukan melalui promosi secara langsung ke orang-orang sekitar produsen dan mengikuti pameran bazar. Dari hasil perhitungan analisis usaha diperoleh perhitungan R/C Ratio 1,38 dan B/C Ratio 0,38. Sehingga usaha Aloe Jelly Drink dapat dikatakan layak untuk dikembangkan karena R/C > 1 dan B/C > 0
Fire risk assessment system for food and sustainable farming using ai and IoT technologies: Benefits and challenges
Fire detection and prevention in agriculture and forestry are major challenges for food security, ecosystem preservation, and natural resource management. Forest and agricultural fires have devastating impacts on the environment, the economy, and biodiversity. Faced with this problem, the adoption of innovative technologies such as Artificial Intelligence (AI) and the Internet of Things (IoT) offers new opportunities for proactive fire risk management. This review explores the joint use of AI and IoT for fire detection, monitoring, and prevention in the agricultural and forestry sectors. The foundations of AI in agriculture are examined first, with a particular focus on machine learning and massive data processing techniques for predicting fire risk. AI applications in fire detection are then analyzed, notably through predictive models and intelligent sensor systems. At the same time, the study highlights the principles of IoT for environmental monitoring, emphasizing the role of sensors, communication networks, and cloud platforms to collect, analyze, and transmit data in real-time. Finally, the combination of AI and IoT is explored as an integrated solution for preventing fires through continuous monitoring and rapid response capability. The benefits, as well as the challenges associated with implementing these technologies, are also discussed. This review aims to provide a detailed analysis of current research, identify existing gaps, and propose perspectives for the future of agricultural and forest fire management while highlighting the importance of a technological and sustainable approach to tackling the global challenges of climate change and food security
PMT Beyond Gula: Rahasia Kesehatan Anak dengan Pemanis Alami Madu
Buku referensi berjudul PMT Beyond Gula: Rahasia Kesehatan Anak dengan Pemanis Alami Madu mengajak masyarakat umum untuk melihat alternatif sehat dalam pemenuhan kebutuhan manis anak. Dengan fokus pada madu sebagai pemanis alami, buku ini membahas bagaimana pilihan yang tepat dapat mendukung kesehatan, pertumbuhan, dan energi anak sehari-hari.
Disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami, buku ini juga memberikan tips praktis untuk mengganti gula dengan madu dalam menu anak tanpa mengorbankan rasa atau kenikmatan. Cocok masyarakat umum yang peduli pada pola hidup sehat anak
Effect of Tween 80's Emulsifier Concentration with Spontaneous Diffusion Method on Stability Solution Tegeran's Nanoemulsion Natural Dyes
Batik is an integral heritage of the Indonesian culture. With a variety of beauty, style and quality, natural colors and patterns of interest makes batik a very popular traditional cloth. Indonesia as one of the tropical country has great potential to produce healthy batik and friendly to the environment by utilizing various resources that available in nature. Efforts to produce environmentally-friendly batik can be done using colors derived from extracts of plant that contain flavonoide with attractive colors. Natural dyes for textile materials are generally obtained from the extracts of various parts of plant one of its is wood. Formulation of colouring material in an emulsion system that is ready to use is an attractive approach to encourage the use of natural colourant. In this research, colouring material was extracted using an organic solvent and emulsified in water with the aid of a surfactant. This research aimed to identify the characteristics of emulsion of tegeran wood extract. The concentration of mixture of tegeran wood extract and surfactant was varied (5, 10, 15 and 20% and the characterization included microscopic structures, colour intensity and viscosity. The research showed that viscosity increased with the increase in concentration of tegeran wood extract (ranged from 17,33 â 28,67 cp). Tegeran dyes emulsion with 3% tawas addition, analysis its size used to particle size analyzer for 5, 10, 15, 20, 25, and 30% concentration resulted 1,55, 2,2, 2,05, 2,6, 2,4 and 2,65 nano meter. Stability tend to decrease with the decrease in extract concentration, while intensity increase with the rise in extract concentration
Pengaruh Tumbuhan Liar Berbunga Terhadap Keanekaragaman Musuh Alami Pada Ekosistem Tanaman Tebu
Produksi gula di Indonesia saat ini belum dapat memenuhi konsumsi gula
nasional, dikarenakan kebutuhan gula terus meningkat. namun tidak diiringi
dengan produksi yang meningkat. Salah satu kendala budidaya tanaman tebu yang
dapat menurunkan hasil produksi yaitu adanya serangan hama. Timbulnya suatu
serangan hama diakibatkan oleh rendahnya keanekaragaman hayati di pertanaman
tebu. Salah satu alternatif pengendalian hama dapat dilakukan dengan
memanfaatkan faktor pengendali yang sudah ada di alam. Teknik pengendalian
hayati dapat dilakukan memanfaatkan musuh alami yang berperan dalam
mengendalikan perkembangan populasi hama dengan cara mengkonservasi
tumbuhan liar berbunga di sekitar pertanaman tebu. Tumbuhan liar berbunga yang
tumbuh di area pertanaman berfungsi sebagai tempat berlindung, inang alternatif
serta makanan tambahan seperti tepung sari dan nektar bagi musuh alami. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tumbuhan liar berbunga
terhadap keanekaragaman, kemerataan, kekayaan, dominasi, dan kelimpahan
musuh alami pada ekosistem tanaman tebu.
Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2021 sampai April
2022. Tempat pelaksanaan penelitian yaitu di Instalasi Penelitian Dan Pengkajian
Teknologi Pertanian (IP2TP) Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat
(Balittas), Karangploso, Malang. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif yakni
dengan melakukan pengumpulan data, menganalisis data dan menginterpretasikan
data. Hasil dari pengambilan sampel kemudian identifikasi menggunakan bantuan
buku Pengenalan Pelajaran Serangga Edisi keenam dan buku Hymenoptera of the
World. Hasil identifikasi musuh alami kemudian dianalisis menggunakan Indeks
keanekaragaman (H’), Indeks Kemerataan (E), Indeks Kekayaan (R), Indeks
Dominasi (D), Indeks Kelimpahan, dan menggunakan Uji T dengan taraf
kesalahan 5%.
Berdasarkan hasil identifikasi secara keseluruhan menunjukkan bahwa
jumlah musuh alami paling banyak ditemukan pada lahan tebu dengan tumbuhan
liar berbunga dengan 18 jenis musuh alami sebanyak 2065 individu, sedangkan
lahan tanpa tumbuhan liar berbunga ditemukan 9 jenis musuh alami sebanyak 682
individu. Indeks keanekaragaman pada lahan tebu dengan tumbuhan liar berbunga
memiliki nilai H’= 2,3 termasuk kategori sedang, E = 0,84 termasuk kategori
hampir merata, R = 2,65 termasuk kategori rendah, dan D = 0,1 termasuk kategori
rendah. Sedangkan indeks keanekaragaman pada lahan tebu tanpa tumbuhan liar
berbunga memiliki nilai H’= 1,66 termasuk kategori sedang, E = 0,9 termasuk
kategori hampir merata, R = 1,16 termasuk kategori rendah, dan D = 0,19
termasuk kategori rendah. Berdasarkan hasil Uji T terdapat perbedaan rerata
populasi musuh alami pada lahan tebu dengan dan tanpa tumbuhan liar berbunga
yang berbeda nyata (t hitung > t tabel) yaitu t hitung sebesar 6,343 dan t tabel
2,144
- …
