1,721,006 research outputs found

    Keanekaragaman Serangga Pengunjung Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) di Bogor

    No full text
    Pengembangan usaha budi daya jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dihadapkan oleh beberapa faktor yang memengaruhi kualitasnya, salah satunya adalah keberadaan serangga hama. Penelitian mengenai keanekaragaman serangga pengunjung jamur tiram budi daya di Bogor masih sedikit dilaporkan, sehingga penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman serangga pengunjung pada jamur tiram budi daya di Bogor. Sampel serangga diambil dari tudung jamur (pileus), lamela jamur (gills), dan tangkai jamur (stipe). Hasil menunjukkan bahwa terdapat 176 individu serangga dari 10 famili yang teridentifikasi dari lima lokasi pengamatan. Famili tersebut diantaranya adalah Tipulidae, Nitidulidae, Phyrrhocoridae, Cimicidae, dan Diapriidae dengan famili yang dominan, diantarannya Drosophilidae, Formicidae, Sciaridae, Scatopsidae, dan Staphylinidae. Indeks Shannon-Wiener (H´) menunjukkan tingkat keanekaragaman pada lokasi Rimba Jaya Mushroom, LIPI (Pusat Penelitian Biologi), dan SEAMEO BIOTROP memiliki tingkat keanekaragaman sedang. Tingkat keanekaragaman pada budi daya yang berada di Komplek Perumahan Kota Bogor memiliki tingkat keanekaragaman yang rendah. Indeks kemerataan (E) pada kelima lokasi jamur tiram budi daya menunjukkan bahwa kemerataan jenis serangga relatif sama. Hasil Indeks Nilai Penting (INP) menunjukkan famili Drosophilidae, Formicidae, Sciaridae, Scatopsidae, dan Staphylinidae memiliki nilai INP yang besar (INP>10%). Hasil penelitian tidak berbeda nyata berdasarkan analisis statistik dengan Diversity t-test

    Seleksi Isolat Jamur Tiram Putih (Pleurotus spp.) yang Mampu Tumbuh dan Berproduksi pada Suhu Tinggi

    No full text
    Jamur tiram putih adalah jamur pangan yang mempunyai banyak khasiatnya. Jamur ini tumbuh pada suhu 25-30oC untuk fase vegetatif dan fase generatif 14- 18oC. Suhu udara di Indonesia bagian timur relatif tinggi. Oleh karena itu, dilakukan seleksi terhadap isolat-isolat jamur tiram putih pada suhu tinggi 35oC. Bahan yang digunakan terdiri dari sembilan isolat jamur tiram putih yaitu isolat AMD, BBR, BNK, CSR, MTR, PGN, TBM, USX dan HS liar. Semua isolat jamur tiram putih tumbuh pada media ASK suhu 35oC dengan diameter koloni 6.83-9 cm kecuali MTR. Semua isolat pada media bibit jagung yang diinkubasi pada suhu 35oC tidak tumbuh. Selanjutnya kedelapan isolat asal kultur 35oC dibuat bibit pada media jagung di suhu ruang dan hasilnya empat isolat yang tumbuh yaitu CSR, TBM, USX dan HS liar. Keempat isolat selanjutnya ditumbuhkan di media produksi 500 g, terdiri dari serbuk gergajian kayu sengon, 15% dedak padi, 1.5% gipsum dan 1.5% CaCO3 dan diinkubasi pada suhu 35oC selama fase vegetatif dan suhu ruang selama fase reproduksi. Keempat isolat tersebut tumbuh pada suhu 35oC pada fase vegetatif dan berproduksi pada suhu 25-28oC dengan efisiensi biologi berkisar 64.1- 98.56%. Hasil ini lebih rendah dari penelitian sebelumnya pada isolat asal yang tanpa perlakuan suhu 35oC

    SCIENTIFIC FUNGAL REPORT OF MOLDY JEANS IN INDONESIA

    Full text link
    Mold are multicelular -microscopic fungi known as heterotrophic-cosmopolitan organism which exist almost at any place in the environment. Textiles, particularly those composed of natural organic such as jeans are easily colonized by mold. Till time, there is no report ever found regarding fungal of moldy jeans in Indonesia. This study aimed to isolate fungi from moldy jeans, identified, and described it. The result revealed that the isolate studied was Chaetomium globosum, by using several macroscopic and microscopic characters. However, since Chaetomium are known as species complex fungi, further observation is needed using molecular approach. Therefore, author consider that the isolate  should be treated as Ch. globosum  sensu lato for time being. Interestingly, Ch. globosum was frequently reported as endophytic fungi, which pose the potency to be used as biocontrol and bioinducer in agriculture. Further research is needed to test the isolate potency  as plant pathogenic biocontrol and plant growth inducer

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Kasus keracunan Inocybe sp. di Indonesia

    Full text link
    Jamur telah digunakan sejak lama sebagai bahan pangan karena berbagai kandungan nutrisi dan manfaat yang baik untuk kesehatan. Di Indonesia, sebagian besar masyarakat lokal telah terbiasa merambah jamur liar edible untuk dikonsumsi. Salah satu jamur liar konsumsi yang sering dicari oleh masyarakat adalah Termitomyces. Namun jamur ini seringkali sulit dibedakan dengan Inocybe karena sruktur morfologinya yang sama terutama untuk masyarakat awam. Inocybe diketahui memiliki spesies yang sebagian besar seringkali menyebabkan keracunan. Namun juga terdapat sedikit dari jenis dari jamur ini yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan obat. Tulisan ini merupakan penelitian kuantitatif berbasis literatur. Selama 10 tahun terakhir, telah terjadi sebanyak 7 kasus keracunan Inocybe di Indonesia dengan total 31 orang korban dan 1 di antaranya meninggal dunia. Inocybe diketahui mengandung senyawa toksik yakni muscarine dan psilocybin. Kendala utama terkait identifikasi jamur penyebab keracunan salah satunya adalah minimnya informasi, preservasi, ataupun dokumentasi yang baik mengenai sampel jamur yang menyebabkan keracunan di Indonesia. Pengetahuan dasar mengenai aspek mikologi Inocybe dan potensi toksisitasnya merupakah salah satu hal penting untuk mencegah terjadinya keracunan jamur liar di Indonesia di masa mendatang

    KOMUNIKASI SINGKAT : LAPORAN KEBERADAAN JAMUR BERACUN Podostroma cf. cornu-damae DARI LUAR BOGOR DI INDONESIA

    Full text link
    Podostroma cf. cornu-damae di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Boedijn pada tahun 1934 di Buitenzorg (Bogor), Jawa Barat. Sejak saat itu, tidak ditemukan adanya laporan kembali mengenai jamur tersebut di Indonesia. Pada tahun 2020, beberapa masyarakat lokal yang tergabung dalam komunitas pemburu jamur Indonesia membagikan informasi mengenai keberadaan jamur tersebut dari hutan Tamiang Layang (Kalimantan Tengah) dan Sukabumi (Jawa Barat). Identifikasi morfologi yang disertai deskripsi dan karakterisasi makroskopis mengkonfirmasi identitas jamur tersebut sebagai Podostroma cf. cornu-damae dan Podostroma sp. Observasi karakter mikroskopis atau pendekatan molekuler perlu dilakukan untuk memastikan hal tersebut pada penelitian selanjutnya. Informasi ini menambah data inventarisasi kekayaan ragam jamur di Indonesia

    Laporan kasus keracunan Chlorophyllum cf. molybdites di Surabaya, Indonesia

    No full text
    Wild mushrooms are one of the agricultural commodities used as food by Indonesian. However, the risk of poisoning can occur due to the morphology which often similar between edible and poisonous mushrooms. One family consumed wild mushroom which found around their residential area in Surabaya. The macrofungi grew on the grass near the ‘sengon’ trees around it. A few hours later, all of them experienced vomiting and diarrhea. The entire family rushly evacuated to the nearest hospital and received treatment. The blood tests and computed tomography (ct) scan of the abdomen showed no serious effect in all victims. The mushroom which caused poisoning then documented completely. The identification results using several macroscopic characters confirmed the macrofungi as Chlorophyllum cf. molybdites. This mushroom is known as in the category of V poisonous mushrooms which cause irritation of the digestive tract. This report indicates the need for a better understanding of the wild mushrooms identification for consumption. This is one of the approach to prevent wild mushroom poisoning in Indonesia.Jamur liar merupakan salah satu komoditas pertanian yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan oleh masyarakat Indonesia. Namun risiko keracunan bisa terjadi karena morfologi yang seringkali terlihat mirip antara jamur yang dapat dimakan dan yang beracun. Satu keluarga mengkonsumsi jamur liar yang ditemukan di sekitar pemukiman rumahnya di Surabaya. Jamur tersebut tumbuh pada rerumputan dengan beberapa pohon sengon di sekitarnya. Beberapa jam kemudian semuanya mengalami gejala muntah dan diare. Seluruh anggota keluarga tersebut kemudian dievakuasi ke rumah sakit terdekat dan mendapatkan pengobatan. Hasil cek darah dan computed tomography (ct) scan abdomen menunjukkan tidak ada efek yang serius pada semua korban. Jamur yang menyebabkan keracunan didokumentasikan dengan lengkap. Hasil identifikasi dengan menggunakan karakter makroskopik mengkonfirmasi jamur tersebut sebagai Chlorophyllum cf. molybdites. Jamur ini termasuk dalam kategori jamur beracun tipe V yang menyebabkan iritasi saluran pencernaan. Laporan ini mengindikasikan perlunya pemahaman yang baik terkait pengenalan jamur liar untuk dikonsumsi. Hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya keracunan jamur liar di Indonesia

    Endophytic Fungi Around Campus Building : Notes and Biocontrol Potency

    No full text
    Endophytic fungi occupied healthy plant tissues without destroying or producing substances which lead an infection to the host cell.Studies on endophytic fungi and its utilization have gained significance during therecent years in Indonesia. However, information provide in the term of institutional area are limited, and campus building is no exception. the goal of this study was to isolate endophytic fungi from some Angiosperms around IPB University Campus Building (IPBUCB) and testing their potential utilization as biocontrol of some plant pathogenic fungi. A total of 9 isolates of endophytic fungi obtained from this study. All isolates shown unique characteristics on PDA medium. Most of isolates have inhibition activity againtsplant pathogenic fungi. ARIV1 and ARIV2 were performed the highest (%) of inhibition of Phythopthoracapsiciwhile BWIV1 in Fusarium oxisporumf. sp. cubense. This research is an early step to reveal the potential of endophytic fungi around campus building in the foreseeable future. Â

    DIVERSITY AND POTENTIAL UTILIZATION OF SOME WILD MACROSCOPIC FUNGI AROUND IPB UNIVERSITY CAMPUS BUILDING

    Full text link
    Mushroom are cosmopolitan organisms which can emerge in a variety of environment, and around the university building is no exception.The goal of this study was to collect information on macrofungi diversity around IPB Unversity Campus Building in order to be used as a reference for its potential in the future. Macrofungi collection was done by opportunistic sampling method. All mushrooms found were Basidiomycota, which dominated by order of Agaricales. A total of 13 mushrooms were identified and described in this study, namely: Armillariella sp., Marasmiellus sp., Mycena sp., Agrocybe sp., Polyporus sp., Entoloma sp., Xeromphalina sp., Paxillus sp., Lentinus sp. 1, Lentinus sp. 2, Collybia sp., Pluteus sp., and Parasola sp. Some macroscopic fungi found to be potentially used as a bioactive compound sources, medicine and also played an important role as a decomposer in the sampling site.AbstrakJamur makroskopis merupakan organisme kosmopolitan yang mampu tumbuh pada berbagai macam kondisi lingkungan, tidak terkecuali di sekitar bangunan universitas. Tujuan dari penelitian ini adalah menyediakan informasi mengenai keragaman jamur makroskopis di sekitar kampus Institut Pertanian Bogor untuk pemanfaatannya di masa mendatang. Eksplorasi jamur dilakukan dengan metode pengambilan sampel oportunistik. Semua jamur yang ditemukan merupakan filum Basidiomycota dan didominasi oleh ordo Agaricales. Sebanyak 13 jenis jamur makro berhasil diidentifikasi dan dideskripsikan pada penelitian ini, yaitu: Armillariella sp., Marasmiellus sp., Mycena sp., Agrocybe sp., Polyporus sp., Entoloma sp., Xeromphalina sp., Paxillus sp., Lentinus sp. 1, Lentinus sp. 2, Collybia sp., Pluteus sp., dan Parasola sp. Beberapa Jamur diketahui berpotensi sebagai sumber bahan bioaktif, obat-obatan, dan dekomposer penting pada ekosistem.Kata Kunci: Gedung kampus, Jamur, Ragam, Potensi, IP
    corecore