10 research outputs found

    Pembuatan Peta Bising dengan Software Golden Surfer sebagai Upaya Pengendalian Kebisingan di Power Plant PT. X, Jawa Tengah

    No full text
    Ringkasan: Latar Belakang: Kebisingan di lingkungan kerja power plant menjadi perhatian utama karena dampak signifikan terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja. Lebih dari 30% pekerja sektor energi Indonesia terpapar kebisingan di atas Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dBA. Tujuan: Memetakan tingkat kebisingan di unit Power Plant PT. X menggunakan software golden surfer untuk mengidentifikasi zona-zona kritis yang memerlukan penanganan khusus. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan pengukuran kebisingan di 35 titik sampling menggunakan metode grid. Pengukuran dilakukan menggunakan Sound Level Meter PCE-322A dan dianalisis dengan software golden surfer untuk membuat peta kontur kebisingan. Hasil: Tingkat kebisingan bervariasi dari 64,10 dBA hingga 104,75 dBA, dengan 42,86% area melebihi NAB 85 dBA. Area G3 memiliki kebisingan tertinggi (103,1-106,0 dBA) yang berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran dan risiko kesehatan non-auditori. Simpulan: Peta kontur kebisingan berhasil mengidentifikasi zona-zona berisiko tinggi yang memerlukan intervensi segera untuk melindungi kesehatan pekerja. Saran: Diperlukan sistem zonasi kebisingan dengan penandaan jelas dan pemantauan berkala untuk evaluasi efektivitas pengendalian kebisingan.Kebisingan di lingkungan kerja industri, khususnya sektor power plant, menjadi perhatian utama karena dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tingkat kebisingan di unit power plant PT. X menggunakan software Golden Surfer. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pengukuran kebisingan di 35 titik sampling menggunakan metode grid. Pengukuran dilakukan pada 14 Agustus 2024 menggunakan Sound Level Meter PCE-322A. Hasil penelitian menunjukkan variasi tingkat kebisingan dari 64,10 dBA hingga 104,75 dBA, dengan 42,86% titik pengukuran melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dBA. Area G3 teridentifikasi memiliki tingkat kebisingan tertinggi pada rentang 103,1 – 106,0 dBA, tingginya paparan kebisingan berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran (NIHL) dan risiko kesehatan non-auditori. Peta kontur kebisingan yang dihasilkan memvisualisasikan distribusi kebisingan di seluruh area, mengidentifikasi zona-zona kritis yang memerlukan penanganan khusus. Kesimpulannya, meskipun PT. X telah menerapkan berbagai upaya pengendalian kebisingan, masih terdapat area yang memerlukan perhatian khusus dan pengendalian lebih lanjut. Peta kebisingan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk perencanaan pengendalian kebisingan, evaluasi efektivitas upaya pengendalian yang telah dilakukan, dan penyusunan strategi perlindungan kesehatan dan keselamatan pekerja di lingkungan industri energi

    Pembuatan Peta Bising dengan Software Golden Surfer sebagai Upaya Pengendalian Kebisingan di Power Plant PT. X, Jawa Tengah

    No full text
    Ringkasan: Latar Belakang: Kebisingan di lingkungan kerja power plant menjadi perhatian utama karena dampak signifikan terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja. Lebih dari 30% pekerja sektor energi Indonesia terpapar kebisingan di atas Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dBA. Tujuan: Memetakan tingkat kebisingan di unit Power Plant PT. X menggunakan software golden surfer untuk mengidentifikasi zona-zona kritis yang memerlukan penanganan khusus. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan pengukuran kebisingan di 35 titik sampling menggunakan metode grid. Pengukuran dilakukan menggunakan Sound Level Meter PCE-322A dan dianalisis dengan software golden surfer untuk membuat peta kontur kebisingan. Hasil: Tingkat kebisingan bervariasi dari 64,10 dBA hingga 104,75 dBA, dengan 42,86% area melebihi NAB 85 dBA. Area G3 memiliki kebisingan tertinggi (103,1-106,0 dBA) yang berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran dan risiko kesehatan non-auditori. Simpulan: Peta kontur kebisingan berhasil mengidentifikasi zona-zona berisiko tinggi yang memerlukan intervensi segera untuk melindungi kesehatan pekerja. Saran: Diperlukan sistem zonasi kebisingan dengan penandaan jelas dan pemantauan berkala untuk evaluasi efektivitas pengendalian kebisingan.Kebisingan di lingkungan kerja industri, khususnya sektor power plant, menjadi perhatian utama karena dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tingkat kebisingan di unit power plant PT. X menggunakan software Golden Surfer. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pengukuran kebisingan di 35 titik sampling menggunakan metode grid. Pengukuran dilakukan pada 14 Agustus 2024 menggunakan Sound Level Meter PCE-322A. Hasil penelitian menunjukkan variasi tingkat kebisingan dari 64,10 dBA hingga 104,75 dBA, dengan 42,86% titik pengukuran melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dBA. Area G3 teridentifikasi memiliki tingkat kebisingan tertinggi pada rentang 103,1 – 106,0 dBA, tingginya paparan kebisingan berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran (NIHL) dan risiko kesehatan non-auditori. Peta kontur kebisingan yang dihasilkan memvisualisasikan distribusi kebisingan di seluruh area, mengidentifikasi zona-zona kritis yang memerlukan penanganan khusus. Kesimpulannya, meskipun PT. X telah menerapkan berbagai upaya pengendalian kebisingan, masih terdapat area yang memerlukan perhatian khusus dan pengendalian lebih lanjut. Peta kebisingan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk perencanaan pengendalian kebisingan, evaluasi efektivitas upaya pengendalian yang telah dilakukan, dan penyusunan strategi perlindungan kesehatan dan keselamatan pekerja di lingkungan industri energi

    VISUALISASI NOISE MAPPING BERBASIS GOLDEN SURFER 23 SEBAGAI LANGKAH PENGENDALIAN AREA RUMAH POMPA PT.XYZ

    No full text
    Area rumah pompa PT.XYZ merupakan area utama pengolahan dan distribusi air menggunakan pompa jenis Sentrifugal Multistage yang berpotensi menghasilkan kebisingan. Peneliti melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengukur dan memetakan tingkat kebisingan menggunakan Software Golden Surfer 23 sehingga mendapatkan gambaran komprehensif terkait langkah pengendalian di area pompa PT.XYZ. Penelitian yang dilakukan yaitu penelitian deskriptif kuantitatif yang menerapkan metode Noise Mapping dengan teknik Grid 3x3 m, didukung pengukuran NIOSH, dan analisis diagram Fishbone serta instrumen berupa Sound Level Meter PCE-322A. Pengukuran dilakukan pada 20 titik sampling di area seluas 194,285 m2 selama bulan Agustus 2024. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kebisingan titik tertinggi mencapai 86,56 dB, masih melampaui batas aman yang diatur dalam Permenaker RI No.5 Tahun 2018. Noise Mapping yang dihasilkan memvisualisasikan distribusi kebisingan dan mengidentifikasi titik pengukuran kebisingan yang memerlukan perhatian khusus. Analisis menunjukkan bahwa sumber utama kebisingan berasal dari operasi pompa Sentrifugal Multistage, dengan tingkat kebisingan menurun seiring bertambah jauhnya jarak dari sumber. Berdasarkan temuan ini, direkomendasikan strategi pengendalian kebisingan yang komprehensif, meliputi perawatan mesin berkala, penggunaan wajib Alat Pelindung Diri (APD), peningkatan penghalang kebisingan alami, serta evaluasi dan pemantauan kebisingan secara berkala. Implementasi rekomendasi ini diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja di area Rumah Pompa PT. XYZ

    Analisis Penerapan Akuntansi Pada Yayasan Al-Fath Pondok Pesantren Hidayatullah (SMP As-Said) Pekanbaru

    No full text
    Al-Fath Foundation Hidayatullah Islamic Boarding School (Smp As-Said) is a nonprofit organization that operates in the field of education, located on Jl. Indrapuri Tip Gg. Bina Insani Kel. Bencah Dimples Kec. Tenayan Raya Pekanbaru City. The purpose of this research is to find out whether the financial statements that are applied in junior high school As-Said are in accordance with the Generally Accepted Accounting Principles. As for the results of the research stated by the author that Smp As-Said did not make an adjusting journal on the balance sheet for the equipment used in the financial statements, which amounted Rp 12.541.700,00, in the financial position report did not record the cost of fixed assets, only presented accumulated depreciation, did not compile a cash flow statement and notes to financial statements. From the description of the discussion and the results of the research conducted by the author, it can be concluded that the application of accounting at Smp As-Said (YAPPH) Pekanbaru is not in accordance with generally accepted accounting principle

    Factors Affecting Respiratory Symptoms Occurence in Jati Berkah Furniture Workers in Jambi City

    No full text
    Background: Wood processing Industry is a Fast growing industry and takes many human resources. This type of industry has a disadvantage that it can produce pollution formed as wood dust. Wood dust is a particulate coumpound which could cause respiratory problem to workers if it enters the respiratory tracts. Beside the wood dust, there are some other factors from occupational to personal aspects of workers which could cause respiratory symptoms. The aim study is analyze factors affecting respiratory symptoms in Jati Berkah furniture workers. Method: This research used analytical method with cross sectional design approach which was conducted to 33 workers of Jati Berkah Furniture as samples. The sampling technique used was total sampling compliance with the provisions of inclusion and exclusion terms. Obtained research data was processed by using SPSS program, univariate and bivariate analysis was done by using Chi-Square and Fisher's Exact tests. Result: Bivariate analysis result explains that: there are relation between dust concentration (p=0,016, OR=14,29) age (p=0,016, OR= 8,4), working years (p=0,003, OR=17,875), exposure duration (p=0,009, OR=14,667) and personal protective equipment (PPE) use (p=0,027, OR=6,4) and the occurence of respiratory symptoms. There is no relation between nutrition status (p=1,000, OR=1,818) and smoking status (p=0,630, OR=2,588) with the occurence of respiratory symptoms. Conclusion: The occurence of respiratory symptoms in workers of Jati Berkah Furniture is affected by wood dust concentration, age, working years, exposure duration, and PPE use factors. This research suggests for the business owner to fix the working area width and layout, putting local exhaust in high dust concentration area and to distribute the PPE to workers evenly and regularly

    EVALUATION OF THE IMPLEMENTATION OF ACTIVE FIRE PROTECTION SYSTEM AT ERNALDI BAHAR SUMATERA SELATAN

    No full text
    Introduction: The hospital is a place that is quite prone to fire hazards. Ernaldi Bahar has various characteristics of activities that have the potential to cause fires such as medical and administrative activities that use electrical installations as well as the use of intensive fire sources in kitchens, laundry or generator rooms as well as the presence of relatively high burning materials sourced from various medicines, chemicals, LPG gas cylinders and oxygen. The purpose of the research is to evaluate the implementation of active fire protection system at Ernaldi Bahar. Methods: This study uses qualitative methods with observational approaches, interviews and document studies. Result: The results showed that the active fire protection system at Ernaldi Bahar Hospital is well categorized with a percentage of 69% value with the results of fire alarm analysis based on Kepmen PU No.10 Year 2000, NFPA 72 and SNI 03-3985-2000 (81%), fire detector analysis based on NFPA 2000 and SNI 03-3985-2000 (100%), apar analysis based on NFPA 10 (89%), building hydrant analysis based on Permen PU No.26 Year 2008 and SNI 03-1745-2000 (73%), analysis of page hydrants based on Permen PU No.26 Year 2008 and SNI 03-1745-2000 (73%), and Sprinkler analysis based on SNI 03-3989-2000 (0%). Conclusion: Active fire protection system has been implemented well with a percentage of 69% value but it need some improvement in maintenance, placement, recording and completeness of active fire protection system components. Keywords: Hospital, Fire, Active Fire Protection Syste

    Bowtie Method: Study of Occupational Health and Safety Risks in Cement Production Process

    No full text
    The kiln area is an area that has a very complex hazard potential in the cement production process. This study aimed to assess the risks of occupational safety and health during the production process in the kiln area of ​​PT. X uses the bowtie method. This study used a qualitative descriptive design. The informants used were three managers of the clinker production department, one safety manager, and one field operator. Research data were collected through interviews and observations. The data were analyzed qualitatively using the bowtie method. The study results stated that hot dust could be dangerous if it comes out of the system caused by positive pressure, such as the Induced Draft Fan (IDF) turning off, causing losses such as burns to workers. Heat can be dangerous if it experiences a significant increase due to excess fuel, causing losses, such as health-related illnesses. Preventive controls were carried out such as routine inspections. Mitigation controls were carried out such as light signals. Escalation factors can thwart hot dust and heat control, such as the deformation of raw meals. Escalation factor control, such as the implementation of work instructions. PT. X has carried out control in the kiln area, but additional controls are needed

    PENERAPAN TANGGAP DARURAT PADA PENGUNJUNG SALAH SATU MALL DI KOTA PALEMBANG

    No full text
    Bencana merupakan serangkaian kejadian yang mengancam kehidupan dan dapat mengakibatkan kerugian baik secara materil maupun moril. Bencana disebabkan oleh adanya faktor bahaya, pemicu, dan kondisi lingkungan yang rentan. Pengelolaan tanggap darurat terhadap suatu bencana sangat dibutuhkan guna menekan angka kerugian yang dapat ditimbulkan. Mall merupakan salah satu tempat yang rentan terjadi bencana seperti kebakaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran kesiapsiagaan pengunjung salah satu mall di Kota Palembang mengenai pemahaman bencana dan upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak kerugian. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pengambilan data dilakukan dalam satu waktu secara bersamaan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengunjung mall dengan sampel sebanyak 47 pengunjung yang diperoleh melalui teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 63,8% pengunjung mall tidak memiliki pengalaman tanggap darurat dan sebanyak 51,1% pengunjung memiliki pengetahuan yang tergolong rendah mengenai tanggap darurat. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pengunjung salah satu mall di Kota Palembang tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai upaya tanggap darurat yang dapat dilakukan selama berada di dalam mall sehingga diperlukan sosialisasi dan pelatihan yang melibatkan seluruh pengunjung mall untuk ikut serta agar dapat terlatih dalam menghadapi bencana yang seringkali datangnya tidak terduga
    corecore