E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
the PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN STUNTING MELALUI LOMBA BALITA SEHAT DI KECAMATAN LANDONO
Stunting remains a major public health problem that has long-term impacts on the quality of human resources. One effective strategy for stunting prevention is community empowerment through improving knowledge, attitudes, and family participation in monitoring child growth and development. This community service activity aimed to empower the community in stunting prevention through the implementation of a Healthy Toddler Competition in Landono District. The methods included nutrition and child health education, anthropometric measurements (body weight, height, and nutritional status), as well as assessments of parenting practices and feeding patterns. The targets of this activity were mothers and toddlers living in Landono District. The results showed an improvement in mothers’ knowledge regarding stunting prevention, balanced nutrition, and growth monitoring of toddlers. In addition, the competition increased community motivation to actively monitor children’s health and growth. The Healthy Toddler Competition also served as an effective educational medium to raise collective community awareness of the importance of early stunting prevention. In conclusion, community empowerment through the Healthy Toddler Competition can be an effective promotive and preventive strategy for stunting prevention at the community level.
Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Salah satu upaya pencegahan stunting yang efektif adalah melalui pemberdayaan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan partisipasi keluarga dalam pemantauan tumbuh kembang balita. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dalam pencegahan stunting melalui pelaksanaan Lomba Balita Sehat di Kecamatan Landono. Metode yang digunakan meliputi edukasi gizi dan kesehatan balita, pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, dan status gizi), serta penilaian praktik pengasuhan dan pola pemberian makan oleh orang tua. Sasaran kegiatan adalah ibu dan balita yang berada di wilayah Kecamatan Landono. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu mengenai pencegahan stunting, gizi seimbang, dan pemantauan pertumbuhan balita. Selain itu, kegiatan lomba mampu meningkatkan motivasi masyarakat untuk secara aktif memantau kesehatan dan tumbuh kembang anak. Lomba Balita Sehat juga menjadi media edukatif yang efektif dalam menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya pencegahan stunting sejak dini. Kesimpulannya, pemberdayaan masyarakat melalui Lomba Balita Sehat dapat menjadi strategi promotif dan preventif yang efektif dalam upaya pencegahan stunting di tingkat komunitas.
 
Hubungan Komunikasi Terapeutik Terhadap Kepatuhan Latihan di Rumah Pasien Praktik Mandiri Fisioterapi Kota Malang
Latar Belakang: Ketidakpatuhan pasien dalam menjalani program rehabilitasi fisioterapi merupakan masalah signifikan, dengan hanya 50% pasien konsisten melakukan home exercise program (HEP). Komunikasi terapeutik diduga menjadi faktor penentu kepatuhan pasien. Tujuan: Menganalisis hubungan komunikasi terapeutik dengan kepatuhan HEP pada pasien praktik mandiri fisioterapi Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Metode: Studi cross-sectional melibatkan 81 responden berusia 18-69 tahun yang telah menjalani terapi minimal dua kali pertemuan, dipilih melalui simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Global Interprofessional Therapeutic Communication Scale (GITCS) dan Exercise Adherence Rating Scale (EARS), kemudian dianalisis dengan uji Spearman Rho (?=0,05; CI 95%). Hasil: Terdapat hubungan positif kekuatan sedang (r=0,439; p<0,001) antara komunikasi terapeutik dan kepatuhan HEP. Rata-rata skor komunikasi terapeutik 128,56 (91,8%) dan kepatuhan 19,21 (80,04%). Kesimpulan: Kualitas komunikasi terapeutik fisioterapis berkontribusi bermakna terhadap kepatuhan HEP pasien. Saran: Penguatan kurikulum komunikasi terapeutik dalam pendidikan fisioterapi dan pelatihan berkelanjutan bagi praktisi direkomendasikan.Ringkasan: Latar Belakang : Ketidakpatuhan pasien dalam menjalani program rehabilitasi fisioterapi masih menjadi masalah utama, dengan hanya sekitar 50% pasien yang konsisten melakukan latihan di rumah. Kepatuhan merupakan aspek krusial dalam menentukan keberhasilan terapi, terutama untuk pasien dengan gangguan neuromuskuloskeletal. Komunikasi terapeutik diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani home exercise programs.Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara komunikasi terapeutik terhadap kepatuhan latihan di rumah pada pasien praktik mandiri fisioterapi di Kota Malang. Metode : Desain observasional analitik cross-sectional dengan 81 responden menggunakan simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner GITCS dan EARS, dianalisis menggunakan uji Spearman Rho. Hasil : Hasil uji Spearman Rho menunjukkan nilai r = 0,439 dengan p = 0,000 (p < 0,05), yang mengindikasikan adanya hubungan positif dengan kekuatan sedang antara komunikasi terapeutik dan kepatuhan latihan di rumah. Rata-rata skor komunikasi terapeutik 128,555 (91,8%) dan kepatuhan latihan 19,209 (80,04%). Kesimpulan : Terdapat hubungan positif dengan kekuatan sedang antara komunikasi terapeutik dan kepatuhan latihan di rumah. Semakin baik komunikasi terapeutik yang dilakukan fisioterapis, maka semakin tinggi tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani latihan di rumah. Saran : Perkuat kurikulum komunikasi terapeutik, tingkatkan keterampilan fisioterapis melalui pelatihan, kembangkan penelitian eksperimental, dan standarisasi SOP komunikasi pelayanan
Pengaruh Sistem Keperawatan Satu Pintu terhadap Kepuasan Pasien Rawat Jalan RS TNI AL dr. Mintoharjo
Latar Belakang: Layanan kesehatan rawat jalan di Indonesia menghadapi tantangan efisiensi dan kepuasan pasien. RS TNI AL dr. Mintoharjo mencatat skor kepuasan awal hanya 2,38 (skala 1–4) dengan keluhan dominan pada administrasi dan koordinasi antarpetugas. Tujuan: Mengevaluasi pengaruh sistem pelayanan satu pintu terhadap kepuasan pasien pada lima dimensi SERVQUAL (tangibles, reliability, responsiveness, assurance, empathy). Metode: Desain kuasi-eksperimental one-group pretest-posttest (n = 120) di Unit Rawat Jalan RS TNI AL dr. Mintoharjo, periode Januari–Maret 2024. Pengumpulan data menggunakan kuesioner SERVQUAL termodifikasi (22 item, skala Likert 1–5). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon signed-rank test (? = 0,05). Hasil: Sistem satu pintu meningkatkan kepuasan pasien signifikan pada semua dimensi (p < 0,001; r = 0,70–0,90). Responsiveness menunjukkan peningkatan tertinggi (median +0,43; r = 0,90), diikuti empathy (r = 0,89) dan assurance (r = 0,82), sejalan dengan penurunan waktu tunggu dari 42 menit menjadi 16 menit. Simpulan: Penerapan Sistem Pelayanan Satu Pintu secara signifikan meningkatkan kepuasan pasien rawat jalan, membuktikan efektivitas reformasi alur layanan patient-centered dalam mengatasi hambatan birokrasi rumah sakit militer. Saran: Adopsi luas melalui pelatihan perawat intensif (minimal 2 hari) fokus pada integrasi tugas administratif dan komunikasi terapeutik.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak penerapan sistem pelayanan keperawatan satu pintu one way system terhadap tingkat kepuasan pasien di Unit Rawat Jalan RS TNI-AL dr. Mintoharjo. Desain kuasi eksperimen digunakan dengan pendekatan pre-test dan post-test tanpa kelompok kontrol. Sebanyak 60 pasien dipilih secara purposive sampling, masing-masing 30 responden sebelum dan sesudah penerapan sistem. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner SERVQUAL yang telah dimodifikasi. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan pada seluruh dimensi kepuasan pasien, terutama pada aspek sistem pelayanan. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000, mengindikasikan perbedaan signifikan sebelum dan sesudah penerapan sistem. Dapat disimpulkan bahwa one way system memberikan dampak positif dalam meningkatkan kepuasan pasien secara keseluruhan
Efektivitas Intervensi Booklet Edukasi Kesehatan dalam Meningkatkan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantung
Latar Belakang: Gagal jantung berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien, namun bukti ilmiah efektivitas booklet terhadap skor Minnesota Living with Heart Failure Questionnaire (MLHFQ) masih terbatas. Tujuan: Menganalisis efektivitas edukasi kesehatan berbasis booklet terhadap kualitas hidup pasien gagal jantung berdasarkan total skor dan domain fisik-emosional MLHFQ. Metode: Kuasi-eksperimental one-group pretest-posttest pada 148 pasien gagal jantung rawat jalan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta, Maret–Juli 2025. Sampel dipilih purposive sampling menggunakan rumus Slovin. Intervensi berupa edukasi tatap muka 30–45 menit menggunakan booklet berbasis pedoman American Heart Association. Kualitas hidup diukur menggunakan MLHFQ versi Indonesia (?=0,753) pada pre-test dan post-test satu bulan pasca-intervensi. Analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test (?=0,05). Hasil: Terdapat penurunan signifikan median skor total MLHFQ dari 38,00 menjadi 23,50 (selisih 13 poin; Z=?10,540; p<0,001; r=0,87), domain fisik turun 7 poin (Z=?10,435; p<0,001; r=0,86), dan domain emosional turun 3 poin (Z=?9,260; p<0,001; r=0,76), melampaui minimal clinically important difference ?5 poin. Simpulan: Edukasi kesehatan berbasis booklet efektif meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung secara statistik dan klinis pada domain fisik maupun emosional. Saran: menggunakan desain randomized controlled trial pada penelitian selanjutnyaGagal jantung merupakan gangguan fungsi jantung yang secara perlahan mengakibatkan penurunan kualitas hidup dan meningkatkan risiko kematian. Kondisi ini memerlukan intervensi nonfarmakologis yang efektif untuk membantu pasien memahami penyakit dan melakukan manajemen diri yang lebih baik. Tujuan penelitian adalah mengetahui efektivitas edukasi kesehatan menggunakan booklet terhadap peningkatan kualitas hidup pasien dengan gagal jantung. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan jumlah responden sebanyak 148 pasien gagal jantung di salah satu rumah sakit daerah di Surakarta. Kualitas hidup ini akan diukur menggunakan instrumen Minnesota Living with Heart Failure Questionnaire (MLHFQ). Analisis data menggunakan uji paired t-test. Hasil penelitian menujukkan terjadinya peningkatan kualitas hidup setelah pemberian edukasi kesehatan. Skor total MLHFQ menurun dari rata-rata 40,75 menjadi 27,21 dengan selisih 13,54 poin (p < 0,001). Penurunan skor terjadi pada domain fisik, emosional, serta sosial-mental, yang mengindikasikan terjadi peningkatan kondisi pasien secara menyeluruh. Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan menggunakan media booklet terbukti efektif untuk meningkatkan kualitas hidup kepada pasien gagal jantung melalui peningkatan aspek pengetahuan, kepatuhan, dan kemampuan adaptasi terhadap kondisi penyakit. Hasil ini diharapkan menjadi dasar pengembangan program edukasi selanjutnya bagi tenaga keperawatan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan kesejahteraan pasien
Profil Bakteri Proteus sp., Klebsiella sp., Dan Streptococcus sp., Yang Diisolasi Dari Penderita Ulkus Diabetikum
Latar Belakang: Ulkus diabetikum merupakan komplikasi kronik diabetes melitus yang rentan terhadap infeksi polimikroba. Tujuan: Mengidentifikasi profil bakteri Proteus sp., Klebsiella sp., dan Streptococcus sp. dari penderita ulkus diabetikum. Metode: Desain deskriptif observasional, potong lintang, pada 20 sampel swab ulkus diabetikum di RSUD Bahteramas, Sulawesi Tenggara. Identifikasi bakteri melalui kultur Brain Heart Infusion Broth (BHIB), MacConkey Agar (MCA), Blood Agar Plate (BAP), uji biokimia (IMViC, TSIA, katalase) dan pewarnaan Gram. Hasil: Seluruh sampel (100%) menunjukkan pertumbuhan bakteri pada BHIB. Tiga genus yang berhasil diidentifikasi: Proteus sp. (30%, n=6), Klebsiella sp. (30%, n=6), dan Streptococcus sp. (40%, n=8). Bakteri Gram-negatif mendominasi 60% (13/20 isolat). Kesimpulan: Infeksi ulkus diabetikum bersifat polimikroba dengan dominasi Gram-negatif. Identifikasi bakteri akurat esensial untuk terapi antimikroba rasional dan pencegahan komplikasi Saran: Disarankan setiap laboratorium klinik melakukan kultur dan uji resistensi antibiotik secara rutinRingkasan: Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi kronik diabetes melitus yang rentan terhadap infeksi oleh bakteri patogen. Tujuan: Mengidentifikasi profil bakteri Proteus sp., Klebsiella sp., dan Streptococcus sp. yang diisolasi dari penderita ulkus diabetikum. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang pada 20 sampel swab ulkus diabetikum di RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara. Identifikasi bakteri dilakukan melalui kultur pada media Brain Heart Infusion Broth (BHIB), MacConkey Agar (MCA), dan Blood Agar Plate (BAP), dilanjutkan dengan uji biokimia (IMViC, TSIA, katalase) serta pewarnaan Gram. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel (100%) positif mengandung pertumbuhan bakteri pada media BHIB. Tiga genus utama yang berhasil diidentifikasi adalah Proteus sp. (35%), Klebsiella sp. (30%), dan Streptococcus sp. (35%). Kesimpulan: Infeksi ulkus diabetikum bersifat polimikroba dan didominasi oleh bakteri Gram negatif. Identifikasi bakteri secara akurat penting untuk mendukung terapi antimikroba yang rasional dan mencegah komplikasi lanjutan
Kepuasan Pengguna Terhadap Penggunaan Rekam Medis Elektronik Di Rumah Sakit Swasta: Studi Cross Sectional: Kepuasan Pengguna Terhadap Penggunaan Rekam Medis Elektronik Di Rumah Sakit Swasta: Studi Cross Sectional
Ringkasan: Latar Belakang: Digitalisasi rekam medis elektronik (RME) menjadi kebutuhan di rumah sakit, meningkatkan mutu layanan namun implementasinya belum sepenuhnya optimal dan berdampak pada variabilitas kepuasan pengguna. Tujuan: Menganalisis hubungan antara penggunaan RME terhadap kepuasan pengguna sebagai dasar kebijakan pengembangan sistem di rumah sakit swasta. Metode: Studi analitik cross-sectional terhadap 132 responden (dokter, perawat, radiologi, laboratorium, kasir) dari lima RS dengan kuesioner HOT Fit, analisis univariat dan bivariat (uji Chi Square, r). Hasil: Penggunaan RME kategori baik (50,76%) berkorelasi kuat dengan tingkat kepuasan (r=0,609; p<0,05); variabel human, organisasi, teknologi, dan manfaat memiliki hubungan signifikan dengan penggunaan RME. Simpulan: Penggunaan RME berdampak pada peningkatan kepuasan dan efektivitas kerja, khususnya pada pengguna yang aktif dan telah mendapat pelatihan terstandar. Saran: Rumah sakit perlu mempertahankan, mengembangkan fitur sesuai kebutuhan pengguna, dan melakukan pelatihan berkala agar optimalisasi kepuasan tercapai.
Kepuasan pengguna RME merupakan salah satu tolok ukur tingkat keberhasilan penggunaan sebuah sistem informasi di rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa terkait kepuasaan pengguna terhadap penggunaan RME yang diharapkan dapat berguna sebagai dasar manajemen rumah sakit dalam mengambil kebijakan untuk mengembangkan sistem RME di rumah sakit. Penelitian ini adalah penelitian analitik cross-sectional dengan populasi penelitian 132 responden di beberapa rumah sakit dengan tipe rumah sakit yang sama. Dari 132 responden, sebanyak 67 (50,76%) responden pada variabel penggunaan RME dengan kategori baik menunjukkan sebanyak 49 (37,12%) responden menunjukkan memiliki kepuasaan pengguna yang baik dan sebanyak 18 (13,64%) responden memiliki kepuasan pengguna yang kurang. Penggunaan RME dengan kategori tidak baik adalah sebesar 65 (49,24%) responden yang kepuasaan pengguna baik sebanyak 25 (18,94%) responden dan 40 (30,30%) responden memiliki kepuasan yang kurang. Hasil uji Chi Square terdapat korelasi yang signifikan (p-value 0,000 < ? 0,05) dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,609. Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara penggunaan RME dengan kepuasan pengguna dengan korelasi hubungan yang kuat
STRATEGI MEMBANGUN BUDAYA CARING PERAWAT BERBASIS PELAYANAN SPIRITUAL CARE MELALUI PENDEKATAN SOSIOECOLOGICAL MODEL; STUDI FENOMENOLOGI
Ringkasan: Latar Belakang: Integrasi aspek spiritual dalam budaya caring perawat di rumah sakit masih terbatas, sementara pendekatan socioecological model jarang digunakan untuk memperkuat budaya caring keperawatan. Hambatan pelayanan spiritual mencakup ketidakpahaman perawat, kurangnya dukungan organisasi, dan terbatasnya sarana prasarana spiritual care. Tujuan: Mengeksplorasi strategi membangun budaya caring perawat berbasis pelayanan spiritual care melalui pendekatan socioecological model dalam setting rumah sakit. Metode: Studi fenomenologi dengan wawancara mendalam terhadap 19 partisipan di RS Benyamin Guluh Kolaka. Data dianalisis menggunakan teknik Colaizzi dan diklasifikasikan berdasarkan lima level socioecological model. Hasil: Teridentifikasi lima strategi utama: intrapersonal (kesadaran kebutuhan spiritual pasien), interpersonal (dukungan keluarga dan perawat), komunitas (budaya saling membantu), organisasi (kebutuhan SDM dan fasilitas), dan kebijakan (belum ada regulasi spiritual care). Temuan menunjukkan praktik spiritual care membutuhkan dukungan multilevel sistematis. Simpulan: Strategi budaya caring dalam spiritual care berakar pada nilai budaya lokal melalui pendekatan multilevel socioecological model dengan tantangan utama kurangnya kebijakan mendukung. Saran: Diperlukan pendekatan komprehensif mulai edukasi individu, pelatihan tenaga kesehatan, pemberdayaan komunitas, hingga advokasi kebijakan untuk memperkuat praktik spiritual care berbasis budaya caring.Latar Belakang: budaya organisasi merupakan sesuatu yang selalu ada dalam sebuah kelompok atau komunitas, budaya memiliki nilai nilai dan norma-norma dalam menghasilkan perilaku yang dapat mempengaruhi psikologis orang di sekitarnya. Rumah Sakit sebagai salah satu layanan kesehatan yang memiliki budaya organisasi membutuhkan sebuah manajemen yang baik dalam membangun pelayanan kesehatan secara holistik baik dalam dimensi bio, psiko, sosial, maupun tidak kalah pentingnya adalah spritual. Dibutuhkan budaya kerja dalam memberikan asuhan spritual kepada pasien yang dilandasi rasa caring dalam sebuah komunitas organisasi, yakni perawat. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi strategi dalam membangun budaya caring perawat dalam pemberian asuhan keperawtan spiritual melalui pendekatan sosioecological model. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur pada 19 sampel yang diambil dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini didapatkan beberapa tema yakni: strategi individual, interpersonal, organisasi, komunitas dan kebijakan kesehatan. Diharapkan tema yang didapatkan dapat menjadi referensi bagi layanan kesehatan dalam menghasilkan budaya caring perawat dalam mendukung kualitas pelayanan kesehatan terkhusus dalam pengaplikasian pemenuhan kebutuhan spiritual pasien
Perbandingan Tingkat Kepuasan Pasien JKN dan Umum Terhadap Kualitas Pelayanan Rawat Jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Rantauprapat
Ringkasan: Latar belakang: Rumah sakit merupakan elemen penting dalam sistem sosial dan kesehatan yang menyediakan layanan medis komprehensif. Tingkat kepuasan pasien JKN dan umum dapat bervariasi berdasarkan kualitas pelayanan yang diterima. Tujuan: Membandingkan tingkat kepuasan pasien JKN dan pasien umum terhadap kualitas pelayanan rawat jalan di RSUD Rantauprapat. Metode: Penelitian analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 11 Februari hingga 3 Maret 2025 menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif. Sampel sebanyak 136 responden (68 pasien JKN dan 68 pasien umum) dipilih secara accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis lima dimensi kualitas pelayanan (tangible, reliability, responsiveness, assurance, empathy) dengan skala Likert. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney U. Hasil: Tingkat kepuasan pasien JKN sebesar 65,00% dan pasien umum 76,25%. Perbedaan signifikan ditemukan pada dimensi responsiveness (p=0,000) dan empathy (p=0,038), sementara dimensi lainnya tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Simpulan: Kepuasan pasien JKN lebih rendah dibanding pasien umum, terutama pada dimensi responsiveness dan empathy. Saran: Dianjurkan mengadakan pelatihan staf terkait responsiveness dan empathy guna meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan pasien baik JKN maupun umum.Berdasarkan pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rumah sakit merupakan elemen penting dalam sistem sosial maupun kesehatan yang memiliki peran dalam masyarakat menyediakan layanan medis secara menyeluruh, termasuk tindakan pencegahan serta penanganan darurat secara luas. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan di RSUD Rantauprapat pada bulan Februari hingga Maret 2025. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode komparatif untuk membandingkan kepuasan pasien JKN dan pasien umum. Data yang digunakan berupa data primer dan sekunder, dengan instrumen berupa kuesioner berdasarkan lima dimensi kualitas pelayanan: Tangible, Reliability, Responsiveness, Assurance, dan Empathy, yang diukur menggunakan skala Likert. Sampel dipilih secara Accidental Sampling dari pasien rawat jalan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah populasi pasien rawat jalan tahun 2024 adalah 130.488, terdiri dari 5.023 pasien umum dan 125.465 pasien JKN. Sampel sebanyak 136 responden, masing-masing 68 pasien JKN dan 68 pasien umum, ditentukan menggunakan rumus Isaac dan Michael. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney U karena data tidak berdistribusi normal
EDUKASI MASYARAKAT TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA RESUSITASI JANTUNG PARU PADA KASUS TENGGELAM DI KELURAHAN SAWA, KAB. KONAWE UTARA
Indonesia is an archipelagic country with many oceans, rivers and lakes. The number of drowning incidents is still unknown because many cases are not reported and many victims do not receive medical services. Based on data from the National Search and Rescue Agency (BASARNAS) of Southeast Sulawesi in 2015 from various locations, 12 people died from drowning, this number is relatively small compared to 2016, the number of drowning victims increased by 17 people and in the last year of 2017 until the end of February, 2 drowning victims were reported. The latest BASARNAS data in 2023 showed 43 cases of ship accidents and 24 cases of dangerous conditions for humans. Providing first aid education requires real action for the general public so that they can provide assistance to drowning victims. The implementation of this community service began with a pre-test followed by counseling on drowning and practicing how to perform CPR in drowning cases, ending with a post-test by the Sawa Village community of 40 people. The pre-test results showed that the level of public knowledge before being given counseling was mostly sufficient with a total of 22 people (55%), less knowledge 17 people (42%) and good knowledge 1 person (3%). After being given counseling, there was an increase in sufficient knowledge of 23 people (57%), good knowledge of 15 people (38%) and less knowledge decreased to 2 people (5%). Health Counseling on First Aid for Cardiopulmonary Resuscitation in Drowning Cases has succeeded in increasing public knowledge in Sawa Village, North Konawe Regency.Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang banyak memiliki lautan, sungai dan danau. Angka kejadian tenggelamnya belum dapat diketahui pasti karena banyaknya kasus yang tidak dilaporkan dan banyaknya korban yang tidak mendapat pelayanan medis. Berdasarkan data Badan SAR Nasional (BASARNAS) Sulawesi Tenggara tahun 2015 dari berbagai lokasi tercatat korban meninggal akibat tenggelam sebanyak 12 orang, angka itu relatif sedikit dibandingkan pada tahun 2016 jumlah korban meninggal akibat tenggelam meningkat sebanyak 17 orang dan pada tahun terakhir tahun 2017 hingga akhir bulan Februari dilaporkan kejadian korban akibat tenggelam sebanyak 2 orang. (Data Musibah SAR, 2017). Data terbaru BASARNAS tahun 2023 terdapat 43 kasus merupakan kecelakaan kapal dan kondisi membahayakan manusia sebanyak 24 Kasus. Pemberian edukasi pertolongan pertama dibutuhkan tindakan yang nyata bagi masyarakat awam agar dapat memberikan pertolongan kepada korban tenggelam. Pelaksanaan pengabmas ini dimulai dengan pre test dilanjutkan dengan penyuluhan tentang tenggelam dan praktek bagaimana melakukan RJP pada kasus tenggelam, diakhiri dengan post test oleh masyarakat Kelurahan Sawa sebanjyak 40 orang. Hasil pre-test menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat sebelum diberikan penyuluhan sebagian besar cukup dengan jumlah 22 orang (55%), pengetahuan kurang 17 orang (42%) dan pengetahuan baik 1 orang (3%). Setelah diberikan penyuluhan terjadi peningkatan pengetahuan cukup 23 orang (57%), pengetahuan baik sebanyak 15 orang (38%) dan pengetahuan kurang menurun menjadi 2 orang (5%). Penyuluhan Kesehatan tentang Pertolongan Pertama Resusitasi Jantung Paru Pada Kasus Tenggelam telah berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat Di Kelurahan Sawa, Kab. Konawe Utara.
Kata kunci : Tenggelam, Resusitasi Jantung Paru, RJ
Analisis Pengendalian Persediaan Dan Strategi Perbaikan Di Instalasi Farmasi RSUD dr.Soehadi Prijonegoro Sragen Tahun 2021
Latar Belakang: Pengendalian persediaan obat yang tidak optimal menyebabkan kekosongan atau kelebihan stok di rumah sakit, sehingga diperlukan sistem analisis yang komprehensif untuk meningkatkan efisiensi biaya dan mutu pelayanan. Tujuan: Menganalisis pengendalian persediaan obat menggunakan metode ABC-VEN, EOQ, ROP, ITOR dan merumuskan strategi perbaikan melalui analisis SWOT di RSUD dr.Soehadi Prijonegoro Sragen tahun 2021. Metode: Penelitian deskriptif dengan data kualitatif dan kuantitatif yang dikumpulkan secara retrospektif periode Januari-Desember 2021. Hasil: Analisis ABC-VEN mengidentifikasi 68 item kategori AE bernilai Rp6.095.836.400 yang memerlukan prioritas pengendalian ketat. EOQ menunjukkan jumlah pemesanan optimum tertinggi 113.332 unit dengan ROP bervariasi hingga 1.271 unit. Nilai ITOR sebesar 4,34 kali/tahun menunjukkan perputaran obat masih di bawah standar ideal 8-12 kali. Matriks IFE (3,04) dan EFE (2,81) menempatkan rumah sakit pada kuadran IV dengan strategi pengembangan. Simpulan: Implementasi metode EOQ-ROP pada kategori AE berpotensi menghemat 25% biaya persediaan. Saran: Diperlukan integrasi sistem informasi manajemen, monitoring ITOR bulanan, dan pelatihan berkala staf farmasiEffective drug management is one of the important factors in improving the quality of service in hospitals, so an inventory control system is needed to ensure availability. Inappropriate drug inventory control affects drug management in hospitals. This study aims to analyze drug inventory control and improvement strategies at RSUD dr.Soehadi Prijonegoro Sragen in 2021. This research is a descriptive study, using qualitative and quantitative data retrospectively. Primary data is based on interviews and secondary data is based on document searches. Then the data is analyzed using the ABC-VEN, EOQ, ROP, ITOR and SWOT methods. The results of the study through ABC-VEN analysis show that the AE category needs to be prioritized in inventory control. Then based on the EOQ analysis, the highest optimum order quantity is 113332 and the results of the ROP analysis vary with the highest value of 1271 units. Furthermore, the improvement method based on SWOT analysis found that IFRS dr.Soehadi Prijonegoro Sragen is in cell IV, namely growing and building, so that the strategy that can be applied is a development strategy. The use of ABC-VEN, EOQ, ROP methods in inventory control analysis is very important so that planning and management are more efficient and effective, and ensure the availability of drugs that are optimally tailored to patient needs