E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
The Relationship Between Family Support and Symptoms Appearing in Heart Failure Patients
Abstrak: Latar belakang: Gagal jantung menimbulkan penurunan fungsi tubuh yang berdampak pada kualitas hidup pasien. Dukungan keluarga terbukti memengaruhi manajemen diri pada penyakit kronis, namun bukti empiris pada gagal jantung di Indonesia masih terbatas. Tujuan: Menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan tingkat keparahan gejala pada pasien gagal jantung. Metode: Penelitian deskriptif-korelatif dengan pendekatan cross-sectional melibatkan 317 responden di Poliklinik Jantung RS Universitas Sebelas Maret yang diseleksi melalui purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Family Support Scale (FSS) dan Heart Failure Somatic Perception Scale (HFSPS). Hasil: Uji korelasi Spearman rank menghasilkan p-value 0,000 dan koefisien korelasi -0,775, menunjukkan korelasi negatif kuat yang berarti peningkatan dukungan keluarga secara signifikan menekan persepsi gejala. Simpulan: Dukungan keluarga berperan penting dalam menurunkan tingkat keparahan gejala pada pasien gagal jantung. Saran: Diperlukan intervensi berbasis keluarga dalam edukasi dan perawatan berkelanjutan untuk optimalisasi manajemen gejala gagal jantung.Gagal jantung menimbulkan penurunan fungsi tubuh karena ketidakmampuan jantung memompa darah dengan baik. Kondisi tersebut memicu kemudahan pasien merasakan kelelahan dan sesak napas, yang akhirnya menyebabkan penurunan kualitas hidup. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif-korelatif melalui pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel yang terlibat mencapai 317 responden, yang diseleksi menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria pemilihan yang telah ditentukan oleh peneliti. Penelitian ini menggunakan kuesioner Family Support Scale (FSS) dan Heart Failure Somatic Perception Scale (HFSPS). Uji korelasi Spearman rank terhadap hubungan dukungan keluarga dengan gejala yang timbul menghasilkan nilai p-value sebesar 0,000 serta koefisien korelasi -0,775. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga berperan penting dalam penurunan gejala yang muncul pada pasien gagal jantung, yang pada akhirnya menjadi panduan dalam memberikan pelayanan, penatalaksanaan, dan perawatan pada pasien untuk mengurangi gejala
Hubungan Pengetahuan dan Asupan Gizi Mikro Terhadap Status Gizi Balita Stunting di Wilayah Pesisir Kota Kendari
Ringkasan: Latar belakang: Stunting merupakan masalah nutrisi kronis yang mempengaruhi 21,6% balita di Indonesia (2022), dengan prevalensi 19,5% di Kota Kendari. Defisiensi pengetahuan gizi ibu dan asupan mikronutrien menjadi faktor penentu terjadinya stunting di wilayah pesisir. Tujuan: Menganalisis hubungan pengetahuan gizi dan asupan mikronutrien terhadap status gizi balita stunting di wilayah pesisir Kota Kendari. Metode: Studi cross-sectional dengan 108 balita di Puskesmas Mata, Benu-Benua, dan Abeli ??periode Januari 2024. Pengambilan sampel menggunakan proporsional stratified random sampling. Data pengetahuan dikumpulkan melalui kuesioner yang tervalidasi, asupan mikronutrien menggunakan formulir recall 2x24 jam. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dengan ?=0,05. Hasil: Prevalensi stunting 37,0% (40/108 balita). Pengetahuan gizi baik sebesar 69,4%, asupan vitamin A baik 56,5%, vitamin C kurang 59,3%, vitamin D baik 51,9%, vitamin B9 kurang 59,3%, iodium baik 66,7%, zink baik 66,7%, zat besi kurang 55,6%, dan kalsium kurang 65,7%. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi (p<0,001), asupan vitamin A, C, D, B9 (p<0,05), dan mineral iodium, zink, Fe, kalsium (p<0,05) dengan kejadian stunting. Kesimpulan: Pengetahuan gizi ibu dan asupan mikronutrien berkurang signifikan dengan status gizi balita stunting. Saran: Optimalisasi edukasi gizi berbasis komunitas dan suplementasi mikronutrien terintegrasi untuk pencegahan stunting di wilayah pesisir.Stunting merupakan permasalahan gizi utama di Indonesia yang dapat menentukan kualitas sumber daya. Anak yang stunting rentan terhadap penyakit, kesulitan perkembangan fisik dan kognitif, berisiko mengalami penyakit degeneratif saat dewasa. Prevalensi stunting tahun 2021 sebesar 0,95%, 2022 sebesar 1,4% dan tahun 2023 sebesar1,69 %. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan asupan gizi mikro terhadap status gizi Balita Stunting di Wilayah Pesisir Kota Kendari. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, desain Cross Sectional Study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Balita di wilayah kerja Puskesmas Mata, Benu-Benua dan Abeli periode Januari tahun 2024 sebanyak 4.272 orang dan Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian Balita periode Januari tahun 2024 di wilayah kerja Puskesmas Mata, Benu-Benua dan Abeli sebanyak 98 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan proporsionate stratified random sampling. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil uji chi-square pada tingkat kepercayaan 95, diperoleh nilai p value 0,000 untuk pengetahuan, asupan vitamin C, Vitamin D, Vitamin B9 dan Fe. Kemudian diperoleh p value 0,002 untuk vitamin A, asupan iodium dan zink diperoleh masing-masing p value 0,005. Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan pengetahuan gizi dan asupan gizi mikro vitamin (Vitamin A, C, D, B9) dan asupan gizi mikro mineral (iodium, zink, Fe dan Kalsium) dengan kejadian stunting pada Balita di wilayah pesisir Kota Kendari
IDENTIFIKASI PERAN MASYARAKAT DAN TENAGA KESEHATAN DALAM PEMBERANTASAN TB PARU DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS SOROPIA
Ringkasan: Latar belakang: Keberhasilan pengobatan TB nasional (85%) masih di bawah target global (90%), sementara wilayah kerja Puskesmas Soropia mengalami kenaikan temuan kasus tiga tahun terakhir. Tujuan: Menganalisis faktor rendahnya partisipasi masyarakat, mengevaluasi peran kader dan tokoh masyarakat, serta menilai peran tenaga kesehatan dalam pengendalian TB. Metode: Desain mixed-method; survei pada 350 KK, wawancara mendalam 31 partisipan (pasien TB, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat), FGD, dan observasi partisipatif; analisis tematik-triangulasi (Colaizzi). Hasil: Pengetahuan masyarakat didominasi kategori kurang (56%); tiga tema kunci: stigma TB sebagai aib, peran kader dan pemerintah desa dalam diseminasi informasi yang belum optimal, serta upaya nakes mendorong kepatuhan dan pelacakan kontak. Simpulan: Partisipasi komunitas terhambat stigma dan rendahnya literasi TB; fungsi kader dan dukungan kebijakan desa belum maksimal; kinerja nakes baik namun membutuhkan penguatan berbasis komunitas. Saran: Kampanye berbasis budaya lokal, pelatihan kader TB, advokasi alokasi dana desa, dan intervensi partisipatif untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat.Latarbelakang. Tingkat keberhasilan pengobatan TB masih di bawah optimal sebesar 85 persen, di bawah target dunia sebesar 90 persen. Puskesmas Soropia merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang menerapkan metode DOTS, yang selanjutnya disebut UPK (Unit Pelayanan Kesehatan). Ditemukan peningkatan jumlah temuan kasus TB dalam 3 tahun terakhir Tujuan: Mengidentifikasi efektifitas gerakan Mantras TB terhadap pengendalian kasus TB Jenis penelitian Penelitian ini menggunakan. Metode penelitian: Menggunakan desain: Mixed-method yang terdiri atas Pendekatan Kuantitatif: dengan menggunakan metode survey dan pendekatan kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam melalui focus Group discussion (FGD) dan Obeservasi parsitipatif pada tenaga kesehatan ( Kepala Puskesmas dan programmer Tb) dan kader, deep interview pada penderita TB dan Tokoh masyarakat. Penelitian ini melakukan pengkajian secara sistematik, mendalam dan bermakna melalui proses eksplorasi dan interaksi komunikatif kepada partisipan mengenai keterlibatan masyarakat dalam pengendalian kasus TB. Teknik pengumpulan data dengan metode survey dan wawancara mendalam. Analisa data dilakukan secara triangulasi (gabungan) dan bersifat induktif (tematik). Hasil: Ditemukan tingkat pengetahuan masyarakat tentang pengendalian kasus TB, didominasi pada tingkat pengetahuan kurang (56%), cukup (32,85%). Temuan Analitis , menarik 3 tema utama yaitu Kurangnya peran serta masyarakat akibat Stigma “ Penyakit TB adalah Aib dan menakutkan ” dan kurang pengetahuan, 2. Peran kader, Tenaga Kesehatan dan pemerintah setempat dalam Penyebaran Informasi tentang Penyakit TB Paru, 3. Upaya Tenaga kesehatan dalam mendorong partisipasi Masyarakat dalam menanggulagi TB . Kesimpulan : 1.Peran masyarakat masih kurang didukung oleh kurangnya pengetahuan dan Stigma yang berkembang dimasyarakat; 2. Peran Kader dan Tokoh Masyarakat belum maksimal didukung dengan data kurangnya kader yang terlibat langsung dalam pengendalian TB Paru ;3.Tenaga Kesehatan telah bekerja secara maksimal namun butuh penguatan dari masyarakat, Kader dan Tokoh masyaraka
A SCREENING OF KNOWLEDGE AND EDUCATION ON THE SIGNS AND SYMPTOMS OF CARDIAC ARREST AMONG THE GENERAL PUBLIC IN COASTAL AREAS: SKRINING PENGETAHUAN SERTA EDUKASI TANDA DAN GEJALA HENTI JANTUNG PADA MASYARAKAT AWAM DI WILAYAH PESISIR
Background: Most cardiac arrests occur outside of hospitals. Cardiac arrest occurs when the heart suddenly and unexpectedly stops pumping, and hypertension is one of the causes. It is essential to have sufficient knowledge about the various adverse effects that can be caused by hypertension, often referred to as the “silent killer” because it often does not show symptoms but can have serious consequences if not managed properly, one of which is the risk of sudden cardiac arrest. The purpose of this knowledge screening is to [FW1] increase public awareness of the signs and symptoms of cardiac arrest as a preventive measure and to improve the quality of life of the community. The methods used include effective communication through pre- and post-knowledge screening, as well as education through counseling [FW2] [FW3] and demonstrations. The results of the knowledge screening from 25 respondents showed that the pre-test knowledge of the Bajo Indah village community regarding the signs and symptoms of cardiac arrest was still insufficient, with 16 respondents (64%) scoring below average. However, after receiving education, the post-test scores showed an increase in knowledge, with 22 respondents (88%) scoring above average. Conclusion: The implementation of this activity was able to increase the knowledge of the public in Bajo Indah Village regarding the signs and symptoms of cardiac arrest, which will serve as the basis for preventive efforts against cardiac arrest and improve the quality of life of the community.Latar Belakang: Sebagian besar kejadian henti jantung terjadi di luar rumah sakit. Henti jantung terjadi ketika jantung secara tiba-tiba serta tak terduga berhenti memompa dan hipertensi menjadi salah satu penyebabnya. Perlunya pengetahuan yang cukup mengenai berbagai dampak buruk yang dapat ditimbulkan penderita hipertensi yang sering disebut sebagai silent killer karena sering tidak menunjukkan gejala, tetapi memiliki dampak buruk yang serius jika tidak dikelola dengan baik, salah satunya adalah risiko henti jantung mendadak. Tujuan kegiatan ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai tanda dan gejala henti jantung sebagai upaya preventif dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Metode yang digunakan yaitu komunikasi efektif berupa skrining pengetahuan pre dan post serta penyuluhan. Hasil Pelaksanaan skrining pengetahuan dari 25 responden menunjukkan bahwa pre test pengetahuan masyarakat desa Bajo Indah mengenai tanda dan gejala henti jantung masih kurang yaitu 16 responden (64%) namun setelah diberikan penyuluhan nilai post test menunjukkan terjadinya peningkatan pengetahuan menjadi 22 Responden (88%). Kesimpulan: Pelaksanaan kegaiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat awam yang ada di Desa Bajo Indah mengenai tanda dan gejala henti jantung yang nantinya menjadi dasar upaya preventif henti jantung dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
 
Analisis Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Kepuasan Pasien Pada Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Herrmina Medan Tahun 2025
Latar Belakang: Komunikasi terapeutik perawat merupakan komponen kritis dalam pemberian asuhan keperawatan berkualitas yang berpengaruh langsung terhadap kepuasan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan komunikasi terapeutik perawat terhadap kepuasan pasien rawat inap di RS Hermina Medan tahun 2025. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dilakukan pada 100 responden yang dipilih menggunakan consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner tervalidasi dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta regresi logistik berganda. Hasil: Mayoritas responden menilai komunikasi terapeutik perawat dalam kategori baik (57%) dengan tingkat kepuasan pasien cukup puas (53%). Analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien (p<0,001; OR=15,802; 95% CI: 5,592-44,627). Fase kerja merupakan determinan paling dominan (?=0,367; p=0,002), diikuti fase terminasi (?=0,257; p=0,035). Simpulan: Komunikasi terapeutik perawat berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien, dengan fase kerja dan terminasi sebagai determinan utama. Saran: agar rumah sakit memperkuat program pelatihan komunikasi terapeutik berbasis bukti, khususnya pada fase kerja dan terminasi, serta melakukan evaluasi berkala sebagai bagian dari indikator mutu layanan keperawatan.Komunikasi mempunyai peran yang besar dalam kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komunikasi terapeutik perawat terhadap kepuasan pasien pada Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Hermina Medan Tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel berjumlah 100 pasien rawat inap yang dipilih menggunakan metode consecutive sampling dengan Kriteria inklusi dalam penelitian ini meliputi pasien rawat inap berusia >17 tahun, bersedia menjadi responden, dan merupakan peserta BPJS. Kriteria eksklusi mencakup pasien dengan gangguan komunikasi, gangguan jiwa, atau kondisi yang menghambat kemampuan menjawab pertanyaan penelitian. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang mengukur komunikasi terapeutik (tahap persiapan, orientasi, kerja, dan terminasi) serta kepuasan pasien. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square dan regresi logistik berganda pada taraf signifikansi ? < 0,05. Mayoritas pasien dalam penelitian ini adalah laki-laki (59%), berusia 18–40 tahun (78%), beragama islam (81%) dan berpendidikan SMA (56%). Hasil penelitian menunjukkan 57% pasien menilai komunikasi terapeutik perawat dalam kategori baik, sedangkan 43% dalam kategori cukup. Tingkat kepuasan pasien menunjukkan bahwa pasien yang menerima komunikasi terapeutik baik memiliki peluang 15,8 kali lebih besar untuk merasa sangat puas dibanding pasien dengan komunikasi cukup (p-value < 0,000). Nilai Odds Ratio (OR) = 15,802 dengan Confidence Interval (CI) 95% = 5,595 – 44,627. Terdapat pengaruh signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien. Peningkatan penerapan komunikasi terapeutik pada seluruh tahap (persiapan, orientasi, kerja, dan terminasi) sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan kepuasan pasien di Instalasi Rawat Inap RS Hermina Medan
EDUKASI MELALUI KOMIK “ANAKKU STUNTING” UNTUK PENINGKATAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG BAHAYA NIKAH DINI DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING
Adolescent pregnancy due to early marriage has a negative impact on the health of adolescents and their babies, especially increasing the risk of stunting in children. Therefore, it is important to provide education to adolescents regarding the dangers of this by paying attention to the condition of adolescents as targets. Teenagers today generally prefer something that is varied and not boring, the education/counseling process must be designed with this in mind. The use of the right media can be one of the solutions to increase the interest of adolescents to get health information, one of these media is comics that can increase interest in reading. This service program aims to increase adolescents' knowledge about the dangers of early marriage in stunting prevention through the use of educational comics. The method is by providing education to teenagers through the use of educational comics. The training was conducted within 2 days. The number of trainees is 30 people. The success of the program can be seen from the change in knowledge about the dangers of early marriage in stunting prevention.Kehamilan remaja akibat penikahan dini berdampak negatif pada kesehatan remaja dan bayinya terutama akan meningkatkan risiko kejadian stunting pada anak. Oleh karena itu penting memberikan edukasi kepada remaja terkait bahaya hal tersebut dengan memperhatikan kondisi remaja sebagai sasaran. Remaja saat ini umumnya lebih menyukai sesuatu yang bersifat variatif dan tidak membosankan, Proses edukasi/ penyuluhan harus dirancang dengan memperhatikan hal tersebut. Penggunaan media yang tepat dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan minat remaja untuk mendapatkan informasi kesehatan, salah satu media tersebut adalah komik yang dapat meningkatkan minat untuk membaca. Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang bahaya pernikahan dini dalam pencegahan stunting melalui penggunaan komik edukasi. Metode dengan cara pemberian edukasi kepada remaja melalui pemanfaatan komik edukasi. Pelatihan dilakukan dalam waktu 2 hari. Jumlah peserta pelatihan 30 orang. Keberhasilan program terlihat dari adanya perubahan pengetahuan tentang bahaya pernikahan dini dalam pencegahan stunting
Pendampingan Kader Posyandu Pada Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Lokal di Puskesmas Mata Kota Kendari
Stunting is a chronic nutritional problem that remains a challenge in Kendari City. One prevention strategy is through a local food-based Supplementary Feeding (PMT) program supported by Posyandu (Integrated Service Post) cadres. This community service program aims to improve the cadres' capacity in processing, serving, providing nutrition education, and assisting families of toddlers. Implementation methods included training, hands-on practice, and on-the-job mentoring for 30 Posyandu cadres in the Mata Community Health Center (Puskesmas Mata) work area. Evaluation was conducted through pre- and post-tests, as well as skills observations. Pre-and post-test data were analyzed quantitatively to illustrate improvements in participants' knowledge scores, while observation and interview results were analyzed qualitatively to determine changes in cadres' behavior and practical skills. Data are presented in tables and narratives explaining the achievements in improving the Posyandu cadres' capacity. Results show an increase in the average cadre's knowledge from 62.4 to 88.6, as well as significant improvements in skills in local food processing and nutrition education. This activity effectively strengthens the role of Posyandu cadres in implementing local PMT, in accordance with the 2023 Ministry of Health Technical Guidelines, to accelerate stunting reduction.Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi tantangan di Kota Kendari. Salah satu strategi pencegahannya ialah melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal dengan dukungan kader posyandu. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader dalam pengolahan, penyajian, edukasi gizi, dan pendampingan keluarga balita. Metode pelaksanaan meliputi pelatihan, praktik langsung, dan pendampingan on-the-job terhadap 30 kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Mata. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test serta observasi keterampilan. Data hasil pre-test dan post-test dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk menggambarkan peningkatan skor pengetahuan peserta, sedangkan hasil observasi dan wawancara dianalisis secara kualitatif untuk mengetahui perubahan perilaku dan kemampuan praktik kader. Data disajikan dalam bentuk tabel dan narasi yang menjelaskan capaian peningkatan kapasitas kader Posyandu. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan kader dari 62,4 menjadi 88,6, serta keterampilan dalam pengolahan pangan lokal dan edukasi gizi meningkat signifikan. Kegiatan ini efektif memperkuat peran kader posyandu dalam pelaksanaan PMT lokal sesuai Petunjuk Teknis Kemenkes 2023 sebagai upaya percepatan penurunan stunting
EMPOWERING TEENAGERS AND ADOLESCENT CADRES TO PREVENT EARLY MARRIAGE AS A RISK FACTOR FOR STUNTING INCIDENTS
Early marriage is one of the indirect factors causing stunting in children. This is because early marriage not only impacts a mother's physical readiness but also her psychological state, which can affect child-rearing practices. In Mamuju Regency, the prevalence of early marriage is quite high, ranking second at 14.28%. Early marriage remains a common occurrence and an ongoing trend. Additionally, there is a lack of knowledge among adolescents regarding adolescent reproductive health, and insufficient monitoring and identification of adolescent reproductive health issues. The proposed solution is to increase adolescents' knowledge through education and mentoring programs on adolescent reproductive health. The implementation method involves conducting education and training for adolescent cadres on adolescent health and conducting adolescent reproductive health examinations using a peer education method. The results of this community service activity showed an increase of more than 40% in participants' knowledge of stunting and the impacts of early marriage. The health monitoring of adolescent girls identified 13 out of 62 female students who experienced anemia, and 2 female students who had menstrual disorders. The sustainability of this community service activity is achieved through adolescent cadres conducting peer education to all adolescents in Kelurahan BebangaPernikahan dini merupakan salah satu faktor penyebab tidak langsung terjadinya stunting pada anak karena pernikahan dini akan berdampak bukan hanya kesiapan fisik ibu tetapi juga psikologis yang akan mempengaruhi pola asuh anak. Pernikahan dini di Kabupaten Mamuju menduduki peringkat kedua yakni sebesar 14,28%. Pernikahan dini merupakan hal yang masih sering terjadi dan merupakan tren yang masih berlangsung. Selain itu, masih kurangnya pengetahuan remaja mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja, serta masih kurangnya pemantauan identifikasi kesehatan reproduksi remaja. Solusi yang ditawarkan ialah meningkatkan pengetahuan remaja melalui kegiatan edukasi dan pendampingan mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja. Metode pelaksanaan kegiatan ialah dengan mengadakan edukasi dan pelatihan pada kader remaja mengenai kesehatan remaja, dan melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi remaja dengan menggunakan metode peer education. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai stunting dan dampak dari pernikahan dini sebanyak > 40%. Adanya hasil pemantau kesehatan remaja putri yang mengidentifikasi sebanyak 13 siswi dari 62 siswi yang mengalami anemia, dan sebanyak 2 orang siswi mengalami gangguang haid. Keberlanjutan dari kegiatan pengabmas ini ialah Kader remaja mampu melakukan peer education kepada seluruh remaja yang ada di Wilayah Kelurahan Bebanga
the HUBUNGAN KEBIASAAN KOMSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI DENGAN RISIKO PENYAKIT JANTUNG PADA REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 13 BOMBANA KECAMATAN MATAOLEO KABUPATEN BOMBANA
Introduction: Heart disease is one of the deadliest non-communicable diseases (NCDs) worldwide. This disease affects not only adults and the elderly but is also beginning to show increasing prevalence among young people, including adolescents. The purpose of this study was to determine the relationship between fast food consumption habits and the risk of heart disease in adolescent girls at SMA Negeri 13 Bombana, Mataoleo District, Bombana Regency.
Methods: This study was quantitative and designed using an observational cross-sectional approach. The population was all 187 adolescent girls at SMA Negeri 13 Bombana, Mataoleo District, Bombana Regency. The sample was 65 adolescents at SMA Negeri 13 Bombana, Mataoleo District, Bombana Regency. The test tool used in the bivariate analysis was the Chi-square test.
Results: Of the 65 respondents, the habit of consuming fast food among adolescent girls was mostly in the low category, with 38 people (58.4%), and the risk of heart disease among adolescent girls was mostly in the no-risk category, with 45 people (69.2%). There is a relationship between the habit of consuming fast food and the risk of heart disease among adolescents at SMA Negeri 13 Bombana, Mataoleo District, Bombana Regency (x2 = 15.276; p-value = 0.000).
Conclusion: There is a relationship between the habit of consuming fast food and the risk of heart disease among adolescent girls at SMA Negeri 13 Bombana, Mataoleo District, Bombana Regency.Pendahuluan: Penyakit jantung adalah salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang paling mematikan di dunia. Penyakit ini tidak hanya menyerang kelompok usia dewasa atau lanjut usia, tetapi juga mulai menunjukkan prevalensi yang meningkat di kalangan usia muda, termasuk remaja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan kebiasaan komsumsi makanan cepat saji dengan risiko penyakit jantung pada remaja putri di SMA Negeri 13 Bombana Kecamatan Mataoleo Kabupaten Bombana.
Metode: Jenis penelitian adalah kuantitatif dan dirancang menggunakan observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah semua remaja putri di SMA Negeri 13 Bombana Kecamatan Mataoleo Kabupaten Bombana sebanyak 187 orang. Sampel adalah remaja di SMA Negeri 13 Bombana Kecamatan Mataoleo Kabupaten Bombana yang berjumlah 65 orang. Alat uji yang digunakan dalam analisis bivariat adalah uji Kai kuadrat (Chi Square).
Hasil: Dari 65 orang responden, kebiasaan komsumsi makanan cepat saji pada remaja putri terbanyak dalam kategori rendah sebanyak 38 orang (58,4%), risiko penyakit jantung pada remaja putri terbanyak dalam kategori tidak berisiko sebanyak 45 orang (69,2%) Ada hubungan kebiasaan komsumsi makanan cepat saji dengan risiko penyakit jantung pada remaja di SMA Negeri 13 Bombana Kecamatan Mataoleo Kabupaten Bombana (x2= 15.276; p-value = 0,000).
Kesimpulan: Ada hubungan kebiasaan komsumsi makanan cepat saji dengan risiko penyakit jantung pada remaja putri di SMA Negeri 13 Bombana Kecamatan Mataoleo Kabupaten Bomban
Nilai Rujukan Darah Rutin Dewasa Sehat di Kota Yogyakarta
Ringkasan: Latar belakang: Nilai rujukan darah rutin yang berasal dari populasi rujukan alat dan reagen berbeda dengan karakteristik populasi lokal, sehingga berpotensi tidak sesuai untuk interpretasi hasil laboratorium di Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menentukan nilai rujukan darah rutin pada dewasa sehat di Kota Yogyakarta. Metode: Penelitian analitik cross sectional dilakukan pada 241 pendonor darah sehat (120 pria, 121 wanita, usia 17-70 tahun) di PMI Kota Yogyakarta. Sampel darah dianalisis menggunakan Hematology Analyzer Sysmex XP-100. Data diuji normalitas dan perbedaan gender, nilai rujukan ditetapkan menggunakan persentil 2,5-97,5%. Hasil: Nilai rujukan untuk pria dan wanita berturut-turut: Hb (12,1-16,6; 11,5-15,3)g/dl, WBC (4,6-12,6; 5,3-13,1)×10³sel/?l, RBC (4,15-6,66; 3,99-5,49)×10?sel/?l, HCT (38-49,2; 35-45,5)%, PLT (184-453; 232-560)×10³sel/?l. Parameter MCV, MCH, MCHC, dan MPV tidak menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan gender. Simpulan: Nilai rujukan lokal menunjukkan perbedaan dengan standar rujukan yang umum digunakan laboratorium. Saran: Verifikasi nilai rujukan perlu dilakukan sebelum implementasi di laboratorium untuk meningkatkan akurasi interpretasi hasil pemeriksaan.Darah rutin merupakan pemeriksaan yang hampir selalu dilakukan di rumah sakit. Perbedaan antara populasi rujukan yang terdapat pada alat dan reagen membuat nilai rujukan tidak selalu bisa digunakan di laboratorim. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran Nilai Rujukan Individu Dewasa Sehat di Kota Yogyakarta. Populasi penelitian menggunakan pendonor darah sehat dengan klasifikasi sesuai dengan uji saring donor darah. Pengambilan sampel dilakukan pada PMI Kota Yogyakarta. Sampel diuji menggunakan Hematology Analyzer dan data diuji menggunakan uji normalitas dan dilakukan pengujian uji beda. Pembuatan nilai rujukan menggunakan presentil 2,5-97,5%. Sampel penelitian pada penelitian ini berjumlah 241 orang terdiri dari 120 laki laki dan 121 wanita dengan rentang umur 17-70 tahun. nilai pria dan Wanita berturut turut adalah Hb (12.1-16.1; 11,5-15,3)g/dl, WBC (4,6-12,6; 5,3-13,3)x103 sel/?l, RBC (4.15-6,6; 3,9-5,49) x106 sel/?l, HCT (38-49,2; 35-45,5)%, MCV (75,9 – 92,39) fl, MCH (24,3 – 31,5)pg, MCHC (31,4-35,3)g/dl, MPV (8,3-11,2)fl dan PLT (184-453; 232-560). Nilai Rujukan pada darah rutin terdapat perbedaan dengan nilai rujukan yang umumnya digunakan di laboratorium sehingga diperlukan verifikasi nilai rujuk