E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
Pengaruh Media Pembelajaran Berbasis Virtual Reality Terhadap Peningkatan Keterampilan Manajemen Aktif Kala III Mahasiswa Kebidanan
Ringkasan: Latar belakang: Persalinan berisiko mengalami postpartum hemorrhage sehingga penyedia layanan obstetrik memerlukan keterampilan manajemen aktif kala III yang tepat. Di STIKes Salewangan Maros, ketidaklulusan keterampilan manajemen aktif kala III mencapai 54,3% mahasiswa. Media pembelajaran virtual reality berpotensi meningkatkan keterampilan klinis dalam pendidikan kebidanan. Tujuan: Menganalisis peningkatan keterampilan manajemen aktif kala III sebelum dan setelah pemberian media pembelajaran berbasis virtual reality. Metode: Penelitian quasi experimental dengan desain one group pre-test post-test pada 46 mahasiswa DIII kebidanan STIKes Salewangan Maros periode Mei-Juni 2020 menggunakan total sampling. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Terdapat perbedaan signifikan keterampilan manajemen aktif kala III sebelum dan setelah pemberian media virtual reality dengan p-value 0,001 (p<0,05). Terjadi peningkatan keterampilan sebesar 22,20% secara keseluruhan, dengan peningkatan tertinggi pada bagian keterampilan manajemen aktif kala III mencapai 27,70%. Semua komponen keterampilan menunjukkan perbedaan signifikan. Simpulan: Pembelajaran melalui media virtual reality efektif meningkatkan keterampilan manajemen aktif kala III persalinan pada mahasiswa kebidanan. Saran: Diperlukan penambahan alat VR dan pelatihan dosen serta pengembangan grup kontrol pada penelitian selanjutnya.Penelitian ini bertujuan menganalisis peningkatan keterampilan manajemen aktif kala III sebelum dan setelah pemberian media pembelajaran berbasis virtual reality. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental (one group pretest dan posttes design). Sampel pada penelitian ini adalah 46 mahasiswa DIII kebidanan dengan menggunakan teknik total sampling di STIKes Salewangan Maros. Data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Uji statistik yang digunakan adalah Wilcoxon Signed Rank Test. Dari hasil uji statistik diperoleh bahwa terdapat perbedaan keterampilan manajemen aktif kala III persalinan pada mahasiswa sebelum dan setelah diberikan media pembelajaran virtual reality (p<0.05) dengan peningkatan sebesar 22.20%. Jika dilihat dari bagian keterampilan, semua bagian menunjukkan perbedaan yang signifikan sebelum dan setelah perlakuan. Peningkatan keterampilan tertinggi berada pada bagian keterampilan manajemen aktif kala III sebesar 27.70%. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran melalui media virtual reality berefek pada peningkatan keterampilan manajemen aktif kala III persalinan
JURNAL INOVASI PEMBERDAYAAN DAN Skrining PTM Hipertensi dan Terapi Pencegahannya (Terapi Komplementer Bekam) Serta Pemeriksaan Kesehatan di Daerah Pesisir Kecamatan Soropia
Hypertension is a non-communicable disease with increasing prevalence and contributes significantly to morbidity and mortality rates. Early screening for hypertension in the coastal areas of Soropia District is very important to detect cases early and prevent complications that may arise. Complementary cupping therapy has been widely used as an effective non-pharmacological method in lowering blood pressure. The purpose of this community service is to increase the understanding of coastal communities in the Badjoe Islands regarding hypertension and the application of complementary cupping therapy in efforts to prevent the disease. The methods used include health surveys, education, and providing cupping therapy as an intervention to prevent hypertension. The results showed that most people have blood pressure above normal limits. The majority of people who participated in the screening and cupping therapy simulation were aged 45-54 years (44.29%), 55-65 years (28.57%) and 66-74 years (27.14%). In terms of gender, female participants were more dominant (60%) than male participants (40%). Most of the community has a body mass index in the normal category (32.86%), and obesity level I (30%) and overweight (21.43%). The community's systolic blood pressure is in the hypertension category (58.57%), and diastolic blood pressure is in the hypertension category (40%). The community's cholesterol value is still in the normal range (57.97%), although some have high to very high levels. The main obstacles in its implementation are limited time and participant knowledge. In conclusion, cupping therapy as a complementary intervention combined with health education and screening is effective in lowering blood pressure and increasing health awareness in the coastal community of Soropia District. The implementation of health checks and screening for non-communicable diseases in this coastal area is expected to support the implementation of cupping therapy as a holistic hypertension prevention and control intervention.Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat dan berkontribusi besar terhadap angka morbiditas dan mortalitas. Skrining penyakit tidak menular (PTM) khususnya hipertensi di daerah pesisir Kecamatan Soropia penting dilakukan untuk deteksi dini dan pencegahan komplikasi. Terapi komplementer bekam telah banyak digunakan sebagai metode non-farmakologis yang efektif dalam menurunkan tekanan darah dengan mekanisme stimulasi vasodilatasi melalui peningkatan zat nitroksida. Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan dan skrining PTM di wilayah pesisir ini diharapkan dapat mendukung pemberian terapi komplementer bekam sebagai intervensi pencegahan dan pengendalian hipertensi secara holistik. Pendekatan ini dapat menjadi alternatif yang aman dan efektif dalam meningkatkan kesehatan masyarakat pesisir yang memiliki keterbatasan akses layanan kesehatan konvensional. Tujuan: Masyarakat dapat menerapkan ilmu dan pengetahuan serta menggunakan Pendekatan terapi komplementer bekam dalam meningkatkan kesehatan pada Masyarakat Pesisir Kepulauan Badjoe, Metode: survei kesehatan, edukasi, dan terapi bekam sebagai upaya pencegahan hipertensi. Hasil: Sebagian besar peserta menunjukkan tekanan darah di atas normal. Setelah intervensi terapi bekam, terdapat penurunan rerata tekanan darah pada kelompok peserta yang mengikuti terapi secara rutin. Hambatan utama adalah keterbatasan waktu dan pengetahuan peserta. Kesimpulan: Terapi bekam sebagai intervensi komplementer, dikombinasikan dengan pendidikan dan skrining kesehatan, terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kesadaran kesehatan di masyarakat pesisir.
Kata Kunci: hipertensi, terapi komplementer, masyarakat pesisir, skrining kesehata
EDUKASI TEKNIK MENGURANGI NYERI PERSALINAN DENGAN BANTAL HANGAT DI DESA BAJOE INDAH KECAMATAN SOROPIA SULAWESI TENGGARA
Background: Childbirth is a complex process that involves significant physical and emotional changes in the pregnant woman. One phase that often causes discomfort is the menstrual phase. This pain and discomfort can be caused by high pressure in the stomach, back and pelvic areas. During this process, mothers need effective and safe pain management strategies. A hot pillow can be used to reduce pain and muscle tension by increasing blood flow to the stressed area. The heat from the pillow can help relax tense muscles and reduce pain. It can be an effective non-pharmacological aid in pain management. Objective: To increase public knowledge about the use of hot pillows during labor for mothers in labor. Method: The activity method uses the lecture, question and answer method and demonstration. Results: Knowledge of pregnant women and the public regarding the use of hot pillows in the semi-Fowler's position during menstruation before education was mostly in the poor category (93%) and after education all were in the good category (96%).
Keywords: Education, Hot Pillow, Intrapartum.Latar Belakang: Persalinan adalah proses kompleks yang melibatkan perubahan fisik dan emosional signifikan pada ibu hamil. Salah satu fase yang sering menimbulkan ketidaknyamanan adalah fase meneran. Nyeri dan ketidaknyamanan ini dapat disebabkan oleh tekanan yang tinggi pada area perut, punggung, dan panggul. Selama proses ini, ibu membutuhkan strategi manajemen nyeri yang efektif dan aman. Bantal panas dapat digunakan untuk mengurangi nyeri dan ketegangan otot dengan cara meningkatkan aliran darah ke area yang tertekan. Panas dari bantal dapat membantu merelaksasi otot-otot yang tegang dan mengurangi rasa nyeri. Ini bisa menjadi alat bantu non-farmakologis yang efektif dalam manajemen nyeri. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penggunaan bantal panas pada saat meneran pada ibu bersalin. Metode: Metode kegiatan menggunakan metode ceramah tanya jawab dan demonstrasi. Hasil: Pengetahuan ibu hamil dan masyarakat tentang penggunaan bantal panas pada posisi semi fowler saat meneran sebelum edukasi sebagian besar pada kategori kurang (93%) dan setelah edukasi seluruhnya pada kategori baik (96%).
Kata Kunci: Edukasi, Bantal Panas, Intrapartum
PEMBERDAYAAN IBU MELALUI PEMANFAATAN MENU SEHAT BERKELANJUTAN PANGAN LOKAL UNTUK PENANGGULANGAN ANAK STUNTING SECARA BERKELANJUTAN
Stunting is a chronic nutritional problem that has long-term impacts on children's health and development. A major contributing factor to the high prevalence of stunting is the low level of maternal knowledge regarding balanced nutrition and the utilization of local food sources. This community service activity aimed to empower mothers through nutrition education and local food-based cooking skills training as a preventive measure against stunting. The activity was conducted on December 25, 2023, in the working area of Bone Rombo Health Center, Kulisusu Subdistrict, North Buton Regency, involving 41 participants, including mothers of toddlers, pregnant women, and healthcare partners. The training was delivered using a participatory approach with the aid of leaflets and visual presentations. The activity outcomes were evaluated through direct pre- and post-test questions and interactive discussions led by the speaker. The results indicated a high level of enthusiasm and active participation, with approximately 80% of participants correctly answering the evaluation questions and being able to recall key tips on improving the quality of food for mothers and children. This community engagement initiative demonstrates that participatory, locally-based educational approaches can enhance maternal nutritional knowledge and skills in selecting and preparing local foods, thus supporting sustainable stunting prevention efforts.Stunting merupakan permasalahan gizi kronis yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas kesehatan dan perkembangan anak. Rendahnya pengetahuan ibu mengenai gizi seimbang dan pemanfaatan pangan lokal menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka stunting. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan ibu melalui edukasi gizi dan pelatihan keterampilan memasak berbasis pangan lokal sebagai upaya pencegahan stunting. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 25 Desember 2023 di wilayah kerja Puskesmas Bone Rombo, Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara, dengan melibatkan 41 peserta yang terdiri atas ibu balita, ibu hamil, serta mitra kesehatan. Metode pelatihan dilakukan secara partisipatif menggunakan media leaflet dan presentasi visual, dilengkapi dengan sesi diskusi dan evaluasi pemahaman. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta sangat antusias dan aktif, serta sekitar 80% mampu menjawab pertanyaan evaluatif dengan benar dan mengulang kembali tips penting tentang peningkatan kualitas makanan bagi ibu dan anak. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif berbasis partisipasi dan potensi lokal dapat meningkatkan pengetahuan gizi ibu dan mendukung upaya penanggulangan stunting secara berkelanjutan
PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN DENGAN MENGKONSUMSI PUDING DAUN KELOR SEBAGAI INTERVENSI PENCEGAHAN STUNTING PADA REMAJA PUTRI
Teenage girls who are anemic are at risk of becoming anemic women of childbearing age, and then becoming anemic mothers who can experience chronic energy deficiency during pregnancy. Moringa leaves (moringa oleifera) contain high levels of iron (Fe). Moringa leaves have the highest iron content, namely 5.49 mg/100 g compared to kale, 3.2 mg/100 g. This research method is a quantitative design using a research design, namely the randomized pretest-posttest control group design. The subjects chosen for this research were Islamic boarding school students aged 16-19 years. The number of samples was 30 people. The data analysis used was univariate and bivariate using the sample t tset test. Based on the results of statistical analysis using the t-test, a p value of 0.000 <0.05 was obtained. This proves that there is an effect of giving Moringa leaf pudding on increasing hemoglobin (Hb) in anemic adolescent girls. So it can be concluded that there is an effect of giving moringa leaf pudding on increasing hemoglobin (Hb) in anemic young women.Stunting merujuk pada kondisi tinggi anak Remaja putri yang anemia berisiko menjadi wanita usia subur anemia, kemudian menjadi ibu anemia yang dapat mengalami kekurangan energi kronik selama kehamilan. Daun kelor (moringa oleifera) mengandung zat besi (Fe) yang tinggi. Daun kelor memiliki kandungan zat besi paling tinggi yaitu 5,49 mg/100 g dibandingkan kangkung 3,2 mg/100 g. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian yaitu randomized pretest-posttest control group design. Subjek yang dipilih dalam penelitian ini adalah santri pondok pesantren yang berusia 16-19 tahun. Jumlah sampel sebanyak 30 orang. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat dengan menggunakan uji sample tset. Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji t diperoleh nilai p sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh pemberian bubur daun kelor terhadap peningkatan hemoglobin (Hb) pada remaja putri anemia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian bubur daun kelor terhadap peningkatan hemoglobin (Hb) pada wanita muda anemia.
 
Risiko Kecelakaan kerja : Perspektif Pegawai terhadap Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Ringkasan: Latar belakang: Angka kecelakaan kerja di Indonesia mencapai 162.327 kasus pada periode Januari-Mei 2024, dengan sektor kelistrikan berisiko tinggi. PT PLN menghadapi berbagai bahaya seperti sengatan listrik, jatuh dari ketinggian, dan tiang roboh yang memerlukan implementasi SMK3 efektif. Tujuan: Menganalisis risiko kecelakaan kerja berdasarkan perspektif pegawai PT PLN terhadap implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Metode: Penelitian cross-sectional dengan 110 responden menggunakan simple random sampling, kuesioner berbasis PP No. 50/2012 dengan 20 item skala Likert, analisis Chi-Square dan Odds Ratio. Hasil: Implementasi SMK3 kategori kurang (59,1%) berhubungan signifikan dengan risiko kecelakaan kerja (OR=6,641; p=0,000). Responden menilai adanya risiko kecelakaan kerja (63,6%), menunjukkan kesadaran tinggi terhadap bahaya. Simpulan: SMK3 yang kurang meningkatkan risiko kecelakaan 6,641 kali, implementasi signifikan mempengaruhi keselamatan kerja. Saran: Pelatihan K3 terstruktur, budaya keselamatan komprehensif, pemantauan berkala, dan penguatan sosialisasi kebijakan untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja.Secara global, data dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) tahun 2020, setiap tahun terdapat lebih dari 2,78 juta kematian terkait pekerjaan di seluruh dunia, dan sekitar 374 juta cedera non-fatal terjadi di tempat kerja. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari BPJS Ketenagakerjaan data angka kecelakaan kerja masih terbilang tinggi, pada periode Januari s.d. Mei 2024 tercatat jumlah kasus kecelakaan kerja di Indonesia sebanyak 162.327 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko kecelakaan kerja berdasarkan perspektif pegawai PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Pelanggan Kota Kendari terhadap implementasi system manajemen keselamatan dan Kesehatan kerja. Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional study. Populasi yang diteliti sebesar 165 orang, dengan besar sampel penelitian sebanyak 110 responden. Penarikan sampel dilakukan dengan teknik simpel random sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi square test dan odds ratio. Hasil uji statistik menunjukkan system manajemen K3 merupakan factor risiko terjadinya kecelakaan kerja OR= 6,641 dan p value = 0,000 (? ? 0.05). Kesimpulan bahwa system manajemen K3 yang kurang akan berisiko 6,641 kali mengalami kecelakaan kerja, dan penerapan system K3 signifikan terhadap kecelakaan kerja
Pengaruh Lembar Balik Pencegahan Stunting terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu Bayi 0-6 Bulan: Penelitian Kuasi Eksperimen
Ringkasan: Latar belakang: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak di bawah usia lima tahun akibat kekurangan gizi kronis yang berdampak pada tinggi badan pendek. Penyebab stunting bersifat multifaktorial, termasuk pengetahuan dan sikap ibu sebagai pengasuh utama. Tujuan: Mengetahui pengaruh lembar balik pencegahan stunting terhadap pengetahuan dan sikap ibu bayi usia 0-6 bulan. Metode: Penelitian quasi eksperimen dengan desain pre-post kontrol grup melibatkan 60 ibu bayi usia 0-6 bulan dari wilayah Puskesmas Pandak, dipilih melalui cluster sampling. Kelompok intervensi (30 ibu) diberikan pendidikan kesehatan menggunakan lembar balik pencegahan stunting, sedangkan kelompok kontrol (30 ibu) menerima leaflet. Pendidikan dilakukan dua kali dengan interval dua minggu. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Lembar balik secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu (p=0,000). Terdapat perbedaan signifikan peningkatan pengetahuan (p=0,002) dan sikap (p=0,034) antara kelompok intervensi dan kontrol. Simpulan: Penggunaan lembar balik efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu terkait pencegahan stunting. Saran: Lembar balik dapat digunakan sebagai media dalam upaya pencegahan stunting di komunitas dan dikembangkan inovasi berbasis digital. Ringkasan: Anak-anak dengan kualitas kesehatan yang optimal diperlukan untuk membangun masa depan bangsa yang kuat. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak dibawah usia lima tahun yang diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis yang berdampak pada pendeknya tinggi bandan anak dibandingkan usia. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan konsekuensi kurang baik pada pertumbuhan fisik tetapi juga membuat anak mudah terserang penyakit. Selain itu stunting juga menjadi ancaman besar terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia karena juga berdampak pada perkembangan otak dan kecerdasan. Stunting terjadi karena pengaruh dari multifaktor, termasuk dari pengetahuan dan sikap ibu sebagai pengasuh utama bagi anak mereka. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan menggunakan desain pre-post control group design. Sampel terdiri dari 30 responden kelompok intervensi dan 30 responden kelompok control dengan menggunakan Teknik cluster sampling dari dua desa di Wilayah Puskesmas Pandak. Kelompok intervensi diberikan Pendidikan kesehatan menggunakan lembar balik pencegahan stunting dan kelompok kontrol diberikan Pendidikan kesehatan menggunakan leaflet. Perlakuan dilakukan dua kali dengan jarak 2 minggu kemudian dilakukan evaluasi diakhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan lembar balik meningkatkan pengetahuan dan sikap responden diakhir penelitian (p=0.001). Jika dibandingkan dengan kelompok control, kelompok intervensi memiliki pengetahuan serta sikap yang lebih baik. Lembar balik pencegahan stunting meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu bayi usia 0-6 bula
Analisis Pengembangan Instrumen Skrining Resiko Penularan TB Pada Anak Di Wilayah Pesisir: Analysis of the Development of Screening Instruments for the Risk of TB Transmission in Children in Coastal Areas
Ringkasan: Latar belakang: Skrining TB anak menggunakan sistem skoring yang direkomendasikan sejak 2005, namun tidak semua fasilitas kesehatan memiliki fasilitas uji tuberkulosis dan foto thoraks yang merupakan parameter skoring TB anak, menyebabkan underdiagnosis TB anak. Diperlukan inovasi instrumen skrining penularan TB pada anak. Tujuan: Menganalisis pengembangan instrumen skrining risiko penularan TB paru pada anak di wilayah pesisir. Metode: Penelitian Research and Development (R&D) yang diuji kelayakan oleh pakar bahasa, pakar keperawatan anak, dan 25 perawat pengguna instrumen di PKM Motui yang dipilih menggunakan total sampling. Hasil: Uji kelayakan instrumen menunjukkan validasi pakar bahasa 93%, pakar spesialis keperawatan anak 85%, dan pengguna 95%. Semua aspek penilaian menunjukkan kategori layak dengan predikat baik hingga sangat baik untuk implementasi skrining TB anak. Simpulan: Instrumen skrining risiko penularan TB pada anak telah valid dan layak digunakan untuk mendeteksi TB pada anak dengan anggota keluarga terdiagnosis TB paru berdasarkan validasi multistakeholder. Saran: Instrumen dapat diimplementasikan sebagai skrining awal TB anak namun memerlukan pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan untuk konfirmasi diagnosis definitif.Skrining TB anak dapat dilakukan dengan sistem skoring yang sudah disosialisasikan dan direkomendasikan sejak tahun 2005. Namun, tidak semua fasilitas pelayanan kesehatan mempunyai fasilitas uji tubekulosis dan pemeriksaan foto thoraks yang merupakan parameter sistem skoring TB anak sehingga banyak dijumpai underdiagnosis TB anak. Oleh karena perlu inovasi instrument skrining penularan TB pada anakTujuan penelitian: untuk menganalisis pengembangan instrument skrining resiko penularan TB paru pada anak Metode Penelitian adalah Research and Development (R&D) yang diuji kelayakan oleh pakar bahasa, pakar materi dan pengguna instrument yaitu 25 orang perawat yang bekerja di PKM Motui yang dipilih dengan menggunakan teknik total sampling Hasil Penelitian:Dari uji kelayakan instrument diperoleh hasil yaitu: validasi kelayakan oleh pakar bahasa menunjukkan nilai 93%, pakar spesialis keperawatan anak dengan nilai 85% dan pengguna dengan nilai 95%. Kesimpulan: hal ini menunjukkan bahwa instrument ini layak diuji cobakan pada anak dengan orangtua atau anggota keluarga yang terdiagnosa TB Paru
Gambaran Karakteristik Pasien Limfadenitis Tuberkulosis di RS Tk.II Dustira Cimahi: Characteristics of Tuberculous Lymphadenitis Patients at Dustira Hospital Cimahi
Ringkasnya: Latar Belakang: Limfadenitis tuberkulosis (LNTB) adalah bentuk tuberkulosis ekstraparu yang sering ditemukan di Indonesia dengan variasi klinis dan sitopatologi yang menyulitkan diagnosis. Tujuan: Menganalisis karakteristik klinis, sitopatologis, dan faktor risiko pada pasien LNTB di RS Tk. II Dustira Cimahi. Metode: Penelitian deskriptif retrospektif menggunakan data medis dan Fine Needle Aspiration Biopsi (FNAB) dari 45 pasien pembesaran kelenjar getah bening periode Januari–April 2024. Sepuluh pasien memenuhi kriteria diagnosis LNTB. Hasil: mayoritas pasien perempuan (70%), usia 25–34 tahun (40%), lokasi regio colli dextra (40%). Gambaran sitopatologi menunjukkan granuloma epiteloid dan limfosit (90%), nekrosis kaseosa (80%), dan sel raksasa Langhans (30%). Tidak ada komorbiditas HIV atau diabetes, namun kepadatan hunian dan kelelahan kronis diduga berperan sebagai faktor risiko. Simpulan: FNAB merupakan modalitas diagnosis utama dan skrining faktor risiko non-tradisional penting dalam tata laksana LNTB. Saran: Penelitian prospektif dengan sampel lebih besar diperlukan untuk mengonfirmasi faktor risiko lingkungan dan sosialLimfadenitis tuberkulosis merupakan bentuk TB ekstraparu yang sering ditemukan, terutama pada usia produktif. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik pasien limfadenitis tuberkulosis (LNTB) di RS Tk.II Dustira Cimahi pada periode Januari-April 2025. Penelitian menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan pengumpulan data sekunder dari rekam medis pasien. Hasil menunjukkan mayoritas pasien adalah perempuan berusia 20 - 40 tahun dengan hasil dominan pada sediaan FNAB menunjukkan sel radang limfosit, granuloma epiteloid dan nekrosis kaseosa. Tidak ditemukan komorbid HIV dan DM pada pasien. Hasil ini menegaskan pentingnya pemeriksaan sitopatologi serta identifikasi faktor risiko komorbid dalam manajemen klinis LNTB
PEMBERDAYAAN KADER REMAJA DALAM UPAYA PENINGKATAN PERILAKU GIZI SEIMBANG BAGI REMAJA: Pemberdayaan Kader Remaja di SMAN 01 Motui Kab. Konawe Utara
Nutritional problems in adolescents include stunting, wasting, chronic energy deficiency, micronutrient deficiencies, anaemia and eating disorders. These problems can have an impact on reducing adolescent productivity and the risk of non-communicable diseases. This community service activity aims to empower adolescent posyandu cadres in improving balanced nutrition behaviour for adolescents with nutrition counselling methods for adolescent posyandu cadres. The results showed that the knowledge of adolescents before counselling was mostly in the poor category, namely 72.4% (n = 21), after counselling knowledge increased, more adolescents had knowledge in the good category, namely 48.3% (n = 14). There is an effect of empowering adolescent cadres with counselling methods to increase the knowledge of adolescent cadres about balanced nutrition.Permasalahan gizi pada remaja adalah Stunting , Wasting, Kurang Energi Kronik (KEK), kekurangan zat gizi mikro, anemia dan gangguan makan. Masalah tersebut dapat berdampak menurunnya produktivitas remaja serta risiko Penyakit Tidak Menular. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan kader posyandu remaja dalam peningkatan perilaku gizi seimbang bagi remaja dengan metode konseling gizi. Hasil kegiatan menunjukkan pengetahuan remaja sebelum konseling sebagian besar berada dalam kategori kurang yaitu sebesar 72.4% (n=21), setelah dilakukan konseling pengetahuan meningkat, lebih banyak remaja memiliki pengetahuan dalam kategori baik yaitu sebesar 48.3% (n=14). Terdapat pengaruh pemberdayaan kader remaja dengan metode konseling dapat meningkatkan pengetahuan kader remaja tentang gizi seimbang.
Kata Kunci: Gizi seimbang, Pemberdayaan, Kader Remaj