Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
    657 research outputs found

    Profil Bakteri Proteus sp., Klebsiella sp., Dan Streptococcus sp., Yang Diisolasi Dari Penderita Ulkus Diabetikum

    Full text link
    Latar Belakang: Ulkus diabetikum merupakan komplikasi kronik diabetes melitus yang rentan terhadap infeksi polimikroba. Tujuan: Mengidentifikasi profil bakteri Proteus sp., Klebsiella sp., dan Streptococcus sp. dari penderita ulkus diabetikum. Metode: Desain deskriptif observasional, potong lintang, pada 20 sampel swab ulkus diabetikum di RSUD Bahteramas, Sulawesi Tenggara. Identifikasi bakteri melalui kultur Brain Heart Infusion Broth (BHIB), MacConkey Agar (MCA), Blood Agar Plate (BAP), uji biokimia (IMViC, TSIA, katalase) dan pewarnaan Gram. Hasil: Seluruh sampel (100%) menunjukkan pertumbuhan bakteri pada BHIB. Tiga genus yang berhasil diidentifikasi: Proteus sp. (30%, n=6), Klebsiella sp. (30%, n=6), dan Streptococcus sp. (40%, n=8). Bakteri Gram-negatif mendominasi 60% (13/20 isolat). Kesimpulan: Infeksi ulkus diabetikum bersifat polimikroba dengan dominasi Gram-negatif. Identifikasi bakteri akurat esensial untuk terapi antimikroba rasional dan pencegahan komplikasi Saran: Disarankan setiap laboratorium klinik melakukan kultur dan uji resistensi antibiotik secara rutinRingkasan: Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi kronik diabetes melitus yang rentan terhadap infeksi oleh bakteri patogen. Tujuan: Mengidentifikasi profil bakteri Proteus sp., Klebsiella sp., dan Streptococcus sp. yang diisolasi dari penderita ulkus diabetikum. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang pada 20 sampel swab ulkus diabetikum di RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara. Identifikasi bakteri dilakukan melalui kultur pada media Brain Heart Infusion Broth (BHIB), MacConkey Agar (MCA), dan Blood Agar Plate (BAP), dilanjutkan dengan uji biokimia (IMViC, TSIA, katalase) serta pewarnaan Gram. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel (100%) positif mengandung pertumbuhan bakteri pada media BHIB. Tiga genus utama yang berhasil diidentifikasi adalah Proteus sp. (35%), Klebsiella sp. (30%), dan Streptococcus sp. (35%). Kesimpulan: Infeksi ulkus diabetikum bersifat polimikroba dan didominasi oleh bakteri Gram negatif. Identifikasi bakteri secara akurat penting untuk mendukung terapi antimikroba yang rasional dan mencegah komplikasi lanjutan

    Efektivitas Intervensi Booklet Edukasi Kesehatan dalam Meningkatkan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Jantung

    No full text
    Latar Belakang: Gagal jantung berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien, namun bukti ilmiah efektivitas booklet terhadap skor Minnesota Living with Heart Failure Questionnaire (MLHFQ) masih terbatas. Tujuan: Menganalisis efektivitas edukasi kesehatan berbasis booklet terhadap kualitas hidup pasien gagal jantung berdasarkan total skor dan domain fisik-emosional MLHFQ. Metode: Kuasi-eksperimental one-group pretest-posttest pada 148 pasien gagal jantung rawat jalan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta, Maret–Juli 2025. Sampel dipilih purposive sampling menggunakan rumus Slovin. Intervensi berupa edukasi tatap muka 30–45 menit menggunakan booklet berbasis pedoman American Heart Association. Kualitas hidup diukur menggunakan MLHFQ versi Indonesia (?=0,753) pada pre-test dan post-test satu bulan pasca-intervensi. Analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test (?=0,05). Hasil: Terdapat penurunan signifikan median skor total MLHFQ dari 38,00 menjadi 23,50 (selisih 13 poin; Z=?10,540; p<0,001; r=0,87), domain fisik turun 7 poin (Z=?10,435; p<0,001; r=0,86), dan domain emosional turun 3 poin (Z=?9,260; p<0,001; r=0,76), melampaui minimal clinically important difference ?5 poin. Simpulan: Edukasi kesehatan berbasis booklet efektif meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung secara statistik dan klinis pada domain fisik maupun emosional. Saran: menggunakan desain randomized controlled trial pada penelitian selanjutnyaGagal jantung merupakan gangguan fungsi jantung yang secara perlahan mengakibatkan penurunan kualitas hidup dan meningkatkan risiko kematian. Kondisi ini memerlukan intervensi nonfarmakologis yang efektif untuk membantu pasien memahami penyakit dan melakukan manajemen diri yang lebih baik. Tujuan penelitian adalah mengetahui efektivitas edukasi kesehatan menggunakan booklet terhadap peningkatan kualitas hidup pasien dengan gagal jantung. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan jumlah responden sebanyak 148 pasien gagal jantung di salah satu rumah sakit daerah di Surakarta. Kualitas hidup ini akan diukur menggunakan instrumen Minnesota Living with Heart Failure Questionnaire (MLHFQ). Analisis data menggunakan uji paired t-test. Hasil penelitian menujukkan terjadinya peningkatan kualitas hidup setelah pemberian edukasi kesehatan. Skor total MLHFQ menurun dari rata-rata 40,75 menjadi 27,21 dengan selisih 13,54 poin (p < 0,001). Penurunan skor terjadi pada domain fisik, emosional, serta sosial-mental, yang mengindikasikan terjadi peningkatan kondisi pasien secara menyeluruh. Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan menggunakan media booklet terbukti efektif untuk meningkatkan kualitas hidup kepada pasien gagal jantung melalui peningkatan aspek pengetahuan, kepatuhan, dan kemampuan adaptasi terhadap kondisi penyakit. Hasil ini diharapkan menjadi dasar pengembangan program edukasi selanjutnya bagi tenaga keperawatan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan kesejahteraan pasien

    Early Marriage and Exclusive Breastfeeding History with The Incidence of Stunting in Toddlers at Karangreja, Purbalingga

    No full text
    Latar belakang: Kabupaten Purbalingga menempati peringkat keempat prevalensi stunting tertinggi di Jawa Tengah dengan rendahnya cakupan ASI eksklusif dan tingginya praktik pernikahan dini di Kecamatan Karangreja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pernikahan dini dan riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita. Metode: Desain penelitian menggunakan pendekatan case-control melibatkan 54 balita berusia 12-24 bulan yang dipilih secara consecutive sampling dengan perbandingan kasus dan kontrol 1:1. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan dianalisis secara univariat, bivariat, serta multivariat. Hasil: Pernikahan dini (p=0,008; OR=5,839) dan riwayat ASI eksklusif (p=0,045; OR=3,856) berhubungan signifikan dengan kejadian stunting setelah dikontrol variabel perancu. Pernikahan dini merupakan faktor paling dominan yang berhubungan dengan stunting. Simpulan: Pernikahan dini dan riwayat ASI eksklusif berhubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita di Kecamatan Karangreja. Saran: Penguatan program Bina Keluarga Remaja (BKR) dan edukasi pemberian ASI eksklusif sebagai upaya pencegahan stunting berbasis komunitas.Kabupaten Purbalingga menjadi peringkat keempat stunting tertinggi di Jawa Tengah dengan cakupan ASI eksklusif di bawah target nasional dan masih melekatnya tradisi pernikahan dini pada beberapa desa di Kecamatan Karangreja. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pernikahan dini dan riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di Kecamatan Karangreja Purbalingga. Desain penelitian kuantitatif case-control sebanyak 54 balita usia 12-24 bulan dengan consecutive sampling dan rasio case-control 1:1. Variabel bebas pernikahan dini dan riwayat ASI eksklusif, sedangkan variabel terikatnya stunting pada balita. Variabel perancu usia ibu saat hamil subjek, tingkat pendidikan, status pekerjaan, panjang dan berat badan lahir anak, praktik pemberian MPASI (PMBA), serta riwayat penyakit infeksi anak. Pengambilan data melalui wawancara kuesioner kemudian dianalisis secara univariat, bivariat, serta multivariat. Sebanyak 33 responden (61,1%) menikah dini saat usia ? 19 tahun dan 34 subjek (63%) memiliki riwayat ASI eksklusif. Terdapat hubungan antara pernikahan dini (p=0,008 OR 5,839) dan riwayat pemberian ASI eksklusif (p=0,045 OR 3,856) dengan kejadian stunting pada balita setelah dikontrol variabel perancu. Terdapat hubungan antara pernikahan dini dan riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita setelah dikontrol variabel perancu. Pernikahan dini menjadi faktor yang paling berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Karangreja Purbalingga

    Fatigue In Breast Cancer Patients: Correlation With Hemoglobin

    No full text
    Latar belakang: Prevalensi kanker payudara terus meningkat dengan kelelahan sebagai gejala debilitating yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk penurunan kadar hemoglobin akibat kemoterapi. Tujuan: Menganalisis hubungan antara kadar hemoglobin dengan tingkat kelelahan pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain korelasional menggunakan total sampling terhadap 34 pasien kanker payudara di RSUD Bahteramas Kendari pada Agustus-September 2024. Kadar hemoglobin diukur menggunakan Easy Touch GCHb terkalibrasi, sedangkan kelelahan dinilai dengan Brief Fatigue Inventory versi Indonesia. Data dianalisis menggunakan uji Pearson correlation (?=0,05). Hasil: Ditemukan korelasi negatif kuat antara kadar hemoglobin dengan tingkat kelelahan (r=-0,675; p<0,001), menunjukkan semakin rendah hemoglobin, semakin berat kelelahan yang dialami. Simpulan: Kadar hemoglobin berkorelasi signifikan dengan tingkat kelelahan pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Saran: Monitoring hemoglobin rutin sebagai bagian manajemen kelelahan pasien kanker payudara perlu dipertimbangkan dalam praktik ilmu keperawatan onkologiPrevalensi kanker payudara semakin meningkat setiap tahun. Kelelahan yang terjadi pada pasien kanker payudara dipengaruhi oleh berbagai hal. Salah satunya adalah penurunan kadar hemoglobin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hemoglobin dengan kelelahan pada pasien kanker payudara. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling dan diperoleh sebanyak 34 responden pasien kanker payudara yang menjalani perawatan termasuk kemoterapi di RSUD Bahteramas Kendari. Hemoglobin di ukur menggunakan alat easy touch GCHb, yang telah dikalibrasi dengan menggunakan chip kuning kalibrasi sebelum digunakan.  Instrumen Brief Fatigue Inventory versi Indonesia digunakan untuk mengukur kelelahan.  Metode analisis data yang digunakan adalah uji pearson corellation dengan p-value<0,05. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan berpola negatif antara kadar hemoglobin dengan kelelahan pada pasien kanker payudara di RSUD Bahteramas Kota Kendari (r=-0,670; p-value = 0,000) maka dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar hemoglobin berkontribusi terhadap terjadinya kelelahan pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi

    Kepuasan Pengguna Terhadap Penggunaan Rekam Medis Elektronik Di Rumah Sakit Swasta: Studi Cross Sectional: Kepuasan Pengguna Terhadap Penggunaan Rekam Medis Elektronik Di Rumah Sakit Swasta: Studi Cross Sectional

    No full text
    Ringkasan: Latar Belakang: Digitalisasi rekam medis elektronik (RME) menjadi kebutuhan di rumah sakit, meningkatkan mutu layanan namun implementasinya belum sepenuhnya optimal dan berdampak pada variabilitas kepuasan pengguna. Tujuan: Menganalisis hubungan antara penggunaan RME terhadap kepuasan pengguna sebagai dasar kebijakan pengembangan sistem di rumah sakit swasta. Metode: Studi analitik cross-sectional terhadap 132 responden (dokter, perawat, radiologi, laboratorium, kasir) dari lima RS dengan kuesioner HOT Fit, analisis univariat dan bivariat (uji Chi Square, r). Hasil: Penggunaan RME kategori baik (50,76%) berkorelasi kuat dengan tingkat kepuasan (r=0,609; p<0,05); variabel human, organisasi, teknologi, dan manfaat memiliki hubungan signifikan dengan penggunaan RME. Simpulan: Penggunaan RME berdampak pada peningkatan kepuasan dan efektivitas kerja, khususnya pada pengguna yang aktif dan telah mendapat pelatihan terstandar. Saran: Rumah sakit perlu mempertahankan, mengembangkan fitur sesuai kebutuhan pengguna, dan melakukan pelatihan berkala agar optimalisasi kepuasan tercapai.  Kepuasan pengguna RME merupakan salah satu tolok ukur tingkat keberhasilan penggunaan sebuah sistem informasi di rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa terkait kepuasaan pengguna terhadap penggunaan RME yang diharapkan dapat berguna sebagai dasar manajemen rumah sakit dalam mengambil kebijakan untuk mengembangkan sistem RME di rumah sakit. Penelitian ini adalah penelitian analitik cross-sectional dengan populasi penelitian 132 responden di beberapa rumah sakit dengan tipe rumah sakit yang sama. Dari 132 responden, sebanyak 67 (50,76%) responden pada variabel penggunaan RME dengan kategori baik menunjukkan sebanyak 49 (37,12%) responden menunjukkan memiliki kepuasaan pengguna yang baik dan sebanyak 18 (13,64%) responden memiliki kepuasan pengguna yang kurang. Penggunaan RME dengan kategori tidak baik adalah sebesar 65 (49,24%) responden yang kepuasaan pengguna baik sebanyak 25 (18,94%) responden dan 40 (30,30%) responden memiliki kepuasan yang kurang. Hasil uji Chi Square terdapat korelasi yang signifikan (p-value 0,000 < ? 0,05) dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,609. Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara penggunaan RME dengan kepuasan pengguna dengan korelasi hubungan yang kuat

    Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Karyawan PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Padang Matinggi

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Bagian tata usaha memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran administrasi dan operasional perusahaan. Kinerja karyawan perlu ditingkatkan melalui penciptaan lingkungan kerja yang nyaman dan mendukung. Tujuan: Mengetahui pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan bagian tata usaha di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Padang Matinggi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional melibatkan 47 karyawan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner Google Form. Analisis menggunakan statistik deskriptif dan regresi linier sederhana. Hasil: Terdapat pengaruh signifikan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan (t=23,352; p=0,001). Koefisien determinasi menunjukkan 85,3% kinerja karyawan dipengaruhi oleh lingkungan kerja. Koefisien korelasi sebesar 0,961 menunjukkan hubungan sangat kuat dan positif antara lingkungan kerja dan kinerja karyawan. Simpulan: Lingkungan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan bagian tata usaha. Peningkatan kualitas lingkungan kerja fisik dan non-fisik terbukti menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kinerja karyawan. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali dinamika perubahan lingkungan kerja dan dampaknya terhadap kinerja karyawan secara berkelanjutan.Bagian tata usaha memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran administrasi dan operasional suatu perusahaan. Untuk menjalankan fungsi ini secara maksimal, kinerja karyawan perlu ditingkatkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan mendukung. Lingkungan kerja yang kondusif meliputi tidak hanya aspek fisik seperti fasilitas dan tata ruang, tetapi juga aspek non-fisik seperti hubungan antar rekan kerja, rasa aman, serta penghargaan atas kinerja. Kondisi ini mendorong semangat kerja dan produktivitas karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan bagian tata usaha di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Padang Matinggi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional, yang memungkinkan analisis hubungan antar variabel pada satu waktu. Populasi terdiri dari 47 karyawan dan seluruhnya dijadikan sampel menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dan angket daring menggunakan Google Form. Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif dan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan seperti yang ditunjukkan oleh nilai t hitung 23,352, yang lebih besar dari nilai t tabel 2,014, dan nilai p 0,001, yang lebih rendah dari 0,05, bahwa lingkungan kerja memiliki dampak positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.  Artinya, lingkungan kerja yang lebih baik berkorelasi positif dengan kinerja karyawan

    The Prototype of Barber Johnson Graph Application at the Statistics Laboratory of Health Polytechnic of Tasikmalaya

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Efisiensi pengelolaan tempat tidur di rumah sakit sangat penting untuk mutu layanan, namun pelaporan Grafik Barber Johnson masih banyak dilakukan manual, menyebabkan risiko human error dan terbatasnya akurasi. Tujuan: Mengembangkan prototipe aplikasi Barber Johnson untuk pembelajaran dan pengelolaan efisiensi tempat tidur secara optimal. Metode: Penelitian pengembangan (R&D) dengan model waterfall, melalui analisis kebutuhan, desain, implementasi, integrasi, dan pengujian (black box testing). Hasil: Prototipe berbasis web mampu menghitung dan menampilkan nilai TOI, BOR, BTO, AvLOS, serta grafik Barber Johnson untuk periode fleksibel, meminimalisir kesalahan manual, dan memungkinkan ekspor grafik dalam format JPG. Simpulan: Aplikasi dapat meningkatkan efisiensi dan akurasi pelaporan efisiensi tempat tidur bagi mahasiswa dan fasilitas kesehatan. Saran: Kolaborasi dengan rumah sakit untuk aplikasi berbasis data real-time, serta pengujian tahap maintenance dan interaksi multiuser agar sistem lebih komprehensif.Grafik Barber Johnson adalah media yang digunakan untuk menggambarkan tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur di rumah sakit. Pembelajaran pembuatan Grafik Barber Johnson di Program Studi D III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan di Cirebon Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, dilakukan secara manual serta menggunakan master sheet Microsoft Excel., meskipun fitur yang digunakan terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan prototipe aplikasi Grafik Barber Johnson di Laboratorium Statistik pada Program Studi D III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Cirebon, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya. Penitilian menggunakan metode yang research and development dengan model waterfall sebagai model pengembangan sistemnya. Penelitian ini menghasilkan prototipe aplikasi Grafik Barber Johnson yang berfungsi untuk menghitung efisiensi pemakaian tempat tidur dengan Grafik Barber Johnson. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa untuk menghasilkan Grafik Barber Johnson dibutuhkan data rekapitulasi register. Sistem yang dirancang mampu menghasilkan nilai TOI, AvLOV, BOR, BTO, serta Grafik Barber Johnson dalam periode yang fleksibel, memungkinkan pihak kampus untuk membuat studi kasus dengan variasi periode yang beragam

    Environmental and Behavioral Determinants of Skin Diseases In Wetland Areas: A Study In Gandus, Palembang

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Tingginya prevalensi penyakit kulit di daerah lahan basah, seperti Kecamatan Gandus, Palembang, didorong oleh kondisi lingkungan dan perilaku kebersihan masyarakat yang kurang optimal. Tujuan: Menilai hubungan faktor lingkungan (struktur rumah, pengelolaan sampah, dan praktik cuci tangan) serta perilaku higiene terhadap kejadian penyakit kulit. Metode: Penelitian cross-sectional dengan 100 responden menggunakan purposive sampling; data dikumpulkan melalui kuesioner, dianalisis dengan uji Chi-Square dan regresi logistik. Hasil: Variabel cuci tangan (PR=3,468; p=0,007), plafon rumah (PR=0,361; p=0,026), dan pengelolaan sampah (PR=0,268; p=0,044) berhubungan signifikan dengan kejadian penyakit kulit. Simpulan: Pencegahan efektif membutuhkan edukasi perilaku cuci tangan, pengelolaan sampah aman, dan perbaikan infrastruktur rumah berupa plafon. Saran: Penguatan edukasi masyarakat, program sanitasi terpadu, serta intervensi infrastruktur lingkungan berbasis karakteristik lokal dapat menekan prevalensi penyakit kulit.Penyakit kulit merupakan masalah kesehatan yang signifikan di daerah tropis, termasuk Kecamatan Gandus, Kota Palembang. Faktor lingkungan seperti kondisi rumah, sanitasi, dan perilaku kebersihan masyarakat berperan penting dalam prevalensi penyakit kulit. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara faktor lingkungan dan perilaku kebersihan dengan kejadian penyakit kulit. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan 100 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, lalu dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa perilaku mengelola sampah tidak aman (p=0,016), kebiasaan tidak mencuci tangan pakai sabun (p=0,020), dan keberadaan plafon rumah (p=0,017) memiliki hubungan signifikan dengan kejadian penyakit kulit. Variabel perilaku mencuci tangan memiliki pengaruh paling signifikan (OR=3,468), diikuti oleh keberadaan plafon rumah (OR=0,361) dan pengelolaan sampah (OR=0,268). Temuan ini menegaskan pentingnya kebersihan lingkungan dan perilaku higienis dalam mencegah penyakit kulit. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan edukasi masyarakat tentang kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah yang aman, serta pembangunan infrastruktur rumah yang memadai seperti plafon untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat

    The Hubungan Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Dengan LOS (Length Of Stay) Pada Pasien Pneumonia Dewasa Di RSUD Kota Kendari: Tinjauan Rasionalitas Terapi Antibiotika dan Dampaknya Terhadap Lama Rawat Inap

    No full text
    Ringkasnya: Latar Belakang: Pneumonia merupakan infeksi saluran pernafasan akut yang menyerang jaringan paru-paru dan dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional memicu resistensi antibiotik dan memperpanjang lama rawat inap. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menyalakan penggunaan antibiotik secara kuantitatif dan kualitatif serta menilai kelayakan dengan lama rawat inap pasien pneumonia dewasa di RSUD Kota Kendari. Metode: Studi observasional retrospektif menggunakan 44 sampel pasien pneumonia yang memenuhi kriteria inklusi tahun 2023. Metode ATC/DDD digunakan untuk evaluasi kuantitatif dan metode Gyssens untuk evaluasi kualitatif, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: penelitian menunjukkan nilai DDD/100 hari rawat sebesar 100,07 dengan Azitromisin sebagai antibiotik terbanyak. Evaluasi kualitatif menampilkan 84,09% penggunaan antibiotik rasional (kategori 0), 4,54% penggunaan terlalu lama (kategori IIIa), dan 11,36% rekam medis tidak lengkap (kategori VI). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas penggunaan antibiotik dengan lama rawat inap (p=0,023). Saran: Evaluasi penggunaan antibiotik secara berkala perlu dilakukan sebagai upaya pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakitPneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang menyerang jaringan paru-paru dan disebabkan oleh berbagai mikroorganisme. Pengobatan utama pneumonia umumnya menggunakan antibiotik untuk menghilangkan bakteri penyebab infeksi. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kuantitatif dan kualitatif serta mengetahui hubungannya dengan  length of stay (LOS) pada pasien pneumonia di RSUD Kota Kendari. Penelitian ini bersifat observasional dengan pengambilan data secara retrospektif berdasarkan 44 sampel yang telah memenuhi kriteria inklusi. Evaluasi kuantitas penggunaan antibiotik dengan metode  Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD) menghasilkan nilai DDD/100 hari rawat sebesar 100,07dengan Azithromycin sebagai antibiotik yang paling banyak digunakan. Evaluasi kualitatif dengan metode gyssens menunjukkan bahwa 84,09% resep tepat dan rasional (kategori 0), kemudian 4,54% diklasifikasikan sebagai penggunaan terlalu lama (IIIa) dan 11,36% memiliki data rekam medis tidak lengkap (kategori VI). Analisis statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara rasionalitas penggunaan antibiotik dengan LOS (p = 0,023). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah penggunaan antibiotik di RSUD Kota Kendari tahun 2023 sudah rasional serta terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas penggunaan antibiotik dengan LOS pasien pneumonia

    Nilai Rujukan Darah Rutin Dewasa Sehat di Kota Yogyakarta

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Nilai rujukan darah rutin yang berasal dari populasi rujukan alat dan reagen berbeda dengan karakteristik populasi lokal, sehingga berpotensi tidak sesuai untuk interpretasi hasil laboratorium di Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menentukan nilai rujukan darah rutin pada dewasa sehat di Kota Yogyakarta. Metode: Penelitian analitik cross sectional dilakukan pada 241 pendonor darah sehat (120 pria, 121 wanita, usia 17-70 tahun) di PMI Kota Yogyakarta. Sampel darah dianalisis menggunakan Hematology Analyzer Sysmex XP-100. Data diuji normalitas dan perbedaan gender, nilai rujukan ditetapkan menggunakan persentil 2,5-97,5%. Hasil: Nilai rujukan untuk pria dan wanita berturut-turut: Hb (12,1-16,6; 11,5-15,3)g/dl, WBC (4,6-12,6; 5,3-13,1)×10³sel/?l, RBC (4,15-6,66; 3,99-5,49)×10?sel/?l, HCT (38-49,2; 35-45,5)%, PLT (184-453; 232-560)×10³sel/?l. Parameter MCV, MCH, MCHC, dan MPV tidak menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan gender. Simpulan: Nilai rujukan lokal menunjukkan perbedaan dengan standar rujukan yang umum digunakan laboratorium. Saran: Verifikasi nilai rujukan perlu dilakukan sebelum implementasi di laboratorium untuk meningkatkan akurasi interpretasi hasil pemeriksaan.Darah rutin merupakan pemeriksaan yang hampir selalu dilakukan di rumah sakit. Perbedaan antara populasi rujukan yang terdapat pada alat dan reagen membuat nilai rujukan tidak selalu bisa digunakan di laboratorim. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran Nilai Rujukan Individu Dewasa Sehat di Kota Yogyakarta. Populasi penelitian menggunakan pendonor darah sehat dengan klasifikasi sesuai dengan uji saring donor darah. Pengambilan sampel dilakukan pada PMI Kota Yogyakarta. Sampel diuji menggunakan Hematology Analyzer dan data diuji menggunakan uji normalitas dan dilakukan pengujian uji beda. Pembuatan nilai rujukan menggunakan presentil 2,5-97,5%. Sampel penelitian pada penelitian ini berjumlah 241 orang terdiri dari 120 laki laki dan 121 wanita dengan rentang umur 17-70 tahun. nilai pria dan Wanita berturut turut adalah Hb (12.1-16.1; 11,5-15,3)g/dl, WBC (4,6-12,6; 5,3-13,3)x103 sel/?l, RBC (4.15-6,6; 3,9-5,49) x106 sel/?l, HCT (38-49,2; 35-45,5)%, MCV (75,9 – 92,39) fl, MCH (24,3 – 31,5)pg, MCHC (31,4-35,3)g/dl, MPV (8,3-11,2)fl dan PLT (184-453; 232-560). Nilai Rujukan pada darah rutin terdapat perbedaan dengan nilai rujukan yang umumnya digunakan di laboratorium sehingga diperlukan verifikasi nilai rujuk

    477

    full texts

    657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Health Information : Jurnal Penelitian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇