Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
    657 research outputs found

    The Effect Of Plyometric Depth Jump Exercise On Vertical Jump In Basketball Players With Post Ankle Sprain Injury

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Cedera pergelangan kaki merupakan salah satu cedera paling umum pada pemain basket yang dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot dan nyeri kronis, serta mempengaruhi kemampuan vertical jump yang esensial dalam permainan basket. Tujuan: Mengetahui pengaruh latihan plyometric depth jump terhadap peningkatan vertical jump dan penurunan nyeri pada pemain basket dengan cedera pergelangan kaki kronis. Metode: Penelitian kuasi-eksperimental dengan desain pre-post test control group pada 22 pemain basket yang dibagi secara acak menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi diberikan latihan plyometric depth jump selama empat minggu dengan protokol FITT (3x/minggu, 4 set, 12 repetisi). Hasil: Kelompok intervensi menunjukkan peningkatan signifikan pada vertical jump (p=0,000) dan penurunan nyeri (p=0,002). Terdapat perbedaan bermakna vertical jump antara kelompok intervensi dan kontrol (p=0,000), namun tidak untuk perubahan nyeri (p=0,076). Simpulan: Latihan plyometric depth jump efektif meningkatkan vertical jump pada pemain basket dengan cedera pergelangan kaki kronis melalui optimalisasi energi elastik dan kontrol neuromuskular. Saran: Penelitian selanjutnya perlu menambah variasi intervensi atau membandingkan efek pada cedera ankle akut untuk hasil yang lebih komprehensif.Salah satu cedera paling umum yang dialami pemain basket adalah cedera pergelangan kaki. Keseleo pergelangan kaki kronis dapat mengakibatkan penurunan kekuatan otot akibat berkurangnya kekuatan otot akibat rasa nyeri yang dirasakan. Salah satu metode stimulasi aktivasi sel serabut otot motorik adalah latihan plyometric depth jump. Latihan pliometrik yang dikenal sebagai lompatan kedalaman bertujuan untuk memperkuat otot dan efektivitas kekuatan pada titik terjauh di bawah, yang berguna untuk melakukan gerakan lompatan yang paling ekstrem, maka pliometrik merupakan jenis latihan untuk mengembangkan kekuatan berbahaya yang menggabungkan strategi dan prosedur untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan, dan jarak terjauh. Dengan desain kelompok kontrol, pra- dan pasca-tes, serta intervensi pra- dan pasca-tes, penelitian ini merupakan jenis penelitian kuasi-eksperimental. Populasi yang bermain basket berjumlah 30 orang, dan sampel berjumlah 22 orang. Uji impak memberikan hasil (p = 0,000 ± 0,05) yang menunjukkan bahwa susunan mediasi plyometric depth jump berpengaruh signifikan terhadap peningkatan lompatan vertikal. Di sisi lain, uji efek perbedaan menghasilkan hasil (p = 0,002 ± 0,05) yang menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok pembanding setelah berpartisipasi dalam pelatihan plyometric depth jump, dengan perbedaan rata-rata 11,0 antara kedua kelompok

    A Activity Test Of Antidiarrheal Granule Ethanol Extract Of Rambutan Leaf (Nephelium lappaceum L.) In Mice (Mus musculus)

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Diare adalah perubahan konsistensi tinja menjadi lunak dan peningkatan frekuensi buang air besar yang dapat menyebabkan dehidrasi hingga kematian. Daun rambutan mengandung tanin dan flavonoid sebagai adstringen yang menghambat motilitas usus untuk terapi antidiare. Tujuan: Menganalisis efektivitas antidiare granul ekstrak etanol daun rambutan dengan metode transit intestinal pada mencit. Metode: Penelitian eksperimental menggunakan 25 mencit Swiss Webster jantan, dibagi 5 kelompok: kontrol positif (loperamide HCl 4 mg/kg), kontrol negatif (granul tanpa ekstrak), dan tiga kelompok uji dengan granul ekstrak daun rambutan dosis 50 mg, 100 mg, 150 mg. Analisis One Way ANOVA dengan signifikansi p<0,05. Hasil: Efektivitas antidiare berturut-turut 23,3%, 26,8%, dan 32,3%, dengan efektivitas tertinggi pada dosis 150 mg. Uji ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p<0,05). Simpulan: Granul ekstrak etanol daun rambutan memiliki aktivitas antidiare berbanding terbalik dengan rasio transit intestinal. Saran: Penelitian lanjutan diperlukan untuk uji pra-klinis seperti kadar etanol, farmakokinetik, dan toksisitas.Diare adalah perubahan konsistensi tinja menjadi lunak serta frekuensi buang air besar yang tinggi yang dapat menyebabkan dehidrasi bahkan kematian. Kajian ini bermaksud untuk menganalisis efek agen antidiare terhadap sari etanol butiran daun rambutan (Nephelium lappaceum L.) yang mengandung tanin dan flavonoid sebagai zat antidiare yang bersifat adstringent dengan menghambat motilitas usus. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan metode transit usus yang menilai panjang jarak usus yang ditempuh oleh penanda. Kelompok 1 menggunakan pembanding positif loperamide HCl dengan dosis 4 mg / kg bb, Kelompok 2 menggunakan pembanding negatif dengan granul tanpa ekstrak, Kelompok 3 menggunakan granul F1 dengan dosis 50 mg, kelompok 4 menggunakan granul F2 dengan dosis 100 mg, dan Kelompok 5 menggunakan granul F3 dengan dosis 150 mg. Hasil pengujian menunjukkan bahwa formulasi 1 memiliki efektifitas sebesar 23,3%, formulasi 2 sebesar 26,8%, dan formulasi 3 sebesar 32,3%. Sediaan butiran dengan efektivitas tertinggi terdapat pada formulasi 3 dengan dosis 150 mg. Uji Anova Satu Arah menunjukkan nilai signifikan antara kelompok F1, F2, dan F3 (?<0,05), yang menunjukkan bahwa sediaan granul ekstrak etanol daun rambutan memiliki efek antidiare

    Peran BPJS Kesehatan dalam pelayanan pencegahan stunting untuk mencapai generasi emas 2045: Literature Review

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pencegahan stunting dengan prevalensi 21,5% tahun 2023, sementara BPJS Kesehatan telah mencakup 83% penduduk namun akses layanan kesehatan belum merata terutama di daerah terpencil. Tujuan: Menganalisis peran BPJS Kesehatan dalam pelayanan promotif, preventif, dan kuratif untuk pencegahan stunting guna mendukung pencapaian Generasi Emas 2045. Metode: Penelitian kualitatif deskriptif-analitis dengan pendekatan literature review menggunakan artikel ilmiah dan sumber resmi terkait pencegahan stunting, analisis data model Miles dan Huberman. Hasil: BPJS Kesehatan berperan dalam edukasi gizi dan pemeriksaan rutin (promotif-preventif), pemberian TTD dan suplemen (preventif), serta rujukan anak stunting untuk intervensi gizi spesifik (kuratif). Simpulan: BPJS Kesehatan memberikan kontribusi signifikan melalui layanan komprehensif namun masih menghadapi keterbatasan alat medis dan tenaga terlatih. Saran: Diperlukan peningkatan ketersediaan fasilitas medis, perluasan cakupan layanan, evaluasi rutin program pencegahan, dan penguatan kolaborasi lintas sektor.Stunting merupakan salah satu tantangan kesehatan di Indonesia yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia. BPJS Kesehatan, sebagai penyedia asuransi kesehatan, berperan penting dalam mendukung pelayanan kesehatan promotif, preventif, dan kuratif untuk menurunkan angka stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran BPJS Kesehatan dalam pelayanan promotif, preventif, dan kuratif untuk pencegahan stunting di Indonesia guna mendukung pencapaian Generasi Emas 2045. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif desktiptif-analitis dengan pendekatan literature review, mengacu pada artikel ilmiah dan sumber resmi terkait pencegahan stunting di Indonesia. Analisis data dilakukan secara interaktif menggunakan model Miles dan Huberman untuk mengevaluasi kontribusi BPJS Kesehatan terhadap penurunan angka stunting. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun meskipun cakupan kepesertaan BPJS Kesehatan telah menjangkau lebih dari 83% penduduk, akses layanan kesehatan masih belum merata, terutama di daerah terpencil. Program promotif dan preventif seperti pemberian suplemen gizi serta edukasi kesehatan telah menunjukkan dampak positif, namun implementasinya memerlukan kolaborasi lintas sektor dan evaluasi berkala. Perlunya peningkatan ketersediaan alat medis, pelatihan tenaga Kesehatan, serta penguatan cakupan layanan BPJS Kesehatan untuk mendukung pemerataan akses dan efektivitas pelayanan dalam menurunkan angka stunting di Indonesia

    IDENTIFIKASI PERAN MASYARAKAT DAN TENAGA KESEHATAN DALAM PEMBERANTASAN TB PARU DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS SOROPIA

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Keberhasilan pengobatan TB nasional (85%) masih di bawah target global (90%), sementara wilayah kerja Puskesmas Soropia mengalami kenaikan temuan kasus tiga tahun terakhir. Tujuan: Menganalisis faktor rendahnya partisipasi masyarakat, mengevaluasi peran kader dan tokoh masyarakat, serta menilai peran tenaga kesehatan dalam pengendalian TB. Metode: Desain mixed-method; survei pada 350 KK, wawancara mendalam 31 partisipan (pasien TB, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat), FGD, dan observasi partisipatif; analisis tematik-triangulasi (Colaizzi). Hasil: Pengetahuan masyarakat didominasi kategori kurang (56%); tiga tema kunci: stigma TB sebagai aib, peran kader dan pemerintah desa dalam diseminasi informasi yang belum optimal, serta upaya nakes mendorong kepatuhan dan pelacakan kontak. Simpulan: Partisipasi komunitas terhambat stigma dan rendahnya literasi TB; fungsi kader dan dukungan kebijakan desa belum maksimal; kinerja nakes baik namun membutuhkan penguatan berbasis komunitas. Saran: Kampanye berbasis budaya lokal, pelatihan kader TB, advokasi alokasi dana desa, dan intervensi partisipatif untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat.Latarbelakang. Tingkat keberhasilan pengobatan TB masih di bawah optimal sebesar 85 persen, di bawah target dunia sebesar 90 persen. Puskesmas Soropia merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang menerapkan metode DOTS, yang selanjutnya disebut UPK (Unit Pelayanan Kesehatan). Ditemukan peningkatan jumlah temuan kasus TB dalam 3 tahun terakhir Tujuan: Mengidentifikasi efektifitas gerakan Mantras TB terhadap pengendalian kasus TB Jenis penelitian Penelitian ini menggunakan. Metode penelitian: Menggunakan desain: Mixed-method yang terdiri atas Pendekatan Kuantitatif: dengan menggunakan metode survey dan pendekatan kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam melalui focus Group discussion (FGD) dan Obeservasi parsitipatif pada tenaga kesehatan ( Kepala Puskesmas dan programmer Tb) dan kader, deep interview pada penderita TB dan Tokoh masyarakat. Penelitian ini melakukan pengkajian secara sistematik, mendalam dan bermakna melalui proses eksplorasi dan interaksi komunikatif kepada partisipan mengenai keterlibatan masyarakat dalam pengendalian kasus TB. Teknik pengumpulan data dengan metode survey dan wawancara mendalam. Analisa data dilakukan secara triangulasi (gabungan) dan bersifat induktif (tematik). Hasil: Ditemukan tingkat pengetahuan masyarakat tentang pengendalian kasus TB, didominasi pada tingkat pengetahuan kurang (56%), cukup (32,85%). Temuan Analitis , menarik 3 tema utama yaitu Kurangnya peran serta masyarakat akibat Stigma “ Penyakit TB adalah Aib dan menakutkan ”  dan kurang pengetahuan, 2. Peran kader, Tenaga Kesehatan dan pemerintah setempat dalam Penyebaran Informasi tentang Penyakit TB Paru, 3. Upaya Tenaga kesehatan dalam mendorong partisipasi Masyarakat dalam menanggulagi TB . Kesimpulan : 1.Peran masyarakat masih kurang didukung oleh kurangnya pengetahuan dan Stigma yang berkembang dimasyarakat; 2. Peran Kader dan Tokoh Masyarakat belum maksimal didukung dengan data kurangnya kader yang terlibat langsung dalam pengendalian TB Paru ;3.Tenaga Kesehatan telah bekerja secara maksimal namun butuh penguatan dari masyarakat, Kader dan Tokoh masyaraka

    Waspada Hipertensi Tersembunyi di Tempat Kerja: Analisis Faktor Metabolik Pegawai Usia di Atas 40 Tahun

    No full text
    Latar Belakang: Hipertensi tersembunyi di tempat kerja merupakan ancaman kesehatan serius pada populasi usia produktif yang kerap tidak terdeteksi melalui pemeriksaan konvensional. Identifikasi faktor metabolik yang berkontribusi terhadap kondisi ini penting untuk mendukung strategi pencegahan berbasis tempat kerja. Tujuan: Menganalisis hubungan parameter metabolik dengan kejadian hipertensi pada pegawai berusia ?40 tahun. Metode: Studi potong lintang retrospektif menggunakan data sekunder pemeriksaan kesehatan 140 pegawai Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya periode Februari – Maret 2024. Analisis dilakukan menggunakan uji ANOVA satu arah dan regresi logistik. Hasil: Indeks massa tubuh dan kolesterol total berhubungan signifikan dengan hipertensi (p<0,05). Setiap peningkatan satu unit IMT meningkatkan risiko hipertensi sebesar 25% (OR=1,254; 95% CI: 1,051–1,493). Interaksi kolesterol total dan LDL memperkuat risiko hipertensi secara bermakna. Simpulan: IMT dan Kolesterol total merupakan determinan metabolik dominan hipertensi pada pegawai usia produktif. Saran : Institusi perlu mengimplementasikan skrining metabolik secara berkala, program pengendalian berat badan, dan manajemen profil lipid sebagai komponen kebijakan kesehatan kerja preventifHipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang umum dijumpai pada pegawai usia produktif, terutama mereka yang berusia di atas 40 tahun. Faktor risiko metabolik seperti indeks massa tubuh (IMT), dislipidemia, dan kadar glukosa darah berperan penting dalam peningkatan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara parameter metabolik dan status hipertensi pada pegawai usia ?40 tahun. Kajian dilakukan secara retrospektif dengan pendekatan deskriptif-analitik menggunakan data sekunder dari hasil pemeriksaan kesehatan rutin pada 140 pegawai. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji ANOVA, dan multivariat melalui regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa usia, IMT, kolesterol total, LDL, serta gula darah puasa dan postprandial cenderung meningkat pada kelompok hipertensi. IMT dan kolesterol total memiliki hubungan signifikan terhadap hipertensi, dengan IMT sebagai prediktor kuat (OR = 1,254; CI 95%: 1,051–1,493). Interaksi kolesterol total dan LDL juga berkontribusi signifikan terhadap peningkatan risiko hipertensi. Temuan ini menegaskan pentingnya pengendalian faktor metabolik melalui intervensi berbasis tempat kerja seperti edukasi nutrisi, promosi aktivitas fisik, dan pemantauan kesehatan berkala. Penelitian lanjutan direkomendasikan dengan desain longitudinal untuk memperkuat pemahaman hubungan kausal dan mempertimbangkan faktor tambahan seperti stres kerja dan konsumsi obat antihipertensi

    P Pengaruh Pemberian Modifikasi Makanan Selingan Puding Labu Kuning & Wortel Terhadap Kadar Glukosa Darah Pasien Diabetes Mellitus Di RSUD Palembang BARI

    No full text
    Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang meningkat yang memerlukan pengelolaan pola makan yang efektif. Labu kuning dan wortel mengandung serat larut, beta-karoten, serta antioksidan yang berpotensi menstabilkan glukosa darah. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian puding labu kuning dan wortel terhadap kadar gula darah pasien diabetes melitus di RSUD Palembang Bari. Metode: Penelitian quasi-experiment dengan desain one group pre-test–post-test pada 32 pasien diabetes melitus yang mengonsumsi puding selama tujuh hari berturut-turut. Kadar glukosa darah diukur menggunakan glukometer sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis dengan uji t-dependent. Hasil: Terdapat penurunan signifikan kadar glukosa darah sewaktu (p<0,05) dengan rata-rata penurunan sebesar 54,9 mg/dL setelah intervensi. Simpulan: Puding labu kuning dan wortel efektif menurunkan kadar glukosa darah pasien diabetes melitus. Saran: Diperlukan penelitian lanjutan dengan desain uji klinis terkontrol, sampel lebih besar, dan durasi intervensi lebih panjang untuk memperkuat pedoman praktik gizi rumah sakitDiabetes melitus merupakan penyakit metabolik ditandai dengan hiperglikemia yang disebabkan karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Kasus diabetes melitus setiap tahun terus meningkat, sehingga penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan global termasuk di Indonesia. Penatalaksanaan diabetes melitus dapat dilakukan dengan pendekatan farmakologis dan non farmakologis. Salah satu intervensi non farmakologis yang penting yaitu melalui pengaturan konsumsi serat harian. Salah satu altelrnatif untuk melnurunkan kadar glukosa dalam darah dipelrlukan altelrnatif belrupa modifikasi makanan sellingan tinggi selrat yakni puding labu kuning & wortel. Penelitian ini bertujuan untuk melngeltahui pelngaruh pelmbelrian puding labu kuning & wortel selbagai makanan sellingan pasien diabetes mellitus di RSUD Palembang Bari. Penelitian quasi elxpelrimelnt ini menggunakan rancangan onel group prel-telst - post-telst dengan sampel 32 pasien diabetes mellitus di RSUD Palembang Bari. Kelompok perlakuan diberikan puding labu kuning & wortel selama 7 hari berturut-turut. Hasil uji statistik (t-delpelndelnt) menunjukkan signifikansi perubahan kadar glukosa darah setelah pemberian puding labu kuning & wortel dengan nilai P < 0,05. Puding labu kuning & wortel bermanfaat sebagai alternatif makanan selingan tinggi serat yang dapat mengontrol kadar glukosa darah pasien diabetes mellitus

    Risiko Kecelakaan kerja : Perspektif Pegawai terhadap Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Angka kecelakaan kerja di Indonesia mencapai 162.327 kasus pada periode Januari-Mei 2024, dengan sektor kelistrikan berisiko tinggi. PT PLN menghadapi berbagai bahaya seperti sengatan listrik, jatuh dari ketinggian, dan tiang roboh yang memerlukan implementasi SMK3 efektif. Tujuan: Menganalisis risiko kecelakaan kerja berdasarkan perspektif pegawai PT PLN terhadap implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Metode: Penelitian cross-sectional dengan 110 responden menggunakan simple random sampling, kuesioner berbasis PP No. 50/2012 dengan 20 item skala Likert, analisis Chi-Square dan Odds Ratio. Hasil: Implementasi SMK3 kategori kurang (59,1%) berhubungan signifikan dengan risiko kecelakaan kerja (OR=6,641; p=0,000). Responden menilai adanya risiko kecelakaan kerja (63,6%), menunjukkan kesadaran tinggi terhadap bahaya. Simpulan: SMK3 yang kurang meningkatkan risiko kecelakaan 6,641 kali, implementasi signifikan mempengaruhi keselamatan kerja. Saran: Pelatihan K3 terstruktur, budaya keselamatan komprehensif, pemantauan berkala, dan penguatan sosialisasi kebijakan untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja.Secara global, data dari  Organisasi Buruh Internasional (ILO) tahun 2020, setiap tahun terdapat lebih dari 2,78 juta kematian terkait pekerjaan di seluruh dunia, dan sekitar 374 juta cedera non-fatal terjadi di tempat kerja. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari BPJS Ketenagakerjaan data angka kecelakaan kerja masih terbilang tinggi, pada periode Januari s.d. Mei 2024 tercatat jumlah kasus kecelakaan kerja di Indonesia sebanyak 162.327 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko kecelakaan kerja berdasarkan perspektif pegawai PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Pelanggan Kota Kendari terhadap implementasi system manajemen keselamatan dan Kesehatan kerja. Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional study. Populasi yang diteliti sebesar 165 orang, dengan besar sampel penelitian sebanyak 110 responden. Penarikan sampel dilakukan dengan teknik simpel random sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi square test dan odds ratio. Hasil uji statistik menunjukkan system manajemen K3 merupakan factor risiko terjadinya kecelakaan kerja OR= 6,641 dan p value = 0,000 (? ? 0.05). Kesimpulan bahwa system manajemen K3 yang kurang akan berisiko 6,641 kali mengalami kecelakaan kerja, dan penerapan system K3 signifikan terhadap kecelakaan kerja

    Analisis Pelaksanaan Rujukan Pasien Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Puskesmas Bahorok

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Sistem rujukan pelayanan kesehatan berjenjang merupakan bagian penting dalam pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional untuk memastikan pasien mendapatkan layanan sesuai tingkat fasilitas kesehatannya. Namun, di Puskesmas Bahorok, pelaksanaan sistem rujukan masih menghadapi kendala dengan angka rujukan mencapai 16,5% pada 2024, melampaui batas BPJS maksimal 15%. Tujuan: Menganalisis pelaksanaan sistem rujukan pasien JKN di Puskesmas Bahorok dan mengidentifikasi faktor penyebab tingginya angka rujukan. Metode: Penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi melibatkan tujuh informan terdiri dari tenaga kesehatan dan pasien JKN melalui purposive sampling. Hasil: Tenaga kesehatan memadai, namun terdapat kekurangan ketersediaan alat kesehatan yang belum sesuai standar Kompendium Alat Kesehatan dan obat belum sepenuhnya mengacu Formularium Nasional. Banyak pasien mengajukan rujukan atas permintaan sendiri karena rendahnya pemahaman terhadap peran Puskesmas sebagai gatekeeper. Simpulan: Pelaksanaan sistem rujukan belum optimal akibat keterbatasan sarana-prasarana dan pengetahuan masyarakat yang belum memahami fungsi gatekeeper. Saran: Penguatan kapasitas layanan melalui penyediaan alat dan obat sesuai standar serta edukasi berkelanjutan kepada.Sistem rujukan adalah mekanisme dalam pelayanan kesehatan yang mengatur pembagian dan pengalihan tanggung jawab antara berbagai tingkatan fasilitas kesehatan secara terkoordinasi, baik antartingkat (vertikal) maupun sesama tingkat (horizontal). Sistem rujukan diselengarakan dengan tujuan memberikan pelayanan kesehatan secara bermutu kepada masyarakat, sehingga tujuan pelayanan tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan rujukan pasien peserta JKN di Puskesmas Bahorok. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam (in-depth interview). Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh informasi komprehensif (lengkap) mengenai pelaksanaan rujukan di Puskesmas Bahorok. Hasil: Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelayanan rujukan yang diberikan Puskesmas di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya memenuhi standar yang ditetapkan, hal ini berdampak pada peningatan angka rujukan. Meskipun Sumber Daya Manusia (SDM) di Puskesmas telah sesuai dengan standar, fasilitas alat kesehatan belum lengkap berdasarkan Kompendium Alat Kesehatan. Selain itu, jenis dan jumlah obat yang tersedia di Puskesmas tidak sesuai dengan kebutuhan dan standar yang tercantum dalam Formularium Nasional. Salah satu faktor kunci yang mempengaruhi tingginya angka rujukan di Puskesmas Bahorok adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang fungsi gatekeeper Puskesmas. Hal ini terbukti dari pernyataan informan bahwa banyak masyarakat masih meminta rujukan atas permintaan sendiri (APS) karena kurangnya pemahaman terhadap peran Puskesmas sebagai penapis rujukan dalam pelayanan kesehatan

    Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Pajanan Mangan (Mn) Pada Air Minum Isi Ulang di Pulau Kecil

    Full text link
    Ringkasan: Latar Belakang: Pulau kecil menghadapi keterbatasan sumber daya air bersih, sehingga masyarakat bergantung pada Air Minum Isi Ulang (AMIU) dari sumur bor yang rentan kontaminasi mangan (Mn). Mangan dalam konsentrasi tinggi berpotensi menyebabkan gangguan neurologis dan dampak neurotoksik, terutama pada kelompok rentan. Tujuan: Menganalisis konsentrasi mangan dalam AMIU dan menilai risiko kesehatan masyarakat Pulau Barrang Lompo menggunakan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Metode: Penelitian observasional analitik dengan pengambilan sampel air dari tiga Depot AMIU dan survei 193 responden masyarakat. Analisis data menggunakan pendekatan ARKL meliputi identifikasi bahaya, analisis dosis-respon, analisis pemajanan, dan karakterisasi risiko. Hasil: Konsentrasi mangan dalam AMIU sebesar 0,0043 mg/L, masih di bawah baku mutu 0,1 mg/L. Nilai Risk Quotient (RQ) saat ini 0,002 menunjukkan kategori aman. Proyeksi jangka panjang menunjukkan peningkatan kadar mangan hingga 0,0351 mg/L dalam 30 tahun pada skenario optimis. Simpulan: Konsumsi AMIU saat ini masih aman, namun proyeksi menunjukkan potensi peningkatan risiko jangka panjang. Saran: Diperlukan pemantauan berkala kualitas air, penerapan sistem pengolahan efektif, dan kebijakan pengelolaan air berkelanjutan untuk mencegah risiko kesehatan akibat akumulasi mangan.Pulau kecil merupakan wilayah yang memiliki keterbatasan sumber daya air bersih, sehingga penduduknya menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan air minum. Pulau barrang Lompo adalah pulau kecil yang masyarakatnya bergantung pada air minum isi ulang (AMIU)  bersumber dari sumur bor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi dan melakukan analisis risiko mangan (Mn) dalam AMIU yang dikonsumsi oleh masyarakat Pulau Barrang Lompo menggunakan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pengambilan sampel air dari tiga titik Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) serta 193 responden masyarakat. Analisis data dilakukan dengan pendekatan ARKL yang meliputi identifikasi bahaya, analisis dosis-respon, analisis pemajanan, dan karakterisasi risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi mangan dalam AMIU sebesar 0,0043 mg/L, masih berada di bawah baku mutu 0,1 mg/L yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan No. 2 Tahun 2023. Nilai Risk Quotient (RQ) saat ini adalah 0,002, yang menunjukkan bahwa konsumsi AMIU masih berada dalam kategori aman. Berdasarkan proyeksi jangka panjang, kadar mangan dapat meningkat hingga 0,0351 mg/L dalam 30 tahun ke depan pada skenario optimis, yang meskipun masih di bawah ambang batas, tetap perlu diwaspadai. Diperlukan pemantauan kualitas air secara berkala, penerapan sistem pengolahan air yang lebih efektif, serta kebijakan pengelolaan air minum yang berkelanjutan diperlukan untuk mencegah potensi risiko kesehatan akibat akumulasi mangan dalam jangka panjang

    Pengaruh Crumpled Paper Exercise Dan Constraint Induced Movement Therapy Terhadap Otot Ekstremitas Pasien Pasca Stroke

    Full text link
    Ringkasan: Latar Belakang: Dampak stroke seperti hemiparesis atau kelumpuhan ekstremitas menyebabkan penurunan kinerja dan kekuatan otot pada pasien pasca stroke. World Stroke Organization mencatat 7,6 juta kematian akibat stroke dengan 13,7 juta kasus baru annually. Tujuan: Mengetahui pengaruh kombinasi crumpled paper exercise dan constraint induced movement therapy terhadap peningkatan kekuatan otot ekstremitas atas pada pasien pasca stroke. Metode: Penelitian quasi experimental pre-post test with control group design terhadap 38 pasien pasca stroke (19 kelompok intervensi, 19 kelompok kontrol) di Puskesmas Sawah Lebar Bengkulu. Intervensi dilakukan 5 menit/hari, 2 kali/minggu selama 4 minggu. Kelompok kontrol mendapat mirror therapy. Kekuatan otot diukur menggunakan Manual Muscle Testing (MMT). Hasil: Uji Mann-Whitney menunjukkan nilai p=0,001, yang berarti terdapat pengaruh signifikan kombinasi terapi terhadap peningkatan kekuatan otot ekstremitas atas pasien pasca stroke. Simpulan: Kombinasi crumpled paper exercise dan constraint induced movement therapy efektif meningkatkan kekuatan otot ekstremitas atas pasien pasca stroke. Saran: Diperlukan penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar dan durasi intervensi lebih panjang.Dampak stroke seperti hemiparesis atau kelumpuhan pada ekstremitas menyebabkan turunnya kinerja ekstremitas dan menimbulkan menurunnya kekuatan otot pada pasien pasca stroke. Tujuan : Mengetahui pengaruh crumpled paper exercise dan constraintiinduced movementitherapy terhadap peningkatan kekuataniotot ekstremitas atas pada pasien pasca stroke. Metode : Penelitian ini menggunakan jenis quasi experiment menggunakan rancangan pre-test and post-test with controligroup design dengan total sampel sebanyak 38 orang, 19 orang kelompok intervensi dan 19 orang kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan instrument MMT (ManualnMuscle Testing) untuk mengukur kekuatannotot ekstremitas. Hasil : hasil uji bivariate Mann-Whitney didapatkan nilai p value 0.001 yang artinya ada pengaruh crumpled paper exercise dan constraint induced movement therapy terhadapnpeningkatan kekuatannotot ekstremitasnatas pada pasiennpasca stroke. Kesimpulan : Dengan demikian, crumpled paper exercisendan constraintninduced movementntherapy dapat memberikan manfaat dalam mengatasi kelemahan otot pada pasien pasca stroke

    477

    full texts

    657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Health Information : Jurnal Penelitian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇