Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
657 research outputs found
Sort by
Pengembangan Aplikasi Deteksi Kecemasan Kesehatan dan Intervensi: Pengembangan Aplikasi Deteksi Kecemasan Kesehatan dan Intervensi
Ringkasan: Latar belakang: Kecemasan kesehatan merupakan masalah psikologis yang sering timbul pada penderita penyakit kronis, terutama usia lanjut. Penggunaan kuisioner konvensional Health Anxiety Inventory (HAI) membutuhkan kertas berlembar-lembar untuk 18 item pertanyaan dan memerlukan waktu lama dalam pengolahan data skoring. Tujuan: Mengembangkan aplikasi deteksi dan intervensi kecemasan kesehatan menggunakan Software Development Life Cycle (SDLC) untuk mempermudah pengukuran dan pengolahan data. Metode: Penelitian pengembangan menggunakan model SDLC dengan tahapan perencanaan, analisis, desain, pengembangan, implementasi, pengujian, dan pemeliharaan. Kuisioner HAI tervalidasi (Cronbach's alpha = 0,936) diintegrasikan dalam aplikasi dan diuji pada 23 responden di Balai Kelurahan dan Laboratorium Keperawatan Maret-Desember 2024. Hasil: Pengujian fungsionalitas menunjukkan semua komponen berfungsi baik, termasuk login, informed consent, pengisian HAI, terapi menulis dan membaca, serta download hasil. Evaluasi pengguna menunjukkan 52,2% responden sangat paham kemudahan aplikasi. Simpulan: Aplikasi berhasil dikembangkan dan dapat mengurangi penggunaan kertas, mempercepat pengolahan data, serta menyediakan database kecemasan kesehatan untuk mendukung pengambilan keputusan klinis. Saran: Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan aplikasi dengan menambah fitur penanganan kecemasan di rumah.Pada kuisiner kecemasan kesehatan apabila menggunakan kertas membutuhkan berlem-lembar untuk satu orang karena terdapat 18 item pertanyaan. Adanya aplikasi ini diharapkan dapat menurunkan penggunaan kertas dan dapat digunakan kapan saja, serta dapat digunakan kader untuk mengukur kecemasan Kesehatan dan dapat diakses apapun. Selain itu, ini dapat menjadi data based kecemasan Kesehatan yang dapat digunakan pada puskesmas untuk menjadi dasar dalam pengambilan Keputusan dan pengembangan program dalam masalah psikososial. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan aplikasi pengukuran kecemasan Kesehatan Metode pengembangan dengan model SDLC dan pengujian black box testing. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi ini dapat digunakan untuk mendeteksi kecemasan Kesehatan dan dalam apliaksi ini terdapat pilihan intervensi kecemasan yang dapat diterapkan dirumah yaitu terapi menulis
Analisis Pengembangan Instrumen Skrining Resiko Penularan TB Pada Anak Di Wilayah Pesisir: Analysis of the Development of Screening Instruments for the Risk of TB Transmission in Children in Coastal Areas
Ringkasan: Latar belakang: Skrining TB anak menggunakan sistem skoring yang direkomendasikan sejak 2005, namun tidak semua fasilitas kesehatan memiliki fasilitas uji tuberkulosis dan foto thoraks yang merupakan parameter skoring TB anak, menyebabkan underdiagnosis TB anak. Diperlukan inovasi instrumen skrining penularan TB pada anak. Tujuan: Menganalisis pengembangan instrumen skrining risiko penularan TB paru pada anak di wilayah pesisir. Metode: Penelitian Research and Development (R&D) yang diuji kelayakan oleh pakar bahasa, pakar keperawatan anak, dan 25 perawat pengguna instrumen di PKM Motui yang dipilih menggunakan total sampling. Hasil: Uji kelayakan instrumen menunjukkan validasi pakar bahasa 93%, pakar spesialis keperawatan anak 85%, dan pengguna 95%. Semua aspek penilaian menunjukkan kategori layak dengan predikat baik hingga sangat baik untuk implementasi skrining TB anak. Simpulan: Instrumen skrining risiko penularan TB pada anak telah valid dan layak digunakan untuk mendeteksi TB pada anak dengan anggota keluarga terdiagnosis TB paru berdasarkan validasi multistakeholder. Saran: Instrumen dapat diimplementasikan sebagai skrining awal TB anak namun memerlukan pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan untuk konfirmasi diagnosis definitif.Skrining TB anak dapat dilakukan dengan sistem skoring yang sudah disosialisasikan dan direkomendasikan sejak tahun 2005. Namun, tidak semua fasilitas pelayanan kesehatan mempunyai fasilitas uji tubekulosis dan pemeriksaan foto thoraks yang merupakan parameter sistem skoring TB anak sehingga banyak dijumpai underdiagnosis TB anak. Oleh karena perlu inovasi instrument skrining penularan TB pada anakTujuan penelitian: untuk menganalisis pengembangan instrument skrining resiko penularan TB paru pada anak Metode Penelitian adalah Research and Development (R&D) yang diuji kelayakan oleh pakar bahasa, pakar materi dan pengguna instrument yaitu 25 orang perawat yang bekerja di PKM Motui yang dipilih dengan menggunakan teknik total sampling Hasil Penelitian:Dari uji kelayakan instrument diperoleh hasil yaitu: validasi kelayakan oleh pakar bahasa menunjukkan nilai 93%, pakar spesialis keperawatan anak dengan nilai 85% dan pengguna dengan nilai 95%. Kesimpulan: hal ini menunjukkan bahwa instrument ini layak diuji cobakan pada anak dengan orangtua atau anggota keluarga yang terdiagnosa TB Paru
Analisis Pengendalian Persediaan Dan Strategi Perbaikan Di Instalasi Farmasi RSUD dr.Soehadi Prijonegoro Sragen Tahun 2021
Latar Belakang: Pengendalian persediaan obat yang tidak optimal menyebabkan kekosongan atau kelebihan stok di rumah sakit, sehingga diperlukan sistem analisis yang komprehensif untuk meningkatkan efisiensi biaya dan mutu pelayanan. Tujuan: Menganalisis pengendalian persediaan obat menggunakan metode ABC-VEN, EOQ, ROP, ITOR dan merumuskan strategi perbaikan melalui analisis SWOT di RSUD dr.Soehadi Prijonegoro Sragen tahun 2021. Metode: Penelitian deskriptif dengan data kualitatif dan kuantitatif yang dikumpulkan secara retrospektif periode Januari-Desember 2021. Hasil: Analisis ABC-VEN mengidentifikasi 68 item kategori AE bernilai Rp6.095.836.400 yang memerlukan prioritas pengendalian ketat. EOQ menunjukkan jumlah pemesanan optimum tertinggi 113.332 unit dengan ROP bervariasi hingga 1.271 unit. Nilai ITOR sebesar 4,34 kali/tahun menunjukkan perputaran obat masih di bawah standar ideal 8-12 kali. Matriks IFE (3,04) dan EFE (2,81) menempatkan rumah sakit pada kuadran IV dengan strategi pengembangan. Simpulan: Implementasi metode EOQ-ROP pada kategori AE berpotensi menghemat 25% biaya persediaan. Saran: Diperlukan integrasi sistem informasi manajemen, monitoring ITOR bulanan, dan pelatihan berkala staf farmasiEffective drug management is one of the important factors in improving the quality of service in hospitals, so an inventory control system is needed to ensure availability. Inappropriate drug inventory control affects drug management in hospitals. This study aims to analyze drug inventory control and improvement strategies at RSUD dr.Soehadi Prijonegoro Sragen in 2021. This research is a descriptive study, using qualitative and quantitative data retrospectively. Primary data is based on interviews and secondary data is based on document searches. Then the data is analyzed using the ABC-VEN, EOQ, ROP, ITOR and SWOT methods. The results of the study through ABC-VEN analysis show that the AE category needs to be prioritized in inventory control. Then based on the EOQ analysis, the highest optimum order quantity is 113332 and the results of the ROP analysis vary with the highest value of 1271 units. Furthermore, the improvement method based on SWOT analysis found that IFRS dr.Soehadi Prijonegoro Sragen is in cell IV, namely growing and building, so that the strategy that can be applied is a development strategy. The use of ABC-VEN, EOQ, ROP methods in inventory control analysis is very important so that planning and management are more efficient and effective, and ensure the availability of drugs that are optimally tailored to patient needs
Quality and Nutritional Adequacy Review of the Free School Meal Program (MBG) for Elementary School Children in Gorontalo City.
Latar Belakang: Masalah gizi anak sekolah dasar masih menjadi isu serius di Indonesia, khususnya Kota Gorontalo dengan prevalensi gizi buruk, gizi kurang, kelebihan berat badan , dan obesitas yang cukup tinggi. Tujuan: Mengidentifikasi kualitas dan keseimbangan gizi program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdasarkan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG). Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif observatif pada 147 siswa di SDN 77 Kota Tengah Gorontalo dan MI Terpadu Al-Ishlah Gorontalo. Data kualitas makanan diperoleh melalui kuesioner, analisis kandungan gizi menggunakan NutriSurvey berbasis DKBM 2019 selama 5 hari. Hasil: mayoritas siswa menilai makanan berkualitas baik (78-84%) pada kebersihan, porsi, rasa, dan kematangan, namun hanya 41% yang menyatakan makanan hangat. Rata-rata energi menu MBG 377,46 kkal, di bawah standar AKG 531 kkal. Protein (17,76 g) dan lemak (15,98 g) tidak memenuhi standar, karbohidrat (41,52 g) sesuai, kandungan mikronutrien bervariasi. Simpulan: Program MBG perlu diperkuat melalui diversifikasi menu berbasis pangan lokal, pemantauan berkelanjutan, dan kolaborasi BGN dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Saran: Penelitian selanjutnya mengkaji keamanan pangan dan dampak terhadap status gizi antropometrik siswaProgram Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program pemerintah yang bertujuan menekan angka malnutrisi dan stunting di Indonesia. Permasalahan gizi pada anak-anak khususnya usia sekolah dasar masih menjadi isu serius di Indonesia, terutama di Kota Gorontalo yang memiliki prevalensi gizi buruk, gizi kurang, kelebihan berat badan , dan obesitas cukup tinggi. Kondisi ini berpotensi menghambat pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta prestasi akademik siswa. Namun keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh kualitas dan kesesuaian gizi makanan yang diberikan sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas dan kesesuaian gizi pada makanan yang diberikan dalam program MBG. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif observatif. Pelaksanaan penelitian dilakukan di SDN 77 Kota Tengah Gorontalo dan MI Terpadu Al-Ishlah Gorontalo. Hasil kualitas makanan dalam program MBG dinilai baik oleh sebagian besar siswa, meskipun terdapat beberapa indikator yang dinilai kurang. Kesesuaian gizi dalam makanan berdasarkan standar AKG harian dalam buku petunjuk teknis penyelenggaraan bantuan pemerintah untuk program MBG tahun 2025 oleh Badan Gizi Nasional (BGN) berada pada kategori ”Sesuai” untuk karbohidrat dan ”Tidak Sesuai” untuk protein, lemak, dan energi dalam satu kali pemberian makan. Terdapat pula keberadaan komponen mikronutrien seperti vitamin dan mineral dalam menu makanan, yang hasil rata-ratanya disesuaikan dengan standar AKG harian dalam PMK RI No. 28 tahun 2019 tentang angka kecukupan gizi yang direkomendasikan untuk masyarakat Indonesia. Kualitas dan kenyamanan program gizi MBG perlu dilakukan monitoring dan evaluasi kembali oleh pengelola program yakni BGN agar tujuan program dapat tercapai secara maksimal
The Effect of Adding Ginger Extra to Dragon Fruit Juice to Increase Hemoglobin Levels in Pregnant Women at the Kabila Health Center, Bone Bolango Regency
Abstrak: Latar Belakang: Prevalensi anemia pada kehamilan di Indonesia mencapai 48,9% sehingga diperlukan pendekatan pangan fungsional yang mudah diakses. Buah naga merah dan jahe dipilih karena kandungan vitamin C, zat besi, serta efek hematopoietik yang saling melengkapi. Tujuan: Mengevaluasi pengaruh penambahan ekstrak jahe pada jus buah naga merah terhadap kadar hemoglobin ibu hamil dengan anemia ringan. Metode: Penelitian kuasi-eksperimental pretest-posttest control group selama 10 hari di Puskesmas Kabupaten Bone Bolango melibatkan 60 ibu hamil trimester kedua dengan anemia ringan. Kelompok intervensi menerima 150 mL jus buah naga merah dengan 2 g ekstrak jahe per hari, sedangkan kontrol menerima jus tanpa jahe. Kadar hemoglobin diukur menggunakan Hemocue Hb 201+. Data dianalisis menggunakan paired t-test dan independent t-test (p<0,05). Hasil: Peningkatan hemoglobin pada kelompok intervensi (1,3±0,4 g/dL) lebih tinggi dibanding kontrol (0,7±0,3 g/dL; p=0,008; 95% CI=0,18-0,97). Simpulan: Penambahan ekstrak jahe meningkatkan hemoglobin lebih efektif dibanding jus buah naga merah saja. Saran: Kombinasi ini berpotensi diterapkan sebagai intervensi pangan lokal untuk pencegahan anemia pada ibu hamil.Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia termasuk di Indonesia. Secara global, prevalensi anemia tahun 2021 sebesar 36,5%. Ibu hamil trimester pertama dapat mengalami abortus dan kelainan kongenital. Pemberian jus buah naga merah dapat meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu hamil sebanyak 1,42 gr/dlPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan eksra jahe pada jus buah naga untuk peningkatan kadar hemoglobin pada ibu hamil yang anemia di Puskesmas Wilayah Kabupaten Bonebolango. Desain eksperimen dengan pretest dan posttest nonequivalent control group. Sampel berjumlah 60 ibu hamil yang terdiri dari 30 sampel untuk kelompok perlakuan dan 30 sampel untuk kelompok control menunjukkan pada jus naga tambah jahe menujukkan peningkatan dari pada jus naga dengan nilai p<0,000 manfaat dari naga + jahe mengurangi muntah pada ibu hamil.
 
Pengaruh Media Pembelajaran Berbasis Virtual Reality Terhadap Peningkatan Keterampilan Manajemen Aktif Kala III Mahasiswa Kebidanan
Ringkasan: Latar belakang: Persalinan berisiko mengalami postpartum hemorrhage sehingga penyedia layanan obstetrik memerlukan keterampilan manajemen aktif kala III yang tepat. Di STIKes Salewangan Maros, ketidaklulusan keterampilan manajemen aktif kala III mencapai 54,3% mahasiswa. Media pembelajaran virtual reality berpotensi meningkatkan keterampilan klinis dalam pendidikan kebidanan. Tujuan: Menganalisis peningkatan keterampilan manajemen aktif kala III sebelum dan setelah pemberian media pembelajaran berbasis virtual reality. Metode: Penelitian quasi experimental dengan desain one group pre-test post-test pada 46 mahasiswa DIII kebidanan STIKes Salewangan Maros periode Mei-Juni 2020 menggunakan total sampling. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Terdapat perbedaan signifikan keterampilan manajemen aktif kala III sebelum dan setelah pemberian media virtual reality dengan p-value 0,001 (p<0,05). Terjadi peningkatan keterampilan sebesar 22,20% secara keseluruhan, dengan peningkatan tertinggi pada bagian keterampilan manajemen aktif kala III mencapai 27,70%. Semua komponen keterampilan menunjukkan perbedaan signifikan. Simpulan: Pembelajaran melalui media virtual reality efektif meningkatkan keterampilan manajemen aktif kala III persalinan pada mahasiswa kebidanan. Saran: Diperlukan penambahan alat VR dan pelatihan dosen serta pengembangan grup kontrol pada penelitian selanjutnya.Penelitian ini bertujuan menganalisis peningkatan keterampilan manajemen aktif kala III sebelum dan setelah pemberian media pembelajaran berbasis virtual reality. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental (one group pretest dan posttes design). Sampel pada penelitian ini adalah 46 mahasiswa DIII kebidanan dengan menggunakan teknik total sampling di STIKes Salewangan Maros. Data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Uji statistik yang digunakan adalah Wilcoxon Signed Rank Test. Dari hasil uji statistik diperoleh bahwa terdapat perbedaan keterampilan manajemen aktif kala III persalinan pada mahasiswa sebelum dan setelah diberikan media pembelajaran virtual reality (p<0.05) dengan peningkatan sebesar 22.20%. Jika dilihat dari bagian keterampilan, semua bagian menunjukkan perbedaan yang signifikan sebelum dan setelah perlakuan. Peningkatan keterampilan tertinggi berada pada bagian keterampilan manajemen aktif kala III sebesar 27.70%. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran melalui media virtual reality berefek pada peningkatan keterampilan manajemen aktif kala III persalinan
Gambaran Karakteristik Pasien Limfadenitis Tuberkulosis di RS Tk.II Dustira Cimahi: Characteristics of Tuberculous Lymphadenitis Patients at Dustira Hospital Cimahi
Ringkasnya: Latar Belakang: Limfadenitis tuberkulosis (LNTB) adalah bentuk tuberkulosis ekstraparu yang sering ditemukan di Indonesia dengan variasi klinis dan sitopatologi yang menyulitkan diagnosis. Tujuan: Menganalisis karakteristik klinis, sitopatologis, dan faktor risiko pada pasien LNTB di RS Tk. II Dustira Cimahi. Metode: Penelitian deskriptif retrospektif menggunakan data medis dan Fine Needle Aspiration Biopsi (FNAB) dari 45 pasien pembesaran kelenjar getah bening periode Januari–April 2024. Sepuluh pasien memenuhi kriteria diagnosis LNTB. Hasil: mayoritas pasien perempuan (70%), usia 25–34 tahun (40%), lokasi regio colli dextra (40%). Gambaran sitopatologi menunjukkan granuloma epiteloid dan limfosit (90%), nekrosis kaseosa (80%), dan sel raksasa Langhans (30%). Tidak ada komorbiditas HIV atau diabetes, namun kepadatan hunian dan kelelahan kronis diduga berperan sebagai faktor risiko. Simpulan: FNAB merupakan modalitas diagnosis utama dan skrining faktor risiko non-tradisional penting dalam tata laksana LNTB. Saran: Penelitian prospektif dengan sampel lebih besar diperlukan untuk mengonfirmasi faktor risiko lingkungan dan sosialLimfadenitis tuberkulosis merupakan bentuk TB ekstraparu yang sering ditemukan, terutama pada usia produktif. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik pasien limfadenitis tuberkulosis (LNTB) di RS Tk.II Dustira Cimahi pada periode Januari-April 2025. Penelitian menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan pengumpulan data sekunder dari rekam medis pasien. Hasil menunjukkan mayoritas pasien adalah perempuan berusia 20 - 40 tahun dengan hasil dominan pada sediaan FNAB menunjukkan sel radang limfosit, granuloma epiteloid dan nekrosis kaseosa. Tidak ditemukan komorbid HIV dan DM pada pasien. Hasil ini menegaskan pentingnya pemeriksaan sitopatologi serta identifikasi faktor risiko komorbid dalam manajemen klinis LNTB
Perbandingan Tingkat Kepuasan Pasien JKN dan Umum Terhadap Kualitas Pelayanan Rawat Jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Rantauprapat
Ringkasan: Latar belakang: Rumah sakit merupakan elemen penting dalam sistem sosial dan kesehatan yang menyediakan layanan medis komprehensif. Tingkat kepuasan pasien JKN dan umum dapat bervariasi berdasarkan kualitas pelayanan yang diterima. Tujuan: Membandingkan tingkat kepuasan pasien JKN dan pasien umum terhadap kualitas pelayanan rawat jalan di RSUD Rantauprapat. Metode: Penelitian analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 11 Februari hingga 3 Maret 2025 menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif. Sampel sebanyak 136 responden (68 pasien JKN dan 68 pasien umum) dipilih secara accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis lima dimensi kualitas pelayanan (tangible, reliability, responsiveness, assurance, empathy) dengan skala Likert. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney U. Hasil: Tingkat kepuasan pasien JKN sebesar 65,00% dan pasien umum 76,25%. Perbedaan signifikan ditemukan pada dimensi responsiveness (p=0,000) dan empathy (p=0,038), sementara dimensi lainnya tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Simpulan: Kepuasan pasien JKN lebih rendah dibanding pasien umum, terutama pada dimensi responsiveness dan empathy. Saran: Dianjurkan mengadakan pelatihan staf terkait responsiveness dan empathy guna meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan pasien baik JKN maupun umum.Berdasarkan pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rumah sakit merupakan elemen penting dalam sistem sosial maupun kesehatan yang memiliki peran dalam masyarakat menyediakan layanan medis secara menyeluruh, termasuk tindakan pencegahan serta penanganan darurat secara luas. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan di RSUD Rantauprapat pada bulan Februari hingga Maret 2025. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode komparatif untuk membandingkan kepuasan pasien JKN dan pasien umum. Data yang digunakan berupa data primer dan sekunder, dengan instrumen berupa kuesioner berdasarkan lima dimensi kualitas pelayanan: Tangible, Reliability, Responsiveness, Assurance, dan Empathy, yang diukur menggunakan skala Likert. Sampel dipilih secara Accidental Sampling dari pasien rawat jalan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah populasi pasien rawat jalan tahun 2024 adalah 130.488, terdiri dari 5.023 pasien umum dan 125.465 pasien JKN. Sampel sebanyak 136 responden, masing-masing 68 pasien JKN dan 68 pasien umum, ditentukan menggunakan rumus Isaac dan Michael. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney U karena data tidak berdistribusi normal
Hubungan Pengetahuan dan Asupan Gizi Mikro Terhadap Status Gizi Balita Stunting di Wilayah Pesisir Kota Kendari
Ringkasan: Latar belakang: Stunting merupakan masalah nutrisi kronis yang mempengaruhi 21,6% balita di Indonesia (2022), dengan prevalensi 19,5% di Kota Kendari. Defisiensi pengetahuan gizi ibu dan asupan mikronutrien menjadi faktor penentu terjadinya stunting di wilayah pesisir. Tujuan: Menganalisis hubungan pengetahuan gizi dan asupan mikronutrien terhadap status gizi balita stunting di wilayah pesisir Kota Kendari. Metode: Studi cross-sectional dengan 108 balita di Puskesmas Mata, Benu-Benua, dan Abeli ??periode Januari 2024. Pengambilan sampel menggunakan proporsional stratified random sampling. Data pengetahuan dikumpulkan melalui kuesioner yang tervalidasi, asupan mikronutrien menggunakan formulir recall 2x24 jam. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dengan ?=0,05. Hasil: Prevalensi stunting 37,0% (40/108 balita). Pengetahuan gizi baik sebesar 69,4%, asupan vitamin A baik 56,5%, vitamin C kurang 59,3%, vitamin D baik 51,9%, vitamin B9 kurang 59,3%, iodium baik 66,7%, zink baik 66,7%, zat besi kurang 55,6%, dan kalsium kurang 65,7%. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi (p<0,001), asupan vitamin A, C, D, B9 (p<0,05), dan mineral iodium, zink, Fe, kalsium (p<0,05) dengan kejadian stunting. Kesimpulan: Pengetahuan gizi ibu dan asupan mikronutrien berkurang signifikan dengan status gizi balita stunting. Saran: Optimalisasi edukasi gizi berbasis komunitas dan suplementasi mikronutrien terintegrasi untuk pencegahan stunting di wilayah pesisir.Stunting merupakan permasalahan gizi utama di Indonesia yang dapat menentukan kualitas sumber daya. Anak yang stunting rentan terhadap penyakit, kesulitan perkembangan fisik dan kognitif, berisiko mengalami penyakit degeneratif saat dewasa. Prevalensi stunting tahun 2021 sebesar 0,95%, 2022 sebesar 1,4% dan tahun 2023 sebesar1,69 %. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan asupan gizi mikro terhadap status gizi Balita Stunting di Wilayah Pesisir Kota Kendari. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, desain Cross Sectional Study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Balita di wilayah kerja Puskesmas Mata, Benu-Benua dan Abeli periode Januari tahun 2024 sebanyak 4.272 orang dan Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian Balita periode Januari tahun 2024 di wilayah kerja Puskesmas Mata, Benu-Benua dan Abeli sebanyak 98 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan proporsionate stratified random sampling. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil uji chi-square pada tingkat kepercayaan 95, diperoleh nilai p value 0,000 untuk pengetahuan, asupan vitamin C, Vitamin D, Vitamin B9 dan Fe. Kemudian diperoleh p value 0,002 untuk vitamin A, asupan iodium dan zink diperoleh masing-masing p value 0,005. Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan pengetahuan gizi dan asupan gizi mikro vitamin (Vitamin A, C, D, B9) dan asupan gizi mikro mineral (iodium, zink, Fe dan Kalsium) dengan kejadian stunting pada Balita di wilayah pesisir Kota Kendari
Pengaruh Lembar Balik Pencegahan Stunting terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu Bayi 0-6 Bulan: Penelitian Kuasi Eksperimen
Ringkasan: Latar belakang: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak di bawah usia lima tahun akibat kekurangan gizi kronis yang berdampak pada tinggi badan pendek. Penyebab stunting bersifat multifaktorial, termasuk pengetahuan dan sikap ibu sebagai pengasuh utama. Tujuan: Mengetahui pengaruh lembar balik pencegahan stunting terhadap pengetahuan dan sikap ibu bayi usia 0-6 bulan. Metode: Penelitian quasi eksperimen dengan desain pre-post kontrol grup melibatkan 60 ibu bayi usia 0-6 bulan dari wilayah Puskesmas Pandak, dipilih melalui cluster sampling. Kelompok intervensi (30 ibu) diberikan pendidikan kesehatan menggunakan lembar balik pencegahan stunting, sedangkan kelompok kontrol (30 ibu) menerima leaflet. Pendidikan dilakukan dua kali dengan interval dua minggu. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Lembar balik secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu (p=0,000). Terdapat perbedaan signifikan peningkatan pengetahuan (p=0,002) dan sikap (p=0,034) antara kelompok intervensi dan kontrol. Simpulan: Penggunaan lembar balik efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu terkait pencegahan stunting. Saran: Lembar balik dapat digunakan sebagai media dalam upaya pencegahan stunting di komunitas dan dikembangkan inovasi berbasis digital. Ringkasan: Anak-anak dengan kualitas kesehatan yang optimal diperlukan untuk membangun masa depan bangsa yang kuat. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak dibawah usia lima tahun yang diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis yang berdampak pada pendeknya tinggi bandan anak dibandingkan usia. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan konsekuensi kurang baik pada pertumbuhan fisik tetapi juga membuat anak mudah terserang penyakit. Selain itu stunting juga menjadi ancaman besar terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia karena juga berdampak pada perkembangan otak dan kecerdasan. Stunting terjadi karena pengaruh dari multifaktor, termasuk dari pengetahuan dan sikap ibu sebagai pengasuh utama bagi anak mereka. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan menggunakan desain pre-post control group design. Sampel terdiri dari 30 responden kelompok intervensi dan 30 responden kelompok control dengan menggunakan Teknik cluster sampling dari dua desa di Wilayah Puskesmas Pandak. Kelompok intervensi diberikan Pendidikan kesehatan menggunakan lembar balik pencegahan stunting dan kelompok kontrol diberikan Pendidikan kesehatan menggunakan leaflet. Perlakuan dilakukan dua kali dengan jarak 2 minggu kemudian dilakukan evaluasi diakhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan lembar balik meningkatkan pengetahuan dan sikap responden diakhir penelitian (p=0.001). Jika dibandingkan dengan kelompok control, kelompok intervensi memiliki pengetahuan serta sikap yang lebih baik. Lembar balik pencegahan stunting meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu bayi usia 0-6 bula