Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
    657 research outputs found

    Analisis Penyebab dan Kendala Pengajuan Klaim BPJS Kesehatan Pasien Rawat Inap di RSUD Majenang Tahun 2023

    Full text link
    Ringkasan : Latar belakang: Pengajuan klaim BPJS Kesehatan mengalami pengembalian tinggi di RSUD Majenang dengan 1.328 berkas dikembalikan tahun 2023, menimbulkan dampak negatif pada operasional dan keuangan rumah sakit. Tujuan: Menganalisis penyebab dan kendala pengajuan klaim BPJS Kesehatan rawat inap untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses klaim. Metode: Desain deskriptif kuantitatif-kualitatif menggunakan data primer (wawancara terstruktur verifikator internal, kepala rekam medis, koder) dan sekunder (laporan pengembalian klaim 2023). Populasi 1.328 berkas, sampel 308 berkas systematic random sampling, analisis 5M (Man, Material, Method, Machine, Money). Hasil: Pengembalian klaim didominasi aspek medis (59,09%) karena ketiadaan tatalaksana dan penunjang, aspek koding (31,17%) karena konfirmasi kode diagnosis, dan administrasi (9,74%) karena konfirmasi readmisi dan episode SEP. Kendala meliputi ketelitian petugas, persepsi DPJP, kelengkapan berkas, ketiadaan SPO khusus, dan keterbatasan teknologi bridging system. Simpulan: Faktor manajemen 5M berkontribusi signifikan terhadap pengembalian klaim, dengan aspek medis sebagai penyebab utama dan perlu perbaikan sistematis. Saran: Evaluasi berkala, penyusunan SPO sistematis, penguatan koordinasi antar unit, optimalisasi teknologi informasi bridging system, dan peningkatan kompetensi SDM melalui pelatihan rutin.Pengajuan klaim BPJS Kesehatan oleh fasilitas kesehatan harus memenuhi prosedur dan persyaratan yang ditetapkan serta diverifikasi oleh BPJS Kesehatan untuk memastikan mutu layanan dan efisiensi biaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis penyebab dan kendala pengajuan klaim BPJS Kesehatan di RSUD Majenang. Metode penelitian menggunakan deskriptif analitik. Data penelitian meliputi data primer (hasil wawancara) dan data sekunder (laporan pengembalian klaim BPJS Kesehatan tahun 2023). Populasi penelitian adalah pengembalian klaim BPJS Kesehatan pasien rawat inap tahun 2023 sejumlah 1.328 berkas.  Sampel penelitian sebanyak 308 berkas ditentukan menggunakan rumus Slovin.  Teknik pengambilan sampel menggunakan systematic random sampling. Hasil penelitian menunjukkan jumlah pengembalian klaim tertinggi terjadi pada bulan Desember (14,9%) dan terendah pada April (2,48%). Pengembalian klaim terbanyak disebabkan oleh aspek medis (59,09%), koding (31,17%), dan administrasi (9,74%). Pengembalian klaim aspek medis (182 kasus), terutama karena tidak adanya tatalaksana dan laporan penunjang (91 kasus), dan  diagnosis belum memenuhi kriteria (66 kasus). Aspek koding (96 kasus) dengan penyebab utama konfirmasi kode diagnosis (44 kasus). Aspek administrasi (30 kasus), terutama akibat konfirmasi indikasi readmisi (13 kasus) dan konfirmasi episode SEP (9 kasus). Berdasarkan analisis faktor 5M, kendala dalam pengajuan klaim meliputi man (kurangnya ketelitian petugas dan perbedaan persepsi DPJP), material (kekurangan berkas persyaratan), method (tidak adanya SPO klaim), dan machine (belum diterapkannya bridging system serta penurunan kinerja komputer). Faktor money tidak menjadi kendala langsung tetapi berpotensi menimbulkan kerugian bagi rumah sakit. Diperlukan evaluasi berkala, peningkatan ketelitian petugas, perbaikan sistem administrasi, penyusunan SPO yang lebih jelas, serta optimalisasi teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi pengajuan klaim

    Pengaruh Intensitas Kebisingan Terhadap Stress Kerja Pada Pekerja Depo Lokomotif PT X: pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, kesimpulan dan saran, kekurangan kajian, pernyataan (ucapan terima kasih, pendanaan, kontribusi setiap penulis, pernyataan konflik kepentingan) daftar pustaka

    No full text
    Latar Belakang: Kebisingan okupasional di depo lokomotif yang melebihi nilai ambang batas 85 dBA berpotensi memicu stres kerja psikofisiologis melalui mekanisme neuroendokrin yang kompleks. Tujuan: Menganalisis hubungan intensitas kebisingan dengan risiko stres kerja pada teknisi depo lokomotif. Metode: Penelitian cross-sectional observasional dengan total sampling pada 40 teknisi di Depo Lokomotif. Intensitas kebisingan diukur menggunakan sound level meter tipe II pada 5 titik area kerja dengan metode time-weighted average, dikategorikan ?85 dBA dan >85 dBA. Stres kerja diukur dengan kuesioner tervalidasi 30 item (?=0,89). Analisis data menggunakan uji Chi-square dan Cramer's V. Hasil: Sebanyak 62,5% area kerja memiliki intensitas kebisingan >85 dBA (rata-rata 88,4±3,1 dBA) dan 72,5% pekerja mengalami stres kerja. Analisis Chi-square menunjukkan hubungan signifikan antara paparan kebisingan >85 dBA dengan stres kerja (p=0,030, OR=3,8; 95%CI: 1,4-9,9, Cramer's V=0,34). Usia dan masa kerja tidak berpengaruh signifikan (p>0,05). Simpulan: Paparan kebisingan okupasional di atas nilai ambang batas meningkatkan risiko stres kerja psikofisiologis secara signifikan pada teknisi depo lokomotif. Saran: Intervensi pengendalian kebisingan berbasis hierarki kontrol dan penelitian longitudinal dengan sampel yang lebih besar serta desain kohort prospektif diperlukan untuk memvalidasi temuan dan menguji efektivitas intervensi berbasis buktiKebisingan di tempat kerja merupakan salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan stress kerja pada pekerja industri. Tingkat kebisingan di tempat kerja masih menjadi masalah signifikan di seluruh dunia. Menurut WHO dengan lebih dari 30 juta pekerja Amerika berisiko terpapar kebisingan berbahaya. Mengingat tingginya tingkat gangguan pendengaran akibat kebisingan di Indonesia, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana intensitas kebisingan memengaruhi stress kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana intensitas kebisingan memengaruhi stress kerja pada pekerja di Depo Lokomotif PT X. Metodologi kuantitatif dengan pendekatan cross- sectional digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini melibatkan 40 pekerja Depo Lokomotif PT X dengan menggunakan metode pengambilan Total Sampling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana intensitas kebisingan terhadap stress kerja pada pekerja di Depo Lokomotif PT X. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif dengan pendekatan cross- sectional. Penelitian ini melibatkan 40 pekerja Depo Lokomotif PT X dengan menggunakan metode pengambilan Total Sampling. Tingkat stress kerja diukur menggunakan kuesioner, sedangkan intensitas kebisingan diukur menggunakan sound level meter. dan alat pengukur tingkat kebisingan digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan. Uji Chi Square digunakan dalam analisis data untuk menilai korelasi antara intensitas kebisingan dan stress kerja. Pengukuran Tingkat Kebisingan di tempat kerja dalam penelitian ini dengan menggunakan SNI 8247:2017. Uji Chi Square mengungkapkan korelasi yang signifikan antara tingkat kebisingan dan stress kerja (p = 0,022; p 0,05), dengan interval kepercayaan (CI) 95% sebesar 10,91–13,89 dan Risiko Relatif (RR) sebesar 0,167 (0,0241,175).Terdapat hubungan yang kuat antara intensitas kebisingan dan stress kerja pada pekerja Depo Lokomotif PT X. pekerja yang terpapar tingkat kebisingan di atas nilai ambang batas lebih mungkin mengalami stress kerja. Untuk mengurangi risiko stress kerja pada pekerja, penting untuk menggunakan alat pelindung diri yang tepat dan menerapkan strategi manajemen kebisingan

    Efektivitas Edukasi Manajemen Stres terhadap Peningkatan Status Mental Emosional Remaja: Pre-Experimental Study di SMA Negeri 3 Kendari

    Full text link
    Latar Belakang: Ketidakstabilan emosi remaja berisiko menghambat kematangan psikologis jika tidak dikelola secara tepat. Tujuan: Penelitian ini mengevaluasi efektivitas edukasi manajemen stres terhadap status mental emosional siswa di SMA Negeri 3 Kendari. Metode: Desain pra-eksperimental one-group pretest-posttest diterapkan pada 30 siswa kelas XI yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Intervensi dilaksanakan intensif selama tiga hari, diukur menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), dan dianalisis dengan uji Paired Sample T-Test. Hasil: Terdapat penurunan signifikan pada skor masalah emosional (p = 0,000; t = -7,730) dengan selisih rata-rata -6,233. Secara klinis, kategori emosional tinggi (6,7%) tereliminasi total menjadi 0% pasca-intervensi, mengindikasikan perbaikan kemampuan regulasi diri. Simpulan: Edukasi manajemen stres terbukti efektif meningkatkan stabilitas emosi siswa melalui penguasaan teknik relaksasi. Saran: Direkomendasikan agar sekolah mengintegrasikan modul manajemen stres ke dalam layanan rutin Bimbingan Konseling sebagai strategi preventif berkelanjutan bagi kesehatan mental siswaStatus mental emosional remaja merupakan masalah kesehatan yang terus meningkat setiap tahunnya baik ditingkat global maupun nasional, dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial. Edukasi manajemen stres merupakan salah satu alternatif dalam membantu mencegah dan mengatasi masalah psikologis remaja. Tujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi manajemen stres terhadap status mental emosional remaja di SMA Negeri 3 Kendari.Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan keperawatan jiwa, subjek penelitian 30 siswa kelas XI yang memiliki masalah emosional, intervensi berupa edukasi manajemen stres dilakukan selama tiga hari dengan pemberian materi manajemen stres dan teknik relaksasi napas dalam. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat emosional pada siswa setelah diberikan edukasi manajemen stres.Kesimpulan edukasi manajemen stres yang diberikan terbukti efektif dalam mengurangi tingkat emosioanal tinggi pada remaja dan meningkatkan kemampuan remaja dalam mengelola stress. Kata kunci: Edukasi manajemen stres, remaja, status mental emosiona

    STRATEGI MEMBANGUN BUDAYA CARING PERAWAT BERBASIS PELAYANAN SPIRITUAL CARE MELALUI PENDEKATAN SOSIOECOLOGICAL MODEL; STUDI FENOMENOLOGI

    Full text link
    Ringkasan: Latar Belakang: Integrasi aspek spiritual dalam budaya caring perawat di rumah sakit masih terbatas, sementara pendekatan socioecological model jarang digunakan untuk memperkuat budaya caring keperawatan. Hambatan pelayanan spiritual mencakup ketidakpahaman perawat, kurangnya dukungan organisasi, dan terbatasnya sarana prasarana spiritual care. Tujuan: Mengeksplorasi strategi membangun budaya caring perawat berbasis pelayanan spiritual care melalui pendekatan socioecological model dalam setting rumah sakit. Metode: Studi fenomenologi dengan wawancara mendalam terhadap 19 partisipan di RS Benyamin Guluh Kolaka. Data dianalisis menggunakan teknik Colaizzi dan diklasifikasikan berdasarkan lima level socioecological model. Hasil: Teridentifikasi lima strategi utama: intrapersonal (kesadaran kebutuhan spiritual pasien), interpersonal (dukungan keluarga dan perawat), komunitas (budaya saling membantu), organisasi (kebutuhan SDM dan fasilitas), dan kebijakan (belum ada regulasi spiritual care). Temuan menunjukkan praktik spiritual care membutuhkan dukungan multilevel sistematis. Simpulan: Strategi budaya caring dalam spiritual care berakar pada nilai budaya lokal melalui pendekatan multilevel socioecological model dengan tantangan utama kurangnya kebijakan mendukung. Saran: Diperlukan pendekatan komprehensif mulai edukasi individu, pelatihan tenaga kesehatan, pemberdayaan komunitas, hingga advokasi kebijakan untuk memperkuat praktik spiritual care berbasis budaya caring.Latar Belakang: budaya organisasi merupakan sesuatu yang selalu ada dalam sebuah kelompok atau komunitas, budaya memiliki nilai nilai dan norma-norma dalam menghasilkan perilaku yang dapat mempengaruhi psikologis orang di sekitarnya. Rumah Sakit sebagai salah satu layanan kesehatan yang memiliki budaya organisasi membutuhkan sebuah manajemen yang baik dalam membangun pelayanan kesehatan secara holistik baik dalam dimensi bio, psiko, sosial, maupun tidak kalah pentingnya adalah spritual. Dibutuhkan budaya kerja dalam memberikan asuhan spritual kepada pasien yang dilandasi rasa caring dalam sebuah komunitas organisasi, yakni perawat. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi strategi dalam membangun budaya caring perawat dalam pemberian asuhan keperawtan spiritual melalui pendekatan sosioecological model. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur pada 19 sampel yang diambil dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini didapatkan beberapa tema yakni: strategi individual, interpersonal, organisasi, komunitas dan kebijakan kesehatan. Diharapkan tema yang didapatkan dapat menjadi referensi bagi layanan kesehatan dalam menghasilkan budaya caring perawat dalam mendukung kualitas pelayanan kesehatan terkhusus dalam pengaplikasian pemenuhan kebutuhan spiritual pasien

    Intervensi Slow Stroke Back Massage Untuk Menurunkan Intensitas Nyeri Post Sectio Caesarea

    Full text link
    Ringkasan: Latar Belakang: Persalinan sectio caesarea (SC) mengalami peningkatan global termasuk Indonesia. Nyeri pasca SC menyebabkan ketidaknyamanan, gangguan mobilisasi, dan hambatan bonding attachment. Slow Stroke Back Massage (SSBM) merupakan terapi non-farmakologi untuk mengatasi nyeri pasca operasi caesar. Tujuan: Menganalisis pengaruh SSBM terhadap intensitas nyeri post sectio caesarea. Metode: Quasi experiment dengan pre-posttest control group design pada 34 ibu pasca SC di RS Nahdhatul Ulama Jombang. Kelompok SSBM (n=17) dan kontrol (n=17) dipilih secara purposive sampling. SSBM dilakukan 20 menit dengan teknik mengusap punggung secara perlahan. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numerical Rating Scale dan dianalisis dengan Paired T-Test dan Independent T-Test. Hasil: SSBM berpengaruh signifikan menurunkan intensitas nyeri (p<0,05). Kelompok SSBM mengalami penurunan intensitas nyeri sebesar 2,88 poin. Simpulan: SSBM efektif menurunkan nyeri post SC dan dapat digunakan sebagai terapi komplementer. Saran: Perlu pengembangan aplikasi intervensi mandiri untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga kesehatan profesional.Persalinan sectio caesarea (SC) mengalami peningkatan di berbagai dunia termasuk di Indonesia. Keluhan utama setelah persalinan sectio caesarea adalah nyeri dengan in-tensitas yang berbeda-beda. Nyeri yang tidak ditangani, menyebabkan ketidaknyamanan, terganggunya mobilisasi dan terhambatnya bonding attactment. Metode non-farmakologi untuk mengatasi nyeri pasca operasi caesar adalah Slow Stroke Back Massage. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Slow Stroke Back Massage terhadap intensitas nyeri post sectio caesarea. Desain penelitian yang digunakan adalah Quasy Eksperiment, dengan pendekatan pre-posttest control group design. Subyek penelitian ini adalah seluruh ibu pasca operasi Caesar di Rumah Sakit Nahdhatul Ulama' (RSNU) Jombang. Besar sampel sebanyak 34 responden dengan teknik Purposive Sampling dan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok SSBM (n=17) dan kelompok kontrol (n=17). SSBM dilakukan dengan mengusap kulit punggung secara perlahan selama 20 menit. Instrumen untuk mengukur nyeri adalah Numerical Rating Scale (NRS). Data dianalisis menggunakan uji Paired T-Test dan uji Independent T-Test. Hasil penelitian menunjukkan Slow Stroke Back Massage berpengaruh terhadap intensitas nyeri post sectio caesarea (p<0,05). Terdapat perbedaan pengaruh antara kelompok SSBM dan kelompok kontrol terhadap intensitas nyeri post sectio caesarea (p<0,05). Slow Stroke Back Massage efektif menurunkan intensitas nyeri post sectio caesarea

    Analisis Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Kepuasan Pasien Pada Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Herrmina Medan Tahun 2025

    No full text
    Latar Belakang: Komunikasi terapeutik perawat merupakan komponen kritis dalam pemberian asuhan keperawatan berkualitas yang berpengaruh langsung terhadap kepuasan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan komunikasi terapeutik perawat terhadap kepuasan pasien rawat inap di RS Hermina Medan tahun 2025. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dilakukan pada 100 responden yang dipilih menggunakan consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner tervalidasi dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta regresi logistik berganda. Hasil: Mayoritas responden menilai komunikasi terapeutik perawat dalam kategori baik (57%) dengan tingkat kepuasan pasien cukup puas (53%). Analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien (p<0,001; OR=15,802; 95% CI: 5,592-44,627). Fase kerja merupakan determinan paling dominan (?=0,367; p=0,002), diikuti fase terminasi (?=0,257; p=0,035). Simpulan: Komunikasi terapeutik perawat berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien, dengan fase kerja dan terminasi sebagai determinan utama. Saran: agar rumah sakit memperkuat program pelatihan komunikasi terapeutik berbasis bukti, khususnya pada fase kerja dan terminasi, serta melakukan evaluasi berkala sebagai bagian dari indikator mutu layanan keperawatan.Komunikasi mempunyai peran yang besar dalam kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komunikasi terapeutik perawat terhadap kepuasan pasien pada Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Hermina Medan Tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel berjumlah 100 pasien rawat inap yang dipilih menggunakan metode consecutive sampling dengan Kriteria inklusi dalam penelitian ini meliputi pasien rawat inap berusia >17 tahun, bersedia menjadi responden, dan merupakan peserta BPJS. Kriteria eksklusi mencakup pasien dengan gangguan komunikasi, gangguan jiwa, atau kondisi yang menghambat kemampuan menjawab pertanyaan penelitian. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang mengukur komunikasi terapeutik (tahap persiapan, orientasi, kerja, dan terminasi) serta kepuasan pasien. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square dan regresi logistik berganda pada taraf signifikansi ? < 0,05. Mayoritas pasien dalam penelitian ini adalah laki-laki (59%), berusia 18–40 tahun (78%), beragama islam (81%) dan berpendidikan SMA (56%). Hasil penelitian menunjukkan 57% pasien menilai komunikasi terapeutik perawat dalam kategori baik, sedangkan 43% dalam kategori cukup. Tingkat kepuasan pasien menunjukkan bahwa pasien yang menerima komunikasi terapeutik baik memiliki peluang 15,8 kali lebih besar untuk merasa sangat puas dibanding pasien dengan komunikasi cukup (p-value < 0,000). Nilai Odds Ratio (OR) = 15,802 dengan Confidence Interval (CI) 95% = 5,595 – 44,627. Terdapat pengaruh signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien. Peningkatan penerapan komunikasi terapeutik pada seluruh tahap (persiapan, orientasi, kerja, dan terminasi) sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan kepuasan pasien di Instalasi Rawat Inap RS Hermina Medan

    Efektivitas Konseling terhadap Pengambilan Keputusan Penggunaan Kontrasepsi pada Ibu Postpartum

    Full text link
    Latar belakang: Penggunaan kontrasepsi postpartum di Indonesia belum optimal, meningkatkan risiko kehamilan berjarak dekat. Tujuan: Menilai pengaruh konseling kontrasepsi berulang terhadap pengetahuan dan pengambilan keputusan ibu postpartum. Metode: Quasi-experimental pretest-posttest with control group pada 90 ibu postpartum (45 perlakuan, 45 kontrol) dipilih purposive di Kabupaten Sragen. Kelompok perlakuan mendapat lima sesi konseling (±25 menit sesi awal, ±15-20 menit sesi lanjutan), kelompok kontrol tanpa intervensi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tervalidasi (Cronbach's ?=0,812). Hasil: Skor pengetahuan kelompok perlakuan meningkat signifikan (10,11±1,50 menjadi 12,11±1,48; p<0,001; d=0,85) dibanding kontrol (8,82±1,84 menjadi 10,38±1,48). Pengambilan keputusan meningkat bermakna hanya pada kelompok perlakuan (18,91±2,46 menjadi 20,91±2,29; p<0,001; d=0,79), disertai peningkatan penggunaan MKJP (IUD +28,9%). Simpulan: Konseling berulang efektif meningkatkan pengetahuan dan pengambilan keputusan kontrasepsi postpartum. Saran: Direkomendasikan integrasi konseling terstruktur dalam pelayanan masa nifas dengan evaluasi berkalaPenggunaan kontrasepsi pada ibu postpartum masih tergolong rendah, yang salah satunya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan belum optimalnya pelaksanaan konseling dalam mendukung pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas konseling terhadap peningkatan pengetahuan dan pengambilan keputusan penggunaan kontrasepsi pada ibu postpartum. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest with control group design. Sampel penelitian berjumlah 90 ibu postpartum yang terdiri atas 45 responden kelompok perlakuan dan 45 responden kelompok kontrol, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan dan pengambilan keputusan yang telah diuji validitas serta reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample t-test dan Independent Sample t-test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kelompok perlakuan, baik dalam pengetahuan (p = 0,000) maupun pengambilan keputusan (p = 0,000). Sementara itu, pada kelompok kontrol peningkatan hanya terjadi pada pengetahuan (p = 0,000), sedangkan pengambilan keputusan tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p = 0,664). Dapat disimpulkan bahwa konseling berulang efektif dalam meningkatkan pengetahuan serta kemampuan ibu postpartum dalam mengambil keputusan penggunaan kontrasepsi. Tenaga kesehatan disarankan mengintegrasikan konseling berulang dalam pelayanan kunjungan nifas guna mendukung keberhasilan program keluarga berencana.&nbsp

    DETERMINAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OFA PADANG MAHONDANG TAHUN 2024

    Full text link
    Ringkasan: Latar belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas balita di negara berkembang. Puskesmas Ofa Padang Mahondang mencatat 397 kasus ISPA pada balita tahun 2023, menunjukkan ISPA masih menjadi masalah kesehatan masyarakat signifikan. Tujuan: Mengetahui pengaruh kondisi fisik rumah dan perilaku keluarga terhadap kejadian ISPA pada balita. Metode: Penelitian case control melibatkan 180 balita (90 kasus, 90 kontrol) di Puskesmas Ofa Padang Mahondang, Juni-Desember 2024. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi menggunakan kuesioner terstandar. Analisis bivariat menggunakan Chi-square, multivariat regresi logistik. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara ventilasi (p=0,033; OR=0,373), suhu-kelembapan (p=0,031; OR=0,364), kepadatan hunian (p=0,000; OR=0,222), penggunaan obat nyamuk bakar (p=0,000; OR=6,348), dan merokok dalam rumah (p=0,000; OR=4,042) dengan kejadian ISPA. Obat nyamuk bakar meningkatkan risiko 6,3 kali, merokok 4,0 kali. Simpulan: Kondisi fisik rumah tidak memenuhi standar dan perilaku keluarga tidak sehat, khususnya penggunaan obat nyamuk bakar dan merokok dalam rumah, secara signifikan meningkatkan risiko ISPA pada balita. Saran: Diperlukan intervensi keluarga untuk menurunkan kejadian ISPA.Ringkasan: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi pemicu utama morbiditas dan mortalitas pada balita di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan kejadian ISPA pada balita ditinjau dari karakteristik anak, perilaku keluarga, dan kondisi lingkungan rumah di wilayah kerja Puskesmas Ofa Padang Mahondang, Kabupaten Asahan. Penelitian ini menggunakan studi observasional analitik dengan desain case control, melibatkan 180 responden terdiri atas 90 kasus dan 90 kontrol. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi langsung, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa usia balita 21–40 bulan memiliki proporsi tertinggi dalam kelompok kasus. Seluruh variabel lingkungan fisik dan perilaku keluarga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian ISPA (p < 0,05). Balita yang tinggal di rumah dengan ventilasi tidak memenuhi syarat memiliki risiko ISPA 5,25 kali lebih besar (CI 95%: 2,74–10,07). Suhu dan kelembaban tidak memenuhi syarat berisiko 4,17 kali lipat (CI 95%: 2,16–7,80), dan kepadatan hunian tinggi berisiko 3,76 kali lipat (CI 95%: 2,01–7,05). Anak yang tidak terpapar asap obat nyamuk bakar dan asap rokok memiliki risiko lebih rendah terhadap ISPA dengan OR masing-masing sebesar 0,18 (CI 95%: 0,09–0,34) dan 0,23 (CI 95%: 0,12–0,42). Kondisi fisik rumah dan perilaku keluarga berperan signifikan terhadap kejadian ISPA pada balita. Intervensi promotif dan preventif berbasis rumah tangga perlu ditingkatkan untuk menurunkan risiko ISPA di masyarakat

    The Relationship Between Family Support and Symptoms Appearing in Heart Failure Patients

    No full text
    Abstrak: Latar belakang: Gagal jantung menimbulkan penurunan fungsi tubuh yang berdampak pada kualitas hidup pasien. Dukungan keluarga terbukti memengaruhi manajemen diri pada penyakit kronis, namun bukti empiris pada gagal jantung di Indonesia masih terbatas. Tujuan: Menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan tingkat keparahan gejala pada pasien gagal jantung. Metode: Penelitian deskriptif-korelatif dengan pendekatan cross-sectional melibatkan 317 responden di Poliklinik Jantung RS Universitas Sebelas Maret yang diseleksi melalui purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Family Support Scale (FSS) dan Heart Failure Somatic Perception Scale (HFSPS). Hasil: Uji korelasi Spearman rank menghasilkan p-value 0,000 dan koefisien korelasi -0,775, menunjukkan korelasi negatif kuat yang berarti peningkatan dukungan keluarga secara signifikan menekan persepsi gejala. Simpulan: Dukungan keluarga berperan penting dalam menurunkan tingkat keparahan gejala pada pasien gagal jantung. Saran: Diperlukan intervensi berbasis keluarga dalam edukasi dan perawatan berkelanjutan untuk optimalisasi manajemen gejala gagal jantung.Gagal jantung menimbulkan penurunan fungsi tubuh karena ketidakmampuan jantung memompa darah dengan baik. Kondisi tersebut memicu kemudahan pasien merasakan kelelahan dan sesak napas, yang akhirnya menyebabkan penurunan kualitas hidup. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif-korelatif melalui pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel yang terlibat mencapai 317 responden, yang diseleksi menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria pemilihan yang telah ditentukan oleh peneliti. Penelitian ini menggunakan kuesioner Family Support Scale (FSS) dan Heart Failure Somatic Perception Scale (HFSPS). Uji korelasi Spearman rank terhadap hubungan dukungan keluarga dengan gejala yang timbul menghasilkan nilai p-value sebesar 0,000 serta koefisien korelasi -0,775. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga berperan penting dalam penurunan gejala yang muncul pada pasien gagal jantung, yang pada akhirnya menjadi panduan dalam memberikan pelayanan, penatalaksanaan, dan perawatan pada pasien untuk mengurangi gejala

    Aktivitas Antihiperglikemia Ekstrak Dan Fraksi-Fraksi Buah Merah (Pandanus Conoideus L) Terhadap Perbaikan Fungsi Ginjal Pada Tikus Diabetes Nefropati

    Full text link
    Ringkasan: Latar Belakang: Diabetes nefropati merupakan komplikasi serius diabetes melitus yang memerlukan terapi alternatif. Buah merah (Pandanus conoideus L) kaya senyawa bioaktif dengan potensi antidiabetik dan nefroprotektif. Tujuan: Mengevaluasi aktivitas antihiperglikemia ekstrak dan fraksi-fraksi buah merah terhadap perbaikan fungsi ginjal pada tikus diabetes nefropati. Metode: Penelitian eksperimental randomized controlled trial menggunakan 30 tikus yang diinduksi STZ-NA, dibagi menjadi tujuh kelompok: kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif (pioglitazone 15 mg/kg), ekstrak buah merah (250 mg/kg), fraksi n-heksan (71,42 mg/kg), fraksi etil asetat (17,85 mg/kg), dan fraksi air (128,57 mg/kg). Parameter yang diukur meliputi glukosa darah, kreatinin, mikroalbuminuria, dan histopatologi ginjal. Hasil: Fraksi etil asetat paling efektif menurunkan glukosa darah (98,41%), kreatinin (22,63%), mikroalbuminuria (17,51%), dan memperbaiki kerusakan ginjal dengan kerusakan minimal. Simpulan: Fraksi etil asetat buah merah menunjukkan aktivitas antihiperglikemia dan nefroprotektif superior. Saran: Diperlukan uji klinis untuk mengkonfirmasi efikasi dan keamanan pada manusia.Buah merah (Pandanus conoideus L) merupakan tumbuhan yang memiliki kandungan antioksidan yang tinggi yang dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan penyakit diabetes mellitus. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antihiperglikemia dari pemberian ekstrak dan fraksi-fraksi buah merah (Pandanus Conoideus L) terhadap perbaikan glukosa darah, mikroalbuminuria, kreatinin dan histopatologi ginjal pada tikus diabetes nefropati yang diinduksi STZ-NA. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, menggunakan 30 ekor tikus dan dikelompokkan menjadi 6 kelompok yaitu kelompok I normal,kelompok II kontrol negatif STZ 65 mg/kg BB dan NA 230 mg/kg BB, kelompok III kontrol positif pioglitazone 15 mg/kg BB, kelompok IV ekstrak buah merah 250 gr/kg BB, kelompok V fraksi n-heksan buah merah 71,42 mg/kg BB, kelompok VI fraksi etil asetat buah merah 17,85 mg/kg BB, dan Kelompok VII fraksi air buah merah 128,57 mg/kg BB. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjutan Post Hoc Tukey. Hasil penelitian menunjukkan kelompok fraksi etil asetat buah merah 17,85 mg/kg BB yang paling efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah, kreatinin, mikroalbuminuria serta memperbaiki kerusakan pada ginjal tikus. Fraksi etil asetat menunjukkan penurunan yang signifikan dibandingkan kelompok yang lain dengan per-sentase aktivitas fraksi etil asetat yaitu glukosa darah 98.41%, kreatinin 0.92, mikroalbuminuria 30.65%,  serta perbaikan kerusakan ginjal 6,67% dengan kerusakan ringan

    477

    full texts

    657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Health Information : Jurnal Penelitian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇